PUSAKA “Penyembuh Stress”

JAKARTA, di penghujung bulan Juli 2007. Seorang pemuda lajang, menghubungi Majalah Al-Iman melalui telepon genggamnya. Ustadz…,saya mendapatkan nomor telepon Anda dari seorang teman. Tolong saya ustdaz! Saya sedang mengalami stress berat nih, ujarnya kepada reporter Rahmat Ubaidillah.

Majalah Al-Iman membuat janji untuk bertemu dengannya secara langsung. Beberapa hari kemudian, kami punbertatap muka di sebuah masjid yang berlotasi di tengah-tengah kota Jakarta.

Wajahnya pucat pasi, saat Majalah Al-Iman pertama kali berjumpa dengannya. Ia membawa Majalah Al-Iman edisi terbaru. Ruangan teras masjid menjadi saksi curhat si pemuda, yang sedang di rundung kegalauan.

Dua tahun yang lalu saya lulus dari sebuah universitas swasta di Jakarta, jelasnya membuka cerita. Orang tuanya sangat mengharapkan, agar ia mendapatkan pekerjaan pada sebuah perusahaan ternama. Mereka berharap, si anak dapat membantu keuangan keluarga dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi 3 orang adiknya ini, masih membutuhkan biaya yang cukup banyak.

Saya berusaha dengan sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginan orang tua saya itu.  Memasukkan surat lamaran saya lakukan hampir setiap hari. Ujian demi ujian saya lakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Pokoknya semua cara sudah saya usahakan deh! tegasnya lagi. Setahun telah berlalu. Ia masih juga menganggur. Hatinya merasa sedih, belum bisa membantu meringankan beban keluarga.

Perasaan bersalah terus menggelalutinya. Dari situlah, awal stress melanda dirinya. Ia menjadi seorang yang sering menyendiri di dalam kamar. Meratapi nasib. Eh ngapain luh ngelamun aja. Lebih baik ikut gue nemuin orang sakti di Jawa Barat, tegas seorang sahabat karibnya menghibur.

Namanya juga orang lagi bingung dan stress Ustadz! Kalau ada yang mengajak untuk perubahan, saya mah ikut aja, Jelasnya penuh rasa bersalah. Ia bertemu dengan seorang yang sering dipanggil Mbah di daerah Jawa Barat. Ia pun menceritakan seluruh masalahnya kepada orang itu. Setelah beberapa kali pertemuan, ia dibekali sebuat benda yang menurut si Mbah adalah benda pusaka peninggalan leluhur sebuah kerajaan di Jawa Barat. Dengan semangat pemuda ini memenuhi pembayaran mahar, seharga 5OO ribu. Uang tersebut didapatkan, setelah menjual komputer kesayangannya. Ia berharap ada perubahan hidup.

Waktu terus berjalan dengan cepatnya. Dua tahun lebih ia terus menganggur. Dua tahun itu pula, ia merasa dibohongi oleh si Mbah. Sampai akhirnya ia menyadari semua perbuatannya adalah tindakan keliru, setelah membaca Majalah Al-Iman milik temannya.

“Saya ingin hidup saya lebih berkah. Makanya saya menelepon Ustadz untuk sekadar curhat dan menyerahkan benda ini, tegasnya menutup cerita. Majalah Al-Iman yang sedari tadi mendengarkan ceritanya dengan seksama, memberikan beberapa masukkan untuknya. Kami pun berpisah setelah melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Sampai  jumpa lagi, semoga Allah mengampuni semua dosa kita yaag telah lalu, ujar Majalah Al-Iman sambil beripamitan di area parkir motor.

 

BENTUK JIMAT

Benda yang dianggap pusaka ini berbentuk sebuah batu berwarna hitam dengan salur’salur berwarna putih di tengahnya. Ukurannya seperti/sebesar telur burung puyuh. Beratnya sangat ringan. Batu ini dibungkus pada sebuah kantong berwarna hitam yang terbuat dari kain.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini diyakini bisa membantu orang yang menyimpannya di dalam rumah, terutama jika mempunyai permasalahan yang serius. Belum mendapatkan pekerjaan, dan gangguan stress dapat dengan mudah dihilangkan. Gombal-gombal.

 

BONGKAR JIMAT

Lagi-lagi dukun telah menipu pasiennya yang sedang dirundung masalah. Batu yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa diladikan media untuk bersekutu dengan jin. Lebih gawat lagi, jika batu yang terjual bebas di pinggiran jalan ini dianggap peninggalan pusaka dari leluhur sebuah kerajaan tersohor di Jawa Barat Lengkap sudah trik dan bualan si dukun dalam mengelabui pasien yang tidak tahu apa-apa. Dan Hasilnya nol. Nihil.

Kalau tidak segera menyadari perbuatan ini, kita termasuk orang yang telah menduakan Allah Naudzubillah.

Kecemasan dan stress adalah sifat kehidupan yang dirasakan manusia, karena dunia ini tempatnya penyakit, kesulitan dan penderitaan. Pembeda antara surga dengan dunia adalah bahwa di surga tidak ada stress dan rasa cermat. Seperti yang dijelaskan pada surat al-Hijr ayat 48; Makanya, kita harus berusaha untuk mendapatkan -kenikmatan surga dengan beribadah secara ikhlas kepada-Nya. Hal yang biasanya kita ingat dan membuat kita merasa stress adalah hal-hal yang menimbulkan perasaan sedih, hal-hal di masa datang yang membuat kita cemas, dan hal-hal dimasa kini yang membuat kita khawatir. Manusia menyikapinya dengan cara-cara yang berbeda-beda untuk mengatasi stress dan rasa cemas ini, tergantung dari sedikit banyaknya yang membuat mereka merasa khawatir. Apakah kecemasan tersebut berkelanjutan atau tidak, dan apakah mereka memiliki iman di dalam hatinya ataukah mereka cenderung menjadi pelanggar aturan yang penuh dosa seperti pergi ke dukun.

Salah satu cara untuk menghilangkan stress dan rasa cemas adalah melengkapi diri dengan iman (kepercayaan) yang kemudian diikuti dengan perbuatan yang baik. Seperti yang dijelaskan dalam surat an-Nahl ayat 97, bahwa; “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Alasannya jelas: mereka yang percaya kepada Allah, yang imannya benar dan mendorong diri merekasendiri untukberbuat baik dari hati mereka. Selanjutnya merubah status mereka di dunia ini dan dunia selanjutnya dengan memiliki prinsip-prinsip dasar bagiamana seharusnya berurusan dengan kesenangan dan kesedihan yang mereka hadapi. Jadi, ketika menghadapi stress, rasa sakit, cemas dan khawatir, sudah sepatutnya sebagai orang beriman kita menghadapinya dan mengurangi semampunya, serta bersabar pada hai-hal yang tidak ada pilihannya. Sebaliknya, jika kita mendapatkan kesenangan kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah.

Apa yang dilakukan pemuda ini, dengan menyerahkan jimat yang telah disimpannya selama bertahun-tahun adalah bukti keimanannya yang masih hidup. Insya Allah.

 

Al-Iman bil ghoib Edisi  88/4 sya’ban 1428 H/24 agustus 2007 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN