JIMAT PEMBENTENG Si Kecil

 

 

PERTENGAHAN Februari 2007. Seorang lbu muda menemui Majalah Ghoib, untuk berkonsultasi mengenai keanehan yang pernah terjadi pada anak bungsunya, yang kini telah berusia dua tahun lebih. la datang, setelah beberapakali membaca Majalah Ghoib terutama yang berkaitan dengan gangguan jin yang terjadi pada dunia anak. Dengan semangat ia banyak bertanya, sekaligus menceritakan pengalaman pahitnya selama ini. Dalam kunjungannya itu, si lbu menyerahkan sebuah benda yang ia dapatkan dari seorang dukun di daerah Jawa Barat.

Anak saya yang pertama, lahir normal, jelas si lbu membuka cerita. Sebagai seorang wanita, ia merasa sempurna karena telah memberikan suami tercintanya seorang bayiyang sehat dan lucu. Waktu berjalan terus. Anaknya tumbuh sehat dengan dekapan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Mereka hidup bahagia selama hampir dua tahun berjalan.

Kebahagiaan kami mulai terganggu, ketika anak saya berusia 21 bulan. la menjadi anak yang susah diatur. Selalu melawan orangtua. Kalau mau sesuatu harus dituruti, serta sering berbuat kasar terhadap teman-temannya, urai si lbu sambil menunduk.

Setiap hari, si lbu berusaha mendidik sang anak dengan penuh rasa kasih sayang. “Sebagai orang awam, saya memang jarang mengajarkan pendidikan agama kepada anak saya sejak dini,” tambahnya lagi. Si lbu merasakan, bahwa perubahan pada anaknya sudah tidak wajar. la selalu dihantui rasa malu, kepada para tetangga yang anaknya selalu digalaki buah hatinya.

Pusing dengan kondisi seperti itu. Si lbu mulai mencari pengobatan alternatif ke beberapa orang pintar di sekitar Jawa Barat. Hasilnya, si lbu dibekali sebuah benda yang katanya untuk pembenteng bagianaknya. la pun menuruti titah sang dukun. Satu bulan berjalan, tingkah anaknya tidak ada perubahan sama sekali. la makin bingung. Tak mengerti apa yang harus diperbuat. Sementara suaminya larut dengan kesibukan kantor yang seabrek.

Awal Februari, ia mengikuti sebuah pengajian yang diisi oleh seorang ustadz muda. Ia banyak berkonsultasi dengan ustadz itu perihal perilaku anaknya. Sang ustadz bahkan sempat meruqyah anak si lbu beberapa kali. Anaknya banyak mengalami perubahan sikap. Anaknya lebih tenang. Sang Ustadz memberikan beberapa Majalah Ghoib edisi lama dan menyarankan kepada si lbu untuk membawa anaknya menemui Majalah Ghoib.

Karena itulah, pada hari ini saya datang untuk berkonsultasi lebih jauh dan menyerahkan benda-benda yang pernah saya yakini sebagai jimat. Saya ingin anak saya menjadi anak yang shaleh, sebagai penyejuk hati kami,” tegasnya menutup cerita.

 

BENTUK JIMAT

Jimat ini berbentuk seperti sebuah kerang laut berwarna putih. Namun, kerang ini tidak bisa terbuka kedua sisinya, karena hasil duplikat. Kerang ini terbuat dari semen putih. Beratnya sangat ringan.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini diyakini dapat mengusir segala jenis gangguan, terutama dari makhluk jahat yang akan menyerang anak-anak. Jimat ini harus selalu tergantung di leher si anak, dengan dibungkus kain hitam.

 

BONGKAR JIMAT

Sebuah keluarga yang hidup tanpa memiliki momongan, bagaikan sayur tanpa garam. Hambar. Tak enak di makan. Bagi mereka yang dianugerahi anak, harus memahami secara baik pertumbuhan anak sejak ia lahir. Setelah anak dilahirkan dan mulai menyusui serta berkembang, la akan menjadi lebih cepat menerima perubahan-perubahan hidup dibandingkan dengan remaja yang sudah baligh.

Balita itu seperti kertas putih yang siap menampung segala bentuk coret-coretan. Berbeda dengan remaja yang sudah baligh, daya tampungnya sudah hamper tertutup, sehingga agak susah memainkan peran dengannya atau menghapusnya. Seiring dengan perkembangan daya tangkap anak, orangtua harus memperbanyak menyebut nama Allah  dihadapannya.

Daripada kita menyebut “Ya Ampun” dan kata-kata semisalnya, lebih baik kita katakan ‘Ya Allah’. Dengan cara-cara seperti ini, insya Allah anak akan tumbuh menjadi baik.

Apa yang terjadi dengan anak si lbu-terutama seringnya si anak marah-marah perlu dicermati secara seksama oleh orangtua, apa kira-kira penyebab dari semua itu? Meski kemarahan merupakan hal yang dialami sebagai respon dari ketidaknyamanan, hal ini bisa merupakan masalah tersendiri bagi sang anak.

Anak kita mulai dapat menunjukkan marahnya sejak ia lahir. Awalnya, kemarahan ini untuk menunjukkan ketidaknyamanan dan kemudian untuk menunjukkan kemandiriannya. Seperti juga perasaan yang lainnya, cara berkembangnya marah seorang balita akan sangat dipengaruhi oleh cara orangtuanya bereaksi terhadap perasaan marah sang anak bersangkutan.

Ada dua jenis marah yang bisa ditunjukkan oleh seorang bayi. Marah yang sifatnya asertif dan marah yang sifatnya agresif. Marah asertif timbul akibat frustasi. Misalnya, seorang bayi berupaya meraih mainannya, tapi setelah berusaha sekuat tenaga tetap saja ia tidak bisa meraih mainan itu. Maka timbullah marahnya. Sementara itu, marah yang agresif biasanya baru bisa dilakukan bayi yang berusia 20 bulan ke atas. Dalam hal ini, rasa marah diarahkan untuk sengaja melukai atau memprofokasi orang lain. Sudah  barang tentu, orangtua mesti bisa meredam jenis marah seperti ini. Terkait dengan rasa marah yang diungkapkan bayi, orangtua harus bisa memahami bahwa sifat ini merupakan sifat yang normal. Selain itu, orangtua mesti mengenal ikhwal adanya cara-cara yang baik dan cara-cara yang buruk untuk mengungkapkan rasa marah ini.

Yang perlu dicatat, orangtua harus bisa membantu anak mereka agar selalu menemukan cara yang baik untuk mengungkapkan dan mengelola rasa marah ini. orangtua juga harus pandai-pandai menyembuyikan percekcokan mereka di depan anak-anak. Hal ini sangat mempengruhi perkembangan anak.

Dari sisi lain, orangtua harus selalu berusaha agar “Lafdzul Jalaalah” selalu di dengar anak, sehingga ” menjadi awal mula kata-kata yang dihafalnya. Kalau sudah bertambah kemampuannya untuk berbicara, kita ajari dua kalimat syahadat, diulang-ulangi sehingga ia terbiasa. Dengan sendirinya ia akan menanyakan maknanya di saat ia sudah mampu berbicara.

Apa yang dialami lbu ini, menjadi pelajaran bagi kita. Bahwa para orangtua harus mensinergikan penanaman nilai-nilai agama sejak dini pada anak, ditambah dengan pengetahuan yang cukup atas perkembangan psikologis anak-anak kita di rumah. Jika yang pernah dialami lbu ini, juga pernah menimpa anak kita. Mari berintropeksidiri, sudah sejauhmana usaha kita untuk mendidik anak secara lslami sedini mungkin. Sehingga kita tidak perlu lagi mendatangi dukun, yang jelas-jelas di larang Allah. Semoga anak si lbu, kembali tumbuh menjadi anak yang shaleh dibawah bimbingan kedua orangtuanya. Amin.

 

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 81/4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN