Mahkota Surgawi

Mahkota kuning keemasan betengger di kepala raja, la duduk dengan tenang di kursi kebesaran. Tatapan matanya tajam. Seakan pisau yang menusuk hati setiap orang yang menatapnya. Dengan mahkota yang tak lepas dari kepala, sang raja nampak berwibawa. Hingga semua orang tunduk dan patuh melaksanakan perintahnya. Lihatlah sikap orang-orang yang berada di sekelilingnya. Empat orang di samping kiri dan empat lainnya berada di sebelah kanan. Semuanya diam menanti titah.

Itulah cuplikan adegan sinetron di salah satu acara televisi. Adegan seorang raja dan para mentrinya. Raja dengan mahkotanya memang nampak berwibawa. Namun, apakah cukup banyak orang yang pernah mengenakan mahkota itu? tidak. Dalam kehidupan ini hanya beberapa gelintir orang saja yang pernah mengenakan mahkota. Kalau kita bukan dari golongan raja dan hidup di zaman kerajaan jangan pernah berharap mengenakan mahkota itu.

Namun, siapapun kita boleh saja berharap suatu saat Allah akan memuliakan kita dengan mahkota. Tidak harus menjadi seorang raja. Karena gelar ini hanya ada di dunia. Sementara di akhirat siapa saja berhak mendapatkannya, asal memenuhi syarat-syarat yang digariskan.

Mahkota surgawi jauh lebih indah dari mahkota dunia. Karena sebutir yaqut yang menempel di mahkota surgawi lebih indah dari dunia seisinya. Miqdam bin Ma’dikarib meriwayatkan bahwa Rasulullah mengkisahkan kemuliaan seorang syuhada, “Diletakkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan. Sebutir yaqut darinya lebih baik daripada dunia dan segala isinya” (HR. Ibnu Majah)

Sebutir yoqut yang melekat saja, jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Padahal dalam setiap mahkota itu berbutir-butir yaqut menempel di sana.

Sangat jauh, tidak sebanding dengan mahkota dunia. Apalagi bila kita menengok ke belakang. Jauh berabad-abad yang lalu. Di sebuah negara yang menjadi cikal bakal berbagai macam aliran filsafat yang berkembang sekarang. Tepatnya di negara Yunani. Seorang raja Zeus, misalnya. Dia juga memakai mahkota, meski saat itu belum terbuat dari emas. Mahkota yang dikenakannya baru tersusun dari daun-daunan. Demikian pula halnya yang terjadi di suku-suku pedalaman di negara kita. Tiap kepala suku mengenakan atribut kepala yang berbeda dengan bawahannya. Walau hanya terbuat dari bulu binatang tertentu.

Dari sini, mahkota bukanlah sekedar hiasan belaka. Tapi makna yang terkandung di baliknya jauh lebih luas. la adalah simbol kemuliaan tertinggi. Hadits riwayat Ibnu Majah dari Miqdam bin Ma’dikarib di atas menyebutkannya dengan jelas, bahwa mahkota surgawi merupakan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang telah berani dan rela mengorbankan jiwa dan raga¬† untuk menegakkan agama ini.

Perjuangan dengan harta, mungkin tidak terlalu berat. Dan banyak orang yang bisa melakukannya, karena harta bisa dicari. Tapi pengorbanan nyawa menjadi lain masalahnya. Tidak ada orang yang bernyawa rangkap sehingga sangat banyak orang yang enggan berkorban nyawa.

Menjadi jelas kiranya, bila seorang syuhada layak mendapat kehormatan yang demikian tinggi dari Allah dengan mengenakan mahkota yang keindahannya tidak bisa dibandingkan dengan dunia seisinya. Apalagi dengan mahkota dunia.

Namun, sayang beribu sayang banyak orang yang alergi saat diajak berjihad. Jangankan terjun langsung ke medan laga, menyebut namanya saja sudah enggan. Bila demikian jangan berharap memperoleh kemulian tinggi dengan mengenakan mahkota surgawi.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN