Dirayu Jin yang Menyerupai Suami

Jin memiliki perasaan cinta? Ya, memang demikian. Karena mereka adalah makhluk yang berkembang biak seperti halnya manusia. Kian hari jumlah mereka kian banyak. Bila rasa cinta tersebut terjadi sesame mereka, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Tapi rasa cinta akan membawa bencana bila ada jin yang mencintai manusia. Seperti yang dialami Siska (nama samaran). Ia pun pingsan sesaat setelah mengetahui  bahwa jin menyerupai suaminya. Dengan didampingi suaminya, ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bogor. Berikut petikan kisahnya.

Mahligai rumah tangga saya seakan tidak pernah terpisah dari dunia gaib. TLjuh tahun lalu, beberapa bulan sebelum melangsungkan pernikahan pun, saya telah merasakan sakitnya cakar macan. Walau macan itu hanya hadir dalam mimpi, tapi tak urung lima cakaran membekas di dada. Saya baru sadar, sesaat setelah mandi. Saya pun keheranan bukan kepalang. Bagaimana mungkin itu terjadi. Waktu itu,  saya hanya cerita kepada Bambang (nama samaran), seorang pemuda yang kini menjadi suami saya.

Siangnya, Bambang main ke rumah. Di sinilah, peristiwa yang memalukan itu terjadi. Saya yang sedang kasmaran dengan Bambang, tanpa tedeng aling-aling, langsung menariknya ke dalam kamar. Bambang pun terkejut. Tidak biasanya saya berperilaku seperti ini. Apalagi, ia melihat sorot mata saya berubah. Mata saya merah. Bambang dengan tegas menolak. Saya tetap merengek, walau saat itu saya hanya minta dicium.

la pun berlari menghindar. Tapi saya terus mengejarnya. Katanya bajunya sampai robek-robek. Barulah setelah terdengar adzan dzuhur ulah saya terhenti. “Panaas. Panaaas. Hentikan suara itu,” teriak saya.

Dari sini, Bambang sadar bahwa itu bukanlah diri saya. Ada makhluk gaib yang merasuk ke dalam diri saya. Maka ia pun segera mencari pertolongan kepada tetangga yang kebetulan seorang haji dan katanya bisa mengusir gangguan jin.

“Saya tidak tahu bagaimana cara perginya. Semoga Siska tidak diganggu lagi,” ujar wak haji. Keesokan harinya, saya kerasukan lagi. Kali ini lebih parah. Saya berlari kesana kemari, sambil terus berteriak “Mana Siska. Mana Siska. Saya ingin membunuhnya. Dia merebut pacar saya.” Aneh, memang. Saya berlarian kesana kemari mencari diri saya sendiri. Bahkan saya ingin membunuh diri saya.

Waktu itu, orang pintar kembali dipanggil untuk menyadarkan saya. “Segera nikah saja, karena ada orang yang ngganggu. Semoga setelah menikah tidak ada lagi gangguan,” saran orang pintar itu kepada bapak saya.

Singkat cerita, kami pun melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Orang yang tidak senang dengan hubungan kami pun tidak membuat ulah di hari kebahagiaan kami.

Hari-hari berikutnya, semua berjalan normal. Saya bisa menikmati peran yang baru, sebagai istri dari suami tercinta. Waktu terus berjalan. Anak kami yang kedua pun lahir, bayi laki-laki yang montok. Anak yang pertama kebetulan adalah perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami.

Jin Menyerupai Wajah Mas Bambang

Hingga suatu malam, tidak seperti biasanya Rinto, anak saya yang kedua menangis keras. la nangis sejadi-jadinya. Ah, Rinto lagi kehausan, pikir saya. Saya pun segera membangunkan pembantu dan memintanya membuat susu. Tapi entah kenapa, pembantu agak lama di belakang. Sementara Rinto yang baru berumur satu bulan itu pun belum berhenti menangis.

Saya beranjak ke dapur untuk menyeduh susu sendiri. Dan begitu kembali ke kamar saya lihat Mas Bambang sudah berada di kamar. Padahal, seharusnya dia tidur di kamar sebelah bersama Ratih, anak saya yang pertama.

Saya segera meraih Rinto dan memberinya susu. Tapi Mas Bambang, malah bikin ulah yang aneh. la merajuk dan meminta saya melayaninya. Saya sendiri heran, tidak biasanya ia bersikap seperti itu. “Eh, ngapain sih. Jangan kayak begini dong.”

Mas Bambang tetap tidak mau menyerah, dia terus membujuk saya. Bahkan berusaha melepas baju saya. “Ntar dulu dong mas. Ngapain sih Mas Bambang ini.” “Rinto lagi minum susu. Macam-macam saja,” saya sampai berteriak.

Rinto, tetap saja menangis. Susu yang saya berikan tetap tidak bisa meredakan tangisnya. Tapi Mas Bambang tidak peduli. la sangat bernafsu malam itu. “Mas ini, apaan sih,” teriak saya lagi.

Sedetik kemudian, saya langsung pingsan. Pasalnya, dari pintu yang terbuka perlahan, muncul Mas Bambang yang lain. Saya bingung mana yang asli. Bajunya sama-sama putih dan memakai sarung yang serupa. Mereka layaknya saudara kembar saja.

Entah, berapa lama saya pingsan, saya tidak tahir. Begitu tersadar, tinggal Mas Bambang yang asli, masih setia menemani saya. Barulah kemudian saya ceritakan apa yang terjadi. Memang, sebelum kedatangan jin yang menyerupai Mas Bambang, angin berhembus kencang. Korden jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan udara masuk, sampai tersingkap ke atas. “lni angin kok kencang begini,” pikir saya. Tapi, keanehan itu belum menyadarkan saya atas apa yang terjadi. Terlebih tangis Rinto yang berlebihan telah menyita perhatian saya.

Saya tidak tahu apakah jin masuk bersamaan dengan hembusan angin yang kencang. Tiba-tiba saja, jin yang menyerupai Mas Bambang sudah berada di dalam kamar dan saya sedikit pun tidak menaruh curiga. Saya beruntung, pukul 02.30 malam itu tidak menjadi korban kebiadaban jin. Malam itu, Mas Bambang pun shalat sambil terus membaca ayat kursi.

Apakah kedatangan jin itu terkait dengan rumah yang saya tinggali sekarang? Saya tidak tahu. Saya menempati rumah ini sejak empat tahun lalu. Tapi ini kejadian pertama yang saya alami di sini. Tahun-tahun pertama tidak pernah teriadi apa-apa. Dari tetangga, saya pun tahu bahwa rumah ini dulunya dihuni oleh orang China penganut Konghuchu yang terbilang taat. Di ruang tamu ini dulunya ada patung Dewi Kwan ln yang sangat besar. Sorot matanya merah menembus kaca jendela. Menakutkan warga yang lewat di malam hari.

Hari-hari berikutnya semuanya kembali normal. Aktifitas rutin sebagai ibu dari kedua anak saya, menyita banyak perhatian. Apalagi Ratih sudah mulai masuk TK. Biasanya saya mengajarinya bahasa Inggris. Ratih pun mampu menjadi juara ll lomba bahasa lnggris se kabupaten Bogor.

Ketenangan yang masih dalam hitungan bulan itu pun terusik kembali, sepulang Mas Bambang dari umrah. Yang saya rasakan adalah hawa panas bila berada di rumah. Terkadang saya pun jengkel, “Kok, Mas Bambang sepulang dari umrah, malah tidak benar sih. Kasar,” keluh saya suatu hari. Tapi Mas Bambang tidak merasa berubah. la masih tetap seperti yang dulu.

Hingga suatu malam, kata Mas Bambang saya tidur sambil duduk. Melihat itu, dia merasa ada kejanggalan dalam diri saya. “lni pasti ada yang tidak beres,” Mas Bambang mulai curiga. Tangannya segera menarik dan membangunkan saya. Tapi saya belum sadar seutuhnya. Katanya mata saya plerok-plerok. Jelas ini bukanlah diri saya. Pasti ada jin yang merasuk  ke dalam diri saya kembali.

Dengan cepat, saya segera didekapnya, sambil terus dibacakan al-Qur’an sebisanya Saya berontak. Ada kekuatan lain, yang menguasai saya. Hingga saya tidak lagi dapat  mengontrol diri. Yang terjadi kemudian adalah pergumulan dan adu jotos yang tidak lagi terelakkan.

Kegaduhan itu berlangsung  beberapa saat, sebelum akhirnya saya terduduk lemas dan … pingsan. Mungkin, saat itu jin yang merasuk ke dalam diri saya keluar setelah tidak tahan dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an.

Beberapa saat saya tidak sadarkan diri. Setelah sadar pun saya masih setengah sadar setengah tidak. Yang saya rasakan waktu itu hanyalah seperti orang yang tidur sebentar, kemudian terbangun lalu tertidur lagi.

Jam 6 pagi, keesokan harinya, saya seperti orang bengong. Diam membisu Melihat hal itu, Mas Bambang langsung bertanya, “Eh, kamu siapa. Jangan ganggu orang,” (sebagaimana dituturkan suaminya). Saya lari. Tapi Mas Bambang, tidak membiarkan saya keluar dari rumah. Ia segera mengejar dan menangkap saya kembali. Untung saat itu, pagar depan rumah masih terkunci, sehingga dengan mudahnya saya ditangkap. Kembali bacaan ayat-ayat al-Qur’an melemahkan jin yang merasuk ke dalam diri saya. Waktu itu sayatidak merasakan apa-apa. Goresan kawat besi pagar rumah pun tidak terasa.

Baru setelah sadar saya merasakan nyeri dan letih. Pukul 8 pagi, orangtua saya datang dari Jakarta. Saya ceritakan semua peristiwa yang terjadi sejak semalam. Bapak hanya manggut-manggut saja, sebelum akhirnya menawarkan untuk mengajak saya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. “Kalau begitu datang saja ke kantor Maialah Ghoib. di sana ada ruqyah terapi gangguan jin dengan cara yang benar karena tidak bertentangan dengan syariat lslam. Bawa ke sana saja.”

Hari itu diputuskan untuk segera ke Jakarta. Waktu itu hari Ahad, lalu Mas Bambang telpon ke kantor Majalah Ghoib, karena khawatir hari Ahad libur. “Mas saya mau kesana, ditunggu sampai jam berapa?” “Oh, saya tunggu sampai jam dua” kata suara di balik telpon. Akhirnya saya diajak Mas Bambang. Tapi ketika sampai di sana ternyata hanya disuruh daftar saja. Dapatnya entah berapa minggu lagi.

Waktu itu, Mas Bambang melobi, “Kalau ini sakit biasa mungkin tidak apa-apa Tapi ini gangguan jin. Saya tidak bisa mengusir. Tolonglah bantu saya.” Akhirnya Mas Bambang diberi nomor handphone Ustadz Aris.

Mas Bambang, mencoba  menghubungi Ustadz Aris, tapi tidak ada jawaban. Baru setelah dihubungi beberapa kali, handphone diangkat dan saya disuruh datang ke masiid At-Taibin yang hanya berjarak 200 meter dari terminal Senen. Terus terang, kami srek dengan Majalah Ghoib, karena mereka menterapinya dengan cara islami. Kami merasa nyaman.

Setiba di masjid At-Taibin, saya langsung dibawa naik ke lantai dua. Setelah beberapa saat dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, terjadilah dialog. “Siapa namamu?” Tanya Ustadz Aris. Jin menjawab“Jamal.”

“Mengapa kamu masuk ke tubuh ibu ini?”

“Saya suka sama Siska.”

”Berapa umurmu?”

“Dua genep (26 ) tahun.”

“Kamu masih perjaka?”

“Ya. Saya masih perjaka.”

“Kenapa senang?”

”Dia ditinggal terus sama suaminya. Padahal dia itu orangnya baik, shalihah. Jadi sya kasihan sama dia.”

“Suaminya kerja untuk nyari duit,” jin Jamal itu pun tertawa saja. Setelah dialog yang mengalami kebuntuan, Ustadz Aris kembali membaca ayat-ayat al-Qur’an.Ketika disuruh keluar, jin Jamal tidak mau. Jin itu bahkan minta diantar ke Bogor. “Ya sudah kamu ikut saja di mobil. Nanti kan sampai di Bogor”. Setelah disuruh demikian, akhirnya jin Jamal keluar. (sebagaimana dituturkan suaminya)

Setelah ruqyah itu, saya tidak langsung pulang ke Bogor, tapi diantar Mas Bambang ke rumah orangtua di Jakarta Selatan. Sementara Mas Bambang sendiri ada keperluan kantor dan harus menginap di hotel selama tiga hari di daerah Sunter, Jakarta Utara. Otomatis, Mas Bambang membawa mobil ke hotel di daerah Mangga Dua. Berputar-putar lewat Ancol.

Selesai acara, Mas Bambang langsung menjemput saya. “Dik, tolong ambilkan baju yang ketinggalan di bagasi,” pinta Mas Bambang. Tapi begitu pintu bagasi saya buka, saya merasakan ada jin yang merasuk lagi.

Tanpa pikir panjang, Mas Bambang segera menjemput Ustadz Aris dan diajak ke rumah. “Kamu siapa?” “SayaJamal.” “Lho kenapa kamu masuk?” “Ya, katanya saya mau dipulangkan ke Bogor, tapi tidak dipulangkan. Diputar-putar saja di daerah laut-laut. Terus saya lihat ibu Siska, ya saya masuk lagi,” elak jin Jamal. Ternyata selama tiga hari itu, iin Jamal masih menumpang di mobil. “Ya sudah sekarang kamu pergi saja Tidak usah menumpang di mobil.” Jin Jamal pun keluar.

Kebetulan di depan rumah ada pohon mangga di area pemakaman. Tidak lama kemudian jin Jamal masuk ke tubuh saya lagi. “Lho kamu kok balik lagi.” “Ya saya balik lagi. Karena di pohon mangga itu banyak syetannya. Saya dipukul. Saya ditendang.” Setelah dibacakan ruqyah beberapa kali, akhirnya jin Jamal keluar dan tidak masuk lagi.

Sebelum keluar, jin Jamal mengaku bahwa dia masuk ke tubuh saya ketika saya bermain ke rumah saudara di daerah Batu Lampar. Katanya, dia masuk begitu saja, karena melihat saya orangnya baik.

Saya tidak tahu, apa alasan jin Jamal mengatakan saya orangnya baik dan harus dikasihani. Tapi bila dikatakan sering ditinggal suami, memang benar adanya. Mas Bambang, sering pulang malam. Kadang-kadang ke luar kota tiga hari atau bahkan seminggu. Sesekali juga ke China, Hongkong atau Singapura.

Saya sering telpon Mas Bambang di kantor bila jam sembilan belum pulang, “Mas, kok belum pulang?” “Oh, ya Dik. Saya nanti pulangnya malam.” Saya tidak tidur sebelum Mas Bambang pulang. Perasaan saya tidak tenang bila suami belum di rumah. Biasanya, saya mondar-mandir di rumah, sampai Mas Bambang pulang.

Pernah, saya menangis seharian. Waktu itu hari ketiga Mas Bambang umrah. Biasanya ia selalu telpon setiap hari, bila bepergian kemana saja. Tapi pada hari ketiga itu, Mas Bambang, tidak telpon seharian. Saya sampai sesenggukan. “Ya Allah, yang namanya ibadah kok diberatin kayak gitu sih. Didoain kan lebih baik. Doa semoga di sana lancar,” kata ibu menenangkan hati saya.

Saya menangis sedemikian rupa, karena saya benar-benar kangen. Biasanya tidak pernah kangen sampai begitu. Padahal suami pergi ke China atau Hongkongtidak pernah kangen seperti ini.

Sakit migrain sembuh setelah ruqyah

Sudah bertahun-tahun saya sakit asma. Yang selalu saya kambuh bila saya mengalami mimpi buruk, misalnya berenang di sungai yang tidak bertepi. Bila sudah demikian, maka nafas  saya sesaknya bukan main. Mata saya melotot. Kepala sepertinya mau pecah. “Aduh mas, sakit-nya.” Kadang saya sampai kehilangan akal, sehingga kepala saya, saya benturkan ke dinding sampai berdarah-darah. Tapi rasa sakit itu masih saja belum hilang. “Ya Allah, istighfar. Ke rumamah sakit yuk. Ke rumah sakit,” hanya kata-kata suami semacam ini lah yang sedikit mengobati rasa sakit.

Mulanya saya tidak tahu bila sakit kepala yang datang seminggu dua kali itu berasal dari gangguan jin, sampai saya bilang, “Aduh. Buntungin saja nih.” Taruh dulu atau diapain dulu kepala ini.” Saya mulai kehilangan akal, karena rasa sakit itu tidak bisa dihentikan. Mau dibawa tidur, kepala makin pusing. Bila mata dipejamkan, berkunang-kunang .Tapi setelah diterapi ruqyah alhamdulillah, saya sampai sekarang tidak migrain lagi. Kalau pun toh, asma saya kambuh, tapi semuanya masih dalam batas yang wajar. Mata tidak sampai melotot.

Jin kepala buntung menyatroni rumah saya

Akhir Agustus 2004, ketenangan saya kembali terusik. Rumah saya disatroni jin. Kali ini, ia menakut-nakuti saya dengan menampakkan kepala buntung. Apakah ini terkait dengan ocehan saya waktu sakit kepala dulu? Saya tidak tahu.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh malam, seperti biasanya saya, Mas Bambang dan kedua anak saya bercanda di kamar. Tiba-tiba,’dooor’ lerdengar suara keras membentur atap rumah. “Aduh. Suara apa itu. Kencang banget.” “Mas suara apa itu mas?” Tanya saya.

Rinto langsung menangis dan digendong oleh pembantu. Sementara itu, selang lima menit kemudian perasaan saya seperti antara sadar dan tidak. Saya bingung, pikiran saya seakan-akan hilang. Seperti orang yang tidur sebentar lalu bangun lagi. Kemudian tidur lagi.

Saya terdiam antara sadar dan tidak. Tak lama kemudian Mas Bambang membuka pintu kamar. Dari balik pintu, “Oh, mas, mas itu apaan mas. Kok nggantung begitu,” teriak saya. Seonggok kepala tergantung di atap-atap rumah. Persis di depan pintu. Rambutnya hitam. Kepala buntung itu berputar perlahan, menyeringai. Dan … Ohh… wajah itu seperti mayat hidup. Matanya berlobang. Darahnya menetes.

Tes. Tes. Tetesan darah seakan menetes ke lantai, tapi … tidak ada bekas darah setitik pun di lantai. Saya semakin bingung, astaghftrullahal adzim saya bacakan ayat Kursi. Anak-anak, saya tutup matanya jangan sampai melihat. Ratih berontak-berontak dan menangis keras. Saya keluar. Sementara Mas Bambang, nampak kebingungan. Dia tidak melihat kepala buntung atau tetesan darah.

Tetangga yang mendengar keributan di rumah segera berdatangan. Dan tak lama kemudian, saya kembali linglung. Saya tidak ingat apa-apa, “Saya dimana. Saya dimana.” Mas Bambang langsung menangkap saya. “Ayo kamu siapa.” “Aku mau pulang. Aku pulang saja,” kata jin melalui mulut saya. Akhirnya mas Bambang rnembaca al-Qur’an sebisanya. Saya berontak. Lima orang satpam pun katanya segera memegang saya. “Saya pulang saja. Saya pulang saja.”

Mas Bambang terus membaca ayat-ayat al-Qur’an. Akhirnya badan saya lemas dan tertidur. Bersamaan dengan itu, tetangga rumah yang katanya adalah ‘orang pintar’ juga datang. la sempat mengatakan bahwa jinnya sudah hilang. Ketika dia melihat ke atas loteng tidak menemukan sumber suara kegaduhan tadi.

Saya tidak tahu apakah kejadian yang menimpa saya karena ada orang yang tidak senang dengan kebahagiaan keluarga saya? Saya tidak berani mereka-reka. Karena selama ini saya merasa tidak punya musuh. Tidak ada lawan.

Masih banyak hal yang harus saya benahi dalam kehidupan saya. Mungkin banyak ‘lubang’ yang harus saya tutup sehingga jin tidak lagi keluar masuk ke dalam raga saya seenaknya saja. Semoga kasus demi kasus ini semakin mendewasakan kami dalam bersikap dan menatap kehidupan ini. Tidak ada kata menyerah. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun bahwa suami adalah belahan jiwa sang istri. Mereka harus selalu seiring dan sejalan. Bersatu dalam menghadapi cobaan dan tantangan kehidupan yang makin tidak bersahabat.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi Khusus

Dikejar-Kejar Hantu, karena Belum Melaksanakan Nadzar

Jangan melarikan diri dari nadzar, saat kesempatan untuk melaksanakannya tela terbuka. Karena nadzar itu hutang. Sekali hutang, tetaplah hutang sebelum terbayar. Sampai kapanpun. Begitulah intisari kesaksian Dasiman (seorang pegawai negeri sipil) kali ini. Dua bulan lamanya, ia menerima konsekuensi dari nadzar yang belum dilaksanakannya sejak dua puluh tahun yang lalu. Berikut petikannya.

Jawa Tengah, Agustus 1986

Tahun 1986, aku baru lulus STM. Usiaku baru dua puluhan tahun. Mungkin terbilang telat bagi anak-anak zaman sekarang, lulus sekolah menengah pada usia sepertiku. Tapi bagiku dan teman-teman, itu sudah lumrah. Bukan hal Yang aneh.

Saat itu, untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku tidaklah semudah sekarang. Tidak bany ak lapangan kerja yang terbuka bagi pencari kerja di Solo, Jawa Tengah. Mau menggeluti pertanian seperti orangtua, dalam benakku saat itu juga bukan sebuah pilihan awal.

ljazah SMA sudah dalam genggaman. Aku ingin mencari suasana baru. Dunia kerja yang berbeda dengan yang kujalani selama ini, sebagai anak seorang petani. Masalahnya, lapangan kerja yang tersedia tidak memberikan, ruang yang cukup bagiku dan teman-teman.

Aku yang terbiasa pergi pagi pulang siang, menjadi jenuh di rumah seharian. Aku rindu kembali dengan suasana pegunungan. Selama sekolah, aku memang ikut bergabung dengan perguruan beladiri. Setidaknya sabuk hijau sudah dalam genggaman.

Sesekali aku dan teman-teman juga melakukan latihan fisik dengan cara yang berbeda. Ya, dengan mendaki gunung misalnya. Gunung Lawu bukan lagi asing bagiku. Puncak Argodalem beberapa kali sudah kudaki. Gua Nyi Roro Kidul juga pernah kudatangi.

Aku larut dalam kenangan indah di puncak Argodalem. Beratapkan langit, berdinding hamparan pohon pinus. Gelegak darah mudaku kembali menggelora. Hasrat dan keinginan untuk mendaki gunung muncul kembali. Ah, mengapa tidak ke pertapaan Pringgondani saja, pikirku. Bukankah, tempat itu diyakini sebagai tempat keramat? Banyak orang datang ke sana dengan berbagai alasan. Konon, berdoa di pertapaan Pringgondani itu mudah terkabul.

Aku menerawang, jauh ke depan. Membayangkan puluhan tahun ke depan. Masa-masa indah yang kuimpikan. Aku tidak memungkiri bila dalam hati terbesit keinginan yang kuat untuk menjadi pegawai negeri. Entah, mengapa keinginan itu begitu kuat. Rasanya, senang berseragam rapi dan tiap hari ke kantor. Tidak lagi berkubang dengan tanah dan lumpur.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” adzan Dzuhur yang berkumandang dari mushalla menyadarkanku dari lamunan. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, membiarkan lamunan pergi sesuka hatinya. Hatiku sudah mantap. Esok aku akan mendaki gunung Lawu kembali. Kali ini tidak sampai jauh menembus ke puncak. Cukup di kaki gunung saja. Tepatnya di pertapaan Pringgondani.

Berbekal dengan sedikit makanan untuk satu dua hari, aku idzin kepada orangtuaku. Seperti biasanya, bapak dan ibu tidak mencegahku mendaki gunung. Mereka hanya berpesan, agar aku lebih berhati-hati.

Aku mendaki dari Grojogan Sewu, menyusuri jalanan setapak yang membawaku ke pertapaan. Sunyi, hening. Hanya kicauan burung dan binatang hutan yang menemani Perialananku. Tiga jam lamanya, kususuri jalanan yang sesekali berlumpur itu. Menyibak perdu yang kadang menghalangi jalan. Kubiarkan duri-duri kecil menyapa lengan, meninggalkan goresan merah di kulit. Hingga akhirnya aku sampai di pertapaan Pringgondani.

Sebuah hamparan tanah lapang. Di sana, berdiri kokoh bangunan pendopo tua. Dikelilingi jajaran pohon pinus. Aku melemaskan otot dengan bersimpuh di atas tanah. Ternyata aku tidak sendirian di tempat itu. Ada sepuluhan orang lain yang juga menjejaki pertapaan Pringgondani. Siang itu, aku hanya berdiam diri di pendopo seluas tiga kali empat meter itu. Aku berbagi tempat dengan para pendaki lainnya.

Malam harinya aku menginap di sana. Karena aku masih ingin menikmati suasana pegunungan yang damai. Jauh dari suasana kebisingan. Meski ada sepuluhan orang di sana, tapi masing-masing tahu diri. Tidak ada yang mengganggu ketenangan. Ada yang duduk bersila dengan tasbih di tangan. Ada juga yang mengelilingi api unggun.

Aku memilih tetap berada di dalam pendopo. Aku ingat bahwa tempat ini memang diyakini sebagai tempat yang mustajab. Artinya, kebanyakan orang yang datang ke sini, rata-rata mencari keberkahan dari pertapaan Pringgondani ini. Saat itu, aku masih sependapat dengan pandangan masyarakat secara umum. Karena itulah, aku memanfaatkan waktu-waktu malam untuk berdoa kepada Allah. Aku memohon, agar dimudahkan mendapat pekerjaan. Secara khusus aku memang berharap ingin menjadi pegawai negeri. “Ya Allah, kalau nanti aku menjadi pegawai negeri, aku akan potong kambing.”

Aku memperkuat doa di malam itu dengan, bernadzar. Aku akan menyembelih kambing, sebagai tanda sukur bila keinginanku itu terkabul.

Merantau ke Jakarta

Sepulang dari pertapaan Pringgondani, aku merantau ke Jakarta berbekal Ijazah SMA dan keyakinan di dada. Aku yakin peluang kerja di Jakarta lebih luas daripada di daerah. Walau tidak mudah, tapi aku yakin peluang itu masih ada. Mungkin ada yang berpendapat, aku nekat. Karena hanya bermodalkan keyakinan pada keagungan Allah.

Hari-hari pertama, aku memang sempat kebingungan, kemana harus melangkah. Tapi aku tidak mau menyerah. Aku bertanya kepada orang-orang yang kutemui, apakah ada yang membutuhkan tenaga. Berkali-kali aku ditolak, tapi tidak membuat nyaliku menciut. Aku tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang dalam kesulitan.

Bagiku saat itu kerja apa saja, tidak masalah. Yang penting halal. Puluhan orang yang sudah kutanya, rata-rata jawaban mereka sama. “Tidak ada lowongan keria, dik.” Hingga aku sampai di sebuah rumah yang lumayan bagus. Aku berharap pemilik rumah itu sedang membutuhkan tenaga kerja.

Allah mengabulkan permintaanku. Aku dipertemukan dengan keluarga seorang pejabat tinggi pemerintahan. Pak Surya namanya. Kebetulan ia sedang menjalani dinas pendidikan. Aku diminta untuk menjaga rumahnya. Dua bulan lamanya, kujalani profesi penjaga rumah yang tak ubahnya seperti seorang satpam. Posturku yang mendukung serta bekal pengalaman sabuk hijau di salah satu perguruan beladiri membuat Pak Surya senang dengan dedikasiku. La pun menawariku mengikuti seleksi pegawai negeri. Dan aku pun diterima.

Dalam hitungan bulan, cita-cita untuk menjadi pegawai negeri itu pun terkabul. Saat itu, aku masih ingat nadzar yang kuucapkan saat di pertapaan Pringgondani. Aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk menyembelih kambing. Hanya saja, nadiar itu belum bisa aku tunaikan, karena keterbatasan dana yang kumiliki. Meminta dana ke orangtua juga tidak mungkin. Alhasil, aku berpikir, ah nanti saja potong kambingnya, kalau uang sudah terkumpul.

Menunda-nunda Pelaksanaan Nadzar

Waktu terus merambat.  Aku lupa akan janji di pertapaan Pringgondani. Masalah nadzar kambing sudah, hilang dari ingatanku. Terdepak oleh rutinitas kerja yang menyita waktu dan perhatian. Dari yang semula membujang, hingga menikah pada tahun 1992, nadzar itu tetap belum aku laksanakan. Sesekali memang terlintas dalam benakku, bahwa aku pernah bernadzar tapi ingatan itu kemudian kutepis sendiri, ‘ah nanti sajalah  kalau sudah pensiun’.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan tenang bersama istriku sebelum akhirnya pindah ke rumah kontrakan di Jakarta Timur. Rumah yang kutempati itu, kata tetangga, memang angker. Letaknya saja berdampingan dengan kuburan Cina.

Merinding juga mendengarkan cerita mereka. Tapi Pilihanku saat itu tetap mengontrak di sana. Selain ongkos sewanya yang agak miring, kontrakan itu juga lebih dekat dengan tempat keria. Aku sadar bahwa pilihan ini memang mengandung resiko. Bila kemudian, aku mengalami peristiwa yang berbau mistis, maka itu adalah konsekuensi yang kusadari sejak awal. Nyaris tiap malam, selama dua tahun, selalu ada gangguan. Seringkali aku melihat penampakan sosok tinggi berkulit hitam. Makhluk itu ingin menguasaiku, tapi selalu berhasil kukalahkan.

Seuatu saat, ada penampakan yang menyerupai istriku. Dalam pandanganku makhluk itu persis seperti dirinya. Wajahnya, bentuk rambutnya tidak berbeda. Pakaian yang dikenakannya pu sama. Bagai pinang dibelah dua. Keduanya di pinggir ranjang. Bedanya, satu dari kedua wanita itu menyusui anakku. ltu yang membuatku yakin bahwa yang hanya memandangiku dan anakku secara bergantian itu hanyalah penampakan dari jin.

Kuusap mataku berulang-ulang. Tapi kedua wanita itu tetap di tempatnya. Awalnya, aku khawatir bila itu hanya halusinasi semata. Kucubit lenganku, ternyata aku tidak juga bermimpi. lni nyata. Aku yakin satu di antara mereka ada yang penjelmaan jin. Karena itulah kudekati pelan-pelan wanita yang tidak menyusui anakku. Dan, … bag-bug, bag-bug … kulayangkan tangan menghantam wanita itu. “Mas, Mas, ada apa Mas …” teriak wanita yang menyusui anakku. Ia terkejut melihat apa yang kulakukan, karena ia memang tidak melihat wanita selain dirinya. Aku hanya memukul tempat kosong, tapi dalam benakku aku memukul penjelmaan jin yang langsung menghilang.

“Mas, ada apa Mas?” Tanya istriku lagi. Sedari tadi aku belum menjawab pertanyaannya. “Ada yang menyerupai adik,” jawabku. “Kupukul saja biar dia tidak berani mengganggu lagi.”

Kuceritakan apa bang baru saja kulihat serta penampakan-penampakan lainnya di dalam rumah ini. lstriku hanya mengangguk pelan. la percaya, bila ada yang menyerupai dirinya. Sebab pengalaman di rumah kontrakan itu telah menyadarkan kami bahwa dunia jin memang nyata. Mereka juga sering menampakkan diri dalam bentuk yang bermacam-macam.

Meski demikian, aku bersyukur. Kedua anakku tidak mengalami kejadian yang aneh. Selama ini mereka hidup tenang, seperti anak-anak tetangga. Selain dari gangguan di rumah kontrakan itu, selama ini aku tidak merasakan adanya keanehan lain. Di kantor atau dimanapun aku bertugas. Lantaran itu aku mengambil kesimpulan bahwa rumah kontrakan itu yang angker. Bukan diriku. Logikanya, siapapun yang menempati rumah itu kemungkinan besar akan melihat berbagai penampakan jin.

Ditagih Jin Pertapaan Pringgondani

Tahun 2005, aku ditugaskan ke Bekasi. Kuajak sitri serta kedua anakku. Disanalah, kemudian aku membangun rumah. Usiaku sudah semakin senja, tidak bijaksana bila bolak-balik pindah kontrakan. Setahun setelah menempati rumah baru, ada orang pintar yang menawarkan jasa untuk memagari rumah dari gangguan makhluk halus. Usianya sudah separuh baya dengan gaya bicara yang menarik. Ia mengungkapkan kelebihan-kelebihan ghaibnya.

Setelah berpikir sejenak kupersilahkan orang pintar itu membuktikan ucapannya. Karena aku tidak ingin pengalaman di rumah kontrakan dulu terulang di rumah sendiri. Tiga paku emas dipasang di atas pintu, sementara apel jin dan beberapa sesajen lain ditanam di halaman rumah. Setelah pemagaran rumah itu, aku merasakan ada yang berubah. Nuansanya tidak sesejuk dulu. Perselisihan kecil dalam rumah tangga mulai muncul serta dagangan yang biasa laris, mulai menyusut pelanggannya.

Empat hari setelah Idul Fitri, aku sakit. Suhu badanku menembus 40 derajat celcius. Waktu itu aku berpikir, karena kecapekan saja. Menjelang lebaran kemarin, banyak tugas kantor yang harus diselesaiakan.

Waktu itu aku berobat ke dokter. Namun, kata dokter, tidak ada penyakit berat yang menimpaku. Itu hanya panas biasa. Hatiku tenang mendengar hasil diagnose dokter tersebut. Tapi ketika suhu badan itu tidak jiga turun meski telah berlangsung seminggu, aku mulai khawatir. Siang malam, aku gelisah. Aku seperti orang yang kebingungan. Duduk menetap tiga menit saja, sudah tidak betah. Pindah sini. Pindah sana. Suhu badanku tetap dalam kisaran empat puluhan. Tiap hari aku harus bolak-balik gabnti baju yang basah oleh keringat.

Memasuki hari kesepuluh, mulai terlihat kejanggalan. Aku tidak bisa tidur. Bila hanya karena panas, mungkin hal serupa juga dialami orang lain. Aku tidak kuasa memejamkan mata, karena setiap memejamkan mata, aku melihat berpuluh-puluh binatang hendak menyerangku.

Saat terpejam itu, aku melihat terowongan panjang. Terowongan itu jauh menembus ke hutan. Tepatnya ke pertapaan Pringgondani. Lewat terowongan itulah berpuluh-puluh binatang rebutan masuk ke dalam diriku. Aku terkesima. Spontan kuteriakkan takbir untuk menangkan diri. Kekuatannya sungguh mencengangkan. Seketika binatang-binatang itu terhenti menghilang, sebelum akhirnya aku terbangun dengan geragapan.

Aku teringat film Jumanji yang beberapa saat lalu diputar di salah satu TY swasta. Visualisasinya tidak jauh berbeda denga yang kualami. Berpuluh-puluh binatang itu mendatangi rumahku. Ada gajah, harimau, anjing, kera dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya aku yang melihat semua bintang itu. Istri dan anak-anakku tidak merasakan kehadiran mereka. Dalam pandanganku, binatang-binatang itu tidak pergi. Mereka masih berada di sekeliling rumahku. Ada yang di pohon cery di halaman rumah, ada pula yang memilih runpun bambu di samping rumah, sebagai tempat pengintaian.

Bila menemukan celah, mereka akan masuk ke dalam diriku. Pintu terbuka sedikit saja, angin kencang menerobos ke dalam. Selanjutnya angin itu merambat dari kaki dan menjalar ke seluruh tubuh.

lni adalah pertanda kehadiran makhluk tak diundang itu. Bila sudah demikian, aku biasa menjerit. Terkadang sampai, bergulingan di tanah. Beberapa tetangga yang mendengar keributan di dalam rumah itu pun berdatangan. Mereka meringkus dan berusaha menyadarkanku. Anehnya begitu ada yang mendekat, tangan dan kakiku langsung menghadang mereka tanpa dapat kukendalikan.

Sewaktu bergulingan di tanah itu, tiba-tiba saja aku teringat, dengan nadzarku dulu di pertapaan Pringgondani. Sampai terucap di dalam hati. “Ya Allah, aku sanggup melaksanakan janjiku. Aku akan potong kambing ya Allah. Kumohon hentikan siksaan ini.” Setelah mengucapkan kesanggupan itu di dalam hati, perlahan siksaan mulai mereda. Aku mulai bisa menguasai diri. Tapi binatang-binatang itu tidak pergi, Mereka tinggal di pohon ceri dan bambu untuk menunggu pelaksanaan nadzar.

Keesokan harinya, ada angin kencang menerpa rumahku. lstriku juga merasakan angin itu. Anginnya kencang sekali. lstriku sampai tidak berani membuka pintu depan. Tapi anehnya, tidak ada dedaunan yang rontok. Beberapa saat berikutnya, aku kembali bergulingan di tanah. Saat itu, kondisiku semakin parah. Kata tetangga, aku sudah setengah mati. Aku terus bergulingan di lantai. Katanya, ada beberapa orang yang mencoba menyadarkanku, tapi mereka tidak berhasil. Akhirnya, ada yang menyarankan keluargaku untuk membawaku ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Cikarang untuk mehjalanlani terapi ruqyah.

Aku pun dibawa ke cabang Cikarang dalam keadaan masih belum sadarkan diri. Di sana, aku diterapi Ustadz Arif. Empat orang yang memegangku terpental. Aku bahkan memukul dan menendang mereka. Katanya, bila punggungku menyentuh lantai, maka badankuberputar seperti gasing.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama diruqyah ustadz Arif, badanku melemas. Kekuatan yang merasuk ke dalam diriku, semakin mengendurkan cengkeramannya hingga aku tersadar kembali. Perlahan, satu persatu jin yang menasuk ke dalam diriku itu keluar. Aku bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang merambat di badan lalu keluar melalui nafas. Selanjutnya di mana saya merasakan panas, disitulah dipegang Ustadz Arif sambil dibacakan ayat al-Qur’an. Dan jin pun keluar lagi.

Sehari setelah ruqyah itu, aku segera memenuhi nadzarku. Aku menyembelih dua ekor kambing.  Dagingnya dibagikan kepada warga sekitar. Uangnya memang tidak milikku semua. Ada tiga ratusan ribu yang masih pinjam teman. Waktu itu aku berpikir tak apalah nanti juga akan aku ganti.

Memang setelah penyembelihan kambing itu badanku berangsur membaik. Tapi bukan berarti sudah terbebas sama sekali. Justru setelah pemotongan kambing itu, jin-jin yang telah dikeluarkan saat ruqyah berusaha masuk kembali. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menguasai diriku. Ketika shalat misalnya, jin-jin itu selalu mengganggu konsentrasiku. Aku dibuatnya sulit membaca. Dan bila melakukan kesalahan, maka badanku langsung panas. Sesekali seperti ada kekuatan yang mendorong tubuhku saat shalat. Tapi semua itu tidak membuatku surut ke belakang.

Aku semakin memperbanyak ibadah. Tiap malam, aku terus melaksanakan shalat tahajud. Siang malam, aku juga selalu berdzikir. Semua itu kulakukan untuk memperlemah gangguan yang menerpaku ini. Tidak mungkin aku bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan masalahku. Pertemuanku dengan Ustadz Arif misalnya, tidak bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itulah aku harus bisa membentengi diriku sendiri. Tentunya, dengan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan membaca al-Qur’an.

Siang malam, saya selalu membaca doa, sambil membawa tasbih. Sebelum tidur, selalu membaca do’a. Kalau tidak begitu, saya diganggu. Badan kesemutan seperti digerumuti semut. Saya bacakan astaghfirullahal ‘adhiim, jin itu keluar.

Suatu malam, aku merasakan kembali kehadiran binatang-binatang. Ada dua anjing yang masuk ke kamar mandi. Seketika, aku teringat bahwa aku masih punya hutang tiga ratus yang kupakai untuk membeli kambing. Aku katakan, “Aku akan membayar tiga ratus ribu itu. Jangan tunggu di dalam rumah. Keluar sana.” Akhirnya dua ekor anjing itu pun kulihat keluar dari kamar mandi. la menunggu di pohon ceri.

Keesokan harinya, aku membayar hutang tiga ratus ribu kepada temanku. Ia orang kaya. Tiga ratus ribu itu tidaklah seberapa. Karena itu begitu aku ceritakan apa yang terjadi, uang tiga ratus ribu itu diserahkan kembali kepadaku. “Uangnya saya terima. Mudah-mudahan Allah mengizinkan dan bapak tidak dapat gangguan lagi. Bapak tidak punya hutang lagi sama saya,” katanya. Uang itu kemudian diberikan kembali kepada anakku. Katanya uang itu sudah diterimanya, mau diberikan kepada siapa saja terserah dia.

Setelah aku membayar hutangku, alhamdulillah aku tidak lagi mendapat gangguan. Semoga dengan terbebasnya diriku dari nadzar dan segala hal yang bersangkutan dengannya, gangguan yang telah menderaku dua bulan ini hilang untuk selamanya. Aku kembali menapak hidup ini dengan tenang.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Empat Anakku Disihir Dukun Sebelah Rumahku

Hati-hatilah dengan tetangga. Itulah pesan singkat yang ingin disampaikan pada kesaksian ini. Kisah seorang ibu yang harus merelakan keluarganya hidup dalam ketidaktenangan. Hanya karena masalah sepele. Ia meminta buah alpukat yang menjulur ke rumahnya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh di luar perkiraan. Ia dan keluarganya hidup dalam ketidaktenangan. Ibu Rifda menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

Palembang, September 1985

Ahad malam, bulan purnama menggantung di ufuk langit. Temaram cahayanya berpadu dengan gemerlap bintang yang menerangi halaman rumahku. Tepat di depan beranda, tempat di mana aku duduk bersama suami, kakak iparku dan istrinya. Ditemani gorengan singkong dan secangkir kopi. Semilir angin malam menggoyang dedaunan di halaman. Udara sejuk pun mengalir ke pori-pori. Ditingkahi suara binatang malam, yang menggelitik telinga.

Sejuk. Damai. Tak jauh berbeda dengan malam-malam di perkampungan lain. Pikiran kami menerawang ke beberapa tahun lalu, saat kakak ipar masih tinggal sekota. Kak Leo, namanya. Ada nuansa kehangatan terpancar dari raut muka Kak Leo, yang banyak bercerita seputar kegiatanya di kota sebelah.

Jarum jam menunjuk angka Sembilan, Mas Eko, suamiku mempersilahkan Kak Leo untuk istirahat. Sudah beberapa kali, ia menguap. Suatu isarat bahwa ia butuh merebahkan badanya yang seharian digoncang bis antar kota.

Malam terus merambat. Aku dan Mas Eko pun ke kamar. Anak-anak juga sudah di kamar masing-masing. Kupejamkan mata seperti biasanya. Tak ada yang aneh malam itu. Bagiku, masih seperti malam-malam yang lain.

Hingga kami sekeluarga dikejutkan suara minta tolong. “Tolong. Tolooong.” Suara nyaring terdengar dari kamar sebelah. Tepat dari kamar Kak Leo dan istrinya. Aku terperanjat. Demikian pula dengan Mas Eko. Raut mukanya menyiratkan tanda Tanya.

Setengah berlari, aku dan Mas Eko keluar kamar. Demikian pula dengan anak-anak. Mereka serentak menyerbu ke sumber suara. Kamar Kak Leo dan istrinya. Ia terduduk lemas. Wajahnya sendu. “Aku dicekik makhluk berbadan tinggi besar. Rambutnya merah,” katanya menceritakan apa yang terjadi dengan terbata-bata.

“Tidak apa-apa. Mbak hanya mengigau. Jangan terlalu dipikirkan ya,” kata Mas Eko menenangkan. Kusodorkan segelas air putih. Hal yang sama kuulangi kembali, bahwa di rumah ini tidak ada apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Ini hanya masalah kecil dan tidak perl u dicemaskan. Tapi istrinya Kak Leo tetap ketakutan. Ia yakin bahwa yang dialaminya itu bukan mimpi. Ia merasakan sosok makhluk menyeramkan itu memang ada. Itu bukan mimpi.

Malam itu pun, mereka tidak berani tidur di kamar. Mereka keluarkan kasur dan selimut lalu menggelarnya di ruang tengah.

Peristiwa Ahad malam itu, membuka cakrawala kami. Selama ini aku dan Mas Eko tidak percaya saat anak-anak menceritakan keanehan yang ada di rumah ini. Andi misalnya. Anak pertamaku itu pernah becerita bahwa ia mendengar suara terompah di belakang rumah. Seperti ada orang yang lewat. Tapi siapa? Ketika Andi menengok ke belakang, katanya, ia tidak melihat seorang pun di sana.

Lain pula cerita Dina, anak keduaku, katanya ia pernah melihat sosok bayangan berkelebat si samping rumah, tapi ia juga tidak tahu siapa mereka. Anak-anakku sering mengatakan ini dan itu. Masalahnya, aku dan Mas Eko, sama sekali tidak pernah melihat apa yang mereka saksikan atau mendengar suara tanpa wujud itu.

Selama ini, aku selalu mengatakan bahwa di rumah ini tidak ada yang aneh. Sehingga ketika ada anak-anak yang bercerita macam-macam, kami sering mengatakan, bahwa itu karena mereka tidak membca doa sebelum tidur atau suka melamun.

Bergerilya Mencari Dukun

Kusisir permalahan keluarga ini satu persatu. Kian hari masalah demi masalah mulai bermunculan. Keluarga enam anak ini memang tidak lagi seharmonis dulu. Selama ini, kami hidup tenang. Tak ada riak yang mengusik ketenangan.

Sampai ketika anak-anak sudah mulai mandiri, masalah itu datang silih bergantii. Sejak anak pertamaku diterima di AKABRI lalu anak kedua menikah dengan dokter, aku merasakan rumah tangga ini tak lagi senyaman dulu.

Aku dan Mas Eko mengambil kesimpulan, bahwa memang ada yang tidak beres di rumah ini. Ada yang harus diselesaikan. Tapi bagaimana caranya? Ketika kami tanyakan masalah ini kepada teman-taman, rata-rata mereka menyarankan kami pergi ke dukun.

Kebetulan, tetangga sebelah rumah dikenal sebagai dukun. Satu dua pasiennya, juga terlihat datang ke rumahnya, tapi untuk meminta bantuannya mengusir gangguan di rumahku, aku tidak mau.

Aku merasa kurang cocok dengan gaya perdukunannya, karena menurut informasi yang kudengar, penangananya mengarah ke asusila. Aku tidak mau terlibat terlalu jauh dengan gaya perdukunan seperti ini, karena aku juga memiliki tiga anak perempuan.

Andi yang pernah bertugas ke Kalimantan, menyodorkan nama seorang dukun dari Cianjur, Jawa Barat. Namanya Ki Krina. Ia yakin dengan kesaktian Ki Krina. Sebab ia pernah diberi golok sakti sebelum berangkat ke Kalimantan.

Suatu hari, sesuai dengan kesepakatan, Ki Krina datang ke Palembang. Kami mengundangnya untuk mengusir gangguan jin yang menyelimuti keluargaku. Lazimnya seorang dukun, Ki Krina juga meminta disediakan sesajen. Ada ayan hitam, bunga tujuh rupa dan kemenyan. Ia juga minta disediakan air dalam jerigen. Ki Krina menyembelih aya dan menampung darahnya ke dalam jerigen berisi air 20 liter.

Air dalam jerigen itu berubab merah. Andi kemudian disuruh membawa jerigen ke lantai dua. Tak lama kemudian, tembok-tembok rumah beganti warna. Dinding yang berwarna putih bersih itu memerah. Ki Krina menyemprot-nyemprotkan air bercampur darah sambil membaca al-Qur’an. Waktu itu yang dibaca adalah surat al-jin. Tembok-tembok rumah itu, berubah warna semuanya. Sampai anak saya yang kelima protes setelah Ki Krina pergi. “Mama, katanya ini pengobatan. Dilihat dari caranya saja sudah merusak,” kata anakku. “Coba lihat ini, semuanya berlumuran darah.”

“Sudahlah,” saya bilang. “Kalau tidak diobati, kita bagimana? Saya pun tidak tahu. Kata dia memang bagus.” Saya menerangkan sbisanya agar anak kelima saya itu tidak marah. Waktu itu, saya beranggapan bahwa pergi atau mengundang dukun itu adalah bagian dari usaha. Apalagi dukun yang diundang juga membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Meski sudah mendatangkan dukun dari Cianjur, tetap saja suasana rumah tangga tidak berubah. Perkembangan anak-anak justru makin mengkhawatirkan. Anak kedua yang menikah dengan dokter, malam-malam menelpon dari Medan. “Mama, mama aku mau cerai,” katanya.

Saya menangis. Saya tahu bahwa suaminya itu alim. Suaminya itu baik sifatnya, tapi mengapa sekarang menjadi begini. Mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Mengapa masalah yang muncul itu harus diselesaikan dengan cara-cara kekerasan seperti itu. Saya membuka ruang pertanyaan, tapi belum ada jawaban. Semuanya masih gelap.

Akhirnya, saya terjerembab semakin jauh. Saya berganti-ganti dukun. Entah sudah berapa banyak dukun yang datang ke rumah, atau kami yang ke sana. Dimana ada dukun yang katanya bagus, kesanalah kami pergi. Ada yang menyuruh memasang emas di lantai atas, ada yang menyuruh mengubur bebek di pekarangan rumah, ada pula yang member berbagai bentuk jimat dan isim. Semua keinginan mereka itukami penuhi. Tapi masalah yang kami hadapi tidak kunjung berakhir. Masalah demi masalah terus datang beruntun.

Meninggalkan Perdukunan Setelah Berhaji

Tahun 2001, saya dan Mas Eko berangkat haji. Di sanalah, di tempat yang penuh dengan keberkahan itu, tak henti-hentinya saya berdoa. Saya menangis di hadapan-Nya. Sudah belasan tahun, rumah tanggaku centang perenang. Sudah bertahun-tahun, aku meminta jasa perdukunan. “Ya Allah, ya Tuhanku, apa yang terjadi di tengah rumah tangga kami hingga anak-anak kami tidak ada yang akur? Ya Allah, kami minta petunjuk-Mu.”

Sepulang dari pelaksanaan ibadah haji itu, hati kami mulai terbuka. Kami sadar, bahwa selama ini telah menempuh langkah yang salah. Kesadaran itu bermula, ketika kami mendapatkan kaset seputar perdukunan. Dari sini, kamu tahu bahwa yang kami lakukan itu salah.

Sejak itu, kami tidak pernah mengundang dukun atau datang ke dukun. Cukup sudah kemusyrikan yang kami lakukan saat itu. Meski tidak berarti gangguan di dalam rumah tanggaku berakhir. Sebaliknya, ujian yang kami rasakan semakin berat. Karena rumahku, telah menjadi sarang jin. Sekian banyak dukun itu meninggalkan jimat, isim atau benda-benda lainnya yang tidak lepas dari permintaan bantuan kepada jin. Tidaklah mengherankan bila masalah demi masalah terus mendera rumah tangga ini.

Kondisi rumah tangga semakin tidak kondusif. Mas Eko mulai muadah marah, anak ketiga malas, sementara anak yang keenam juga bertingkah aneh. Ia sering melamun. Diajak komunikasi pun terkadang tidak nyambung.

Di tengah kegalauan itu, Allah memberikan secercah harapan. Kala kami sekeluarga menonton sinetron Astaghfirullah di salah satu TV swasta. Kami sadar bahwa ketidakberesan di rumah ini karena unsure Xnya, tapi setelah tidak lagi berhubungan dengan dukun, kami tidak tahu usaha apa lagi yang bisa kami lakukan selain berdoa. Dengan adanya sinetron Astaghfirullah, muncul harapan baru. Akhirnya, rapat keluarga pun memutuskan untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.

Menantu, cucu dan anak saya yang keenam, Riska, ketiganya mengikuti terapi ruqyah. Saat dibacakan ayat-ayat al-Qur’an katiganya bereaksi keras. Saya sampai menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara suami saya tidak ada dalam ruangan. Yang bisa kulakukan hanya bergantian memegangi ketiganya, dengan hari yang hancur.

Ruqyah di Jakarta itu mulai membuka mata hati kami, bahwa ada solusi yang Islami atas masalah yang kami hadapi. Masalahnya, tempat ruqyah itu jauh dari tempat tinggal kami. Sementara setitik harapan mulai terpancar saat ruqyah pertama itu, maka kami mengambil keputusan untuk mengundang tim ruqyah Majalah Ghoib ke Palembang. Kebetulan yang dikirim waktu itu Ustadz Endang dan Ustadz Slamet.

Tim Ruqyah Majalah Ghoib, tidak membawa benda apapun yang dipakai sebagai jimat atau penangkal bala’. Sangat berbeda dengan dukun-dukun yang saya undang sebelumnya. Mereka justru memusnahkan semua jimat, isim atau benda-benda peninggalan dukun lainya. Termasuk parang  dari Ki Krina.

Saat pembakaran parang itu, entah bagaimana caranya, Ki Krina dapat mendeteksinya. Ia menelpon dari Cianjur. Menurut Andi yang mengangkat telpon, katanya, KI Krina meminta agar parang yang telah dibakar itu dikembalikan. Tapi Andi dengan tegas mengatakan bahwa parang itu sudah dibakar. Ia sudah tidak membutuhkannya dan tidak akan mengirimnya ke Cianjur.

Ki Krina tidak terima parangnya dibakar. Maka keesokan malamny, ia menyerang Ustadz Endang dan Ustadz Slamet yang sedang meruqyah. Ia mengirim jin dari Cianjur. Riska yang sedang kerasaukan jin, saat itu melihat parang berkelebatan. Tak ada tangan yang menggerakkan, tapi parang itu terbang dengan sendirinya. Apa yang disaksikan Riska itu seperti film saja. Sulit bagi orang yang tidak beriman kepda yang ghaib untuk mempercayai cerita ini. Mungkin mereka menganggap itu cerita fiktif semata.

Parang Ki Krina mengitari Ustadz Slamet dan Ustadz Endang yang telah membakarnya. Parang itu terus berputar, berkelebatan kesana-kemari. Sementara mereka berdua, tetap khusyu’ membaca ayat-ayat al-Qur’an. Setelah sekian kali berputar-putar, parang itu pun meluncur dengan deras menuju ustadz Endang. Riska yang menyaksikan kelebatan parang itu tidak tinggal diam. Ia kibaskan tangannya menagkis parang. Parang pun terpental lalu menghilang. Beberapa saat kemudian, Riska, katanya melihat jin hitam bertanduk yang menempel di leher Ustadz Endang.

Suasana malam itu semakin mencekam. Selain parang yang hanya dilihat Riska, orang-orang yang berkumpul di rumahku menyaksikan keanehan lainnya. Mereka menjadi saksi mata atas perang yang terjadi di malam aitu.

Menantuku bertingkah aneh saat ke kamar belakang. Ia melompati beberapa orang yang berada di dekat pintu, seperti terbang. Ia berteriak, “Ada yang mau menyerang. Ada yang menyerang.” Katanya sambil berlari.

Perubahan perilaku itu mengejutkan semua orang. Tidak ada yang menduga bila kemudian, menantuku berontak sedemikian rupa. Akhirnya mereka mengambil tindakan cepat. Menantuku ditangkap ramai-ramai, sebelum kahirnya sadar kembali.

Beberapa tetangga ada yang melihat kejadian aneh di malam itu. Ada yang bercerita, bahwa mereka melihat bola api berterbangan di atas rumahku. Anehnya, bola apai itu hilang sebelum menyentuh atap rumahku.

Empat Anakku Menjadi Korban Sihir

Dengan ruqyah itu terbongkar semua permasalahan yang terjadi selama ini. Gangguan demi gangguan yang terjadi sejak tahun 80 an memang disengaja. Menurut pengakuan jin, yang melakukan itu adalah Sirpan. Seorang dukun yang masih tetangga sendiri. Padahal selama ini, kami sekeluarga tidak pernah bermusuhan dengan mereka. Kami tidak pernah menyakiti keluarganya.

Kalaupun ada persinggunganku dengan dukun Sirpan, maka itu hanyalah masalah sepele. Dulu, dua puluh tahunan yang lalu, saya pernah meminta agar buah alpukat yang menjulur ke pekaranganku itu dibiarkan saja. Itu pun tidak semua. Saya hanya minta beberapa buah yang mudah dijangkau. Saya memintanya dengan terus terang.

Itulah mengapa ketika buah alpukat itu mau dipetik, saya beranikan diri melarang, pemetik buah agar membiarkan beberapa alpukat yang bergelantungan ke pekarangan rumahku. Memang, kuakui saya sempat bicara sedikit keras kepadanya, karena di tidak mengindahkan perkataanku.

Rupanya, pemetik buah itu mengadu kepada Pak Sirpan. Entah apa yang dikatakannya, hingga Pak Sirpan naik darah. Hal itu saya ketahui dari istrinya yang menemuiku sepeninggal kepergian pemetik buah.

Maslah buah itu adalah masalah yang sepele. Sangat tidak sepadan dengan apa yang kualami. Empat anakku, terkena gangguan jin. Semua jin yang merasuk ke tubuh mereka, mengaku dikirim Dukun Sirpan yang kini telah meninggal.

Riska misalnya, ia mengalami gangguan sejak umur tujuh tahun. Saya tidak mengerti, mengapoa anak yang masih polo situ juga harus menanggung penderitaan sedemikian panjang.

Sejak kena gangguan hingga diruqyah, Riska merasa tidak berbahagia. Bagaimana tidak miris hati ini mendengar pengakuannya, kalau untu memeluk ibunya sendiri, Riska merasa tidak mampu. Ia merasakan ada dinding yang membatasi dirinya dengan diriku, sebagai orangtuanya. Dinding pembatas yang diciptakan oleh jin kiriman dukun.

Dina, anak kedua yang menikah dengan dokter juga tidak kalah parahnya. Jin yang merasuk ke dalam dirinya itu mengaku bila inging mengahncurkan keharmonisan rumah tangganya. Hingga maslah sepele yang seharusnya ditanggapi dengan kepala dingin, sudah membiatnya naik pitam. Tak tanggung-tanggung, Dina minta cerai. Suatu saat, ia bahkan dusah menggenggam pisau di tangan. Hanya satu tujuannya. Ia ingin menghabisi nyawa suaminya sendiri. Matanya sudah dibutakan oleh jin. Hatinya sudah tidak bisa lagi menimbang, mana yang benar dan tidak. Semua itu karena pengaruh jin. Saya bersyukur, Allah masih melindungi keluarga mereka.

Alhamdulillah, ia menikah dengan seorang dokter yang alim. Seorang dokter yang tidak mentang-mentang, bahwa tanpa istrinya, ia dengan mudah menyunting wanita lain. Hingga biduk rumah tangga imasih selamat hingga kini.

Anak yang ketiga juga mendapat gangguan. Maksudnya itu mau dibuat bodoh. Karena itulah dia tidak mau sekolah. Disuruh kursus pun tidak mau. Inginya hanya berdiam diri di rumah. Katanya badanya itu lemas. Pembawaanya itu ingin tidur terus.

Buka berarti dengan tidur itu ia menemukan kedamaian, karena saat tidur pun ia taklepas dari gangguan. Ia sering mimpi buruk dan mengigau dengan nafas terengah-engah. Katanya, ia sedang dikejar oleh makhluk hitam yang menyeramkan.

Hal yang sama terjadi pada Nita, kakaknya Riska. Berbeda dengan ketiga saudaranya, bisa dikatakan Nita terkena gangguan akibat menolak cinta anaknya Pak Sirpan. Ya, cerita ditolak dukun bertindak memang sangat kental. Kepalanya sering sakit, sampai ia nyaris meninggal di malam pernikahannya.

Jam sebelas malam, tiba-tiba ia berteriak. “Ampun … Ampun … “ katanya. Badanya seperti mau diangkat ke kuburan. Tubuh Nita pu kaku. Sudah mulai dingin. Seorang kerabat dari Banten yang saat itu datang ke rumah, mengetahui bahwa Nita sedang dalam pengaruh sihir. Ia pun mengambil segelas air, membacakan beberapa ayat al-Qur’an, secara perlahan Nita sudah mulai sadarkan diri.

Kini setelah melakukan terapi ruqyah secara konsisten dan berkelanjutan serta memutar kaset / cd ruqyah, Alhamdulillah, gangguan demi gangguan itu mulaiberkurang. Sekarang anak saya yang kedua sudah menunaikan ibadah haji. Keluarga mereka juga tidak lagi sepanas dulu. Kalau ada masalah, mereka segera sadar dan berintrospeksi. Anak bungsu saya saya pun sudah menikah. Ia menemukan tambatan hatinya, yang semoga bisa menjaganya dengan baik.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang mau mengambil pelajaran. Bahwa tidak semua orang itu bersikap baik kepada kita, meski kita tidak pernah mengusiknya. Karena itu hati-hatilah, jangan sampai menyakiti tetangga.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Korban Pewarisan Paksa Ilmu Kera

dongengApa salahnya menjadi cucu ‘orang sakti’? Tidak ada yang salah memang. Tapi cucu ‘orang sakti’ berbeda dengan cucu orang biasa. Ia bisa mewarisi ilmu sang kakek tanpa harus susah-susah belajar. Tinggal mengasah, ia pun bisa ‘sesakti’ kakeknya. Masalahnya, tidak

 

semua cucu yang ‘terpilih’ mau mewarisi ilmu sang kakek. Di sinilah, masalah kemudian muncul. Keengganan itu berbuah petaka. Sang cucu pun didera sekian macam gangguan. Sering kesurupan, emosionalnya tinggi, hingga sakit fisik lainnya. Seperti yang dialami Rosa. Sang cucu itu, meuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib dengan didampingi ibunya.

Senja di tahun 2000, rona kesedihan menyeruak di tengah makam. Tubuh saudara sepupu saya sedikit demi sedikit tertimbun tanah. Tepat di samping makam paman yang telah mendahuluinya. Keheningan menyelimuti acara pemakaman itu. Tak terdengar kegaduhan dari puluhan orang yang mengelilingi makam. Di saat yang hening itu, saya dikelutkan oleh suatu pemandangan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Almarhum paman menangis di dalam kuburnya. Saya tidak mempercayai pandangan mata saya.  Brerkali-kali saya usap mata ini, tapi pemandangan memilukan itu masih terlihat. Almarhum paman menangis di dalam kuburnya. Saya gelisah. Keringat dingin mengucur perlahan, membasahi kulit. Setelah itu, saya pun tidak tahu apa yang terjadi. Tubuh saya terkulai lemas dan … tidak ingat apa-apa lagi.

Kata ibu, suasana makam semakin menakutkan. Orang-orang yang ikut mengantar ke pemakaman terkesima. Namun, tidak banyak yang mereka lakukan. Mereka hanya membiarkan saya tergolek sebelum akhirnya tersadar kembali. Dan saya pun pulang ke rumah dengan badan lemas. “Tidak apa-apa, Rosa tidak sakit. Dia punya ilmu keturunan,” kata seorang dukun kepada ibu.

Kebetulan, saat itu memang ada seorang dukun yang ikut melayat. Dialah yang kemudian menenangkan keluarga, agar tidak terlalu mencemaskan keadaan saya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak lama lagi Rosa akan sadar dengan sendirinya,” katanya menenangkan.

llmu warisan? Sebuah pertanyaan yang selama ini tidak terpikirkan muncul dengan sendirinya. Pertanyaan demi pertanyaan terus menyusul. Membawa saya mengenang kembali kisah heroik kakek, mantan anggota KNIL yang bergabung dengan lndonesia.

Di masa perang kemerdekaan, kakek yang katanya bisa menghilang, sering mendapat tugas di barisan depan. Selain itu, kakek juga memiliki ilmu malih rupa. Terkadang kakek menyerupai macan dan di lain saat menyerupai kera. Ltulah sebagian dari kisah kakek yang saya dengar.

Suatu hari, ketika saya melihat gambar kera putih yang terkenal dengan sebutan Hanoman, saya langsung teringat dengan keris kakek yang gagangnya menyerupai kepala kera. Selain memiliki dua bilah keris dan delima merah, kakek juga menanam bunga wijaya Kusuma di depan rumah. Bunga itu mendapat perlakuan khusus dari kakek.

Selama ini, saya kurang akrab dengan kakek, lantaran kesibukannya yang menyita waktu sebagai perwira menengah di dinas militer. Ramalan dukun itu pun saya anggap angin lalu semata.

Seiring dengan berjalannya waktu, kesibukan kakek kian berkurang. la yang sudah sepuh itu banyak menghabiskan wlktu di rumah. Sehingga ketika saya main ke rumahnya, di daerah Bogor, Jawa Barat ada kesempatan untuk bertemu dengannya. Dalam pertemuan-pertemuan singkat itu, saya merasa ada yang berbeda dengan tatapan mata kakek. Tidak seperti cucunya yang lain. Kakek selalu menatap saya dengan tajam. Sepuluh menit lamanya mata yang tajam itu menatap saya. Tanpa kata tanpa suara.

Ditemani Dua Makhluk Hitam

Aneh, pengaruh tatapan itu langsung terasa. Badan saya menjadi berat. Seakan ada beban yang merasuk ke dalam diri saya. Di lain kesempatan tanpa alasan kakek ingin melihat melihat telapak tangan saya. “Rosa, sini! Mbah mau tanganmu,” ujar kakek. “Ada apa Mbah?” Tanya saya sambil mendekat. “Sini! Mbah mau lihat tanganmu.” Kakek menatap dengan seksama  telapak tangan saya. Saya pun dibuatnya keheranan. “Kamu bakalan jadi orang hebat,” kata kakek memecah kebisuan.

Saya tidak tahu, apa yang dimaksud dengan mejadi orang hebat itu. Apakah itu pertanda bhwa perkataan dukun dulu akan terbukti? Lalu mengapa harus saya yang terpilih. Mengapa bukan kakak lelaki saya.

Seiring dengan bertambahnya usia, kakek semakin sering sakit-sakitan. Hubungan saya dengan kakek pun semakin dekat. Bila ada kesempatan, saya selalu menjenguk kakek dan mengurus segala keperluannya. Sebaliknya perhatian kakek kepada saya pun semakin besar. Seperti yang terjadi di suatu malam, saat saya sedang tiduran sambil membaca majalah, kakek menghampiri dan menyelimuti saya.

Beberapa saat kemudian, antara sadar dan tidak saya melihat dua makhluk laki-laki dan perempuan menghampiri. Badannya yang hitam menghalangi saya melihat wajahnya dengan jelas. “Kami akan menjadi temanmu. Kami akan menjagamu,” itulah kata-kata yang sempat saya dengar sebelum kedua makhluk itu menghilang.

Keesokan harinya saya bercerita kepada kakek. “Mbah, semalam Rosa disamperin dua makhluk hitam,” kata saya. “Tidak apa-apa. Mereka itu teman,” jawab kakek acuh tak acuh. Saya masih tidak mengerti dengan maksud kakek, tapi untuk mempertanyakannya kembali saya segan. Saya biarkan semuanya mengalir seperti air begitu saja.

Suatu hari, saya merasakan ada getaran-getaran aneh. Saya menangkap sebuah firasat buruk yang akan terjadi. “lbu, hari Rabu Mas Ali kan menikah, hari Sabtunya giliran Mbah Kakung meninggal.” Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa dapat saya cegah.

lbu sempat marah mendengarnya. “Ros, hati-hati kalau bicara. Nanti bapak bisa marah. Orangtuanya dibilang mau meninggal,” kata ibu. “Ntar ibu lihat saja,” jawab saya tidak mau mengalah.

Firasat saya itu pun meniadi kenyataan. Seminggu kemudian kakek meninggal, tepat di hari Sabtu. lbu hanya geleng-geleng kepala melihat apa yang teriadi. Akhirnya bersama dengan ibu, saya segera bergegas ke Depok. Meski sudah mendapat firasat kakek akan meninggal, tapi di hari Sabtu itu saya tidak menemaninya. Karena ada keperluan yang tidak bisa ditinggal.

Saat menghadiri pemakaman, keanehan yang terjadi beberapa tahun lalu kembali terulang. Rombongan pelayat berseragam prajurit kraton mengelilingi makam kakek. Kehadiran mereka sepertinya tidak diketahui oleh orang-orang yang saat itu menghadiri pemakaman.

Pasukan bersenjata yang telah bersiap-siap memberikan penghormatan ala militer pun tidak terusik dengan kehadiran prajurit ghaib itu. Semuanya tenggelam dalam perasaan masing-masing. ‘Door, door, door’ rentetan tembakan salvo terdengar mengiringi pemakaman kakek.

Suasana kembali sunl. Saat itulah saya mendengar suara monyet. Seekor monyet nampak berusaha mendekati saya. Sebelum akhirnya hilangtak berbekas. Monyet itu hilang begitu saja. Kehadirannya terhalang oleh saudara sepupu saya yang berdiri di samping saya. Dan saya pun tidak mempedulikannya.

Sepeninggal kakek, bunga Wijaya Kesuma dirawat nenek. Tanarnan yang hanya berbunga setiap bulan purnama itu pun kini mendapat tugas baru. La menjadi sesajen yang diaruh nenek di dalam kamar. Bunganya yang mirip ular naga itu memang mengerikan.

Waktu kembali berjalan seperti biasa yak terasa, empat puluh hari telah berlalu. Dua makhluk hitam itu kembali hadir. Dan kembali, mereka menegaskan komitmennya. “Kami disuruh menjaga kamu.” entahlah, mengapa saya harus dijaga? Kalau memang benar itu adalah ilmu warisan, mengapa saya yang harus menerimanya bukan cucu-cucu kakek yang lain?

Sederetan pertanyaan itu membawa saya menerawang kembali perjalanan masa lalu. Apakah ada pengaruh antara lama seseorang dalam kandungan seorang ibu dengan kemampuan mempelajari ilmu. Sejujurnya, menurut cerita ibu, saya baru terlahir setelah tiga belas bulan berada dalam kandungan. Selain itu, sejak kecil pola makan saya berbeda dengan anak-anak yang lain. Sampai berumur lima tahun, saya hanya mau makan nasi putih. Tanpa lauk, tanpa sayur-mayur.

Kehadiran dua makhluk di hari keempat puluh itu membawa suasana baru, punggung dan kaki saya semakin berat. Rasanya ada sosok lain yang menyatu dalam diri saya. Pada sisi lain, hubungan saya dengan bapak semakin parah. Sejak kecil, saya memang terkenal sebagai anak yang berani melawan perintah bapak. Berbeda dengan saudara-saudara saya. Kebiasaan itu pun terus berlanjut bahkan semakin parah.

Saya semakin mudah tersinggung. Seperti yang terjadi di suatu siang, setahun setelah kakek meninggal. Dua makhluk hitam itu mengeluarkan bisikan yang mematikan di saat saya bersitegang dengan bapak. “Mendingan kamu bunuh saja. Dia itu musuh kamu yang nyata. Bunuh saja.” Emosi saya tersulut.

Pisau yang tergeletak di atas meja itu melesat ke tangan saya. Seperti ada medan magnit di tangan yang menarik pisau itu. “Sekarang kamu jalan! Habisi dial” bisikan itu kembali mengarahkan langkah saya. Sebenarnya saya tidak mau melangkah, tapi kaki saya seperti ada yang menggerakkannya. Satu dua langkah. Saya berusaha mempertahankan diri, tapi dorongan untuk membunuh bapak ltu begitu kuatnya. Akhirnya, … Astaghfirullaaah, pisau itu pun terlepas dengan sendirinya. Kalimat istighfar itu telah mengalahkan bisikan-bisikan syetan itu.

Selain bisikan mematikan, kedua makhluk itu juga sesekali memperalat saya. Mereka hadir di dalam mimpi dan ininta dimandikan dengan menggunakan perantara badan saya. Mereka minta dimandikan dengan air kelapa hijau setelah Shubuh. Dua buah kelapa hijau pun mengguyur badan saya.

Alhasil, kekuatan yang saya miliki pun semakin tinggi. Teman-teman semakin takut melihat saya. Katanya, tatapan mata saya memancarkan hawa yang menakutkan. Tidaklah mengherankan bila kemudian tidak ada pemuda yang tahan berpacaran dengan saya lebih dari dua bulan.

Tamat SMA, saya diterima bekerja di sebuah toko swalayan. Di saat itulah saya dikenal sebagai seorang tukang ramal. Berita itu bermula ketika saya melihat seorang satpam yang sedang pasang togel. Saya perhatikan nomer yang dipasangnya tidak akan keluar. Dan secara reflek saya menyarankannya untuk merubah nomer pasangannya “Pak, pasang nomor 89 saja. Ntar keluar,” ujar saya spontan.

Entah mengapa, satpam itu percaya dengan omongan saya dan dia pun merubah nomornya tebakannya. Memang, yang keluar kemudian angka 89. Sejak itu, berita sebagai tukang ramal togel pun tersebar dari mulut ke mulut “Kalau mau pasang togel, tanya saja ke Rosa.” Meski tebakan saya benar, tapi saya tidak pernah mau menerima uang pemberian dari hasil judi tersebut. Dengan ringan saya katakan, “Nggak usah”.

Selain memberikan nomor togel, sesekali ada juga bisikan dalam hati yang menyuruh saya untuk menolong seseorang. Seperti yang terjadi ketika ada seorang teman kerja yang terkena sihir. Namanya Sita. Selalu timbul perasaan benci tatkala melihat suaminya. Saya menangkap kesan yang aneh memang Saya pun mencoba melakukan kontak batin dengan dukun yang mengirimkan guna-guna itu Ternyata dia adalah seorang wanita dengan perawakan kecil. “Malam nanti jangan tidur di lantai. Akan ada kalajengking dan ular yang datang,” kata saya kepada Sita. Kata-kata itu terucap begitu saja tanpa saya sadari. Keesokan harinya Sita menceritakan pengalamannya semalam, “Ada kalajengking dan ular yang masuk ke dalam rumah saya,” ujar Sita.

Itu bukan kali pertama saya berhubungan dengan dukun. Beberapa tahun silam, seorang dukun selalu datang ke kampung saya dua kali seminggu. Setiap kali datang, ada saja orang yang datang berobat. Suatu ketika saya dibawa ibu untuk berobat. Barangkali pingsan yang serig datang itu bisa dihilangkan. Dukun itu meminta saya untuk menjulurkan kedua tangan. Ia pun menjulurkan kedua tangannya menyentuh tangan saya.

Apa yang tidak diperkirakannya pun terjadi. Ada tarik menarik tenaga. Kedua tangan kami bergetar hebat. Wajah dukun itu membiru. Dari hidungnya keluar ingus. Sementara saya sendiri tidak mengalami perubahan apa-apa. Akhirnya dukun itu menyerah dan tidak melanjutkan prosesi pengobatan. Sejak itu, dukun tersebut tidak pernah lagi nongol. “Dukun itu kalah sama Rosa,” Begitulah bisik-bisik tetangga yang sempat terdengar.

Perjuangan Melawan Dua Makhluk Hitam

Di tempat kerja dengan suananya yang menyenangkan tetap saja tidak bisa menghilangkan penyakit kambuhan itu. Saya sering pingsan. Nyaris seminggu dua kali, meski setengah jam kemudian sadar kembali. Tapi tidak urung membuat heboh teman-teman. Lantaran, enam orang yang mengangkat tubuh saya masih merasa keberatan. Dari sini, ada yang mulai curiga bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri saya.

Waktu itu ada yang menyarankan saya untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Saran itu saya biarkan saja, hingga kemudian saya kembali tergerak untuk mengikuti ruqyah setelah melihat sinetron Astaghfirullah. Setelah mendaftar saya mendapat giliran satu bulan kemudian. Belum seminggu dari pendaftaran, saya kembali dibawa ibu ke Majalah Ghoib, lantaran tingkah laku saya yang menyerupai kera. Saya yang tidak suka dengan pisang berubah total. Satu sisir pisang habis saya lahap sambil mengangkingkan salah satu kaki. Mirip dengan gaya seekor kera yang sedang makan pisang.

Akhrinya saya diterapi Ustadz Rahmat di mushalla, karena waktu itu jadwal pasien laki-laki. Sepulang dari terapi yang pertama gangguan yang saya alami semakin hebat. Suatu siang ibu memasak air. Sudah satu jam air dimasak, tapi belum juga mendidih. Padahal air dalam panci itu semakin menyusut. Tinggal menyisakan sedikit. Ibu yang sudah melihat reaksi saya ketika diruqyah, akhirnya mengambil garam dan menaburkannya ke kompor.

Saya yang saat itu berada di dalam kamar, merasakan hawa panas yang luar biasa. Saya menjerit jerit. “Panas, Panaaas.” saya berlari ke dalam kamar mandi dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Meski sudah berendam di kolam, tapi hawa panas itu masih terasa. Selang beberapa saat kemudian, saya pun pingsan.

Saat tersadar, saya sudah berada di kamar di kelilingi ibu dan kakak. Katanya, mereka terus membaca ayat Kursi disaat saya tidak sadarkan diri.

Hawa panas kembali menyerang tatkala saya mendengar adzan, atau bacaan al-Qur’an. Seperti yang terjadi suatu siang, ketika saya sedang tidur, adik saya membaca al-Qur’an di samping saya. Tiba-tiba tangan saya bergerak begitu saja menampar adik, tanpa dapat saya cegah. Adik pun lari tunggang langgang, meninggalkan saya yang sedang kerasukan.

Setelah terapi ruqyah, saya semakin tidak bisa menguasai diri. Ada saja yang saya lakukan tanpa sadar. Lari ke jalan atau bahkan menceburkan diri ke dalam kali. Untuk menghindari kemungkinan terburuk, praktis saya selalu dalam pengawasan keluarga. Bahkan saat tertidur lelap pun kakak atau ibu selalu berada di samping saya. Keluarga hidup dalam kekhawatiran. Takut bila sewaktu-waktu saya berontak dan melarikan diri.

Seminggu kemudian, saya mengikuti terapi yang kedua. Seperti yang pertama saya bereaksi dengan keras saat diterapi. Setelah dua kali mengikuti terapi di kantor Majalah Ghoib, keluarga saya berbenah diri. Kakak menyuruh ibu untuk membeli kaligrafi ayat Kursi dan surat al-Fatihah. Rencananya kaligrafi itu akan dipasang di dinding.

Belum sempat kaligrafi itu terpasang, ia sudah robek-robek saya hancurkan. Saya tusuk-tusuk dengan pisau. Tidak cukup menghancurkan kaligrafi, masakan mama yang masih tergeletak di dapur saya aduk-aduk. Saya campur dengan sampah.

lbu yang saat itu masuk ke dalam terkejut melihat perkembangan yang tidak diduganya. lbu menjerit melihat saya masih memegang pisau dan siap untuk menghancurkan apa saja. Sesekali, menurut cerita ibu, saya memasukkan ujung pisau ke dalam mulut. lbu kembali menjerit memanggil kakak. Jeritan yang menarik perhatian tetangga. Mereka berusaha keras melumpuhkan saya. Sambil memperdengarkan kaset ruqyah.

Akhirnya ibu berinisiatif menelpon ke Majalah Ghoib dan meminta salah seorang ustadz untuk datang ke rumah. Waktu itu Ustadz Rahmat yang datang ke rumah. Saat ugadz Rahmat datang, menurut cerita ibu, saya mengatakan bahwa saya sudah sadar. “Sudah deh, saya sudah sadar.”

Tapi yang terjadi kemudian, saya gunakan kebohongan untuk melarikan diri. Jin yang merasuk ke dalam diri saya membawa saya berliri ke kebon di samping rumah. Seperti seorang pencuri, saya dikejar-kejar kakak bersama warga. Mereka berusaha menangkap saya. Akhirnya saya pun tidak lagi menemukan tempat untuk berlari dan kembali menjadi tertangkap. Setelah beberapa saat diterapi Ustadz Rahmat saya pun tersadar.

Dijemput Kereta Kencana Ratu

Suatu hari saat kesurupan jin yang merasuk ke dalam diri saya mengatakan bahwa nanti malam ratu akan datang. Jin itu memperingatkan keluarga agar selalu berdoa dan membaca surat Yasin. “lbu harus waspada. Jam 12 malam jangan tenidur. Tolong jangain Rosa. Karena Ratu mau datang,” begitulah kata-kata jin itu seperti ditirukan ibu.

Keluarga berada dalam kekhawatiran. Mereka tidak berani tidur. Selepas shalat lsya’ ibu tidak henti-hentinya membaca surat Yasin. Bapak membaca ayat Kursi dan surat-surat pendek lainnya. Sementara kakak selalu mendampingi saya kemanapun saya melangkah. Tidak ubahnya seorang pengawal.

Waktu terus merambat tepat iam 12 malam terdengar bunyi kereta kencana dari atap rumah. Saya terus membaca surat Yasin dengan air mata berlinang. Suasana  begitu mencekam. Sementara saya sendiri, waktu itu antara sadar dan tidak duduk meringkuk di pojokan kamar.

Suara kereta kencana itu terus terdengar. Suara gedebak-gedebuk, seperti orang berlari terdengar dari samping rumah. Untuk menghindari kemungkinan terburuk di atas jendela dan lubang angin di taruh Qur’an. Semoga dengan itu akan banyak membantu.

kegaduhan suara kereta kencana itupun terdengar oleh tetangga di kanan kiri. Dari mereka keesokan harinya saya dapat cerita bahwa di malam itu, Ridho salah seorang tetangga sebelah sempat melihat melalui jendela rumahnya. Ridho melihat sosok seperti kera bertengger di atas pohon. Dia seperti mencari anaknya yang hilang tapi tidak berani masuk ke dalam rumah.

Ada beberapa tetangga yang pernah bertanya kepada ibu, kenapa sering terdengar suara anak monyet dari dalam rumah saya. lbu yang mendapat pertanyaan itu tidak bisa menjawab apa-apa. Lbu hanya terdiam, karena kenyataannya memang begitu.

Kami sekeluarga khawatir bila tetangga berpikiran negative dan menganggap kami mencari pesugihan kera. Tapi apa boleh buat, saya tidak bermaksud mempelajari ilmu hitam atau ilmu tertentu untuk mencari kekayaan. Jin itu datang dengan sendirinya, tanpa saya undang. Yang bisa kami lakukan hanyalah mengurangi pertemuan dengan tetangga. Malu, itu saja lasannya.

Menurut cerita ibu, saya pernah bertingkah laku seperti kera ketika berangkat ke kantor Majalah Ghoib. Kalau melihat pohon pisang di sekitar rumah katanya saya ingin memanjat pohon pisang itu. Sampai orang-orang yang melihat merasa kasihan. “Ya Allah, kasihan banget. Anak ini kok bisa begitu.” Begitulah komentar tetangga yang melihat keanehan saya.

Ketika diterapi di kantor Majalah Ghoib, jin yang ada dalam diri saya mengatakan, “Salah sendiri kakeknya ngilmu kamu yang kena. Kakek kamu tuh punya Perjanjian.” Kata jin itu lagi. “Perjanjian apa! Yang melakukan Perjanjian itu kakeknya, kenapa cucunya yang kena. Cucunya tidak tahu apa-apa,” sanggah Ustadz. Setelah sekian lama ustadz berdialog dengan jin kera, akhirnya jin itu mau masuk lslam sebelum keluar.

Alhamdulillah setelah berkali-kali mengikuti terapi ruqyah, perlahan gangguan jin itu semakin berkurang. Meski pada mulanya seakan meningkat, tapi lama kelamaan menurun juga.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah
Sumber : Majalah Ghoib Edisi 53/3

Sihir Orang Ketiga Gugurkan Janin Saya Dua Kali

Masa-masa kehamilan menjadi hari yang menyenangkan bagi seorang wanita. Harapannya membumbung tinggi seiring dengan pergerakan janin yang lincah. Datangnya si buah hati seakan tinggal menunggu waktu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan … tangisan kebahagiaan pun memecah kesunyian. Masalahnya. Tidak semua orang hamil merasakan kebahagiaan ini. Sebagian dari mereka ada yang menggantinya dengan derita dan tangis yang memilukan. Lantaran janin yang menemaninya kini telah gugur. Terlebih bila tersirat ketidakwajaran dalam keguguran ini. Seperti kisah Ibu Rosalia, mantan karyawan swasta. Dua kali ia keguguran, lantaran kedengkian mantan teman kerjanya sendiri. Ibu Rosalia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta Timur, dengan ditemani ibu dan suaminya. Berikut petikan kisahnya.

 

Saya terlahir dari keluarga yang tergolong menengah ke atas. Ibu seorang wanita karir yang terbilang sukses. Demikian pula dengan bapak. Meski saya ditakdirkan terlahir dari suku betawi yang menurut rumor kurang memperhatikan pendidikan, tapi kehidupan keluarga saya menjadi cermin gambaran sinetron ‘Si Doel Anak Sekolahan’. Sebuah keluarga yang mementingkan pendidikan, hingga tidaklah mengherankan bila ibu diterima kerja di perusahaan asing dan memiliki hubungan yang luas dengan orang-orang terhormat.

 

Di sinilah uniknya, kesibukan dunia kerja tidak harus ditebus mahal dengan hilangnya kasih sayang. Tidak. Meski kedua orangtua saya terbilang sibuk, namun mereka masih meluangkan waktu untuk kami, anak-anaknya. Hingga saya dan kedua saudara saya tumbuh dengan baik tanpa kehilangan kasih sayang.  Kini, adik saya menetap di luar negeri mengikuti suaminya.

 

Saya sendiri menjadi wanita karir mengikuti jejak ibu. Seperti halnya ibu, saya juga bekerja di perusaan asing dengan jabatan yang menggiurkan. Saya menjadi orang kedua di perusahaan. Sebuah tugas yang menuntut keahlian dan kemampuan yang tidak sedikit memang. Namun, di sinilah. Di perusahaan asing ini awal bencana yang datang beruntun.

 

Awalnya biasa saja. Saya menjalani semua tugas kantor dengan baik. Saya menjadi jembatan atasan dengan bawahan atau relasi kerja. Semua tugas itu dapat saya selesaikan dengan lancar. Gender maupun usia tidak menjadi hambatan yang berarti bagi saya untuk mendapat kepercayaan atasan dan bawahan.

 

Mungkin karena sikap saya yang sopan sehingga bawahan yang lebih tua usianya menjadi segan. Terus terang, saya tidak penah memberikan perintah kepada bawahan tanpa didahului kalimat minta tolong. Dengan sentuhan kejiwaan seperti ini karyawan menjadi senang karena eksistensinya dihargai.

 

Sebagai orang kedua di perusaan asing, tentu saya sering menemani atasan mengadakan pertemuan denga relasi bisnis. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebetulan dari relasi bisnis atasan, ada juga seorang wanita asal Indonesia yang memiliki kedudukan tidak jauh dengan saya. Sebut saja namanya Ani, seorang wanita berkulit gelap dan gemuk.

 

Ani, bekerja di perusahaan lain yang menjadi relasi bisnis perusahaan tempat saya bekerja. Meski demikian intensitas pertemuan saya dengan Ani terbilan tinggi. Hal ini tidak lain kerena saya harus mewakiki atasan melakukan rapat atau negosiasi dengan perusahaan Ani bila atasan saya tidak bisa datang.

 

Pertemuan demi pertemuan itu makin merekatkan persahabatan kami. Hingga sesekali ia menyempatkan diri main ke rumah saya di Jakarta Timur. Ani pandai bergaul dan enak diajak bicara. Hal yang sama juga dirasakan oleh orangtua dan saudasra-saudara saya.

 

Pekerjaan saya menuntut banya berhubungan dengan relasi bisnis. Selain dengan perusaan tempat Ani bekerja, saya juga sering mengikuti pertemuan dengan relasi yang lain, baik pria maupaun wanita. Di antaranya adalah Sulistio. Pria muda yang luwes dalam pergaulan dan berkepribadian dewasa.

 

Pertemuan demi pertemuan yang pada akhirnya melahirkan benih-benih cinta di antara kami berdua. Meski saya akui bahwa saat bertemu dengan Sulistio saya berstatus janda. Tapi, status bukan halangan bagi seorang wanita untuk menikah lagi. Dan itulah yang terjadi.

 

Perjalanan menuju pelaminan tidak semulus yang saya bayangkan. Hal ini terkait dengan kehadiran orang ketiga di antara kami. Ani, dialah yang lebih dulu mengenal Mas Sulistio memendam cinta yang mendalam. Meski untuk itu dia harus bertepuk sebelah tangan harapannya membina rumah tangga kandas. Cintanya tidak terbalas. Berbagai cara telah ditempuhnya untuk mempengaruhi Mas Sulistio. Dengan menebar kabar burung misalnya. Kesana kemari, dia memperkenalkan diri sebagai pacarnya Mas Silistio.

 

Sebenarnya kabar tidak sedap ini, mengganggu hubungan saya dengan Mas Sulistio. Saya gamang, haruskah melanjutkan hubungan atau putus di tengah jalan. Sungguh tidak mengenakkan berada dipersimpangan jalan. Setelah menimbang masak-masak dan meminta ketegasan dari Mas Sulistio, saya pun menerima pinangannya. Karena dari pertemuan selama ini, saya lebih percaya Mas Sulistio daripada Ani. Seorang gadis yang tidak disenangi banyak orang. Lantaran sikapnya yang sombong dan mau menang sendiri.

 

Saya tahu, sikap apapun yang saya ambil pasti mengandung resiko. Tapi saya harus tegar. Apapun yang terjadi, saya tidak boleh surut ke belakang. Meski harus mendengar nada sumbang dari Ani sekalipun. “Kamu itu janda. Kamu tidak pantas sama Sulistio. Mendingan kamu mundur. Dia punya gue. Karena gue  masih gadis,” celoteh Ani dari balik telepon.

Saya tidak lagi mempedulikan ocehannya. Biarlah dia mengumpat semaunya. Toh, Mas Sulistio juga tidak menghiraukannya. Akhirnya di penghujung tahun 2002, janur kuning pun berkibar. Resepsi pernikahan saya dengan Mas Sulistio berjalan lancar. Ani yang saya khawatirkan selama ini, juga nampak di sela-sela undangan. Ia ikut tertawa dan berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Sama sekali tidak terlihat rona marah atau kecewa. Semuanya nampak wajar-wajar saja. Saya pun lega. Ketakutan dia akan membuat ulah sedikit sirna. Bayangan hitam keterlibatan Ani dengan dukun, sedikit tersingkirkan oleh sikapnya yang manis.

 

Emosional Meningkat Saat Hamil

Hari-hari pertama mengarungi rumah tangga dengan Mas Sulistio berjalan normal. Seperti layaknya pengantin baru. Bahkan kesana kemari kami selalu bergandengan tangan. Tidak ubahnya seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Rutinitas kerja kantoran pun masih berjalan seperti biasa. Saya menemukan kebahagiaan di awal pernikahan ini.

 

Tiga bulan kemudian, dokter menyatakan saya positif hamil. Haru dan bahagia bercampur aduk menjadi satu. Harapan untuk menimang anak dari perkawinan kedua, tinggal menunggu pergantian bulan demi bulan. Namun, seiring dengan proses kehamilan, mulai muncul perubahan dalam diri saya. Sakit darah tinggi yang telah saya alami selama lima tahun, kembali memuncak. Akibatnya, saya mulai emosional.

 

Di rumah, saya mulai menebar kemarahan dengan siapapun. Ibu, kakak, atau bahkan Mas Sulistio. Ya, sejak kehamilan yang seharunya disikapi dengan kedewasaan itu, perjalanan rumah tangga saya  mulai goyah. Ada saja masalah yang muncul. Padahal sebelumnya, kami menganggap masalah itu biasa saja. Terkadang terbetik keinginan untuk mengakiri jalinan rumah tangga yang baru seumur jagung ini. Untunglah niatan itu masih bisa diredam oleh Mas Sulistio yang sabar. Hingga rumah tangga kami masih bisa bertahan.

 

Menjelang kehamilan berusia tiga bulan, saya mengalami sakit. Tekanan darah tinggi saya naik menembus angka 200. Keluarga panik, karena menurut diagnosa dokter implikasi dari tekanan darah tinggi itu bisa berakibat fatal. Benar memang, beberapa hari kemudian, saya mengalami keguguran. Janin benih perkawinan dengan Mas Sulistio hanya bertahan tiga bulan. Padahal dari pernikahan yang pertama, tidak ada masalah dalam rahim saya. Saya melahirkan anak  yang pertama dengan normal.

 

Keguguran yang pertama ini, saya sikapi dengan wajar. Sama sekali tidak ada kecurigaan sedetik pun bila ada yang berniat jahat. Dan ingin menghancurkan kebahagiaan kami. Namun, perasan ini tidak bertahan lama. Hanya dalam hitungan hari segera berubah. Lantaran celotehan dari balik telepon. Ani yang mendengar berita keguguran janin saya mendapat angin segar untuk menyerang. “Turut berduka cita ya…,” katanya. Setelah itu dia malah tertawa-tawa. “Ha ha ha … percaya sajalah kamu tidak bakalan punya anak,” katanya. Saya terkejut mendengar ucapannya. Sama sekali tidak menduga bila ada yang tega berkata sekasar ini. Nada bicaranya memberi kesan ia sedang merayakan sebuah kemenangan. Entah kemenangan seperti apa.

Pembicaraan dari balik telpon itu pun diahirinya dengan nada tidak bersahabat ia tertawa. Laksana musik pengiring tarian di atas penderitaan orang lain. Awalnya saya tidak terlalu mengambil hati. Apa yang dikatakannya itu saya anggap sebagai angin lalu semata.  Setelah sehat, saya pun masuk kerja seperti biasa. Di sinilah kemudian, secara tak terduga Ani main ke kantor saya. Ia merangkul pinggang saya dari belakang. “Eh, gue bilang, lu tidak akan punya anak. Nanti lu bakal cerai. Sulistio gue pelet. Nanti dia bakal nikah sama gue,” katanya riang.

 

Ia memeluk pinggang saya sambil tertawa menyeringai. Mengerikan. Tapi saya diam saja. Saya tidak menghiraukan apa yang dikatakannya. Orang-orang yang mendengar celotehannya juga keheranan dengan sikapnya. Hari itu, saya memang hanya mendiamkannya.

 

Tidak bereaksinya saya dimaknai lain oleh Ani. Ia merasa berada di atas angin dan terus menebar kata-kata yang pedas di lain kesempatan. Bahkan saya mulai mendengar laporan dari anak buah saya,  bahwa Ani mulai berulah. Karena itu saya disarankan agar waspada. “Hati-hati Bu, dengan Ibu Ani. Soalnya dia menjelek-jelekkan ibu di depan atasan ibu.” Laporan seperti itu sering saya terima dari sebagian karyawan.

 

Mereka juga memperingatkan saya, bahwa setiap malam Jum’at Ibu Ani selalu memberi sesajen darah pada ‘pegangannya’. Ani tergolong suka de dukun. Awalnya saya tidak begitu percaya. Tapi setelah mendegar kisah hari pertama dia masuk kerja, saya menjadi maklum. Ani mengawali kerjanya dengan mengadakan syukuran penyembelihan kambing. Bila sekedar syukuran biasa, tentu tidak menyimpan sejuta tanda Tanya. Tapi syukuran itu menyimpan hawa mistis. Ani tidak membiarkan darah diminum tanah. Ia menampungnya di ember lalu menyimpannya. Entah apa yang dilakukannya dengan darah itu, tidak ada yang tahu.

 

Setelah sekian kali mendengar ungkapan yang tidak enak di telinga, saya tidak kuasa menahan diri. Muka saya memerah menyimpan kemarahan. Mas Sulistio yang berada di samping saya, akhirnya memarahi Ani habis-habisan. Heboh memang siang itu.

 

Hari demi hari terus berganti. Hingga enam bulan berlalu dari masa keguguran. Say merasakan ada gejala lain. Sikluh haidh saya terhenti. Dan saya dinyatakan positif hamil. Betapa bahagianya diri ini, Allah SWT. segera menggantikan dengan janin baru.

Seiring dengan kehamilan yang kedua, emosional saya kembali meningkat. Kali ini lebih parah dari saat kehamilan yang lalu. Kemarahan itu bisa tumpah dimana saja tanpa memandang tempat. Di rumah atau di kantor sudah menjadi hal yang biasa. Sehingga karyawan di kantor sampai berkomentar, “Ibu mendingan tidak hamil saja deh bu. Ibu kalau hamil jadi galak,” ujar salah seorang anak buah saya.

 

Mengerikan. Sungguh mengerikan. Saya tidak lagi menghiraukan siapa yang harus dimarahi. Atasan saya di kantor, bisa saya bentak-bentak bila saya tidak berkenan. Padahal dia adalah orang asing dan professional. Tangan saya menunjuk-nunjuk mukanya. Atasan saya hanya diam dan meninggalkan saya. Dia paham, bahwa saya bukanlah seorang pemarah. Apalagai sampai meledak-ledak seperti itu.

 

Kejadian di rumah juga tidak kalah dahsyatnya. Kini, setelah hamil, justru timbul perasaan tidak senang dengan Mas Sulistio. Rasanya sumpek dan sesak bila dia di rumah. Akhirny keributan-keributan dalam rumah tangga pun tidak lagi terhindarkan. Sampai saling menendang-nendang pintu. Untuk menenangkan diri, beberapa kali Mas Sulistio meninggalkan saya sendrian di rumah. Dan baru pulang setelah keadaan mereda.

 

Hamil kedua ini memang berbedas. Tensi kemarahan saya terus memuncak. Tekanan darah tinggi saya kembali menembus angka 200. Sungguh mengerikan bagi seorang ibu yang sedang hamil seperti saya. Keributan demi keributan terus berlanjut.

 

Suatu malam, tepatnya hari selasa malam Rabu, saat kehamilan saya mencapai empat setengah bulan, ada peristiwa aneh. Kulkas dan kitchen set yang terbuat dari kayu jati, tiba-tiba jatuh. Tidak ada angin, tidak ada Guntur, tapi akibanya seperti terguncang gempa. Saya dan Mas Sulistio terbangun. Kami ketakutan setengah mati. Ada apa gerangan? Perampok ataukah…

 

Bermula dari sini, keanehan-keanehan dalam rumah mulai bermunculan. Sesekali Mas Sulistio melihat sosok bayangan berkelebat. Iapun ketakutan. Untuk ke kamar kecil saya harus diantar. Memang, ini bukan salahnya. Karena saya tidak bisa memaksanya agar berani menghadapi penampakan jin. Karena hal yang sama juga saya alami saat di kamar mandi. Di langit-langit kamar mandi bermunculan hewan-hewan menjijikkan dan menakutkan. Penampakan-penampakan yang membuat Mas Sulistio mulai jarang di rumah. Ia muali pulang agak malam. Dan begitu tiba di rumah, ia pun mudah tersulut kemarahan. Akibatnya malam-malam kami berlalu dengan iringan perkelahian. Seperti ada bisikan yang mempengaruhi saya agar tidak percaya dengan Mas Sulistio. “Sumai lu nggak bener nih.”

 

Di kantor, Ani mulai menabuh gendrang perang. Kemana-mana dia selalu menejelek jelekkan saya, “… pakai dukun.” Aneh memang. Saya tidak pernah pergi ke dukun. Bahkan dia sendiri pernah mengakuinya di depan saya. “… dukun lu hebat. Wah, gue akui dukun lu memang hebat. Canggih. Canggih. Gue akui, gue kalah saat ini, tapi lu jangan berlagu.” Setelah itu dia bahkan mengatakan, “ lu mau gue bikin cerai sama Sulistio. Setelah cerai, jangan sebut nama gue, kalu gue tidak bisa pelet Sulistio.”

 

Saya tidak terlalu menghiraukan ancaman Ani. Saya tetap ke kantor seperti biasa. Meski semenjak jatuhnya kitchen set, ulu hati saya selalu sakit pada hari Selasa. Sakit yang terus meningkat, hingga ketika hamil enam bulan saya harus menjalani rawat inap di rumah sakit di bilangan di Jakarta Timur.

 

Saya menggelepar kesakitan. Ulu hati saya seperti ditusuk-tusuk pedang hingga tembus ke punggung. Berbagai obat pemberian dokter tidak mempan. Rasa sakit itu tetap tidak bisa hilang. Dan terus menusuk-nusuk . raut muka sampai memutih pucat. Dan baru berkurang setelah ibu memegang uluhati saya sambil membacakan ayat-ayat al-qur’an. Saat berikutnya saya terlelap dalam tidur. Dari sini, ibu semakin yakin bahwa derita yang saya alami selama ini akibat sihir. Karena itu, ibu selalu meletakkan tanggannya di ulu hati saya bila rasa sakit itu datang.

 

Dua hari dirawat, saya diizinkan pulang. Tapi rasa sakit di ulu hati masih terus mendera. Seorang teman kemudian membawa seorang yang katanya dikenal sebagai ustadz untuk datang ke rumah. Saya diberi beberapa jimat. Ada kain yang bertuliskan huruf Arab serta tiga buah bungkusan putih. Jimat jimat pemberian ‘ustadz’ itu pun saya biarkan begitu saja. Karena sejak awal saya kurang senang.

 

Ketika rasa nyeri di ulu hati tidak kunjung sembuh, saya kembali menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan. Di rumah sakit inilah, saya mengalami keguguran untuk kedua kalinya. Keguguran yang diawali dengan serentetan keanehan yang diluar nalar. Siang harinya, ketika ditemani ibu mertua, saya melihat dua anak laki-laki tanggung berada di dekat jendela. “Di dekat jendela, kok ada dua anak laki-laki tanggung. Cakep-cakep amat. Ngapain?” Tanya saya kepada ibu mertua. Ibu mertua menoleh ke jendela, tapi ia tidak melihat siapa-siapa di sana. “Itu bu, keduanya tersenyum melihat saya,” kata saya meyakinkan ibu. Tapi ibu kembali geleng-geleng kepala.

 

Malam harinya, giliran bisikan menakutkan yang terdengar. “Rosalia aku akan ambil anakmu. Biar aku ganti yang lebih bagus.” Saya terbangun. Saya tengok kiri kanan, Mas Sulistio sedang istirahat. Tidurnya pulas. Ia tidak terusik dengan bisikan yang saya dengar. Seakan bisikan itu hanya ditujukan kepada saya. Tapi apa makna di balik bisikan itu? Tak satu pun jawaban yang bisa saya dapatkan. Akhirnya saya kembali tertidur.

 

Keesokan harinya, ketika diperiksa dokter pada jam Sembilan, detak jantung janin saya tidak lagi terdengar. Tidak ada aktifitas yang memberikan sinya tanda-tanda kehidupan. “Kehabisan oksigen,” kata dokter. Deg, saya terkejut mendengar penuturan dokter, saya kembali mengalami keguguran. Padahal seharian kemarin, janin saya masih bergerak-gerak lincah. “Oh, sehat. Bayinya sehat,“ kata ibu mertua saat meraba perut saya. Sehari sebelumnya saat di USG, dokter juga mengatakan bahwa janin saya sehat. Meski beberapa hari ini, saya menjalani rawat inap dan harus minum obat. Saya pun harus diinduksi untuk mengeluarkan janin yang telah meninggal dalam kandungan.

 

Sudah jatuh tertimpa tangga.

Begitulah yang saya rasakan. Sudah sekian lama sakit di ulu hati menusuk-nusuk, kini saya harus kembali menerima kenyataan bahwa saya keguguran. Sedih dan pilu. Terlebih bila sakit di ulu hati kembali menghampiri. Sakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis. Biasanya hanya dengan tempelan tangan ibu seraya membaca ayat Kursi dan beberapa ayat lain yang ibisa mengurangi kepedihan ini. Tapi ibu tidak sedang di rumah. Saya mengerang dan mengaduh. Suster yang mendekat pun saya bentak. Karena sakit yang tidak tertahankan. Mas Sulistio dan beberapa kerabat yang lain sudah mengerubungi saya. Saya terus mengerang sampai meliuk-liukkan badan untuk mengurangi rasa sakit di ulu hati.

Dalam kondisi kritis itu, ibu muncul. Ia segera menempelkan tangannya ke punggung saya dan kembali membacakan ayat Kursi, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. Dengan itulah kemudian secara berangsur rasa nyeri itu hilang. Ibu bilang, bahwa sakit saya ini tidak wajar, tapi ibu tidak bisa berbuat banyak selain apa yang dilakukannya selama ini. Karena beberapa pertimbangan itulah akhirnya, saya dibawa pulang ke rumah ibu.

 

Setelah saya di rumah, selanjutnya giliran ibu yang dirawat di rumah sakit. Entah kenapa setelah mengobati saya giliran ibu yang diserang. Perutnya membesar seperti orang sakit busung lapar. Di lengannya terdapat benjolan sebesar kelereng. Ibu curiga apa yang dialaminya ini karena gangguan. Jam dua belas malam, ibu muntah-muntah dan buang air. Badannya lemas karena terus mengeluarkan cairan. Tidak ada pilihan lain, jam dua belas malam ibu langsung dibawa ke rumah sakit menggantikan saya dan dirawat sehari semalam.

 

Dua hari di rumah ibu, ulu hati saya kembali nyeri. Seperti ditusuk-tusuk belati. Ibu yang sudah sehat sepulang dari rumah sakit, kembali membacakan ayat-ayat al-Qur’an sambil menempelkan tangannya di uluhati saya. Saya muntah-muntah sampai Shubuh. Samar-samar saya melihat jin bertanduk seperti sapi di dalam kamar. Sosok aneh yang mengerikan itu menyeringai menertawakan saya. Setelah munculnya penampakan itu ulu hati saya kembali sakit seperti ditusuk-tusuk pisau.

 

Akhirnya saya dibawa kembali ke rumah sakit. Kali ini, keluarga membawa saya ke rumah sakit di Jakarta Barat. Tiga jam sekali ulu hati saya ditusuk-tusuk. Saya mengaduh tidak karuan. Ketika seorang  suster bertanya sakitnya seperti apa, bukan jawaban yang saya berikan. Suster itu mendapat semprotan dari saya, “Tanya melulu. Sakit tahu. Jangan Tanya-tanya, saya lagi sakit.” Sedemikian galaknya sehingga suster pada ketakutan memeriksa saya.

 

Berbagai pemeriksaan medis, telah saya jalani di tiga rumah sakit, namun hasilnya tetap nihil. Dokter yang merawat saya pun sampai keheranan. “Sekarang banyak penyakit aneh-aneh,” ujar seorang dokter sambil membentangkan tangannya.

 

Di saat kritis itulah, ibu mendapat informasi dari seorang lelaki yang menjenguk kerabatnya. “Diruqyah saja bu!” sarannya. Sebenarnya dan pengunjung lain yang menyarankan ibu untuk membawa saya ke paranormal, tapi lebih memilih ruqyah. Karena dari penjelasan bapak tadi ruqyah merupakan terapi gangguan jin dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an. Ibu merasa cocok, karena selama ini ibu mengobati saya juga dengan bacaan-bacaan al-Qur’an.

 

Akhirnya, Mas Sulistio meminta Ustadz Aris Fathoni untuk menerapi saya di rumah sakit. Karena kondisi saya yang sedang kritis dan sulit dibawa ke kantor Majalah Ghoib. Saat membaca ayat-ayat al-Qur’an saya juga mendengar bisikan halus yang berusaha melunturkan keyakinan saya dengan ruqyah. “Lu mau saja digituin sama orang. Lu lihat, air itu gelasnya setengah. Nanti sehabis baca, gelasnya jadi penuh. Itu dari ludahnya dia. Idih lu mu aja. Bau. Lu mau saja.”

Sebenarnya setelah Ustadz Aris membaca ayat-ayat al-Qur’an dan menyuruh saya meminum air, saya sempat ragu-ragu. Bisikan halus itu memang sedikit mempengaruhi saya. Tapi karena dorongan ibu dan nasehat Ustadz Aris, air itupun saya minum juga.

Di luar dugaan, hanya dalam waktu setengah jam saya sudah tidak lagi merasakan tusukan di ulu hati yang begitu menyakitkan. Sungguh ini adalah karunia dari Allah yang semakin membuka mata hati kami sekeluarga akan kebesaran dan keagungan-Nya.

 

Setelah sembuh dari sakit ulu hati, akhirnya kami mengambil kesimpulan, bahwa apa yang saya alami selama ini tidak terlepas dari sihir seseorang. Yang pada akhirnya mengaraj kepada Ani, tentu ini semua berdasarkan bukti yang sangat kuat. Untuk menghindari kemungkinan buruk di kemudian hari akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja. Pengunduran diri ini bukan berarti bentuk kekalahan, tapi untuk meraih kebagahagiaan yang sempat hilang selama ini. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang membacanya.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 51/3

Saya Ketempelan ‘Jin Cathy’ dari Jerman

Jin bisa dilihat dan dipegang layaknya manusia ketika mereka keluar dari hakekat penciptaanya, lalu menyerupai sosok manusia. Bisa diajak bicara, disuruh memijat atau dibonceng kemana saja. Seperti pengalaman Sri Handayani, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia menuturkan kisah pergaulannya dengan ‘Jin Cathy’ kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

“Brak…” dua sepeda motor beradu. Menimbulkan suara keras yang memecah keheningan di pagi buta. Seorang lelaki dengan sepeda motornya terpelanting. Nasi bungkus yang memenuhi jok motornya berceceran dan tak bisa diselamatkan. Pada sudut lain, Lek Triono yang membonceng saya juga terjerambab. Motornya terseret sepuluh meter dari tempat kejadian. Meninggalkan saya yang terduduk di atas aspal, persis di tempat kejadian. Aneh, saya tak mengalami luka, hanya sobekan kecil di celana. Itupun tidak sepadan dengan kerasnya tabrakan tadi.

Heran, saya benar-benar heran atas apa yang terjadi. Tabrakan keras itu tidak menimbulkan luka apa-apa. Hanya, kekuatan aneh yang mengangkat badan saya bersamaan dengan detik-detik tabrakan itu yang saya rasakan. Lalu meletakkan badan saya kembali dia atas aspal. Sementara Lek Triono yang membonceng saya pingsan seketika. Tangannya lunglai dengan darah mengalir dari wajahnya.

Saya cepat mengambil keputusan. Memanggul Lek Triono dan menuntun sepeda motor ke sekolah tempat saya belajar. Saya tidak berpikir membawanya ke rumah sakit karena yang terlintas dalam benak saya adalah takut mendapat hukuman bila terlambat datang. Maklum waktu itu adalah minggu-minggu awal mengikuti kegiatan wajib penerimaan siswa baru. Lagian, sekolah itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kejadian.

Saya terlambat setengah jam dan nyaris dihukum merayap di jalan sepanjang enam meter. Akhirnya saya katakan, “Saya tabrakan. Sekarang Lek saya tidak sadarkan diri di depan.” Sanggahan ini membuat mereka terpana. Tabrakan keras yang terjadi tidak menimbulkan luka pada diri saya, sementara motor laki-laki saya patah rangka, tangki bensin juga goyang, meski tidak bocor.

Setelah tabrakan di pagi buta itu, saya sering sakit kepala tiba-tiba. Hanya karena keinginan saya tidak dikabulkan orangtua misalnya, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak bisa mendengar kata-kata jangan. Karena kata itu mengundang reaksi di kepala saya.

Selain itu, saya sering pingsan di sekolah hanya karena mendengar nama saya di panggil di pengeras suara. Panggilan yang biasanya diikuti dengan membuat nyali menciut, saya merasa tidak bersalah, namun mengapa harus menerima hukuman, bukankah itu kesalahan orang lain? Memang siswa yang bersalah masih satu kelas dengan saya, tapi tidak seharusnya bilan hukumannya harus diterima siswa yang tidak bersalah. Kekecewaan dan ketakutan itu membuat saya tidak sadarkan diri. Kejadian seperti ini sering kali berulang, hingga akhirnya para guru memahami dan tidak menghukum saya atas kesalahan orang lain,

Boleh dibilang kejiwaan saya memang labil dan sering tidak sadarkan diri. Sperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2001. Saya tidak sadarkan diri selama 12 hari. Saya dibawa ke rumah sakit. Katanya, badan saya sudah dingin sampai leher, tinggal kepala yang masih hangat. Infuse sudah tidak berfungsi, tidak ada cairan yang menetes dan masuk ke dalam urat nadi. Grafik jantung di layar monitor juga tidak bergerak. Akhirnya pihak rumah sakit menyerah dan saya menjalani perawatan di rumah. Dalam perkiraan mereka, tidak berapa lama lagi saya sudah meninggal.

Di rumah, kondisi saya tidak mengalami banyak kemajuan. Hari demi hari berlalu dalam keadaan yang sama. Badan saya tergolek lemah di atas pembaringan. Pihak keluarga juga sudah pasrah, menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Mbah yang tinggal di Yogya dan Medan juga sudah datang. Mereka menunggui saya dengan harap-harap cemas.

Dalam keadaan yang kritis itu, saya merasa didatangi seorang kakek yang mengaku sebagai Mbah saya yang sudah almarhum, “Kowe iku putuku. Ojo loro-loro. (Kamu itu cucu saya. Jangan sakit-sakitan terus). Pokoknya ntar kalau sakit mamanya sedih, bangun ayo bangun!” ujar kakek itu sambil mengusap dahi saya.

Mata saya terbuka. Dan saya melihat Mbah dan keluarga lainnya sudah berkumpul. Mereka menangis bahagia melihat keadaan saya yang membaik setelah tidak sadarkan diri dua belas hari. Ini bukan waktu yang pendek. Di bawah tempat tidur saya sudah bau kapur barus. Karena saya divonis dokter telah meninggal, tapi bapak masih belum yakin. Ia bersikukuh bahwa saya masih belum meninggal.

Sebenarnya, ketika tidak sadarkan diri itu saya dapat melihat apa yang dilakukan orang-orang yang menjenguk saya. Apapun yang mereka katakana, saya dengar. Hanya saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat tidak sadarkan diri, saya seakan bermain-main di ruangan yang seba ungu. Akhirnya setelah saya sehat, saya mengecat kamar dengan warna ungu. Saya masih ingin mengenang saat-saat tidak sadarkan diri. Saat ketika keluarga membaca surat Yasin, atau detik-detik ketika mereka menangis dan meratapi nasib saya yang tergolek antara hidup dan mati.

Ketika tersadar dari pingsan itu saya menemukan sebuah batu kecil persegi enam yang tranparan di bawah bantal. Tidak ada yang tahu darimana asal-usul batu itu. Batu itu saya jadikan cincin karena ketika disimpan di dompet terkadang hilang dan lain kesempatan datang lagi. Pendek kata batu itu selalu hadir ketiak saya sedang gundah gulana, marah, sedih maupun kecewa.

Entah kenapa setelah memakai cincin, saya ingin jajan terus. Meski saya baru membeli bakso misalnya, dan tak lama kemudian ada penjual lain yang lewat di depan rumah, saya langsung ingin membelinya. Keinginan ini tidak bisa dicegah, karena bila dilarang akibatnya bisa fatal. Sesak nafas dan saat-saat berikutnya saya pingsan. Tabungan yang diberikan orang tua senilai enam juta habis dalam waktu tiga bulan.

Berteman dengan ‘Jin Cathy’ dari Jerman

Tahun 2002, saya mengikuti Praktek Kerja Lapangan di kapal pemerintah yang berlayar ke laut China Selatan dengan nomor lambung 543. Pelayaran yang sangat berkesan bagi saya, karena ketinggian ombak laut China Selatan bisa dipastikan di atas dua puluh meter. Ini adalah kesempatan yang langka dan tidak sembarang orang bisa bergabung dengan kapal ini.

Ombak yang menggulung menjadi pemandangan harian, sesekali diselingi angin-angin kencang yang menderu-deru. Pagi itu, saya berdiri di dek lambung kiri, memperhatikan permukaan laut yang bergerak-gerak tanpa henti. Ombak itu saling berkejaran sebelum akhirnya buyar memercikkan biuh membentur lambung kapal.

Saya menegok ke kiri, mata saya tertumpu pada sosok wanita yang berdiri di geladak kapal. “Ohh, cantik sekali,” gumam saya lirih. Rambutnya memakai korses dengan hiasan bunga yang indah. Serasi dengan kulitnya yang kuning dan blues panjang berwarna merah. Ia cantik sekali. Paras wajahnya menandakan bahwa dia tidak berasal dari Indonesia.

Semakin saya perhatikan, saya semakin heran. Wanita itu tidak tersentuh air. Pecahan ombak yang muntah ke geladak kapal tidak membuatnya basah. Padahal anak buah kapal yang sat itu berada di geladak kapal yang sama berlarian tidak ada yang menghiraukannya. Seakan mereka memang tidak melihat wanita cantik itu.

Wanita itu memperhatikan saya yang berdiri mematung. Perlahan, ia melangkah dengan anggun. Gaunnya berkibar di terpa angin kencang. Ia melangkah tepat mengarah ke tempat saya berdiri. Jantunfg saya berdegup semakin kencang. Wanita it uterus mendekat dan … … saya sudah berada di ruang perawatan begitu mata saya terbuka.

Kata perawat, saya ditemukan di geladak kapal dalam keadaan pingsan. Selam di ruang kesehatan wanita cantik yang misterius itujuga berada di dalam. Dia duduk di ranjang sebelah, tetap dengan balutan blues panjang warna merah. Ia duduk saja dan tidak mengusik perawat yang sesekali ke dalam ruangan. Nampaknya mereka tidak ada yang melihat wanita bule ini. Mereka hanya berbicara dengan saya dan tidak melihat atau ngobrol dengan wanita bule itu.

Selang beberapa lama kemudian, wanita cantik itu memecah kebuntuan. Ia memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. “My name is Cathy. I am Germany (nama saya Cathy. Saya berasal dari Jerman),” tuturnya lembut sambil melangkah ke ranjang saya.

Wanita yang memperkenalkan diri dari Jerman itu pun duduk di samping saya. Dan tanpa diminta, ia segera memijat badan saya. Saya diam saja, menerima pijatannya, hingga kemudian saya menjawab perkenalannya juga dengan bahasa Inggris yang entah bagaimana tiba-tiba saja saya lancar berbahasa Inggris.

Singkat cerita jin Cathy ikut saya. Dia masuk ke tubuh saya. Dia menempel di punggung, katanya. Memang, saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika jin Cathy berada di tubuh saya. Rasanya badan saya lebih ringan, begitu juga ketika dia keluar. Saya mengetahuinya dengan perubahan gerak saya yang sedikit melambat. Kedua telapak tangan dan kaki saya menjadi basah. Bila saya juntaikan telapak tangan saya, lama kelamaan jatuh tetesan air dari telapak tangan.

Selepas PKL, jin Cathy tetap menemani saya dan tinggal di kamar saya. Ia tidur di ranjang atas, bekas tumpukan kardus. Sementara saya tidur di bagian bawah. Kardus-kardusnya saya singkirkan semua. Sehingga tempatnya menjadi lega. Memang saya sadar sejak awal, bahwa Cathy bukanlah manusia. Ia adalah jin tapi dalam benak saya saat itu Cathy merupakan jin yang baik. Ketika dipijat Cathy, saya merasakan tangannya seperti ketika saya dipijit orang lain. Tidak banyak perbedaan yang saya temukan. Kecuali, ia tidak bisa dilihat orang lain.

Padahal sekian bulan saya menghabiskan waktu bersama Cathy. Dia selalu ikut kemana saya pergi. Ketika saya naik motor, maka Cathy membonceng di belakang, lain waktu ia mengiringi saya berjalan kaki. Ia menjadi teman layaknya manusia biasa. Bisa diajak bercanda atu bicara serius.

Memang, sesekali kehadiran Cathy menarik perhatian orangtua. Karena mereka merasakan kehadiran orang lain di rumah ini. Hingga ibu pun menegur, “Suka ada yang masuk ke kamarmu. Siapa dia?” Tanya ibu suatu siang. “Nggak apa-apa. Dia teman saya kok. Sekarang sudah pulang,” jawab saya dengan santai.

Saat bergaul dengan Cathy sakit kepala masih belum sembuh, meski saya sudah berobat secara medis. Akhirnya saya menerima tawaran Pak Rodi, orang pintar, yang katanya bisa mengobati. “Mau sembuh nggak?” Tanya Pak Rodi. Ia kemudian shalat dua rakaat yang katanya bagian dari proses pengobatan. Lalu memberi sebungkus garam. “Garam ini harus dijilat sebelum keluar dari pintu kamar,” tuturnya meyakinkan.

Obat yang terkesan mudah itu pun saya terapkan. Garam yang asin itu menjadi pemanis bibir saya. Bayangkan, dalam sehari berapa puluh kali saya harus menjilat lidah, lidah saya akhirnya meradang. Bukan kesembuan yang saya dapat, tapi justru tambahan penyakit baru. Akhirnya ritual menjilat lidah saya hentikan. Sebagai gantinya, saya diminta untuk membeli empat butir telur ayam Cemani seharga 240.000 rupiah dan harus ditanam di rumah.

Uang sejumlah itu tidaklah sedikit, sementara saya sendiri belum bekerja. Konsekuensinya saya harus berbohong kepada orangtua dan meminta tambahan uang. “Untuk beli pusa,” jawab saya, ketika ditanya ibu.

Meski telur ayam Cemani sudah saya tanam di rumah tanpa sepengetahuan orangtua, tapi hasilnya masih tidak kelihatan. Lama kelamaan, permintaan Pak Rodi makin meningkat. Kini ia menyuruh saya mandi dengan minyak wangi yang harus dibeli dari pak Rodi sendiri senilai 600.000 rupiah. Saran yang terkesan aneh itu saya turuti. Karena saya sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepada dan sesak nafas yang selama ini mendera.

Lepas dari Pak Rodi, saya kembali terjerat kepada ulah orang-orang yang hanya mau untung sendiri. Ibu Diah yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib menerawang saya. “Mbak Sri memiliki tanda yang merugikan. Tanda itu harus dibuang melalui jengger ayam yang berbentuk kecil,” ujar Ibu Diah.

Keesokan harinya, saya membeli ayam jago yang berjengger kecil. Ayam itu kemudian dipotong dan saya disuruh menghabiskannya. Memang selama saya rajin bermain ke rumah Ibu Diah, sakit kepala saya cenderung berkurang. Tapi lama kelamaan saya dimanfaatkan Ibu Diah, saya diminta untuk membayar beberapa barang yang dia beli. Ia sama saja dengan Pak Rodi yang hanya memanfaatkan sakit saya.

Jin Chaty Menjauh dari Stand Majalah Ghoib

Atas saran kakak, saya konsultasi ke perwakilan Majalah Ghoib yang saat itu mengikuti pameran di Islamic Book Fair dengan ditemani Mbak Tias, teman dekat saya dan tentu saja jin Cathy yang masih terus mengikuti saya. Sebenarnya jin Cathy mencoba menghalangi saya konsultasi di stand Majalah Ghoib. Ia menarik-narik rambut saya. Tapi saya bersikukuh untuk konsultasi. Akhirnya jin Cathy menunggu saya dan Mbak Tias di perempatan yang berjarak dua puluhan meter dari stand Majalah Ghoib. Jin Cathy tidak berani masuk bersama saya.

Setelah konsultasi bebarapa saat Ustadz Ilham yang saat itu bertugas di stand Majalah Ghoib memijat jari saya. Pijatan yang membuat saya menangis sebelum pingsan. Heboh, kata Mbak Tias, saya menjadi tontonan orang-orang yang saat itu berada tidak jauh dari stand Majalah Ghoib. Saya menjadi contoh langsung bagaimana sebenarnya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.

Senin berikutnya, saat hendak berangkat untuk terapi di kantor Majalah Ghoib, saya mengantuk luar biasa. Akhirnya mama menarik selimut dan guling saya. Tanpa ampun saya terbangun. Dalam keadaan setengah mengantuk, Cathy kembali mempengaruhi saya, “Tidur saja, masih capek kan? Kemarin baru dari pameran, masak sekarang pergi lagi,” bujuk Cathy. Saya bersyukur bila bujukan yang menghanyutkan itu tidak saya turuti. Karena dari sinilah berawal kesembuhan saya secara bertahap.

Saat terapi yang pertama, tidak terjadi dialog. Saya hanya merasa sakit ketika ustadz memijat jari kaki saya. Saya meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepulang dari terapi ruqyah pertama, saya mulai tidak bisa melihat Cathy, sehingga ketika di berbicara saya hanya mendegar suaranya. “Cathy, lu ada dimana?” Tanya saya. “Saya ada disamping lu.” “Tapi saya tidak bisa lihat. Yang terlihat bantal dan guling saja,” kata saya.

“Kok nggak kelihatan? Tuh matanya kealingan. Kemarin matanya ditutup yah?” ujar Cathy sambil mengusapkan tangan ke mata saya. Tak lama kemudian, saya kembali bisa melihat Cathy.

Ketika saya merintih kesakitan karena pijatan ustadz yang masih terasa, jin Cathy langsun meledek, “Tuh, pada sakit kan?” “Emang begini yang namanya diurut, lu ikut biar tahu,” jawab saya balik.

Jin Cathy memang tidak mau ikut terapi ruqyah, ida memilih untuk tinggal di rumah. Waktu itu, saya masih belum tahu bahwa sesungguhnya jin kafir takut mendengar lantunan al-Qur’an.

Sebelum berangkat terapi yang kedua seminggu kemudian, jin Cathy kembali menghalangi saya. “Udah, jangan berangkat. Sekarang ada film bagus. Mendingan di rumah saja,” bujuk Cathy. Bujukan Cathy itu hampir saja meluluhkan niat saya untuk ruqyah, tapi berkat dorongan Mbak Tias akhirnya saya bisa mengalahkan rayuan Cathy.

Saat terapi kedua, seperti biasa saya meronta layaknya orang yang kepanasan. Beberapa saat kemudian, terjadi dialog, “Siapa kamu?” Tanya ustadz. “Saya bukan orang sini. Saya dari Jerman,” aku jin melalui mulut saya. Tidak seperti biasanya. Kali ini dari mulut saya terdengar jawaban.

Setiba dirumah, saya tidak lagi bisa melihat Cathy, saya mencoba mencarinya , namun hanya suaranya yang terdengar. Cathy mencoba mengusap mata saya kembali, tapi semuanya gagal. “Ya sudah kalau lu tidak percaya sama gue, gue mau pergi,” ancam Cathy kemudian. “Ya udah, pergi saja! Sudah ada Mbak Tias yang nganterin saya.” Akhirnya suar Cathy hanya sesekali terdengar.

Suara Chaty benar-benar hilang setelah mengikuti terapi ruqyah yang ketiga. Masih menyisakan sakit kepala yang sudah tidak lagi separah dulu. Saya tidak lagi mudah pingsan ketika menghadapi masalah baru. Bagi saya ini ada perubahan yang sangat bagus.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 45/3

Satu Bulan Lamanya Saya Dihantui Kematian

Kematian adalah suatu kepastian. Seperti hukum matematika. Tak seorangpun dapat lepas dari suratan ini. Burung elang yang bebas berkelana menjelajah jagad raya suatu saat juga akan jatuh dan terkapar di atas tanah. Tak ubahnya seperti manusia. Bila demikian, haruskah seseorang takut kepada kematian sedemikian rupa hingga di luar batas kewajaran? Seperti kisah Silfi, seorang karyawan swasta asal Bangka Belitung. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

Sekian tahun merantau, saya dapat menghirup udara Jakarta dengan nyaman, seperti layaknya gadis-gadis yang lain. Atribut jilbab yang menutupi kepala semakin menenangkan jiwa. Setidaknya saya bisa menghindari tatapan jalang lelaki hidung belang, yang dengan seenaknya memelototi wanita yang tidak menutup aurat.

Kegamangan yang sempat menghantui, dulu sebelum berangkat ke Jakarta, sirna bersamaan dengan berjalannya waktu. Hingga muncullah suatu perasaan aneh yang menyebar dalam jiwa. Perasaan takut pada kematian, itulah awal derita yang sempat menghimpit dada sebulan lamanya.

Februari yang Menegangkan.

Berawal dari dirawatnya salah seorang kerabat tante di rumah sakit yang biasa saya panggil dengan nenek. Keadaannya sudah semakin kritis. Sehingga tante kembali berniat membesuk nenek. Sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah sempat menjenguk nenek, tapi karena keadaannya yang saat itu boleh dibilang sudah sangat kritis, saya berniat kembali menengoknya.

Bertiga dengan tante dan anaknya, Zulfa, kami berjalan menelusuri lorong-lorong rumah sakit. Sesekali berpapasan dengan perawat yang tergopoh-gopoh mendorong pasien yang sudah kritis. Hingga ketika sampai di ruangan nenek, saya tidak diizinkan masuk. Ltu memang peraturan rumah sakit bahwa selain keluarga pasien tidak sembarang orang dibolehkan masuk.

Tidak masalah, pikir saya. Dengan santai saya berjalan ke ruang tunggu, sementara Tante dan Zulfa bergegas masuk ke dalam ruangan. Senyap, saya tenggelam dalam lamunan. Hingga beberapa saat kemudian, terlihat tante berjalan tergopoh-gopoh dari ruangan nenek. Raut mukanya sendu, menyiratkan sesuatu telah terjadi di sana.

Benar saja, “Nenek telah meninggal,” ujar tante lirih. “Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” gumam saya kemudian. Nenek yang baik hati itu telah pergi mendahului kami, Meski berbeda agama, tapi saya merasa kehilangan.

Setelah menyampaikan berita itu, tante kembali masuk ke dalam ruangan nenek. “Masih banyak yang harus dikerjakan di sana,” katanya. Sementara saya, masih duduk terpaku dalam keheningan.

Satu menit, sepuluh menit berlalu, saya masih tetap dalam kesendirian. Hingga perasaan aneh menyeruak ke dalam jiwa. Perlahan namun pasti, perasaan aneh itu semakin kuat. Saya pun mulai kehilangan nalar sehingga yang terjadi kemudian di luar perkiraan saya.

“Di sini, saya mati. Di rumah sakit ini saya akan mati,” seru suara dalam relung jiwa saya. Perasaan takut pada kematian segera menghantui saya. Saya merasa kepergian nenek tidak berselang lama akan disusul oleh yang lain. Dan ia adalah saya.

Saya gelisah. Ketakutan yang tidak berdasar itu semakin menguasai saya. Hanya dalam hitungan menit, nafas saya mulai sesak. Saya semakin kalut tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Butiran-butiran keringat dingin mulai bercucuran.

Dalam ketidaktenangan itu terlintas dalam benak saya bahwa saya harus dirawat. Saya harus diberi pernafasan pembantu untuk mengurangi sesak di dada yang semakin parah. Saya mendekati seorang satpam yang tidak jauh dari tempat duduk saya.”Pak, di mana ruang UGD? Sepertinya saya sesak nafas. Saya butuh oksigen,” tanya saya dengan nada tersekat.

“Kenapa bu? Asma ya?” tanya satpam itu sebelum menjawab pertanyaan saya. “Tidak tahu, pokoknya saya sesak nafas”. “Di mana ruangan UGDnya” tanya saya kembali. Satpam itu pun menunjukkan  lorong mana yang harus saya lewati sebelum akhirnya sampai diruangan UGD.

Bergegas, saya mengikuti petunjuk satpam itu. Namun, setibanya di depan ruangan UGD, saya mengurungkan diri untuk masuk ke dalam. Ada perasaan malu yang tersirat. Beli balsem saja, pikir saya kemudian.

Saya menuruti kata hati. Kembali melangkah dengan gontai ke halaman. Celingukan ke kiri dan kanan, dimana kiranya dijual balsem gosok. Setelah membeli balsem, saya mencoba menenangkan diri dengan duduk di pelataran rumah sakit. Tapi itu masih tidak bisa menolong. Bisikan, “Mati, mati,” masih terus terngiang di telinga. Hangatnya balsem tidak lagi bermanfaat. Saya semakin kalut, hingga saya putuskan untuk kembali ke ruang UGD. Saya tidak mungkin sembuh kalau tidak diobati seseorang atau tidak dekat dengan seseorang. Akhirnya saya masuk ke ruang UGD.

Selang oksigen pun segera tersalurkan melalui hidung saya. Lima, sepuluh menit saya mencoba bertahan. Menunggu reaksi positif dari oksigen itu. tapi yang terjadi kemudian sangat di luar perkiraan. Bantuan pernafasan itu tidak bisa berbuat apa-apa. Sesak nafas dan bisikan kematian masih terus berdengung. “Sudah waktunya kamu mati sekarang. Kamu mati sekarang. Di sini kamu mati,”

Saat-saat yang menegangkan. Seandainya saya bisa melewati masa yang kritis ini, saya merasa itu adalah kemenangan yang hebat. Sejenak, saya merenung dan terbetiklah keinginan untuk berbicara terbuka kepada dokter jaga atas semua yang menimpa saya.

“Dok, sebenarnya saya ke sini membesuk nenek, tapi sekarang beliau sudah meninggal. Sementara tante saya masih menunggu di kamar nenek.” Saya berbicara apa adanya kepada dokter. “Saya merasa tidak mungkin sembuh, bila saya tidak dipertemukan dengan mereka,” jelas saya lebih lanjut. Setelah melihat tidak ada perkembangan yang berarti dari bantuan pernafasan itu, akhirnya saya diantar seorang perawat menemui tante yang masih berada di kamar nenek.

Plong rasanya melihat tante. Saya segera berhambur dan mendekapnya. “Silfi kenapa?” tanya tante heran melihat sikap saya yang tidak seperti biasanya. “Silfi takut mati, tante,” hanya kalimat itu yang sempat terucap. Saya pun menangis bercucuran air mata.

“Silfi, Umur kan di tangan Allah, kalau kita sudah tahu mau mati, ya enak duluan. Jadi sama sekali tidak ada yang tahu kapan ia mati,” ujar tante menenangkan saya. “Berdzikirlah! Jangan terbawa emosi!” tante berusaha menenangkan saya.

Perlahan, saya mulai bisa menguasai diri. Saya mencoba merenung sejenak. Benar memang apa yang dikatakan tante. Mungkin waktu itu hati saya sedang gersang sehingga mudah tergoda syetan, karena sudah beberapa lama saya tidak menghadiri majlis ta’lim. Ini teguran dari Allah atas kelalaian ini.

Saat-saat berikutnya saya bergegas ke mushalla untuk menenangkan diri. Sementara tante dan Zulfa mengiring jenazah nenek yang akar disemayamkan di rumah duka. Saya merasa tidak sanggup mengiringi jenazah, karena bagi saya kematian itu sesuatu yang menyakitkan. Saya sendiri tidak tahu, bagaimana perasaan ini muncul, apakah karena saya sering menonton film-film horor? Entahlah saya jadi pusing bila memikirkannya. Lebih baik, menenangkan diri dengan membaca al-Qur’an, pikir saya setelah sekian lama termenung di mushalla rumah sakit.

Malam-Malam yang Mengerikan

Peristiwa kelabu di rumah sakit itu tidak hilang begitu saja. Hari-hari berikutnya saya hidup dalam ketakutan. Saya merasakan hidup saya tidak lagi normal. Suasana malam yang hening menjadi momok tersendiri bagi saya. Nyaris tiap malam saya tidak berani tidur sendirian.

Meski sudah tidur bersama tante, tapi bayang-bayang kematian masih menghantui. Perasaan ini memang sulit dijelaskan. Dalam kesendirian itu seolah-olah ada yang menakut-nakuti saya, padahal saya tidak melihat apa-apa. Cuma perasaan saya yang memang ketakutan luar biasa.

Dalam balutan ketakutan, saya mendekap bantal sambil duduk meringkuk di bawah kaki tante yang sudah tertidur lelap. Saya tidak berani membangunkan tante. Kasihan, ia sudah seharian bekerja dan sekarang adalah saatnya istirahat untuk menyambut hari esok.

Saya ingin memejamkan mata, tapi tetap saia mata ini enggan terpejam. Hanya harapan yang terpatri bahwa saya bisa melewati malam ini dengan baik dan melihat matahari esok hari. Saya terus berdzikir supaya bisa melewati malam itu. Tanpa terasa keringat dingin pun bercucuran. Saya tidak sanggup lagi membendung air mata.

Detik demi detik berjalan lambat dalam keheningan. Sunyi. Senyap, binatang malam enggan bersuara. Hanya desahan nafas tante yang terdengar teratur. Dalam keadaan seperti itu, saya teringat kembali dengan sosok ibu yang jauh di pulau seberang. Karena selama ini ibu adalah orang yang paling mengerti diri saya. lbu yang pandai menghibur saya dalam keadaan kritis semacam ini. Tapi apa boleh dikata, ibu memang tidak berada di samping saya.

Jam satu atau bahkan jam dua dinihari, saya baru bisa memejamkan mata setelah melewati drama yang panjang. lronisnya, bila tiba-tiba saya terbangun kembali sebelum sembuh, maka bayang-bayang kematian kembali muncul menggantikan mimpi yang baru beberapa saat.

Malam-malam yang terlalu berat bagi saya, karena ketakutan pada kematian itu sangat menyiksa. Pikiran negatif akan kematian terus menumpuk dalam benak. Seakan pikiran ini tertanam kuat dengan akar-akarnya yang menghujam ke dalam jiwa.

Sakit batuk yang bagi orang lain tergolong penyakit ringan dan tidak berbahaya, buat saya itu sudah sangat menyiksa. Saya menganggap sakit batuk merupakan pintu gerbang menuju kematian, sementara masih belum ada amal yang bisa di banggakan untuk menyambut datangnya kematian. Maka yang terjadi kemudian batuk-batuk kecil itu berubah menjadi sesak nafas.

Semakin lama semakin berat, sehingga saya merasa seperti ada orang yang mencekik leher saya. Saya merasakan ajal saya sudah semakin dekat. Saya berusaha melepaskan diri dari cekikan itu tapi tetap sia-sia. Tangisan yang saya anggap menjadi senjata pamungkas pun tidak bisa dikeluarkan. Saya benar-benar tidak bisa menangis, hingga jalan terakhir saya harus membangunkan tante yang tidur pulas.

Tante bangun dengan mata yang sayu. Matanya semakin sayu, saat melihat wajah saya yang pucat pasi dalam ketidakberdayaan. Dengan berlinang air mata, saya mengadu kepada tante. Apa yang sebenarnya terjadi sehingga saya harus mengalami penderitaan ini. Seperci biasa tante kemudian menenangkan saya.

Siang hari, saya merasa lebih tenang. Bisikan-bisikan kematian tidak terlalu sering terbetik. Mungkin karena pikiran saya teralihkan oleh aktifitas harian yang menyita waktu dan perhatian. Hanya sesekali ketakutan itu muncul begitu saja tanpa didahului oleh tanda apa-apa. Tiba-tiba saja saya merasa takut mati dan sesak nafas yang hebat. Bila sudah demikian biasanya saya segera mengambil balsem atau menenangkan diri dengan minum air putih.

Suatu hari, bisikan kematian itu muncul ketika saya sedang shalat. “Wah, setelah shalat ini  saya akan mati.” Saya bingung, mengapa bisikan itu kemudian munculdi dalam shalat. Detik-detik berikutnya, kembali terjadi dialog dalam batin. “Mati nih, tapi bagus kamu mati dengan husnul khatimah’. “Mati, mati, matiii …” Akhirnya shalat saya terganggu. Saya tidak bisa konsentrasi karena dialog kematian terus teriadi hingga shalat selesai.

Kebetulan waktu itu ibu sedang ke Jakarta, sehingga saya ceritakan apa yang saya alami selama ini kepadanya. “lbu, kalau nafas itu bagaimana? Kok nafas saya sering sesak sih?” lbu terperangah mendengar keluhan itu sehingga jalan pintas segera diambil.

“Ya sudah, kita bawa ke dokter saja,” jawab ibu serius. Sejurus kemudian, saya ke dokter dengan ditemani ibu. Namun, diagnosa dokter semakin membingungkan. Karena hasil tes jantung dan paru-paru semuanya normal. Tidak ada masalah yang perlu dirisaukan.

Melihat perkembangan itu, saya pun memutuskan untuk konsultasi dengan ustadz ngaji saya melalui telepon. “lni merupakan ujian buat Silfi. Semakin tinggi keimanan seseorang semakin hebat ujiannya,” nasehat ustadz melalui telepon itu semakin menguatkan diri saya agar tidak menyerah dan hanya berpangku tangan.

Karena itu saya memberanikan diri untuk melayat tetangga yang meninggal. Meski sejujurnya saya akui bahwa hati saya belum siap. Saya masih memaksakan memaksakan diri, karena saya berpikir bahwa ini merupakan salah satu bagian dari pengobatan juga.

Dengan berat, saya melangkahkan kaki ke sana dan melihat wajah orang yang meninggal sebelum dikafani. Sebenarnya saya tidak tahan melihat wajahnya tapi saya tetap bersikeras. Akibatnya sungguh di luar dugaan. Bayangan wajah yang memutih itu tertanam kuat di benak saya. Sekian cara yang saya tempuh untuk menghapus bayangan itu masih sia-sia. “Wah, giliran berikutnya adalah saya. Saya bakalan mati dalam waktu dekat. Saya bakalan mati dalam waktu dekat,” detik-detik berikutnya nafas saya kembali sesak.

Momok malam yang mengerikan itu tidak terbatas pada kesulitan tidur dan dicekam ketakutan. Karena pada saat tertidur pun sesekali mimpi menyeramkan datang menghampiri. Sering saya bermimpi didatangi orang-orang yang sudah meninggal.

Seperti yang teriadi pada suatu malam. Dalam keremangan lampu, saya melihat ibu dikejar-kejar hantu. Sosok manusia dengan wajah biasa, tapi saya tahu bahwa orang itu sudah mati. Hantu itu menakut-nakuti dengan berjalan biasa. Saya terbangun dengan nafas tersengal-sengal.

Sebenarnya, jauh sebelum saya menderita takut mati seperti sekarang, saya telah sering mengalami rep-repan (tindihan). Waktu itu, saya masih belum menyadari bahwa rep-repan itu merupakan indikasi seseorang terkena gangguan jin. Sehingga saya menanggapinya dengan biasa saja. Tidak panik atau cemas.

Saat tidur lelap itu tiba-tiba seperti ada kekuatan besar yang menindih badan saya. Dada saya dihimpit berton-ton barang. Saya berusaha berontak, tapi kekuatan itu tetap tidak bergeser. lngin rasanya tangan ini meraih pintu, tapi tangan saya sulit digerakkan. Semakin keras berusaha, semakin kuat kekuatan itu menindih saya. sementara mulut yang seharusnya mampu berteriak dan meminta tolong, seakan terkunci.

Dada saya semakin sesak, dan seperti biasa reaksi yang kemudian saya temukan setelah sekian lama dalam himpitan kekuatan besar itu adalah nafas yang tersengal-sengal. lronisnya, rep-repan ini tidak hanya menyerang saat sedang tertidur. Dalam kondisi terbangun dan dalam kesadaran penuh, saya pernah mengalami hal serupa. Usaha keras saya untuk meraih pintu juga sia-sia.

Saya Sadar Kematian itu Harus Dipersiapkan

Kejadian-kejadian inilah yang kemudian mengantarkan saya untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. Terapi ini saya ketahui secara tidak sengaja, ketika saya bercerita kepada seorang teman, ia justru menyarankan saya mengikuti terapi ruqyah, karena gangguan yang saya alami selama ini terkesan memang tidak wajar. Pengobatan secara medis yang telah saya tempuh juga menemui jalan buntu.

Sementara kondisi kejiwaan saya sudah lelah, bila tidak ada perubahan dalam waktu dekat, saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan. Saya khawatir bila akhirnya semakin parah dan menjadi gila. Saya tidak sanggup lagi dihantui ketakutan setiap malam. Berbekal alamat yang saya peroleh dari seorang teman, saya mencari kantor Majalah Ghoib. Namun, sayang ketika tiba di sana, saya harus menunggu giliran terapi tiga minggu lamanya. Tiga minggu bukan waktu yang pendek, segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Saya merasa beruntung dalam masa penantian itu teman-teman ngaji banyak memberi semangat dan dorongan kepada saya agar bertahan dan tidak menyerah. Membaca al-Qur’an semakin saya  tingkatkan intensitasnya. Dan hasilnya pun terasa, berangsurangsur keadaan saya semakin membaik.

Tanggal 13 Maret, saya berangkat ke kantor Majalah Ghoib untuk menglkuti terapi seperti yang telah dijadwalkan. Saya bersyukur bahwa saat mengikuti terapi saya tidak bereaksi keras seperti  pasien-pasien lain.

Hanya rasa deg-degan yang mengaliri badan saya saat mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur’an. Sewaktu tiba giliran saya untuk diterapi satu persatu pun sayatidak bereaksi apa-apa. Saya hanya diam dan tidak kepanasan atau menjerit-jerit seperti beberapa pasien yang lain. Saat itu saya terus berdoa dalam hati, semoga saya bisa hidup normal menghadapi masa depan.

Saya memang hanya sekali mengikuti terapi di kantor Majalah Ghoib, karena saya merasa gangguan yang saya derita sekarang sudah jauh berkurang. Rep-repan yang dulu bisa datang dua minggu sekali itu, sekarang sudah tidak ada. Pada sisi lain, saya lebih mengedepankan terapi ruqyah mandiri dengan banyak membaca al-Qur’an, al-Ma’tsurat serta melaksanakan shalat dan perintah-perintah agama lainnya.

Saya sadar bahwa kematian bukan sesuatu yang harus ditakutkan, karena semua orang akan mati. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin menjemput kematian yang datangnya tidak terduga. Saya hanya berharap pada akhirnya bisa mengakhiri hidup ini dengan husnul khatimah.

Secara lebih jauh saya mencoba introspeksi ke dalam diri saya sendiri, mengapa takut akan kematian itu bisa menjadi momok yang menakutkan. Kesimpulan dari kesemuanya itu mungkin berpangkal pada kepribadian saya yang suka menyendiri.

Saya suka melakukan apa saja sendiri, karena saya tidak ingin merepotkan orang lain. Mungkin karena perasaan merasa kuat, sehingga sepertinya tidak membutuhkan orang lain.

Akibatnya saya hidup dalam kesendirian saya, peristiwa ini seolah-olah menyadarkan saya bahwa manusia itu membutuhkan orang lain. Sangat butuh dan jangan merasa sombong dengan kebisaan dan kemampuan diri sendiri. Kita butuh orang lain.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 43/3

Tubuhku Berbau Busuk Setelah Keluar dari ‘Pengajian’

Empat belas abad Islam tegak di muka bumi. Sebuah rentang waktu yang panjang sehingga melahirkan pemahaman dan penafsiran baru terhadap ajaran agama. Seringkali pemahaman dan penafsiran baru tersebut tidak sejalan dengan apa yang digariskan Rasulullah SAW. karena itu, berhati-hatilah dalam menentukan pilihan di mana dan kepada siapa harus memperdalam ilmu agama agar tidak menyesal di kemudian hari. Seperti yang dialami Nurmala (nama samara), bukan ketenangan yang ia dapatkan, tapi justru penderitaan yang tiada terperikan. Tubuhnya mengeluarkan bau busuk laksana sampah. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

Sebagai seorang ibu muda yang telah mengalami pahit getirnya pernikahan, saya membutuhkan pijakan dan pegangan yang kuat agar bisa tetap bertahan. Karena itu sudah sewajarnya bila saya mencari pijakan dengan semakin mendekatkan diri kepada ajaran agama. Bak gayung bersambut, niatan yang mulia itu cepat mendapat respon dari Rohadi (bukan nama sebenarnya), seorang teman dekat yang pada akhirnya menunjukkan dan mengajak saya mengikuti pengajian di kelompoknya.

Rohadi menceritakan panjang lebar tentang kehebatan gurunya yang katanya bisa melihat apa yang terjadi di alam kubur. Apakah si mayat sedang mendapat siksa kubur atau sebaliknya memperoleh kenikmatan yang tiada terkira. Bahkan, masih menurut cerita Rohadi, orang yang tadinya meninggal dalam keadaan masih memeluk Kristen pun bisa diislamkan.

Saya yang masih awam akan aiaran agama ini, tentu dengan mudah terpengaruh dengan kisah demi kisah yang diceritakan Rohadi yang pada intinya semakin memperkuat ketokohan sang guru. Hingga tanpa pikir panjang, saya segera mengiyakan ketika Rohadi mengajak bergabung bersamanya.

Hari pertama datang ke tempat pengajian, saya langsung diberi segelas air putih yang harus diminum dengan disertai wiridan-wiridan tertentu. Dalam hati saya berpikir bahwa semua orang yang baru datang mengalami perjamuan serupa, sehingga saya pun meminumnya begitu saja. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan saya masih menjadi seorang santri yang aktif mengikuti pengaiian di kantor cabang. Hingga pada suatu hari, seorang guru pembimbing menawarkan untuk menanam susuk di dagu saya.

Awalnya saya menolak karena saya merasa tidak membutuhkan susuk itu. Tapi ketika guru pembimbing bersikeras untuk memasangnya, saya pun luluh juga. “Nggak apa-apa. ltu buat penjagaan biar tidak ada yang mengirim kamu yang bukan-bukan. Susuk itu sendiri akan keluar empat puluh hari sebelum kamu meninggal. Sehingga tidak akan menyulitkan kematianmu,” ujarnya panjang lebar.

Hati saya semakin terbuka, setelah saya berpikir bahwa guru pembimbing lebih paham agama daripada saya. Setelah berwudhu, saya segera dipersilahkan masuk ke dalam ruangan seluas 2×3 meter. Saya disuruh terus melantunkan syahadat dan shalawat, kemudian pada detik-detik berikutnya guru pembimbing memasukkan susuk yang terbuat dari logam ke dagu saya dengan menggunakan alat pemotong kuku.

Benda kecil itu pun masuk begitu saja ke dalam kulit saya tanpa menimbulkan rasa sakit. Semuanya biasa saja, seperti tidak ada benda apapun yang dimasukkan ke dagu saya. Waktu itu saya dipesan untuk tidak bercerita kepada siapa pun bahwa saya dipasangi susuk. Saya tidak tahu, mengapa ia melarangnya. Saya sendiri tidak begitu mempedulikannya, karena saya tidak meminta dan semua itu demi kebaikan saya, katanya.

Setelah memakai susuk ada sedikit perubahan yang saya rasakan. Bila dulu ada beberapa teman kantor yang suka melecehkan saya, kini semua itu seakan bagian dari masa lalu. “Kalau sudah tidak betah tinggal di sini, kamu keluar juga tidak masalah,” ungkapan bernada sinis semacam ini tidak lagi saya dengar. Bahkan sebaliknya, teman-teman kantor semakin menaruh hormat kepada saya. Tidak ada yang jahil atau iseng.

Teman kantor pun merasakan perubahan yang ada sehingga mereka sempat bertanya, “Nur, kamu itu dukunnya di mana sih, kok diapa-apain tidak mempan?” ledek teman-teman suatu siang.

Saya hanya menanggapi semuanya dengan senyuman karena selama ini saya merasa tidak pernah pergi ke dukun. Meski waktu itu terbetik dalam pikiran saya bahwa selama ini ada orang-orang yang tidak senang dengan saya. Hal itu diperkuat dengan hilangnya uang kantor yang bilangannya menembus angka jutaan.

Keterikatan saya dengan tempat pengaiian terputus karena Ratih, istri guru pembimbing, cemburu. La menganggap keberadaan saya akan merusak kebahagiaan rumah tangganya. Hal ini tidak terlepas dari mimpi yang dialaminya bahwa akan muncul seorang wanita bertubuh kecil dengan rambut sebahu yang akan meruntuhkan biduk rumah tangganya. Tuduhan itu pun mengarah kepada saya.

Ratih semakin menemukan alibinya ketika suatu hari saya membawakan oleh-oleh dari luar kota untuk guru pembimbing. Di depan mata saya, Ratih membuang oleh-oleh itu. Saya kecewa dan tidak terima diperlakukan seperti itu karena selama ini saya menganggap bahwa hubungan yang ada di antara kami sebatas hubungan seorang guru dan murid. Tidak lebih dari itu.

Karena kecewa, berbagai mustika seperti keris kecil dan batu berbentuk agak persegi, tidak bulat dan tidak persegi empat yang berwarna oranye yang saya dapatkan sewaktu mengikuti ritual berendam di Pantai Anyer pun saya bagi-bagikan kepada beberapa teman yang masih aktif di pengajian. Saya ingin mengakhiri semuanya tanpa menyisakan kenangan apapun.

Selang beberapa minggu setelah keluar dari kelompok pengajian saya mengalami peristiwa ganjil yang terjadi berulang-ulang. Seperti yang terjadi pada suatu hari ketika sedang tiduran sambil menonton TV di rumah tante. Tiba-tiba saja, seperti ada binatang ngengat yang masuk ke telinga saya. Sayap dan cakarannya jelas terasa di gendang telinga. Cakaran yang sangat menyakitkan, hingga saya pun tidak kuasa menahan teriakan. Saya tutup telinga dan saya pukul-pukul kepala saya, tapi rasa sakit itu tidak juga hilang.

Dokter yang memeriksa pun angkat tangan dan tidak menemukan satu binatang pun yang masuk ke telinga saya. Tapi rasa sakit itu terus merambat dan menggerogoti telinga hingga membentuk terowongan ke tenggorakan di bawah rahang. Kemudian berhenti di sana.

Saya tidak tahu, apakah ada hubungan antara kemunculan binatang misterius itu dengan keinginan saya untuk konsultasi kepada mantan guru pembimbing atas masalah yang saya hadapi di kantor atau tidak. Jika saya datang konsultasi pasti bertemu lagi dengan istrinya yang sudah sangat marah kepada saya. Namun akhirnya, saya mengurungkan niat untuk konsultasi dengan guru pembimbing.

Kehadiran binatang misterius ini terus berlanjut. Seperti semut atau ngengat yang masuk ke hidung atau sekadar berkutat di sekitar telinga. Yang menjadi tanda tanya adalah mengapa hal ini seringkali terulang. lni bukan suatu kebetulan semata, tapi memangada orang yang berniat tidak baik kepada saya. Saya tidak berani menunjuk seseorang sebagai kambing hitam karena saya tidak punya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai barang bukti.

Keanehan demi keanehan seakan tidak pernah berhenti. Bahkan semakin lama semakin meningkat. Bila sebelumnya hanya mengganggu secara fisik, kini gangguan itu mulai menggerogoti ibadah saya. Seperti yang terjadi pada bulan puasa tahun 2004. Ketika saya akan melaksanakan shalat tarawih, tiba-tiba saja kaki saya tidak bisa digerakkan. Seperti ada dua tangan besar yang memegang kedua kaki saya sehingga tidak bisa berjalan. la seperti orang yang tiduran sarnbil memegang kaki saya dengan dua tangannya. Saya terus memaksakan diri melepaskan diri dari cengkeramannya dengan sekuat tenaga dan disertai dengan dzikir.

Bau Busuk Sampah Menyebar dari Tubuh Saya

Di penghujung malam tahun 2004 yang sekaligus menandai pergantian tahun baru 2005, saya mengikuti kegiatan I’tikaf di Masjid At-Tin, Jakarta Timur. Saya ingin mengawali tahun 2005 dengan sesuatu yang positif. Saya ingin menjadikan malam itu sebagai tonggak baru dalam kehidupan saya. Tapi justru malam itulah awal penderitaan yang tiada terperikan. Sebuah derita yang pernah dialami Nabi Ayyub.

Saat mendengarkan ceramah di lantai atas, orang-orang di sekeliling saya bertingkah aneh. Mereka mengendus bau busuk yang makin lama makin tajam, seperti bau sampah yang lama menumpuk. Satu dua orang di sekeliling saya mulai mengambil tissue dan menjadikannya sebagai penutup hidung.

Tatapan mereka menyiratkan tandatanya kepada saya, hingga saya pun memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Hati saya gelisah dan tidak tenang, terlebih bila saya selalu bolak-balik berwudhu karena selalu batal. Di saat itulah saya iseng bertanya kepada seorang penjual makanan di halaman masjid.

“Pak, di sini ada timbunan sampah?”

“Nggak ada, Non.” Jawab penjual makanan.

“Bapak mencium bau sampah nggak?”

“Nggak, Non.” Jawabnya dengan muka keheranan.

Dari sini saya berpikir bahwa bau itu berasal dari diri saya, terlebih mengingat berbagai kejanggalan yang pernah terjadi. Saya semakin pusing, gangguan itu seakan terus membuntuti saya. Berjalan mengelilingi Masjid At-Tin masih tetap tidak bisa menghilangkan kegalauan jiwa, hingga akhirnya saya putuskan untuk mengikuti I’tikaf di lorong bawah Masjid At-Tin.

Untuk menjawab sekian pertanyaan itu, saya berobat ke dokter, tapi hasilnya tetap negatif. Saya tidak menderita penyakit apa-apa yang dapat mengeluarkan bau busuk. Tapi kejadian serupa sesekali terulang ketika saya berada di tempat umum, seperti di kendaraan. umum atau pun di lift, hingga orang-orang yang berada di sekitar saya pun kesal dan membanting jendela mobil dengan keras. Mereka memang tidak mengucapkan sepatah kata pun yang memojokkan saya, tapi dari tatapan mata dan gerak-gerik mereka, saya sadar bahwa saya menjadi tertuduh atas merebaknya bau sampah yang tidak wajar itu.

Sedih dan minder tidak dapat saya tutupi, tapi mau berbuat apa? Menyangkal juga tidak ada gunanya. Bahkan ketika naik kereta pun bau busuk itu seakan menyertai saya, sehingga kereta yang penuh sesak itu membiarkan satu deretan bangku yang saya duduki tetap kosong. Mereka memilih berdesak-desakkan di bangku lain atau berdiri sambil bergelayutan. Bila sudah ada isyarat semacam itu, saya sadar bahwa bau sampah itu kembali hadir.

Setelah sekian lama tidak muncul, ketika shalat bau busuk itu kembali hadir bersamaan dengan datangnya sosok tinggi besar. Dari jauh makhluk itu semakin mendekat. Was-was, takut, gemetar bercampur aduk menjadi satu. Tapi saya tidak mau mengalah. Saya berusaha melawan, tapi kekuatan makhluk itu lebih besar dari saya dan terjadilah apa yang harus terjadi. Makhluk itu masuk ke dalam diri saya dan mengalirkan bau busuk. Saya sampai tidak bisa membedakan apakah bau itu di dalam diri saya atau di sekitar saya. Secara reflek saya segera menutup hidung rapat-rapat. Namun ketika hal ini saya ceritakan kepada ibu, ia tidak percaya karena selama ini ia memang belum pernah mencium bau tersebut.

Saya menangis. Orangtua yang selama ini meniadi sandaran kekuatan saya tidak percaya dengan semua yang saya ceritakan. Semuanya dianggap seperti angin lalu. Saya berdoa kepada Allah agar menunjukkan kepada orangtua atas apa yang terjadi.

Doa saya dikabulkan Allah. Buktinya ibu mencium sendiri bau tersebut, awalnya ketika saya mau melaksanakan shalat Dhuha, ibu masuk ke dalam kamar saya. “Baunya Nuur, kayak bau di cubluk (sepiteng) baunya apek campur pahit,” kata ibu. lbu yang belum lama mencium bau busuk itu pun pusing.

Jam empat sore bau itu muncul kembali. lbu sampai meminjam bayfresh. “Pinjam dong bayfresh,” kata ibu. Setelah semua ruangan selesai disemprot, dari kamar saya tercium bau harum yang sangat menyengat. Seperti minyak wangi yang sengaia ditumpahkan ke tanah, padahal selama ini saya tidak pernah menggunakan minyak wangi.

Memang, yang mengatakan secara terbuka mencium bau busuk hanyalah ibu semata, sementara saudara-saudara saya tidak ada yang secara terang-terangan mengakuinya. Mereka hanya memasang kipas angin. Tapi dari sini, saya menyadari bahwa mereka juga menciumnya, hanya saia mereka tidak mau menyinggung perasaan saya.

Dalam kondisi demikian, mereka menganjurkan saya untuk berobat ke orang Pintar. Saya menurut begitu saja, karena saya sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi. Oleh orang pintar itu pun saya disuruh minum air daun kelor dan dimandikan dengan air daun kelor serta disuruh banyak berdzikir. Saya juga diajari bagaimana merasakan datangnya makhluk halus serta mengeluarkannya sendiri melalui pendeteksian dengan tangan.

Bisak-Bisik Tetangga Yang Merisaukan

Tetangga kanan kiri akhirnya pada ribut, “lni bau apa sih?” teriak mereka kepada satu sama lain. Awalnya mereka tidak menyadari bahwa bau busuk itu berasal dari sekitar diri saya, tapi lama kelamaan semuanya itu tentu tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Akhirnya mereka mengetahui darimana sumber bau busuk itu. Ketika melihat saya menyapu di halaman rumah, mereka segera mengambil langkah aman dengan menutup kembali pintu dan jendela yang terbuka. Yang lebih menyakitkan lagi, mereka segera menyemprot kan bayfresh di dalam rumah begitu bau busuk itu mulai mereka cium.

Sebagai orang yang merasa tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa atas apa yang terjadi, saya sangat terpukul dengan perlakuan mereka. Meski saya juga tidak bisa menyalahkan mereka.

Keesokan harinya saya kembali menyapu di halaman dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan buruk. Benar saja, saya merasakan diri saya diserang oleh jin dari berbagai penjuru dan saya pun kembali masuk ke dalam. Saya tidak bisa mengobati diri saya lagi, karena ilmu yang pernah saya pelajari dari orang Pintar itu seakan hilang begitu saja. Rasanya hambar lagi. Tangan saya tidak bisa digunakan untuk mendeteksi serangan jin.

Perjalanan inilah yang kemudian menimbulkan tanda Tanya dalam dirisaya, kalau saya bisa merasakan jin, apakah di dalam diri saya iuga tidak ada jinnya? Sebuah pertanyaan yang baru terjawab setelah ada seorang teman yang member saya kaset ruqyah yang katanya bisa mendeteksi apakah seseorang terkena gangguan jin atau tidak.

Sedangkan kalau saya diam saja, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal saya memiliki anak yang harus dibiayai. Akhirnya saya memutar kaset ruqyah di malam hari. Badan saya gemetar, kepala seakan dibentur-benturkan. Namun, tanpa saya duga sebelumnya, tetangga yang sayup-sayup mendengar kaset ruqyah dari dalam rumah saya menjadi ribut. Mereka marah-marah karena saya dianggap menimbulkan kebisingan. Aneh, saya mengaji di rumah pun dibilang sedang menyanyi. Mereka seakan terusik dengan kaset ruqyah dan suara mengaji saya.

Sejak memutar kaset ruqyah di bulan Maret itu saya berani keluar rumah dan bertemu matahari. Saya bersyukur, kekhawatiran dan ketakutan saya selama ini berangsur-angsur hilang.

Hanya saja, bau korek api terbakar atau bau busuk itu masih saja tercium dari tubuh saya setiap pagi. Satu hal yang membuat saya takut untuk bangun dan shalat shubuh di awal waktu. Selain itu, suara binatang buas yang mencakar-cakar dinding kamar saya sesekali juga terdengar. Sementara keluarga yang lain tidak ada yang mendengarnya. Aneh memang, ketika saya berteriak keras pun seakan tidak ada yang mendengar. Saya melempar pintu atau membuat kegaduhan di kamar pun tidak ada yang tahu. Saya sedih sekali karena dianggap berbohong ketika hal ini saya ceritakan kepada keluarga.

Awal bulan April, saya mengikuti terapi ruqyah di rumah Ustadz Febri sebagai bentuk lanjutan dari terapi dengan kaset. Di sana, saya memberontak dan meronta-ronta. Ustadz yang menerapi saya pun tidak luput dari amukan saya. Saya menendang dan memukul sebisanya sebelum akhirnya badan saya lemas. Setelah itu mulailah terjadi dialog dengan jin yang merasuk ke dalam diri saya.

Cukup banyak jin waktu itu yang katanya keluar, meski ada beberapa yang masih membandel dan tidak mau keluar. Jin-jin itu mengatakan bahwa mereka memang dikirim untuk menyakiti saya oleh orang-orang yang tidak senang dengan keberadaan saya dan keberanian saya keluar dari Pengajian. Memang, semua itu hanyalah pengakuan jin yang tidak begitu saja bisa dipercayai, tapi setidaknya dari sini saya bisa melakukan introspeksi dan kembali memperbaiki diri.

Sepulang dari ruqyah yang pertama, saya merasakan badan terasa lebih ringan. Beban yang selama ini menghimpit terasa jauh berkurang, meski saya sadar bahwa proses penyembuhan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu ketika keluar dari pagar rumah Ustadz Febri dan terdengar bisikan di telinga saya berupa suara tertawa yang melecehkan saya, saya pun biasa saja. “Ha ha ha, cuma begitu saja.”

Sesampainya di rumah saya berusaha untuk shalat, tapi entahlah seakan ada sesuatu yang masih menghalangi saya. Saya pun berdoa di dalam hati, “Ya Allah tolonglah saya mau beribadah. Masih banyak dosa yang harus diampuni.”

Keesokan harinya, satu dua hari masih tercium bau-bau yang tidak enak. Tapi beberapa hari kemudian, bau itu berangsur-angsur semakin berkurang. Setelah ruqyah itu saya punya keberanian keluar rumah, walau belum berani sendiri. Tapi setidaknya saya sudah tidak seperti dulu lagi dengan mengurung diri di dalam rumah.

Pada ruqyah yang kedua, jin tidak mau mendengar ayat-ayat ruqyah. Air ruqyah yang dicampur garam pun berubah rasanya. Air itu terasa seperti ingus yang menjijikkan. Bahkan air itu berubah laksana air panas ketika saya mencuci tangan dan kaki di baskom dan beberapa detik kemudian terjadilah keanehan. Ketika Ustadz Febri memijat daerah leher karena tenggorokan saya masih terasa sakit, keluarlah sosok makhluk besar seperti seekor Kingkong dengan rambutnya yang panjang. Apakah itu sosok makhluk yang selama ini mengalirkan bau busuk dari dalam diri saya? Saya tidak tahu.

Sekarang bau busuk itu sesekali masih tercium tapi setidaknya dengan ruqyah ini banyak kemajuan yang telah saya alami. Saya sadar bahwa untuk menuntaskan gangguan bau busuk itu masih membutuhkan waktu yang entah sampai kapan. Tapi saya berbahagia karena kini telah menemukan pengobatan yang lslami yang tidak menyimpang dari lalur agama. Bagi saya itu adalah keberuntungan tersendiri.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Agar kita berhati-hati dalam mempelaiari di mana dan kepada siapa kita menimba ilmu. Dan niatan untuk meraih surga pun tidak berganti bencana. Alih-alih mendapat surga, neraka dunia justru meniadi imbalannya.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 39/2

Sakit Kulit Setelah 7 Tahun Menjalin Cinta

Pacaran, di zaman sekarang dianggap sesuatu yang lumrah dan wajar saja. Seorang anak yang tumbuh remaja dan belum mempunyai pacar dianggap sebagai anak yang kurang bergaul dan tidak laku. Padahal keburukan yang tersembunyi di balik racun asmara tersebut lebih mengerikan daripada manisnya. Disamping balasan atas pelanggaran norma agama, kesengsaraan dan penderitaan akibat pacaran juga tidak terhitung banyaknya. Seperti yang dialami Meilawati, seorang perawat yang mengalami gangguan alergi kulit akibat putus pacaran di tengah jalan. Orang yang selama ini diharapkan menjadi pendamping hidupnya justru telah mengirimnya guna-guna. Meilawati menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Cibubur. Berikut kisahnya.

Saya tumbuh dewasa menjadi seorang gadis tomboy. Dengan gaya yang berbeda dengan anak gadis lainnya. Sedikit berangasan dan ceplas-ceplos. Lantaran penampilan saya yang demikian itu, saya menjadi sandaran bagi teman-teman saya yang lemah. Bila ada di antara mereka yang diganggu oleh anak laki-laki, mereka mengadu kepada saya. Saya tidak terima melihat teman saya diperlakukan semena-mena. Saya pun tidak tinggal diam. Saya labrak anak laki-laki yang kurang ajar itu. Tidaklah mengherankan bila tidak ada anak laki-laki pun yang berani mendekati saya.

Hingga suatu hari, saat saya masih duduk di bangku SMP kelas dua, Ana, teman akrab saya menantang saya. “Ti, ada cowok cakep di kelas tiga. Namanya Alex. Kamu bisa nggak dapatin dia?” Saya penasaran, seperti apa sih orang yang dipanggil Alex itu. “Mana sih anaknya?” “Tuh lagi main bola,” seloroh Ana.

“Lumayan juga tuh cowok,” gumam saya. Merasa mendapat tantangan dari Ana, rasa iseng saya muncul. “Jangan panggil Wati, kalau tidak bisa dapatkan dia.” “Ayo kita buktikan,” timpal Ana sambil cengar-cengir. Melalui Ana, saya mencoba memancing perhatian Alex dengan cara memberinya salam.

Beberapa hari berikutnya saya mendapat kabar dari Ana bila salam saya sudah disampaikan, “i, salam kamu sudah saya sampaikan.” “Terus dia ngomong apa?” tanya saya penasaran. “Alaaa Wati, kayak cowok saja kok. Gue tidak suka sama dia,” tutur Ana menirukan jawaban Alex. Saya tidak terima karena ini adalah penghinaan. Akhirnya saya mencari Alex dan mendampratnya habis-habisan. “Loe jangan menghina gue ya. Jangan sok ganteng. Yang lebih dari loe tuh, gue bisa dapet.”

Jadilah pertemuan pertama itu meniadi ajang pertengkaran, hingga akhirnya berujung kepada suatu pertanyaan menggantung yang keluar begitu saja dari bibir saya. “Jadi kamu maunya apal” “Ya, aku mau sama kamu. Kamunya gimana?” tanya Alex.

Karena saya sudah taruhan dan tidak mau dilecehkan, akhirnya saya menyambut uluran tangan Alex. Kisah cinta gaya anak SMP Yang selama ini hanya menjadi tontonan saja bagi saya, sudah mulai saya rasakan. Satu hal yang terus berlanjut hingga saya lulus SMP sementara Alex tidak melanjutkan sekolah ke SMA.

Setamat SMP saya melanjutkan sekolah di Bandar Lampung. Jauh dari rumah orangtua dengan Alex yang tinggal di Lampung Selatan. Hari-hari saya jalani seperti biasa. Bertemu dengan teman-teman baru dan kegiatan yang sedikit berbeda ketika di SMP. Surat dari Alex, sesekali mampir ke tempat kos-kosan. Menghangatkan kembali kenangan masa lalu.

Benih cinta yang belum layu semakin mekar saat Alex menyempatkan diri untuk sesekali berkunjung ke Bandar Lampung. Kisah cinta yang tidak selalu berjalan mulus. Rasa cemburu sering menghantui diri Alex. la merasa bahwa ada beberapa teman SMA Yang juga tertarik kepada saya, sementara ia sendiri tidak setiap saat mengetahui apa yang saya lakukan. Sehingga perubahan potongan rambut saja, Alex sudah blingsatan. la takut bila saya berpaling kepada lelaki lain.

Pertengkaran pun tidak bisa dihindari. “Terserah, kalau masih tidak percaya,” ujar saya emosional. Pertengkaran yang berujung pada ketidakmunculan Alex di Bandar Lampung hingga setahun. la sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Surat yang biasanya sebulan sekali datang luga tidak pernah lagi mampir.

Hingga suatu hari ada seorang teman yang menyampaikan kabar bahwa ada surat untuk saya di kantor. Ketika saya mau mengambilnya, ternyata surat itu sudah tidak ada. la bahkan sudah ada dalam genggaman Andi, kakak kelas yang selama ini menunjukkan rasa simpatinya kepada sapa. Saya langsung merebutnya dari belakang. Dari sini akhirnya Andi mengakui bahwa ia sudah lima kali mengambil surat saya.

Tanpa terasa waktu tiga tahun telah berlalu. Masa-masa SMA telah berakhir, dan berganti dengan dunia baru. Di sini, saya masih ingin meraih cita-cita yang lebih tinggi. Saya tidak ingin sekadar menjadi ibu rumah tangga tanpa membawa bekal yang cukup berarti untuk masa depan saya dan keluarga.

Saya diterima di Akper Padang angkatan 99. Satu hal yang harus disyukuri, karena sebelumnya gagal ketika mendaftar di Yogya. Waktu yang tidak terlalu lama di Yogya telah merubah perilaku saya. Dari anak tomboy bercelana jeans dan berkaos ketat berganti dengan kaos lengan panjang dan berjilbab. Perubahan drastis yang sempat menjadi gunjingan teman-teman SMA. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap tegar melangkah dengan perubahan yang terjadi.

Kuliah di Padang dan jilbab yang menghiasi kepala masih belum bisa menghentikan kisah cinta saya dengan Alex. Surat maupun obrolan singkat via telpon menjadi alternatif lain. Meski sebenarnya sebelum berangkat ke Padang, ibu telah berpesan agar saya tidak berpacaran. “Kamu mau kuliah atau mau pacaran. Kalau mau pacaran tidak boleh kuliah.”

Karena itu, saya tidak pernah mengajak Alex berkenalan dengan orangtua saya. Selama ini semuanya masih menjadi rahasia kami berdua, hingga pertemuan pun harus dilakukan di luar sepengetahuan keluarga. Kesempatan pulang ke Lampung yang hanya setahun sekali, praktis saya habiskan bersama keluarga. Tidak ada kesempatan untuk bertemu Alex. Di samping memang saya belum ingin hubungan ini diketahui orangtua.

Untuk itu, pada tahun kedua Alex mengalah. la yang datang ke Padang, meski pertemuan itu pun tidak terlalu lama. Di sela-sela jadwal kuliah saya. Terakhir, setelah saya selesai kuliah, Alex menjemput saya. Dia ingin membantu saya mengangkut barang-barang saya. Waktu itu, Alex menginap di rumah sepupuh saya.

Awalnya saudara sepupu saya bertanya siapa dia. Saya ceritakan saja apa adanya, bahwa Alex hanya lulus SMP dan masih belum kerja. Dia hanya membantu orangtuanya berkebun di Lampung. “Pikir-pikirlah dulu, sebelum terlanjur,” hanya itulah komentar saudara sepupu saya.

Awal Perubahan

Juni 2003, saya merantau ke Jakarta dan ikut menumpang di rumah paman di Tangerang. Untunglah saya tidak harus menganggur terlalu lama. Surat lamaran yang saya kirim ke berbagai instansi mendapat jawaban dari sebuah klinik di Tangerang. Dari sini, saya mulai bersentuhan dengan dunia kerja dan teman-teman yang berkarakter macam-macam.

Perbedaan pulau bukan halangan bagi hubungan saya dengan Alex. Alex di Lampung dan saya di Tangerang, tapi hubungan kami masih lancer-lancar saja. Surat serta telpon yang menjadi penyambung kesetiaan kami.

Sejujurnya, saya sendiri merasa aneh dengan perasaan cinta yang seakan berlebihan. Siang malam wajah Alex selalu terbayang, terlebih bila sedang tidak ada kerja. Kerinduan yang mencapai ubun-ubun hingga terkadang saya menangis. Tangisan yang berganti dengan canda ria begitu telpon berdering atau ada surat yang datang.

Bahkan perintah Alex yang menyuruh saya keluar dari klinik pun saya turuti begitu saja. Hanya karena ada seorang karyawan yang tertarik kepada saya. Sebut saja namanya Lesmana. Tapi entahlah  bagaimana Alex bisa tahu bila ada yang suka sama saya. Padahal saya tidak bercerita apa-apa tentang Lesmana dan saya pun tidak jatuh cinta kepadanya. Dulu, sewaktu masih di Padang Alex memang sempat mengancam biln saya berpaling darinya, “Siapapun tidak akan bisa menikahi kamu. Mudah bagiku untuk membunuhmu. Dari jauh juga bisa. Misalnya kamu di Jakarta atau di Padang. Ah, gampang bunuh orang. Darimana saja juga bisa Foto kamu kan ada padaku. Adil kan. Aku nggak dapat. lbu kamu nggak dapat. Suami kamu juga nggak dapat. Kamu mati masuk neraka.”

Lepas dari klinik di Tangerang, saya diterima bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta di Jakara Timur. Dan hubungan kami kembali lancer seperti biasa. Hingga pada suatu hari di bulan Januari abang saya datang ke Jakarta- Abang menginap di rumah paman. Mungkin abang merasa saya sudah dewasa, sehingga ia bertanya kepada paman siapa sebenarnya pacar saya. Dan tanpa ditutup-tutupi paman bercerita siapa sebenarnya pacar saya.

Mendengar kabar bahwa saya sudah menjalin cinta dengan Alex bertahun-tahun, abang naik pitam. la merasa telah dibohongi oleh adik yang telah di besarkannya dengan keringat. Saya dianggap telah mencoreng arang diwajah, terlebih bila yang menjadi pacar saya adalah Alex, orang yang dalam pandangan abang kurang baik dan tidak layak menjadi suami saya.

Abang langsung menelpon Alex dan memintanya untuk menjauhi saya. Hal ini saya ketahui setelah Alex menelpon saya. “Ti, abangmu di Jakarta ya?. Dia nelpon saya agar menjauhimu.” Saya panik. Rahasia yang selama ini terbungkus rapi, akhirnya terbongkar juga.

Terus terang, saya takut bertemu abang. Tapi jam 9 malam, abang menelpon dan mengatakan bahwa ia langsung balik ke Lampung. “Ti, abang mau ke Lampung.” Melalui telepon, abang kembali mengingatkan saya untuk segera mengakhiri pacaran dengan Alex.

Bimbang, ragu, gundah bercampur aduk menjadi satu. Cukup lama saya terdiam kaku memilih langkah yang harus diambil. Terus terang, ini bukan keputusan mudah. Saya seperti memakan buah simalakama. Tapi salah satu harus dikalahkan. Setelah menimbang cukup lama akhirnya saya memutuskan untuk menuruti saran Abang. Dengan kata lain, saya harus segera mengakhiri petualangan cinta bersama Alex.

Saya menelpon temannya Alex dan menitip pesan agar Alex segera ke Jakarta. Setelah hilang rasa penat, barulah saya menceritakan semua yang terjadi. Saya mengajaknya mengakhiri pacaran. “Saya tidak bisa menentang Abang saya. Semenjak ibu meninggal, Abang yang membiayai kuliah saya. Dan saya juga berencana untuk kuliah lagi.”

Alex nampak tidak terima dan tidak mau putus di jalan. Saya sadar memang tidak mudah melupakan orang yang kita kenal selama ini. Untuk itu saya berusaha memutus hubungan dengan Alex secara perlahan. Keinginan Alex untuk datang pada hari ulang tahun saya di bulan April 2004, juga saya biarkan. Terlebih memang pada saat itu juga ada teman-teman yang datang. Kebetulan pada saat yang sama Yanto, teman kerja yang tertarik dengan saya juga hadir. Alex semakin cemburu. la benar-benar merasa kisah cintanya segera berakhir. Dan akhirnya pulang dengan membawa kepedihan.

Derita sakit kulit membawa saya berhubungan dengan paranormal

Bulan Mei 2004, tidak seperti biasanya saya merasakan ada keanehan pada kulit di sekujur tubuh saya. Bentol-bentol berwarna merah menghiasi kulit kuning langsat yang selama ini saya banggakan. Gatal. Dan semakin gatal bila digaruk. Awalnya saya kira ini adalah sakit biasa. Teman-teman juga menganggap saya alergi ikan laut.

Beberapa hari kemudian, perut saya sakit. Rasanya mual. Semakin lama semakin parah. Awalnya sehari ke kamar kecil cuma sekali, esoknya sehari tiga kali. Hari berikutnya empat kali. Rasa sakit di perut kian hari tambah parah.

Hari-hari berikutnya setiap hari saya harus disuntik oleh teman sesama perawat. Benjolan merah di sekujur badan sempat mengempis dan hilang. Dua jam kemudian benjolan merah yang gatal itu datang lagi. Begitu seterusnya sampai mulut saya jontor karenanya. Dokter yang sempat merawat saya hanya mengatakan bahwa saya alergi dingin. Dan untuk mengetahui penyakit yang sebenarnya dokter merekomendasikan saya untuk check up di RSCM. Setelah check up di RSCM hasilnya juga tidak banyak berubah. Gatal-gatal di kulit tetap saia tidak mau hilang. Bahkan lebih parah hingga saya sampai berteriak-teriak.

Melihat berbagai kejanggalan itu, salah seorang teman menyarankan saya untuk berobat ke Chandra (nama samaran) seorang paranormal di Ciledug, Tangerang. Malam Jum’at di bulan Juli, saya nekat ke  Ciledug dengan diantar seorang teman. Sebenarnya saya hanya ingin ahu, apakah penyakit saya ini medis atau tidak. Tapi semua itu justru menjadi awal keterikatan saya dengan paranormal. Dengan memegang telapak tangan saya, Chandra menerawang. “Benar Ti, kamu sudah lama kena guna-guna.” “Sudah lama kamu dijerat ajian putar giling,” lanjut Chandra. Saya langsung down dibilang begitu, meski tidak percaya sepenuhnya.

Untuk itu saya harus dimandikan dengan kembang. Memang, setelah mandi kembang. badan saya menjadi lemas. Bayangan tentang Alex mendadak hilang. Padahal biasanya saya selalu memikirkan tentang dia, sedetik pun hati saya seakan tidak bisa terlepas dari bayangannya.

Tiga hari kemudian saya kambuh lagi. Akhirnya saya datang lagi ke Ciledug. Begitu seterusnya setelah sembuh beberapa hari, lalu kambuh lagi. Lantaran tidak punya pilihan lain, saya menceritakan semuanya kepada paman yang tinggal di Tangerang. Dari cerita itu mereka membawa saya ke seorang  paranormal perempuan di Tangerang. Sebut saja namanya Widuri.

Entah apa yang dibaca oleh Bu Widuri sehingga tiba-tiba saja suaranya berubah seperti suara nenek-nenek. “Oh… ini memang tidak benar.” Sejurus kemudian ia menaruh daun sirih di lengan saya. Dan … terjadilah apa yang harus teriadi. Dari balik daun sirih keluar tujuh buah silet yang sudah karatan. Saya merasakan memang ada sesuatu yang mengalir di lengan saya. Pedih rasanya. Bibi yang menemani saya, hanya bisa menangis. la tidak tega melihat keponakannya diperlakukan sedemikian rupa Kemudian saya di bawah ke dalam kamar. Menurut Bu Widuri untuk menangkal guna-guna itu di dalam kulit saya harus ditanam emas.

Saya bilang saya tidak punya emas selain yang menempel di badan. Akhirnya saya korbankan dua buah anting-anting saya untuk ditanam. Meski saya ragu apakah memang anting-anting itu benar-benar dimasukkan ke dalam kulit saya. Pasalnya waktu itu tidak boleh ada yang melihat. Saya hanya berdua dengan Bu Widuri di dalam kamar. Selain itu saya masih harus menyerahkan uang 250 ribu untuk beli kambing yang katanya dipakai untuk penjagaan rumah saya. Saya tidak peduli apakah uang itu untuk beli kambing atau tidak.

Terus terang saya seperti kerbau dicocok hidungnya. Apapun permintaan Bu Widuri selalu saya turuti. Bila memang membawa kesembuhan pada, diri saya. Bila memang gatal-gatal di kulit akhirnya hilang dan tidak kumat lagi. Tapi hasilnya jauh di luar harapan. Sakit kulit tetap mendera bahkan semakin parah.

Sakit kulit yang menurut beberapa orang akibat guna-guna itu masih belum bisa memalingkan saya dari bayangan Alex. Ketakutan akan kehilangan dia membuat saya semakin tertekan luar dalam. Padahal kalau dipikir-pikir apa sih yang dibanggakan dari dirinya? Dia hanya lulusan SMP dan belum kerja. Sehari-hari dia hanya membantu orangtuanya mengurus kebon.

Seperti yang terjadi pada bulan Agustus, saya nekat menemui Alex yang jauh-jauh datang dari Lampung ke Jakarta. Meski saya menangkap kesan dia tidak lagi seperti dulu. Dingin dan kurang perhatian. “Mas, aku alergi Mas. Bengkak semua. Kulit bentol-bentol semua. Merah. Mulutku juga jontor. Terus gimana Mas?” saya mencoba meminta jalan keluar. “ltu salah cowok kamu.” Seperti disambar halilintar, saya mendengarnya. Belum hilang keheranan saya, saya kembali dibuatnya ternganga. “Diguna-guna kali kamu sama cowok kamu,” ujarnya acuh tak acuh. “Kamu sadar nggak sih ngomong kayak gitu. Cowok saya itu kan kamu?” “Ya cowok kamu yang lain,” sergahnya. Pertemuan yang berbuntut pada pertengkaran sehingga saya memilih untuk pulang duluan.

Pertengkaran kembali berlanjut keesokan harinya, ketika dia mengajak bertemu lagi. Juga karena keluhan yang saya sampaikan. “Mas aku pusing.” “Minum saja inex, biar mati sekalian.” Saya heran dengan perubahan yang terjadi. Alex benar-benar telah berubah. la tidak lagi seperti dulu.

Saat itu, saya kembali menegaskan bahwa hubungan antara kita tidak bisa berlanjut. Saya tidak mau menjadi anak yang durhaka dengan melawan orangtua. Terlebih bila Alex memang tidak bertanggung-jawab. Dia hanya mau menang sendiri walau harus menyakiti orang lain.

Keputusan besar sudah dibuat dan tidak ada lagi alasan untuk surut ke belakang, meski sebenarnya hati kecil saya masih belum rela. Tapi semuanya harus diputuskan. Walau kulit terus gatal setiap hari.

Hingga pada suatu hari dokter Farid memberi saya kaset rugyah. Saat saya memutarnya di rumah, saya muntah-muntah. Karena itulah maka saya mendaftarkan diri untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib hingga tiga kali. Saat terapi yang pertama saya sampai muntah darah. Saya juga sempat teriak-teriak. Setelah ruqyah yang pertama saya merasakan kepala menjadi ringan.

Sepulang dari ruqyah saya berusaha untuk selalu mengaji dan membaca surat al-Baqarah. Beberapa minggu kemudian saya mengikuti terapi ruqyah yang kedua. Dan Alhamdulillah, setelah mengikuti terapi yang kedua, saya tidak lagi teringat bayangan Alex. Sakit kulit yang telah berbulan-bulan itu pun hilang dengan sendirinya seiring dengan ketekunan saya untuk shalat malam dan membaca al-Qur’an, selalu membaca basmalah sebelum makan serta membaca al-Ma’tsurat.

Selain itu, perasaan saya menjadi tenang ketika berada di rumah. Padahal dulu, baru membuka pintu sala saya sudah merinding. Teman-teman yang sering main ke rumah iuga merasakan hal yang sama. Bahkan antara sadar dan tidak ada seorang teman yang merasa seperti dicekik saat tidur di ruang tamu. “Uni, Uni bangun Uni,” saya membangunkannya. Sebelumnya memang terdengar suara berdebum di atas genteng. Seperti ada benda yang jatuh, tapi entahlah. Kita tidak berani mencarinya.

Saya bersyukur setelah mengikuti terapi ruqyah, gangguan yang saya alami selama ini telah hilang. Bayang-bayang Alex iuga tidak lagi menghantui saya. Meski saya akui bahwa ada saat-saat tertentu kenangan lama itu muncul kembali.

Namun satu hal yang saya syukuri bahwa saya bisa keluar dari masalah yang menyesakkan ini dengan lapang dada. Saya kembali menemukan keceriaan dan ketenangan setelah sekian lama hidup di bawah bayang-bayang dan ketakutan akan kehilangan seseorang. Padahal dia bukanlah siapa-siapa. Dia hanya masa lalu yang mengisi lembaran kelabu masa remaja saya. Semoga Allah mempertemukan saya dengan seorang laki-laki yang bertanggung iawab. Dan tentunya dengan proses yang sesuai dengan ajaran lslam. Saya ingin jilbab yang melekat di badan menjadi jembatan kebersihan hati dari debu-debu dosa.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Divonis Mati karena Kanker Otak

‘Musibah membawa hidayah’ ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perjalanan hidup Zulaihah. Penderita kanker otak yang diperkirakan dokter hanya bertahan empat tahun. Baying-bayang ketakutan menjemput ajal, menggiringnya menemukan ketenangan batin. Suatu kenikmatan yang diperoleh setelah melewati jalan berliku. Kini, setelah perkiraan dokter tinggal dalam hitungan hari, Zulaihah sembuh dari derita kanker otak. Setelah mengikuti terapi ruqyah yang islami. Dengan ditemani Ali, suaminya, ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Berikut petikannya.

Pada mulanya saya beranggapan bahwa sakit kepala yang saya alami sejak tahun, 1998 adalah sakit kepala biasa. Seperti layaknya orang kebanyakan sakit kepala yang bisa disembuhkan dengan mudah setelah minum obat yang banyak dijual di toko. Tapi kenyataannya, sakit kepala saya tidak kunjung sembuh. Meski sudah berbagai obat saya coba.

Awalnya sama sekali saya tidak mengaitkan sakit kepala yang sering terjadi menjelang Maghrib atau Shubuh itu akibat gangguan jin. Semuanya masih saya anggap wajar-wajar saja. Meski, dalam waktu yang sama, saya sering mengalami kesurupan. Seperti yang terjadi pada suatu pagi ketika saya menemani anak saya, Riyana yang berumur 2 tahun bermain di gang yang tidak jauh dari rumah. Kejadiannya berlangsung cepat. Saya meraung-raung seperti macan. Tangan saya mencakar-cakar, mulut saya pun berbusa. Saya benar-benar mengamuk.

Lima orang laki-laki yang menenangkan saya, saya lemparkan hingga terpental. Saya terus meraung-raung. Satu persatu orang pintar berusaha mengeluarkan iin yang merasuki saya. Tapi semuanya sia-sia. Saya terus meronta-ronta sejak jam tujuh pagi hingga malam hari.

Waktu itu ada orang pintar yang mengatakan bahwa yang bisa menyadarkan saya hanya orang yang menguasai ilmu macan Siliwangi. Mendengar penuturan itu, Mas Ali, suami saya, teringat dengan Rani, seorang wanita yang juga memiliki ilmu macan Siliwangi. Aneh. Hanya dengan sebutir telur ayam karnpung, Rani bisa menyadarkan saya. Ia melemparkan sebutir telur ayam kampung dan langsung saya telan mentah-mentah. Benar-benar aneh. Saya langsung sadarkan diri begitu menelan telur pemberian Rani.

Setelah peristiwa itu, sakit kepala saya sembuh. Dan saya pun diterima keria di Pabrik. Selang enam bulan bekerja, sakit kepala saya kembali kambuh. Sampai saya pingsan di mana saja. Entah di kamar mandi atau di ialan. Kalau dibilang karena lapar, tidak iuga. Sebelum berangkat kerja saya sudah sarapan. Dokter hanya mengatakan tekanan darah saya rendah.

Tiga bulan setelah sering sakit kepala, saya hamil lagi. Dan pada saat yang sama Mas Ali, bergabung dengan Perguruan beladiri Lentera (nama samaran). la ingin mengalahkan iin yang sesekali merasuk ke dalam diri saya. Tapi lama kelamaan dia bisa mengobati orang. Memang, Mas Ali sedikit banyak sudah membantu orang, tapi justru pada kondisi seperti ini, kehidupan rumah tangga kami tetap tidak mengalami banyak perubahan. Percekcokan dan perselisihan masih sering terjadi. Walau hanya karena masalah yang sangat kecil.

Pada tahun 2000, lahirlah anak saya yang kedua. Seorang bayi laki-laki mungil yang saya beri nama Sulaiman. Kelahiran anak yang kedua disambut dengan sakit kepala yang semakin menjadi-jadi. Sakit kepala belum reda, bila tidak memarahi suami. Memang kalau Mas Ali sudah melewati pintu, saya marah-rnarah, tanpa sebab. Muncul perasaan ingin melemparnya dengan apa saja. Padahal kalau, Mas Ali tidak di rumah, ada perasaan kangen menunggu kepulangannya.

Vonis Dokter yang Menggelisahkan

Bulan Desember 2000, saya berobat ke rumah sakit Koja. Saya berobat jalan sampai tiga kali, tapi tetap tidak ada perubahan. Bahkan sakit di kepala makin menggila, hingga saya pingsan. Akhirnya saya periksa darah dan dirontgen. Dari hasil check up itulah dokter mengbtakan bahwa suami saya harus datang ke rumah sakit.

Hati saya berdebar, jantung saya terpacu lebih kencang. Ada apa sebenarnya dengan hasil check up, sehingga harus memanggil suami. Padahal kedatangan saya ke rumah sakit ini pun tanpa sepengetahuannya. Akhirnya saya mengaku terus terang kepada dokter bahwa saya tidak ingin Mas Ali mengetahui penyakit saya. Seberat apapun itu.

“Apakah ibu kuat menerima kenyataannya?” tanya dokter. “Ya sepahit apa pun. Sedari kecil, saya sudah siap menderita,” jawab saya menghilangkan keraguan dokter. “lbu mengidap kanker otak,” jawab dokter setelah terdiam agak lama. Lalu ia menyodorkan hasil foto rontgennya.

Saya berusaha bersikap tenang di hadapan dokter. “Kalau penyakit begini diobatinya bagaimana dok?” Tanya saya ingin tahu lebih banyak tentang kanker otak. “Kalau kankernya belum menyebar, bisa dioperasi Bu. Tapi penyakit kanker akan berkembang biak. Dalam jangka empat tahun itu mungkin akan lebih parah. Menggerogoti otak bagian belakang sampai bagian atas. Kalau sesudah empat tahun itu jarang yang kuat,” kata dokter panjang lebar.

“Jadi dokter memvonis usia saya tinggal empat tahun lagi?” tanya saya, “Ya kurang lebih seperti itu. Tapi saya tidak mastikan lho Bu. Lebih baik ibu mengikuti terapi. Selain itu ibu harus berobat rutin.” Saya cemas. Sepulang dari rumah sakit, saya menangis seharian. Mas Ali yang keheranan melihat saya menangis terus bertanya, “Kenapa sih? Ada apa? Ribut sama siapa?” ia mencecar saya dengan pertanyaan.

“Nggak ada apa-apa,” jawab saya. Saya masih tidak ingin membuka rahasia ini. Saya terombang-ambing dalam kebimbangan. Apakah harus berterus terang atau tidak. Semalam suntuk saya berfikir. Sampai akhirnya malam itu saya shalat. Saya memohon keputusan yang terbaik kepada Allah. “Beban Mas Ali sudah berat. Dengan gaji tujuh ribu rupiah sehari, jelas bukan hal yang ringan untuk pendengarkan penyakit saya. Saya takut, semakin membebani pikirannya. Bila ia kuat, mungkin tidak masalah. Tapi bila tidak kuat, maka keadaannya akan semakin gawat. Dia harus mencari uang. Anak saya butuh makan. Nanti kalau sampai dia sakit bagaimana?”

Pikiran-pikiran semacam itu terus berkecamuk dalam benak saya. akhirnya saya sampai pada keputusan untuk merahasiakannya. Yang bisa saya lakukan hanyalah menyisi h kan beberapa lembar uang ribuan untuk membeli obat. Terus terang uang belanja 30 – 40 ribu seminggu untuk empat orang, itu tidak terlalu banyak.

Dalam seminggu saya hanya mampu membeli dua tablet seharga 4.500 per butir. Rahasia penyakit ini masih terjaga. Saya hanya mengatakan sakit kepala biasa, meski rasa pening dan panas di kepala memaksa saya bergulingan di tanah, karena saking sakitnya.

Tahun 2002, saya pindah kontrakan ke tempat yang agak jauh dari orangtua. Dari sini mulai muncul perubahan dalam diri saya. Ada semangat baru dalam menghadapi kehidupan ini. Saya mulai berpikir bagaimana caranya bisa membantu suami. Saya mencoba berjualan nasi uduk tiap pagi dan sore. Meski tidak ada yang membantu. Semuanya saya kerjakan sendiri, di tengah kerepotan mengasuh dua anak yangmasih kecil-kecil. Sampai tetangga keheranan, “Kok bisa bu. Jualan begini tiap hari.” Berat memang, tapi saya tidak boleh mengeluh.

Saya menemukan kebahagiaan baru. Ketentraman jiwa karena dapat membantu suami dan membeli obat setiap hari. Bila dulu, saya hanya minum obat seminggu dua kali, kinisaya bisa mengkonsumsinya tiap hari.

Hingga pada suatu hari, ketika Mas Ali sedang menemani saya berjualan, ia bertemu dengan teman lamanya. Dari obrolan singkat itu akhinya Mas Ali tertarik untuk belajar di perguruan Sanggar Bestari (nama samaran). Hampir setiap hari Minggu saya dan anak-anakdiajak Mas Ali melihatnyi berlatih di pantai Jakarta Utara Mereka berendam di air laut untuk menarik tenaga inti air.

Setelah sekian lama melihat latihan mereka, saya tertarik untuk menjadi anggota apalagi persyaratannya tidak berat. Beragama lslam, percaya kepada Allah dan Rasul-Nya serta harus mendapat izin dari suami. Setahun lamanya saya bergabung. Semenjak itu, bila mendengar suara kendang ditabuh, maka tanpa sadar badan saya bergoyang-goyang saya berjoged dan lama-lama mengamuk. Katanya saya sempat menirukan gerakan-gerakan macan. Dan hanya berhenti bila saya sudah minun telur ayam kampung.

Dari pen jelasan ketua perguruan Sanggar Bestari, saya baru tahu bahwa selama ini ada ilmu macan Siliwangi yang merasuk ke dalam diri saya. Itu adalah ilmu warisan dari kakek. sakit kepala saya juga masih sring kambuh. Akhirnya saya sampaikan keluhan itu kepada salah seorang guru. “Kenapa kamu tidak memanfaatkan tenaga dalam yang kamu punya?” jawabnya.

Waktu itu, saya masih merahasiakan penyakit saya dari Mas Ali. Baru pada awal tahun 2003, saya tidak bisa menutupinya lagi. Ketika kami harus pindah kontrakan lagi. Semua barang harus dirapikan dan dibawa ke tempat baru. Resep yang saya sembunyikan di amplop hijau, hilang. Saya takut bila resep itu telah dibuang.

Salah saya memang, mengapa dari dulu saya tidak menghafal nama obat sakit kepala itu sehingga tidak kalang kabut bila kehilangan resepnya. Siang itu, saya hanya bisa menangis. Memegangi kepala yang kian sakit. Waktu saya menangis seperti itu, Mas Ali pulang dari kerja, “Ada apa?” “Lihat amplop coklat nggak?” Saya balik bertanya. “Kan, sudah diacak-acak tikus sama kecoak. Saya buang ke tong sampah,” jawabnya.

Waktu itu saya mengontrak di lantai dua. Saya turun. Saya aduk-aduk tong sampah tapi resep itu tidak ketemu. Saya khawatir bila sewaktu-waktu sakit kepala saya kambuh. Di mana obat simpanan saya sudah habis. Sengaja resep itu saya sembunyikan. Agar tidak ketahuan.

Benar. Malam harinya saya kambuh. Semalam suntuk sakitnya tidak kunjung henti. saya menangis. Dan bergulingan di tanah. Dalam keadaan demikian, Mas Ali ndedes (mencecar), “Kamu punya sakit apa sih. Kok sepertinya sudah parah.”

Biasanya kalau sudah sakit seperti itu, sedikit membaik bila diminumkan obat. Tapi sekarang, obatnya sudah habis. Mau beli, tidak tahu, karena resepnya sudah hilang. Akhirnya saya beeterus terang bahwa saya nengidap kanker otak sejak tahun 2000. Saya divonis dokter hanya bisa bertahan empat tahun.

Kasih Sayang dibalik Bencana

Plong. Rasa sesak di dada sedikit berkurang setelah bercerita apa adanya. Mas Ali hanya bisa terdiam terpaku. Dis tidak sadar bahwa selama ini daya sedang berjuang melawan penyakit yang ganas. Sejak itu saya merasakan kasih sayang Mas Ali kepada saya mulai tumbuh.

Meski, tidak bisa saya pungkiri bahwa semenjak tidak lagi mengkonsumsi obat mulai muncul bayang-bayang kematian. Kalau saya meninggal siapa nanti yang merawat anak. anak saya yang masih kecil-kecil?

Saya bersyukur, tingkah laku Mas Ali sedikit demi sedikit berubah. ia mulai memperhatikan saya dan anak-anak. Secercah harapan kebahagian telah menanti di pelupuk mata. “Ya Allah, kalau memang saya harus mendapatkan perhatian suami dengan penyakit seperti ini, mungkin ini adalah jalan yang terbaik dari-Mu untuk menuup umur saya.”

Kebetulan pada pertengahan tahun 2003, kakak saya yang bernama Habibi, main ke rumah. la memberi masukan tentang aqidah. la juga memberi saya Majalah Ghoib yang mengungkap kisah aeorang ibu yang disantet dengan menggunakan ulat bulu.

Hati saya terenyuh. Ternyata al-Ma’tsurat banyak manfaatnya. Saya terketuk Kenapa saya tidak mendekatkan diri kepada Allah di usia saya yang hampir berakhir? Usia saya tinggal sebentar.

Saya sering menangis bila teringat anak-anak. Tiba-tiba saat sedang menangis di suatu malam, saya mendengar bisikan, “Kenapa kamu menangis tidak mengaduh sama yang punya? Diri kamu itu siapa yang menciptakan?” Bisikan itu mengejutkan saya.

Saya kembali menangis, “Kalau saya meninggal dengan cara seperti ini, saya ingin dikenang anak-anak. Bahwa ibunya tidak jelek. Ibunya pantas untuk dijadikan panutan,” itulah yang sering saya lantunkan setiap malam.

Seminggu kemudian Kak Habibi datang lagi sambil membawa Majalah Ghoib dan al-Ma’tsurat. Kembali saya tersentuh dengan kisah seorang ibu yang meninggal karena tabrakan. Saya menangis. Kenapa saya tidak bisa menjadi perempuan seperti itu? Saya merasa jauh berbeda dengan wanita itu. Saya banyak berdosa kepada suami dan anak-anak. Saya kurang mengurus mereka. Semenjak itu, timbul semangat dalam diri saya. Jangan sampai sisa umur yang tinggal setahun ini harus berakhir dengan sia-sia. Saya harus mengabdi kepada suami dan anak-anak, selain pengabdian kepada Allah.

Alhamdulillah, sejak itu saya tidak pernah meninggalkan shalat. Saya pikir, kalau memang saya harus tutup umur, semoga saya bisa menebus dosa-dosa yang lalu. Saya biasakan membaca al-Ma’tsurat setiap ada waktu luang. Kalau Mas Ali sudah berangkat kerja, anak-anak selesai sarapan dan berangkat ke sekolah, saya tidak berani keluar rumah. Saya shalat Dhuha dan membaca al-Ma’tsurat.

Saya mengurung diri di kamar. Saya pikir, saya sudah mendekati kematian. Yang ada dalam diri saya jangan sampai saya mati dengan sia-sia. Saya belum paham yang macammacam. Sampai kak Habibi memberi saya Majalah Ghoib tentang orang yang mengendarai mobil dengan mata tertutup. Ternyata itu adalah atas bantuan jin. Dari sini, saya mulai curiga bahwa saya juga seperti mereka. Untuk itu saya ingin ikut terapi ruqyah. Karena saya takut telah melakukan syirik atas apa yangterjadi pada masa lalu. Saya ingin benar-benar bersih di akhir hidup saya.

Pada bulan Mei 2004, saat usia kehamilan saya berjalan enam bulan saya mengikuti terapi ruqyah di kantor Maialah Ghoib. Waktu diterapi, kepala saya sakitnya bukan main. Saya sampai tidak tahu banyak apa yang terjadi. Sewaktu dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kak Habibi bertanya, “Kamu  mengidap kanker otak sudah berapa tahun? Cuma tadi menurut pengakuan Ustadz Sadzali sakit di kepala insya Allah bisa sembuh. Karena sakit itu akibat perbuatan jin.”

Sepulang dari Majalah Ghoib, saya tumpahkan segala perasaan. Saya mengadu kepada Allah. “Kalau bisa disembuhkan dengan cara ini, yaAllah ini adalah hidayah dari-Mu. Saya akan terus meningkatkan ibadah kepada-Mu dan berbakti kepada suami serta mengurus anak-anak dengan baik” Saya masih bisa panjang umur. Saya masih bisa lebih lama lagi mengurus anak-anak. Apalagi saya dalam keadaan hamil, yang sebelumnya disarankan dokter untuk digugurkan. Karena sakit kepala saya yang sering kambuh.

Sebulan kemudian, saya ruqyah lagi dengan ditemani ibu dan Mas Ali. Tapi ruqyah kali ini berbeda dengan yang lalu. Perasaan saya tidak tenang dan ingin kabur. “Mendingan kabur saja, daripada nanti kamu dipermalukan disini. Ntar, saya dipermalukan di sini. Dipegang orang kayak begitu.” Terus lihat lagi yang dipukul. “Ntar kamu dipukuli kayak begitu, emang tidak sakit. Emang tidak malu. Mendingan pulang.”

Saya langsung lari keluar. “Pulang saja, bu”. Saya bilang begitu sama ibu sambil menangis. Tapi karena kekuatan seorang ibu. Saya dituntun lagi ke dalam. Dipegangi biar tidak bangun. Di dalam saya tidak bisa tenang. Saya menangis saja, karena ingin pulang. Akhirnya saya disemprot pakai air bidara. Saya mengamuk. Tapi saya masih setengah sadan Kata Mas Ali, sewaktu diruqyah saya sempat meludahi ustadz yang menterapi. Saya sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi. Saya merasa malu setelah mendengar cerita dari Mas Ali. Memang, seminggu menjelang ruqyah, saya selalu diganggu bisikan dalam pikiran saya, “Nggak usah ruqyah”.

Seakan-akan ada pertentangan dalam dirisaya. Saya ingin sembuh tapi pada saat lain, ada bisikan yang melarang. Bahkan mengancam, “Kalau sampai ruqyah, saya ludahi itu ustadznya.” Setiap malam saya tidak bisa tidur. Karena bisikan-bisikan itu selalu mengganggu saya. “Lihat saja, saya bikin malu kamu di sana. Ntor yang ada sama kamu akan dimalu-maluin.” Terus timbul lagi dalam diri saya, “Ah siapa sih yang bisa mengalahkan kekuasaan Allah?” pertentangan )ang ada semakin membuat hati sa;a tergoncang. Saya menangis. Kemudian saya kembali shalat malam lagi. Ltu yang selalu saya alami selama seminggu.

Saya menangis bukan karena takut mati, tapi saya tidak mau dikalahkan syetan. “lni syetan nih.” Saya kembali menangis. Takut. Sampai waktu diruqyah memang betul terjadi. Sebelum pulang, Ustadz Syadzali berpesan agar saya datang lagi sebelum tiba waktu melahirkan. Karena jin yang berada di kepala mengaku masih mengancam. Jin itu ingin membawa janin saya pergi.

Saya dikasih daun bidara, dipakai untuk mandi dan minum. Waktu shalat Dhuhur, sehabis wudhu, badan menggigil. Dalam keadaan shalat tiba-tiba saya menangis. Waktu shalat Ashar terulang lagi. Saya menangis. Mungkin karena saya wudhu dengan air daun bidara. Disamping saya selalu membaca al-Ma’tsurat. Akhirnya saya diruqyah Kak Habibi.

Selang beberapa hari saya diruqyah kembali. Jin yang merasuk ke dalam diri saya, sudah kepayahan. Karena saya selalu membaca al-Ma’tsurat, dzikir dan shalat. Selain, itu saya tidak melupakan tugas sebagai seorang istri dan ibu. Jin yang ada di kaki, katanya keluar dengan membawa luka terbakar. Sementara jin yang selama ini berada di kepala akhirnya menyerah dan keluar setelah terjadi dialog dan diajari taubat oleh Kak Habibi.

Alhamdulillah setelah jin yang di kepala keluar, kepala saya enteng. Saya tidak lagi merasakan sakit, apalagi sampai pingsan. Penyakit kanker otak yang menakutkan itu pun sembuh tanpa harus dioperasi. Sembuh tanpa menggunakan obat. Sampai akhirnya saya berpikir, dengan sakit kanker ini bukannya saya mengeluh, tapi malah bersyukur. Justru dari penyakit kanker yang divonis dokter empat tahun, terbit hidayah. Sampai anak saya ketiga yang lahir beberapa hari setelah ruqyah terakhir, saya beri nama Siti Shalihah Nur Hidayah. Dengan nama itu saya berharap dia menjadi anak shalihah yang mendapat hidayah dari. Allah.

Padahal sebelumnya, saya sempat berpikir bahwa usia saya akan berakhir dengan berlalunya tahun 2004. Saya sampai membuat buku harian Saya ingin membuat hari-har saya yang terakhir dapat menyenangkan hati suami dan anak-anak. Sayatidak mau, saya meninggal dalam keadaan sia-sia. Belum bisa menyenangkan suami. Karena selama ini selalu menyusahkan. Sampai saya sering menangis. “Ya  Mas, maafkan kesalahan-kesalahan saya. lkhlaskan ya.”

Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap ibu dari anak-anak dan dalam waktu yang sama menjadi istri dari seorang suami. Di balik musibah tersimpan anugerah yang tidak ternilai. Tinggal terserah masi ng-masing bagaimana menggali dan menjadikannya sebagai bagian dari hidup.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 31/2

HUBUNGI ADMIN