Waspadai Jin yang Merasa Terdhalimi

Berbuat semena-mena terhadap orang lain termasuk dosa. Untuk itulah Rasul telah mengingatkan kepada kita akan bahaya perilaku kedhaliman. “Kedhaliman itu adalah kegelapan pada hari kiamat,” begitu sabda Nabi. Di dunia, kedhaliman itu bisa menyebabkan dendam kesumat.

Namun sulitnya, kalau yang merasa terdhalimi itu adalah makhluk yang tidak kelihatan, yaitu jin. Dia merasa terusik oleh ulah manusia. Akhirnya dendamnya membara dan menyerang kita yang tidak bisa melihat mereka. Tentu ini sangat berbahaya. Apalagi jin itu mempunyai dendam membara sepanjang waktu. Mereka berusaha untuk membalaskan dendam itu dengan cara apa pun. Seperti halnya moyang mereka yaitu Iblis, yang sangat dendam kepada Adam yang menyebabkan dikeluarkannya dari surga. Dendam sejak penciptaan manusia pertama itu, hingga hari ini bahkan hingga Allah menggulung langit dan bumi kelak. Dendam dengan usia terpanjang dalam sejarah.

Pembalasan yang dilakukan jin bisa lebih kejam dari yang dilakukan manusia. Seperti kisah yang dialami ibu Rina. Jin yang menurut pengakuannya bahwa anak-anaknya tersiram air panas yang ditumpahkan oleh ibu Rina di kamar mandi, menyakiti ibu Lisa dengan lebih kejam. Setumpuk penderitaan dirasakan ibu Rina. Mulai rasa khawatir dan takut yang berkepanjanan, pusing sebelah bertahun-tahun sampai bisikan untuk membunuh anak sendiri. Sungguh teganya jin yang menyesatkan itu. Untuk itulah Allah melarang kita untuk bekerjasama dengan jin dalam bentuk apa pun, untuk tujuan apa pun dengan jin jenis apa pun.

Islam tidak meninggalkan urusan sekecil apa pun. Termasuk peringatan-peringatan agar kita berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Masalah kedhaliman yang mungkin kita lakukan dengan tidak sengaja terhadap jin juga telah diberikan peringatannya. Kamar mandi dan lubang-lubang tanah adalah salah satu tempat jin. Maka Islam melakukan langkah preventif dengan memberitahukan bahwa tempat itu adalah tempat jin dan tidak diperkenankan untuk mengusik tempat tersebut.

Dalam doa yang dibaca sebelum masuk kamar mandi, sangat jelas bahwa kamar mandi adalah tempat keberadaan jin. Untuk itulah kita memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan jin laki-laki ataupun perempuan ketika memasukinya. Demikian juga pada masalah lubang tanah. Dalam kitab Sunan karya Imam Nasa’i, beliau menuliskan satu bab: dilarangnya kencing di lubang (tanah). Kemu- dian beliau meriwayatkan sebuah hadits dari shahabat Abdullah bin Sirjis bahwasanya Rasulullah bersabda, “Jangan ada di antara kalian yang kencing di lubang (tanah).” Ada yang bertanya kepada Qotadah mengapa ada larangan itu, beliau menjawab, “Itu rumah jin.”

Jika jin jahat yang berfikiran sangat pendek dan jahat merasa terusik, maka tidak segan- segan dia melakukan kejahatan kepada kita. Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam bukunya telah mengatakan hal ini, “Kesurupan paling sering terjadi akibat jin marah karena mereka terkena perbuatan salah manusia sehingga mereka menghukum orang yang melukai mereka. Misalnya, ketika manusia secara tidak sengaja mengganggu atau menyakiti mereka dengan mengencing mereka, dengan menyiramkan air panas pada mereka, atau dengan membunuh sebagian di antara mereka, maka sang jin mengira bahwa mereka telah disakiti dengan sengaja. Meskipun manusia tidak menyadari apa yang telah diperbuatnya, namun jin memang sifatnya sangat bodoh, kasar dan berubah-ubah perilakunya, sehingga karena menaruh dendam mereka menghukum manusia jauh lebih dari yang sepatutnya.”

 

Bismillah Mengerdilkan Jin

Inilah solusinya. Agar syetan yang berada di sekitar kita tidak mampu mengganggu kita. Membaca Bismillah (Dengan menyebut Nama Allah).

Untuk mereka yang ingin membuang air panas di kamar mandi misalnya, bacalah bismillah terlebih dahulu. Memang tidak ada dalil secara langsung untuk masalah buang air panas membaca bismillah. Tetapi ada dalil umum tentang bismillah yang berhubungan dengan dunia jin itu. Dengan keberadaan jin di kamar mandi yang bisa tersakiti oleh air panas, maka bismillah mampu melindungi kita dari balas dendam mereka.

Bismillah mengerdilkan jin dan kekuatannya. Seseorang di zaman Rasul bercerita, “Aku pernah diboncengi Nabi, tiba-tiba tunggangannya itu terjatuh. Aku berkata: Celaka syetan. Maka Rasul pun berkata:Jangan kamu katakan itu, karena jika kamu katakan itu, syetan membesar sampai sebesar rumah dan berkata: dengan kekuatanku. Tetapi katakanlah Bismillah sesungguhnya jika kamu membaca itu, syetan mengecil sampai seperti seekor lalat.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Hakim).

Barangsiapa yang membaca Bismillah dalam setiap aktifitasnya, diberikan oleh Allah kekuatan yang tidak mampu ditembus oleh jin. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda, “Tutuplah pintu dan sebutlah Nama Allah, sesungguhnya syetan tidak mampu membuka pintu yang ditutup. Balikkanlah wadah-wadah kalian dan sebutlah Nama Allah dan tutuplah bejana-bejana kalian dan sebutlah Nama Allah, walaupun kalian hanya meletakkan sesuatu di atasnya.”

Di samping itu semua, waspadai tempat- tempat yang dilarang Nabi. Hindari lubang tanah ketika hendak buang air atau membuang air panas. Dan selalu ucapkan basmallah dalam setiap memulai aktifitas kita agar aktifitas itu sempurna dan selalu dijaga Allah. Semoga kita selalu berada di bawah naungan Perlindungan Allah. Amin.
Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Dikeroyok Jin, Karena Buang Air Panas Sembarangan

Dikeroyok Jin, Karena Buang Air Panas Sembarangan

Hati-hatilah saat buang air panas dan jangan membuangnya sembarangan. Karena anda mungkin akan menyiram jin yang kebetulan tinggal di tempat tersebut. Seperti pengalaman Rina, seorang ibu rumah tangga asal Jakarta Timur yang telah bertahun-tahun lamanya membuang air panas sembarangan. Satu keluarga jin akhirnya mengganggu Rina. Hingga derita pun tidak lagi terelakkan. Cemas dan hilang semangat, badannya kurus dengan tatapan mata sayu. Berikut penuturan kisahnya kepada Majalah Ghoib, setelah diruqyah yang ke empat kalinya.

Saya hidup di tengah keluarga yang harmonis bersama dengan suami dan anak-anak saya. Canda tawa yang penuh ceria seakan menjadi bagian keseharian kami sekeluarga. Namun, keceriaan itu mulai terusik setelah saya mengalami kejadian yang cukup mencengangkan. Di suatu malam pada bulan Januari 2004 muncullah suatu kejanggalan di kamar saya. Seperti biasanya saya tidur bersama suami dan anak saya yang paling kecil, Afif namanya, Malam semakin larut, dan suara binatang malam terus menggelitik telinga. Di tengah ketenangan itulah tiba-tiba muncul seberkas sinar bulat dari pojok kamar bagian atas.

Saya penasaran sinar apakah itu. Tatapan mata saya seakan tidak bisa terlepas dari sinar itu. Ooh, … sinar itu bernyawa. la bergerak perlahan dan tiba-tiba melesat, ‘Seeet… buuk’. Belum hilang keterkejutan saya, sinar bulat tersebut telah menghantam dada hingga saya terjengkang. Ini bukanlah halusinasi, karena saat itu saya dalam keadaan terjaga di bawah cahaya lampu kamar yang terang.

Bulu kuduk saya pun merinding. Dalam ketakutan itu saya membangunkan suami yang tertidur pulas. Nampak dari guratan wajahnya, ia sama sekali tidak terganggu dengan peristiwa yang baru terjadi. “Yah, kok ada sinar masuk ke dada ibu. Sinar apa ya?” “Ah, itu tidak apa- apa,” ujarnya menenangkan hati saya yang masih was-was. Sepenggal kata menyejukkan tersebut mengalahkan keterkejutan yang bercampur dengan ketakutan hingga saya pun kembali terlelap dalam tidur.

Peristiwa malam itu melengkapi derita yang saya alami. Sebelumnya saya sudah menderita sakit migrain bertahun- tahun. Namun apa yang terjadi setelah masuknya sinar bulat ke dada saya seakan mengobrak- abrik pertahanan saya selama ini. Sejak saat itu, saya mulai cermas dan ketakutan tanpa sebab yang pasti. Saya sendiri heran mengapa cemas sedemikian rupa padahal tidak ada apa-apa. Rasa cemas itu selalu muncul menjelang Maghrib.

Untuk menghilangkan rasa cemas itu saya berusaha banyak berolahraga. Saya tidak lagi peduli dengan komentar orang- orang yang sempat melihat tingkah pola saya. “Ibu, mainan tali kayak anak kecil saja,” ujar Afif, ketika melihat saya bermain tali. “Biarin, wong ibu pingin sehat,” jawab saya sambil terus bermain tali. Kadang- kadang saya juga lompat-lompatan di depan suami sambil menonton TV. Awalnya ia juga terkejut, namun setelah saya jelaskan ia pun menjadi paham dan sering mengingatkan saya, “Bu, senam bu. Jangan lupa.”

Rasa cemas itu akhirnya membawa saya datang ke pengobatan alternatif di Tanjung Priok, dengan ditemani suami. Waktu itu hari Minggu dengan mengendarai sepeda motor di tengah terik panas matahari. Ketika sampai di rumah sang dukun waktu sudah menjelang senja.

Saya dan suami dipersilahkan masuk ke ruang tamu. Tak lama setelah saya menyampaikan permasalahan yang saya hadapi, dukun tersebut mengambil minyak wangi dan mengusapkan ke tangan kanannya. la menyuruh istrinya mengambil satu botol air. Sang dukun kemudian berkomat-kamit dengan bahasa yang tidak saya pahami, lalu meniup air di botol tersebut sebelum mengocok-kocoknya kemudian saya disuruh meminumnya. Baru dua teguk meminumnya, saya langsung tidak bisa mengendalikan diri lagi. Tiba-tiba muncul perasaan benci kepada dukun itu, “Eh, jelek loe. Tukang bohong loe,” bentak saya kepadanya. Botol air yang masih saya pegang langsung saya tutup dan saya lempar kepadanya dengan geram.

la terkejut melihat reaksi saya. Dan dengan segera mengambil kembali botol aqua yang saya lemparkan lalu mulutnya kembali komat-kamit. Tak lama kemudian terdengar suara aneh dari sang dukun, “Woohini aku”. Ternyata ia sekarang menjadi media jin untuk mengobati saya. “Saya minta minyak wangi. Saya tidak minta apa-apa. Cuma nanti dikirimi minyak wangi saja,” ujar jin melalui mulut sang dukun.

Selesai pengobatan sang dukun bercerita bahwa ia tidak memungut biaya. Si pasien hanya diminta datang lagi dengan membawa minyak wangi. Kedatangan pasien sendiri bisa bertahap. Awalnya tiga hari sekali, lalu seminggu sekali kemudian sebulan sekali. Setiap kali pasien datang terlebih dahulu sang dukun shalat dua rakaat lalu menjalin kontak jarak jauh dengan pasien. Dari kontak batin tersebut si pasien ditunjukkan minyak wangi jenis apa yang harus dibawa.

Mendengar penjelasannya saya semakin yakin bahwa ia menggunakan jin. Saya yakin botol air yang dibaca menjadi media jin antara pasien dan sang dukun. Dari sini saya sudah tidak percaya dengan cara pengobatannya. Sebelum pulang, dukun tersebut memberi saya sebotol air yang pada akhirnya saya buang di halaman masjid. Saya tidak ingin kerasukan jin gara- gara minum air itu,

Pengobatan di Tanjung Priok bukannya menyelesaikan masalah tetapi malah semakin memperparah keadaan. Terus terang, rasa cemas dan hawatir semakin tak terkendali. Saya seperti orang linglung. Sering lupa dan tidak ingat lagi apa yang harus saya lakukan. Misalnya ketika saya berada di ruang tamu dan ingin mengambil obat di dapur, saya langsung lupa begitu sampai di dapur. “Duh ya Allah…. Tadi itu mau ngapain ya. Saya kok lupa begini sih.” Akhirnya saya balik lagi ke ruang tamu dengan menyusuri kembali jalan ketika ke dapur. “Saya tadi melangkah dari sini, terus ke ruang tengah dan… Oh iya, saya mau ngambil obat.” Kejadian seperti ini seringkali berulang.

Tetangga kiri kanan juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya, “Kok ibu Afif sekarang tidak seperti dulu, kenapa?” tanya para tetangga kepada yang lain. Bisik-bisik tetangga yang tidak ditemukan jawabannya.

Penderitaan yang tiada henti semakin membuat saya gelap mata. Sungguh menggelikan memang. Saya disuruh makan telur isim tujuh, yaitu telur ayam matang dengan tulisan arab tujuh surat dalam al-Qur’an di kulitnya. Saya disuruh menjilat tulisan tujuh surat tersebut sebelum memakannya. Katanya bila telur dikupas dan warnanya menjadi hitam berarti ada orang yang jahat sama saya. Ada orang yang jahil kepada saya.

 

Bisikan Menyuruh Saya Membunuh Anak Saya Sendiri

Februari 2004, penderitaan saya semakin lengkap. Ya, keteguhan hati seorang ibu sedang di uji dengan datangnya bisikan tanpa diketahui siapa yang berbicara. Tanggal 22 Februari sebenarnya adalah hari ulang tahun Afif. la menangis dan merengek minta dibelikan robot-robotan sebagai hadiah ulang tahun. “Kok, ayah lupa hadiah ulang tahun Afif sih,” rajuknya sambil terus menangis. Apa boleh buat, saya biarkan saja Afif menangis karena suami saya masih belum pulang kerja. Selang beberapa menit kemudian terdengar dering telpon. Ternyata suami saya yang menelpon. “Ayah, sekarang ulang tahun Afif. Kok ayah lupa sih?” rengek Afif kepada bapaknya. Hari itu Afif menangis terus, hati saya pun semakin tidak tenang.

Belum lagi kering keringat suami, begitu ia sampai di rumah langsung saya ajak pergi ke toko mencari robot-robotan buat Afif yang telah menangis berjam-jam lamanya. Nah, pada saat saya dan Afif sudah naik sepeda motor, sementara suami saya masih di dalam rumah, tiba- tiba terdengar deru angin kencang yang disusul dengan suara mengerikan. “Whuuu, whuuu, haa haa hii hiii. Anak kamu ini nakal. Bunuh saja!” ujar suara asing itu. Saya perhatikan sekeliling, tidak ada seorang pun kecuali kami berdua. Namun suara itu, terasa dekat sekali. Suara itu berasal dari sepeda motor yang sedang saya naiki. Bulu kuduk saya langsung merinding.

Sejak saat itu, saya tidak mau makan dan tidak lagi bisa tidur. Bagaimana mungkin saya membunuh darah daging saya yang saya rawat dengan susah payah sejak kecil. Hati orang tua mana yang tega mendengar bisikan seperti itu. Sehingga menjadi wajar bila bisikan mengerikan itu terus saja terngiang di telinga, walau telah berlalu berhari-hari. Akibatnya badan saya semakin kurus, mata saya semakin kuyu. Berat badan saya pun turun 6 kg. Saya akui, memang saat itu saya telah kehilangan semangat. Kalau bukan karena ingat pada Allah dan perhatian keluarga, saya tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya. Suami saya sampai kebingungan melihat saya tidak mau makan dan tidak bisa tidur. Saya hanya bengong dengan tatapan mata kosong.

Peristiwa itu kemudian saya ceritakan kepada teteh (kakak perempuan) saya. “Jangan diikuti. Itu mah bisikan syetan. Bilang saja, ‘kamu yang harus dibunuh. Bukan anak saya, yang menentukan umur mah Allah,” kata teteh.

Terus terang, sejak awal keluarga saya berpikir bahwa saya mengalami tekanan mental. Untuk itu saya dibawa berobat ke psikiater. Anehnya, dokter sendiri dibuat bingung. “Kok ibu dikasih obat ini tidak mempan diganti dengan obat lain juga tidak berhasil,” kata dokter kepada suami saya.

 

Pertemuan dengan Majalah Ghoib

Dari sini keluarga saya sadar bahwa apa yang saya alami ini ada kaitannya dengan gangguan jin. Karenanya dalam kondisi fisik yang lemah, mata kuyu dan kaki yang terasa berat untuk digerakkan saya datang ke kantor Majalah Ghoib. Waktu itu saya mendapat jadwal terapi dua puluh hari kemudian. Wah lama amat, pikir saya. Dan secara kebetulan beberapa hari kemudian akan diadakan terapi ruqyah di Hotel Sofyan. Ini adalah kesempatan yang tidak boleh terlewatkan, dan saya pun ikut mendaftar.

Ruqyah di hotel Sofyan terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah ceramah seputar gangguan jin dan dilanjutkan dengan terapi ruqyah massal. Pada sesi ceramah, saya merasa biasa saja, namun pada saat ruqyah di mulai beberapa menit tangan saya langsung teracung ke atas tanpa dapat saya kendalikan. Saya berteriak histeris, “Saya tidak mau membunuh anak saya. Saya tidak mau… Eh, jangan. Jangan itu anak saya.” Yang saya rasakan saat itu ada yang berbuat jahat terhadap anak saya. Saya terus berteriak pilu. Teriakan yang menyayat hati siapapun yang mendengar, apalagi mereka melihat langsung bagaimana kondisi saya saat itu.

Malam itu saya diterapi sebentar dan dilanjutkan keesokan harinya, tempatnya masih di Hotel Sofyan. Saat diterapi Ustadz Junaidi, saya merasa kepanasan, dada sesak dan ingin berontak. Lalu terjadilah dialog dengan jin yang merasuk ke tubuh saya. “Siapa kamu?” tanya Ustadz Junaidi.

“Romlah”.

“Kenapa kamu mengganggunya?”

“Karena dia buang air sembarangan.”

“Maksudnya apa?”

“Dia menyiramkan air panas di kamar mandi dan mengenai anak saya.”

“Ada berapa yang ada di sini?”

“Saya dan ketiga anak saya”

“Semuanya dari kamar mandi?”

“Iya.”

“Salahmu sendiri. Dia kan tidak tahu. Kamu tidak kelihatan. Dia kan membuang air panas di mana saja. Kalau kamu tahu ada orang mau buang air panas, jangan tinggal di situ. Sekarang bila kamu benar-benar mau bertobat. Kamu harus keluar dari Lisa. Biar dia membaca basmalah ketika membuang air panas. Suamimu ada nggak?”

“Tidak ”

“Romlah, siapa nama anak- anakmu?”

“Kodir, Kasim dan Rahmat”

Kemudian Ustadz Junaidi meminta Kodir, salah seorang anaknya Romlah, untuk Naik ke mulut dan diajak berdialog.

“Dir … dir. Kenapa kamu mengganggu orang ini?”

“Disuruh ibu saya.”

“Namamu diganti dengan Abdul Kodir.” Jin Abdul Kodir yang diperintahkan ibunya untuk mengganggu Lisa akhirnya menyerah dan mengucapkan dua kalimat syahadat. la diikuti dengan kedua saudaranya serta jin Romlah. Mereka disuruh Ustadz Junaidi untuk pindah ke masjid.

 

Sakit Kepala Bertahun-Tahun Itu

Dialog antara Ustadz Junaidi dengan satu keluarga jin penghuni kamar mandi tersebut menyadarkan saya apa yang terjadi sejak beberapa tahun yang lalu. Memang saya suka membuang air panas bekas masakan daging sembarangan. Air panas itu tanpa saya dinginkan terlebih dahulu. Dengan harapan lemaknya juga ikut terbuang dan tidak sulit membersihkannya.

Saya cuek saja meski ibu mertua sejak awal sudah mengingatkan saya agar menghentikan kebiasaan yang tidak baik ini. “Jangan suka buang air mendidih sembarangan,” kata ibu mertua suatu kali. Saya tetap tidak mengindahkan peringatan ibu mertua sehingga pada kesempatan lain, saya membuangnya di lubang-lubang semut yang banyak terdapat di pekarangan rumah. Dan pada kesempatan lain saya membuangnya di kamar mandi. “Rin. Jin itu sukanya di lubang-lubang. Jadi tidak boleh nutup lubang- lubang. Tidak boleh buang air sembarangan. Biarkan airnya menjadi dingin dulu” kata ibu mertua ketika melihat saya masih membandel. “Ah, itu sih tahayul. Biarin saja biar jinnya mati,” kata saya lagi.

Sakit kepala sebelah yang lebih dikenal dengan migran sudah sekitar delapan tahun saya derita. Bisa dipastikan setiap menjelang datangnya haidh, kepala saya pasti pusing sekali. Yang lebih aneh lagi, sakit kepala tersebut selalu menyerang menjelang Maghrib. Memang awalnya saya tidak tahu bahwa sakit migrain tersebut akibat gangguan jin yang membalas dendam karena tempat tinggalnya sering saya siram dengan air panas. Sehingga untuk menghilangkan rasa sakit itu saya selalu minum obat sakit kepala. Namun hasilnya tidak memuaskan. Sakit kepala itu terus saja menyerang.

Kalau sudah semakin parah biasanya saya sampai muntah- muntah. Waktu saya berobat, dokter hanya mengatakan bahwa sakit kepala tersebut akibat pengaruh hormon. Maklum, seperti yang saya katakana tadi, migrain selalu datang menjelang haidh, sehingga saya tidak punya pikiran macam-macam.

Untuk mengurangi rasa sakit kepala, saya pernah diajari salah seorang kerabat dekat saya ilmu tenaga dalam. Saya disuruh menghadap ke barat dan kakak berada tepat di belakang saya. Sejenak saya disuruh menarik nafas dalam-dalam dan bila tangan saya nantinya bergerak sedemikian rupa, maka saya harus mengikutinya saja. Memang, saat itu tangan saya bergerak sendiri, saya sempat keheranan di buatnya.

Gerakan-gerakan tangan yang diajarkan tadi harus diperdalam kembali di rumah. Ketika saya praktikkan di rumah, saya menjadi seperti orang gila. Sesekali tengok kiri- kanan. Takut kalau ada yang melihatnya. Ketika sudah berjalan beberapa hari, saya disuruh latihan gerakan shalat tanpa bacaan. Saya melakukan gerakan shalat satu rakaat tanpa salam. Kakak saya sempat bertanya, “Lho, kok tidak pakai salam.” “Lha wong shalat bohong- bohongan, masak pakai salam, Siapa yang disalamin,” jawab saya sambil tertawa.

Saya bersyukur, derita berkepanjangan akibat sakit migrain akhirnya sembuh setelah saya mengikuti terapi ruqyah ke empat kalinya. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa sakit kepala tersebut akibat gangguan satu keluarga jin yang dendam karena rumahnya terusik oleh siraman air panas, seperti yang terjadi dalam dialog dengan jin ketika diterapi.

Inilah sepenggal kisah hidup saya yang mengalami derita berkepanjangan. Semoga kisah ini dapat dijadikan renungan oleh setiap orang bahwa tidak selayaknya kita membuang air panas sembarangan. Barangkali di tempat tersebut menjadi tempat tinggal jin yang tidak terlihat oleh mata kita.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Syetan Ikut ‘Memainkan’ Musim Misterius

Fiet, mahasiswi pilihan itu bukan saja telah menorehkan kenangan indahnya di negeri Laos, tetapi telah menggoreskan garis-garis pelajaran bagi kita. Fiet beruntung bisa menjadi salah satu mahasiswi yang dipilih mewakili Indonesia untuk bisa berjalan-jalan menikmati keindahan dan mereguk pengalaman di negeri orang. Tetapi dia tidak beruntung, ketika negeri itu bukanlah negeri muslim. Karena tetap saja, seekor ikan akan betah ketika berada dalam air. Seorang muslim akan lebih mendapatkan ketenangan ketika dia hidup dalam nuansa dzikir dan asma Allah yang bisa setiap lima kali dikumandangkan. Tentu hal itu tidak terbayang bisa didengarkan di negara Laos yang merupakan kota Budha.

Akhir dari perjalanan indah itu ternyata pahit. Jin negara Laos merasuk dalam diri Fiet dan mengganggu dirinya. Wajar saja kalau jin itu masuk. Seperti pengakuan Fiet sendiri, ibadah di Laos tidak termasuk bagian dari jadwal seabreg kegiatannya. Dan hanya ibadah-ibadah wajib saja yang bisa dijalani. Terbayang oleh kita betapa ibadah Fiet yang biasanya terasa nikmat, menjadi tidak lagi nikmat karena suasana. Tipisnya ibadah ini dipadukan dengan keadaan negara Laos yang merupakan negara patung, yang dalam kajian Islam patung adalah benda yang sangat disenangi jin. Belum lagi ritual lengkap dengan kepercayaannya, yang kesemuanya harus dilakoni oleh para mahasiswa yang datang dengan dalih adat. Seperti, untuk masuk ke Kuil Announchar diharuskan minum air sungai Nam Khan kalau tidak terkena kutukan.

Mungkin Fiet juga lupa doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah ketika berada di tempat baru. Sehingga suasana yang sangat kondusif untuk jin mengganggu itu, benar-benar tidak bisa terkalahkan.

Doa perlindungan yang seharusnya dibaca itu, kelihatannya malah digantikan dengan gelang ‘sakti’ yang harus tetap dipakai selama berada di Luang Phrabang. Tidak boleh dilepas. Fiet menurutinya, bahkan ketika teman- temannya telah membuang gelang itu setelah keluar dari kota tersebut, Fiet malah membawanya ke Indonesia dan gelang itu tetap melingkar di pergelangannya.

Audzu bikalimatillahit tamati min syarri ma khalaq, begitulah bunyi doa singkat tetapi sangat melindungi ketika berada di tempat yang belum pernah kita singgahi. Dari maknanya kita tahu, betapa doa tersebut sangat penting sekali (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan yang telah Dia ciptakan). Dengan doa itulah seharusnya Fiet berlindung. Sehingga segala bentuk kejahatan termasuk kejahatan makhluk yang tidak nampak tak mampu menembusnya.

 

Musik Khaen yang Misterius

Dalam perjalanan Fiet, belajar alat musik setempat dimasukkan dalam program, sementara ibadah muslim tidak pernah dijadwalkan. Fiet dan kawan-kawannya juga belajar musik khas negara Laos. Khaen namanya.

Ternyata musik Khaen sangat misterius. Kemisteriusan itu seperti yang diungkapkan oleh para ahli musik setempat bahwa alat musik itu tidak bisa dipelajari oleh sembarang orang. Dan ternyata, Fiet dengan sangat mudah mempelajarinya dan dengan sangat lihat memainkannya. Bahkan terlihat bak gadis Laos asli.

Musik inilah yang selalu terngiang sepulangnya ke Indonesia. Suara iring-iringan musik tersebut hadir dalam setiap kesempatannya. Lama-kelamaan tentu ini sangat mengganggu.

Dalam kajian Islam, musik sangatlah dekat dengan dunia jin. Maka Nabi telah menutup peluang seseorang untuk dekat dengan dunia syetan melalui nyanyian. Biasanya musik bertambah nikmat jika mengiringi perjalanan panjang kita menuju suatu tujuan. Untuk itulah Rasul mengingatkan, “Tidak seorang pun yang senantiasa berdzikir dengan menyebut nama Allah dalam perjalanan, melainkan malaikat akan ikut menyertainya. Dan tidak seorang pun yang senantiasa mengumandangkan syair (lagu) atau sejenisnya dalam perjalanan, melainkan syetan akan menyertainya.” (HR. Thabrani).

Masih banyak riwayat yang melarang kita untuk mendengarkan musik. Salah satunya adalah hadits hasan, “Akan ada dari umatku yang menghalalkan perzinahan, kain sutera, minuman keras dan alat musik.”

Dalam riwayat Ahmad dan Tirmidzi, Rasul bersabda, “Jangan menjual alat musik, jangan membelinya, jangan mengajarkannya. Tidak ada kebaikan perdagangan yang menjual alat musik.”

Para shahabat dulu juga sangat menjauhi musik. Ibnu Umar suatu saat mendengarkan suara alunan seruling ketika sedang berkendaraan dengan Nafi’. Spontan telinganya ditutupi dengan jari dan mengalihkan arah kendaraannya. Kemudian Ibnu Umar bertanya kepada Nafi’ apakah suara itu masih terdengar. Selama Nafi’ masih menjawab iya, Ibnu Umar belum melepaskan jarinya dari telinganya. Ketika Nafi’ memberitahu bahwa dirinya tidak lagi mendengar, maka dia melepaskan jarinya dari telinganya. Kemudian Ibnu Umar berkata, “Beginilah yang dilakukan Rasulullah ketika beliau mendengarkan seruling seorang gembala (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah). Imam Syaukani mengomentari, “Sebagian orang mungkin bertanya mengapa Nafi’ diizinkan oleh Ibnu Umar untuk mendengar seruling di saat dia menutup telinganya. Maka bisa dijawab bahwa kemungkinan besar ketika itu Nafi’ masih belum baligh.”

Bahkan Aisyah menghubungkan musibah yang terjadi dengan kegemaran orang memainkan musik. Ketika terjadi gempa di zamannya, dia ditanya oleh masyarakat mengapa gempa bisa terjadi, “Jika manusia telah melegalkan zina, minuman keras dan gemar memainkan musik.” jawab Aisyah.

Musik melalaikan kita dari dzikir dan al-Qur’an. Seperti keadaan kita hari ini. Musik telah menyuguhkan kerusakan dari berbagai sisi. Dari isi lagu yang sangat tidak mendidik sampai penampilan para penyanyi yang semakin hari semakin seronok. Bahkan sebagian musik identik dengan kekerasan dan narkoba.

Dalam sebuah data disebutkan, kelompok penyembah syetan tengah berkembang pesat di berbagai negara. Sebagaian mantra-mantra ritual mereka, diselipkan dalam lagu-lagu yang sebagiannya akrab di telinga kita.

Inilah yang seharusnya selalu kita jaga terutama dalam rumah kita. Jangan sekali-kali memperdengarkan musik kepada anak-anak kita. Tanpa diperdengarkan pun mereka pasti mendengarnya di tempat-tempat lain. Biarlah di rumah kita tumbuh generasi yang benar- benar terjaga dari syetan.

Imam Ahmad berkata, “Musik hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati.” Kita harus belajar untuk membersihkan diri ini dari musik. Karena ternyata syetan ikut “memainkan” musik. Musik lebih banyak mendatangkan mudharat, apalagi musik ritual seperti Khaen.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 19 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Jimat Kecantika yang Menyengsarakan

Entah berapa banyak korban yang telah termakan oleh iklan dan bualan dukun. Dan kita yakin jumlah jimat yang telah diproduksi dukun yang berkolaborasi dengan syetan lebih banyak dan beragam. Satu orang saja terkadang memiliki dua, tiga jimat bahkan lebih. Pernah ada salah seorang pasien ruqyah menyerahkan jimat yang dikoleksinya sebanyak satu tas penuh. Bentuknya bermacam-macam, katanya khasiatnya juga beragam, yang dia dapatkan dari berbagai lapisan dukun yang tersebar di negeri ini. Salah satunya adalah Hafsari, dia telah terjerat jimat-jimat hasil produksi seorang dukun, jimat kewibawaan, kecantikan dan pengasihan, yang kebetulan dukun itu termasuk kerabat dekatnya. Dia telah menyerahkan empat macam jimat ke kami untuk dimusnahkan sebelum diruqyah. Dan alhamdulillah kamipun telah memusnahkannya.

Sudah sekian lama dia menjadi budak jimat. Dia harus ekstra hati-hati ngrumat jimat itu. Dia harus menjaga formulasi susunan jimatnya agar tidak berubah. Tidak lupa memasang jimat itu setiap hari dengan seksama agar terus bisa nempel di kulitnya dan tidak terkena air. Dan dia merasa berkewajiban untuk memandikan jimat andalannya setiap malam Jum’at Kliwon, atau memperbaharui kekuatannya setiap bulan. Semua ritual itu ditaatinya seratus persen agar ‘kesaktian’ jimatnya tidak luntur. Dia betul-betul telah menjadi budak syetan. Ketergantungannya kepada jimat membuatnya tersiksa dan menderita. Dan itulah bukti kebenaran sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang memakai sesuatu (jimat), maka (perkaranya) akan diserahkan kepadanya”. (HR. Ahmad). Hafsari telah mengalaminya, saat dia kelupaan membawa jimatnya. Dia tidak percaya diri, hatinya ketar- ketir, bayangan kegagalan menyelimuti pikirannya, yang akhirnya kekhawatirannya betul-betul terbukti, nego bisnisnya gagal total.

Begitulah, ketergantungan terhadap sesuatu membuat seseorang menjadi hambanya. Allah dengan murka-Nya berlepas diri dari orang tersebut. Itulah arti dari hadits riwayat Ahmad di atas. Ketika Allah berlepas diri, maka kegagalan pemegang jimat tidak dapat dielakkan lagi. Kelemahannya muncul saat kepercayaan dirinya hilang. Padahal percaya diri adalah modal utama bagi seorang yang bekerja sebagai pelobi klien.

Kecantikan dan penampilan sering menentukan apakah lobi itu berhasil atau tidak. Bahkan hari ini, lobi-lobi dan tender-tender bisnis banyak digolkan di lapangan golf. Tentu dengan “bumbu” di lapangan itu. Dan siapa yang bumbunya paling sedap dialah yang akan memenangkan tender.

Untuk menambah kepercayaan diri plus menarik perhatian serta memenangkan tender sering kali seseorang memakai jimat kewibawaan dan kecantikan. Seperti kisah saudari kita Hafsari. Dia telah membuktikannya jimat kecantikan yang dia miliki. Bisnis besar dengan mudah gol dan para big bos terpukau dengan pesona yang memancar dari jimatnya.

Ini juga menunjukkan betapa jin telah merasuk ke berbagai sisi kehidupan orang yang lupa akan akhiratnya. Para big bos yang jauh dari Allah itu dengan mudah dipengaruhi oleh pemilik jimat. Karena mereka juga para pemakai jimat dalam bisnis-bisnis mereka. Mereka yang tergantung kepada syetan dengan mudah juga dikuasai oleh syetan yang ada di jimat kecantikan dan kewibawaan.

Tinggal siapa yang lebih kuat jinnya. Pertarungan terbuka antar jin telah terjadi. Karena Allah telah berlepas diri dari mereka semua. Siapa yang lebih kuat jin dan sesajennya, dialah yang memenangkan pertarungan. Dan dalam kaidah kerjasama dengan dunia jin, mereka yang semakin jauh dari Islam lah yang akan menang.

Tragedi bisnis yang dimulai dengan jin maka berakhir pula dengan jin. Berawal dengan kerugian berujung pula dengan kerugian. Kalau pun dia merasa untung dalam bisnisnya di dunia, tetapi kerugian di akhirat jelas telah menunggu.

Seperti halnya jimat yang lain, jimat kecantikan dalam bisnis juga akan berakhir sama dengan jimat yang lain. Ketidaktenangan di atas kedamaian semu, kegelisahan di atas kebahagiaan semu dan hidup yang selalu memunculkan lingkaran problem.

Jimat adalah benda mati yang tidak bisa mendengar jeritan kita, juga tidak bisa melindungi kita dari bencana atau membantu kita meraih kesuksesan. Kalau ternyata kita merasa jimat yang kita miliki bisa menolong dan melindungi, berarti mulai saat itulah kita berada dalam arus lingkaran syetan, kita dalam kungkungannya. Dan sejak detik itu pula kita menjadi budak syetan dan pemujanya, seperti yang pernah dialami saudari Hafsari. Maka berhati-hatilah, bisa saja orang yang selama ini dekat dengan kita, sangat perhatian dengan problematika yang kita hadapi, lalu memberikan solusi. Tapi ternyata solusinya menyimpang dan justru menjerumuskan kita, bukan menyelesaikan masalah, tapi malah memperburuk masalah. Sudah saatnya kita selektif atas informasi yang ada di sekitar kita dan tidak mudah percaya pada setiap sumber berita, walaupun dia bulek kita sendiri. Kalau memang tidak sesuai syari’at, kita harus berani menolaknya. 

Perjuangan meraih hidayah seperti yang dicontohkan Hafsari adalah teladan yang baik. Segala kemewahan dan keberhasilan hidup bukan patokan untuk kita melanjutkan jalan jika salah. Kita harus segera kembali ke tempat awal agar memulai hidup yang benar. Kita doakan semoga Hafsari tetap istiqomah dalam menapaki Syari’at Islam. Keyakinan kita adalah: Hanya Allah tempat kita bergantung.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Mengobati dengan Bisikan-Bisikan Jin

Sulis dengan kelebihannya bisa mengobati orang dengan hanya sekedar menjalankan bisikan dalam hatinya atau bisa menebak pencuri dengan foto, hanya sebuah kasus. Tetapi kasus ini sebenarnya mewakili banyak orang di negeri ini.

Kemampuan yang dimiliki Sulis oleh kebanyakan masyarakat kita dimaknai sebagai anugerah dari Tuhan, dianggap orang yang linuwih. Intinya, manusia pilihan yang dipilih dari sekian banyak manusia. Itulah sebabnya masyarakat kita merasa biasa saja mendatangi orang seperti Sulis untuk menyelesaikan masalahnya. Apalagi jika orang sedang panik, kehilangan benda berharga umpamanya. Dengan tergopoh-gopoh, biasanya mencari orang pintar agar bisa mengetahui pencurinya dengan harapan barangnya bisa kembali. Atau orang yang sudah didera penyakit yang tak kunjung sembuh dengan berbagai obat kedokteran dan ramuan tradisional. Orang pintar seperti Sulis seringkali menjadi ujung dari pengharapan untuk sembuh.

Ternyata, kelebihan yang dimiliki Sulis berasal dari jin. Sehingga masalahnya menjadi sangat terang. Terang bagi siapa saja yang merasa bisa mengobati dengan bisikan-bisikan, bahwa itu usaha jin untuk menyesatkan manusia. Dan terang bagi mereka yang datang untuk meminta bantuan kepada orang seperti itu, karena meminta bantuan kepada jin adalah kesesatan.

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah bisikan jin. Yang lebih parah lagi kesesatan itu dianggap sebagai karamah. Ini juga yang dirasakan oleh Sulis. Pada awalnya, dia pun merasa bahwa semua kelebihan itu dianggap biasa. Kalaupun terjadi dialog dalam hatinya, dia masih memberikan peluang untuk masuknya kelebihan itu ke dalam bagian dari karamah.

Wajar, karena beda antara karamah dan kelebihan dari jin tipis saja. Keduanya sama-sama kelebihan. Kelebihan yang dimiliki bisa jadi sama persis. Tetapi ada ciri jelas untuk mengetahui apakah bisikan itu adalah jin atau karamah. Karamah tidak bisa diulang-ulang sesuai dengan kemauan dari pemiliknya. Karena karamah itu murni hadiah dari Allah. Jadi, kalau ada orang yang selalu bisa menolong dengan bisikannya kepada setiap orang yang datang maka itu adalah sihir.

Seorang Tabi’in yang pernah mempunyai karamah seperti mukjizatnya Nabi Ibrahim, yaitu tidak mempan dibakar, hanya diberikan Allah sekali itu saja. Setelah peristiwa heboh itu, beliau kembali takut panasnya api. Manusiawi, karena api memang panas dan dia tidak bisa mengulang kebehatannya tahan terhadap panasnya api.

 

Jin Menjerumuskan Pelan-Pelan

Pada mulanya biasa saja. Bisikan di hati Sulis juga awalnya biasa, bukan untuk mengobati. Tetapi lama-lama, jin yang “dipelihara” itu merasa senang dan membisikkan bisikan yang lebih mengikat. Yaitu bisikan untuk mengobati dan menebak. Sehingga si orang itu merasa bangga karena mempunyai kelebihan yang disaksikan oleh orang banyak.

Sampai di sini, belum banyak kebohongan jin yang terungkap. Begitu ibunya sendiri sakit, Sulis yang mampu mengobati orang lain itu tidak sanggup mengobati ibunya. Ujung-ujungnya jin mencoba mengelak, bahwa penyakit ibunya adalah penyakit medis. Padahal selama Sulis mengobati dan sebagaimana orang-orang pintar yang lain selalu tampil bisa mengobati sampai pada masalah medis sekalipun. Memang begitu lah sang pendusta.

Di Majalah Ghoib, beberapa kasus ruqyah ada yang sejenis. Di mana seseorang yang mempunyai kelebihan ternyata tidak sanggup menjadi solusi bagi dirinya sendiri. Entah bagaimana mencerna masalah itu, tetapi di sini kebohongan jin itu mulai nampak.

Sulis bersyukur, jin yang sering membantunya dengan bisikan-bisikan belum menariknya jauh ke dunia yang lebih menyesatkan. Allah cepat menyadarkan Sulis bahwa jin itu harus dikeluarkan. Ruqyah Islami dilakukan. Dan jin pun terusik dengan ayat-ayat Allah.

Dari ruqyah inilah nampak jelas benar, bahwa bisikan itu bukanlah anugerah dari Allah. Jin itu mulai melancarkan kebohongan demi kebohongan agar Sulis mau mempertahankannya. Mulai dari mengaku sebagi ruhnya Rasulullah. Untuk meyakinkan bahwa kelebihan itu bukan kesesatan. Bukti kebohongan jin kelihatan sekali, saat Sulis tetap bertekad untuk ruqyah. Pengakuannya berpindah dari ruh Rasulullah kepada ruh neneknya. Untuk meyakinkan itu, jin menceritakan sejarah hidup Sulis. Agar Sulis tidak mengeluarkannya karena iba terhadap neneknya.

Tekad untuk menghilangkan jin dari kehidupan kita, harus sekuat tekad Sulis. Karena jin yang sudah merasa enak itu tidak akan rela dikeluarkan. Dengan berbagai cara jin berusaha untuk bertahan. Dari mulai mengiba hingga menakut-nakuti. Seperti yang dialami Sulis akhir- akhir ini, dia mulai diganggu dalam tidurnya. Mimpinya selalu menyeramkan.

Tekad untuk tetap memusuhi jin yang sering membisikkan sesuatu itu, harus betul-betul kuat. Sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’am: 112).

Mujahid menjelaskan dalam tafsirnya, “Jelas disebutkan bahwa jin yang kafir adalah syetan yang membisikkan kepada syetan manusia yaitu orang-orang yang kafir di antara mereka perkataan yang indah untuk menipu (manusia).”

Orang-orang seperti Sulis harus segera bertaubat. Karena ujung-ujungnya syetan juga. Dan tidak sedikit yang tersesat karena silau dengan kelebihannya. Sebagaimana dalam lanjutan ayat di atas, “Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu. Mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syetan) kerjakan.” (Al-An’am: 113).

“Untuk itulah ketika seseorang berkata: saya mempunyai jin pembantu. Maka dijawab: Apakah kamu mengimani hari kebangkitan dan pembalasan? Jawaban dalam bentuk pertanyaan ini sebagai bukti dari dusta, pengingkaran, kekafiran dan pembangkangan.” jelas Ibnu Katsir.

Mengobati dengan bisikan-bisikan dan menebak sesuatu yang ghoib dengan foto adalah merupakan tipu daya syetan. Jadi, jangan tertipu oleh bisikan-bisikan dan kelebihan-kelebihan seseorang sebelum kita tahu betul bahwa dia terbebas dari kesyirikan.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 16. Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Saya Mampu Mengobati dan Menebak dengan Foto

Saya Mampu Mengobati dan Menebak dengan Foto

Keahlian supranatural? Tidak diragukan bahwa ia adalah hasil kolaborasi manusia dengan jin. Sadar ataupun tidak. Penarikan penyakit dengan tenaga dalam atau menebak pencuri dengan menggunakan media foto, memang banyak dijumpai di masyarakat. Tapi jangan sampai tertipu, karena ternyata keahlian itu berasal dari bisikan jin. Orang boleh saja mengingkarinya, tapi penuturan Sulis berikut menjadi bukti tersendiri atas keterlibatan jin Gadis berusia 33 tahun yang tinggal di Jakarta Selatan ini menceritakan pengalamannya kepada Majalah Ghoib setelah ruqyah yang keempat kalinya. Berikut petikan kisahnya.

Entah, apakah kemampuan  tidak wajar yang saya miliki itu terkait dengan tradisi nenek moyang kedua orangtua saya, saya tidak tahu. Tapi sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan penganut Hindu Bali, sangatlah wajar bila kehidupan bapak dahulu, sebelum masuk Islam, tidak terlepas dari berbagai macam bentuk pemujaan kepada dewa-dewa.

Sementara nenek moyang dari pihak ibu juga tidak kalah hebohnya. Ibu terlahir dari keluarga penganut Kejawen. Karena Islam hanya menjadi label atau lebih tepatnya status keagamaan semata. Bagaimana tidak, bila dalam setahun. mereka hanya sholat 2 hari raya saja. Lucunya, meski mereka tidak shalat tapi mereka tetap berpuasa Ramadhan. Saat ditanya mengapa mereka tidak shalat? maka dengan enteng mereka mengatakan, “Biasa, memang dari dulu juga begitu.” Di lingkungan seperti inilah dahulu ibu dilahirkan. Tepatnya di kampung Jugleg, dekat waduk Gajah Mungkur, Pacitan.

Sebuah perkampungan yang masih kental nuansa kejawennya. Misalnya, saat nenek meninggal dunia, di atas gundukan tanah makam yang belum kering itu terlihat dua buah kelapa muda, kendi, piring, sendok dan cangkir berisi air yang digeletakkan sedemikian rupa di samping kanan kiri nisan.

Latar belakang kedua orang tua yang jauh dari agama itu berpengaruh besar terhadap kehidupan keluarga. Bapak dengan karakternya yang keras dan terkenal sangat hemat berbenturan dengan sifat ibu yang terbilang lemah. Akibatnya tiap hari saya melihat bapak dan ibu bertengkar Hingga akhirnya ibu tidak sanggup lagi menahan tekanan batin. Dan beliau pun terkena gangguan kejiwaan.

Waktu itu saya baru kelas lima SD. Untuk menangani penyakit ibu, bapak memanggil dukun setelah bermusyawarah dengan saudaranya yang masih beragama Hindu. Masih terekam kuat dalam ingatan saya bahwa di antara dukun itu ada yang menanam bungkusan berisi telur ayam kampung dan saputangan warna merah di pojok rumah.

Sedemikian besarnya kepercayaan bapak kepada dukun itu sehingga la pasrah saja ketika seorang dukun menyuruh ibu untuk menanggalkan seluruh pakaiannya. Ibu sendiri hanya bisa menuruti perintah itu. Sementara sang dukun menaburkan garam ke sekeliling rumah. Saya malu dan merasa terhina bila teringat peristiwa yang menghilangkan nalar sehat itu.

Namun, sekian banyak dukun yang datang, tidak satu pun bisa menyembuhkan ibu. Empat tahun sudah ibu didera gangguan kejiwaan. Tragisnya, sudah dua puluhan dukun yang diundang ke rumah. Saya yang saat itu sudah mulai beranjak dewasa merasa sebel melihat tingkah laku bapak yang tidak bisa lepas dari dunia klenik maka saya utarakan niat untuk sekolah di pondok pesantren Dengan harapan suatu saat nanti saya bisa merubah kebiasaan bapak.

Niat yang mulia ini, entah kenapa dijawab dengan keanehan-keanehan. Karena sejak saat itu saya bisa melihat makhluk misterius yang berkelebatan di rumah. Seperti yang terjadi pada suatu malam, saat sedang shalat di kamar bapak yang seluas 2 x 3 meter. Dalam temaram cahaya lampu, tiba- tiba mata saya langsung terpaku kepada sosok bayangan hitam di samping almari. Bayangan itu terlihat jelas, ketika saya menengok ke kanan sambil mengucapkan salam. Ohh.., jantung saya seakan mau copot. Saya melihat wanita berambut panjang menjuntai ke tanah yang diam terpaku beberapa menit, sebelum akhirnya hilang. entah kemana. Saya terkesima dan hanya bisa diam dengan mulut menganga. Dan… semuanya kembali sunyi.

Itu adalah awal episode datangnya bayangan-bayangan yang berkelebatan tanpa diketahui orang lain. Dan dalam bentuk yang berbeda-beda. Saudara saya sendiri sampai tidak percaya ketika saya ceritakan apa yang saya lihat.

Selepas dari SMP saya putuskan untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren, tepatnya di Jombang, Jawa Timur. Selama mondok di pesantren tidak terlalu banyak peristiwa aneh yang saya alami, paling hanya suara wanita yang cekikikan ketika saya berwudhu di tempat yang agak terbuka.

 

Bisikan-bisikan yang menuntun saya mengobati orang sakit

Entahlah. Setelah saya kembali ke Jakarta dan kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta, saya kembali mengalami peristiwa yang aneh. Saat itu saya bersama Ana, sedang duduk beristirahat di kafe Carefour, Rawamangun. Dalam cuaca yang panas, cukup pas rasanya menikmati segarnya minuman dingin, tapi baru beberapa menit merasakan sejuknya udara sambil menunggu pesanan, mata saya segera tertuju pada sosok orangtua yang duduk di meja kasir.

Awalnya, saya tidak terlalu perduli. Tapi beberapa saat kemudian, saya teringat dengan foto kakek Yasin. Wajah dan perawakan orangtua itu mirip kakek dari pihak bapak. Hanya rambutnya yang sebahu dengan ikat kepala melingkar di kepalanya, yang membedakan orangtua itu dengan kakek. Saya penasaran, orangtua itu terus memperhatikan saya, hingga saya berkata kepada Ana.

“Ada kakek-kakek ngeliatin saya terus di meja kasir”

“Mana sih, saya tidak melihat,” jawaban Ana itu membuat saya semakin penasaran. Saya terus menatap wajah orangtua itu hingga lima menit. Namun, tatapan saya dijawab dengan sorotan mata yang tajam, diiringi dengan senyum mengembang dari bibirnya. Tak lama kemudian, dia membalik kan badan dan…menghilang.

Selain itu ada peristiw peristiwa aneh lainnya. Semasa tahun pertama kuliah, saya selalu merasa kedinginan saat berada di ruang kuliah. Aneh memang Udara Jakarta yang panas dan ruang kuliah yang tidak ber AC seharusnya membuat badan berkeringat, tapi semua itu tetap tidak bisa mengusir hawa dingin yang menyerang saya. Untuk mengurangi hawa dingin itu, sebenarnya saya sudah memakai pakaian berlapis-lapis, tapi saya tetap menggigil kedinginan. Sementara teman yang duduk di samping saya merasa gerah. la terlihat mengibas-ngibaskan buku ke wajahnya.

Bila hawa dingin itu tidak bisa lagi saya tahan, terpaksa saya minta izin ke kamar kecil. Itu hanyalah alasan untuk bisa keluar. Saat selanjutnya saya berjemur di bawah terik sinar matahari selama lima menit, sebelum akhirnya masuk ke ruang kuliah kembali.

Sebenarnya saya sudah mulai mendapatkan bisikan-bisikan dalam hati sejak melihat di SMU. Tetapi baru pada saat kuliah semester empat, bisikan dalam hati itu mulai mengarahkan saya untuk mengobati orang sakit Entahlah, bagaimana awalnya, saya sendiri tidak tahu Hanya saja bisikan itu muncul begitu saja. Seperti yang terjadi ketika saya bermain ke rumah Imma di Depok. Setelah menonton TV dan makan malam, Irma mengeluhkan sakit kepala yang sudah bertahun-tahun menderanya.

“Coba deh sini,” iseng-iseng saya pegang kepalanya. Saya lakukan itu setelah adanya bisikan dalam hati, “Coba itu pegang kepalanya”. Beberapa saat setelah memegang kepalanya, tangan saya bergetar Aneh, pikir saya. Sementara mulut saya terus komat-kamit membaca, “La haula walaa quwwata illa billah..”. Tangan saya masih bergetar tanpa dapat saya tahan. Selanjutnya saya berkonsentrasi sejenak untuk menarik sesuatu dari kepala Irma. Saya merasa ada aliran lain yang tersedot tangan saya. Entahlah, aliran apa itu.

Tiba-tiba ada bisikan lagi dalam hati yang menyuruh saya membuang apa yang saya tarik dari kepala Irma ke atas. Lima belas menit kemudian, Irma merasakan kepalanya menjadi ringan. Sakit yang menghentak- hentak kepalanya itu hilang dengan cara yang tidak terduga.

Peristiwa ini melahirkan tanda tanya besar dalam diri saya. Apa sebenarnya yang terjadi pada diri saya ini? Apakah ada jin yang menyatu dalam diri saya? Sekian banyak pertanyaan yang menggantung hanya bertahan beberapa saat dan hilang kembali tertutup oleh kesibukan kuliah dan aktifitas di berbagai organisasi mahasiswa yang saya ikuti. Saat itu saya memang lagi asyik-asyiknya mengikuti kegiatan kuliah dan organisasi. Bayangkan saja, saya sudah meninggalkan rumah sejak jam 8 pagi. Padahal jadwal kuliah sendiri baru mulai jam satu sampai jam empat sore. Orangtua saya sampai terheran- heran melihat kesibukan saya.

Memang, dalam kehidupan. ini kita tidak bisa menutupi setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita. Termasuk peristiwa Irma di atas, tanpa saya sadari cerita itu terus beredar dari mulut ke mulut, hingga tidak sedikit teman yang datang untuk minta tolong. Meski hati terbalut kebimbangan, namun bila ada seorang teman yang datang minta tolong, saya tidak bisa menolak keinginannya.

Seperti yang terjadi saat teman karib saya menelpon, namanya Yanti. la menceritakan musibah yang menimpa keluarganya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. la yang sudah terserempet motor hingga patah kaki, saat menye berang jalan harus menerima. kenyataan pahit. Suami yang dalam pandangannya orang yang jujur difitnah teman kerjanya. la dituduh mencuri, setelah ada yang kehilangan sesuatu di kantor. Akhirnya saya putuskan untuk berkunjung ke rumah Yanti. Selepas maghrib, dengan ditemani Yanti saya ngobrol dengan suaminya. “Ada apa pak?”

“Ini, saya mendapat masalah di kantor. Kamu bisa nggak ngerjain?”

Mendengar tantangan itu, tiba-tiba saja dalam hati saya ada bisikan, “Coba tanya, punya foto teman-teman kantor nggak?” Bisikan dalam hati itu saya tindak lanjuti dengan meminta suami Yanti untuk mengumpulkan foto teman- teman kantornya.

“Saya akan melacak siapa pencurinya di antara foto-foto ini, tapi dengan syarat bapak tidak menuduh,” pesan saya kepada suami Yanti untuk tidak menuduh dan mencelaka siapapun orang yang tertunjuk nantinya.

Setelah fotonya di jejer di atas meja, saya pandangi dan saya dekatkan ujung jan saya ke foto-foto. Tiba-tiba ada bisikan dalam hati, “Orang ini pencurinya. Selanjutnya tangan saya bergerak menunjuk foto itu. Bisikan dalam hati itu masih terus menguasai diri saya dan kembali mengarahkan apa yang harus saya lakukan. “Pegang kepalanya. Waktu itu saya tidak memegangnya karena dia laki-laki. Saya hanya mendekatkan tangan ke depan wajahnya dengan jarak 2 senti, tanpa menyentuh wajahnya. Tiba-tiba tangan saya bergetar, seakan ada dua kekuatan yang saling menarik satu sama lainnya. Kekuatan dari tangan saya dan kekuatan yang berasal dari suami Yanti. Tiga menit kemudian saya tarik tangan saya dan saya buang ke atas. Sebenarnya adu kekuatan semacam ini sering kali terjadi pada saat saya mengobati orang sakit.

Sepulang dari rumah Yanti, malam harinya saya berdoa dengan bahasa Indonesia, “Kalau memang suami Yanti itu ada yang ngganggu di kantor, Ya Allah. Berilah petunjuk kepada orang itu supaya dia mengakui kesalahannya.” Selang seminggu kemudian Yanti menelpon dan bercerita bahwa pencurinya sudah mengakui kesalahannya dan suaminya sudah terbebas dari tuduhan. Telpon dari Yanti itu tidak membuat saya besar kepala, lalu menobatkan diri sebagai seorang paranormal.

Sampai detik ini, saya tidak menceritakan pengalaman itu kepada pihak keluarga saya. Karena ketika itu saya sendiri masih ragu, apakah keahlian ini dari Allah ataukah tipu daya jin yang menyatu dalam diri saya. Kekhawatiran yang sangat beralasan. “Kalau dari jin akan saya buang. Tapi kalau dari Allah akan saya pertahankan untuk menolong orang lain.”

Kebimbangan itu yang mela tarbelakangi mengapa sampai sekarang pihak keluarga tidak ada yang tahu. Kalau saya bilang dari Allah, saya khawatir keluarga saya akan membisniskan sebagaimana tawaran yang pernah saya terima dari seseorang yang dianggap sebagai tokoh agama. Dia pernah menawari saya untuk bergabung di tempat prakteknya yang cukup terkenal di bilangan Depok. Tapi saya tidak mau menerima tawaran itu, meski saya dibilang sebagai kaum muda yang cukup potensial menjadi paranormal.

Saya memang berkali-kali membantu orang lain, tapi entahlah ketika cara yang sama itu saya terapkan untuk mengobati ibu, saya tidak bisa menyembuhkannya. Saya mencoba berkali-kali, hingga akhirnya muncul bisikan dalam hati, “Dia memang sakit medis.”

 

Kebohongan jin yang mengaku sebagai ruh Rasulullah

Kebimbangan saya hilang seminggu sebelum bulan Ramadhan tahun 2003 lalu. Bisikan dalam hati saya mulai bertingkah aneh. Bisikan itu mulai mengaku yang tidak-tidak, “Saya ruh Rasulullah. Saya ini ruh Rasulullah yang punya anak bernama Fatimah.” Bisikan itu selalu hadir dalam hati. Saya tidak tinggal diam, karena sejak saat itu saya yakin bahwa kemampuan aneh yang saya miliki memang berasal dari jin. “Kamu pasti jin kafir,” demikian saya selalu berdialog dengan jin itu dalam hati. Tapi jin itu masih mengaku sebagai ruh Rasulullah hingga berhari-hari.

Untuk mengurangi bisikan jin, saya memanfaatkan bulan Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena saya sadar bahwa sudah banyak kesalahan yang terjadi karena ulah jin. Akhirnya pilihan saya jatuh pada masjid Alhikmah, di Jakarta Selatan yang menyelenggarakan tarawih satu juz semalam. Pedih rasanya, shalat tarawih yang seharusnya dapat saya nikmati dengan baik, ternyata tidak berjalan seperti yang saya harapkan. Bacaan imam tarawih itu ditirukan oleh jin dalam hati saya dengan suara lirih. Lebih gawat lagi, suara linh itu ditimpali dengan suara perempuan yang bernyanyi, “Jinggobel jinggobel. “selanjutnya diikuti dengan suara ketiga yang tidak kalah kerasnya, “Hong wilaheng”

Saya berusaha tenang agar tidak terpengaruh ocehan- ocehan jin, yang menghiasi malam tarawih selama bulan Ramadhan. Dan siangnya diganti dengan bisikan yang lain.

 

Perkenalan dengan Majalah Ghoib

Menjelang takbiran idhul fitri 2003, saya bertemu dengan Lisa, seorang teman kuliah yang sudah lama tidak bertemu. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk menyampaikan kepedihan hati, “Saya dirasuki jin yang mengaku ruh Rasulullah”. Lisa tidak langsung menanggapinya. Di luar dugaan saya, dia bahkan meminta kejelasan berita yang didengarnya, “Dengar-dengar mbak bisa mengobati juga ya?” tanyanya “Iya sih. Sekarang jin itu mengaku ruh Rasulullah,” kata saya dengan lirih. Saat itu Lisa menyarankan saya untuk berobat ke Majalah Ghoib “Kalau itu adalah bisikan, pasti jin akan bereaksi ketika mendengar bacaan ruqyah,” ujar Lisa berusaha menghilangkan keraguan saya.

Sehabis lebaran saya putuskan untuk mengikuti terapi ruqyah di Majalah Ghoib yang saat itu masih bertempat di Kebon Manggis. Saat mendengar ayat-ayat ruqyah atau ketika urat syaraf tertentu dipijat oleh ustadz Junaidi, saya berontak sehingga harus dipegangi oleh lima orang. Anehnya jin yang telah menyatu dengan diri saya itu tidak mau berbicara. Dia hanya mau berdialog dengan saya melalui batin saja. Ya, jin itu terus memaki-maki, “Bangsat lu, anjing lu,” ocehan jin yang tidak didengar ustadz Junaidi, karena ocehan itu hanya terbetik dalam hati saya saja.

Selanjutnya jin itu mengaku sebagai nenek saya, “Saya ini mbah Wiji, nenek kamu yang di Bali,” jin itu mulai mengiba agar saya menghentikan ruqyah. Tapi saya tidak peduli. Saya tidak mau lagi menjadi budak jin dengan menuruti bisikannya. Beberapa saat kemudian bisikan itu berubah menjadi erangan, “Panas. Panaaas. Bangsat lu, anjing!” Setelah erangan kepanasan, beberapa saat kemudian saya merasakan ada sesuatu yang keluar dari kepala saya.

Setelah ruqyah yang pertama bisikan dan gangguan jin semakin meningkat. Bila dulu bisikan itu hanya terdetik dalam hati, sekarang bisikan-bisikan itu beralih ke telinga. Jin itu mengoceh selama dua puluh empat jam, menceritakan sejarah masa lalu saya.

“Waktu masih kecil kamu sakit cacar, sehingga baru bisa berjalan setelah berusia empat tahun. Kamu juga pernah diajak jalan-jalan oleh mbah Wiji,” bisikan jin di telinga itu mengingatkan saya pada masa kecil dulu.

“Saat sekolah SMP, kamu pacaran sama si A dan si B.” Saya sedih, mengapa bisikan- bisikan itu benar adanya. Dia mengingatkan kembali kepada cinta monyet yang saya alami dulu. Ya, saya seakan memutar kembali perjalanan masa lalu saya. Bila sudah tamat ceritanya, maka jin itu akan mengulang dari awal lagi. Sebuah perjalanan yang berat memang. Sehingga saya harus meninggalkan semua aktifitas di luar rumah.

Yang lebih menyedihkan, sekarang jin itu mencoba merusak hafalan saya. Dulu, sebelum diruqyah, saya sudah hafal Juz Amma dan surat Yasin. Tapi sekarang, saya tidak lagi bisa menghafal surat Yasin.

Waktu saya paksa untuk menghafal ayat-ayat ruqyah, sulitnya bukan main. Sangat berbeda dengan dulu waktu masih kuliah. Ironisnya, untuk urusan-urusan kecil pun harus saya catat. Janji dengan teman, pinjam uang kepada adik atau bahkan jadwal mengajak orang tua untuk jalan-jalan. Pendek kata, semua aktifitas sehari-hari harus tercatat rapi, bila tidak ingin terlewatkan.

Selang tiga minggu dari ruqyah pertama saya mengikuti lagi ruqyah yang kedua. Tapi hasilnya tetap sama, jin dalam diri saya tidak mau membuka mulut. Beraninya hanya mencaci dari belakang. Cuma volume suaranya saja yang semakin mengecil.

Selain itu, jin mulai membisikkan cerita penuh kebohongan. Misalnya pernah ada bisikan di telinga bahwa seorang teman kuliah saya ada yang murtad. Saya terkejut, lalu saya menghubungi beberapa teman lain, tapi hasilnya ternyata salah. Ada juga bisikan yang mengatakan bahwa seorang teman saya di Ciputat yang bernama Yaya meninggal, setelah saya cek ke beberapa teman ternyata Yaya sehat-sehat saja..

Aneh, kalau dulu saya melihat makhluk misterius saat mata saya terbuka, tapi setelah ruqyah kedua, saya sering melihat kelebatan manusia cebol, serigala atau kucing di pelupuk mata saya. Makhluk- makhluk itu hanya berlarian saling mengejar.

Meski gangguan itu terasa makin berat, saya tidak akan menyerah. Saya yakin jin yang merasuk dalam tubuh saya bertahun-tahun lamanya tidak akan begitu mudah tunduk. Saya yakinkan diri saya bahwa seiring dengan perjuangan saya jin itu akan lumpuh. Setelah mengikuti ruqyah yang keempat kalinya. Jin yang merasuk dalam diri saya mulai marah. Dia mulai mengganggu tidur saya. Seperti yang terjadi pada suatu malam, saya bermimpi menyeramkan. Ada sosok wanita berpakaian putih-putih yang mengaku bernama Sulis, seperti nama saya sendiri, mencekik leher saya Saya meronta-ronta, tapi badan saya sulit digerakkan. Seakan ada yang menekan lengan saya, hingga susah payah saya berteriak, “Tolong Tolooong” sebelum akhimya adik menggoyang-goyang badan saya.

Jin dalam tubuh saya sekarang semakin mengganggu, setelah ruqyah yang ke empat. Jin itu semakin merasa terusik dengan ruqyah. Tetapi saya telah bertekad untuk mengeluarkan jin dari tubuh saya dengan cara ruqyah Islami.

Di balik peristiwa ini saya mencoba mengambil hikmahnya. Seperti yang terjadi sekarang. Saya aku ini adalah bentuk teguran Allah, karena selama ini saya kurang memperhatikan kehidupan orangtua. Bapak terserang stroke. Dan tidak bisa banyak bergerak. Untuk urusan mandi saja, beliau harus dibantu anak-anaknya. Jalan jauh sedikit saja juga harus dituntun. Sedangkan ibu sendiri masih belum sembuh. Inilah kesempatan saya untuk terjun langsung dan tidak hanya berpangku tangan, menyerahkan semua urusan kepada adik-adik.

Selain itu, saya juga tidak akan pernah tertipu oleh paranormal yang berkolaborasi dengan jin dalam keseharian mereka. Ini bukanlah sekedar teori, karena saya sendiri telah mengalami bagaimana jin itu mempengaruhi diri dan kejiwaan saya.

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425/ 2004 M

Partai Islam versus Partai Syetan

Begitulah pesan ayat agar setiap muslim selalu berhati-hati terhadap Yahudi dan Nasrani. Ayat 120 dari surat Al-Baqarah itu ingin memberitahukan kepada kita bahwa pertarungan antara kebenaran dan kebatilan adalah pertarungan yang abadi. Pertarungan yang tidak akan berhenti hingga bumi, langit dan seisinya digulung.

Dalam segala aktifitas. Dalam segala medan. Dalam segala situasi. Yahudi dan Nasrani selalu berusaha mengacaukan kemenangan Islam di suatu negeri. Mereka tidak pernah bisa tidur, sebelum mereka berhasil mencocok hidung generasi Islam hingga bisa dibawa ke mana mereka mau.

Suasana negeri hari ini, sedang berkonsentrasi untuk mencari pemimpin baru. Pertarungan terbuka ini juga dimanfaatkan oleh semua pihak dengan misi masing-masing. Termasuk orang-orang kristen. Dengan rencana yang tidak tanggung-tanggung, menggolkan presiden dari kalangan mereka. Walau jumlah mereka lebih kecil, tetapi mereka tetap bersemangat dengan berkaca kepada Nigeria, negeri Islam yang dikuasai Kristen padahal jumlah Kristen lebih kecil.

Dari kesaksian Yani Susilowati seorang aktifis dari kalangan mahasiswi bisa kita ambil pelajaran. Aktifis muslimah itu tiba-tiba menggandrungi agama yang selama ini dijadikan musuhnya. Dialog- dialog dalam hatinya yang membandingkan Islam dan Kristen dan lebih memenangkan Kristen sungguh tidak dimengerti dari mana asalnya. Kakinya tiba-tiba ingin berjalan menuju ke gereja.

Ternyata sekeluarga jin penginjil berada dalam dirinya. Pantas saja. Dari dialog dengan jin didapati data-data menarik sehubungan dengan masalah yang lagi hangat, pemilu.

Memang, data dari jin tidak bisa kita benarkan selama tidak ada bukti yang valid. Jin itu mengaku telah diutus oleh pendeta dari sebuah gereja di Jakarta. Bahkan menurut pengakuan jin, ada ribuan jin disebar gentayangan untuk mengacaukan para pemilih muslim. Agar mereka tidak memilih partai Islam. Terutama partai yang selama ini dikenal bersih dan peduli, PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Partai yang oleh jin dikatakan para wanitanya selalu memakai jilbab.

Kalau benar data yang diberikan jin itu, semakin meyakinkan kita akan ayat di atas. Bahwa Kristen selalu berusaha menghancurkan Islam seberapa pun manisnya mereka di hadapan kita. Bahkan sangat keji ketika masalah penyebaran misi dilakukan bekerjasama dengan dunia jin penginjil. “Kekafiran itu satu agama,” kata Ibnu Taimiyah. Baik dari manusia ataupun jin, ketika mereka sama-sama Kristen, mereka tetap berusaha mengacaukan Islam dan muslimin.

Mereka musuh Islam, yang oleh Allah disebut juga Hizbusy Syaithon (golongan syetan). Orang- orang yang lalai dari mengingat dan mengenal Allah, “Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah mereka itulah golongan syetan. (QS. Al-Mujadilah: 19).

Kalau yang dikatakan jin itu tidak benar. Artinya, mereka benar-benar berinisiatif melakukan pemurtadan dan menyebarkan keraguan terhadap partai Islam, maka memang benar- benar mereka itu adalah musuh. Jin ikut mengamati tentang perkembangan sebuah lokomotif kebaikan dalam bentuk partai. Karena mereka tidak ingin kehilangan pendukung, pendukung kemaksiatan. Sehingga mereka pun merasa terusik. Artinya bahwa PKS yang disebut-sebut oleh keluarga jin penginjil itu, bukan saja mendapat ancaman dari manusia yang tidak rela Islam tegak, tetapi juga dari dunia jin yang bisa saja bekerjasama dengan manusia.

 

Kebenaran Pasti Menang

Apapun rencana busuk musuh Allah, baik dari manusia ataupun jin, pasti akan hancur. Cepat atau lambat. Dan kebenaran akan selalu tampil sebagai pemenang. Cepat atau lambat.

Untuk bisa membersihkan kota kelahiran Nabi (Mekah) dari kesyirikan dibutuhkan waktu 21 tahun. Sampai Nabi berhasil menghancurkan patung-patung dan menundukkan manusia-manusia durhaka yang dulu sangat congkak, pada peristiwa Futuh Makah tahun 8 H.

Sambil menghancurkan patung yang berjumlah 360 biji di sekitar Ka’bah Rasul membaca ayat, “Dan katakanlah: yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al-Isro’: 81).

Dalam lanjutan Surat Al-Mujadilah: 19 Allah juga berfirman, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.”

Kerugian, karena mereka juga mengeluarkan dana. Memeras otak, membanting tulang. Dan bangunan menjulang yang mereka bayangkan, akan luluh lantak menjadi debu.

Tetapi ada syarat penting yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib, “Kebenaran yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kebathilan teroganisir.”

Selain kebenaran dan jiwa-jiwa pembawa panji yang istiqomah, Islam ini harus dikemas dalam sebuah kemasan yang teroganisir rapi dan terstruktur bagus. Cukuplah menjadi pelajaran ketika Nabi memiliki jaringan informan rapi dan kuat yang dipergunakan untuk memata-matai kekuatan lawan dan memuluskan jalan dakwah.

Tentu, kita akan merasakan kelelahan dan kepedihan. Kepenatan dan kesakitan dalam memperjuangkan Hizbullah (golongan Allah). Tetapi, ketahuilah Hizbusy syaithon (golongan syetan) pun kelelahan dalam menyebarkan kebathilan. “Jangan kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 104)

Partai Islam di negeri ini harus menang. Allahu Akbar!

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 15 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Terlalu Takut dan Terlalu Sedih, Pintu Syetan

Dari kisah kesaksian, kita memang tidak tahu apakah kematian bapaknya Purwanti wajar atau karena santet. Yang telah membuat bapaknya merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, seperti ditusuk benda tajam. Sakitnya memang mengejutkan, karena sebelumnya sehat-sehat saja. Kemudian sebelumnya ada sengketa tanah dengan mbah Ngaru yang di kampung itu dikenal sebagai dukun. Tetapi itu bukanlah bukti kuat untuk menyatakan bahwa bapaknya telah disantet.

Setelah kejadian itu, Purwanti dicekam rasa takut yang sangat luar biasa. Prasangkanya yang mengatakan bahwa mbah Ngaru lah pembunuh ayahnya semakin menambah rasa takutnya.

Dari sinilah awal dari perjalan memilukan Purwanti yang dipermainkan oleh jin Painem. Rasa takut berlebihan itulah yang menjadi pintunya. Rasa takut Purwanti dipergunakan jin untuk membuktikan rasa takutnya itu. Suatu malam setelah bapaknya meninggal, dia mencium bau kemenyan dan kembang yang entah berasal dari mana. Purwanti semakin takut dan yakin bahwa ketakutannya akan terbukti setelah bertanya kepada orang di rumah tentang bau itu. Ternyata tidak seorang pun yang menciumnya.

Keanehan demi keanehan terjadi. Jin memainkan sandiwaranya di sini. Pada malam ke empat puluh kematian bapaknya, pada tengah malam yang sepi itu dia terbangun. Dan kembali bau kemenyan dan kembang itu tercium. Kali ini jin membuatnya semakin takut. Dengan membisikkan kepada Purwanti bahwa mbah Ngaru sedang mempersiapkan ilmu hitamnya untuk menyantet seisi rumah. “Tolong berhati-hati,” pesan jin mencoba menjerumuskan. Kata-kata jin itu terngiang terus hingga akhirnya dia benar-benar kesurupan.

Dari kasus ini bisa kita ambil pelajaran bahwa rasa takut yang berlebihan kepada jin justru membuat kita kemasukan jin. Rasa takut, merinding ketika sendirian dengan tiba-tiba, seperti ada yang mengikuti, sebenarnya itu semua wajar Ketika kita sedang dicekam rasa ketakutan Takut itu manusiawi, tetapi berlebihan dalam ketakutan tidaklah benar.

Sebenarnya kita tidak perlu takut. Apalagi kita ini mempunyai kesempurnaan yang lebih n dibandingkan jin. Dan sebenarnya jin juga takut kepada manusia bahkan lebih takut dari rasa takut kita kepada mereka. Mujahid seorang ulama tafsir yang juga murid Ibnu Abbas itu berkata, “Sesungguhnya mereka takut kepada kalian sebagaimana kalian juga takut kepada mereka. Syetan lebih takut kepada salah seorang dari kalian, karena itu jika dia menampakkan diri kepada kalian jangalah kalian takut karena akan mengalahkan kalian, tetapi bersikap keraslah kepadanya karena dia akan pergi.”

Imam Mujahid sendiri pernah membuktikan ucapannya itu. Beliau menceritakan pengalamannya, “Ketika saya shalat pada suatu malam tiba- tiba makhluk sebesar anak kecil berdiri di hadapanku, lalu aku desak untuk kutangkap kemudian dia berdiri dan melompat ke belakang dinding hingga aku dengar bunyi jatuhnya. Setelah itu dia tidak kembali lagi.”

Ketika seseorang sangat takut kepada jin, maka fikirannya tidak terkendali. Jiwanya menjadi kosong, yang ada hanyalah rasa takut berjumpa jin yang menyeramkan. Dzikir yang akan menenangkan dan memenangkan dirinya melawan syetan tidak ada dalam jiwa dan otaknya. Sehingga dengan mudah jin masuk.

Rasa takut yang berlebih ini banyak dipe- ngaruhi oleh suguhan tontongan dan cerita mistis yang kita dengar. Dalam tayangan yang kita konsumsi menghadirkan bentuk jin yang seram sekali. Hal itu sangat mempengaruhi dan membentuk ruang ketakutan yang berlebih terutama saat kita sedang sendiri. 

Kita harus selalu ingat akan ayat Allah, “Sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah.” (An- Nisa: 76). Iblis saja, bos para jin itu lari ketakutan ketika melihat para malaikat mulai turun membantu para mujahid di perang Badar. Apalagi hanya makar jin. Di hadapan keimanan, keyakinan akan pertolongan Allah dan tawakal yang tinggi, semua upaya jin akan mentah.

Demikian juga masalah kesedihan yang keterlaluan. Syetan juga masuk mengganggu kita melalui pintu yang satu ini. Kisah Purwanti memberikan pelajaran kepada kita. Ketika mertuanya meninggal selepas bapaknya sendiri. Kesedihannya luar biasa, apalagi diiringi oleh perasaan bersalah. Merasa tidak merawat mertuanya karena tempat tinggal yang berjauhan.

Walaupun Purwanti sadar bahwa kematian adalah milik kita semua dan suatu kewajaran, tetapi goncangan jiwanya karena kesedihan yang mendalam lebih kuat. Akhirnya jin Painem kembali mengganggu dia lagi, bahkan lebih parah. Bukan hanya kesurupan tetapi mulai bicara tak karuan.

Sama halnya dengan rasa takut berlebihan, rasa sedih berlebihan membuat kita lepas kontrol. Sampai-sampai tidak sedikit orang sedih yang hilang ingatan. Saat seperti inilah jin mudah merasuk dan mengganggu.

Rasa takut dan rasa sedih adalah perasaan yang selalu ada dalam jiwa siapa pun. Islam telah memenej rasa takut dan sedih itu. Batasnya haruslah tetap sabar dan syukur, iman dan tawakal.

Untuk itu, kita harus ekstra hati-hati. Saat- saat hati mulai tak terkontrol, banyaklah berlindung kepada Allah dari syetan terkutuk dan serahkan semuanya kepada keputusan Allah yang pasti baik untuk kita.

 

 

Ghoib, Edisi No. 13 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Kali ini, Jin Bersembunyi di Balik Wirid dan Dzikir

Maksud Hati Bersdzikir, Ternyata Jin Yang Saya Dapat

Inilah kisah seorang pemuda Betawi yang mempunyal semangat tinggi untuk mempelajari agama. Seperti layaknya Betawi di masa lalu yang masih kental dengan keislamannya. Demikian juga dengan Firmasyah. Berpindah dari satu guru ke guru yang lain, dari satu kyai ke kyai yang lain, dari satu habib ke habib yang lain.

Tapi apa daya, niat baik itu tidak sampai kepada tujuan yang baik. Persis seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin Mas’ud, “Betapa banyak orang yang berniat untuk menuju kebenaran tetapi tidak sampal kepada kebenaran itu.”

Untuk itulah, ukuran kebaikan tidak bisa dilihat dengan perasaan belaka. Tetapi diukur dengan firman Allah dan sabda Nabi-Nya. Islam memang tidak pernah mematikan perasaan, tetapi Islam juga tidak pernah menuhankan perasaan. Sehingga perasaan tetap diberikan haknya sebatas kapasitasnya. Jika sudah sampai pada garis penentuan kebenaran dan kebatilan, maka perasaan harus tunduk di bawah kendali syariat Islam. Walaupun perasaan mengatakan bahwa sesuatu yang dilakukan adalah baik, tetapi tanyakan kembali apakah Islam mengatakannya sebagai kebaikan.

Jin mempunyai beragam trik untuk menyesatkan manusia. Permusuhan yang memang tidak pernah akan berakhir. Pada kasus Firmasyah pun sama, jin mencoba untuk menipu dan mengela- buhi banyak orang. Mereka bersembunyi di balik sesuatu yang kesan pertamanya sangat Islami. Bayangkan kalau shalawat, fatihah dan dzikir tertentu dibaca. Tentu akan banyak yang protes, ketika dikatakan bahwa di balik semua bacaan baik itu terdapat jin yang bersembunyi.

Tetapi fakta dari kisah Firmasyah seakan kembali membuka mata aqidah kita. Bahwa sesungguhnya pernyataan Abdullah bin Mas’ud benar, “Kita diperintahkan untuk mengikuti (perintah Nabi) dan bukan untuk berbuat bid’ah (mengada-ada ajaran sendiri).”

 

Wirid Bid’ah Mendatangkan Jin

Sebagai layaknya orang yang haus ilmu, Firmansyah terus memperdalam ilmu apa saja yang bernuansakan Islam. Mulai dari kirim Al-Fatihah kepada Rasulullah, para wali dan para orang tua dengan tujuan tawassul. Kemudian shalawat 100 kali dan membaca ya lathif sebanyak 100 kali juga kemudian tawassul ini dilengkapi dengan tawassul kepada haibah Umar untuk diberi kekuatannya.

Mungkin, bisa saja tidak semua orang mau mengikuti ajaran para dukun yang memerintahkan melakukan ritual kembang, minyak telon, ayam cemani dan sebagainya. Tetapi banyak yang ter- gelincir ketika syetan menggunakan cara yang dikemas seakan Islami. Seperti kasus di atas.

Kemudian jin terus mencoba untuk semakin meyakinkan Firmansyah atau siapa pun. Bahwa apa yang dilakukannya, benar-benar Islami. Pada saat selesai ritual, dia mempunyai kemampuan mengobati orang lain. Bukankah menolong orang lain suatu kebaikan? Sungguh tipuan maut. Karena pengobatan dengan cara bekerjasama dengan jin adalah kesesatan sebagaimana surat Al-Jin: 6.

Ketika ada yang dia juga mampu melihat siapa pencurinya. Benar-benar syetan menyesatkan. Karena saat Firmansyah kehilangan yang besar yaitu motornya ternyata dia tidak dapat menemukan siapa pencurinya.

Belum lagi ilmu syetan yang dilabeli dengan ilmu karamah. Kita pernah membahas panjang lebar pada edisi sebelum ini bahwa karamah tidak bisa dipelajari. Kelebihan yang didapat dengan dipelajari adalah ilmu sihir.

Jelas saja ilmu yang dikira baik itu ternyata menyesatkan. Karena diperoleh dengan cara yang tidak benar. Pada shalawat sangat dianjurkan demikian juga membaca Al-Fatihah atau membaca nama Allah ya Lathif ya Jabbar. Tetapi itu semua hanyalah pembuka yang digunakan oleh jin untuk menjerat orang, agar nampak Islami. Dan berikutnya diembel-embeli dengan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam aqidah Islam. Di antaranya adalah dengan membaca wirid di atas dalam jumlah tertentu dan diyakini bisa mendatangkan kelebihan.

Syarat-syarat tambahan itu adalah tambahan dari jin. Lihatlah buktinya, ketika dibaca nama Allah ya Lathif yang muncul jin Abdul Lathif. Kemudian ketika dibaca ya Jabbar, jin Abdul Jabbar mengatakan bahwa itu adalah namanya. Dusta besar! Karena Jabbar adalah nama Allah dan bukan nama pendusta itu.

Kemudian meminta dengan haibah (kewibawaan) Umar termasuk sesuatu yang terlarang. Umar sendiri mencontohkan ketika hendak melaksanakan sholat Istisqo’di zamannya, dia tidak memintanya dengan haibah Rasulullah. Padahal siapa pun tahu bahwa Umar pernah hidup bersama dengan Rasulullah manusia terbaik itu. Tetapi Umar meminta orang shalih di zamannya untuk berdoa, yaitu paman Nabi Abbas bin Abdul Muthalib. Kalau meminta dengan jah atau haibah Rasulullah tidak dilakukan oleh Umar. Maka bagaimana kita meminta dengan haibah selain Rasulullah. Tentu ini tidak dibenarkan.

Jadi, banyak kesesatan yang diselipkan oleh jin di tengah-tengah shalawat, bacaan fatihah dan asmaul husna. Sehingga banyak sekali yang tertipu dalam jeratan jin yang satu ini.

Dalam kasus ini, Firmasyah tidak sendirian. Tetapi Firmansyah termasuk yang beruntung. Jin yang banyak bersarang di tubuhnya telah keluar. Lebih dari itu, Firmansyah merasa bahwa dirinya telah menemukan jalan kebenaran. Dengan meninggalkan semua bid’ah yang telah menjerumuskan. Tekad untuk membenahi aqidah tumbuh kuat di hatinya. Ini jauh lebih mahal dari semua kehidupan kita.

Untuk itu berhati-hatilah, karena ternyata salah satu hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Firmasyah adalah bahwa bid’ah yang sesat itu dijadikan kendaraan jin untuk menyesatkan dan menyakiti kita. Maka jauhilah bid’ah dan hidupkanlah sunnah.

 

 

Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M

HUBUNGI ADMIN