BLANGKON Penarik Rizki

 

 

SEORANG Bapak di penghujung bulan Juni 2007, meminta kepada Majalah Al-Iman untuk di terapi ruqyah. Melalui telepon genggamnya, berkali-kali ia memohon agar Majalah Al-Iman menyempatkan waktu untuknya. “Saya sudah tidak kuat lagi Ustadz dengan semua mimpi buruk yang saya rasakan hampir setiap malam. Belum lagi badan yang terus lemas, sangat malas untuk melaksanakan ibadah wajib,” tegasnya meyakinkan Majalah Al-Iman.

Beberapa hari kemudian Majalah Al-Iman menyempatkan diri untuk menemuinya di bilangan Jakarta Selatan. Saat diruqyah, reaksinya sangat keras. Kesakitan……dan pada saat itu juga, ia menyerahkan sebuah benda yang didapatkannya dari seorang dukun di Jawa Barat tiga tahun yang lalu. Dengan suara yang masih parau, ia pun menceritakan sejarah mendapatkan benda itu.

“Sejak masih bujangan saya berpropesi sebagai pedagang pakaian di kaki lima” jelasnya mengawali cerita. Setelah berjualan hampir 4 tahun, usahanya tersebut mengalami kemajuan yang pesat. Pada tahun 2000, ia membeli sebuah kios yang cukup besar untuk mengembangkan usahanya itu. Sebuah sepeda motor, serta rumah sederhana juga dapat dibelinya. Merasa sedang maju, ia pun memutuskan menikah dengan seorang gadis yang juga pelanggannya.

“Saya menyesal Ustadz. Ketika usaha saya sedang maju, pelaksanaan shalat wajib saya mulai tidak karuan,” tambahnya lagi. Empat tahun berjalan, ia terus menjalankan usahanya itu bersama istrinya. Ia mendapatkan dua orang buah hati dari pernikahannya itu.

Dunia terus berputar. Pada awal tahun 2004, usahanya mulai menurun. “Saya merasa aneh, kenapa para pelanggaan yang biasanya berbelanja ke saya, tiba-tiba beralih ke orang lain,” tegasnya. Ia pun mencari cara untuk kembali memulihkan usahanya itu. “setelah beberapa lama usaha saya masih seperti itu, saya tergoda bisikan seorang teman yang mengajak pergi ke dukun,” jelasnya lagi.

Oleh si dukun, ia diharuskan menjalankan sebuah ritual untuk mendongkrak usahanya. Bersama ritual itu, ia pun diberi sebuah jimat yang harus dipakainya selalu, saat berjualan. “Tiga tahun berjalan, usaha saya malah bertambah hancur. Badan saya juga terasa nggak enak terus.

Makanya saya ingin diruqyah, agar hidup saya kembali normal seperti dulu. Saya ingin lebih khusyuk beribadah,” tegasnya menutup pembicaraan.

 

BENTUK JIMAT

Jimat ini berbentuk sebuah blangkon berwarna coklat dengan corak batik. Ukurannya sebesar kepala orang dewasa.

 

KESAKTIAN JIMAT

Blangkon ini dipercayai bisa mendatangkan rezeki lebih banyak dari biasanya. Blangkon ini harus selalu dipakai jika menjalankan usaha. Setiap malam Jum’at benda ini harus ditaburi minyak Ja’faron, dan dibubuhi kembang tujuh rupa. Tak lupa dibacakan wirid-wirid tertentu dalam jumlah yang sangat banyak. Sampai puluhan ribu. Ritual tersebut, harus-terus dijalankan selama memegang jimat blangkon ini.

 

BONGKAR JIMAT

Berbisnis merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Bahkan, Rasulullah sendiri pun (dalam al-hadits) telah menyatakan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah melalui pintu berdagang. Artinya; melalui jalan perdagangan inilah, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga karunia Allah terpancar daripadanya.

Perjalanan bisnis atau usaha seseorang, tidaklah selalu mendapatkan keuntungan. Terkadang juga merugi, atau bahkan terancam giung tikar. Disinilah faktor keimanan seseorang diuji. Apakah ia kemudian berputus asa, kemudian mendatangi dukun? Atau ia serahkan semuanya kepada Allah, sambil terus mengembangkan usahanya dengan memperbanyak amalan-amalan pembuka pintu rezeki.

Mempergunakan jasa dukun, seperti yang dilakukan Bapak ini adalah tindakan yang dibenci oleh Allah. Apalagi, selama bertahun-tahun ia memegang jimat blangkon yang nyata-nyata adalah bentuk penipuan dari dukun. Para dukun tersebut telah menjadikan blangkon yang sebenarmya tidak memiliki kekuatan apapun menjadi benda yang dianggap sakti. Padahal itu adalah bentuk persekutuan dengan syetan.

Bagi orang mukmin, sangat banyak jalan menuju pintu-pintu rezeki. Diantaranya dengan bertaqwa, mengamalkan shalat dhuha, membaca dzikir al-ma’tsurat setiap harinya, memperbanyak istigfar, dan lain sebagainya.

Amalan-amalan yang kita lakukan harus sesuai dengan al-Qur’an dan al-sunnah. Bukan malah melakukan wirid ribuan kali, sampai harus tidak tidur semalam suntuk. Amalan amalan yang kita lakukan harus memiliki dasar ilmu, dengan cara berguru misalnya.

Karena, ilmu atau amalan yang diperoleh dari buku-buku tanpa melalui guru, bisa dikatakan tidak aman dan tidak dapat dijadikan pegangan yang kuat untuk diterapkan. Sebagaimana berjalan jauhnya Jabir bin Abdullah. Perjalanannya 1 bulan untuk menemui seorang ahli hadits, hanya untuk mempelajari satu hadist saja. Jika tidak mengetahui tentang sesuatu maka kita wajib bertanya kepada orang yang mengetahui tentang agama. Sekiranya tidak terdapat seorang ulama di daerahnya, maka kita wajib mencari orang yang mengerti agama meski harus menempuh perjalanan jauh.

Itulah makna dari sebuah nasehat, bahwa kita diperintahkan untuk menuntut ilmu meski harus sampai ke negeri Cina.

Orang yang bertaqwa kepada Allah adalah orang yang menjaga dan melindungi dirinya dari penguasaan syetan terhadap dirinya. Kalau di satu waktu ia terjerat ke dalam penguasaan syetan dengan berbuat dosa ia pun segera teringat, sadar dan kembali kepada-NYa untuk memohon ampunan dan maaf. Allah berfirman; “sesungguhnya orang-orang yang beriman apabila mereka ditimpa “thaa’ifun” (was-was dari syetan), mereka ingat kembali kepada Allah, maka ketika itu juga mereka mengingat kesalahan-kesalahannya (Qs. Al-a’raf ayat 201).

Apa yang telah dilakukan Bapak ini, dengan menjalani terapi ruqyah dan menyerahkan jimat ini adalah bentuk kesadaran dirinya untuk berusaha menjadi orang yang bertaqwa. Amin.

 

Ghoib edisi: 86/4/2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN