Sisi Lain Sebuah Bencana

Kita sering tidak habis pikir, bencana demi bencana terus mendera negeri ini. Dari ujung barat sampai ujung timur. Sepertinya siang dan malam kita tak pernah sepi dari bencana. Setelah diguncang bencana alam dimana-mana, kita kini diguncang kesulitan lain dengan melambungnya harga-harga. Dimana-mana orang menjerit. Hingga nyaris tak punya suara.

Krisis multi dimensi negeri ini semakin parah. Musibah justru bermunculan bak jamur di musim hujan. Membuat daftar kesengsaraan bangsa ini semakin bertambah panjang. Negeri ini tidak kekurangan pakar. Para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu sudah mencoba mengamati dari berbagai sudut. Pakar politik berfikir bahwa bencana negeri ini berawal dari politik kotor. Para ekonom menyoroti dari sisi banyaknya utang yang membebani dan manajemen yang payah.

Dengan pengamatan diatas, semakin membaikkah negeri ini? Bisa jadi ya. Pertumbuhan ekonomi, walaupun masih gamang masih ada yang optimis bisa merangkak naik. Kebebasan politik walaupun belum mampu menghilangkan KKN tetapi sudah sedikit ada perbaikan. Tetapi masih banyak masalah yang mendera bangsa ini yang menuntut untuk diselesaikan dalam waktu dekat.

Semua pengamatan di atas adalah pengamatan yang bersifat fisik. Sesuatu yang nampak pada lahiriah. Islam memperhatikan hal-hal lahiriah, tetapi hal-hal bathiniyah justru mendapat perhatian yang lebih. Sering kali pandangan manusia hanya melulu kepada hitungan matematis di atas kertas. Padahal ada unsut ruh dalam diri manusia yang sebenarnya malah memegang kendali kehidupannya.

Hati adalah akarnya manusia. Tempat menggodok segala rencana. Badan adalah persetujuan ide yang dimunculkan otak. Jadi, segala bentuk kejahatan berawal dari hati yang jahat. Dan segala kebaikan tidak mungkin muncul kecuali dari hati yang baik.

Untuk itu, sudah saatnya kita mengamati bencana-bencana yang terjadi hampir setiap hari itu dari sisi yang berbeda. Sisi yang jarang dilirik oleh para pengamat, atau diragukan oleh lainnya.

Sisi itu ialah melihat bencana dan kesulitan hidup dari sudut pandang bathin. Sudut pandang hati. Sudut pandang ‘langit’ dan tidak sudut pandang bumi. Dengan kata lain, bencana yang terjadi harus juga dilihat dari sudut ‘lain’. Tidak saja sudut lahiriah. Sudut manusiawi, tapi juga sudut ghoib.

Sudut pandang ghoib artinya, kita melihat bahwa di balik bencana ini ada taqdir Allah, ada kehendak Allah. Tetapi ada pula peran-peran manusia, yang telah melanggar ketentuan Allah SWT.

Apa yang telah diciptakan Allah di muka bumi ini sangat cukup sekedar menghidupi seluruh penduduknya. Bahkan untuk menghidupi manusia dan binatangnya. Tetapi ketika yang terjadi adalah kerakusan di mana-mana, maka sebanyak apapun kekayaan dunia ini tidak pernah bisa memenuhi.

Saat itulah terjadi berbagai macam pelanggaran. Saat itulah terjadi berbagai macam ketimpangan. Hidup tidak berjalan di atas relnya yang benar. Manusia berubah menjadi lebih kejam daripada binatang. Saat itulah, syetan-syetan berpesta karena mereka telah berhasil menggoda manusia, merayu mereka untuk menjadi rakus, untuk menjadi tamak, menjadi pengikut syetan dengan memperturutkan hawa nafsu.

Dunia milik Allah. Sehebat apapun manusia, tidak akan bisa melawan ketetapan Allah. Orang-orang yang melampui batas, yang membuat keonaran di muka bumi, menebarkan kerusakan, kehancuran, sesungguhnya adalah pengikut-pengikut syetan.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 03/1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN