PISAU Pendobrak Usaha

SEORANG pemuda berusia 24 tahunan, datang menemui Majalah AI-Iman siang itu (31/1). Pemuda lajang itu, beberapa hari sebelumnya telah berjanji dengan Majalah Al-Iman untuk bertemu. Kesibukannya dalam mengembangkan sebuah usaha, membuatnya harus selalu membuat janji, agar waktunya efektif. Maklum ustadz ya, namanya juga pedagang, jadi waktunya agak terbatas, ujarnya saat ia menelpon Majalah Al-Iman. Selepas melaksanakan Shalar Dzuhur dan santap makan siang, kami berbincang tentang kisah masa lalunya yang menurutnya adalah cerita kelam.

Tidak hanya itu, ia juga membawa sebuah benda yang selama ini diyakininya mempunyai kekuataan. Pada sebuah ruangan, kami pun berbincang.

Empat tahun yang lalu, saya mencoba membuka usaha kecil-kecilan, setelah capek mencari pekerjaan, ulasnya mengawali kisah. Modal awal didapatkannya dari sang ibunda, yang rela menjual sebidang tanah warisan. Dengan modal itu, ia merasa memiliki tanggung jawab yang lebih untuk menuai sukses. Ia pun memulai usaha pada sebuah pasar di pinggiran Jakarta. Mungkin karena saya tidak punya pengalaman, usaha saya semakin mundur, padahal hampir berjalan 2 tahun, tegasnya lagi.

Berhutang pun telah menjadi kegiatan rutin dalam menggeluti usahanya itu. Tutup lobang, gali lobang. la semakin galau. Pusing tujuh keliling. Ketika kondisinya sedang takberdaya, ia diajak oleh seorang temannya untuk pergi ke seorang dukun ternama. Untuk mencari perbaikan, niatnya. Pada pertemuan pertama saja, saya sudah diberikan benda ini. Lebih dari itu, saya diperintahkan untuk bertapa di sebuah gunung selama seminggu. Katanya, itu adalah amalan Sunan Kalilaga, urainya bersungutan. Setelah delapan bulan berjalan, usahanya tak kunjung maju. Malah lebih parah.

Suatu hari, Adik saya menemukan benda yang saya dapatkan dari sang dukun. Katanya itu jimat. Dan orang yang pegang jimat, hidupnya tidak akan berkah, jelas sang adik. Ia terhenyak dengan pernyataan sang adik. Padahal adiknya masih duduk di bangku SMA. Atas saran adik saya itu, saya datang kemari.

Mulai sekarang, saya ingin berusaha secara wajar. Saya serahkan semuanya kepada Allah, janjinya menutup pembicaraan.

 

BENTUK JIMAT

Jimat ini berbentuk sebuah pisau berukuran 15 cm. Mata pisau terbuat dari stainless. Sementara gagang pisau terbawa dari kayu yang telah diiukir. Tidak tampak rajah-rajah di bagian mata pisau, ataupun gagangnya.

 

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini diyakini bisa mendobrak kesuksesan, atas usaha yang sedang dijalankan pemiliknya. Benda ini harus selalu disimpan di dalam tempat penyimpanan uang, di tempat usaha. Untuk lebih membantu penggunaan jimat ini, maka sipemiliknya harus melakukan pertapaan selama seminggu di pinggir sebuah sungai. Selama seminggu itu, ia hanya minum air putih. Tidak makan, apalagi shalat. Naudzubillahi min dzalik.

 

BONGKAR JIMAT

Lagi-lagi dukun memperdayai pasiennya dengan cara-cara yang bathil. Membekali jimat, dan menyuruh ritual pertapa yang jelas-jelas melanggar syariat. Celakanya lagi, ritual pertapaan di catut sebagai amalan yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalilaga.

Padahal, tidak ada bukti kongkret yang bisa dipertanggung-jawabkan tentang kebenaran cerita yang menggambatkan bahwa Sunan Kalijaga telah bertapa tanpa makan dan melaksanakan ibadah shalat. Sebab kalau kita jujur dengan sejarah, sosok para wali tentulah tidak demikian. Anda bisa bayangkan kalau sosok para wali itu adalah para penyebar agama tidak mungkin kalau mereka adalah pelaku tapa.

Sebab bertapa itu perbuatan syirik yang dikutuk Allah. Bagaimana mungkin para penyebar agama lslam justru mempraktikkan syirik? Tentu ini adalah sebuah pendekatan yang ingin merusak sejarah lslam di negeri ini. Bila memang benar para wali tukang bertapa, maka di negeri kita saat ini mungkin tidak ada agama. lslam, melainkan sebuah negeti dukun yang dipenuhi tukang sihir.

Buya Hamka dalam salah satu makalahnya tentang sejarah masuknya lslam ke negeri ini menyebutkan bahwa seotang shahabat Rasulullah pernah singgah di negeri ini, yaitu Yazid bin Muawiyah. Kalau para penyebar dakwah Islam di negeri ini sampai sekelas seotang shahabat Nabi, tentu bisa kita bayangkan bahwa penyebaran lslam di negeri ini memang betulbetul sejalan dengan ajaran Islam yang asli. Tidak mungkin para penyebar Islam justru mengajarkan nilai-nilai dan praktik kemusyrikan. Apalagi setelah Islam tersebar di negeri ini, lalu berdirilah pusat-pusat kerajaan Islam yang menerapkan hukum lslam. Maka apa yang dilakukan para penyebar lslam tentu bukan sesuatu yang main-main, sehingga bisa sampai mendirikan kesultanan Islam yang berbentuk sebuah Negara berdaulat.

Kalau sosok mereka digambarkan lebih mendekati tokoh dunia persilatan atau sosok dengan beragam ilmu kedigdayaan, ini hanyalah fantasi para pendongeng yang kehabisan cerita. Sama sekali tidak ada bukti yang menguatkan hal demikian.

Lebih dari itu, kita harus melakukan hal yang ptofessional dalam menjalankan usaha. Bukan dengan bantuan dukun, apalagi jimat. Menjadi pengusaha sukses tentunya dambaan semua orang yang menekuni dunia usaha. Mencapai sukses harus melalui rintangan yang tidak ringan. Banyak di antaranya yang putus asa setelah gagal berulang kali dalam menekuni bisnisnya. Menjadi seorang pedagang (pengusaha) memang tidak bisa hanya bermodal nekat. Seorang pengusaha harus memiliki beberapa dasar yang kuat agar bisa menghadapi tantangan dalam bisnisnya, seperti:

  1. Semangat kerja: Mencintai apa yang dikerjakan sehingga membuatnya terus berkarya menghasilkan prestasiprestasi baru tiada henti.
  2. Ketika menghadapi halangan atau kegagalan, tidak putus asa dan justru belajar dari kegagalan.
  3. Kemudian, seorang pengusaha harus memiliki impian. Impian merupakan wujud dari visi dan misi seseorang dalam berkarya. Dengan mimpi pikiran akan terfokus dan memudahkan mencapai apa yang diinginkan.
  4. Ketegasan dalam mengambil keputusan juga sangat diperlukan. Sebab menunda pekerjaan merupakan kerugian bagi pengusaha.
  5. Kecepatan dalam mengambil keputusan yang tepat merupakan kunci keberhasilan dan keputusan harus diterapkan secara konsisten agar hasil yang diharapkan bisa segera terwujud.

Yang paling penting lagi adalah, senantiasa berusaha semaksimal mungkin dan bersabar yang disertai dengan doa dan penyerahan sepenuhnya kepada Allah. Insya Allah kita akan menuai kesuksesan. Dari berbagai sumber.

 

Al-iman bil ghoib edisi: 100/4/2008

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN