GINCAU Penebar Pesona

JAKARTA, di awal bulan Desember 2007. Seorang gadis berparas cantik, datang menemui Majalah Al-lman ditemani dengan seorang temannya yang mengenakan jilbab rapih. Gadis berusia 22 tahunh itu, sengaja datang menemui majalah Al-lman untuk menyerahkan sebuah benda yang didapatkannya dari seorang dukun beberapa lahun silam.

Pertemuan siang itu sekaligus menjadi ajang curhat sang gadis atas semua tindak tanduknya selama ini. Saya  bekerla sebagai seorang kepala marketing pada sebuah perusahaan yang membuka show room di sebuah Mall di Jakarta. Saya bekerja dengan target-target yang harus saya capai. Pokoknya saya harus bekerja keras, jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal. ujarnya mengawali cerita.

Setelah lulus kuliah, gadis ini tidak mendapatkan kesulitan untuk memperoleh sebuah pekeriaan. Bahkan dalam beberapa tahun saja, ia sudah diangkat menjadi kepala marketing yang membawahi beberapa orang karyawan lainnya. Gadis ini tumbuh dengan gaya hidup yang cukup berkelas. Cafe kelas atas, menjadi tempat nongkrongnya untuk sekadar melepas lelah. Diskotiq sudah menjadi menu wajibnya setiap pecan.

Berbagai mode pakaian dan rambut selalu diikutinya. la ingin menikmati hidup dengan bebas dengan uang yang telah didapatkannya dengan susah payah.

Persaingan pada bisnis yang digelutinya terbilang ketat. Lengah sedikit saja, maka akan hancur. Selain membaca berbagai literature tentang marketing untuk meningkatkan kinerianya. Ternyata gadis ini pun tergiur atas saran seorang temannya agar mendataigi seorang dukun ternama di lndonesia. Oleh dukun itu, saya dibekali benda ini. Katanya untuk menebar pesona kepada siapa pun, sehingga mereka mau membeli produk saya dan mempercayai presentasi yang saya paparkan, tegasnya lagi.

Pada perkembangannya gadis ini berhasil meningkatkan kinerja dirinya. la merasa bangga atas dirinya sendiri, karena segala usaha yang telah dilakukannya itu. Pada sisi lain, saya merasa hidup ini hampa. Semua tempat hiburan berkelas telah saya datangi. Tetapi tidak juga memberi ketenangan pada diri saya. Saya merasa sendiri di tengah pujian banyak orang. Saya merasa tidak punya siapa-siapa, tegasnya dengan nada lirih.

Sampai pada sesuatu saat, ia bertemu dengan seorang rekan bisnisnya yang juga temannya saat kuliah dulu, Nggak tahu Pak, saya sangat percaya dengan teman saya itu. Padahal, kami sudah lama nggak ketemu. Saya banyak mendapatkan pencerahan darinya. Saya pun mulai melaksanakan shalat lagi, setelah melihatnya shalat. Atas sarannya juga saya disuruh menyerahkan benda ini ke sini. Saya sekarang ingin lebih dekat kepada Allah, tegasnya lagi. Gadis berjilbab rapih yang menemaninya menemui Majalah Al-Iman siang itu, ternyata adalah teman kuliahnya dulu. ltulah enaknya kalau kita bergaul dengan orang yang shalihah, ujar Majalah Al-lman kepada sang gadis.

 

BENTUK JIMAT

Jimat ini berbentuk sebuah tipstick (gincu) benwarna merah jambu. Benda ini sebenarnya sama dengan gincu-gincu lainnya yang dijual di berbagai toko. Karena bualan sang dukun lah, benda ini menjadi lebih istimewa.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat gincu ini diyakini bisa menebar pesona kepada siapa pun yang melihat sipemakainya. Sebagai pengganti “mahar” dari jimat ini si gadis harus merogoh kocek Rp 700.000. Sebuah harga yang sangai jauh dengan harga aslinya. Gincu ini sebulan sekali harus dikembalikan ke sang dukun untuk dijampi-jampi. Gombal…dasar dukun temannya syetan.

 

BONGKAR JIMAT

Ya…begitulah dukun. Dengan berbagai cara mengelabui pasiennya untuk meraup keuntungan. Kali ini, benda yang dijadikan jimat adalah sebuah lipstick yang biasanya digunakan untuk menambah kecantikan wanita. Praktik para dukun memang semakin modern. Mereka pun mempergunakan alat-alat yang dianggap teknologi masa kini.

Tidak lagi hanya berbentuk rajah yang lengkap dengan bau minyak Ja’faronnya yang menyengat. Uang Rp 700.000, bukanlah jumlah yang sedikit untuk kita setorkan ke dukun. Hanya akal-akalan saja. Lebih jauh dari itu, jampi-jampi yang dilakukan sang dukun dipastikan ngawur, bukan ber-sumber dari al-Qur’an dan doa-doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Pada hakikatnya apa yang dilakukan sang dukun, tersebut adalah sebuah kemusyrikan yang dilaknat oleh Allah.

Hubbud Dunia (Cinta Dunia). Itulah sebuah judul besar penyakit yang menghinggapi banyak umat hari ini. Eksistensi dunia melebihi eksistensi Allah. Celakanya lagi, bahkan banyak manusia yang sudah merusak fitrahnya sebagai makhluk. Dengan menuhankan dunia. Yang akhirnya harus berurusan dengan dukun yang minta bantuan kepada syetan. Na’udzubillahi mindzalik.

Penyakit cinta dunia dan takut mati memang bukan hari ini saja terjadi. Ini  adalah kisah dan perilaku yang berulang-ulang. Tentu ingat bagaimana Fir’aun (Ramses ll) yang menganggap dirinya Tuhan. Berkuasa penuh atas diri manusia. Tetapi, ketika maut menjemputnya (tatkala ia digulung lautan saat mengejar nabi Musa as), barulah ia bermunajat pada Allah. Sayang, semuanya terlambat. Hanya saja, tubuhnya hingga kini tetap dijaga oleh Allah, sebagai pelajaran bagi umat di kemudian hari.

Bersyukur, sang gadis pemilik jimat ini masih bisa bertaubat untuk memperbaiki diri, sebelum ajal menjemput.

Kisah gadis ini, paling tidak mewakili gambaran para remaja putri (muslimah) yang berada di sekitar kita. Apa sebenarnya yang menjadi kesibukan remaja putri kita saat ini? Mereka lebih disibukkan oleh majalah, foto, trend, model pakaian, serta lagu-lagu yang diperdengarkan. Mereka juga sibuk menonton film, sinetron serta acara reality show yang ditayangkan televisi dan bioskop hampir setiap saat.

Apa sebenarnya yang terkandung dalam film dan sinetron itu? Hanya sebagian kecil sisi kehidupan. Tetapi, itu dipertontonkan terus seakan mewakili realitas semua masyarakat yang ada. Hasilnya, para remaja putri kita berlomba-lomba mencontoh para idolanya, tanpa ada saringan yang jelas.

Maka jangan kaget, kalau ada sebuah data yang menggambarkan bahwa banyak anak gadis kita yang sudah tidak lagi perawan karena terlibat pergaulan bebas, Sungguh mengerikan.

Para orang tua setidaknya harus lebih memperhatikan perkembangan para putrinya yang sedang tumbuh remaja hingga dewasa. Kita tentunya masih mengharapkan lahir kembali dijaman ini, sosok wanita seperti Asma’ binti Abu Bakar yang rela mempertaruhkan dirinya pada bahaya, yaitu dengan mendatangi Rasulullah yang sedang bersembunyi untuk menghindari kejaran orang-orang kafir. Ia  sendiri harus keluar dan mendaki gunung yang tidak mungkin didaki lelaki kuat sekali pun, menghadapi segala kesulitan. Hal itu semata-mata dilakukannya, untuk menjalankan misinya menegakkan agama Allah.

Masih adakah sosok-sosok wanita seperti itu? Setidaknya kita masih bisa berharap kepada sang gadis yang telah kembali kepada jalan Allah ini. Amin.

 

Al-iman bil ghoib edisi: 96/4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN