JIMAT “Pengusir batuk”

SEBUAH paket bersampul coklat dlkirimkan oleh seorang gadis asal Jawa Tengah (23/10). Paket yang tersimpan dalam kardus sepatu berukutan sedang itu, adalah sebuah jimat yang telah disimpan keluarganya selama beberapa lama. Pada bingkisan tersebut, terdapat sebuah surat yang ditulis pada 2 lembar kertas buku. Pada lembaran-lembaran itulah, ia mencurahkan kisahnya kepada Majalah Al-Iman.

Melalui surat ini, saya meminta tolong kepada ustadz tim Ruqyah Syar’iyyah untuk memusnahkan jimat ini, tulisnya pada paragraph pembuka. Selanjutnya ia menceritakan bahwa Bapaknya sudah sejak lama menderita penyakit batuk berkepanjangan. Meski sudah sering berobat ke dokter, penyakit  Bapaknya tak kunjung sembuh. Berbagai macam obat batuk pun telah dicoba, hasilnya tetap nihil.

Bapakku itu kumatnya pada waktu malam, batuknya keras banget sampai Bapakku tidak bisa tidur nyenyak. Padahal keesokan paginya harus berangkat bekerja naik sepeda yang jaraknya cukup jauh. Aku kasihan banget sama Bapak,” tulisnya lagi.

Keadaan yang berkepanjangan seperti itu, membuat Bapaknya mencari berbagai cara untuk meringankan penyakitnya. Sampai suatu saat Bapak si gadis mengetahui bahwa ada saudara dekatnya yang biasa membantu mengobati berbagai macam penyakit dengan berbagai ritual. Bapak si gadis langsung berobat ke sana. Oleh saudara dekatnla itu, Bapak si gadis diberi minum air putih yang berasal dari gunung.

Saat meminumnya harus membaca syahadat 3 kali berturut-turut, Setelah bertanya tentang hari kelahitan Bapak si gadis, saudara dekatnya itu melakukan shalat dua rakaat. Setelah shalat, saudara dekatnya itu diberi petunjuk agar Bapak si gadis meminum ramuan jamu, Lebih jauh, saudara dekat Bapaknya itu menjelaskan, bahwa Bapak si gadis ada yang mengirimi penyakit batuk. Bapak si gadis kemudian dibekali sebuah jimat.

Namun, hingga kini penyakit Bapak si gadis tak kunjung sembuh. Setelah Aku membaca Majalah Ghoib edisi 29 rubrik Bongkar Jimat, Aku tersadar. Makanya Aku minta tolong kepada tim ruqyah Majalah Ghoib (AI-Iman) agar mau memusnahkan jimat ini, dan minta doanya agar Bapakku diberi kesembuhan lahir bathin, tulisnya di akhir cerita.

 

BENTUK JIMAT

Jimat yang dikirim oleh gadis asal Jawa Tengah ini, berbentuk sebuah tanaman berukuran sekitar 20 cm. Batangnnya berlapis.lapis, sudah mulai mengering. Dari baunya yang masih tersisa, kuat dugaan bahwa tumbuhan ini adalah tanaman sejenis honge/honje yang sering tumbuh di kebun atau di hutan.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini dlyakini bisa membentengi rumah dari kiriman penyakit, Jimat ini harus dipasang di atas pintu masuk, dengan mempergunakan paku. Sebelum jimat ini dipasang, saudara dekat Bapak si gadis mengadakan ruwatan, Di depan pintu kamar mandi ditaburi garam oleh saudara dekat Bapak si gadis. Katanya, garam tersebut tidak boleh diinjak, harus dilompatin,. Capek Deh……..!

 

BONGKAR JIMAT

Lagi-lagi dukun mencoba mengelabui pasiennya dengan berbagai macam itual ngawur yang tidak mendasar. Mereka menggunakan media jimat tanaman yang lebih pantas digunakan sebagai bumbu dapur.

Ujian Allah yang sejatinya menjadi pendulang pahala, jika kita sabar. Terkadang malah menggelincirkan kita ke jurang kemusyrikan.

Suatu ketika, datang rombongan yang terdiri atas 10 orang menghadap Nabi Muhammad untuk berbaiat (menyatakan masuk lslam). Lalu Rasulullah membaiat yang sembilan orang dan menahan yang seorang lainnya. Para sahabat bertanya; Mengapa engkau menahan yang seorang lagi ya Rasulullah? Beliau menjawab; Sesungguhnya di pundaknya terdapat jimat. Akhirnya, laki-laki itu membuang jimat yang ada di tubuhnya. Setelah itu baru Rasulullah membaiatnya seraya bersabda, “Barangsiapa yang menggantungkan jimat sesungguhnya dia telah melakukan perbuatan syirik.” (HR Ahmad, Al-Hakim, dan Abu Ya’la dengan isnad jayyid)

Hadis tersebut menyiratkan larangan kepada kaum Muslimin untuk melakukan hal-hal yang berbau klenik. Memasang jimat untuk menolak bala, mengandalkan jampi-jampi untuk menolak penyakit, dan memakai guna-guna untuk mencelakakan orang lain adalah bagian dari hal yang berbau klenik. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran lslam. Bahkan, Rasulullah telah mendoakan orang-orang yang memakainya dengan doa; “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, mudah-mudahan Allah tidak menyempurnakan urusannya. Dan barangsiapa yang menggantungkan benda keramat (sebagai penangkal), mudah-mudahan Allah tidak memberi perlindungan kepadanya”

Semoga kita semua terhindar dari hal demikian.

Dalam masalah ujian penderitaan, Nabi Ayub menjadi simbol kesabaran di tengah derita sakitnya yang berkepanjangan. Allah pun mengisahkan, dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, (Ya Tuhanku) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang” (QS:  21:83).

Tiada seikhlas Ayub dalam menerima sakit sehingga Allah mengirimkan kesembuhan kepadanya. Nabi Ayub merupakan refleki dari kesabaran dalam menerima penderitaan sakit. Ayub menjadi sumber inspitasi bagi setiap Muslim yang bersabar dalam menerima cobaanNya. Bukankah Allah telah menjanjikan ujian dan cobaan untuk membuktikan keimanan seperti terkandung di dalam al-Qur’an. “Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka” (QS: 29: 2-3).

Cobaan sebagai bentuk ujian seringkali dilipatgandakan bagi hamba yang alim dan berusaha menghampiri-Nya. Kenapa? Semakin seseorang ingin menghampiriNya, semakin Allah berusaha menguji kadar keimanannya. Tidak mengherankan, semua nabi mengalami berbagai cobaan, seperti Ayub as dengan penyakit maupun Ibrahim as yang diperintahkan menyembelih anak kesayangannya. Nabi Muhammad pun bersabda; “Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu sendiri. Orang yang sangat banyak mendapatkan ujian itu adalah para nabi, kemudian baru orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara bertingkat. Orang diuji menutut tingkat ketaatan kepada agamanya.”(HR. Turmudzi).

Semoga Allah memberikan kesembuhan pada Bapak sang gadis dan melipatgandakan pahalanya atas kesabaran dalam menempuh ujian. Amin.

 

Al-Iman bil Ghoib edisi: 94/4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN