Mencium “Batu Mulia” Hajar Aswad

Batu mulia itu menurut sejarah, diturunkan oleh Allah dari surga, kemudian ditempelkan pada sudut bangunan Baitullahil Muharram. Jauh sebelum manusia bertempat tinggal di muka bumi, para malaikat diperintahkan untuk membangun Baitullah atau Al-Kabah Al-Musyarrafah di atas tanah Haram Makky, kemudian mereka melakukan Thawaf (berkeliling) Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan start dan finishnya sudut tempat Hajar Aswad ditempelkan. Itulah sebuah bangunan rumah Allah yang mulai dan diberkati, artinya rumah yang dibangun atas perintah Allah untuk tempat beribadah dan sebagai kiblat ummat manusia dalam beribadah dan berdoa. Allah taala berfirman, “Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk tempat beribadah bagi manusia ialah Baitullah yang berada di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi manusia semuanya.” (QS Ali Imran: 96).

Para tamu Allah yang datang dari pelbagai penjuru dunia untuk menunaikan ibadah haji dan umrah, mereka disunnahkan ketika melakukan thawaf untuk mencium Hajar Aswad atau menyentuhnya dengan tangan kanan kemudian menciumnya.

Banyak orang punya anggapan bahwa Hajar Aswad adalah sebagai lambang tangan kanan Allah di muka bumi untuk menyalami hamba-hambaNya. Sehingga mereka punya keyakinan-keyakinan yang berlebihan tentang Hajar Aswad. Dan merasa sudah berjabat tangan dengan Allah dan mencium tangan Allah, kemudian pulang ke negerinya dengan penuh kebanggaan dan ghurur (menipu diri sendiri).

Untuk menghapuskan anggapan-anggapan yang menyesatkan tentang batu mulia Hajar Aswad atau batu-batu yang lain, marilah kita tengok lembaran sejarah shahabat besar Umar bin Khottob radhiallahuanhu. Ketika thawaf dan selesai mencium serta menyentuh Hajar Aswad, dia berkata, “Sesungguhnya aku tahu kamu hanyalah batu, kamu tidak sanggup mendatangkan bahaya, dan kamu pun tidak sanggup mendatangkan manfaat. Seandainya aku tidak pernah melihat Rasulullah menyentuhmu dan menciummu, aku pun tidak akan menciummu.” Kemudian beliau membacakan firman Allah, “Sungguh dalam diri Rasulullah ada Uswah Hasanah untuk kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).

Imam Al-Khattabi berkata, “Dalam masalah ini haruslah menjadi maklum, bahwa mengikuti sunnah Rasul adalah wajib, meskipun belum ada secara touqify illah (alasan-alasan) yang diketahui, atau sebab-sebab yang logis.”

Memuliakan Hajar Aswad dengan mencium dan menyentuhnya dengan telapak tangan kanan saat thawaf adalah sunnah Rasulullah dan mengikutinya adalah ibadah. Sebagaimana seluruh kegiatan manasik haji yang lain, seperti berpakaian ihram, mengumandangkan lafal talbiyah, sai antara Shafa dan Marwah, dan lainnya adalah ibadah untuk Allah semata. Kewajiban kita hanyalah taslim (pasrah) dengan tuntunan Rasulullah.

Telah terbukti dan benarlah kata-kata Umar bin khattab, “Sesungguhnya aku pun tahu kamu hanyalah batu, tidak marnpu mendatangkan bahaya dan tidak mampu mendatangkan manfaat…” Dalam sejarahnya, Hajar Aswad pernah dicuri oleh orang-orang Syiah dan Hajar Aswad pun menghilang sekian lama dari sudut Baitullah. Dan akhirnya diketemukan pecahan-pecahan Hajar Aswad oleh kaum muslimin dan dikembalikan ke Baitullah. Maka Hajar Aswad sekarang yang dicium dan disentuh oleh kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia hanyalah pecahan kecil-kecil Hajar Aswad yang ditempelkan pada logam perak di sudat Ka’bah itu.

Kita sebagai pengikut Ahlussunnah wal Jamaah semakin yakin, bahwa yang mampu mendatangkan bahaya atau menyingkap bahaya hanyalah Allah semata, dan yang mampu mendatangkan manfaat atau mencegahnya hanyalah Allah semata. Batu yang paling mulia di dunia yaitu Hajar Aswad pun tidak sanggup menahan dirinya dari tangan jahil yang mencurinya dan kemudian memecahkannya menjadi serpihan kecil-kecil. Apalagi batu lainnya sekedar pemberian seorang dukun. Tentu tidak maknanya sama sekali.

 

Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN