Jangan Tertipu Lagi, Sihir Bertopeng Karamah

 

 

Sudah banyak korban berjatuhan. Akibat ulah jin dan para kroninya, dukun. Dengan berbagai cara para dukun yang kini telah banyak berganti penampilan itu mengelabui korbannya. Ketika banyak yang tidak percaya dengan masalah mistis yang dihubungkan langsung dengan jin, maka sebagian orang pinter itu merubah strategi menggaet korbannya. Kini banyak yang mengatasnamakan ajaran Islam. Ditonjolkan dzikir dan wirid yang akrab kita dengar. Supaya orang menyangka bahwa ini bukanlah sihir tetapi karamah. Padahal, walau berbeda caranya isinya tetap sama. Tetap saja mereka teken kontrak dengan jin untuk saling membantu.

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita tidak menjadi korban kesyirikan tingkat tinggi itu.

1. Iman Kita, Paling Mahal dalam Hidup Kita

Apapun masalah kita. Apapun problematika hidup kita. Apapun derita yang kini kita alami. Iman adalah sesuatu yang paling mahal dalam hidup kita. Lebih mahal dari kesehatan kita, lebih mulia dari kekayaan dan jabatan kita. Lebih berharga dari fisik kita.

Iman jangan ditukar dengan sekelumit dunia yang akan kita tinggal itu. Tanpa iman seseorang akan bagai tengkorak berjalan. Lebih hina dari binatang. “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al-Araf: 179).

Kalau pun kita sakit parah, jadilah seperti Nabi Ayyub yang tidak pernah menukar imannya dengan sekedar kesembuhan. Sakitnya bertahun lamanya dan iman tetap bertahan. Utsman bin Affan tidak perlu menggunakan jimat ataupun dukun untuk mempertahankan bisnisnya. Ketika beliau dibunuh, istrinya berkata, “Kalian telah membunuh orang yang sangat mencintai Al-Quran dan sholat malam.” Itulah rahasianya. Tidak seorang pun dari kholifah yang empat, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali yang mengejar dan mempertahankan jabatan dengan kesyirikan.

Ini yang harus kita pertebal dalam hati kita. Iman ini harus dipelihara jangan sampai usang dimakan usia atau rusak oleh virus kesyirikan, apalagi hanya ditukar dengan sampah dunia yang hanya membebani kita di dunia dan akhirat kelak.

2. Jangan Cepat Silau dengan Kelebihan Seseorang

Kita telah mengetahui bahwa kelebihan tidak selamanya karamah. Bahkan hari ini sihir lebih banyak bermunculan bak jamur di musim penghujan. Ketika kita membaca atau mendengar atau menyaksikan sendiri suatu keanehan, kedigdayaan dari seseorang, jangan cepat silau. Jangan cepat berkesimpulan bahwa dia adalah orang sakti yang tidak terkalahkan.

Walaupun perdukunan konvensional masih cukup digemari, kini banyak yang beralih ke dukun dengan berpenampilan sebagai ustadz atau kyai. Kita tidak sedang menyalahkan apalagi menghina para ustadz dan kyai kita. Tetapi ini adalah kebenaran yang harus sampai kepada siapa pun. Ini adalah aqidah yang tidak boleh dicemari dan dirusak dengan kesyirikan sekecil apapun.

Kita harus mempunyai filter dan timbangan yang benar. Yaitu syariat Islam. dengan terperinci timbangan itu dinyatakan oleh Syaikhul Islam, “Jika ada yang mempunyai kelebihan maka dia harus ditimbang dengan syariat. Jika dia orang yang istiqomah maka kelebihan itu adalah karamah. Dan jika dia bukan orang yang istiqomah maka itu adalah fitnah, seperti halnya fitnah yang akan dibawa oleh Dajjal berupa kemampuan menghidupkan orang mati dan surga nerakanya. Sesungguhnya orang yang demikian itu, tersesat dan tidak mendapatkan bagian (di akhirat).”

Selanjutnya beliau menjelaskan, “Adapun orang yang berpegang teguh pada syariat Islam yang mulia ini, maka jika dia melihat seseorang dapat terbang di udara atau berjalan di atas air, maka dia mengetahui bahwa hal itu adalah fitnah untuk para hamba.” (Majmu Fatawa 4/16).

Ya, jangan silau dengan kelebihan yang dimiliki siapa pun. Sekali lagi siapa pun. Karena setiap kita bisa salah. Yang terjaga dari dosa hanya Rasulullah. Imam Malik sambil menunjuk makam Nabi berkata, “Setiap kita, pendapatnya mungkin diterima dan mungkin ditolak. Kecuali penghuni makam ini.”

3. Kejarlah istiqomah, bukan karamah

Simaklah pesan Imam Al-Jurjani: “Jadilah pemburu istiqamah dan jangan memburu karomah. Untuk apa Anda memburu karamah padahal Allah menuntut Anda untuk istiqamah.”

Pesan kebenaran telah disampaikan. Allah berfirman: “Maka dari itu serulah (mereka kepada agama) dan istiqamahlah sebagai mana yang diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.” (As-Syura: 15). Kemudian Allah memberi kabar gembira bagi orang yang istiqamah dalam syariatnya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushilat: 30).

Untuk itulah kita diperintahkan untuk mengejar istiqomah dan bukan karamah. Walaupun banyak di antara kita yang ingin sekali mempunyai karamah tersebut. Sebagaimana yang apa dinyatakan oleh Syekh Sahrawardi, “Ahli ijtihad dan ibadah telah mendengar dari salafus sholeh dulu tentang karamah pada dan keanehan-keanehan yang mereka miliki. Kemudian para ahli ijtihad dan ibadah itu kini sangat ingin memilikinya. Sebagian merasa sangat sedih, menuduh bahwa selama ini amalnya tidak benar karena tidak mendapatkan karamah. Padahal kalau saja mereka tahu rahasia masalah ini, tentu tidak mendapatkan karamah sangatlah remeh baginya. Karena karamah terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah taufik untuk menjalankan hal yang dicintai dan diridhoi Allah berupa ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, membela wali Allah dan memusuhi musuh Allah.”

Ya, istiqamah di tengah zaman penuh maksiat ini suatu yang luar biasa. Itulah karamah terbesar. Setiap kita seharusnya terus berusaha agar mempunyai diri yang istiqamah. Karena istiqamah lebih baik dari seribu karamah.

4. Mintalah Perlindungan Kepada Allah

Allah lah yang telah menciptakan semuanya. Kalau jin bisa melihat kita sementara kita tidak melihat mereka, dan mereka menebarkan bahaya sewaktu-waktu, maka jalan terbaik untuk melindungi diri adalah meminta perlindungan kepada yang menciptakan mereka.

Rasulullah telah mengajarkan kepada kita doa-doa perlindungan. Salah satunya seperti yang diajarkan ayat, “Dan katakanlah: Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mukminun: 97-98).

Sebuah ajaran perlindungan yang sempurnya. Agar kita tidak digoda, diganggu dan tergiur dengan iming-iming manis syetan jin dan syetan manusia.

Sudah banyak yang mengorbankan aqidah, harta, diri dan keluarganya demi memenuhi kerakusan dukun dan jin. Dengan kedok karamah, sihir telah berhasil mereka kemas menjadi karamah. Racun itu berlabelkan madu.

 

Ghoib Edisi No. 11 Th. 2/1424 H/2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN