Memorandum untuk Generasi Islam di SMU dan SMP

Kesurupan di berbagai SMU dan SMP adalah fenomena baru yang terjadi lingkungan generasi muda kita. Beragam maknanya. “Ini adalah musibah, atau teguran atau bahkan hukuman,” jelas Kepala Sekolah SMU Handayani di hadapan murid-muridnya.

Ya, minimalnya musibah dan maksimalnya hukuman dari Allah karena ulah para pelajar sendiri. Ini adalah memorandum bagi para pelajar lainnya. Bahwa ternyata mereka semakin dekat dengan syetan dan semakin jauh dari Allah. Jadi, ini masalah serius yang harus mulai diperhatikan oleh berbagai pihak. Kalau tidak ingin masa depan mereka dan bangsa ini luluh lantak. Sikap berikut ini mendesak untuk dilaksanakan.

 

1. Pelajaran agama jangan hanya jadi aksesoris

Islam way of life itulah jargon yang sering kita baca di pintu- pintu rumah, atau di kaca-kaca mobil, bahkan banyak terukir di kaos-kaos yang banyak di gunakan oleh aktifis-aktifis Islam. Sebetulnya kalimat di atas adalah ajakan dan seruan bagi umat muslim, khususnya bagi pembacanya untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Tidak cukup kita hanya merasa bangga dengan menyandang gelar sebagai seorang muslim melalui identitas saja. Akan tetapi sudahkah kita mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan kita sehari-hari?

Memang benar apa yang dikatakan oleh Drs. Mukni pengurus Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) cabang Riau, menanggapi kasus kesurupan massal yang menimpa beberapa SMU yang ada di Pekanbaru akhir-akhir ini, “Selama agama hanya dijadikan sebagai aksesoris pelengkap hidup, maka selama itu pula bala’ (musibah) akan terus mengintai manusia. Setiap sekolah perlu punya masjid dan pada saat mata pelajaran agama langsung dipraktikkan di dalam- nya, misalnya shalat lima waktu,”

Zainal, guru agama SMU Handayani mengamini pernyataan di atas. Sekaligus menambahkan, “Kemaksiatan di sekolah sudah sangat mengkha- watirkan. Setelah mereka me lihat langsung musibah ini, semoga mereka menyadari bahwa agama itu adalah segalanya.”

Ini seruan untuk generasi muda kita. Dan ayat berikut ini harus direnungi lebih dalam lagi, “Hal orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu,” (Al- Baqarah: 208). Ibnu Katsir berkata: “Maksud dari masuk Islam secara keseluruhan adalah, hendaklah setiap muslim melak- sanakan seluruh rukun iman dan bagian-bagiannya dan mem- praktekkan sylar-syiar Islam sesuai dengan kemampuannya.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/276).

Sekaligus ini adalah seruan untuk Departemen Agama dan juga Departemen Pendidikan Nasional. Sesungguhnya kurikulum agama yang ada belum memadai sebagai perangkat untuk mendidik anak menjadi sholeh. Sudah saatnya diadakan revolusi kurikulum agama.

 

2. Mendirikan shalat lima waktu.

Shalat adalah tiang agama, siapa saja yang meninggalkannya sebagian atau keseluruhannya-, maka ia telah merobohkan agamanya. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya (perbedaan) antara orang muslim dengan orang musyrik dan kafir adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lain: “Perbedaan antara kita (orang muslim) dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, siapa saja yang meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi). Tabir tipis antara muslim dan non muslim adalah sholat. Jika tabir itu telah hilang atau compang-camping, maka kegelapan kekafiran telah menyelimuti hidup kita.

Betapa banyak kita dapati orang-orang muslim khususnya para pelajar sudah tidak peduli dengan kewajiban shalat lima waktu. Mereka lebih suka memanfaatkan waktu istrahat Dhuhur atau ‘Asar untuk kongkow- kongkow, atau ngobrol santai sambil ngegosip di kantin, atau berduaan dengan lawan jenis. Hanya sedikit di antara mereka yang betul-betul memanfaatkan waktu istirahatnya untuk menunaikan shalat fardhu. Dan lebih sedikit lagi yang menghayati dan menikmati betul ibadah¬†yang paling utama itu.¬†

Fenomena mengenaskan ini akan terus berlanjut dan semakin parah, apabila tidak ada kontrol dari pihak terkait seperti guru agama atau bagian BP nya untuk membimbing dan mengawasi mereka. Fenomena tersebut akan menjadi semakin parah bila sikap orang tua murid di rumah masa bodoh dengan kondisi spiritual keagamaan anaknya. Termasuk mengontrol shalat lima waktu mereka. Padahal itu adalah bagian dari pendidikan yang seharusnya mendapatkan perhatian yang serius dari pihak sekolah dan orang tua.

Kalau dengan yang wajib dan pokok saja mereka sudah tidak peduli, apalagi dengan yang lainnya. Seperti berdoa, mengaji Al-Quran, wirid harian dan sebagainya. Lalu apa yang dimak. sud dengan pendidikan terpadu yang selama ini digembar-gemborkan: mencetak generasi unggul berbekal dengan IMTAK & IPTEK.

Pesan Ust. M. Adli dari pesantren Al-Furqon di hadapan para siswa SMU Handayani perlu menjadi catatan besar bagi para pelajar kita, “Musibah ini terjadi karena Al-Quran telah dijauhi generasi kita. Padahal Al-Quran adalah senjata paling kuat untuk melawan tentara Iblis.”

 

3. Sabar dalam menghadapi musibah.

Musibah memang bisa menimpa siapa saja. Untuk itulah Islam mengajarkan jika seseorang ditimpa musibah harus mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Maksud kata- kata itu adalah bahwa kita dan apa saja yang kita miliki hakekatnya adalah milik Allah yang diamanahkan kepada kita. Baik itu berupa kesehatan badan, harta benda, keluarga dan orang-orang yang kita cintal semuanya milik Allah. Ketika Allah menariknya kembali, maka kita harus merelakannya dan bersabar. Kita semua akan kembali kepada Allah dan mendapatkan balasan atas semua tingkah laku kita sewaktu di dunia. Jika kita bersabar atas musibah yang menimpa kita, maka kesabaran itu akan melebur dosa-dosa kita dan menambah tabungan pahala kita serta mendatangkan Rahmat Allah. Dan kalau kita tidak bersabar, maka kita hanya menambah tumpukan dosa kita dan mengundang murka Allah. Allah berfirman: “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah: 155- 167).

Dalam kasus kesurupan di beberapa SMU Riau, terdapat contoh ketidaksabaran. Di mana mereka dengan gegabah menerima kehadiran dukun, paranormal atau orang pinter untuk mengobati para korban serta mengusir jin pengganggu. Begitu juga memakai jimat-jimat untuk membentengi dan menjaga diri dari gangguan jin seperti yang terdapat di lengan siswi Handayani yang kesurupan pada hari Jum’at.

 

4. Selektif dalam meminta dan menerima bantuan orang lain.

Jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai suatu tujuan. Walaupun niat Anda benar dan tulus karena Allah. Niat harus disesuaikan dengan legalitas perbuatan tersebut dalam Islam. Jika tidak, tetap saja terlarang alias haram. Maka dari itu sepanik apa pun kita, harus tetap selektif dalam mencari solusi. Jangan cepat menerima tawaran orang untuk membantu menyelesaikan masalah sebelum yakin benar bahwa hal tersebut tidak dilarang dalam Islam. Jangan sampai karena usaha kita untuk mengatasi cobaan yang salah, menyebabkan Allah murka di atas penderitaan yang sedang menerpa.

Kehadiran dukun dan paranormal untuk mengobati para korban kesurupan, tidak menyelesaikan masalah. Tapi justru akan menambah banyak masalah, masalah yang sangat runyam adalah ternodanya aqidah kita dan tidak diterimanya shalat lima waktu kita selama empat puluh hari.

Permasalahan besarnya adalah kebodohan umat Islam terhadap agamanya sendiri. Mereka tidak tahu bahwa Islam menjaga betul agar aqidah ini tidak ternodai dan tergadai. Kemudian Rasulullah memberikan solusi ruqyah syar’iyyah untuk mengatasi segala masalah yang berhubungan dengan gangguan jin.

 

5. Jauhi pergaulan bebas

Bebasnya pergaulan antar jenis, laki dan perempuan mengundang datangnya syetan dan memudahkan syetan untuk menguasai diri pelakunya. Pergaulan dengan lawan jenis yang bebas menjadikan seseorang senantiasa diliputi hawa nafsu, terutama nafsu syahwat. Saat dia melihat wajah lawan jenis dan larut dalam pandangan yang merupakan anak panah iblis, dia akan dipermainkan nafsu syahwatnya untuk bisa merasakan apa yang dilihatnya. Apalagi kalau lawan jenis itu memakai parfum- parfum yang memicu birahi, seperti yang dipakai oleh mayoritas anak ABG sekarang. Begitu juga ketika sudah berjahuan, akan terbayang dalam pelupuk matanya body lawannya yang menggiurkan. Itulah perangkap-perangkap syetan untuk menjauhkan seseorang dari Allah dan melalaikan-Nya Hampir semua aktifitas yang dilakukan diniatkan untuk mencari perhatian “si dia” dan untuk mendapatkan sanjungan darinya.

Keagungan Allah sebagai Dzat yang terus mengawasi, telah hilang dari dalam relung hati generasi kita. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pendidikan yang menanamkan perasaan terus diawasi Allah. Ditambah lagi tayangan selebritis dan pesta musik yang hanya mengajarkan hidup seperti binatang, bebas tanpa batas. Bebas berduaan, bebas berpelukan, bebas berpegangan dan akhirnya bebas segalanya. Sementara berita selebritis membombardir otak generasi kita. Iman yang tipis tidak lama kemudian jebol. Dan bisa kita lihat survei-survei mengiris hati tentang pergaulan bebas dan sudah banyak yang tidak perawan serta jejaka dari para pelajar kita.

Sudah sangat gawat. Harus segera dibatasi, sebelum syetan menguasai generasi muda dan selanjutnya negeri ini berpindah dari satu musibah ke musibah berikutnya.

 

6. Bentengi diri dan tempat

Doa adalah senjata yang sangat tajam dan ampuh bagi seorang mukmin, doa juga merupakan benteng yang sangat. kokoh dan tangguh. Bentengi diri dengan cara yang benar.

Cara membentengi diri dari gangguan jin dan syetan pengganggu adalah dengan doa-doa perlindungan yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Misalnya ayat kursi, dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, surat Al- Ikhlas, surat Al-Falaq dan An- Nas. Bacalah ayat-ayat suci tersebut di waktu pagi dan sore, atau ketika mau tidur, maka Allah akan menjadi pelindung kita. Jangan lupa untuk selalu membaca doa-doa yang telah dipraktikkan Rasulullah dan para sahabatnya dalam setiap aktivitas.

Adapun untuk membentengi dan mengusir jin dari suatu tempat, Rasul mengajarkan untuk membacakan surat Al-Baqarah dari awal sampai akhir di tempat yang menyeramkan tersebut. Dan bukan surat Yasin seperti yang dibaca di beberapa SMU Riau. Apalagi dengan suguhan sesajen, rajah dan garam.

 

7. Tinggalkan tayangan- tayangan media yang berbau syirik.

Sudah seharusnya kita menyetop dan memboikot tayangan-tayangan mistis yang mengungkap dunia ghoib yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Baik di layar kaca, layar lebar ataupun media cetak. Karena tayangan seperti itu hanya akan menambah ketakutan kita kepada sosok syetan yang terkutuk. Penggemar tayangan itu digiring untuk percaya pada mitos-mitos yang berseberangan dengan ajaran Islam. Mengajak pemirsanya untuk hidup di dua alam, seperti yang diperankan oleh sang aktor/aktris.

Kejadian demi kejadian yang mengekspos kekuatan syetan diatas kekuatan manusia, akan selalu membayangi kehidupan pemirsa. Dan lama-kelamaan akan meresap dalam keyakinan dan menjadi ideologinya. Tak heran kalau akhirnya muncul sekte-sekte penyembah syetan atau dukun. Bahkan banyak masyarakat yang menyelesaikan persoalan kehidupannya dengan cara meminta bantuan syetan melalui dukun-dukun.

Di antara mereka ada yang penasaran, antara percaya dan nggak percaya, lalu ingin membuktikan kebenaran informasi yang mereka dapatkan dari tayangan tersebut. Contoh kongkrit dalam masalah ini telah dilakukan oleh para pelajar putri SMU Handayani yang mencoba- coba bermain Jelangkung karena terinspirasi oleh film dengan judul itu. Akhirnya mereka kesurupan.

Indonesia yang materialis ini, sudah tidak peduli apakah tayangan yang dikonsumsi generasinya baik atau tidak. Yang penting bisa menjual jutaan copi CD atau menyedot milyaran rupiah dan iklan. Sudah saatnya para pejabat kita bertindak tegas menyetop tayangan yang merusak itu. Kalau tidak negeri muslim terbesar ini akan men- jadi negeri syetan.

Tontonan mistis negeri ini telah terserap menjadi tuntunan. Hingga mencapai titik nadir yang membahayakan. Jin yang merajai media kita harus dihentikan. Sekarang!.

 

 

Ghoib, Edisi No. 14 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN