SAYA TERJERAT PELET SOPIR TAXI

Mulanya saya tidak berani menyatakan bahwa dulu saya pernah dipelet. Tapi setelah bertanya kepada ustadz yang menerapi saya di kantor ruqyah Majalah Ghoib cabang Padang, saya mulai berani menyatakan bahwa dulu saya pernah dipelet seorang sopir taxi yang akhirnya menjadi suami saya. Meski pernikahan kami tidak pernah disetujui orangtua saya.

Tahun 94, saya diterima bekerja di sebuah instansi pemerintah di kota kelahiran saya. Meski terbilang jauh, tapi saya menikmatinya. Di tengah kesulitan mencari kerja, masih ada tempat yang menampung saya. Perjalanan ke kantor dengan bis umum, ditempuh selama satu jam setengah.

Tempat kerja yang jauh membuat saya terbiasa bangun sebelum Shubuh. Tapi entah kenapa suatu pagi di hari Senin, saya terlambat bangun hingga terburu-buru berangkat kerja. Kendaraan antar kota yang biasa saya tumpangi tentu saja sudah berangkat. Alhasil saya harus menunggu angkutan lain. Waktu berdiri di halte, tak sengaja saya melihat taxi yang sedang mengisi bensin di SPBU.

Tanpa pikir panjang, saya datangi sopir taxi yang berdiri di samping taxinya. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya saya berangkat ke kantor naik taxi itu. Di separuh perjalanan, tiba-tiba sopir taxi yang memperkenalkan diri bernama Ogan menghentikan taxinya. “Sebentar saya beli rokok,” katanya.

Tak lama kemudian Ogan kembali. Perjalanan kembali diteruskan. “Ini permennya mau? Ambil!” katanya seraya menyodorkan permen. Saya diam saja. Saya memang tidak terbiasa makan permen. “Kenapa? Takut permennya diisi sesuatu?” candanya seraya menawarkan kembali permennya. Merasa tak enak, saya terima juga permen itu. Saya ambil satu lalu memakannya. Dari kaca spion saya lihat sopir taxi itu tersenyum-senyum. Entah apa yang dipikirkannya saya tidak lagi menghiraukannya.

Perjalanan dengan taxi memang lebih cepat. Satu jam perjalanan lebih sedikit. Meski hal itu tidak mengurangi keterlambatan saya, tapi tak apalah toh selama ini saya selalu tepat waktu. Dengan buru-buru ongkos taxi saya bayar. Setengah berlari-lari saya memasuki kantor.

Pada waktu jam istirahat kantor, saya mendapat telepon dari pos satpam. “Maaf Bu, di sini ada sopir taxi yang mengaku ibu pesan untuk mengantar ibu pulang.”

Saya terkejut. “Saya tidak pernah pesan taxi pak. Barang kali orang itu salah alamat,” jawab saya tanpa bisa menyembunyikan keheranan saya. Saya merasa tidak memesan taxi.

Saya tutup telpon. Rasa lapar membuat saya tak menanggapi adanya taxi yang entah di mana itu. Bersama Mbak Fitri dan Mbak Ria saya ke kantin. Saya pesan nasi goreng kesukaan saya. Nasi goreng di kantin sangat enak. Ditambah selada segar nasi goreng itu semakin enak. Sungguh tak teringat lagi tentang sopir taxi itu. Lagi pula tentu dia sudah pergi bila memang benar adanya. Untuk apa dia datang apalagi menunggu saya. Sedangkan bayar ongkos taxinya saja saya tawar semurah mungkin.

Jam kerja usai. Saya meniti jalan keluar kantor menuju halte bis antar kota yang mengantar saya pulang. Agar teriknya matahari tak terlalu terasa, Mbak Fitri dan Mbak Ria dan saya bersenda gurau. Senda gurau kami terhenti ketika taxi berhenti menghalangi jalan karni.

“Astaga…!” pekik saya. Ogan, sopir taxi itu datang lagi.

“Ada kemajuan nih adik kita Fit,” celetuk Mbak Ria.

“Nggak, tadi terpaksa saja kok, takut terlambat,” saya mencoba menjelaskan. Mbak Fitri mengangguk-angguk, sedang Mbak Ria masih tersenyum- senyum menggoda.

Sopir taxi itu keluar dari taxinya. Meski hati ini marah melihat gayanya, saya tetap tenang ketika dia menawarkan agar saya masuk ke taxinya. Kali ini dia ajak dua teman kantor saya. Nyaris kemarahan saya hendak meledak, tapi saya ingat nasehat ibu untuk tidak pernah marah kepada orang lain supaya diri ini tidak teraniaya kelak.

Bis angkutan yang saya tunggu datang. Bertiga kami naik bis antar kota. Ogan masih berdiri di sana. la diam terpaku. Wajahnya terus menatap kami. Sementara Mbak Fitri terus menggoda saya. Namun, perasaan dongkol membuat saya tak punya keinginan membalas gurauan Mbak Fitri.

Keesokan harinya sopir taxi itu datang lagi. Entah darimana dia tahu setiap jam berapa saya di halte menunggu bis angkutan kota. Dia menghampiri saya. Mulai sedikit kesal, saya menolak tawarannya untuk mengantar saya. Beruntung, selang beberapa saat kemudian bis yang saya tunggu datang, saya pun naik bis itu tanpa mempedulikannya. Perasaan tidak senang mulai muncul dalam diri saya. Saya tidak senang dengan sikapnya yang sok akrab dan berlagak seperti sudah kenal lama.

Kebencian saya semakin membuncah, tatkala Ogan terlihat di halaman parkir pangkalan taxi. la melambai- lambaikan tangan kepada saya. Kali ini saya pilih diam tanpa reaksi dan terus berjalan menuju tempat biasa menunggu bis. Mbak Fitri dan Mbak Ria yang melihat ulah sopir taxi itu tidak lagi mau menggoda. Tampaknya mereka mengerti ketidaksenangan saya.

Bukan profesi Ogan yang tidak saya senangi, tapi lebih karena sikapnya. Dalam beberapa kali pertemuan, saya menangkap sinyal tidak baik dari pancaran wajahnya. Meski saya akui, saya memang belum kenal siapa dia. Pertemuan kami sebatas dalam perjalanan ke kantor. Itu pun baru sekali serta ditambah dengan beberapa kali pertemuan singkat saat dia mencoba mendekati saya. Selain itu, saya masih belum berpikir untuk menikah.

Terus terang, kemunculan Ogan sudah membebani pikiran saya. Kehadirannya melahirkan ketidak tenangan dalam diri saya. Yang saat tengah mendapat tugas dari kantor untuk mengurus segala hal yang terkait dengan pendirian sekolah Taman Kanak- Kanak di lingkungan kantor.

 

SAYA TERJATUH DALAM PELUKAN SOPIR TAXI

Belum usai cobaan yang satu, muncul lagi persoalan baru. Seperti petir di siang bolong ketika pimpinan proyek pendirian Taman Kanak-Kanak meminta saya menghadap beliau.

Di ruang pimpro telah menunggu seorang perempuan berjilbab. Perempuan itu berkulit putih bersih. Cantik. Nyaris sempurna bila kursi roda itu tak ada. Wajah cantik itu masam dan geram melihat kepada saya.

Tanpa menunggu lagi, perempuan cantik itu memaki saya. “Ini dia pak, perempuan jalang yang minta dilamar suami saya,” suaranya yang keras mengejutkan saya. Baru dua detik saya duduk, perempuan yang baru saya lihat itu sudah menuduh macam-macam.

“Alasannya ke Padang beli peralatan sekolah, padahal pergi pacaran dengan suami saya. Hingga suami saya tadi malam minta izin untuk menikahi perempuan ini,”katanya dengan nada geram.

“Ngakunya guru, tapi apanya yang bisa ditiru?” perempuan yang tidak beranjak dari kursi roda itu terus mencecar saya. Saya diam terpaku. Sama sekali tak ada kesempatan untuk menjawab.

Nafasnya tersengal-sengal. Nampaknya ia telah puas melampiaskan kekesalannya. Pimpro memberi kesempatan saya untuk membela diri. “Ibu, saya ke sini untuk bekerja. Belum ada niat untuk cari jodoh. Siapa nama suami ibu?”

“Pak Kadir,” jawabnya dengan suara gemetar.

Saya terkejut mendengarnya. Saya kenal baik dengan Pak Kadir, penanggung jawab pengadaan dana dan pembelian kebutuhan Taman Kanak-Kanak.

“Bu, setiap pergi belanja kami tidak berdua, tapi bertiga dengan sopir. Saya tidak akan mungkin sebodoh itu. Cincin yang selalu Pak Kadir pakai cukup untuk menjelaskan bahwa beliau sudah beristri,” Saya berusaha menjelaskan hubungan saya dengan Pak Kadir.

“Saya tak akan banyak bicara, tapi percayalah Bu, saya tidak punya niatan merebut suami ibu,” kata saya.

Perempuan itu hanya diam. Saya meminta izin kepada pimpro untuk kembali bekerja. Saya tinggalkan ruangan itu.

Sejak peristiwa itu, saya sengaja menjauhi Pak Kadir. Tak pernah saya memberinya kesempatan mendekati saya. Tapi entah bagaimana awalnya, suatu sore saya ditanya bapak dan ibu mengenai hubungan saya dengan Pak Kadir. Dari orangtua saya, saya ketahui Pak Kadir minta izin untuk menikahi saya. Saya jelaskan siapa Pak Kadir dan juga peristiwa di kantor itu. Orang tua pun memahami masalah saya dan menganggap masalah dengan Pak Kadir selesai.

Hari terus berjalan tanpa dapat dihentikan. Taman Kanak-kanak pun telah berdiri. Saya diberi tanggung jawab menjadi kepala sekolah sekaligus guru kelas. Muridnya masih belum banyak. Masih terbatas pada anak-anak pegawai kantor yang tinggal di komplek.

Jarak antara kantor dengan sekolah yang agak jauh, membuat saya merasa aman dari pandangan Pak Kadir. Saya menikmati tugas baru sebagai guru sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun, ketenangan itu kembali terusik oleh kehadiran seorang tamu tak diundang.

Doaarrr…. pintu didobrak dengan paksa. Istri Pak Kadir berada di depan pintu yang terbuka. Wajahnya beringas. Di tangan kanannya tergenggam sebilah badık. la berusaha masuk ke dalam ruangan dengan kursi rodanya.

Anak-anak menjerit ketakutan. Mereka berlarian tak tentu arah. Kehadiran istri Pak Kadir telah mengacaukan keasyikan mereka. Saya berusaha mmenenangkan anak-anak, tanpa pedulikan lagi keselamatan saya.

Syukurlah, tak terlalu lama beberapa satpam datang. Istri Pak Kadir diantar pulang. Dan anak-anak dipulangkan ke rumah masing-masing dengan mobil sekolah serta 2 orang satpam mengiringi.

Setiap hari, jumlah murid semakin berkurang. Orangtua mereka tidak lagi sudi mempercayakan anaknya pada saya. Gunjingan dan sindiran mulai rajin menyapa saya. Tak sanggup menanggung beban sendiri, saya akhirnya jatuh sakit. Kedua orangtua saya tak saya izinkan membantu saya dalam permasalahan saya. Menurut saya, saya tidak bersalah, jadi saya jalani saja.

Di tengah galau dan kacau, Ogan, sopir taxi itu muncul lagi. Kali ini saya rasakan kedatangannya membantu saya. Saya biarkan dia mengantar dan menjemput saya.

Pak Kadir tidak suka dengan kedekatan kami, hingga suatu hari terjadi adu mulut antara saya dengan Pak Kadir. Ogan tidak suka perlakuan Pak Kadir kepada saya. Tanpa basa-basi ia memukul Pak Kadir. Terjadilah pertengkaran. Pimpro memberi sanksi kepada saya dan Pak Kadir. Kami tidak boleh masuk kantor.

Bagi saya, cukup hari itu saya ke kantor. Saya putuskan untuk tidak bekerja lagi selamanya. Yang saya inginkan cuma satu. Menikah dengan Ogan. Keinginan itu pun saya utarakan kepada orangtua.

Bapak menampar saya. Untuk pertama kalinya saya mendapat tamparan dari bapak. Akibat tamparan itu sungguh di luar dugaan. Saya pingsan. Dan ketika sadar, mata sebelah kiri saya mengalami pendarahan di dalam. Perlakuan yang keras dari orangtua tidak menyurutkan niat saya.

Tapi justru memicu kenekatan. Saya mulai berani pergi bersama Ogan hingga larut malam. Tidak biasanya saya berani menentang orangtua. Tapi untuk masalah ini, saya sudah tidak bisa lagi dihentikan. Nasehat dari berbagai pihak saya anggap angin lalu. Hingga akhirnya, orangtua tidak memiliki pilihan lain. Mereka merestui pernikahan kami. Mereka pasrah menerima cemoohan kerabatnya.

Sejak itu, kami tinggal bersama orangtua saya. Setelah empat bulan berlalu, saya mengajak Uda Ogan untuk mengontrak rumah. Tidak enak rasanya selalu merepotkan orangtua. Terlebih bila saya telah hamil. Berbekal dari sisa tabungan saya, akhirnya kami pindah ke rumah petak. Sementara perabot dan alat rumah tangga dibelikan orangtua.

Saya sangat bahagia. Tapi tidak demikian dengan Uda Ogan, la mulai menunjukkan watak aslinya. Perut yang semakin membesar tidak berbanding lurus dengan cinta suami, la mulai acuh. Uang belanja yang seharusnya saya terima setiap hari, kadang diberi kadang tidak. Padahal saya tidak lagi bekerja. Untungnya, masih ada sisa tabungan di bank. Satu demi satu perlengkapan bayi mulai saya kumpulkan.

 

RETAKNYA JALINAN KASIH

Bulan suci Ramadhan tiba. Kehamilan memasuki usia tujuh bulan. Pagi itu saya hendak masak yang istimewa untuk buka puasa. Saya ke pasar ditemani Vivi, teman karib saya. Kami berangkat naik angkot. Angkot berjalan sangat pelan. Di depan sebuah rumah sakit, angkot berhenti. Saat itu mata saya melihat taxi yang disopir suami saya. Itu suami saya, gumam saya.

Dari jauh, saya melihat seorang perawat masuk ke taxi. Tapi mengapa duduk di sebelah suami saya? Saya mulai terbakar api cemburu. Entah mengapa seolah seperti diatur. Angkot yang saya tumpangi dan taxi yang dikemudikan Uda berjalan beriringan. Saya merasa tidak enak melihat keakraban Uda dengan penumpangnya. Taxi itu berhenti di depan salon. Tiba-tiba saya ingin menemui suami saya. Saya turun dari angkot disusul sahabat saya.

Saya hampiri taxi itu. Inna lillahi!” teriak saya spontan. Saya menyaksikan mereka tengah berciuman. Hati saya terbakar. Dengan cepat saya menghampiri mereka. “Dik, kamu tahu bahwa laki-laki yang mencium kamu itu suami saya?” kata saya dari luar pintu. Wanita itu terperangah. “Sekarang, ayo kamu keluar! Jangan sampai saya bertindak kasar!!” gertak saya. Perempuan itu pun pergi entah kemana.

Uda tidak kalah terkejutnya. Tapi ia tidak berbuat apa-apa. la hanya membiarkan perawat itu pergi. Saya masuk ke dalam taxi dengan perasaan marah yang tertahan. Di sepanjang jalan kami hanya diam. Saya tak ingin membuat keributan. Biarlah apa yang sudah terjadi menjadi kenangan meskipun pahit.

Tapi kesabaran saya ditanggapi lain oleh Uda. la merasa menang, hingga semakin menggila. Suatu hari saya mengajak Uda berkunjung ke rumah ibu, tapi ia menolak. “Saya di rumah saja agar bisa istirahat,” tolaknya dengan halus. Saya tidak mau memaksanya, kalau memang itu keinginannya Akhirnya saya berangkat sendiri ke rumah ibu.

Di rumah ibu, awalnya saya merasa nyaman. Ada suasana berbeda yang saya rasakan. Ibu membuatkan masakan istimewa kesukaan saya. “Perbaikan gizi,” kata ibu menyindir. Di tengah kegembiraan itu perasaan gelisah merayap ke dalam jiwa. Tak tahu apa sebabnya, jantung saya berdebar-debar. Akhirnya saya pulang diantar kakak.

Saya semakin takut ketika melihat tetangga berkerumun di depan rumah saya. “Dobrak saja” teriak seseorang di tengah kerumunan massa. Teriakan itu membuat nyali saya menciut. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Sejurus kemudian terdengar suara pintu dibuka paksa. Pintu terbuka lebar. Saya menyeruak masuk ke dalam rumah.

“Ya Allah … !!!” pekik saya tertahan. Saya disuguhi pemandangan yang meluluhkan hati. Di atas tempat tidur, Uda dan seorang perempuan duduk ketakutan. Mereka tanpa busana. Tak sehelai benang pun menutupi aurat mereka. Saya jijik. Saya hanya sanggup menangis. Kemudian tidak tahu lagi apa yang terjadi. Menurut kakak, saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sudah dua kali Uda mendzalimi saya dan anaknya yang masih dalam kandungan. Saya tidak kuasa lagi tinggal serumah dengannya. Akhirnya saya memilih pindah ke rumah ibu. Saya tidak lagi peduli, di mana suami saya.

Hingga tibalah saat-saat yang mendebarkan. Saat antara hidup dan mati menjalani proses persalinan. Semua itu tanpa kehadiran suami di tengah-tengah kami. Meski demikian, saya bersyukur anak saya lahir dengan selamat. Seorang anak perempuan yang cantik. Rani, nama yang telah saya persiapkan cocok untuk dirinya.

Seminggu kemudian, Uda datang. Saya menerimanya dengan baik. Saya biarkan ia mencium anaknya. Setelah saya rasa cukup, saya mengajaknya bicara. Saya utarakan niat saya untuk bercerai dengannya. Uda terkejut tapi la tidak membantah. Mungkin la merasa bersalah.

Saya urus perceraian itu dengan biaya sendiri. Tapi cobaan tidak berhenti sampai di sini. Di sekujur tubuh saya tumbuh bintik-bintik merah. Lama kelamaan bintik itu menghitam dan menebal seperti sisik. Bila Maghrib tiba saya merasa tersiksa. Kepala sakit dan sekujur tubuh gatal. Sakit dan gatal itu baru berkurang kala pagi menjelang.

Penyakit yang aneh memang, dengan bantuan temannya ibu berinisiatif ke dukun. Menurut dukun itu penyakit saya dikirim oleh mantan suami saya. Sungguh laki-laki tak tahu diri bila demikian adanya. Kesabaran seorang wanita harus dibayar dengan nestapa. “Bila terlambat diobati, sihir ini bisa membunuh anak ibu,” kata dukun kepada ibu, la kemu- dian memberi sebotol minyak ramuannya yang harus dioleskan ke sekujur tubuh saya yang bersisik.

Perih dan panas menjalar ke seluruh permukaan kulit yang diolesi minyak. Sakit sekali. Sekuat tenaga saya melawannya. Akhirnya saya tertidur. Ketika terbangun dari tidur, saya dapatkan sisik itu mengelupas berserakan di tempat tidur. Aneh memang, seperti cerita di film saja. Tapi begitulah kenyataannya. Kulit saya kembali normal tanpa bekas. Tanpa sisik lagi.

Karena kondisi kesehatan saya mulai stabil dan membaik, ibu berkunjung ke kampung bapak. Saya tinggal berdua dengan Rani. Pagi itu, seperti biasa saya menjemur pakaian. Rani saya taruh di ember besar hitam dengan mainannya. Sedang saya menjemur pakaian di samping rumah. Pagar kayu yang menjadi pengaman utama di depan rumah sudah saya pasang engselnya. Cukup aman, pikir saya.

Ketika saya kembali ke tempat Rani, saya tidak menemukannya lagi. Saya mencari ke dalam rumah dan ke seluruh penjuru ruangan. Rani tidak ada. la seperti hilang ditelan bumi.

Di tengah kegalauan itu ada seorang tetangga yang menemui saya. Katanya, ia melihat Rani digendong ayahnya. Taxinya diparkir jauh dari rumah saya sehingga saya tidak mengetahui kehadirannya. “Krilling,” dering telepon itu mengejutkan saya. Setengah berlari saya mengangkatnya. Dari seberang, saya mendengar suara yang tidak asing bagi saya. Uda, ya suaranya Uda. “Rani ada sama saya. Kamu tidak akan bertemu lagi dengannya,” ancam Uda dari seberang.

Saya panik. Saya segera menghubungi ibu. Tanpa menunggu kedatangannya saya mencari anak saya. Saya datangi kakak-kakak mantan suami saya. Namun, Rani tidak ada. Saya datangi temannya, juga tidak menemukan Rani.

Esok harinya, saya berangkat ke rumah orangtua mantan suami saya di sebuah kota di Sumatra. Perjalanan ke sana ditempuh selama 8 jam. Tapi tangapan mereka sungguh di luar dugaan. Saya datang baik-baik menanyakan keberadaan mantan suami dan anak saya, tapi diusirnya dengan keras. Saya langsung terkulai. Lemas rasanya. Lebih baik mati rasanya, pada waktu itu. Saya bersyukur, masih ditolong Allah hingga selamat kembali ke rumah.

Ibu sudah berada di rumah, ketika saya pulang. Saya tersungkur dan akhirnya tidak sadarkan diri. Saya mulai sering sakit. Berobat ke medis dan spesialis saya jalani. Dokter ahli sudah tak terhitung saya kunjungi. Juga ada satu dua dukun. Rumah yang selama ini menjadi investasi ibu untuk hari tuanya terjual. Perhiasan di badan dijual satu persatu. Tapi tanda-tanda kepulangan Rani tak juga ada.

Sampai akhirnya kakak memperkenalkan seorang laki-laki yang katanya lagi cariistri. Usianya 15 tahun lebih tua. Awalnya saya marah pada kakak, tapi setelah dia jelaskan maksudnya, akhirnya saya setuju menikah lagi.

Penderitaan masih berpihak kepada saya. Empat bulan setelah pernikahan kedua, seorang perempuan yang mengaku istri dari suami saya datang ke rumah. la mengaku istri ketiga dari suami saya. Saya tak percaya. Karena waktu mengurus pernikahan, ke KUA suami saya membawa surat yang menyatakan istrinya sudah meninggal.

Memang tidak salah. Istri pertama suami saya memang sudah meninggal, tapi kemudian menikah lagi. Ketika suami saya pulang dari kantor saya langsung menanyakan berita yang sebenarnya. Saya pikir dia akan marah dan membantah semua itu, tapi ternyata tidak. Suami saya membenarkan semuanya. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Malam harinya ia pergi dari rumah, tanpa membawa sehelai pun baju-bajunya. Saya diam saja.

Dua hari kemudian, dia kirimkan surat yang menyatakan dia menceraikan saya. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau mengakui anak saya yang ada di dalam rahim saya adalah anaknya.

Saya tidak pernah berusaha untuk berontak. Saya bahkan tak menangis. Begitu pula ibu. Kami diam. Tapi jauh di lubuk hati saya, saya bertekad membesarkan anak saya seorang diri. Dengan kemampuan saya, saya asuh anak itu kelak hingga menjadi anak yang shalih. Saya melahirkan seorang anak perempuan lagi. Bayi perempuan yang cantik. Anak kedua ini saya beri nama Ratih.

Meski saya berusaha kuat dan tegar namun kondisi fisik saya tak sanggup bertahan. Fisik saya mulai lemah. Menurut medis, saya menderita vertigo dan hipertensi. Semangat hidup saya selalu menyala setiap kali saya pandangi bayi mungil saya yang cantik.

Tahun demi tahun berlalu. Saya berhasil sedikit terbebas dari vertigo sementara hipertensi masih setia bertahan di tubuh saya. Tujuh tahun sudah saya selalu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah serta obat penenang.

 

RUQYAH MEMBAWA KEDAMAIAN

Saya mulai jenuh dengan obat-obatan itu. Sampai akhirnya saya mengenal terapi ruqyah. Kakak membawa saya ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Padang. Baru sampai di halaman kantor, telinga saya terasa panas. Dada berdebar-debar. Saya gelisah dan ingin pulang.

Saat mendengarkan ayat- ayat al-Qur’an, tiba-tiba rasa sedih yang teramat sangat bergejolak di dada saya. Saya menangis. Kemudian ada rasamual yang dahsyat. Saya ingin muntah tapi tidak ada yang keluar Rasa mual itu hilang. kembali saya menangis.

Saat diterapi, ada rasa sejuk kemudian berganti panas ketika ustadz membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an di telinga kiri saya. Setelah itu jari tangan dan kaki dipijat refleksi sedang ustadz tak henti membacakan ayat al-Qur’an. Tak ada sentuhan kulit, karena ustadz mengenakan sarung tangan yang tebal.

Hari itu terapi ruqyah pertama selesai. Ustadz menganjurkan setiap peserta membeli kaset yang berisi doa-doa penjagaan dan satu buku kecil al-Ma’tsurat. Kaset dan buku itu dapat dipakai agar peserta ruqyah bisa terapi mandiri di rumah.

Saya mulai rajin menterapi diri sendiri. Tak hanya itu, saya mulai memperbagus ibadah shalat wajib yang lima waktu. Sulit awalnya. Semakin saya berusaha untuk baik dan benar setiap kali itu pula muncul keraguan di hati ini.

Sudah tujuh kali, saya mengikuti terapi ruqyah, alhamdulillah, ada kemajuan. Saya merasa menemukan kedamaian dan ketenangan yang selama ini hilang entah di mana.

Jujur saja, saya selalu berdoa semoga Allah mempertemukan saya dengan seorang lelaki shalih yang akan membimbing saya ke surga- Nya.
Ghoib, Edisi No. 60 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Ketika Wartawati Misteri ‘Sakit’

Malam telah larut bahkan para penjual makanan keliling yang biasa berseliweran menjajakan makanannya tidak satu pun kelihatan, Istri dan anak kami sedang tertidur lelap akibat aktifitas seharian yang cukup melelahkan. Saya barusan mencoba tidur lagi setelah ada keperluan dari belakang. Beberapa saat kemudian pintu rumahku yang terbuat dari triplek diketuk orang. Aku segera bangkit dan melihat dari balik tirai jendela kira-kira siapa gerangan yang tengah malam begini menjadi ‘tamu tak diundang’. Wajah orang itu telah kukenal meskipun keluarganya termasuk penghuni baru di RT kami. Mereka hanya berdua dan belum punya anak. Rumahnya berjarak tujuh rumah tepatnya sebelah kanan rumah kontrakan kami.

Perlahan pintu rumah kubuka dan kutatap wajah seorang pria setengah baya yang menyiratkan kegugupan. Dia meminta maaf karena telah membangunkanku di tengah malam. Orang itu bilang bahwa istrinya sedang terkena penyakit aneh yaitu seperti orang kesurupan karena matanya melotot-melotot dan omongannya ngalor-ngidul tidak karuan. Katanya dia telah membangunkan Pak DY, orang pintar di kompleks kami tetapi pagarnya digembok dan lama tidak ada jawaban dari dalam rumah. Beliau dianggap orang pintar (dukun) karena membuka usaha tenaga dalam dan banyak murid-muridnya yang berdatangan dari berbagai desa sekitar. Karena lama tidak ada respon maka dia ke rumah saya karena dia tahu saya pernah memimpin do’a ketika ada orang pindahan rumah dan istri saya berjilbab.

Saya lalu minta ijin sebentar untuk berwudhu sebelum bergegas berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah si fulan ini, kulihat telah banyak tetangganya yang berkumpul di teras dan halaman rumahnya. Sebagian juga mengerumuni si pasien yang ditidurkan di ruang keluarga yang cukup luas. Wanita itu kelihatan pucat dan tatapan matanya kosong menerawang. Saya menanyakan pada suaminya aktifitas apa yang telah dilakukan istrinya akhir-akhir ini. Dia bercerita bahwa lama pulang dari pantai Laut Selatan di pesisir Parang Tritis Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka tugas dinasnya selama tiga hari sebagai wartawan sebuah tabloid misteri yang beredar di Surabaya dan sekitarnya. Tugasnya adalah mewawancarai berbagai tokoh dan narasumber yang dianggap mengerti tentang legenda Nyi Roro Kidul!

Bapak itu juga bercerita bahwa sebelum memanggil para tetangga dia telah memukuli istrinya itu dengan sapu lidi berulang-ulang kali tetapi tidak ada hasilnya. Istrinya malah menjadi-jadi. Telah menjadi kepercayan bahwa dengan dipukuli sapu lidi berkali-kali maka syetan yang mengganggu istrinya akan pergi. Saya lihat sapu lidinya masih tergeletak di dekat istrinya yang dibaringkan itu. Suami korban juga bercerita bahwa rumahnya telah dijaga dengan jimat yang dipasang di atas pintu.

Saya teringat kisah yang pernah saya baca di Majalah Ghoib edisi 34 Th.2 tanggal 12 Muharram 1426 H/21 Pebruan 2005 yaitu rubrik jawaban Cepat Saji berjudul: Penyakit Tidak Sembuh di Tangan Orang Pintar. Sebelumnya saya juga membeli kaset ruqyah syar’iyyah yang diiklankan di Majalah Ghoib yang disertai bukunya.

Ketika ada tanda-tanda wartawati itu seperti kesurupan, saya lalu pulang untuk mengambil buku penuntun ruqyah itu. Tanpa menunggu lama lagi saya bacakan ayat-ayat pilihan di dekat si korban tanpa menyentuhnya sebagaimana yang dibahas dalam majalah ini. Satu menit dua menit memang belum ada reaksi apa-apa tetapi beberapa saat kemudian pasien tersadar dan mukanya berkeringat. Dia kemudian memandangi orang-orang di sekelilingnya lalu berbicara normal seperti sedia kala.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan angka 03.40 pertanda waktu subuh sebentar lagi tiba. Saya anjurkan pasien untuk berwudhu dan bersiap-siap shalat subuh. Kamipun pulang dengan perasaan lega dan bersyukur. Orang- orang yang sejak tadi menonton dari luar pun mulai bubar. Saya berterima kasih pada Majalah Ghoib yang mengenalkan ruqyah ini meskipun saya merasa belum layak menjadi peruqyah. Namun ternyata ada PR lagi bagi saya karena sebagian warga RT kami malah menganggapku sebagai ‘orang pintar’ baru alias dukun. Anggapan ini saya ketahui ketika aya kebagian jadwal ronda malam di poskamling. Ya Allah hindarkan kami dari segala bentuk kemusyrikan. Amin.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Sebelas Tahun Berjuang Mengislamkan Suami

Hidup sebagai istri orang bule, memang menjadi impiannya sejak kecil. Sebagai seorang muslimah, ia juga punya impian untuk menciptakan keluarga yang sakinah dalam naungan al-Qur’an. Selama sebelas tahun, ia berjuang untuk mengislamkan suaminya dengan segenap pengorbanannya. Alhamdulillah impiannya kini telah terwujud, setelah ia pernah merasa berdosa karena hidup serumah dengan orang yang berbeda agama. Semoga apa yang telah dilakukannya ini, menjadi pelajaran bagi para muslimah yang bersuamikan orang asing. Berikut kisahnya.

Sejak kecil saya suka berangan-angan kepingin punya suami bule (orang asing). Gambaran saya pasti bahagia, karena bisa keliling dunia serta menunaikan ibadah haji. Saat kecil saya suka sekali nonton televisi. Suatu hari saya menyaksikan film Indonesia. Ada pemerannya yang sangat cantik. Saya tanya kepada ibu, Bu itu siapa kok cantik sekali? Ibu bilang, “Dia itu blasteran, ayahnya orang bule.” Keinginan saya punya suami orang bule bertambah besar setelah menyaksikan film itu. Kalau saya sudah punya keinginan, saya harus meraihnya sekuat tenaga saya.

Saya dididik secara disiplin oleh ayah. Karena ia seorang intel angkatan laut. Sejak kecil kehidupan saya boleh dikatakan berkecukupan, sehingga saya tumbuh menjadi anak yang periang tapi juga keras kepala.Kehidupan yang kita jalankan ini, semuanya rahasia dari Allah. Kadang kita di atas, kadang juga di bawah, roda terus berputar. Menjelang lulus SMA, kehidupan keluarga kami boleh dikatakan sedang berada di bawah. Maka selepas lulus SMA, saya memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta. Dengan berat hati saya meninggalkan Riau, untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Saya pergi ke Jakarta dengan tekad yang bulat. Saya mulai bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Mungkin disitulah hidayah pertama saya. Karena saya betul-betul berniat untuk bekerja dan beribadah. Padahal sebelumnya saya termasuk orang yang biasa saja dalam beribadah. Saya rasa tidak ada jalan lain yang dapat membantu saya kecuali Allah. Semua saya pasrahkan kepada-Nya.

Alhamdulillah, begitu saya melamar pekerjaan melalui tante, saya langsung diterima. Saya bekerja di sebuah restoran milik orang Tionghoa. Karena kejujuran dan cara kerja saya yang dinilai baik, saya diberi fasilitas lebih, seperti dinaikkan gaji serta diantar jemput kemana pun saya pergi. Saya sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Suatu hari, bos saya menawarkan anaknya kepada saya. Tapi saya kurang menyukainya. Karena perasaan tidak enak itu, saya memutuskan untuk keluar dari restoran itu. Tapi terkadang saya serba salah antara ingin balas budi dengan cita-cita yang saya inginkan. Saya kan ingin punya suami orang asing. Saya ini sudah berikrar sama Allah, bukan berikrar sih, tapi saya masih punya cita-cita yang ingin terwujud. Saat usia muda, memang kadang-kadang kita berpikir, ah saya pingin punya pacar yang wajahnya seperti Elvis Presley, pokoknya idealis deh. Setelah keluar dari restoran itu saya sempat menganggur satu bulan.

Kemudian saya mendapatkan pekerjaan lagi di sebuah restoran khas Jepang di daerah Blok M. Saya dipercaya menjadi PR (Public Relation). Saat bekerja di restoran itu, saya berkenalan dengan orang Amerika. Kira-kira, dia baru datang enam mingguan di Jakarta. Dia suka makanan Jepang. Saya lihat orangnya baik. Saya tidak kepikiran akan jadian denganya. Semua saya pasrahkan sama Allah.

Sebagai seorang PR, saya berusaha melayani setiap pelanggan dengan baik. Dan akhirnya dia rajin datang, kayaknya sih naksir. Kemudian dia senang kepada saya dan dia mengajak tunangan. Tadinya dia belum beragama Islam. Saya kurang tahu yah apa agamanya. Jadi disitulah kesempatan saya untuk mengajaknya masuk Islam.

Kami mengislamkannya di sebuah masjid. Dan ibu saya menjadi saksinya. Kira-kira 8 bulan setelah pertunangan, kami berencana akan melangsungkan pernikahan. Namanya juga orang baru saling kenal, sehingga rasa cemburunya sangat tinggi. Dia membayangkan, kalau saya kerja di restoran dengan melayani para tamu perempuan dan laki-laki dengan manisnya. Jangan-jangan nanti ada orang lain yang nyantol sama saya. Perasaan inilah yang membuat hubungan kami agak kurang harmonis. Kami sering berantem dan berantem lagi, sampai timbul keraguan dalam diri saya untuk menikah dengannya. Untuk menghormatinya saya akhirnya berhenti bekerja.

Suatu ketika, saya diundang acara perpisahan teman yang akan pindah ke Moscow setelah suaminya bertugas selama tiga tahun di Jakarta. Di situ saya tidak mengerti adat istiadat bangsa Eropa. Kalau bahasanya saya agak mengerti. Duduklah saya di sofa sendiri. Saya baca majalah. Saya pakai cincin tunangan untuk menghormati komitmen yang saya buat. Tiba- tiba ada seorang laki-laki yang menegur saya. Saya kaget, dia kok bisa bahasa Indonesia. Tapi saya sama sekali tidak melihatnya, saya cuek aja. Ternyata dia orang keturunan Belgia-Perancis. Saya tidak berpikiran macam-macam. Ah biasalah para penggoda wanita.

Pikiran saya sedang tertuju pada hubungan kami yang sedang kacau. Kemana-mana saya dikekang, seperti seekor burung pada sangkar emas. Saya terus berdoa kepada Allah untuk menunjukkan jodoh saya yang sebenarnya. Orang Perancis itu rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Teman saya sudah berusaha menjelaskan bahwa saya telah bertunangan. Tapi ia bersikeras dengan usahanya yang gigih untuk mendapatkan saya pada hari-hari berikutnya. Seakan ia mengerti sebuah pepatah yang mengatakan, selama janur kuning belum dikibarkan, maka masih ada kesempatan untuk meminang.

Karena kegigihannya dalam mendapatkan cinta saya serta bantuan dari teman saya yang terus membujuk. Akhimya saya memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih mengenal saya dan keluarga. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung datang ke rumah orangtua di Tanjungpinang. Ibu pun akhirnya merestui pertunangan kami, setelah saya putus dengan tunangan yang pertama.

Akhirnya kami menikah di Australia tahun 1993. Kenapa kami memilih menikah di Australia, karena suami sudah punya rumah di sana. Yang terpenting adalah untuk memudahkan prosesi pernikahan kami yang saat itu belum satu agama Dia kurang begitu suka dengan negaranya di Perancis, karena terlalu jauh dengan tempat kerjanya di Bali.

Kepinginnya pernikahan saya dihadiri keluarga, tapi karena saya tidak bisa membawa ibu ke sana, saya hanya dibekali surat persetujuan dari orangtua. Ibu saya bilang, “Segala hal yang kamu perbuat, tanggungjawabnya kepada Allah.” Orangtua suami juga tidak datang karena sedang sakit. Kami menikah secara umum dengan dihadiri teman-teman terdekat suami.

Saya tahu, kalau pada saat itu saya salah, dan seterusnya hubungan kami adalah zina. Tapi saya punya keyakinan, bahwa teman-teman saya yang telah kawin sama orang asing, suami mereka masuk Islamnya hanya jadi syarat saja. Saya berpikir mana yang lebih bagus? Mengislamkan dia, dan nantinya dia menjadi orang yang shalih, atau hanya sekadar mengisi formulir di kertas pada saat menikah.

Setelah menikah, kami sempat tinggal tiga tahun di Bali. Di sana, kami hidup bahagia, karena di karuniai seorang anak pertama yang sehat dan lucu. Kehidupan kami berjalan sesuai dengan agama dan kepercayaanmasing-masing. Saya shalat dan puasa. Sementara ia tidak memiliki agama yang jelas bahkan boleh dikatakan tidak beragama. Hati saya tetap bergejolak mencari saat yang tepat untuk mengislamkan dia.

Segala pengorbanan telah saya lakukan untuk menjadikannya seorang muslim. Dua setengah tahun kemudian, lahir anak yang kedua. Seorang anak perempuan yang manis hadir di tengah-tengah kami. Hati saya terus bergolak, kedua anak saya lahir tanpa diadzankan, saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Setelah itu kami tinggal di Jakarta selama 4 tahun. Saat di Jakarta, kalau suami sedang bekerja, saya sering curi-curi kesempatan dengan memanggil seorang guru ngaji ke rumah. Semua itu saya rahasiakan. Orang-orang di sekitar saya, hanya bisa menebak-nebak, ibunya taat beragama, sementara bapaknya begitu, anaknya mau jadi apa?

 

TERUS BERJUANG MENGISLAMKAN SUAMI DI NEGERI KANGURU

Suami saya sudah tidak betah tinggal di Jakarta. la membawa kami pindah ke Australia tahun 2001. Sebenarnya saya berat meninggalkan negeri tempat saya dilahirkan. Karena alasan untuk peningkatan mutu pendidikan anak, saya mau tak mau harus menemani suami di mana pun ia tinggal. Hidup di negeri orangtidaklah mudah. Jauh dari keluarga serta jauh dari komunitas muslim. Hidup seperti ini, saya jalani selama bertahun-tahun.

Saya penasaran, masa sih di Australia ini tidak ada orang Islamnya. Saya sering berdo’a, “Ya Allah berilah aku petunjuk.” Benar saja, saya langsung dikasih petunjuk. Ada anak sekolah berbusana muslim naik bus. Saya terus memperhatikan busnya berhenti dimana ya? Saya kepingin tanya sama dia. Orang Islam di Australia pusatnya dimana? Sebenarnya, saya mau mengetuk rumahnya, tapi saya takut dikira pencuri. Ternyata rumahnya tetanggaan dengan saya. Rupanya di situ menerima anak-anak kost. Saya berpikir, semoga di sana ada anak muslim. Hati saya semakin rindu pada Allah.

Belum sempat saya lebih jauh bertanya. Suatu hari saya bertemu teman yang tadinya tinggal di Jakarta. Ketemunya di shopping centre. Saya bilang padanya, Yuk tolong kenalkan sama orang-orang yang suka sholat! “Ada-ada, saya tinggal di daerah situ. Nanti saya kasih tahu, kalau ada acara ceramah agama. Tempatnya sedikit tersembunyi. Silahkan datang ke sana. Kalau dalam Islam untuk datang ke pengajian gak pakai undangan,” katanya dengan semangat.

Suatu hari saya datang ke sana. Saya pakai selendang dan memakai baju kurung. Subhanallah, Allah memberikan hidayah kembali kepada saya. Isi ceramah seorang ustadzah asal Indonesia serta jawaban- jawaban yang diberikannya begitu menggugah. Saya seperti menemukan kembali keislaman saya (menangis sedih). Secara diam-diam saya terus mengikuti pengajian tersebut, bahkan sangat akrab dengan ustadzah itu dan suaminya yang juga asli dari Indonesia. Perkenalan saya dengannya, terus berlanjut. Saya sering curhat mengenai suami dan kondisi anak-anak di rumah. Saya akhirnya bilang pada ustadzah tersebut bahwa suami saya belum masuk Islam. Ustadzah itu, terus memotivasi saya, “Kuncinya kesabaran, taat dan sholat tahajjud,” katanya.

 Keinginan saya untuk hidup dalam keluarga yang Islami terus berkecamuk. Kebetulan anak saya setiap pulang sekolah  ada kursus tambahan. Mereka saya ajak untuk melaksanakan sholat setiap tiba waktunya. Caranya, saya bawa air 3 botol. Untuk minum, berwudhu dan yang ketiga air sabun untuk buang air kecil serta cuci tangan di semak-semak. Saya bawa plastik yang lebar, saya kasih koran dan sajadah. Saya juga bawa makanan ringan. Sehabis pulang sekolah kami shalat dhuhur di taman. Terus pulang Nah di rumah sudah ada suami. Saya bilang, saya harus jemput anak-anak kursus. Setelah itu kami melaksanakan shalat ashar.

Di taman, udaranya sangat panas. Kalau musim dingin, biar siang hari dinginnya gak ketulungan. Belum lagi kalau hujan. Ketika sedang sholat di taman, godaannya banyak sekali. Orang yang bawa anjing menatap kami dengan aneh. Anak-anak yang main ayunan suka melihat dengan curiga. Saya shalat di situ bersama mereka, saya tenangkan anak saya. Kamu jangan malu, di mata orang, mungkin kamu malu tapi di mata Allah kalian mulia (suaranya agak sedih).

Persembunyian saya dalam melaksanakan ibadah akhirnya tercium juga. Suami saya menemukan sajadah di dalam bagasi mobil. la marah besar. “Ini terakhir kalinya saya melihat kalian shalat, jangan bawa hal yang berbau teroris masuk di rumah ini,” katanya. Dia menganggap Islam itu teroris Saya maklum karena dia tidak pernah dididik secara agama. Dia bilang ke anak- anak, siapa anak dady yang kelihatan shalat nanti akan dipukul.

Setelah kejadian itu saya bilang ke anak-anak untuk shalat sebisanya saja. “Mereka itu kan anak saya juga,” katanya sambil marah. Saya diam aja. “Saya sayang dan cinta sama anak-anak dan juga kamu. Cuma satu itu, jangan bawa mereka pada agama kamu,” tambahnya. Saya terus nangis. Saya langsung menelepon ustadzah. Suami saya langsung berpikir kalau saya mengadukan permasalahan ini kepada ustadzah.

“Wah jangan-jangan guru kamu itu yang mempengaruhi kamu. Gara-gara dia kamu semakin taat. Stop berhubungan dengannya,” teriaknya dengan lantang. Saya tetap berusaha menelepon ustadzah, kalau suami sedang kerja. Tiba- tiba di kepala saya terpikirkan, kata “zina”. Semakin saya tahajjud semakin kuat perasaan bersalah saya. Suatu hari saya sampaikan hal tersebut ke suami saya dengan bahasa yang sangat halus. Sayang saya rasa, saya baru tersadarkan (sekitar tahun 2004). Saya dari dahulu telah berbuat salah. Rasanya kita harus berpisah karena berhubungan seperti ini adalah zina. “Terus kamu maunya apa? Kenapa baru saat ini kamu bilang,” sanggahnya. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengutarakan hal ini, tapi saya pendam. Saya berharap bisa mengajak kamu kembali bersama-sama ke jalan Allah, memeluk agama Islam. Karena dia tidak mau, saya memutuskan pisah ranjang. Kedua anak saya mulai curiga. Mereka bertanya, kenapa baju mami ada di kamar yang lain? Saya minta doanya sama mereka agar, kita bisa tetap selalu bersama (menangis tersedu- sedu).

Setan suami saya bertambah memuncak. Dibawanyalah makanan haram ke rumah. Yang biasanya dia tidak melakukannya karena menghargai saya. Dia juga bawa minuman haram ke rumah, padahal dia bukantipe peminum. Dia panggil temannya untuk minum di rumah. Di saat-saat dia minum, rasa takut menyelimuti saya. Pada saat dia ingin memenuhi kebutuhan biologisnya, saya menghindar karena takut dibunuhnya. Saya hidup dalam suasana ketakutan cukup lama. Makanya, ketika dia mendekati pintu kamar saya, langsung saya kunci. Selesai makan-makan, saya cuci tempat makannya dengan pasir. Alhamdulillah kulkas ada dua, sehingga saya bisa memisahkan makanan yang halal.

Karena merasa sudah tidak tahan. Saya bawa permasalahan ini kepada penasihat hukum. Berkat seorang kenalan dekat. Saya dipertemukan dengan seorang lawyer terkenal, ia orang Eropa. Setelah saya ceritakan semua kisah saya, ia menangis sejadi-jadinya. “Baru kali ini, ada orang yang mau bercerai karena agama,” katanya. Maklum Australia kan negara bebas.

Setelah itu ia meminta saya untuk pindah ke kontrakan yang tidak diketahui oleh suami. Karena agama yang saya cintai ini, saya rela tidak membawa sedikit pun harta dari suami. Hanya pakaian yang melekat di tubuh yang saya bawa. Untuk pakaian anak-anak bisa saya bawa secukupnya. Anak-anak semakin bertanya-tanya. Sayajelaskan sambil memeluk mereka erat-erat. Untuk berdoa supaya mami menang. Kalau mami kalah di pengadilan, kalian harus tetap beragama Islam, tetap shalat seperti yang mami pernah ajarkan. Mungkin saja, minggu-minggu ini adalah pertemuan kita yang terakhir (menangis agak lama. Majalah Ghoib berusaha menghiburnya). Setelah itu, pengacara saya mendatangi rumah suami saya. Dan mengajukan gugatan cerai dengan landasan hukum yang kuat.

Suami saya malah menangis. la tidak percaya kalau saya bertindak sejauh ini. la semakin terpukul, ketika pengacara saya menjelaskan, bahwa hak asuh anak ada di tangan ibunya. la semakin bingung. Dan langsung ke rumah ustadzah. Di sana dia ampun-ampunan. Dia menanyakan di mana saya. “Bu anak-anak sama istri saya makan apa, karena mereka tak ada uang sama sekali”, katanya. Sementara ustadzah meminta jamaah pengajiannya agar terus doa untuk kesuksesan saya. Sungguh hindah, persaudaraan dalam Islam.

Karena kesungguhan yang diperlihatkan oleh suami saya, ustadzah mengijinkan kepada suami saya, untuk bertemu saya di rumahnya. Begitu saya sampai dan duduk di rumahnya (rumah saya dulu), saya bertanya kepadanya kenapa kamu panggil saya ke sini? Saya ingat, hari itu hari Jum’at sekitar jam 10-an. Dia langsung menangis dan memeluk saya bahkan seperti orang sungkeman. “Saya maumasuk Islam, saya mau masuk Islam”, katanya memohon. Setelah itu, kami berangkat ke rumah ustadzah untuk mene- mui suaminya. Suami saya pakai baju lengan panjang dan peci punya anak saya. Hari itu, suami saya mengucapkan dua kalimat syahadat sampai 7 kali, karena kurang lancar. Kami pun dinikahkan ulang oleh suaminya ustadzah, dengan disaksikan al- Qur’an.

Saya sangat bergembira dan langsung sujud syukur bersama ustadzah. Sebuah penantian yang panjang, sebelas tahun saya berjuang mengislamkan suami tercinta. Kini ia sering menjadi imam di rumah dan selalu mem-bangunkan kami saat sholat subuh tiba. Terima kasih ya Allah.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Tubuh Saya Penuh Dengan Susuk Dari Wajah Hingga Kemaluan

Hidup itu persaingan, meski dengan kadar yang berbeda. Satu orang dengan lainnya tidaklah sama. Dalam dunia mode, persaingan itu begitu kental. Pasang susuk pun menjadi pilihan tersendiri. Agar bisa eksis, katanya. Seperti kisah Elma, mantan peragawati yang kini menjadi ibu rumah tangga biasa. la menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghaib. Berikut petikannya.

 

Cita-cita saya menjadi peragawati. Hal itu saya ungkapkan ketika bapak menanyakan masa depan saya, di akhir kelas 3 SMA. Sebenarnya keinginan itu muncul begitu saja. Sebagai bentuk protes seorang anak yang tidak mau didikte orangtuanya. Tanggapan bapak? Tentu saja tidak setuju. Bapak yang kerap berhubungan dengan orang- orang penting jelas tidak menerima keputusan saya. la mengharapkan saya menggeluti bidang politik maupun ekonomi seperti kakak-kakak saya. Tapi saya cuek saja.

Secara fisik, saya tidak jelek-jelek amat. Dengan tinggi 170 cm dan bentuk tubuh yang proporsional, cukup layak menjadi peragawati. Meski kulit saya tidak seputih keluarga besar saya. Apalagi keluarga ibu yang masih peranakan eropa. Saya pun enjoy dengan dunia remaja saya. Hidup serba berkecukupan di sebuah kota di Sumatera.

Namun, nasib orang tidak ada yang tahu. Dan semuanya bisa berubah dalam sekejap. Itulah yang harus kami alami. Karena fitnah teman kerja, akhirnya bapak dikeluarkan dari tempat kerja. Bapak yang awalnya menjadi tulang punggung keluarga besar, sekarang menjadi pesakitan. Keluarga benar-benar terpojokkan dari berbagai sisi. Kedua kakak saya yang sedang menempuh kuliah di Jakarta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara saya baru lepas dari seragam abu- abu.

Bapak yang selama ini menjadi sandaran keluarga besar, tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan anak- anaknya. Dengan sedih, ibu harus meminjam dari saudara kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski harus menanggung rasa malu, semua itu dilakukannya demi sesuap nasi.

Harus ada yang mengambil alih tugas bapak. Sementara di rumah, saya menjadi yang tertua karena kedua kakak saya kuliah di Jakarta. Saya lah yang harus mengambil alih tugas itu, walau berat rasanya. Tekad saya sudah bulat. Tapi mau bertahan di Sumatera? Apa yang bisa saya lakukan dengan bekal ijazah SMA? Tidak banyak memang.

Akhirnya saya putuskan untuk merantau ke Jakarta. Saya ingin mengadu nasib di belantara kota Jakarta. Mewujudkan cita-cita menjadi peragawati. Awalnya orangtua tidak mengizinkan, tapi setelah saya jelaskan bahwa itu adalah pilihan terbaik, akhirnya mereka pun merelakannya. Masalahnya kemudian, apa yang bisa dipakai untuk membeli tiket?

“Ibu kan ada arisan keluarga, memang ibu belum giliran dapat,” kata ibu membuat saya sedikit lega. Kami pergi ke rumah keluarga yang kebetulan pegang arisan. Dari sana, kami dapat pinjaman lima puluh ribu. Lumayanlah buat bekal, meski belum cukup. Ibu menyuruh saya mencari pinjaman dari keluarga yang lain. Semoga ada yang berbaik hati.

Namun, bukan pinjaman yang saya dapatkan. Justru makian dan umpatan yang tidak pantas diucapkan. Padahal, dulu, mereka sering dibantu oleh bapak “Ibumu saja pinjam uang di sini, sampai sekarang belum dikembalikan,” jawab salah seorang dari mereka dengan ketus.

Sedih rasanya mendapat perlakuan sedemikian rupa. Seandainya mereka mengatakan dengan bahasa yang sopan bahwa mereka tidak punya uang, bagi saya tidak menjadi masalah. Tapi kata-kata itu begitu menusuk perasaan. Mereka telah lupa pada budi baik bapak selama ini. Hanya karena sekarang kami miskin.

Beruntung, tak lama kemudian, ada sepupu darı Jakarta yang pulang kampung. Uci namanya. la pun mengajak saya berangkat boreng naik kapal laut. Senang rasanya, impian ke Jakarta tak lama lagi bisa terwujud. Sesampai di pelabuhan, saya bingung. Uang lima puluh ribu yang dalam genggaman, saya pegang erat-erat. Beli tiket? Tidak. Beli tiket? Tidak. Kebimbangan menyelimuti perasaan saya. Sebuah pertaruhan besar bagi saya. Uang lima puluh ribu tidak lah sedikit. Tapi kalau saya pergunakan untuk membeli tiket, bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan di Jakarta selama belum dapat pekerjaan? Sementara saya hanya berbekal alamat dan tidak ada yang menjemput di pelabuhan. Saya hanya mengandalkan budi baik sepupu yang tinggal di Jawa Barat.

Akhirnya saya putuskan untuk menyusup ke dalam kapal. Saya nekat menjadi penumpang gelap. Meski untuk itu saya harus rela kucing-kucingan dengan petugas pemeriksa tiket. Kadang saya disembunyikan di balik tumpukan karung dagangan orang-orang Medan. Lain kali saya bersembunyi di tempat lain. 5 hari 4 malam, saya harus kucing-kucingan dengan petugas. (Elma menangis, teringat masa-masa pahit itu. Red)

Begitu kapal mendarat di pelabuhan Tanjung Priuk, saya menengadahkan tangan, bersyukur kepada Allah. Udara Jakarta telah merasuki dada saya. Tinggallah sekarang, menentukan langkah kemana kaki harus berpijak. Saya bertanya kepada Uci rute bus ke rumah pakde. Di sanalah saya berharap mendapat tumpangan beberapa saat.

“Ngapain datang ke sini?” tanya kakak keras, saat sampai di rumah pakde. Saya terkejut, tidak biasanya kakak berbicara seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi. “Kamu ke sini menyulitkan kami, karena kami ini susah,” lanjut kakak sedikit melunak. Kakak memang tidak cerita kesusahannya. Tapi setelah tinggal beberapa hari di rumah pakde, saya merasakan nada kurang bersahabat dari mereka. Pantas bila kakak merasa tertekan.

Hanya dalam hitungan hari, saya disuruh kakak pindah ke rumah sepupu dari pihak ibu di daerah Tanjung Priuk. Dengan harapan mereka bersedia menampung saya untuk beberapa saat. Namun, tanggapan dari tante tidak kalah menyakitkan ketika tahu saya ingin menjadi peragawati.

“Aduh muka kayak gitu mau jadi peragawati?” kata tante dengan sinis. “Peragawati itu kan anak- anak orang kaya,” katanya lagi dengan bersungut-sungut. Entahlah, mengapa tante tidak senang dengan saya. Padahal kami baru bertemu. Belum ada satu kesalahan pun yang layak membuatnya tidak senang.

Sikap yang kurang bersahabat itu membuat saya tidak betah. Niatan untuk tinggal seatap dengan tante pun saya urungkan. Hanya sehari saya bertahan, lalu balik ke rumah pakde. Di sanalah saya mencoba bertahan. Sambil terus menghubungi Ronald, salah seorang kerabat ibu, yang katanya punya kenalan seorang peragawati terkenal. Ibu berharap ia bisa membantu saya masuk sekolah peragawati. Beberapa kali saya hubungi, Ronald terkesan menghindar.

Dalam serba ketidakpastian itu, saya ditawari kerja di sebuah kantor swasta sebagai resepsionis. Gaji memang tidak besar, tapi setidaknya bisa diandalkan untuk sementara waktu. Perlahan, saya mendapat apresiasi dari atasan. Katanya, rata-rata tamu yang datang ke kantor senang dengan penyambutan saya yang ramah dan luwes.

Apresiasi atasan itu berbanding lurus dengan gaji yang saya terima. Hanya berselang beberapa minggu, saya sudah bisa kost sendiri. Saya tidak tinggal bersama dengan kakak dan pakde. Sebuah batu loncatan yang cepat memang.

 

MERINTIS JALAN MENJADI PERAGAWATI

Di sinilah, di tempat kost yang baru, perjalanan saya meraih cita-cita menjadi peragawati mulai terasah kembali. Saya ingin membuktikan bahwa peragawati tidak hanya milik anak-anak orang kaya. Saya ingin membuktikan bahwa saya pun bisa. Kebetulan tidak jauh dari kantor ada sekolah peragawati milik seorang peragawati papan atas. Namanya Sheina (nama samaran. Red). Di sanalah, akhirnya saya melabuhkan harapan. Dua kali seminggu saya mengikuti sekolah peragawati dan ditunjang pula dengan kursus bahasa Inggris.

Di sekolah, Sheina tertarik dengan bakat terpendam saya. Katanya, di samping sebagai model, saya juga punya bakat menjadi ahli make up. Karena itu ketika ia harus bepergian ke luar negeri, saya mendapat kepercayaan untuk mengontrol make up teman- teman saya.

“Sekalian kamu kontrol make up teman-temanmu,” kata Sheina suatu saat. Padahal saya belum lama terlibat di dunia modelling. Boleh dibilang, baru seusia jagung.

Prestasi saya di dunia modelling boleh dibilang cepat naik. Baru enam bulan sekolah, saya sudah mendapat kepercayaan menjadi model dalam sebuah pagelaran busana di Bali. Sejak itulah kehidupan dunia model mulai saya geluti. Meski untuk itu saya harus mengundurkan diri dari PR.

Dunia model memang penuh dengan glamour. Dibutuhkan seseorang dengan sosok yang berkepribadian tangguh dan penuh percaya diri untuk bisa eksis di sana. Berjalan di atas cat walk di bawah tatapan tajam para pengunjung bukan hal yang mudah.

Dalam kondisi demikian, saya dipertemukan dengan seorang wanita muda yang telah akrab dengan dunia perdukunan. Suzi namanya. Wanita berkulit kuning langsat asal Bandung. Suzi yang masih tetangga kontrakan saya memang telah lama menarik perhatian saya. Sejujurnya, bukan karena kecantikannya, tapi lebih disebabkan kese- hariannya yang amburadul. la seorang pecandu narkoba. Sering mabuk-mabukan dan sepertinya tidak punya pekerjaan tetap, tapi gaya hidupnya tidak kalah dengan wanita jetset.

Saya pun penasaran, pasti ada rahasia di balik materinya yang melimpah itu. “Suz, kamu punya pegangan apa sih?” tanya saya suatu sore. “Gue sering pergi ke Karawang. Di sana ada seorang dukun ternama ahli pasang susuk,” kata Suzi terus terang.

Hubungan kami cepat terjalin akrab. Hingga Suzi pun tidak lagi menutupi rahasia pribadinya. la mengaku terus terang, bahwa ia adalah wanita simpanan orang Jepang. Dari kekasihnya itulah ia menda- patkan limpahan materi.

Memang, semua itu tidak terjadi begitu saja. “Saya pasang susuk untuk memikatnya,” jelas Suzi.

“Susuk?” gumam saya. “Susuk itu apa sih?” tanya saya penasaran. Saya memang tidak bisa menyembunyikan ketidaktahuan saya tentang susuk dengan segala pernak- perniknya.

“Untuk cantik, bikin sukses,” katanya sambil menghisap rokok. Pandangannya menerawang. Entah apa yang dibayangkan. “Kamu kan banyak saingan. Artis saja banyak yang ke sana. Susuk itu bikin kamu cantik, kalau orang lihat itu dia nggak bosan-bosan,” katanya lagi.

Suzi mulai menebar pengaruhnya. Perlahan, ia menguasai pikiran bawah sadar saya, sehingga tanpa ragu saya ikuti langkahnya. “Kamu mau bawa aku ke sana?” pinta saya setengah berharap.

Saya tidak berharap menjadi wanita simpanan seperti Suzi. Tapi saya hanya tidak ingin tersisih dari dunia modelling yang baru saja saya genggam. Saya merasakan pernyataan Suzi ada benarnya. Bahwa persaingan sesama peragawati terbilang keras.

Di hari yang telah kami sepakati, Suzi mengajak saya pergi ke dukun langganannya. Orang-orang biasa memanggilnya Mak Cik. Dalam rumah yang berdinding separoh tembok itulah saya berkenalan dengan dunia susuk.

Ruangannya penuh dengan nuansa mistis. Keris, kembang, pendaringan, baskom, menyan terhampar di atas meja. Mengingatkan saya dengan dukun-dukun yang sering nongol di layar kaca.

“Mak, saya ingin kelihatan manis,” kata saya kepada Mak Cik. Saya memang tidak mengatakan harus pasang susuk di mana. Semuanya terserah kepada Mak Cik.

Tanpa banyak kata, Mak Cik mencucuk muka saya dengan bunga lalu menyuruh memasukkan tangan saya ke dalam baskom. Setelah itu saya disuruh memegang sebilah keris dan patung. Selang beberapa saat kemudian, Mak Cik mulai beraksi. Tangannya menggosok-gosokkan bunga ef ke muka saya.

Mulutnya komat-kamit. Samar-samar terdengar mantra-mantra berbahasa Arab yang bercampur dengan bahasa Sunda. Sejurus kemudian, wanita paruh baya itu mengambil sebilah pisau kecil. Warnanya kekuningan seperti emas. Tangan kirinya segera menarik kulit di pipi saya, sementara tangan kanan memegang pisau. Sreet.. saya merasakan sayatan kecil di pipi saya. Tidak berdarah memang. Hanya sedikit perih. Kemudian Mak Cik memasukkan susuk emas, ke sela-sela sayatan itu.

Saat itu, Mak Cik memasang susuk di beberapa tempat. Pipi kiri dan kanan, dagu dan sekitar bibir. “Biar kelihatan seksi dan lancar bicara,” jawab Mak Cik singkat ketika saya tanya kenapa banyak yang dipasang di bibir.

Selepas pemasangan susuk, muka saya dimasukkan ke dalam baskom. Sementara sebuah patung diusapkan ke bagian-bagian yang sudah dipasang susuk. Anehnya, sayatan pisau itu tidak membekas. Wajah saya kembali mulus seperti semula. Padahal ada beberapa susuk yang dipasang.

Setelah pemasangan susuk itu, saya merasa percaya diri saya semakin tinggi. Saya jalani profesi modelling dengan tatapan berbinar. Masalahnya, tidak ada manusia yang sempurna. Secantik apapun dia pasti ada kekurangannya. Sebaliknya sejelek apapun orang, ia memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Ironisnya, dalam dunia seperti inilah saya harus bertarung.

Satu kenyataan yang membuat saya merasa tertekan bila ada peragawati yang lebih baik dari saya. Saya melihat orang lain sebagai pesaing dan saya harus lebih baik darinya. Karena itu ketika saya melihat ada seorang teman yang dapat berjalan di atas cat walk dengan bagus, hati saya terbakar.

Saya ingin memiliki kaki yang sebagus dia, atau bahkan lebih. Karena itu jalan pintas yang saya ambil adalah dengan mendatangi Mak Cik kembali. Saya ingin pasang susuk di kaki, sehingga dapat berjalan dengan baik.

Namun, sifat manusia tidak ada puasnya. Setelah pasang susuk di kaki, saya kembali menemui Mak Cik, kali ini saya ingin pasang susuk di tangan. Pasalnya, saya merasakan gerakan saya masih kurang luwes. Masih ada orang lain yang lebih luwes dari saya. Dan saya tidak ingin tersisih hanya gara-gara lengan yang kurang luwes.

Tak terbilang berapa banyak susuk yang telah terpasang dan berapa rupiah yang terbuang. Bayangkan untuk satu susuk dari berlian dihargai seratus ribu, sedangkan susuk emas senilai empat puluh ribu. Padahal sekali datang, bisa puluhan susuk yang terpasang. Tapi waktu itu, saya menikmati dunia modelling. Meski secara materi tidak banyak yang saya dapatkan, tapi setidaknya saya puas.

Cemoohan dan pelecehan tante tidak terbukti. Saya sukses menjadi seorang peragawati, meski bukan berasal dari keluarga kaya. Getirnya kehidupan Jakarta di bulan-bulan awal, berbuah manis dengan keberhasilan ini. Sheina makin sayang. Saya juga lebih percaya diri.

Dunia model membawa saya berkenalan dengan orang-orang yang terlibat di dunia hiburan. Kehidupan malam pun tidak lagi terhindarkan. Bersama dengan teman-teman seprofesi saya sering pergi ke disko. Terkadang hingga larut malam. Suasana remang- remang lampu diskotik itu memang mengundang nafsu syetan. Saya lihat tidak sedikit dari teman-teman yang larut di dalamnya.

Saya sendiri, menjadikan diskotek sebagai bentuk pelarian dari rutinitas kerja harian. Tidak lebih dari itu. Meski saya akui dalam keremangan lampu diskotik itu ada beberapa orang yang mencoba untuk mendekati saya. Dengan iming-iming materi, mereka ingin mengajak saya kencan.

Cukup berat memang, menjadi seorang peragawati. Bentuk tubuhnya yang langsing menarik perhatian laki-laki hidung belang. Tapi saya patut bersyukur, bahwa untuk yang satu ini, saya tidak tergoda. Saya tetap ingin mempertahankan kegadisan saya. Tidak boleh ada seorang pun yang merenggutnya kecuali setelah resmi dalam ikatan pernikahan yang suci.

Saya akui, tawaran untuk menjadi wanita simpanan dari beberapa pengusaha atau pejabat sering saya terima. Bahkan ada salah seorang pengusaha dari Malaysia yang melihat saya di diskotik kesengsem. la tertarik dan menawari saya menjadi istri simpanannya. Rumah disediakan, saya tinggal mengurus visa dan passport. Masalah uang, tidak perlu dipusingkan karena ia menjamin semuanya.

Menjadi istri simpanan? Saya tidak pernah membayangkan. Keinginannya itu pun saya tolak dengan halus. Tapi laki-laki paruh baya itu bergeming. la terus membuntuti saya. Sampai suatu hari, ia datang langsung ke kontrakan saya. Lagi-lagi ia membujuk saya agar sudi menjadi istri simpanannya. Karena sebentar lagi dia harus balik ke Malaysia. Saya kembali menolaknya dengan halus. Saya bersyukur laki-laki itu tidak gelap mata dan nekat berbuat yang tidak senonoh.

Tawaran main film pun sempat saya terima, tapi saya tidak berminat. Saya bahkan lebih tertarik menggeluti bisnis lain. Saya juga tidak tertarik menjadi foto model untuk cover majalah. Meski tawaran cukup banyak saya terima. Biarlah itu menjadi ladang orang lain. Karena saya merasa jiwa saya bukan di sana.

Namun, di balik kesuksesan itu terselip ketidakberdayaan dalam mengatasi rasa takut. Boleh dibilang saya mengidap paranoid sejak pasang susuk. Saya yang dulu terkenal pemberani sekarang jauh berbeda. Di rumah, saya biasanya memutar televisi dengan keras, meski tidak saya tonton. Saya hanya membutuhkan kehadiran orang lain, di tengah ketakutan itu.

Karena itulah saya lebih sering bergaul dengan teman- teman. Kalaupun toh pulang ke rumah yang tanpa pembantu, saya jadikan televisi sebagai teman setia Semua itu terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Saya tidak sadar bahwa ketakutan itu merupakan konsekuensi yang saya terima lantaran memasang susuk.

Ketakutan saya semakin meningkat, bila di tengah kegelapan malam. Saat tak seorang pun menemani, saya merasakan kehadiran sosok lain di rumah saya. Sosok misterius yang tidak ketahuan orangnya, la hanya berkelebat dan berlalu begitu saja. Sebuah harga yang mahal memang.

 

LEPAS SUSUK

Kehidupan sebagai peragawati saya tinggalkan begitu saja beberapa bulan sebelum pernikahan saya dengan Mas Prio. Tepatnya di tahun 1993. Saya merasa penghasilan suami sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kami. Dan kami tidak ingin muncul masalah di kemudian hari akibat keterlibatan saya di dunia mode yang memang terkenal dengan dunia glamournya. Saya ingin membangun sebuah kehidupan yang harmonis. Tanpa harus melewati tatapan jalang lelaki di atas cat walk. Cukuplah itu sebagai masa lalu. Kecantikan dan keindahan tubuh saya sekarang hanya untuk suami. Bukan orang lain.

Meski telah lepas dari dunia mode, tapi susuk bukan berarti hilang dari kehidupan saya. Setelah menikah dengan Mas Prio saya kembali memasang susuk di sekitar daerah kemaluan. Karena saya ingin kehidupan rumah tangga yang harmonis. Tidak seperti pasangan selebriti yang kawin cerai.

Keinginan untuk melepas semua susuk itu baru tercetus saat pindah rumah ke Bandung, karena Mas Prio ditugaskan ke sana. Saya pun kembali menemui Mak Cik dengan tujuan berbeda. la nampak sedih, tapi saya katakan bila saya sudah tidak lagi menjadi peragawati. Saya sudah menikah dan kini memiliki seorang anak.

Mak Cik pun menuruti permintaan saya. Saya disuruh mengenakan sarung lalu dimandikan. Saat itu pula, saya disuruh memasukkan sebutir telur ke dalam mulut. Saya ikuti perintahnya. Beberapa saat kemudian, Mak Cik memecahkan telur dalam mulut saya. “Untuk membuang sial,” jawabnya ketika saya tanya.

Selesai mandi, saya disuruh mengenakan pakaian kembali. Selanjutnya badan saya dipukul dengan daun kelor. Berkali-kali Mak Cik melakukannya sampai saya tidak tahan. Puas dengan pukulannya, Mak Cik mengambil daun kelor dan saya disuruh mengunyahnya. Katanya, saya sudah bersih dari susuk yang telah dipasangnya.

Saya menganggap diri saya sudah bersih. Maka ketika ada seminar dan ruqyah massal di Bandung saya hanya ikut mendengarkan ceramah tanpa ruqyah. Saya baru tersadar bila telah melakukan kesalahan setelah rontgen. Dari hasil foto itu terlihat 4 buah jarum di dagu. “Ini apa kok kayak jarum- jarum?” tanya petugas.

Persendian saya langsung lemas. Ternyata masih banyak susuk yang menyatu dengan daging saya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan? Akhirnya saya ingat kembali dengan Majalah Ghaib. Kebetulan, ada seorang teman yang tahu nomor HP Pak Budi. Saya sampaikan semua peristiwa yang saya alami. Dan ia menyarankan saya untuk menjalani terapi ruqyah.

Sekarang saya telah menjalani ruqyah untuk keempat kalinya. Ruqyah pertama, badan saya terasa panas. Panas sekali. Mulai dari kaki terus menjalar ke atas. Badan saya seperti terbakar. Setelah ruqyah kedua, kulit saya terasa gatal. Sedemikian gatalnya saya sampai berteriak keras.

Kini setelah ruqyah yang keempat, alhamdulillah rasa gatal itu sudah tidak lagi terasa. Saya berharap semoga Allah memaafkan semua kesalahan saya. Saya tidak ingin anak-anak mendapat masalah karena kelakuan saya selama ini yang telah pasang susuk.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Delapan Tahun Berobat ke Seratus ‘Orang Pintar’

Saya dan Mas Toni menikah di tahun 1997. Saat itu musim penghujan. Seperti sekarang di bulan Februari. Hujan sering mengguyur permukaan bumi, yang kian dingin. Menambah keindahan romansa pernikahan. Bunga-bunga di halaman mekar. Indah warnanya. Diselingi kicauan burung yang bertengger di ranting pepohonan.

Kami menetap di sebuah perkampungan, dengan hamparan ladang yang menghijau di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Di sanalah kami merajut benang kasih. Menikmati hari-hari pertama yang indah. Tidak perlu berbulan madu ke puncak atau Bali, toh perkampungan kami menawarkan kesejukan. Lebih dari sekadar cukup untuk menyemai kebahagiaan.

Waktu mengalir begitu cepat. Tak terasa tiga minggu sudah usia pernikahan kami. Semuanya berjalan seperti biasa. Hingga peristiwa pilu itupun terjadi. Saya mengalami pendarahan. Aneh rasanya. Di hari pernikahan itu saya masih kedatangan tamu bulanan. dan belum saatnya dia datang kembali. “Mas, kok saya mengalami pendarahan?” keluh saya kepada Mas Toni.

la pun heran. Pendarahan masih terus berlanjut. Saya terkulai lemah di atas tempat tidur. Kami khawatir bila dibiarkan akan semakin parah. Siang itu, Mas Toni membawa saya ke rumah sakit. Di sana, tidak banyak yang bisa dilakukan. Pendarahan terus saja berlanjut. Tidak ada pilihan lain, saya harus menjalani kuret.

Keputusan itu saya terima. Meski secara logika bila terjadi pembuaian, itu pun masih dalam tahapan awal. Terus terang, saat itu kami tidak memiliki pemikiran macam- macam. Kami menganggap pendarahan itu murni gangguan kesehatan biasa. Seperti yang banyak dialami kaum wanita. Bukan karena gangguan orang lain. Meski saya sadar bahwa ada hati yang terluka atas pernikahan kami.

Harapan kami, kuret menjadi solusi yang ampuh. Namun, seutas harapan itu segera kandas. Baru beberapa jam beristirahat di rumah, saya harus kembali menjalani perawatan di rumah sakit. Pendarahan memang sudah terhenti. Perut juga tidak lagi terasa mual. Namun, masalahnya sekarang berpindah ke dada. Jantung saya berdegup kencang. melebihi hitungan yang normal. Padahal tidak ada masalah yang membebani pikiran kami. Usia pernikahan yang belum genap sebulan belum memercikkan api. Semuanya berjalan seperti yang kami harapkan. Tiga hari lamanya, saya opname di rumah sakit.

Sepulang dari rumah sakit, sudah menunggu lagi masalah yang baru. Saya mengamuk seperti kesyetanan. Kontan, teriakan histeris ibu dan keluarga menarik perhatian tetangga. Mereka berdatangan ke rumah dan berusaha menenangkan saya. Saya yang sedang dalam pengaruh makhluk ghaib tidak tinggal diam. Enam orang yang memegangi saya, saya lawan. Secara logika, tidak mungkin kekuatan seorang wanita seperti saya yang lemas sanggup mementalkan enam orang. Saya baru tersadar setelah ada orang pintar yang mengobati saya.

Saya menangis dalam pelukan Mas Toni. Ingin rasanya menghilangkan kesedihan yang masih tersisa. Mas Toni menatap lembut, penuh kasih sayang yang mendalam. Menenangkan hati yang sedang gundah. Seharusnya kami lewati hari- hari dengan suasana yang romantis. Namun, Allah punya kehendak lain. Kami harus melewati masa-masa bulan madu dengan sedikit berbeda. Di bawah cengkeraman kecemasan. Dalam hati, saya berjanji menebusnya di hari-hari yang lain.

Aktifitas saya kembali mengalir seperti biasa. Masuk kerja di sebuah instansi pemerintah dan menjadi istri yang berbakti kepada suami. Namun, menunaikan dua tugas yang sama pentingnya tidaklah mudah. Lelah dan letih menjadi imbalan yang sepadan. Sejak awal, saya telah menyadari resiko ini. Meski demikian saya punya komitmen untuk berlaku adil.

Masalahnya saya bukan tipe wanita terbuka, yang mudah menceritakan masalah kepada orang lain. Meski, di samping saya ada Mas Toni yang siap berbagi. Permasalahan yang muncul di kantor menjadi bagian dari masalah saya sendiri. Seberat apapun itu. Biasanya saya bertingkah laku seolah-olah tidak ada masalah. Tetap aktif dan ceria. Padahal dalam hati kecil, masalah itu mengganggu pikiran sampai terbawa dalam mimpi.

Akibatnya nafsu makan saya menurun, dada berdebar-debar dan saya harus dirawat di rumah sakit. Ada saja penyakit yang saya alami. Tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba saja badan saya lemah. Kaki kanan saya lumpuh, tangan kiri juga lumpuh. Anehnya kaki kiri dan tangan kanan tetap normal. Dokter syaraf yang memeriksa saya pun keheranan. Kelumpuhan yang saya alami ini di luar kewajaran. Biasanya kaki kanan lumpuh disertai dengan tangan kanan. Bukan menyilang dengan tangan kiri. Lagi-lagi saya harus menelan obat pahit.

Saya pulang dari rumah sakit mengendarai mobil. Di tengah perjalanan saya minta izin untuk ke kamar kecil. Perlahan, Mas Toni menuntun saya bergeser dari kursi mobil. Berat memang, kaki kanan saya belum bisa digerakkan dengan leluasa. Saya pun duduk sebentar. Sedih rasanya, di usia pernikahan yang masih muda harus dipapah seperti seorang pesakitan. Namun, saya tidak dapat berbuat banyak. Saya berusaha melemaskan otot- otot kaki kanan. Saya gerak- gerakkan perlahan. Alhamdulillah, ujung jari saya sedikit bisa digerakkan perlahan. Keesokan harinya, kaki kanan kembali normal, tangan kiri juga demikian.

Hari itu saya tidak masuk kerja. Saya masih ingin istirahat sejenak. Belum saatnya kaki kanan banyak digerakkan. Namun, malam harinya saya mulai gelisah. Tidur pun tidak nyenyak. Bayangan mengerikan mengganggu alam bawah sadar saya. Akibatnya tiga hari lamanya kepala terasa pening. Kemudian disusul dengan perut mengembung.

Awalnya saya tanggapi biasa saja. Tapi beberapa detik kemudian keajaiban terpampang di depan mata. Perut saya terus menggelembung. Yang tadinya baru sebesar hamil empat bulan, dalam hitungan detik membesar layaknya hamil sembilan bulan.

“Aduuh Perut saya kenapa ini?” Saya berteriak histeris. Teriakan itu mengejutkan orang-orang di sekitar rumah. Mereka berdatangan dan menyaksikan keanehan. Perut saya bergerak-gerak. Ke kiri, kanan dan naik turun. Seperti ada makhluk hidup sebesar tikus putih di dalamnya. la mengobrak-abrik perut saya. Sesekali makhluk itu membawa lari seluruh isi perut ke atas, mendekat ke arah dada. Meninggalkan kulit perut yang menempel dengan tulang. Seakan tidak ada usus di sana. Seakan tidak ada benda lain di dalamnya. Semuanya kosong. Terbawa lari ke atas.

Saya bergulingan. Saya tak kuasa menahan rasa sakit ini. Keluarga segera membawa saya ke rumah sakit. Di atas ranjang dorong, saya segera dilarikan ke ruangan USG. Bapak, ibu dan Mas Toni beriringan menjaga saya dari samping ranjang. Saya terus merintih. Peralatan USG telah terpasang. Anehnya tidak ada benda apapun yang terdeteksi. Meski saat itu perut saya terus bergerak.

Dokter mengatakan, itu hanya udara saja. Sementara perut saya terus bergerak- gerak. Bapak yang mendampingi saya tidak kuasa menahan tangisnya. la sesenggukan. Katanya, saat itu kondisi saya seperti orang yang mau meninggal. Ketika perut naik ke atas, nafas saya tersengal-sengal. Nyaris seperti orang yang mau meninggal.

Untuk beberapa saat saya dirawat di rumah sakit. Saya baru diizinkan pulang, setelah kondisi saya mulai membaik. Namun, baru beberapa jam di rumah perut saya membesar lagi. Apa yang terjadi sebelumnya kembali terulang. Orangtua pun tidak kuasa lagi menolak saran dari tetangga kiri kanan yang menyarankan untuk berobat ke orang pintar.

 

BERPINDAH DARI SATU ‘ORANG PINTAR’ KE ‘ORANG PINTAR’ LAIN

Berbekal informasi dari tetangga, bapak dan Mas Toni membawa saya berobat ke ‘orang pintar’ di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Sebut saja namanya Ki Iming. Seorang kakek yang telah ompong. Konon, pengobatannya tergolong mujarab. Banyak pasien yang terkena sihir sembuh setelah berobat ke sana. Kami berangkat dengan harapan membuncah. Perut saya yang mengembung segera kempis kembali.

Setiba di rumah Ki Iming, saya segera disuruh berbaring di tempat tidur. Saya pun menuruti perintahnya. Bapak dan Mas Toni ikut masuk ke dalam ruangan. Dengan harap cemas saya menunggu. Ki Iming masuk ke dalam ruangan. la menyuruh saya membuka perut saya. Nada suaranya bergetar.

Saya bingung. Sekian detik saya hanya diam terpaku. Saya ragu apakah perintah itu harus saya turuti atau tidak. “Neng, buka dulu neng. Cuma sebentar,” suaranya menghilangkan keraguan saya. Dengan terpaksa saya membuka sedikit kain bagianperut saya. Ki Iming pun mendekat dibawah tatapan mata bapak dan Mas Toni. Ya keberadaan merekalah yang memberanikan saya untuk menuruti perintah Ki Iming.

Ki Iming mendekat. Tangannya yang dingin menyentuh perut saya. la meraba dan menekan sejenak. Sakit rasanya. Sejurus kemudian, ia menunduk. Tanpa terduga, mulut Ki Iming mengambil alih tangannya. la menghisap perut saya dengan mulutnya yang sudah tidak lagi bergigi. Geli rasanya. Saya nyaris tidak kuasa menahan rasa geli itu. Beberapa saat mulut Ki Iming terus beraksi.

Begitulah caranya mengobati. Meski telah dihisap beberapa kali, tetap saja perut saya membesar. Sama sekali tidak ada perubahan. Kami pun pulang dengan tangan hampa. Dengan derai tawa yang tidak lagi tertahankan mengingat cara pengobatan yang dilakukannya. Dalam hati saya berpikir cukup sekali saja mendapat perlakuan sedemikian rupa.

Perut kembung itu memang datang dan pergi sesuka hatinya. Kapan mau datang, dia langsung datang. Kapan mau pergi dia pun pergi. Sejak itu, saya berkelana dari satu orang pintar ke orang pintar lainnya.

Nyaris setiap minggu saya berobat ke orang pintar. Bahkan sehari bisa dua kali. Pagi baru pulang dari dukun, sorenya sudah pindah ke dukun lain. Semuanya demi satu tujuan. Ingin mencari kesembuhan atas penyakit yang saya alami ini. Berbagai terapi medis sudah saya ikuti. Namun, semuanya tidak memberikan hasil yang memuaskan. Bahkan teman- teman yang berprofesi sebaga dokter pun menyarankan saya untuk berobat ke pengobatan alternatif. Mereka sudah mengaku, tidak tahu lagi bagaimana caranya menyembuhkan penyakit ini.

Mendengar ungkapan mereka, terus terang saya hanya bisa gigit jari. Pasalnya, saya adalah seorang perawat di salah satu klinik. Sedikit banyak saya tahu dan paham tentang dunia medis.

Hingga suatu saat, perut kembung itu hilang dengan sendirinya. Tepatnya di tahun kedua pernikahan kami. Bertepatan dengan saat kehamilan yang pertama. Selama masa-masa kehamilan, perut saya kembali normal. Hanya saja kesehatan saya sedikit terganggu. Nyaris tiap minggu saya harus berobat ke dokter. Ada saja penyakit yang menghampiri. Mulai dari muntah-muntah sampai sesak nafas. Anak pertama pun lahir melalui operasi cesar.

Selama kehamilan itu saya merasa senang. Lantaran perut saya yang membesar itu adalah faktor alami. Saya memang benar-benar hamil. Bukan seperti dulu. Tapi kebahagiaan itu tidakbertahan lama. Hamil palsu itu kembali datang. Bahkan dengan intensitas yang semakin tinggi. Saya kembali terjebak daam praktik perdukunan. Berpindah dari satu orang pintar ke orang pintar lainnya. Saya sering mendapat informasi beberapa dukun dari satu orang. Tak ubahnya seperti mafia.

Bahkan saya pernah menjalani operasi. Punggung saya dibedah dengan sebilah pisau. Operasi tersebut tidak dilakukan oleh seorang dokter, tapi Ki Jambrol. Orang pintar yang cukup ternama. Saya disuruh tidur tengkurap. Setelah punggung saya dibalur dengan minyak, Ki Jambrol membedah pingang saya dengan golok. Anehnya tidak ada darah yang keluar, walau hanya setetes. Sobekan golok itu menembus ke dalam kulit dan membelah daging. Memang, saat itu saya tidak merasakan kesakitan ketika ujung golok itu membelah kulit. Hanya dingin yang menjalar dari golok yang terasa.

Aneh memang. Bapak, Mas Toni dan ibu terperangah. Setengah tidak percaya mereka menyaksikan apa yang diperagakan oleh Ki Jambrol. Tak lama kemudian Ki Jambrol menarik goloknya dan kulit saya menyatu kembali seperti semula. Seperti tidak ada operasi bedah. Dan tidak ada golok yang menembus daging dan kulit.

Tidak cukup di sini atraksi yang dipertontonkan Ki Jambrol. Dengan sebilah keris ia mencukil sesuatu dari punggung saya. Ada suatu benda yang ingin dikeluarkannya. Hening.Orang yang menyaksikan penasaran benda apakah itu. “Sini pak, tarik paku ini,” kata Ki Jambrol kepada bapak yang berdiri terpaku.

Bapak mendekat. Dengan disaksikan keluarga yang lain, ia menarik sebuah paku yang telah berkarat dari punggung saya. Paku sepanjang sepuluh centimeter itu pun ditunjukkan kepada saya. Antara percaya dan tidak, tapi itulah yang nampak di depan mata. Entahlah, apakah itu hanya tipuan semata atau memang demikian adanya.

“Pak, paku ini bisa dikirim balik. Kalau memang itu yang diinginkan bapak,” kata Ki Jambrol menawarkan jasanya. Tapi kami tidak setuju. Karena selama ini kami tidak merasa memiliki musuh. Kami juga tidak ingin membuat permusuhan baru dengan orang yang belum tentu bersalah. Terlebih kami juga tidak tahu siapa pengirimnya. Semuanya hanya dugaan dan rekaan semata. Kami tidak ingin terjebak dalam permainan jahat. Biarlah Allah yang membalasnya. Saya hanya ingin sembuh dan tidak mau bermusuhan dengan siapapun. Akhirnya kami pulang dengan tenang. Perut saya memang kembali normal. Namun, selang beberapa hari kemudian perut saya kembali membesar. Saya pun dibawa ke Ki Jambrol. Kali ini, ia tetap mengeluarkan paku dari punggung saya.

Setelah dua kali ke sana, selalu paku yang dikeluarkan, akhirnya kami memutuskan untuk mencari pengobatan alternatif lain. Selama 8 tahun, sejak 1997 lebih dariseratus dukun yang saya datangi. Yang terakhir terjadi pada tahun 2004. Saat itu saya berobat ke Ki Diro, masih di wilayah Jawa Barat. Berbeda dengan Ki Jambrol, dalam pengobatannya Ki Diro selalu memanfaatkan murid-muridnya sebagai mediator jin. Dari sinilah kemudian, Ki Diro menanyakan persyaratan yang diperlukan untuk menyembuhkan pasien-pasiennya.

Pada terapi yang pertama, Ki Diro meminta kami untuk menyembelih dua ekor kambing sebagai syarat kesembuhan, serta menyerahkan uang seharga dua ekor kambing sebagai biaya ritual. Kami penuhi persyaratannya, meski dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Waktu itu, kami menganggapnya sebagai seseorang yang mengerti agama. Karena selain membekali wiridan ia juga membagikan daging kambing itu kepada fakir miskin. Saya dan Mas Toni hanya disuruh memakan kedua hati kambing sampai habis. Dari sini kepercayaan kami kepadanya mulai tumbuh. Tidak langsung sembuh memang, tapi berangsur-angsur perut saya mulai mengecil. Dua hari kemudian perut saya kembali normal. Tidak lagi sakit seperti dulu.

Namun, semua itu hanya bertahan dua hari. Saya menghubungi padepokan Ki Diro dan disuruh balik ke sana. Katanya, itu bukan penyakit yang lama. Kali ini, kami disuruh membawa empat ekor ayam. Berbeda dengan daging kambing, keempat ekor ayam itu harus saya habiskan sendiri.

Memang, sepulang dari Ki Diro perut saya mengempis, tapi selang beberapa hari kemudian kambuh lagi. Selain itu, saya mulai sering pusing ketika bepergian kemana- mana. Menurut pengamatan Ki Diro, penyakit saya sudah terbilang cukup lama sehingga mudah kambuh lagi. Kalau diibaratkan sebuah batu yang berlubang oleh tetesan air, maka air yang baru akan mudah masuk kembali ke dalam lubang itu. Katanya, jin mudah masuk ke dalam diri saya. Karena itu, saya harus mengikuti ritual penjagaan yang disebut dengan ritual ayaman.

Ritual ayaman merupakan bentuk pembersihan diri dan lingkungan dari gangguan jin. Dengan menyediakan seekor ayam yang telah dimasak, nasi sepiring, bubur merah, bubur putih, sebelas gelas minuman, sebelas jenis rokok. Ritual ini dilakukan semalam suntuk dan tidak boleh tidur.

Bersama delapan orang yang baru saya kenal malam itu, saya mengikuti ritual ayaman. Tepat jam sembilan, kami dipersilahkan untuk menghabiskan semua sesajen masing-masing. Semuanya harus habis tak tersisa sebelum Shubuh. Tidak boleh dimuntahkan dan tidak boleh buang air besar. Bilapantangan ini dilanggar, maka pelakunya dinyatakan gagal dan harus mengulangnya di lain kesempatan. Waktu itu saya berhasil menghabiskan semua makanan yang cukup untuk lima orang itu, meski pada akhirnya saya langsung teler.

Sementara itu, tulang ayam, puntung rokok, batok kelapa muda dan kembang harus disimpan di rumah. Setelah mengikuti ritual ayaman, memang ada sedikit perubahan. Saya mulai jarang sakit perut lagi. Kalaupun toh kambuh, tinggal datang ke padepokan Ki Diro, tak lama kemudian juga kempes lagi.

Delapan bulan, saya menempuh pengobatan ini, sebelum akhirnya saya berhenti total. Saya tidak lagi cocok dengan pengobatannya. karena sudah dijadikan sebagai mediator untuk mengobati orang lain. Jin yang merasuk ke tubuh saya itu kemudian ditanya berbagai macam. bahkan sudah menjurus pada minta kekayaan dari Nyi Roro Kidul. Selain itu wiridan yang diajarkan Ki Diro juga selalu berganti. Bila tidak ke sana seminggu saja, bisa dipastikan sudah ketinggalan wiridan yang harus dirapal.

 

SINETRON ASTAGHFIRULLAH MENUNJUKKAN JALAN KEBENARAN

Suatu malam, di pertengahan 2005 Mas Toni melihat sinetron Astaghfirullah di televisi. la pun tertarik dengan terapi ruqyah yang sangat berbeda dengan pengobatan alternatif. Selama ini kami memang sudah kenyang pengalaman dengan berbagai pengobatan alternatif.

Setelah dua kali mengikuti terapi di kantor Majalah Ghoib, saya mengalami keguguran. Saat itu saya memang hamil tiga bulan. Bagi saya, mungkin ini adalah jalan terbaik, karena saat di USG dokter mengatakan bahwa janin saya masih belum kelihatan. Padahal dalam usia tiga bulan, setidaknya ada titik hitam yang bisa terdeteksi.

Keguguran itu bukan halangan untuk terus ruqyah. Keguguran juga bukan alasan untuk kembali ke praktik perdukunan. Padahal sakit perut itu masih saja terulang. Entah makhluk apa yang terus bergerak-gerak di dalam perut ini. Karena alasan harus menunggu sebulan untuk terapi ketiga, akhirnya saya mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib cabang Cikarang. Di sana, saya diterapi Ustadz Arif dan ustadz Suhaili secara bergantian.

Setelah menjalani terapi ruqyah, perut saya yang membesar itu kembali normal. Meski demikian, saya tetap menjalani terapi ruqyah secara berkala. Awalnya sekali seminggu, kemudian dua munggu sekali. Di bulan Ramadhan 1426 H, saya merasakan kondisi badan saya sudah membaik. Akhirnya di bulan itu, saya tidak berangkat ke Cikarang, karena memang jarak perjalanan yang jauh. Saya harus menempuh perjalanan tujuh jam dengan jalanan yang berliku-liku.

Seminggu setelah lebaran, saya kambuh lagi. Perut saya kembali membesar, bahkan intensitasnya semakin tinggi. Bisa dibilang dua hari sekali. Akhirnya saya bolak-balik ke Cikarang. Dua bulan lamanya, serangan sakit perut itu menggila. Saya sampai menangis. Rasa sakit itu sudah dibatas kemampuan saya. Ketika menenangkan diri dengan membaca syahadat, saya merasakan ajal saya sudah diambang pintu.

Dalam kondisi yang kritis itu, Mas Toni menenangkan jiwa saya. Saya tidak boleh berputus asa. Saya harus tetap tegar. “Allah itu memberikan cobaan sebatas kemampuan kita. Tidak mungkin Allah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba- Nya. Kalau pun penyakit ini belum sembuh, berarti Allah belum memberikan izin kesembuhannya,” nasehat semacam inilah yang menenangkan jiwa. Di samping dukungan dari orangtua untuk menempuh jalur ruqyah juga tidak kecil. Saya bahagia hidup di tengah- tengah mereka. Di tengah orang-orang yang saling menyayangi.

Meski sesekali, sakit perut itu masih kambuh, saya tidak mau berobat ke orang pintar. Cukuplah masa lalu itu menjadi catatan kelam. Saya ingin menggantinya dengan tinta emas. Bahwa seberat apapun derita seseorang tidak seharusnya membuat gelap mata dan menempuh segala cara untuk mencari kesembuhan.
Ghoib, Edisi 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006  M

‘Pembantu’ Itu Kini Telah Pergi

Sudah satu tahun lebih saya jadi pelanggan dan pembaca setia Majalah Ghoib, yang diantar oleh seorang teman dari sebuah agen majalah. Suatu ketika saya membawa majalah ini ke kantor tempat kerja saya, dengan maksud untuk mengisi waktu luang kalau ada, daripada bengong atau ngerumpi yang tidak karuan. Perkenalan dan ketertarikan saya pada Majalah Ghoib bermula ketika saya mengikuti acara ruqyah syar’iyyah di sebuah masjid kampung, yang diadakan oleh DPD PKS Sidoarjo ketika musim kampanye Pemilu 2004 lalu.

Majalah dengan semboyan “Mengimani yang Ghoib Sesuai Syari’at” ini pernah saya bawa ke kantor dan kemudian dipinjam teman-teman. Tanpa saya prediksi sebelumnya, ternyata pada akhirnya sampai juga di meja ‘big boss’ alias atasan saya yang memiliki ruangan tersendiri. Saya lebih kaget lagi ketika suatu siang dipanggil oleh ibu pimpinan Setelah saya duduk di kursi tamunya yang empuk, beliau mulai berkata “Apa benar majalah ini milikmu?” Deg plass pasti saya akan dimarahi, batinku. Karena sepengetahuanku beliau tidak suka kalau ada anak buahnya yang membaca koran waktu kerja, apalagi majalah. “Ya Bu”, jawab saya sambil menunggu berbagai kemungkinan terburuk sekalipun. Beliau melanjutkan perkataannya: “Saya sudah membacanya sampai tuntas, isinya sangat berguna. Saya minta tolong agar tiap terbit saya dibelikan” Alhamdulillah perkiraan saya meleset. Sejak saat itu beliau menjadi pelanggan rutin yang titip lewat saya. Bahkan kadang memberi tambahan uang sebagai ongkos transportasi meski tidak serta merta saya terima.

Hari demi hari berikutnya dapat diduga. Di tempat kerja kadang beliau menyempatkan diri keluar dari ruangannya hanya untuk mengomentari topik-topik yang sedang dibahas oleh Majalah Ghoib. Dari pengakuannya, beberapa kasus yang ditampilkan majalah ini ada yang mirip dengan apa yang pernah dialaminya di masa lalu. Bahkan suatu ketika beliau menyampaikan bahwa sudah lama ada ‘makhluk lain’ yang mengikuti dan membisikinya, ia menyebutnya sebagai khodam, yang katanya ditugasi sebagai pengaman oleh kakeknya dahulu yang dikenal sakti.

Mungkin karena sering membaca Majalah Ghoib yang banyak mengisahkan hal-hal seperti itu. Suatu ketika beberapa bulan yang lalu, beliau bertanya ke saya tentang hal-ihwal ruqyah syar’iyyah. Berbekal sedikit pengetahuan dari acara ruqyah yang pernah saya ikuti, akhirnya saya berikan sebuah alamat tempat tinggal seorang ustadz yang dapat meruqyah. Benar saja, ternyata tekadnya untuk mengusir ‘perewangan halus’ itu cukup kuat, sehingga dia sabar walau harus berkali-kali mengikuti acara ruqyah. Sampai suatu ketika beberapa minggu yang lalu, dengan wajah ceria beliau berkata pada saya bahwa dirinya sekarang sudah menjadi manusia normal, tanpa diikuti pembisik-pembisik dari makhluk ghaib lagi. Kedua pembantu itu kini telah pergi Subhanallah wal Hamdulillah..
Oleh : jamilatun Heni Marfu’ah, Sidoarjo-Jawa Timur
Ghoib, Edisi 64 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Pengalaman Pertama Kali Meruqyah

Akhir Tahun 2005 yang lalu aku mendapatkan beasiswa belajar di salah satu Ma’had di Lampung. Pertama kali menginjakkan kaki di Ma’had ini banyak kenangan, suka maupun duka yang aku alami. Seperti ketika pertama kali aku mengamalkan ilmu meruqyah yang ku dapat.

Malam itu ba’da shalat Isya’ kami menyetel tape recorder. Kebetulan salah satu teman kami menyodorkan kaset ruqyah. Tidak berapa lama disetel, kurang lebih 10 menit, salah satu teman kami menangis histeris disusul suara mengerang seperti suara harimau. Saya dan yang lainnya coba mengobatinya serta memegangnya agar tidak mengamuk.

Setelah dibacakan ayat-ayat ruqyah. Teman kami itu mulai meracau. Ternyata kurang lebih ada lima jin di dalam tubuhnya. Tiga jin pergi tanpa perlawanan. Maka tinggallah dua jin yang kami sangat sulit mengeluarkannya.

Pertama kali keluar adalah jin warok dari gunung lawu yang meronta serta mengancam dengan ancaman yang sangat menakutkan. Sesekali diselingi suara mengancam saat dibacakan ayat-ayat pembakar. Ancaman itu sangat menakutkan. Tapi untunglah kami didampingi ustad yang juga cukup pandai mengenai ruqyah.

Selang beberapa waktu jin warok itu dapat dikeluarkan. Kami mengira teman kami sudah sadar sepenuhnya. Tapi ketika dibacakan surat “Al-Munafiqun ia kembali meracau. Dan kali ini lebih sulit dari jin warok sebelumnya. Karena jin ini wanita yang berasal dari Amerika dan sedikitpun tidak mengerti bahasa Indonesia. Kami sangat kesulitan berkomunikasi dengannya. Tapi kata-kata yang dapat ku tangkap adalah “hentikan itu, kumohon wahai para pemuda. Aku tidak bisa meninggalkan tubuh ini karena aku mencintainya. Indonesia dan Amerika itu jaraknya sangat jauh. Saya tidak mampu untuk pulang”. Suaranya memohon terdengar sangat memelas. Sebenarnya kami kasihan juga dengan jin itu tetapi teman kami perlu ditolong karena ulah jin itu ibadahnya jadi terganggu.

Kami bersama-sama membaca ayat kursi. Tidak kami hiraukan suaranya yang memelas dan terkadang ia menyanyi untuk mengacaukan konsentrasi kami. Aku akhiri dengan adzan dan sampai akhirnya ia keluar dan teman kami itupun sadar.

Sejak saat itu keadaan Ma’had kami jadi sangat menyeramkan. Kami banyak diteror. Sering ketindihan dan lain-lain. Tapi kami bersyukur karena setelah itu kami semakin giat beribadah dan membentengi diri dengan dzikir pagi-sore Rosulullah.

Semoga semakin sukses buat Majalah Ghoib yang telah memberikan solusi dalam masalah- masalah kemaslahan umat.

 

Oleh : Wahyu Al Faruq, Muara Jaya II Lampung

Dirayu Jin yang Menyerupai Suami

Jin memiliki perasaan cinta? Ya, memang demikian. Karena mereka adalah makhluk yang berkembang biak seperti halnya manusia. Kian hari jumlah mereka kian banyak. Bila rasa cinta tersebut terjadi sesame mereka, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Tapi rasa cinta akan membawa bencana bila ada jin yang mencintai manusia. Seperti yang dialami Siska (nama samaran). Ia pun pingsan sesaat setelah mengetahui  bahwa jin menyerupai suaminya. Dengan didampingi suaminya, ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bogor. Berikut petikan kisahnya.

Mahligai rumah tangga saya seakan tidak pernah terpisah dari dunia gaib. TLjuh tahun lalu, beberapa bulan sebelum melangsungkan pernikahan pun, saya telah merasakan sakitnya cakar macan. Walau macan itu hanya hadir dalam mimpi, tapi tak urung lima cakaran membekas di dada. Saya baru sadar, sesaat setelah mandi. Saya pun keheranan bukan kepalang. Bagaimana mungkin itu terjadi. Waktu itu,  saya hanya cerita kepada Bambang (nama samaran), seorang pemuda yang kini menjadi suami saya.

Siangnya, Bambang main ke rumah. Di sinilah, peristiwa yang memalukan itu terjadi. Saya yang sedang kasmaran dengan Bambang, tanpa tedeng aling-aling, langsung menariknya ke dalam kamar. Bambang pun terkejut. Tidak biasanya saya berperilaku seperti ini. Apalagi, ia melihat sorot mata saya berubah. Mata saya merah. Bambang dengan tegas menolak. Saya tetap merengek, walau saat itu saya hanya minta dicium.

la pun berlari menghindar. Tapi saya terus mengejarnya. Katanya bajunya sampai robek-robek. Barulah setelah terdengar adzan dzuhur ulah saya terhenti. “Panaas. Panaaas. Hentikan suara itu,” teriak saya.

Dari sini, Bambang sadar bahwa itu bukanlah diri saya. Ada makhluk gaib yang merasuk ke dalam diri saya. Maka ia pun segera mencari pertolongan kepada tetangga yang kebetulan seorang haji dan katanya bisa mengusir gangguan jin.

“Saya tidak tahu bagaimana cara perginya. Semoga Siska tidak diganggu lagi,” ujar wak haji. Keesokan harinya, saya kerasukan lagi. Kali ini lebih parah. Saya berlari kesana kemari, sambil terus berteriak “Mana Siska. Mana Siska. Saya ingin membunuhnya. Dia merebut pacar saya.” Aneh, memang. Saya berlarian kesana kemari mencari diri saya sendiri. Bahkan saya ingin membunuh diri saya.

Waktu itu, orang pintar kembali dipanggil untuk menyadarkan saya. “Segera nikah saja, karena ada orang yang ngganggu. Semoga setelah menikah tidak ada lagi gangguan,” saran orang pintar itu kepada bapak saya.

Singkat cerita, kami pun melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Orang yang tidak senang dengan hubungan kami pun tidak membuat ulah di hari kebahagiaan kami.

Hari-hari berikutnya, semua berjalan normal. Saya bisa menikmati peran yang baru, sebagai istri dari suami tercinta. Waktu terus berjalan. Anak kami yang kedua pun lahir, bayi laki-laki yang montok. Anak yang pertama kebetulan adalah perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami.

Jin Menyerupai Wajah Mas Bambang

Hingga suatu malam, tidak seperti biasanya Rinto, anak saya yang kedua menangis keras. la nangis sejadi-jadinya. Ah, Rinto lagi kehausan, pikir saya. Saya pun segera membangunkan pembantu dan memintanya membuat susu. Tapi entah kenapa, pembantu agak lama di belakang. Sementara Rinto yang baru berumur satu bulan itu pun belum berhenti menangis.

Saya beranjak ke dapur untuk menyeduh susu sendiri. Dan begitu kembali ke kamar saya lihat Mas Bambang sudah berada di kamar. Padahal, seharusnya dia tidur di kamar sebelah bersama Ratih, anak saya yang pertama.

Saya segera meraih Rinto dan memberinya susu. Tapi Mas Bambang, malah bikin ulah yang aneh. la merajuk dan meminta saya melayaninya. Saya sendiri heran, tidak biasanya ia bersikap seperti itu. “Eh, ngapain sih. Jangan kayak begini dong.”

Mas Bambang tetap tidak mau menyerah, dia terus membujuk saya. Bahkan berusaha melepas baju saya. “Ntar dulu dong mas. Ngapain sih Mas Bambang ini.” “Rinto lagi minum susu. Macam-macam saja,” saya sampai berteriak.

Rinto, tetap saja menangis. Susu yang saya berikan tetap tidak bisa meredakan tangisnya. Tapi Mas Bambang tidak peduli. la sangat bernafsu malam itu. “Mas ini, apaan sih,” teriak saya lagi.

Sedetik kemudian, saya langsung pingsan. Pasalnya, dari pintu yang terbuka perlahan, muncul Mas Bambang yang lain. Saya bingung mana yang asli. Bajunya sama-sama putih dan memakai sarung yang serupa. Mereka layaknya saudara kembar saja.

Entah, berapa lama saya pingsan, saya tidak tahir. Begitu tersadar, tinggal Mas Bambang yang asli, masih setia menemani saya. Barulah kemudian saya ceritakan apa yang terjadi. Memang, sebelum kedatangan jin yang menyerupai Mas Bambang, angin berhembus kencang. Korden jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan udara masuk, sampai tersingkap ke atas. “lni angin kok kencang begini,” pikir saya. Tapi, keanehan itu belum menyadarkan saya atas apa yang terjadi. Terlebih tangis Rinto yang berlebihan telah menyita perhatian saya.

Saya tidak tahu apakah jin masuk bersamaan dengan hembusan angin yang kencang. Tiba-tiba saja, jin yang menyerupai Mas Bambang sudah berada di dalam kamar dan saya sedikit pun tidak menaruh curiga. Saya beruntung, pukul 02.30 malam itu tidak menjadi korban kebiadaban jin. Malam itu, Mas Bambang pun shalat sambil terus membaca ayat kursi.

Apakah kedatangan jin itu terkait dengan rumah yang saya tinggali sekarang? Saya tidak tahu. Saya menempati rumah ini sejak empat tahun lalu. Tapi ini kejadian pertama yang saya alami di sini. Tahun-tahun pertama tidak pernah teriadi apa-apa. Dari tetangga, saya pun tahu bahwa rumah ini dulunya dihuni oleh orang China penganut Konghuchu yang terbilang taat. Di ruang tamu ini dulunya ada patung Dewi Kwan ln yang sangat besar. Sorot matanya merah menembus kaca jendela. Menakutkan warga yang lewat di malam hari.

Hari-hari berikutnya semuanya kembali normal. Aktifitas rutin sebagai ibu dari kedua anak saya, menyita banyak perhatian. Apalagi Ratih sudah mulai masuk TK. Biasanya saya mengajarinya bahasa Inggris. Ratih pun mampu menjadi juara ll lomba bahasa lnggris se kabupaten Bogor.

Ketenangan yang masih dalam hitungan bulan itu pun terusik kembali, sepulang Mas Bambang dari umrah. Yang saya rasakan adalah hawa panas bila berada di rumah. Terkadang saya pun jengkel, “Kok, Mas Bambang sepulang dari umrah, malah tidak benar sih. Kasar,” keluh saya suatu hari. Tapi Mas Bambang tidak merasa berubah. la masih tetap seperti yang dulu.

Hingga suatu malam, kata Mas Bambang saya tidur sambil duduk. Melihat itu, dia merasa ada kejanggalan dalam diri saya. “lni pasti ada yang tidak beres,” Mas Bambang mulai curiga. Tangannya segera menarik dan membangunkan saya. Tapi saya belum sadar seutuhnya. Katanya mata saya plerok-plerok. Jelas ini bukanlah diri saya. Pasti ada jin yang merasuk  ke dalam diri saya kembali.

Dengan cepat, saya segera didekapnya, sambil terus dibacakan al-Qur’an sebisanya Saya berontak. Ada kekuatan lain, yang menguasai saya. Hingga saya tidak lagi dapat  mengontrol diri. Yang terjadi kemudian adalah pergumulan dan adu jotos yang tidak lagi terelakkan.

Kegaduhan itu berlangsung  beberapa saat, sebelum akhirnya saya terduduk lemas dan … pingsan. Mungkin, saat itu jin yang merasuk ke dalam diri saya keluar setelah tidak tahan dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an.

Beberapa saat saya tidak sadarkan diri. Setelah sadar pun saya masih setengah sadar setengah tidak. Yang saya rasakan waktu itu hanyalah seperti orang yang tidur sebentar, kemudian terbangun lalu tertidur lagi.

Jam 6 pagi, keesokan harinya, saya seperti orang bengong. Diam membisu Melihat hal itu, Mas Bambang langsung bertanya, “Eh, kamu siapa. Jangan ganggu orang,” (sebagaimana dituturkan suaminya). Saya lari. Tapi Mas Bambang, tidak membiarkan saya keluar dari rumah. Ia segera mengejar dan menangkap saya kembali. Untung saat itu, pagar depan rumah masih terkunci, sehingga dengan mudahnya saya ditangkap. Kembali bacaan ayat-ayat al-Qur’an melemahkan jin yang merasuk ke dalam diri saya. Waktu itu sayatidak merasakan apa-apa. Goresan kawat besi pagar rumah pun tidak terasa.

Baru setelah sadar saya merasakan nyeri dan letih. Pukul 8 pagi, orangtua saya datang dari Jakarta. Saya ceritakan semua peristiwa yang terjadi sejak semalam. Bapak hanya manggut-manggut saja, sebelum akhirnya menawarkan untuk mengajak saya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. “Kalau begitu datang saja ke kantor Maialah Ghoib. di sana ada ruqyah terapi gangguan jin dengan cara yang benar karena tidak bertentangan dengan syariat lslam. Bawa ke sana saja.”

Hari itu diputuskan untuk segera ke Jakarta. Waktu itu hari Ahad, lalu Mas Bambang telpon ke kantor Majalah Ghoib, karena khawatir hari Ahad libur. “Mas saya mau kesana, ditunggu sampai jam berapa?” “Oh, saya tunggu sampai jam dua” kata suara di balik telpon. Akhirnya saya diajak Mas Bambang. Tapi ketika sampai di sana ternyata hanya disuruh daftar saja. Dapatnya entah berapa minggu lagi.

Waktu itu, Mas Bambang melobi, “Kalau ini sakit biasa mungkin tidak apa-apa Tapi ini gangguan jin. Saya tidak bisa mengusir. Tolonglah bantu saya.” Akhirnya Mas Bambang diberi nomor handphone Ustadz Aris.

Mas Bambang, mencoba  menghubungi Ustadz Aris, tapi tidak ada jawaban. Baru setelah dihubungi beberapa kali, handphone diangkat dan saya disuruh datang ke masiid At-Taibin yang hanya berjarak 200 meter dari terminal Senen. Terus terang, kami srek dengan Majalah Ghoib, karena mereka menterapinya dengan cara islami. Kami merasa nyaman.

Setiba di masjid At-Taibin, saya langsung dibawa naik ke lantai dua. Setelah beberapa saat dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, terjadilah dialog. “Siapa namamu?” Tanya Ustadz Aris. Jin menjawab“Jamal.”

“Mengapa kamu masuk ke tubuh ibu ini?”

“Saya suka sama Siska.”

”Berapa umurmu?”

“Dua genep (26 ) tahun.”

“Kamu masih perjaka?”

“Ya. Saya masih perjaka.”

“Kenapa senang?”

”Dia ditinggal terus sama suaminya. Padahal dia itu orangnya baik, shalihah. Jadi sya kasihan sama dia.”

“Suaminya kerja untuk nyari duit,” jin Jamal itu pun tertawa saja. Setelah dialog yang mengalami kebuntuan, Ustadz Aris kembali membaca ayat-ayat al-Qur’an.Ketika disuruh keluar, jin Jamal tidak mau. Jin itu bahkan minta diantar ke Bogor. “Ya sudah kamu ikut saja di mobil. Nanti kan sampai di Bogor”. Setelah disuruh demikian, akhirnya jin Jamal keluar. (sebagaimana dituturkan suaminya)

Setelah ruqyah itu, saya tidak langsung pulang ke Bogor, tapi diantar Mas Bambang ke rumah orangtua di Jakarta Selatan. Sementara Mas Bambang sendiri ada keperluan kantor dan harus menginap di hotel selama tiga hari di daerah Sunter, Jakarta Utara. Otomatis, Mas Bambang membawa mobil ke hotel di daerah Mangga Dua. Berputar-putar lewat Ancol.

Selesai acara, Mas Bambang langsung menjemput saya. “Dik, tolong ambilkan baju yang ketinggalan di bagasi,” pinta Mas Bambang. Tapi begitu pintu bagasi saya buka, saya merasakan ada jin yang merasuk lagi.

Tanpa pikir panjang, Mas Bambang segera menjemput Ustadz Aris dan diajak ke rumah. “Kamu siapa?” “SayaJamal.” “Lho kenapa kamu masuk?” “Ya, katanya saya mau dipulangkan ke Bogor, tapi tidak dipulangkan. Diputar-putar saja di daerah laut-laut. Terus saya lihat ibu Siska, ya saya masuk lagi,” elak jin Jamal. Ternyata selama tiga hari itu, iin Jamal masih menumpang di mobil. “Ya sudah sekarang kamu pergi saja Tidak usah menumpang di mobil.” Jin Jamal pun keluar.

Kebetulan di depan rumah ada pohon mangga di area pemakaman. Tidak lama kemudian jin Jamal masuk ke tubuh saya lagi. “Lho kamu kok balik lagi.” “Ya saya balik lagi. Karena di pohon mangga itu banyak syetannya. Saya dipukul. Saya ditendang.” Setelah dibacakan ruqyah beberapa kali, akhirnya jin Jamal keluar dan tidak masuk lagi.

Sebelum keluar, jin Jamal mengaku bahwa dia masuk ke tubuh saya ketika saya bermain ke rumah saudara di daerah Batu Lampar. Katanya, dia masuk begitu saja, karena melihat saya orangnya baik.

Saya tidak tahu, apa alasan jin Jamal mengatakan saya orangnya baik dan harus dikasihani. Tapi bila dikatakan sering ditinggal suami, memang benar adanya. Mas Bambang, sering pulang malam. Kadang-kadang ke luar kota tiga hari atau bahkan seminggu. Sesekali juga ke China, Hongkong atau Singapura.

Saya sering telpon Mas Bambang di kantor bila jam sembilan belum pulang, “Mas, kok belum pulang?” “Oh, ya Dik. Saya nanti pulangnya malam.” Saya tidak tidur sebelum Mas Bambang pulang. Perasaan saya tidak tenang bila suami belum di rumah. Biasanya, saya mondar-mandir di rumah, sampai Mas Bambang pulang.

Pernah, saya menangis seharian. Waktu itu hari ketiga Mas Bambang umrah. Biasanya ia selalu telpon setiap hari, bila bepergian kemana saja. Tapi pada hari ketiga itu, Mas Bambang, tidak telpon seharian. Saya sampai sesenggukan. “Ya Allah, yang namanya ibadah kok diberatin kayak gitu sih. Didoain kan lebih baik. Doa semoga di sana lancar,” kata ibu menenangkan hati saya.

Saya menangis sedemikian rupa, karena saya benar-benar kangen. Biasanya tidak pernah kangen sampai begitu. Padahal suami pergi ke China atau Hongkongtidak pernah kangen seperti ini.

Sakit migrain sembuh setelah ruqyah

Sudah bertahun-tahun saya sakit asma. Yang selalu saya kambuh bila saya mengalami mimpi buruk, misalnya berenang di sungai yang tidak bertepi. Bila sudah demikian, maka nafas  saya sesaknya bukan main. Mata saya melotot. Kepala sepertinya mau pecah. “Aduh mas, sakit-nya.” Kadang saya sampai kehilangan akal, sehingga kepala saya, saya benturkan ke dinding sampai berdarah-darah. Tapi rasa sakit itu masih saja belum hilang. “Ya Allah, istighfar. Ke rumamah sakit yuk. Ke rumah sakit,” hanya kata-kata suami semacam ini lah yang sedikit mengobati rasa sakit.

Mulanya saya tidak tahu bila sakit kepala yang datang seminggu dua kali itu berasal dari gangguan jin, sampai saya bilang, “Aduh. Buntungin saja nih.” Taruh dulu atau diapain dulu kepala ini.” Saya mulai kehilangan akal, karena rasa sakit itu tidak bisa dihentikan. Mau dibawa tidur, kepala makin pusing. Bila mata dipejamkan, berkunang-kunang .Tapi setelah diterapi ruqyah alhamdulillah, saya sampai sekarang tidak migrain lagi. Kalau pun toh, asma saya kambuh, tapi semuanya masih dalam batas yang wajar. Mata tidak sampai melotot.

Jin kepala buntung menyatroni rumah saya

Akhir Agustus 2004, ketenangan saya kembali terusik. Rumah saya disatroni jin. Kali ini, ia menakut-nakuti saya dengan menampakkan kepala buntung. Apakah ini terkait dengan ocehan saya waktu sakit kepala dulu? Saya tidak tahu.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh malam, seperti biasanya saya, Mas Bambang dan kedua anak saya bercanda di kamar. Tiba-tiba,’dooor’ lerdengar suara keras membentur atap rumah. “Aduh. Suara apa itu. Kencang banget.” “Mas suara apa itu mas?” Tanya saya.

Rinto langsung menangis dan digendong oleh pembantu. Sementara itu, selang lima menit kemudian perasaan saya seperti antara sadar dan tidak. Saya bingung, pikiran saya seakan-akan hilang. Seperti orang yang tidur sebentar lalu bangun lagi. Kemudian tidur lagi.

Saya terdiam antara sadar dan tidak. Tak lama kemudian Mas Bambang membuka pintu kamar. Dari balik pintu, “Oh, mas, mas itu apaan mas. Kok nggantung begitu,” teriak saya. Seonggok kepala tergantung di atap-atap rumah. Persis di depan pintu. Rambutnya hitam. Kepala buntung itu berputar perlahan, menyeringai. Dan … Ohh… wajah itu seperti mayat hidup. Matanya berlobang. Darahnya menetes.

Tes. Tes. Tetesan darah seakan menetes ke lantai, tapi … tidak ada bekas darah setitik pun di lantai. Saya semakin bingung, astaghftrullahal adzim saya bacakan ayat Kursi. Anak-anak, saya tutup matanya jangan sampai melihat. Ratih berontak-berontak dan menangis keras. Saya keluar. Sementara Mas Bambang, nampak kebingungan. Dia tidak melihat kepala buntung atau tetesan darah.

Tetangga yang mendengar keributan di rumah segera berdatangan. Dan tak lama kemudian, saya kembali linglung. Saya tidak ingat apa-apa, “Saya dimana. Saya dimana.” Mas Bambang langsung menangkap saya. “Ayo kamu siapa.” “Aku mau pulang. Aku pulang saja,” kata jin melalui mulut saya. Akhirnya mas Bambang rnembaca al-Qur’an sebisanya. Saya berontak. Lima orang satpam pun katanya segera memegang saya. “Saya pulang saja. Saya pulang saja.”

Mas Bambang terus membaca ayat-ayat al-Qur’an. Akhirnya badan saya lemas dan tertidur. Bersamaan dengan itu, tetangga rumah yang katanya adalah ‘orang pintar’ juga datang. la sempat mengatakan bahwa jinnya sudah hilang. Ketika dia melihat ke atas loteng tidak menemukan sumber suara kegaduhan tadi.

Saya tidak tahu apakah kejadian yang menimpa saya karena ada orang yang tidak senang dengan kebahagiaan keluarga saya? Saya tidak berani mereka-reka. Karena selama ini saya merasa tidak punya musuh. Tidak ada lawan.

Masih banyak hal yang harus saya benahi dalam kehidupan saya. Mungkin banyak ‘lubang’ yang harus saya tutup sehingga jin tidak lagi keluar masuk ke dalam raga saya seenaknya saja. Semoga kasus demi kasus ini semakin mendewasakan kami dalam bersikap dan menatap kehidupan ini. Tidak ada kata menyerah. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun bahwa suami adalah belahan jiwa sang istri. Mereka harus selalu seiring dan sejalan. Bersatu dalam menghadapi cobaan dan tantangan kehidupan yang makin tidak bersahabat.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi Khusus

Dikejar-Kejar Hantu, karena Belum Melaksanakan Nadzar

Jangan melarikan diri dari nadzar, saat kesempatan untuk melaksanakannya tela terbuka. Karena nadzar itu hutang. Sekali hutang, tetaplah hutang sebelum terbayar. Sampai kapanpun. Begitulah intisari kesaksian Dasiman (seorang pegawai negeri sipil) kali ini. Dua bulan lamanya, ia menerima konsekuensi dari nadzar yang belum dilaksanakannya sejak dua puluh tahun yang lalu. Berikut petikannya.

Jawa Tengah, Agustus 1986

Tahun 1986, aku baru lulus STM. Usiaku baru dua puluhan tahun. Mungkin terbilang telat bagi anak-anak zaman sekarang, lulus sekolah menengah pada usia sepertiku. Tapi bagiku dan teman-teman, itu sudah lumrah. Bukan hal Yang aneh.

Saat itu, untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku tidaklah semudah sekarang. Tidak bany ak lapangan kerja yang terbuka bagi pencari kerja di Solo, Jawa Tengah. Mau menggeluti pertanian seperti orangtua, dalam benakku saat itu juga bukan sebuah pilihan awal.

ljazah SMA sudah dalam genggaman. Aku ingin mencari suasana baru. Dunia kerja yang berbeda dengan yang kujalani selama ini, sebagai anak seorang petani. Masalahnya, lapangan kerja yang tersedia tidak memberikan, ruang yang cukup bagiku dan teman-teman.

Aku yang terbiasa pergi pagi pulang siang, menjadi jenuh di rumah seharian. Aku rindu kembali dengan suasana pegunungan. Selama sekolah, aku memang ikut bergabung dengan perguruan beladiri. Setidaknya sabuk hijau sudah dalam genggaman.

Sesekali aku dan teman-teman juga melakukan latihan fisik dengan cara yang berbeda. Ya, dengan mendaki gunung misalnya. Gunung Lawu bukan lagi asing bagiku. Puncak Argodalem beberapa kali sudah kudaki. Gua Nyi Roro Kidul juga pernah kudatangi.

Aku larut dalam kenangan indah di puncak Argodalem. Beratapkan langit, berdinding hamparan pohon pinus. Gelegak darah mudaku kembali menggelora. Hasrat dan keinginan untuk mendaki gunung muncul kembali. Ah, mengapa tidak ke pertapaan Pringgondani saja, pikirku. Bukankah, tempat itu diyakini sebagai tempat keramat? Banyak orang datang ke sana dengan berbagai alasan. Konon, berdoa di pertapaan Pringgondani itu mudah terkabul.

Aku menerawang, jauh ke depan. Membayangkan puluhan tahun ke depan. Masa-masa indah yang kuimpikan. Aku tidak memungkiri bila dalam hati terbesit keinginan yang kuat untuk menjadi pegawai negeri. Entah, mengapa keinginan itu begitu kuat. Rasanya, senang berseragam rapi dan tiap hari ke kantor. Tidak lagi berkubang dengan tanah dan lumpur.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” adzan Dzuhur yang berkumandang dari mushalla menyadarkanku dari lamunan. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, membiarkan lamunan pergi sesuka hatinya. Hatiku sudah mantap. Esok aku akan mendaki gunung Lawu kembali. Kali ini tidak sampai jauh menembus ke puncak. Cukup di kaki gunung saja. Tepatnya di pertapaan Pringgondani.

Berbekal dengan sedikit makanan untuk satu dua hari, aku idzin kepada orangtuaku. Seperti biasanya, bapak dan ibu tidak mencegahku mendaki gunung. Mereka hanya berpesan, agar aku lebih berhati-hati.

Aku mendaki dari Grojogan Sewu, menyusuri jalanan setapak yang membawaku ke pertapaan. Sunyi, hening. Hanya kicauan burung dan binatang hutan yang menemani Perialananku. Tiga jam lamanya, kususuri jalanan yang sesekali berlumpur itu. Menyibak perdu yang kadang menghalangi jalan. Kubiarkan duri-duri kecil menyapa lengan, meninggalkan goresan merah di kulit. Hingga akhirnya aku sampai di pertapaan Pringgondani.

Sebuah hamparan tanah lapang. Di sana, berdiri kokoh bangunan pendopo tua. Dikelilingi jajaran pohon pinus. Aku melemaskan otot dengan bersimpuh di atas tanah. Ternyata aku tidak sendirian di tempat itu. Ada sepuluhan orang lain yang juga menjejaki pertapaan Pringgondani. Siang itu, aku hanya berdiam diri di pendopo seluas tiga kali empat meter itu. Aku berbagi tempat dengan para pendaki lainnya.

Malam harinya aku menginap di sana. Karena aku masih ingin menikmati suasana pegunungan yang damai. Jauh dari suasana kebisingan. Meski ada sepuluhan orang di sana, tapi masing-masing tahu diri. Tidak ada yang mengganggu ketenangan. Ada yang duduk bersila dengan tasbih di tangan. Ada juga yang mengelilingi api unggun.

Aku memilih tetap berada di dalam pendopo. Aku ingat bahwa tempat ini memang diyakini sebagai tempat yang mustajab. Artinya, kebanyakan orang yang datang ke sini, rata-rata mencari keberkahan dari pertapaan Pringgondani ini. Saat itu, aku masih sependapat dengan pandangan masyarakat secara umum. Karena itulah, aku memanfaatkan waktu-waktu malam untuk berdoa kepada Allah. Aku memohon, agar dimudahkan mendapat pekerjaan. Secara khusus aku memang berharap ingin menjadi pegawai negeri. “Ya Allah, kalau nanti aku menjadi pegawai negeri, aku akan potong kambing.”

Aku memperkuat doa di malam itu dengan, bernadzar. Aku akan menyembelih kambing, sebagai tanda sukur bila keinginanku itu terkabul.

Merantau ke Jakarta

Sepulang dari pertapaan Pringgondani, aku merantau ke Jakarta berbekal Ijazah SMA dan keyakinan di dada. Aku yakin peluang kerja di Jakarta lebih luas daripada di daerah. Walau tidak mudah, tapi aku yakin peluang itu masih ada. Mungkin ada yang berpendapat, aku nekat. Karena hanya bermodalkan keyakinan pada keagungan Allah.

Hari-hari pertama, aku memang sempat kebingungan, kemana harus melangkah. Tapi aku tidak mau menyerah. Aku bertanya kepada orang-orang yang kutemui, apakah ada yang membutuhkan tenaga. Berkali-kali aku ditolak, tapi tidak membuat nyaliku menciut. Aku tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang dalam kesulitan.

Bagiku saat itu kerja apa saja, tidak masalah. Yang penting halal. Puluhan orang yang sudah kutanya, rata-rata jawaban mereka sama. “Tidak ada lowongan keria, dik.” Hingga aku sampai di sebuah rumah yang lumayan bagus. Aku berharap pemilik rumah itu sedang membutuhkan tenaga kerja.

Allah mengabulkan permintaanku. Aku dipertemukan dengan keluarga seorang pejabat tinggi pemerintahan. Pak Surya namanya. Kebetulan ia sedang menjalani dinas pendidikan. Aku diminta untuk menjaga rumahnya. Dua bulan lamanya, kujalani profesi penjaga rumah yang tak ubahnya seperti seorang satpam. Posturku yang mendukung serta bekal pengalaman sabuk hijau di salah satu perguruan beladiri membuat Pak Surya senang dengan dedikasiku. La pun menawariku mengikuti seleksi pegawai negeri. Dan aku pun diterima.

Dalam hitungan bulan, cita-cita untuk menjadi pegawai negeri itu pun terkabul. Saat itu, aku masih ingat nadzar yang kuucapkan saat di pertapaan Pringgondani. Aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk menyembelih kambing. Hanya saja, nadiar itu belum bisa aku tunaikan, karena keterbatasan dana yang kumiliki. Meminta dana ke orangtua juga tidak mungkin. Alhasil, aku berpikir, ah nanti saja potong kambingnya, kalau uang sudah terkumpul.

Menunda-nunda Pelaksanaan Nadzar

Waktu terus merambat.  Aku lupa akan janji di pertapaan Pringgondani. Masalah nadzar kambing sudah, hilang dari ingatanku. Terdepak oleh rutinitas kerja yang menyita waktu dan perhatian. Dari yang semula membujang, hingga menikah pada tahun 1992, nadzar itu tetap belum aku laksanakan. Sesekali memang terlintas dalam benakku, bahwa aku pernah bernadzar tapi ingatan itu kemudian kutepis sendiri, ‘ah nanti sajalah  kalau sudah pensiun’.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan tenang bersama istriku sebelum akhirnya pindah ke rumah kontrakan di Jakarta Timur. Rumah yang kutempati itu, kata tetangga, memang angker. Letaknya saja berdampingan dengan kuburan Cina.

Merinding juga mendengarkan cerita mereka. Tapi Pilihanku saat itu tetap mengontrak di sana. Selain ongkos sewanya yang agak miring, kontrakan itu juga lebih dekat dengan tempat keria. Aku sadar bahwa pilihan ini memang mengandung resiko. Bila kemudian, aku mengalami peristiwa yang berbau mistis, maka itu adalah konsekuensi yang kusadari sejak awal. Nyaris tiap malam, selama dua tahun, selalu ada gangguan. Seringkali aku melihat penampakan sosok tinggi berkulit hitam. Makhluk itu ingin menguasaiku, tapi selalu berhasil kukalahkan.

Seuatu saat, ada penampakan yang menyerupai istriku. Dalam pandanganku makhluk itu persis seperti dirinya. Wajahnya, bentuk rambutnya tidak berbeda. Pakaian yang dikenakannya pu sama. Bagai pinang dibelah dua. Keduanya di pinggir ranjang. Bedanya, satu dari kedua wanita itu menyusui anakku. ltu yang membuatku yakin bahwa yang hanya memandangiku dan anakku secara bergantian itu hanyalah penampakan dari jin.

Kuusap mataku berulang-ulang. Tapi kedua wanita itu tetap di tempatnya. Awalnya, aku khawatir bila itu hanya halusinasi semata. Kucubit lenganku, ternyata aku tidak juga bermimpi. lni nyata. Aku yakin satu di antara mereka ada yang penjelmaan jin. Karena itulah kudekati pelan-pelan wanita yang tidak menyusui anakku. Dan, … bag-bug, bag-bug … kulayangkan tangan menghantam wanita itu. “Mas, Mas, ada apa Mas …” teriak wanita yang menyusui anakku. Ia terkejut melihat apa yang kulakukan, karena ia memang tidak melihat wanita selain dirinya. Aku hanya memukul tempat kosong, tapi dalam benakku aku memukul penjelmaan jin yang langsung menghilang.

“Mas, ada apa Mas?” Tanya istriku lagi. Sedari tadi aku belum menjawab pertanyaannya. “Ada yang menyerupai adik,” jawabku. “Kupukul saja biar dia tidak berani mengganggu lagi.”

Kuceritakan apa bang baru saja kulihat serta penampakan-penampakan lainnya di dalam rumah ini. lstriku hanya mengangguk pelan. la percaya, bila ada yang menyerupai dirinya. Sebab pengalaman di rumah kontrakan itu telah menyadarkan kami bahwa dunia jin memang nyata. Mereka juga sering menampakkan diri dalam bentuk yang bermacam-macam.

Meski demikian, aku bersyukur. Kedua anakku tidak mengalami kejadian yang aneh. Selama ini mereka hidup tenang, seperti anak-anak tetangga. Selain dari gangguan di rumah kontrakan itu, selama ini aku tidak merasakan adanya keanehan lain. Di kantor atau dimanapun aku bertugas. Lantaran itu aku mengambil kesimpulan bahwa rumah kontrakan itu yang angker. Bukan diriku. Logikanya, siapapun yang menempati rumah itu kemungkinan besar akan melihat berbagai penampakan jin.

Ditagih Jin Pertapaan Pringgondani

Tahun 2005, aku ditugaskan ke Bekasi. Kuajak sitri serta kedua anakku. Disanalah, kemudian aku membangun rumah. Usiaku sudah semakin senja, tidak bijaksana bila bolak-balik pindah kontrakan. Setahun setelah menempati rumah baru, ada orang pintar yang menawarkan jasa untuk memagari rumah dari gangguan makhluk halus. Usianya sudah separuh baya dengan gaya bicara yang menarik. Ia mengungkapkan kelebihan-kelebihan ghaibnya.

Setelah berpikir sejenak kupersilahkan orang pintar itu membuktikan ucapannya. Karena aku tidak ingin pengalaman di rumah kontrakan dulu terulang di rumah sendiri. Tiga paku emas dipasang di atas pintu, sementara apel jin dan beberapa sesajen lain ditanam di halaman rumah. Setelah pemagaran rumah itu, aku merasakan ada yang berubah. Nuansanya tidak sesejuk dulu. Perselisihan kecil dalam rumah tangga mulai muncul serta dagangan yang biasa laris, mulai menyusut pelanggannya.

Empat hari setelah Idul Fitri, aku sakit. Suhu badanku menembus 40 derajat celcius. Waktu itu aku berpikir, karena kecapekan saja. Menjelang lebaran kemarin, banyak tugas kantor yang harus diselesaiakan.

Waktu itu aku berobat ke dokter. Namun, kata dokter, tidak ada penyakit berat yang menimpaku. Itu hanya panas biasa. Hatiku tenang mendengar hasil diagnose dokter tersebut. Tapi ketika suhu badan itu tidak jiga turun meski telah berlangsung seminggu, aku mulai khawatir. Siang malam, aku gelisah. Aku seperti orang yang kebingungan. Duduk menetap tiga menit saja, sudah tidak betah. Pindah sini. Pindah sana. Suhu badanku tetap dalam kisaran empat puluhan. Tiap hari aku harus bolak-balik gabnti baju yang basah oleh keringat.

Memasuki hari kesepuluh, mulai terlihat kejanggalan. Aku tidak bisa tidur. Bila hanya karena panas, mungkin hal serupa juga dialami orang lain. Aku tidak kuasa memejamkan mata, karena setiap memejamkan mata, aku melihat berpuluh-puluh binatang hendak menyerangku.

Saat terpejam itu, aku melihat terowongan panjang. Terowongan itu jauh menembus ke hutan. Tepatnya ke pertapaan Pringgondani. Lewat terowongan itulah berpuluh-puluh binatang rebutan masuk ke dalam diriku. Aku terkesima. Spontan kuteriakkan takbir untuk menangkan diri. Kekuatannya sungguh mencengangkan. Seketika binatang-binatang itu terhenti menghilang, sebelum akhirnya aku terbangun dengan geragapan.

Aku teringat film Jumanji yang beberapa saat lalu diputar di salah satu TY swasta. Visualisasinya tidak jauh berbeda denga yang kualami. Berpuluh-puluh binatang itu mendatangi rumahku. Ada gajah, harimau, anjing, kera dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya aku yang melihat semua bintang itu. Istri dan anak-anakku tidak merasakan kehadiran mereka. Dalam pandanganku, binatang-binatang itu tidak pergi. Mereka masih berada di sekeliling rumahku. Ada yang di pohon cery di halaman rumah, ada pula yang memilih runpun bambu di samping rumah, sebagai tempat pengintaian.

Bila menemukan celah, mereka akan masuk ke dalam diriku. Pintu terbuka sedikit saja, angin kencang menerobos ke dalam. Selanjutnya angin itu merambat dari kaki dan menjalar ke seluruh tubuh.

lni adalah pertanda kehadiran makhluk tak diundang itu. Bila sudah demikian, aku biasa menjerit. Terkadang sampai, bergulingan di tanah. Beberapa tetangga yang mendengar keributan di dalam rumah itu pun berdatangan. Mereka meringkus dan berusaha menyadarkanku. Anehnya begitu ada yang mendekat, tangan dan kakiku langsung menghadang mereka tanpa dapat kukendalikan.

Sewaktu bergulingan di tanah itu, tiba-tiba saja aku teringat, dengan nadzarku dulu di pertapaan Pringgondani. Sampai terucap di dalam hati. “Ya Allah, aku sanggup melaksanakan janjiku. Aku akan potong kambing ya Allah. Kumohon hentikan siksaan ini.” Setelah mengucapkan kesanggupan itu di dalam hati, perlahan siksaan mulai mereda. Aku mulai bisa menguasai diri. Tapi binatang-binatang itu tidak pergi, Mereka tinggal di pohon ceri dan bambu untuk menunggu pelaksanaan nadzar.

Keesokan harinya, ada angin kencang menerpa rumahku. lstriku juga merasakan angin itu. Anginnya kencang sekali. lstriku sampai tidak berani membuka pintu depan. Tapi anehnya, tidak ada dedaunan yang rontok. Beberapa saat berikutnya, aku kembali bergulingan di tanah. Saat itu, kondisiku semakin parah. Kata tetangga, aku sudah setengah mati. Aku terus bergulingan di lantai. Katanya, ada beberapa orang yang mencoba menyadarkanku, tapi mereka tidak berhasil. Akhirnya, ada yang menyarankan keluargaku untuk membawaku ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Cikarang untuk mehjalanlani terapi ruqyah.

Aku pun dibawa ke cabang Cikarang dalam keadaan masih belum sadarkan diri. Di sana, aku diterapi Ustadz Arif. Empat orang yang memegangku terpental. Aku bahkan memukul dan menendang mereka. Katanya, bila punggungku menyentuh lantai, maka badankuberputar seperti gasing.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama diruqyah ustadz Arif, badanku melemas. Kekuatan yang merasuk ke dalam diriku, semakin mengendurkan cengkeramannya hingga aku tersadar kembali. Perlahan, satu persatu jin yang menasuk ke dalam diriku itu keluar. Aku bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang merambat di badan lalu keluar melalui nafas. Selanjutnya di mana saya merasakan panas, disitulah dipegang Ustadz Arif sambil dibacakan ayat al-Qur’an. Dan jin pun keluar lagi.

Sehari setelah ruqyah itu, aku segera memenuhi nadzarku. Aku menyembelih dua ekor kambing.  Dagingnya dibagikan kepada warga sekitar. Uangnya memang tidak milikku semua. Ada tiga ratusan ribu yang masih pinjam teman. Waktu itu aku berpikir tak apalah nanti juga akan aku ganti.

Memang setelah penyembelihan kambing itu badanku berangsur membaik. Tapi bukan berarti sudah terbebas sama sekali. Justru setelah pemotongan kambing itu, jin-jin yang telah dikeluarkan saat ruqyah berusaha masuk kembali. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menguasai diriku. Ketika shalat misalnya, jin-jin itu selalu mengganggu konsentrasiku. Aku dibuatnya sulit membaca. Dan bila melakukan kesalahan, maka badanku langsung panas. Sesekali seperti ada kekuatan yang mendorong tubuhku saat shalat. Tapi semua itu tidak membuatku surut ke belakang.

Aku semakin memperbanyak ibadah. Tiap malam, aku terus melaksanakan shalat tahajud. Siang malam, aku juga selalu berdzikir. Semua itu kulakukan untuk memperlemah gangguan yang menerpaku ini. Tidak mungkin aku bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan masalahku. Pertemuanku dengan Ustadz Arif misalnya, tidak bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itulah aku harus bisa membentengi diriku sendiri. Tentunya, dengan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan membaca al-Qur’an.

Siang malam, saya selalu membaca doa, sambil membawa tasbih. Sebelum tidur, selalu membaca do’a. Kalau tidak begitu, saya diganggu. Badan kesemutan seperti digerumuti semut. Saya bacakan astaghfirullahal ‘adhiim, jin itu keluar.

Suatu malam, aku merasakan kembali kehadiran binatang-binatang. Ada dua anjing yang masuk ke kamar mandi. Seketika, aku teringat bahwa aku masih punya hutang tiga ratus yang kupakai untuk membeli kambing. Aku katakan, “Aku akan membayar tiga ratus ribu itu. Jangan tunggu di dalam rumah. Keluar sana.” Akhirnya dua ekor anjing itu pun kulihat keluar dari kamar mandi. la menunggu di pohon ceri.

Keesokan harinya, aku membayar hutang tiga ratus ribu kepada temanku. Ia orang kaya. Tiga ratus ribu itu tidaklah seberapa. Karena itu begitu aku ceritakan apa yang terjadi, uang tiga ratus ribu itu diserahkan kembali kepadaku. “Uangnya saya terima. Mudah-mudahan Allah mengizinkan dan bapak tidak dapat gangguan lagi. Bapak tidak punya hutang lagi sama saya,” katanya. Uang itu kemudian diberikan kembali kepada anakku. Katanya uang itu sudah diterimanya, mau diberikan kepada siapa saja terserah dia.

Setelah aku membayar hutangku, alhamdulillah aku tidak lagi mendapat gangguan. Semoga dengan terbebasnya diriku dari nadzar dan segala hal yang bersangkutan dengannya, gangguan yang telah menderaku dua bulan ini hilang untuk selamanya. Aku kembali menapak hidup ini dengan tenang.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Empat Anakku Disihir Dukun Sebelah Rumahku

Hati-hatilah dengan tetangga. Itulah pesan singkat yang ingin disampaikan pada kesaksian ini. Kisah seorang ibu yang harus merelakan keluarganya hidup dalam ketidaktenangan. Hanya karena masalah sepele. Ia meminta buah alpukat yang menjulur ke rumahnya. Tapi apa yang terjadi? Sungguh di luar perkiraan. Ia dan keluarganya hidup dalam ketidaktenangan. Ibu Rifda menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.

Palembang, September 1985

Ahad malam, bulan purnama menggantung di ufuk langit. Temaram cahayanya berpadu dengan gemerlap bintang yang menerangi halaman rumahku. Tepat di depan beranda, tempat di mana aku duduk bersama suami, kakak iparku dan istrinya. Ditemani gorengan singkong dan secangkir kopi. Semilir angin malam menggoyang dedaunan di halaman. Udara sejuk pun mengalir ke pori-pori. Ditingkahi suara binatang malam, yang menggelitik telinga.

Sejuk. Damai. Tak jauh berbeda dengan malam-malam di perkampungan lain. Pikiran kami menerawang ke beberapa tahun lalu, saat kakak ipar masih tinggal sekota. Kak Leo, namanya. Ada nuansa kehangatan terpancar dari raut muka Kak Leo, yang banyak bercerita seputar kegiatanya di kota sebelah.

Jarum jam menunjuk angka Sembilan, Mas Eko, suamiku mempersilahkan Kak Leo untuk istirahat. Sudah beberapa kali, ia menguap. Suatu isarat bahwa ia butuh merebahkan badanya yang seharian digoncang bis antar kota.

Malam terus merambat. Aku dan Mas Eko pun ke kamar. Anak-anak juga sudah di kamar masing-masing. Kupejamkan mata seperti biasanya. Tak ada yang aneh malam itu. Bagiku, masih seperti malam-malam yang lain.

Hingga kami sekeluarga dikejutkan suara minta tolong. “Tolong. Tolooong.” Suara nyaring terdengar dari kamar sebelah. Tepat dari kamar Kak Leo dan istrinya. Aku terperanjat. Demikian pula dengan Mas Eko. Raut mukanya menyiratkan tanda Tanya.

Setengah berlari, aku dan Mas Eko keluar kamar. Demikian pula dengan anak-anak. Mereka serentak menyerbu ke sumber suara. Kamar Kak Leo dan istrinya. Ia terduduk lemas. Wajahnya sendu. “Aku dicekik makhluk berbadan tinggi besar. Rambutnya merah,” katanya menceritakan apa yang terjadi dengan terbata-bata.

“Tidak apa-apa. Mbak hanya mengigau. Jangan terlalu dipikirkan ya,” kata Mas Eko menenangkan. Kusodorkan segelas air putih. Hal yang sama kuulangi kembali, bahwa di rumah ini tidak ada apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Ini hanya masalah kecil dan tidak perl u dicemaskan. Tapi istrinya Kak Leo tetap ketakutan. Ia yakin bahwa yang dialaminya itu bukan mimpi. Ia merasakan sosok makhluk menyeramkan itu memang ada. Itu bukan mimpi.

Malam itu pun, mereka tidak berani tidur di kamar. Mereka keluarkan kasur dan selimut lalu menggelarnya di ruang tengah.

Peristiwa Ahad malam itu, membuka cakrawala kami. Selama ini aku dan Mas Eko tidak percaya saat anak-anak menceritakan keanehan yang ada di rumah ini. Andi misalnya. Anak pertamaku itu pernah becerita bahwa ia mendengar suara terompah di belakang rumah. Seperti ada orang yang lewat. Tapi siapa? Ketika Andi menengok ke belakang, katanya, ia tidak melihat seorang pun di sana.

Lain pula cerita Dina, anak keduaku, katanya ia pernah melihat sosok bayangan berkelebat si samping rumah, tapi ia juga tidak tahu siapa mereka. Anak-anakku sering mengatakan ini dan itu. Masalahnya, aku dan Mas Eko, sama sekali tidak pernah melihat apa yang mereka saksikan atau mendengar suara tanpa wujud itu.

Selama ini, aku selalu mengatakan bahwa di rumah ini tidak ada yang aneh. Sehingga ketika ada anak-anak yang bercerita macam-macam, kami sering mengatakan, bahwa itu karena mereka tidak membca doa sebelum tidur atau suka melamun.

Bergerilya Mencari Dukun

Kusisir permalahan keluarga ini satu persatu. Kian hari masalah demi masalah mulai bermunculan. Keluarga enam anak ini memang tidak lagi seharmonis dulu. Selama ini, kami hidup tenang. Tak ada riak yang mengusik ketenangan.

Sampai ketika anak-anak sudah mulai mandiri, masalah itu datang silih bergantii. Sejak anak pertamaku diterima di AKABRI lalu anak kedua menikah dengan dokter, aku merasakan rumah tangga ini tak lagi senyaman dulu.

Aku dan Mas Eko mengambil kesimpulan, bahwa memang ada yang tidak beres di rumah ini. Ada yang harus diselesaikan. Tapi bagaimana caranya? Ketika kami tanyakan masalah ini kepada teman-taman, rata-rata mereka menyarankan kami pergi ke dukun.

Kebetulan, tetangga sebelah rumah dikenal sebagai dukun. Satu dua pasiennya, juga terlihat datang ke rumahnya, tapi untuk meminta bantuannya mengusir gangguan di rumahku, aku tidak mau.

Aku merasa kurang cocok dengan gaya perdukunannya, karena menurut informasi yang kudengar, penangananya mengarah ke asusila. Aku tidak mau terlibat terlalu jauh dengan gaya perdukunan seperti ini, karena aku juga memiliki tiga anak perempuan.

Andi yang pernah bertugas ke Kalimantan, menyodorkan nama seorang dukun dari Cianjur, Jawa Barat. Namanya Ki Krina. Ia yakin dengan kesaktian Ki Krina. Sebab ia pernah diberi golok sakti sebelum berangkat ke Kalimantan.

Suatu hari, sesuai dengan kesepakatan, Ki Krina datang ke Palembang. Kami mengundangnya untuk mengusir gangguan jin yang menyelimuti keluargaku. Lazimnya seorang dukun, Ki Krina juga meminta disediakan sesajen. Ada ayan hitam, bunga tujuh rupa dan kemenyan. Ia juga minta disediakan air dalam jerigen. Ki Krina menyembelih aya dan menampung darahnya ke dalam jerigen berisi air 20 liter.

Air dalam jerigen itu berubab merah. Andi kemudian disuruh membawa jerigen ke lantai dua. Tak lama kemudian, tembok-tembok rumah beganti warna. Dinding yang berwarna putih bersih itu memerah. Ki Krina menyemprot-nyemprotkan air bercampur darah sambil membaca al-Qur’an. Waktu itu yang dibaca adalah surat al-jin. Tembok-tembok rumah itu, berubah warna semuanya. Sampai anak saya yang kelima protes setelah Ki Krina pergi. “Mama, katanya ini pengobatan. Dilihat dari caranya saja sudah merusak,” kata anakku. “Coba lihat ini, semuanya berlumuran darah.”

“Sudahlah,” saya bilang. “Kalau tidak diobati, kita bagimana? Saya pun tidak tahu. Kata dia memang bagus.” Saya menerangkan sbisanya agar anak kelima saya itu tidak marah. Waktu itu, saya beranggapan bahwa pergi atau mengundang dukun itu adalah bagian dari usaha. Apalagi dukun yang diundang juga membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Meski sudah mendatangkan dukun dari Cianjur, tetap saja suasana rumah tangga tidak berubah. Perkembangan anak-anak justru makin mengkhawatirkan. Anak kedua yang menikah dengan dokter, malam-malam menelpon dari Medan. “Mama, mama aku mau cerai,” katanya.

Saya menangis. Saya tahu bahwa suaminya itu alim. Suaminya itu baik sifatnya, tapi mengapa sekarang menjadi begini. Mereka sudah dikaruniai tiga orang anak. Mengapa masalah yang muncul itu harus diselesaikan dengan cara-cara kekerasan seperti itu. Saya membuka ruang pertanyaan, tapi belum ada jawaban. Semuanya masih gelap.

Akhirnya, saya terjerembab semakin jauh. Saya berganti-ganti dukun. Entah sudah berapa banyak dukun yang datang ke rumah, atau kami yang ke sana. Dimana ada dukun yang katanya bagus, kesanalah kami pergi. Ada yang menyuruh memasang emas di lantai atas, ada yang menyuruh mengubur bebek di pekarangan rumah, ada pula yang member berbagai bentuk jimat dan isim. Semua keinginan mereka itukami penuhi. Tapi masalah yang kami hadapi tidak kunjung berakhir. Masalah demi masalah terus datang beruntun.

Meninggalkan Perdukunan Setelah Berhaji

Tahun 2001, saya dan Mas Eko berangkat haji. Di sanalah, di tempat yang penuh dengan keberkahan itu, tak henti-hentinya saya berdoa. Saya menangis di hadapan-Nya. Sudah belasan tahun, rumah tanggaku centang perenang. Sudah bertahun-tahun, aku meminta jasa perdukunan. “Ya Allah, ya Tuhanku, apa yang terjadi di tengah rumah tangga kami hingga anak-anak kami tidak ada yang akur? Ya Allah, kami minta petunjuk-Mu.”

Sepulang dari pelaksanaan ibadah haji itu, hati kami mulai terbuka. Kami sadar, bahwa selama ini telah menempuh langkah yang salah. Kesadaran itu bermula, ketika kami mendapatkan kaset seputar perdukunan. Dari sini, kamu tahu bahwa yang kami lakukan itu salah.

Sejak itu, kami tidak pernah mengundang dukun atau datang ke dukun. Cukup sudah kemusyrikan yang kami lakukan saat itu. Meski tidak berarti gangguan di dalam rumah tanggaku berakhir. Sebaliknya, ujian yang kami rasakan semakin berat. Karena rumahku, telah menjadi sarang jin. Sekian banyak dukun itu meninggalkan jimat, isim atau benda-benda lainnya yang tidak lepas dari permintaan bantuan kepada jin. Tidaklah mengherankan bila masalah demi masalah terus mendera rumah tangga ini.

Kondisi rumah tangga semakin tidak kondusif. Mas Eko mulai muadah marah, anak ketiga malas, sementara anak yang keenam juga bertingkah aneh. Ia sering melamun. Diajak komunikasi pun terkadang tidak nyambung.

Di tengah kegalauan itu, Allah memberikan secercah harapan. Kala kami sekeluarga menonton sinetron Astaghfirullah di salah satu TV swasta. Kami sadar bahwa ketidakberesan di rumah ini karena unsure Xnya, tapi setelah tidak lagi berhubungan dengan dukun, kami tidak tahu usaha apa lagi yang bisa kami lakukan selain berdoa. Dengan adanya sinetron Astaghfirullah, muncul harapan baru. Akhirnya, rapat keluarga pun memutuskan untuk mengikuti terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.

Menantu, cucu dan anak saya yang keenam, Riska, ketiganya mengikuti terapi ruqyah. Saat dibacakan ayat-ayat al-Qur’an katiganya bereaksi keras. Saya sampai menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Sementara suami saya tidak ada dalam ruangan. Yang bisa kulakukan hanya bergantian memegangi ketiganya, dengan hari yang hancur.

Ruqyah di Jakarta itu mulai membuka mata hati kami, bahwa ada solusi yang Islami atas masalah yang kami hadapi. Masalahnya, tempat ruqyah itu jauh dari tempat tinggal kami. Sementara setitik harapan mulai terpancar saat ruqyah pertama itu, maka kami mengambil keputusan untuk mengundang tim ruqyah Majalah Ghoib ke Palembang. Kebetulan yang dikirim waktu itu Ustadz Endang dan Ustadz Slamet.

Tim Ruqyah Majalah Ghoib, tidak membawa benda apapun yang dipakai sebagai jimat atau penangkal bala’. Sangat berbeda dengan dukun-dukun yang saya undang sebelumnya. Mereka justru memusnahkan semua jimat, isim atau benda-benda peninggalan dukun lainya. Termasuk parang  dari Ki Krina.

Saat pembakaran parang itu, entah bagaimana caranya, Ki Krina dapat mendeteksinya. Ia menelpon dari Cianjur. Menurut Andi yang mengangkat telpon, katanya, KI Krina meminta agar parang yang telah dibakar itu dikembalikan. Tapi Andi dengan tegas mengatakan bahwa parang itu sudah dibakar. Ia sudah tidak membutuhkannya dan tidak akan mengirimnya ke Cianjur.

Ki Krina tidak terima parangnya dibakar. Maka keesokan malamny, ia menyerang Ustadz Endang dan Ustadz Slamet yang sedang meruqyah. Ia mengirim jin dari Cianjur. Riska yang sedang kerasaukan jin, saat itu melihat parang berkelebatan. Tak ada tangan yang menggerakkan, tapi parang itu terbang dengan sendirinya. Apa yang disaksikan Riska itu seperti film saja. Sulit bagi orang yang tidak beriman kepda yang ghaib untuk mempercayai cerita ini. Mungkin mereka menganggap itu cerita fiktif semata.

Parang Ki Krina mengitari Ustadz Slamet dan Ustadz Endang yang telah membakarnya. Parang itu terus berputar, berkelebatan kesana-kemari. Sementara mereka berdua, tetap khusyu’ membaca ayat-ayat al-Qur’an. Setelah sekian kali berputar-putar, parang itu pun meluncur dengan deras menuju ustadz Endang. Riska yang menyaksikan kelebatan parang itu tidak tinggal diam. Ia kibaskan tangannya menagkis parang. Parang pun terpental lalu menghilang. Beberapa saat kemudian, Riska, katanya melihat jin hitam bertanduk yang menempel di leher Ustadz Endang.

Suasana malam itu semakin mencekam. Selain parang yang hanya dilihat Riska, orang-orang yang berkumpul di rumahku menyaksikan keanehan lainnya. Mereka menjadi saksi mata atas perang yang terjadi di malam aitu.

Menantuku bertingkah aneh saat ke kamar belakang. Ia melompati beberapa orang yang berada di dekat pintu, seperti terbang. Ia berteriak, “Ada yang mau menyerang. Ada yang menyerang.” Katanya sambil berlari.

Perubahan perilaku itu mengejutkan semua orang. Tidak ada yang menduga bila kemudian, menantuku berontak sedemikian rupa. Akhirnya mereka mengambil tindakan cepat. Menantuku ditangkap ramai-ramai, sebelum kahirnya sadar kembali.

Beberapa tetangga ada yang melihat kejadian aneh di malam itu. Ada yang bercerita, bahwa mereka melihat bola api berterbangan di atas rumahku. Anehnya, bola apai itu hilang sebelum menyentuh atap rumahku.

Empat Anakku Menjadi Korban Sihir

Dengan ruqyah itu terbongkar semua permasalahan yang terjadi selama ini. Gangguan demi gangguan yang terjadi sejak tahun 80 an memang disengaja. Menurut pengakuan jin, yang melakukan itu adalah Sirpan. Seorang dukun yang masih tetangga sendiri. Padahal selama ini, kami sekeluarga tidak pernah bermusuhan dengan mereka. Kami tidak pernah menyakiti keluarganya.

Kalaupun ada persinggunganku dengan dukun Sirpan, maka itu hanyalah masalah sepele. Dulu, dua puluh tahunan yang lalu, saya pernah meminta agar buah alpukat yang menjulur ke pekaranganku itu dibiarkan saja. Itu pun tidak semua. Saya hanya minta beberapa buah yang mudah dijangkau. Saya memintanya dengan terus terang.

Itulah mengapa ketika buah alpukat itu mau dipetik, saya beranikan diri melarang, pemetik buah agar membiarkan beberapa alpukat yang bergelantungan ke pekarangan rumahku. Memang, kuakui saya sempat bicara sedikit keras kepadanya, karena di tidak mengindahkan perkataanku.

Rupanya, pemetik buah itu mengadu kepada Pak Sirpan. Entah apa yang dikatakannya, hingga Pak Sirpan naik darah. Hal itu saya ketahui dari istrinya yang menemuiku sepeninggal kepergian pemetik buah.

Maslah buah itu adalah masalah yang sepele. Sangat tidak sepadan dengan apa yang kualami. Empat anakku, terkena gangguan jin. Semua jin yang merasuk ke tubuh mereka, mengaku dikirim Dukun Sirpan yang kini telah meninggal.

Riska misalnya, ia mengalami gangguan sejak umur tujuh tahun. Saya tidak mengerti, mengapoa anak yang masih polo situ juga harus menanggung penderitaan sedemikian panjang.

Sejak kena gangguan hingga diruqyah, Riska merasa tidak berbahagia. Bagaimana tidak miris hati ini mendengar pengakuannya, kalau untu memeluk ibunya sendiri, Riska merasa tidak mampu. Ia merasakan ada dinding yang membatasi dirinya dengan diriku, sebagai orangtuanya. Dinding pembatas yang diciptakan oleh jin kiriman dukun.

Dina, anak kedua yang menikah dengan dokter juga tidak kalah parahnya. Jin yang merasuk ke dalam dirinya itu mengaku bila inging mengahncurkan keharmonisan rumah tangganya. Hingga maslah sepele yang seharusnya ditanggapi dengan kepala dingin, sudah membiatnya naik pitam. Tak tanggung-tanggung, Dina minta cerai. Suatu saat, ia bahkan dusah menggenggam pisau di tangan. Hanya satu tujuannya. Ia ingin menghabisi nyawa suaminya sendiri. Matanya sudah dibutakan oleh jin. Hatinya sudah tidak bisa lagi menimbang, mana yang benar dan tidak. Semua itu karena pengaruh jin. Saya bersyukur, Allah masih melindungi keluarga mereka.

Alhamdulillah, ia menikah dengan seorang dokter yang alim. Seorang dokter yang tidak mentang-mentang, bahwa tanpa istrinya, ia dengan mudah menyunting wanita lain. Hingga biduk rumah tangga imasih selamat hingga kini.

Anak yang ketiga juga mendapat gangguan. Maksudnya itu mau dibuat bodoh. Karena itulah dia tidak mau sekolah. Disuruh kursus pun tidak mau. Inginya hanya berdiam diri di rumah. Katanya badanya itu lemas. Pembawaanya itu ingin tidur terus.

Buka berarti dengan tidur itu ia menemukan kedamaian, karena saat tidur pun ia taklepas dari gangguan. Ia sering mimpi buruk dan mengigau dengan nafas terengah-engah. Katanya, ia sedang dikejar oleh makhluk hitam yang menyeramkan.

Hal yang sama terjadi pada Nita, kakaknya Riska. Berbeda dengan ketiga saudaranya, bisa dikatakan Nita terkena gangguan akibat menolak cinta anaknya Pak Sirpan. Ya, cerita ditolak dukun bertindak memang sangat kental. Kepalanya sering sakit, sampai ia nyaris meninggal di malam pernikahannya.

Jam sebelas malam, tiba-tiba ia berteriak. “Ampun … Ampun … “ katanya. Badanya seperti mau diangkat ke kuburan. Tubuh Nita pu kaku. Sudah mulai dingin. Seorang kerabat dari Banten yang saat itu datang ke rumah, mengetahui bahwa Nita sedang dalam pengaruh sihir. Ia pun mengambil segelas air, membacakan beberapa ayat al-Qur’an, secara perlahan Nita sudah mulai sadarkan diri.

Kini setelah melakukan terapi ruqyah secara konsisten dan berkelanjutan serta memutar kaset / cd ruqyah, Alhamdulillah, gangguan demi gangguan itu mulaiberkurang. Sekarang anak saya yang kedua sudah menunaikan ibadah haji. Keluarga mereka juga tidak lagi sepanas dulu. Kalau ada masalah, mereka segera sadar dan berintrospeksi. Anak bungsu saya saya pun sudah menikah. Ia menemukan tambatan hatinya, yang semoga bisa menjaganya dengan baik.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun yang mau mengambil pelajaran. Bahwa tidak semua orang itu bersikap baik kepada kita, meski kita tidak pernah mengusiknya. Karena itu hati-hatilah, jangan sampai menyakiti tetangga.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

HUBUNGI ADMIN