KUNCI KEHARMONISAN KELUARGA

SEORANG ibu muda datang menemui Majalah Al-Iman di awal bulan Oktober lalu (1/10). Ditemani.anaknya yang berumur 5 tahunan, ia sengaja datang untuk menyerahkan sebuah benda yang selama ini dipercayainya memiliki keistimewaan . ” Alhamdulillah Ustadz, akhirnya saya bisa berkunjung ke sini. Sebenarnya sudah beberapa minggu ini, saya ingin sekali menemui salah seorang Ustadz dari Majalah Al-Iman,” tegasnya membuka pembicaraan.

Tujuh tahun lalu, ia berkenalan dengan seorang laki-laki yang kemudian menjadi kekasihnya. Selama setahun mereka berkenalan, hanya hal-hal indah yang dirasakan. Calon suaminya itu, menampakkan sosok yang sangat baik dengan berbagai perhatiannya kepada seorang wanita. “Karena sikapnya yang ramah itulah, saya bersedia menjadi istrinya. Kami pun menikah dengan sebuah pesta yang boleh dibilang mewah,” tegasnya lagi.

Lebih jauh lbu muda ini menjelaskan bahwa ia berasal dari keturunan orang berada. Sementara, suaminya berasal dari keluarga sederhana. Karena rasa cintanya yang besar, maka ia tidak melihat perbedaan status sosial. Selama setahun menjalani pernikahan, kehidupan mereka berjalan dengan lancar, tanpa ada gangguan yang berarti.

“Sikapnya yang ramah dan penyayang, berubah setelah saya melahirkan. Ia menjadi seorang yang kasar, sering membentak bahkan sering pulang larut malam tanpa memberi tahu. Semua sikap itu ada, tanpa sebab yang jelas,” urainya lagi. Ia mencoba bersabar. Ia berusaha melayani suaminya dengan sepenuh hati. “Saya ingin menjadi wanita yang baik yang selalu menyenangkan suami. Mungkin suami saya bersikap seperti itu, karena saya sudah tidak cantik seperti dulu. Perhatian saya pun terbagi kepada putri kami ini,” lanjutnya.

Sadar rumah tangganya sedang bermasalah, ia meminta saran kepada beberapa teman lamanya. Ada yang menyarakanya untuk meminta cerai saja. Ada yang menyarankannya untuk meninggalkan suaminya yang tak tahu diuntung itu. Ada juga yang menyarankannya untuk mendatangi seorang dukun yang konon ahli di bidang perceraian dan kasus rumah tangga. “Mendengar informasi itu saya tergoda dan langsung mendatanginya di daerah pinggiran Jakarta,” tegasnya lebih jauh.

Setelah beberapa kali berkonsultasi dengan sang dukun. Ia dimintai duplikat dari kunci kamar, tempat ia dan suaminya tidur. Ia pun segera memenuhi titah sang dukun itu. Kata sang dukun, kunci ini dapat membantunya dalam menyelesaikan permasalahan keluarganya. Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Rumah tangganya belum juga ada perbaikan. Ia pun tetap mencoba bersabar. “Beberapa bulan yang lalu, suami saya tiba-tiba berubah lagi menjadi seorang yang sangat baik. Sikapnya yang dulu, nampaklagi. Ternyata suami saya berubah lagi, setelah bertemu dengan seseorang temannya di kantor. Oleh temannya itu, suami saya diajak ikut pengajian mingguan. Saya bersyukur dengan kejadian ini,” tegasnya panjang lebar.

Kehidupan keluarganya berangsur baik. Bahkan suaminya kini menjadl lebih religius. Tekun beragama. Bahkan sering memberikan nasihat kepadanya. “Dari suamilah, saya tahu bahwa menyimpan jimat di rumah adalah tindakan yang salah. Maka dari irulah, saya datang kemari untuk menyerahkannya. Saya ingin hidup dalam naungan Allah,” tuturnya menutup pembicaraan.

 

BENTUK JIMAT

Jimat ini berbentuk sebuah kunci biasa yang terbuat dari logam. Ukurannya 10 cm. Dari bentuknya, kunci ini sama dan bahkan serupa dengan kunci-kunci lainya yang biasa dipakai untuk mengunci Pintu.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini dipercayai dapat menjaga keharmonisan rumah tangga, jika terus dipakai untuk mengunci kamar tidur pribadi pasangan suami istri.

 

BONGKAR JIMAT

Entah iblis mana Yang dimintai bantuan oleh sang dukun, sehingga kunci yang sebenarnya biasa ini menjadi memiliki keistemewaan lebih dari fungsinya sebagai pengunci kamar? Dasar dukun! Semoga kita semua terhindar dari para dukun pembohong yang menyesatkan manusia dengan menggunakan media jimat kunci yang sebenarnya tidak memiliki keistemewaan apa-apa. Keistemewaan kunci ini hanya satu yaitu sebagai kunci pembuka dan penutup pintu kamar. Tidak lebih.

Banyak memang problema yang biasa dihadapi sebuah keluarga. Tidak sedikit-keluarga yang menyerah atas “derita” yang sebetulnya diciptakanya sendiri. Diantaranya memilih perceraian sebagai penyelesaian. Kasus-kasus factual  tentang itu ada semua di masyarakat kita. Dan, masih banyak lagi kegelisahan yang melilit keluarga-keluarga di masyarakat kita.

Namun umumnya kegelisahan itu diakibatkan oleh menurunnya kemampuan mereka menemukan alternative ketika menghadapi masalah yang tidak dikehendaki. Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mencari kunci yang bisa mengokohkan bangunan keluarga kita dari hempasan arus  zaman yang serba menggelisahkan.

Dan, kata kuncl itu adalah sakinah. Bukan kunci yang telah dijampi-jampi oleh dukun. lstilah “sakinah” digunakan, al’Qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah ini memiliki akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Jadi’ mudah dipahami memang lika istilah itu digunakan al-Qur’an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang  sehingga  menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah wa rahmah) di antara sesama anggotanya.

Kenyamanan dalam keluarga hanya dapat dibangun secara bersama-sama. Tidak bisa bertepuk sebelah tangan.  Melalui proses panjang. setiap anggota keluarga saling menemukan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penemuan itulah yang harus menjadi ruang untuk saling mencari keseimbangan. Makanya, keluarga adalah sekolah yang tiada batas waktu. Di sana terjadi proses pembelajaran secara terus menerus untuk menemukan formula yang lebih tepat bagi kedua belah pihak, baik suami-istri, maupun anak dan orang tua,

Proses belajar itu akan mengungkap berbagai misteri keluarga. Lebih-leblh ketika kita akan belajar tentang baik buruk kehidupan keluarga dan rumah tangga. Tidak banyak buku yang memberi solusi jitu atas problema keluarga. Sebab, ilmu membina keluarga lebih banyak diperoleh dari pengalaman. Maka tak heran jika keluarga sering diilustrasikan sebagai perahu yang berlayar melawan badai samudra. Kita dapat belajar dari pengalaman siapa pun.

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan pengalaman hidup siapap pun. Semoga kita semua mengambil pengalaman-pengalaman hidup yang telah kita lalui ini sebagai sarana untuk mengatasi segala permasalahan yang ada, dengan tetap terus berdoa kepada Allah.

 

 

Al-iman bil ghoib edisi 93-4/16 November 2007

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN