KERIS SAKTI DARI ALAM GHOIB

PADA hari Selasa, tanggal 3 Juni 2008 kemarin, seorang bapak ditemani oleh putra ke limanya mendatangi kantor Majalah Al-lman di bilangan jalan Cipinang Baru Bunder Rt. 01/01, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Selain bermaksud ingin mengikuti pengobatan Rendam Garam Himalaya plus Ruqyah Syar’iyyah, bapak tersebut juga membawa jimat dalam bentuk keris, yang ingin ia serahkan kepada tim ruqyah Majalah al-Iman.

Bapak dari sembilan anak itu mengaku, bahwa jimat yang dimlikinya itu sudah sejak setahun yang lalu didapat. Ketika itu ada pengobatan masal di kampungnya, di jalan Penggandengan Selatan 2. Yang mengadakan pengobatan masal itu adalah seorang dukun yang berasal dari Jawa Tengah, tepatnya Solo, dengan dibantu beberapa rekannya.

Selesai melakukan pengobatan masal, dukun yang ditemani dua orang rekannya itu mendatangi rumah bapak tersebut atas permintaan dari salah satu anaknya. Setelah beramah tamah sejenak, orangyang mengaku bisa mengetahui dunia ghaib itu meminta sebuah kamar khusus untuk dipakainya ritual. Setelah ditunjukkan pada sebuah kamar, bapak tersebut kemudian masuk dan diikuti oleh dukun bersama dua orang rekannya.

Ritual pun dilakukan. Dalam keheningan, karena waktu itu malam hari, tiba-tiba lelaki usia70 tahun itu dikejutkan oleh sebilah keris yang jatuh tepat di depannya. Keris dengan warna kekuning-kuningan yang masih telanjang, belum ada rangka maupun pegangannya itu, kabarnya berasal dari alam ghaib, setelah diundang dengan ritual-ritual tadi.

Lantaran keris itu masih telanjang, maka dukun itu menawarkan jasa bahwa dirinya masih akan membuatkan rangka sekaligus pegangan yang cocok dengan aura keris ghaib tersebut. Untuk keris dari alam ghaib itu, dukun meminta tebusan yang nominalnya tidak sedikit, kurang lebih Rp.4.000.000 (empat juta). Kesepakatan pun terjadi, dan sang dukun membawa pulang keris untuk dibuatkan rangka sekaligus pegangannya.

Beberapa hari kemudian keris yang sudah tidak telanjang lagi tersebut diserahkan kepada lelaki tua itu. Tapi kerisnya kok beda dengan yang datang waktu ritual beberapa hari sebelumnya! kata lelaki yang sedikit banyak sudah mengetahui tentang keris. Waktu  keris masih telanjang kemarin warnanya kekuning-kuningan. Tapi sekarang kok hitam. Terus arah bilahan tempaannya itu juga tidak sama dengan yang kemarin. Waah, ini pasti saya telah dibohongi! lanjutnya menjelaskan karakteristik keris yang baru saja didapatnya.

Karena pengetahuan tentang keris sedikit banyak telah diketahuinya, dirinya pun mencoba untuk “menayuh” keris barunya itu. Saya nayuh keris itu tiga malam beturut tutut, Ustadz, tapi nyatanya nggak ada apa-apanya.

Bahkan mimpi digigit nyamukpun tidak. Bener deh! Keris ini tipuan. Tidak asli. Ya akhirnya saya biarkan saja, Ustadz.

Pertemuan bapak, yang sudah sepuh tapi masih kelihatan segar, itu dengan Majalah Al-iman adalah ketika anaknya memberikan Majalah Al-lman edisi 94 yang didapat dari pemberian temannya kepadanya. Karena tertarik dengan kajian-kajian di dalamnya, akhirnya dirinya menyimak setiap edisi yang terbit, mulai dari edisi 100 dan diteruskan edisi-edisi berikutnya. Dengan niat mengharapkan kebaikan-kebaikan dari Allah Ta’ ala, akhirnya bapak tersebut menyerahkan kerisnya kepada tim ruqyah Majalah Al-Iman.

Mudah-mudahan Majalah Al-lman bil Ghoib bena-benar bisa terus berkembang untuk mensyiarkan agama lslam.” harapnya di ujung perbincangan. Amin…

 

BENTUK JIMAT

Jimat itu berbentuk keris. Tidak ada perbedaan yang mencolok dengan keris-keris yang biasanya dipakai sebagai senjata sekaligus jimat.

 

KESAKTIAN JIMAT

Bapak tersebut menyampaikan bahwa dirinya kurang tahu mengenai kegunaan jimat keris yang pernah dimilikinya. Keraguannya akan keampuhan senjata tradisional masyarakat Jawa itu sudah mulai muncul semenjak dirinya mendapati perbedaan antara yang ada sewaktu pertama kali melihatnya dengan kondisinya setelah diberi rangka dan pegangannya. Ditambah lagi setelah dirinya tidak mendapati ‘getaran’ kesaktian saat menayuhnya.

Sang dukun yang memberi keris iapun juga tidak menyampaikan ritual khusus yang harus dilakukan oleh pemegangnya. Namun dari perbincangan dengan pemiliknya, kami mensinyalir bahwa salah satu kegunaannya adalah untuk mendapatkan keselamatan.

 

BONGKAR JIMAT

Hari gini masih percaya jimat. Udah nggak jamannya!

Jimat, sehebat apapun kesaktiannya, seampuh apapun kadigdayaannya, tetap saja jimat. Benda mati yang ‘hanya’ dijadikan kendaraan syetan untuk menyesatkan ummat manusia. Yang lebih penting lagi, jimat itu tidak bisa menyelamatkan kita dari siksaan Allah yang pedih, bahkan malah menjerumuskan penggunanya ke sana. Yang menarik dari jimat ini adalah cara mendapatkannya. Dengan melakukan ritual bareng dengan dibantu dukun, yang sudah pasti juga pakai komat-kamit, tiba-tiba keris itu seperti jatuh dari atas. Waduh kira-kira dari mana tuh?

Jangan,jangan ada yang melempar dari belakang. Tepat sekali, sebagaimana yang diyakini oleh pemiliknya setelah mengetahui ketidakaslian barang tersebut, bahwa keris itu sengaja dilempar oleh salah satu dari dua rekan dukun yang mereka berada di belakangnya sewaktu melakukan ritual bareng di kamar khususnya.

Begitulah ulah dukun-dukun untuk menarik simpati masyarakat. Sehingga dirinya dianggap ‘Linuwih’ (lebih) dari yang lainnya. Mereka mengelabuhi masyarakat dengan cara apapun agar percaya kepadanya. Persis seperti tingkah syetan yang menggunakan segala cara dan tipu daya untuk menyesatkan manusia.

Mereka tidak ada bedanya dalam hal ini. Mereka saling bekerjasama. Dan merekalah para “da’i” yang menyeru manusia kepada kesesatan dan mengajak ke jalan menyimpang, yang ujungnya adalah neraka.

Kita harus selalu waspada dengan dukun-dukun ‘merek’ seperti ini, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tapi bergaya seolah-olah akrab dengan alam ghaib. Namun bukan berarti kita harus mempercayai dukun yang memang bisa mendatangkan keanehan-keanehan dengan menggunakan bantuan syetan. Baik yang pertama maupun yang kedua, kita harus berani mengatakan ‘tidak’.

Masalahnya, jika kita percaya taruhannya adalah akidah. Dan akidah itu mahal harganya serta sulit merawatnya jika kita kurang hati-hati. Kelurusan dan kesucian akidah dari lumut-lumut kesyirikan adalah lebih utama, lantaran menjadi jaminan untuk keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

 

Al-iman bil ghoib edisi: 107/4/208

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN