Saatnya Mengambil Ibrah (Pelajaran)

Oleh : DR. Atabik Luthfi, MA

 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang memfungsikan akal mereka. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”. (QS. Yusuf: 111)

Kehidupan ini terus berselang silih berganti antara satu peristiwa dengan peristiwa berikutnya. Rentetan peristiwa tersebut bukan suatu kebetulan atau tanpa pelajaran yang semestinya terus senantiasa digali dan diambil hikmahnya. Sungguh sangat merugi, jika kita tidak mampu mengambil pelajaran dari setiap kejadian atau peristiwa yang menyertai kehidupan ini. Karena itulah hakikat kehidupan bagi orang yang beriman.

Al-Qur’an -tak terkecuali- sebagai sebuah kitab kehidupan, sarat dengan kisah yang memuat berbagai ibrah yang sangat berguna bagi kelangsungan dan kebaikan hidup manusia selanjutnya. Bahkan  muatan al-Qur’an tentang kisah justru merupakan pembahasan yang dominan dari ayat-ayatnya. Tidak kurang dari tiga perempat al-Qur’an adalah berbicara tentang kisah. Dan tentunya, kisah-kisah al-Qur’an sangat istimewa karena mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Seperti yang ditegaskan dalam surah Yusuf ayat 111 di atas.

Ayat tersebut merupakan ayat terakhir dari surah Yusuf. Surah yang dinamakan dengan nama salah seorang utusan Allah dan khusus untuk mengabadikan kisah perjalanan seorang nabiyullah Yusuf AS bersama saudara dan keluarganya memang surah yang istimewa, karena khusus memuat kisah seorang nabiyullah dengan sangat rinci, semenjak kecil hingga menjadi raja di Mesir. Hanya kisah nabi Yusuf yang terdapat dalam satu surah secara lengkap, tidak tersebar dalam beberapa surah seperti kebiasaan kisah nabi-nabi yang lain. Sehingga memang tepat surah ini ditutup dengan ungkapan “Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (ibrah) bagi orang-orang yang memfungsikan akal mereka”.

lmam al-Qurthubi memahami kata “ibrah” dalam ayat tersebut dalam arti yang luas, bukan terbatas pada pelajaran, tetapi lebih dari itu sebagai sebuah bahan pemikiran, bahan peringatan dan tentunya pelajaran yang sangat berharga. Bukan sekedar dongeng pengantar tidur atau pengantar penyampaian materi pelajaran. Dan itulah kisah surah Yusuf yang sarat dengan hikmah dan pelajaran bagi generasi mendatang.

Dalam konteks ay at-ayat yang berbicara tentang ibrah, Muhammad Fu’ad Abdul Baqi dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadzil Qur’an mencatat sedikitnya tujuh ayat yang berbicara tentang ibrah dengan beragam titik tolak yang harus dijadikan ibrah; Surah Ali lmran: 13, an-Nahl: 66 dan al-Mu’minun: 21 dengan redaksi yang sama, Yusuf: 111, An-Nur: 44, al-Hasyr: 2, dan surah an-Nazi’at: 26.

Surah Ali lmran ayat l3 misalnya, Allah mengajak kita memahami ibrah yang bernilai yang terdapat pada pertolongan Allah bagi para pasukan Badar dan tentunya bagi hamba-hamba-Nya yang senantiasa berjuang di jalan-Nya, bahwa “Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati”. (QS. Ali lmran: 13). Tentu, ibrah ini akan sangat terasa manakala kita mengalami kondisi seperti yang dialami oleh pasukan muslim dalam perang pertama dalam sejarah lslam, yaitu perang Badar. lnilah arti pentingnya “Wahuwa syahid” dan ia hadir menyaksikan secara langsung perostiwa tersebut.

Dengan redaksi yang sama yang terdapat dalam surah an-Nahl: 66 dan al-Mu’minun: 21. “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu”. Allah mengarahkan kita justru untuk mengamati perjalanan kehidupan binatang ternak yang ternyata memuat banyak ibrah tentang kemahabesaran Allah. Betapa pada kehidupan binatang ternak juga terdapat pelajaran yang berharga bagi kehidupan manusia, dan kita diajak untuk banyak mengambil ibrah dari mereka.

Pada alam semesta yang Allah ciptakan, juga terdapat pelajaran yang cukup berharga sehingga kita kembali diingatkan untuk mengambil pelajaran dari perjalanan alam semesta, seperti pergantian malam dan siang yang Allah tegaskan dalam firman-Nya, “Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang orang-orang yang mempunyai penglihatan”. (QS. An-Nur: 44). Betapa masih banyak detik-detik perjalanan alam semesta yang berlalu tanpa kita sempat mengambil ibrah darinya.

Berbeda dengan lima ayat sebelumnya, dalam surah al-Hasyr ayat kedua ini Allah menggunakan bentuk perintah, “Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (QS. Al-Hasyr: 2). Karena sikap selalu waspada terhadap musuh merupakan ciri mukmin yang memiliki kepedulian terhadap nasib umatnya dan Allah menghendaki kebaikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih sehingga ajakan mengambil ibrah dalam ayat ini tampil dalam bentuk perintah yang jelas.

Sedangkan pada ayat terakhir yang berbicara tentamg ilbrah berdasarkan susunan mushaf al-Qur’an yaitu surah an-Nazi’at: 26 “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut kepada Tuhannya)”, Allah menggambarkan cirri orang yang bisa mengambil ibrah dari semua peristiwa yang terjadi. Bahwa hanya mereka yang takut  akan Allah yang selalu siap mengambil dan menerima ibrah (pelajaran) dari siapa pun dan dalam bentuk apa pun demi kebaikan kehidupan mereka di masa mendatang. Mereka menjadikan ibrah itu sebagai batu pijakan dan landasan untuk mengambil sikap, keputusan dan tindakan yang tepat.

Selain dari kata “ibrah”, dalam rangka mengajak manusia mengamat i ayat-ayatnya, seringkali al-Qur’an menggunakan istilah dan redaksi yang beraneka ragam yang merupakan sunnatul Qur’an dalam uraian dan pembahasannya, termasuk tentang ibrah. Kadang al-Qur’an menggunakan isti lah dzikra yang semakna dengan ibrah. Dan ini disetujui oleh lbnu Katsir dalam penafsiran beIiau terhadap ayat  yang menggunakan kata dzikra, seperti dalam ayat, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya”. (QS. Qaaf: 37).

Bagi lbnu Katsir, ibrah dari segala yang terjadi di pentas dunia ini hanya bisa digali dan dicerna oleh mereka yang memiliki hati yang senantiasa terjaga dan pendengaran yang baik, serta menghadirkan diri bersama peristiwa tersebut, tidak bagi mereka yang tidak perduli dan masa bodoh terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Selanjutnya Yahya bin Mu’adz membagikan keadaan hati manusia kepada dua keadaan; hati yang selalu disibukkan dengan urusan dunia, sehingga apabila datang kepadanya salah satu dari urusan akhirat, ia tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dan hati yang selalu disibukkan dengan urusan akhirat, sehingga jika datang kepadanya sarah satu dari urusan dunia, ia pun tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya karena hatinya sudah terbang di kehidupan akhirat. Betapa hati kita memiliki kecenderungan dan perhatian tersendiri yang harus selalu ditita agar tetap mampu mengambil ibrah sebanyak-banyaknya.

Demikian banyak peristiwa dan kejadian di hadapan kita yang terkadang terlepas dari pengamatan dan kepedulian kita, sehingga akibatnya bisa jadi kita terperosok ke daram rubang kekalahan dan kesalahan untuk kesekian kalinya. Sungguh di luar dugaan bahwa kita masih terkungkung dalam keterpurukan, padahal banyak ibrah yang semestinya sudah kita temukan dari berbagai peristiwa yang terjadi dalam dimensi lokal maupun global. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan”.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Memaknai Kembali Ayatus Shiyam

Oleh : Atabik Luthfi, MA

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Merupakan satu rahmat Allah bahwa Ayatus Shiyam, yaitu ayat-ayat yang berbicara tentang puasa dalam berbagai pembahasannya dapat dengan mudah ditemukan karena berada pada satu surah secara berurutan di dalam surah al-Baqarah dari ayat 183 hingga ayat 187. Dan ayat di atas merupakan ayat perama yang menjadi landasan qath’i atas kewajiban puasa bagi seluruh umat lslam.

Dari kelima ayat yang berada dalam susunan ayatus shiyam, ternyata terdapat satu ayat yang berbeda dari segi pembahasannya. Ayat ini justru berbicara tentang kedekatan Allah dengan hamba-hambaNya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah: 186). Meskipun demikian, masih tetap dapat ditemukan korelasi ayat ini dengan keempat ayatus shiyam.

Bulan Ramadhan yang dikenal juga den gan syahrul ibadah dan syahrud du’a merupakan bulan yang sangat tepat dan memang diperuntukkan oleh Allah kepada seluruh hamba-Nya untuk menjalin dan memperkuat komunikasi dan hubungan yang baik dengan-Nya. Betapa pernyataan kedekaan Allah  dengan hamba-hamba-Nya pada susunan ayatus shiyam harus dijadikan sebagai kekuatan motivasi untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya yang selama ini terasa sangat jauh dan kurang harmonis. lnilah salah satu rahasia kenapa ayat 186 ini mengapit ayatus shiyam sebagai bagian dari makna ta’abuddi yang bisa digali daripadanya.

Secara aplikatif dalam menjalankan seluruh paket Ramadhan; dari berpuasa, shalat tarawih dan qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, sampai dengan puncaknya I’tikaf tentu sangat membutuhkan pertolongan Allah SWT. Maka Allah membuka pintu lebar-lebar bagi hamba-hamba-Nya untuk memohon pertolongan kepadaNya agar senantiasa berada dalam jalan kebenaran “La’allahum Yarsyudun”.  Apalag dalam konteks makna ta’abbudi seperti yang disebudkan oleh Syekh Musthafa Masyhur dalam bukunya “Fiqh Da’wah” bahwa salah satu prinsip yang sangat mendasar dan harus senantiasa dijaga adalah memberi perhatian terhadap masalah tarbiyah dan aspek ibadah ritual. Kedua hal ini ibarat ruh yang ada pada tubuh manusia, baik dalam skala individu maupun dalam skala jama’ah. “Pengabaian akan interaksi dan makna ta’abbudi dalam bulan Ramadhan bisa menjauhkan seseorang dari target yang telah ditetapkan Allah “La’allakum Tattaqun”.

Makna lain yang bisa digali dari ayatus shiyam seperti yang dituturkan oleh Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam bukunya “al-lbadah fil lslam” adalah makna “al-lmsak” yaitu menahan dan mengendalikan diri dengan segenap pengertian yang terkandung di dalamnya. Dan inilah inti dan hakikat dari ibadah puasa yang menghantarkan seseorang kepada derajat muttaqin. Karena diantara sifat yang menonjol dari seorang muttaqin ada pada pengendalian dirinya. Allah SWT. menegaskan, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) Orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orangyang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orangyang berbuat kebaiikan”. (QS. Ali lmran: 133-134). Hanya orang yang mampu menahan di rinya dari keinginan kepada harta yang berlebih yang siap memberikan infaknya dalam keadaan lapang dan sempit. Demikian iuga, hanya orang yang mampu mengendalikan emosinya yang bisa bersabar dan memaafkan orang lain. Bahkan dalam keadaan ia mampu melampiaskan amarahnya. Wajar jika Allah menganugerahkan balasan yang cukup tinggi kepada siapa yang mampu mengendalikan dirinya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh lmam Tirmidzi, “Barangsiapa yang mampu menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka ia akan di panggiI oleh Allah di depan para mahkluk-Nya yang mulia dan ia diberi kesempatan untuk memilih diantara bidadari yang ia inginkan”.

Secara korelatif juga, ayatus shiyam ternyata berbicara dalam konteks menahan diri, terutama dari harta orang lain yang bukan miliknya, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. al-Baqarah: 188). Demikian juga dengan ayat yang mendampingi sebelumnya yaitu ayat 181 – 182 yang berbicara tentang harta pusaka yang dikhawatirkan terjadi penyelewengan padanya.

Makna lain yang cukup fenomenal yang bisa disaksikan sepanjang bulan puasa adalah makna ukhawi, dalam arti kebersamaan dan solidaritas. Dr. Sayyid Nuh dalam bukunya, Al-Fardhiyah wal Jama’ah fil Insan menyatakan, “Ibadah puasa adalah bentuk ibadah kebersmaan umat Islam, sekaligus persamaan dalam menahan rasa lapr dan dahaga pada waktu tertentu”.

Dalam skala keluarga, pembiasaan bangun malam yang diteruskan dengan sahur bersama seluruh anggota keluarga di bulan Ramadhan harus menjadi agenda harian dari makna ukhawi yang berkesinambungan. Ditambah dengan momen silaturahim yang banyak berlangsung sepanjang bulan Ramadhan dalam bentuk buka bersama misalnya merupakan nilai yang luhur dari pemaknaan Ramadhan. Rasulullah SAW. sendiri merupakan contoh ideal sepanjang zaman, “Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, terlebih lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana beliau selalu ditemui oleh Jibril. Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al-Qur’an. Sungguh bila Rasulullah bertemu dengan Jibril, beliau lebih pemurah lagi melebihi hembusan angin kencang.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa beberapa beberapa sahabat pernah mengadu kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah, kami makan tapi tidak kenyang?” Beliau berkata, “semoga ini karena kalian makan sendirian”. Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Berkumpulah pada makanan kalian (makan bersama) dan sebutlah nama Allah, semoga Dia akan member berkah kepada kalian”. (HR. Muttafaq Alaih). Bahkan belajar suatu ilmu dan mengajarkannya tidak ada berkah padanya kecuali dilakukan dengan bersama. Nabi SAW. bersabda, “Tidaklah berkumpul suatu kaum di rumah dari rumah-rumah Allah ta’ala dengan membaca Kitabullah dan mempelajari nya satu sama lain antara mereka, kecuali akan diturunkan kepada mereka ketenangan, mereka diselimuti rahmat dan malaikat mengelilingi mereka, serta Allah menyebut mereka di sisi-Nya.” (HR. Abu Daud)

Demikian, lslam memandang kebersamaan umat lslam merupakan suatu tuntutan yang sangat urgen. Karena manusia jika tidak bersama dalam kebenaran, maka mereka akan bersama dalam kebatilan. Begitu pula, jika merekatidak berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat, mereka pasti akan bersaing dalam mendapatkan perhiasan dunia. Berulang kali perintah Allah tidak ditujukan secara redaksional kepada individu (perorangan), baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Tetapi ditujukan kepada seluruh orang yang beriman, dengan bentuk pengajaran dan petuniuk. Termasuk dalam perintah puasa, “Wahai sekalian orang-orang yang beriman”.

Mudah-mudahan semakin banyak pemaknaan yang kita lakukan terhadap Ayatus shiyam, maka akan semakin dapat memperkuat motivasi kita untuk melaksanakan seluruh paket Ramadhan dengan baik dan berkesinambungan sehingga kita termasuk diantara golongan yang mampu meraih predikat takwa yang dijaniikan Allah.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Jin Mengganggu Kebahagiaan Rumah Tangga

Ada beberapa hal penting yang bisa kita ambil pelajaran dari kasus kesaksian Siska dan Bambang di atas.

Pertama, sesungguhnya jin adalah makhluk yang sama seperti manusia. Mereka sekali-kali tidak akan berubah menjadi tuhan. Jin pun mempunyai keperluan-keperluan makhluk seperti manusia. Keperluan makan, minum, seks dan sebagainya. Seperti kelakuan jin yang ditujukan kepada Siska. Di mana malam itu, muncul dua Bambang yang sama. Ternyata, Bambang yang pertama adalah jin yang berusaha untuk menodai.

Maka dari itu, jin yang mempunyai kebutuhan seperti manusia jangan diposisikan seperti tuhan. Yang masih punya keinginan duniawi, berarti lemah seperti manusia. Sehingga ketaatan dan rasa hanya kepada Allah saja, “… Sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (QS. al-Maidah: 3).

Kedua,  Jin bisa menampakkan diri atas seizin Allah. lmam lbnu Taimiyyah berkata, “Jin bisa menyerupakan dirinya dengan manusia ataupun binatang. Mereka bisa berwujud ular, kalajengking dan sebagainya. Sebagaimana mereka bisa berubah wujud menjadi unta, sapi, kambing, kuda, keledai. Atau berupa burung. Dan bisa juga menyerupai salah satu anak cucu Adam.” (Kitab Risalatul Jin hal. 32).

Jin bisa menampakkan diri dengan menggunakan mantera sihir yang mereka baca atau gerakan-gerakan sihir yang mereka lakukan. Untuk itulah ketika Umar bin Khattab diceritakan tentang kisah jin yang menampakkan diri dalam bentuk yang bermacam-macam, dia berkomentar, “Sesungguhnya seseorang di antara kalian tidak mungkin bisa berubah dari bentuk  dirinya yang telah diciptakan Allah, tetapi mereka mempunyai sihir seperti halnya sihir kalian manusia.” (Fathul Bari 6/344). Maka, jin yang menampakkan dirinya kepada Siska dengan wujud wajah suaminya, adalah salah satu sihir yang dilakukan oleh jin tersebut.

Ketiga, Jin berusaha untuk mengacaukan keluarga. Suasana tenteram dalam keluarga Siska seketika berubah menjadi kacau dan tidak nyaman, ketika peristiwa-peristiwa janggal bermunculan. Dari mulai penampakan jin dalam bentuk suaminya hingga penampakan jin dengan kepalanya saja berikut darah segar yang masih menetes, atau angin keras yang tiba-tiba bertiup di malam hari.

Dan memang prestasi tertinggi .jin adalah ketika mereka berhasil memisahkan antara suami istri bagian dari sihir yang juga diajarkan oleh para syetan itu kepada manusia, “… Hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil … Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.” (QS. al-Baqarah: 102).

Demikian panjang rasa dendam lblis kepada anak cucu Adam. Sehingga dia tidak pernah merasa puas untuk terus menciptakan jebakan-jebakan penyesatan dan tingkah yang membuat sengsara anak cucu Adam, Sesungguhnya Allah telah berkali-kali mengingatkan dalam al-Qur’an bahwa syetan adalah musuh nyata bagi kita. Maka hanya dengan kembali kepada ajaran-Nya kita bisa melawan tipu daya mereka.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Dirayu Jin yang Menyerupai Suami

Jin memiliki perasaan cinta? Ya, memang demikian. Karena mereka adalah makhluk yang berkembang biak seperti halnya manusia. Kian hari jumlah mereka kian banyak. Bila rasa cinta tersebut terjadi sesame mereka, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Tapi rasa cinta akan membawa bencana bila ada jin yang mencintai manusia. Seperti yang dialami Siska (nama samaran). Ia pun pingsan sesaat setelah mengetahui  bahwa jin menyerupai suaminya. Dengan didampingi suaminya, ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bogor. Berikut petikan kisahnya.

Mahligai rumah tangga saya seakan tidak pernah terpisah dari dunia gaib. TLjuh tahun lalu, beberapa bulan sebelum melangsungkan pernikahan pun, saya telah merasakan sakitnya cakar macan. Walau macan itu hanya hadir dalam mimpi, tapi tak urung lima cakaran membekas di dada. Saya baru sadar, sesaat setelah mandi. Saya pun keheranan bukan kepalang. Bagaimana mungkin itu terjadi. Waktu itu,  saya hanya cerita kepada Bambang (nama samaran), seorang pemuda yang kini menjadi suami saya.

Siangnya, Bambang main ke rumah. Di sinilah, peristiwa yang memalukan itu terjadi. Saya yang sedang kasmaran dengan Bambang, tanpa tedeng aling-aling, langsung menariknya ke dalam kamar. Bambang pun terkejut. Tidak biasanya saya berperilaku seperti ini. Apalagi, ia melihat sorot mata saya berubah. Mata saya merah. Bambang dengan tegas menolak. Saya tetap merengek, walau saat itu saya hanya minta dicium.

la pun berlari menghindar. Tapi saya terus mengejarnya. Katanya bajunya sampai robek-robek. Barulah setelah terdengar adzan dzuhur ulah saya terhenti. “Panaas. Panaaas. Hentikan suara itu,” teriak saya.

Dari sini, Bambang sadar bahwa itu bukanlah diri saya. Ada makhluk gaib yang merasuk ke dalam diri saya. Maka ia pun segera mencari pertolongan kepada tetangga yang kebetulan seorang haji dan katanya bisa mengusir gangguan jin.

“Saya tidak tahu bagaimana cara perginya. Semoga Siska tidak diganggu lagi,” ujar wak haji. Keesokan harinya, saya kerasukan lagi. Kali ini lebih parah. Saya berlari kesana kemari, sambil terus berteriak “Mana Siska. Mana Siska. Saya ingin membunuhnya. Dia merebut pacar saya.” Aneh, memang. Saya berlarian kesana kemari mencari diri saya sendiri. Bahkan saya ingin membunuh diri saya.

Waktu itu, orang pintar kembali dipanggil untuk menyadarkan saya. “Segera nikah saja, karena ada orang yang ngganggu. Semoga setelah menikah tidak ada lagi gangguan,” saran orang pintar itu kepada bapak saya.

Singkat cerita, kami pun melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Orang yang tidak senang dengan hubungan kami pun tidak membuat ulah di hari kebahagiaan kami.

Hari-hari berikutnya, semua berjalan normal. Saya bisa menikmati peran yang baru, sebagai istri dari suami tercinta. Waktu terus berjalan. Anak kami yang kedua pun lahir, bayi laki-laki yang montok. Anak yang pertama kebetulan adalah perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan kami.

Jin Menyerupai Wajah Mas Bambang

Hingga suatu malam, tidak seperti biasanya Rinto, anak saya yang kedua menangis keras. la nangis sejadi-jadinya. Ah, Rinto lagi kehausan, pikir saya. Saya pun segera membangunkan pembantu dan memintanya membuat susu. Tapi entah kenapa, pembantu agak lama di belakang. Sementara Rinto yang baru berumur satu bulan itu pun belum berhenti menangis.

Saya beranjak ke dapur untuk menyeduh susu sendiri. Dan begitu kembali ke kamar saya lihat Mas Bambang sudah berada di kamar. Padahal, seharusnya dia tidur di kamar sebelah bersama Ratih, anak saya yang pertama.

Saya segera meraih Rinto dan memberinya susu. Tapi Mas Bambang, malah bikin ulah yang aneh. la merajuk dan meminta saya melayaninya. Saya sendiri heran, tidak biasanya ia bersikap seperti itu. “Eh, ngapain sih. Jangan kayak begini dong.”

Mas Bambang tetap tidak mau menyerah, dia terus membujuk saya. Bahkan berusaha melepas baju saya. “Ntar dulu dong mas. Ngapain sih Mas Bambang ini.” “Rinto lagi minum susu. Macam-macam saja,” saya sampai berteriak.

Rinto, tetap saja menangis. Susu yang saya berikan tetap tidak bisa meredakan tangisnya. Tapi Mas Bambang tidak peduli. la sangat bernafsu malam itu. “Mas ini, apaan sih,” teriak saya lagi.

Sedetik kemudian, saya langsung pingsan. Pasalnya, dari pintu yang terbuka perlahan, muncul Mas Bambang yang lain. Saya bingung mana yang asli. Bajunya sama-sama putih dan memakai sarung yang serupa. Mereka layaknya saudara kembar saja.

Entah, berapa lama saya pingsan, saya tidak tahir. Begitu tersadar, tinggal Mas Bambang yang asli, masih setia menemani saya. Barulah kemudian saya ceritakan apa yang terjadi. Memang, sebelum kedatangan jin yang menyerupai Mas Bambang, angin berhembus kencang. Korden jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan udara masuk, sampai tersingkap ke atas. “lni angin kok kencang begini,” pikir saya. Tapi, keanehan itu belum menyadarkan saya atas apa yang terjadi. Terlebih tangis Rinto yang berlebihan telah menyita perhatian saya.

Saya tidak tahu apakah jin masuk bersamaan dengan hembusan angin yang kencang. Tiba-tiba saja, jin yang menyerupai Mas Bambang sudah berada di dalam kamar dan saya sedikit pun tidak menaruh curiga. Saya beruntung, pukul 02.30 malam itu tidak menjadi korban kebiadaban jin. Malam itu, Mas Bambang pun shalat sambil terus membaca ayat kursi.

Apakah kedatangan jin itu terkait dengan rumah yang saya tinggali sekarang? Saya tidak tahu. Saya menempati rumah ini sejak empat tahun lalu. Tapi ini kejadian pertama yang saya alami di sini. Tahun-tahun pertama tidak pernah teriadi apa-apa. Dari tetangga, saya pun tahu bahwa rumah ini dulunya dihuni oleh orang China penganut Konghuchu yang terbilang taat. Di ruang tamu ini dulunya ada patung Dewi Kwan ln yang sangat besar. Sorot matanya merah menembus kaca jendela. Menakutkan warga yang lewat di malam hari.

Hari-hari berikutnya semuanya kembali normal. Aktifitas rutin sebagai ibu dari kedua anak saya, menyita banyak perhatian. Apalagi Ratih sudah mulai masuk TK. Biasanya saya mengajarinya bahasa Inggris. Ratih pun mampu menjadi juara ll lomba bahasa lnggris se kabupaten Bogor.

Ketenangan yang masih dalam hitungan bulan itu pun terusik kembali, sepulang Mas Bambang dari umrah. Yang saya rasakan adalah hawa panas bila berada di rumah. Terkadang saya pun jengkel, “Kok, Mas Bambang sepulang dari umrah, malah tidak benar sih. Kasar,” keluh saya suatu hari. Tapi Mas Bambang tidak merasa berubah. la masih tetap seperti yang dulu.

Hingga suatu malam, kata Mas Bambang saya tidur sambil duduk. Melihat itu, dia merasa ada kejanggalan dalam diri saya. “lni pasti ada yang tidak beres,” Mas Bambang mulai curiga. Tangannya segera menarik dan membangunkan saya. Tapi saya belum sadar seutuhnya. Katanya mata saya plerok-plerok. Jelas ini bukanlah diri saya. Pasti ada jin yang merasuk  ke dalam diri saya kembali.

Dengan cepat, saya segera didekapnya, sambil terus dibacakan al-Qur’an sebisanya Saya berontak. Ada kekuatan lain, yang menguasai saya. Hingga saya tidak lagi dapat  mengontrol diri. Yang terjadi kemudian adalah pergumulan dan adu jotos yang tidak lagi terelakkan.

Kegaduhan itu berlangsung  beberapa saat, sebelum akhirnya saya terduduk lemas dan … pingsan. Mungkin, saat itu jin yang merasuk ke dalam diri saya keluar setelah tidak tahan dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an.

Beberapa saat saya tidak sadarkan diri. Setelah sadar pun saya masih setengah sadar setengah tidak. Yang saya rasakan waktu itu hanyalah seperti orang yang tidur sebentar, kemudian terbangun lalu tertidur lagi.

Jam 6 pagi, keesokan harinya, saya seperti orang bengong. Diam membisu Melihat hal itu, Mas Bambang langsung bertanya, “Eh, kamu siapa. Jangan ganggu orang,” (sebagaimana dituturkan suaminya). Saya lari. Tapi Mas Bambang, tidak membiarkan saya keluar dari rumah. Ia segera mengejar dan menangkap saya kembali. Untung saat itu, pagar depan rumah masih terkunci, sehingga dengan mudahnya saya ditangkap. Kembali bacaan ayat-ayat al-Qur’an melemahkan jin yang merasuk ke dalam diri saya. Waktu itu sayatidak merasakan apa-apa. Goresan kawat besi pagar rumah pun tidak terasa.

Baru setelah sadar saya merasakan nyeri dan letih. Pukul 8 pagi, orangtua saya datang dari Jakarta. Saya ceritakan semua peristiwa yang terjadi sejak semalam. Bapak hanya manggut-manggut saja, sebelum akhirnya menawarkan untuk mengajak saya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib. “Kalau begitu datang saja ke kantor Maialah Ghoib. di sana ada ruqyah terapi gangguan jin dengan cara yang benar karena tidak bertentangan dengan syariat lslam. Bawa ke sana saja.”

Hari itu diputuskan untuk segera ke Jakarta. Waktu itu hari Ahad, lalu Mas Bambang telpon ke kantor Majalah Ghoib, karena khawatir hari Ahad libur. “Mas saya mau kesana, ditunggu sampai jam berapa?” “Oh, saya tunggu sampai jam dua” kata suara di balik telpon. Akhirnya saya diajak Mas Bambang. Tapi ketika sampai di sana ternyata hanya disuruh daftar saja. Dapatnya entah berapa minggu lagi.

Waktu itu, Mas Bambang melobi, “Kalau ini sakit biasa mungkin tidak apa-apa Tapi ini gangguan jin. Saya tidak bisa mengusir. Tolonglah bantu saya.” Akhirnya Mas Bambang diberi nomor handphone Ustadz Aris.

Mas Bambang, mencoba  menghubungi Ustadz Aris, tapi tidak ada jawaban. Baru setelah dihubungi beberapa kali, handphone diangkat dan saya disuruh datang ke masiid At-Taibin yang hanya berjarak 200 meter dari terminal Senen. Terus terang, kami srek dengan Majalah Ghoib, karena mereka menterapinya dengan cara islami. Kami merasa nyaman.

Setiba di masjid At-Taibin, saya langsung dibawa naik ke lantai dua. Setelah beberapa saat dibacakan ayat-ayat al-Qur’an, terjadilah dialog. “Siapa namamu?” Tanya Ustadz Aris. Jin menjawab“Jamal.”

“Mengapa kamu masuk ke tubuh ibu ini?”

“Saya suka sama Siska.”

”Berapa umurmu?”

“Dua genep (26 ) tahun.”

“Kamu masih perjaka?”

“Ya. Saya masih perjaka.”

“Kenapa senang?”

”Dia ditinggal terus sama suaminya. Padahal dia itu orangnya baik, shalihah. Jadi sya kasihan sama dia.”

“Suaminya kerja untuk nyari duit,” jin Jamal itu pun tertawa saja. Setelah dialog yang mengalami kebuntuan, Ustadz Aris kembali membaca ayat-ayat al-Qur’an.Ketika disuruh keluar, jin Jamal tidak mau. Jin itu bahkan minta diantar ke Bogor. “Ya sudah kamu ikut saja di mobil. Nanti kan sampai di Bogor”. Setelah disuruh demikian, akhirnya jin Jamal keluar. (sebagaimana dituturkan suaminya)

Setelah ruqyah itu, saya tidak langsung pulang ke Bogor, tapi diantar Mas Bambang ke rumah orangtua di Jakarta Selatan. Sementara Mas Bambang sendiri ada keperluan kantor dan harus menginap di hotel selama tiga hari di daerah Sunter, Jakarta Utara. Otomatis, Mas Bambang membawa mobil ke hotel di daerah Mangga Dua. Berputar-putar lewat Ancol.

Selesai acara, Mas Bambang langsung menjemput saya. “Dik, tolong ambilkan baju yang ketinggalan di bagasi,” pinta Mas Bambang. Tapi begitu pintu bagasi saya buka, saya merasakan ada jin yang merasuk lagi.

Tanpa pikir panjang, Mas Bambang segera menjemput Ustadz Aris dan diajak ke rumah. “Kamu siapa?” “SayaJamal.” “Lho kenapa kamu masuk?” “Ya, katanya saya mau dipulangkan ke Bogor, tapi tidak dipulangkan. Diputar-putar saja di daerah laut-laut. Terus saya lihat ibu Siska, ya saya masuk lagi,” elak jin Jamal. Ternyata selama tiga hari itu, iin Jamal masih menumpang di mobil. “Ya sudah sekarang kamu pergi saja Tidak usah menumpang di mobil.” Jin Jamal pun keluar.

Kebetulan di depan rumah ada pohon mangga di area pemakaman. Tidak lama kemudian jin Jamal masuk ke tubuh saya lagi. “Lho kamu kok balik lagi.” “Ya saya balik lagi. Karena di pohon mangga itu banyak syetannya. Saya dipukul. Saya ditendang.” Setelah dibacakan ruqyah beberapa kali, akhirnya jin Jamal keluar dan tidak masuk lagi.

Sebelum keluar, jin Jamal mengaku bahwa dia masuk ke tubuh saya ketika saya bermain ke rumah saudara di daerah Batu Lampar. Katanya, dia masuk begitu saja, karena melihat saya orangnya baik.

Saya tidak tahu, apa alasan jin Jamal mengatakan saya orangnya baik dan harus dikasihani. Tapi bila dikatakan sering ditinggal suami, memang benar adanya. Mas Bambang, sering pulang malam. Kadang-kadang ke luar kota tiga hari atau bahkan seminggu. Sesekali juga ke China, Hongkong atau Singapura.

Saya sering telpon Mas Bambang di kantor bila jam sembilan belum pulang, “Mas, kok belum pulang?” “Oh, ya Dik. Saya nanti pulangnya malam.” Saya tidak tidur sebelum Mas Bambang pulang. Perasaan saya tidak tenang bila suami belum di rumah. Biasanya, saya mondar-mandir di rumah, sampai Mas Bambang pulang.

Pernah, saya menangis seharian. Waktu itu hari ketiga Mas Bambang umrah. Biasanya ia selalu telpon setiap hari, bila bepergian kemana saja. Tapi pada hari ketiga itu, Mas Bambang, tidak telpon seharian. Saya sampai sesenggukan. “Ya Allah, yang namanya ibadah kok diberatin kayak gitu sih. Didoain kan lebih baik. Doa semoga di sana lancar,” kata ibu menenangkan hati saya.

Saya menangis sedemikian rupa, karena saya benar-benar kangen. Biasanya tidak pernah kangen sampai begitu. Padahal suami pergi ke China atau Hongkongtidak pernah kangen seperti ini.

Sakit migrain sembuh setelah ruqyah

Sudah bertahun-tahun saya sakit asma. Yang selalu saya kambuh bila saya mengalami mimpi buruk, misalnya berenang di sungai yang tidak bertepi. Bila sudah demikian, maka nafas  saya sesaknya bukan main. Mata saya melotot. Kepala sepertinya mau pecah. “Aduh mas, sakit-nya.” Kadang saya sampai kehilangan akal, sehingga kepala saya, saya benturkan ke dinding sampai berdarah-darah. Tapi rasa sakit itu masih saja belum hilang. “Ya Allah, istighfar. Ke rumamah sakit yuk. Ke rumah sakit,” hanya kata-kata suami semacam ini lah yang sedikit mengobati rasa sakit.

Mulanya saya tidak tahu bila sakit kepala yang datang seminggu dua kali itu berasal dari gangguan jin, sampai saya bilang, “Aduh. Buntungin saja nih.” Taruh dulu atau diapain dulu kepala ini.” Saya mulai kehilangan akal, karena rasa sakit itu tidak bisa dihentikan. Mau dibawa tidur, kepala makin pusing. Bila mata dipejamkan, berkunang-kunang .Tapi setelah diterapi ruqyah alhamdulillah, saya sampai sekarang tidak migrain lagi. Kalau pun toh, asma saya kambuh, tapi semuanya masih dalam batas yang wajar. Mata tidak sampai melotot.

Jin kepala buntung menyatroni rumah saya

Akhir Agustus 2004, ketenangan saya kembali terusik. Rumah saya disatroni jin. Kali ini, ia menakut-nakuti saya dengan menampakkan kepala buntung. Apakah ini terkait dengan ocehan saya waktu sakit kepala dulu? Saya tidak tahu.

Waktu itu, sekitar jam sepuluh malam, seperti biasanya saya, Mas Bambang dan kedua anak saya bercanda di kamar. Tiba-tiba,’dooor’ lerdengar suara keras membentur atap rumah. “Aduh. Suara apa itu. Kencang banget.” “Mas suara apa itu mas?” Tanya saya.

Rinto langsung menangis dan digendong oleh pembantu. Sementara itu, selang lima menit kemudian perasaan saya seperti antara sadar dan tidak. Saya bingung, pikiran saya seakan-akan hilang. Seperti orang yang tidur sebentar lalu bangun lagi. Kemudian tidur lagi.

Saya terdiam antara sadar dan tidak. Tak lama kemudian Mas Bambang membuka pintu kamar. Dari balik pintu, “Oh, mas, mas itu apaan mas. Kok nggantung begitu,” teriak saya. Seonggok kepala tergantung di atap-atap rumah. Persis di depan pintu. Rambutnya hitam. Kepala buntung itu berputar perlahan, menyeringai. Dan … Ohh… wajah itu seperti mayat hidup. Matanya berlobang. Darahnya menetes.

Tes. Tes. Tetesan darah seakan menetes ke lantai, tapi … tidak ada bekas darah setitik pun di lantai. Saya semakin bingung, astaghftrullahal adzim saya bacakan ayat Kursi. Anak-anak, saya tutup matanya jangan sampai melihat. Ratih berontak-berontak dan menangis keras. Saya keluar. Sementara Mas Bambang, nampak kebingungan. Dia tidak melihat kepala buntung atau tetesan darah.

Tetangga yang mendengar keributan di rumah segera berdatangan. Dan tak lama kemudian, saya kembali linglung. Saya tidak ingat apa-apa, “Saya dimana. Saya dimana.” Mas Bambang langsung menangkap saya. “Ayo kamu siapa.” “Aku mau pulang. Aku pulang saja,” kata jin melalui mulut saya. Akhirnya mas Bambang rnembaca al-Qur’an sebisanya. Saya berontak. Lima orang satpam pun katanya segera memegang saya. “Saya pulang saja. Saya pulang saja.”

Mas Bambang terus membaca ayat-ayat al-Qur’an. Akhirnya badan saya lemas dan tertidur. Bersamaan dengan itu, tetangga rumah yang katanya adalah ‘orang pintar’ juga datang. la sempat mengatakan bahwa jinnya sudah hilang. Ketika dia melihat ke atas loteng tidak menemukan sumber suara kegaduhan tadi.

Saya tidak tahu apakah kejadian yang menimpa saya karena ada orang yang tidak senang dengan kebahagiaan keluarga saya? Saya tidak berani mereka-reka. Karena selama ini saya merasa tidak punya musuh. Tidak ada lawan.

Masih banyak hal yang harus saya benahi dalam kehidupan saya. Mungkin banyak ‘lubang’ yang harus saya tutup sehingga jin tidak lagi keluar masuk ke dalam raga saya seenaknya saja. Semoga kasus demi kasus ini semakin mendewasakan kami dalam bersikap dan menatap kehidupan ini. Tidak ada kata menyerah. Semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi siapapun bahwa suami adalah belahan jiwa sang istri. Mereka harus selalu seiring dan sejalan. Bersatu dalam menghadapi cobaan dan tantangan kehidupan yang makin tidak bersahabat.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi Khusus

Sejarah Perdukunan dari Masa ke Masa

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) Penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’: 60).

Para ulama tafsir berbedapendapat dalam memaknai kalimat “Thaghut” pada ayat di atas. Banyak di antara mereka memaknai thaghut itu dengan dukun. Di antara ulama tafsir yang memaknai thaghut dengan dukun adalah: lbnu Abbas, Sa’id bin Jubair, lkrimah, Abul Aliyah, dan lmam Qatadah (Tafsir al-Qurthubi: 5/248). Jadi masyarakat pada zaman dahulu lebih suka untuk mendengar omongan dukun dalam menyelesaikan suatu masalah, dari pada kembali kepada wahyu yang telah diturunkan Allah melalui para rasul-Nya.

Selak dahulu, dukun sudah mendapatkan tempat di tengah kehidupan masyarakat. Tidak  hanya pada zaman sekarang atau di zaman Rasulullah. Jauh  sebelumnya pun, dukun sudah mempunyai peran di hati masyarakat yang menggandrunginya. Bagi mereka dukun adalah tempat untuk menyelesaikan masalah. Tempat untuk meminta saran dan pendapat. Tempat untuk menunjang keberhasilan dan kesuksesan yang mereka inginkan.

Dukun di Masa Nabi Musa

Pada zaman Fir’aun misalnya. la melibatkan Para dukun untuk menopang kelanggengan kekuasaan nya. Fir’aun telah menjadikan para dukun ternama dan terhebat sebagai penasihat spiritualnya. Fir’aun dibuat kalang-kabut saat para dukun menafsirkan isi mimpinya.

lbnu Abbas berkata, “Setelah Fir’aun bermimpi, pada pagi harinya Fir’aun mengumpulkan dukun-dukunnya. (Setelah mendengar isi mimpi Fir’aun), para dukun itu mengatakan, ‘Pada tahun ini akan lahir seorang anak laki-laki, ia kelak akan menggulingkan kekuasaanmu’. Serta merta Fir’aun memutuskan bahwa setiap seribu wanita, harus dijaga seratus tentara. Setiap ada seratus wanita, dijaga sepuluh tentara. Setiap ada sepuluh wanita, harus dijaga seorang tentara. Lalu ia memerintahkan, ‘Perhatikan dengan seksama setiap wanita hamil di wilayah ini. Apabila telah melahirkan, lihatlah. Kalau bayinya laki-laki, maka sembelihlah. Dan kalau bayinya perempuan, maka biarkanlah” (Tafsir Jami’ul Bayan: 1/272).

Saat menghadapi Nabi Musa, Fir’aun mengerahkan semua dukun dan tukang sihirnya. Dalam tafsir lbnu Katsir disebutkan, jumlah dukun dan tukang sihir waktu itu mencapai 80.000 personil. Jumlah yang sangat banyak itu dibagi meniadi empat kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin dukun dan tukang sihir terhebat. Yaitu, Sabur, Adzur, Hath Hath dan Mushaffa. Sungguh merupakan jumlah yang sangat banyak. Tapi dukun yang dimiliki Raja Persia lebih banyak lagi. Jumlahnya mencapai 360 orang. Itulah sebagian cara mereka untuk melanggengkan kekuasannya.

Dukun di Masa Nabi Yusuf

Begitu iuga raia yang memerintah pada zaman Nabi Yusuf. la menjadikan para dukun sebagai rujukan utama dalam menghadapi berbagai problema. Hanya saja para dukun raja waktu itu tidak mampu menafsirkan mimpi sang raja, saat ia bermimpi dengan mimpi yang cukup aneh (Lihat QS. Yusuf: 43-49). Mereka menganggap isi mimpi raja sangat ruwet untuk ditafsirkan, dan ada iuga yang mengatakan bahwa mimpi sang raja hanyalah bunga tidur atau mimpi kosong tak punya arti. Akhirnya Nabi Yusuf-lah yang bisa menafsirkan mimpi sang raja itu.

Raja yang memerintah pada zaman Nabi Yusuf pada suatu malam bermimpi. Lalu ia mengumpulkan para dukun dan peramal, dan para pejabat teras kerajaan serta para pembesar. Lalu sang raja  menceritakan mimpinya, setelah itu ia bertanya tentang arti mimpinya. Tapi tak satu pun yang hadir mengetahui secara persis arti mimpi itu. Bahkan kebanyakan mereka mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi yang kacau dan sulit ditafsirkan. Pada saat itulah, seorang pemuda yang pernah satu sel dengan Nabi Yusuf ingat akan Nabi Yusuf. Padahal sebelumnya syetan telah membuatnya lupa. Lalu ia memberitahukan kepada sang raja bahwa ada orang yang bisa menafsiri mimpinya itu, dialah Nabi Yusuf. (Lihat Tafsir lbnu Katsir: 2/4B1).

Dukun di Masa Rasulullah, Muhammad.

Fenomena praktik perdukunan yang marak juga didapati pada masa Jahiliyyah, sebelum Muhammad diutus sebagai Nabi dan Rasul. Imam as-Suddi berkata, “Pada zaman Jahiliyyah banyak dukun-dukun. Apabila ada seseorang ingin melakukan perjalanan jauh, atau menikah, atau mewujudkan keinginan lainnya, ia mendatangi dukun. Lalu dukun itu memberinya mangkok. Kemudian mangkok itu dipukul, apabila keluar sesuatu yang menarik, maka ia pun meneruskan keinginannya. Tapi bila keluar sesuatu yang tidak disukai, maka ia pun membatalkan keinginannya”. (Tafsir Jami’ul Bayan: 6/77).

“Para dukun banyak bertebaran di wilayah Arab, karena banyak manusia yang berhukum ke mereka ketika ada masalah. Saat mereka punya bayi, mereka mendatangi dukun untuk bertanya seputar masa depan sang anak. Pasar Ukazh yang terkenal saat itu banyak dipenuhi praktik perdukunan.” (Lihat Kitab al-Mufashshal fi Tarikhil Arab Qoblal lslam: 6/773).

Sebagaimana yang di nukil oleh lbnu Hajar dalam kitabnya, lmam al-Khatthabi berpendapat, “Praktik perdukunan merajalela dan menjamur di masa Jahiliyyah khususnya di bangsa Arab karena terputusnya risalah kenabian di kalangan mereka.” (Fathul Bari: 10/217). Kalau kita membuka sejarah perdukunan di wilayah Rasulullah dilahirkan, maka akan kita temukan banyak nama-nama dukun yang hebat dan terkenal di kalangan mereka. Seperti Syaq dan Suthaih, Aus bin Rabi’ah, Nufail lbnul ‘Uzza, Sawad bin Qarib ad-Dausi, lbnu Shayyad, Urwah bin Zaid al-Azdi, Haritsah, Juhainah dan masih banyak nama-nama lainnya. (Lihat Kitab al-Mufashsha fi Tarikhil Arab Qoblal lslam: 6/360).

Dukun di Masa Sekarang

Pada zaman kita sekarang, praktik perdukunan juga banyak. Bukan karena terputusnya wahyu. tapi karena jauhnya masyarakat dari ajaran wahyu (al-Qur’an), serta keengganan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Jumlah mereka jutaan, tersebar di seantero bumi nusantara ini. Ada seorang dukun ternama yang pernah bilang ke Majalah Ghoib, bahwa jumlah personil dukun yang bernaung dalam kelompoknya berjumlah lebih dari 13 juta personil. ltu hanya satu paguyuban, belum lagi paguyuban dan kelolmpok lainnya yang tidak dibawah naungannya.

Tidak semua dukun yang membuka praktik perdukunan benar-benar seorang dukun. Tidak semua dukun dibantu oleh jin dalam praktiknya. Tidak semua dukun menguasai ilmu-ilmu mistik atau supranatural. Di antara mereka banyak juga yang hanya modal nekat. Karena susah cari pekerjaan atau sulit mencari penghasilan, akhirnya dengan intrik dan rekayasa serta trik tersembunyi mereka membuka praktik perdukunan.

lmam al-Khatthabi mengklasifikasikan praktik perdukunan yang ada pada zaman Rasulullah menjadi empat bagian. Pertama, dukun yang berkolaborasi dengan jin. Dalam praktiknya, dukun tersebut selalu mendapatkan pasokan berita dari jin yang telah mencuri kabar dari langit, ada kerjasama dan keterikatan antara keduanya. Kedua, dukun yang terkadang saja dibantu oleh jin. Jin datang untuk mendikte dan menyetirnya. Ketiga, dukun yang bersandar kepada tebakan, perkiraan dan sangkaan. keempat, dukun yang praktiknya bersandar pada pengalaman dan kebiasaan semata. la mengaitkan masalah yang ada dengan masalah serupa yang telah terjadi atau telah dialaminya. (Fathul Bari: 10/218).

  1. Abdul Wachid yang pernah terjun dalam praktik perdukunan, dan sekarang terus aktif memberantas prakti k perdukunan, mendakwahi para pelaku pedukunan yang masih aktif membuka praktik, ternyata ia menemukan tipe-tipe dukun yang diklasifikasikan oleh lmam al-Khatthabi. Tidak semua dukun mempunyai kekuatan mistik. Dan yang paling banyak adalah mereka yang menggunakan intrik.

Menurut pengalaman dan hasil survei Gus Wachid seputar praktik perdukunan yang ada di lndonesia, dukun-dukun yang ada itu ada tiga macam.

  1. Dukun yang bisa menguasai jin.

Gus Wachid berkata, “Saya pernah seperti itu. Jin itu bisa saya perintah. Dengan ilmu ‘karamah’ yang saya punya. Dengan konsentrasi penuh, kita mendatangkannya, kemudian kita bisa memerintahnya. Tapi luar biasa lelahnya setelah ritual itu selesai. Terkadang saya gunakan cara ini untuk mengobati orang yang terkena jin. Jadi saya gunakan jin untuk mengusir iin atau untuk mengetahui sebenarnya apa yang diinginkan oleh jin yang masuk dalam jasad orang itu”.

  1. Dukun yang dikendalikan jin.

Kata Gus Wachid, “Ciri kategori ini, biasanya yang bersangkutan harus kesurupan dulu dan itu bisa dikenali dengan suaranya yang berubah. Saya sempat akrab dengan orang-orang seperti itu. Saya pernah kemalingan, saya berusaha mencarinya tetapi tidak ketemu. Akhirnya saya pernah minta bantuan orang yang mempunyai kemampuan kategori kedua ini, di saat saya kehilangan mesin ketik”.

  1. Dukun yang tidak bisa apa-apa.

Mereka bisanya hanya goroh, gedabrus thok (hanya penipu, pembual). Gus Wachid berkata, “Wallahi, dukun kategori inilah yang paling banyak. Saya bisa mengetahuinya, karena kalau ada orang yang mengaku sakti, langsung saya cek dengan kekuatan ’karamah’ yang pernah saya pelajari. (Sambil membuka telapak tangan di hadapkan ke orang yang dituju seraya baca wiridnya. Dan saya akan merasakan seperti kesetrum jika ada isinya)”.

Dukun kategori manapun, kita dilarang oleh Rasulullah untuk mendatanginya, bertanya kepadanya, apalagi membenarkan apa yang dikatakannya. Baik itu dukun mistik maupun dukun intrik.  “Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya. Maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad (al-Qur’an dan al-Hadits).” (HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani).

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Praktik Perdukunan, dari Mistik sampai Intrik

Dukun atau yang sering juga disebut dengan ‘orang pinter’, adalah suatu profesi yang tidak asing kedengarannya di telinga kita, atau di telinga masyarakat lndonesia pada umumnya. Walaupun nama atau istilahnya berbeda antar satu daerah dengan yang lainnya. Dukun adalah profesi yang sangat popular dan memasyarakat, keterlibatan mereka dalam kehidupan masyarakat kita selama ini sangat kuat.

Bagi orang yang belum pernah berinteraksi dengan dukun secara langsung, atau minta bantuannya dan memamanfaatkan jasanya, tentu pernah mendengar profesi perdukunan ini dari radio atau dari mulut ke mulut. Membaca iklan dan praktiknya di majalah, tabloid, koran atau buku-buku. Atau pernah melihat sosok di antara dukun yang bertebaran dalam tayangan layar kaca atau televisi. Mereka memang akrab dengan rakyat, dan juga sebagian besar pejabat. Bagi orang yang pernah berurusan dengan dukun, sudah pasti akan tahu lebih banyak, tidak hanya namanya atau tempat praktiknya, mereka juga paham spesialisasi dan keahlian yang dimiliki dukun kesayangannya.

Selama ini memang ada kelompok masyarakat yang merasa sangat terbantu atau diuntungkan dengan adanya praktik perdukunan. Ada yang merasa sakitnya telah tersembuhkan setelah berobat ke si dukun. Ada yang merasa masalahnya telah terselesaikan (bablas) setelah konsultasi dengan dukun. Dan ada juga yang merasa usahanya telah berhasil, cita dan cintanya telah tercapai, dendamnya terhadap seseorang telah terbalaskan, sakit hatinya terobati, setelah mereka keluar dari ruang praktik si dukun.

Tapi banyak juga yang kecewa. Karena sakit yang diderita tak kunjung sembuh, bisnis yang dirintis tak kunjung laris, problematika yang mengusutkan pikiran tak juga terselesaikan, cita dan cinta tak juga kesampaian, dendam kesumat dan sakit hati tak juga terbalaskan, dan lain-lainnya.

Bahkan malah sebaliknya. Sakit yang diderita semakin parah, bisnisnya makin terpuruk atau bangkrut, problematikanya makin ruwet. Padahal mereka telah membayar dukun dengan harga mahal, jutaan bahkan milyaran rupiah telah amblas. Berbagai macam tumbal dan sesajen sudah dipersembahkan, beragam syarat yang diminta telah dipenuhi. Ada korban perdukunan yang dikuras hartanya, direnggut kegadisan dan kehormatannya, diteror, diancam atau dibunuh. Materi dihabiskan, akidah dan tauhid digadaikan. Sungguh menyakitkan dan menyedihkan.

Walaupun begitu, mereka tidak kapok juga. Kalau pun ada yang sadar lalu bertaubat, itu hanya sedikit dari sekian banyak prosen korban yang berjatuhan. Naifnya, orang lain yang tidak pernah jadi korban dukun, atau belum menjadi korbannya, tidak juga mengambil pelajaran dari tindakan kriminal dan penipuan yang berkedok perdukunan dan telah banyak diungkap di media massa. Kalau mereka punya masalah yang ruwet dan menurutnya tidak bisa diselesai kan dengan akal sehat, dukunlah yang menjadi alternatif pilihannya.

Praktik Perdukunan yang Berbau Mistik

Selama ini praktik perdukunan selalu diidentikkan dengan mistik dan klenik, ruangan yang diselimuti bau kemenyan, dihiasi berupa-rupa kembang dan sesajen, dilumuri darah tumbal dan sesembahan, dilengkapi berbagai macam jimat dan benda pusaka, dinaungi kekuatan jin dan syetan, diterangi dengan cahaya temaram atau cenderung pada kegelapan, suasana yang mencekam dan mengerikan.

Yang pernah dilakukan Gus Wachid misalnya. Banyak ilmu ‘karomah’ dan tenaga dalam yang ia pelajari agar bisa menjadi ‘orang hebat’. Wirid, lelaku, tirakat, melakukan ‘amalan’ dari guru-gurunya. Sampai akhirnya ada jin yang ikut dengannya. Banyak keanehan yang dimilikinya dan sarat mistik. Walaupun tidak sengaja ia membuka praktik perdukunan, tapi pasiennya cukup banyak jumlahnya. Bahkan di antara mereka ada yang berasal dari kalangan terpelajar, orang akademik yang kualitas IQ-nya tidak jongkok. Dia sendiri termasuk orang terpelajar, punya gelar akademik yang diperoleh dari sebuah perguruan agama yang cukup terkenal di kota kelahirannya. Dan ia pun berhasil memperdayanya.

Begitu juga masa lalu KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Awalnya ia tidak tahu bahwa jimat dan rajah apapun bentuknya, lslam melarang keras penyebarannya. Apalagi kalau diperjual belikan, hasil jual beli itu tentunya haram. Sebagaimana uang hasil perdukunan, adalah uang panas dan haram digunakan. Rasulullah bersabda, “Abu Mas’ud al-Anshari berkata, “Rasulullah melarang hasil penjualan anjing, dan tips pelacur serta hasil praktik perdukunan.” (HR. Tirmidzi dan dinyatakan hadits hasan shahih). Obsesinya untuk membangun pondok pesantren dari hasil praktik perdukunan kandas di jalan. Bahkan jin telah mempermainkan dan mengelabuinya. Hingga akhirnya ia mendapatkan hidayah, menyadari kesalahannya lalu bertaubat kepada Allah. Sungguh merupakan pilihan yang patut kita contoh. Dia berhenti dari praktik perdukunan bukan karena tidak laku lagi. Tapi atas dasar ilmu dan pemahaman, sehingga siap menanggung segala resiko.

Yang lebih mistik adalah cerita Mas Tito. Benar-benar sarat mistik. Jin mengelabuinya dengan berubah wujud menjadi kakeknya, lalu mengajarinya berbagai macam ilmu kesaktian. Jin juga memperdayanya dengan berubah menjadi benda pusaka. Mantra yang diwirid bisa membuatnya berubah laksana Cicak, merayap di tembok tanpa peralatan pendakian. Orang-orang di sekitarnya terkagum-kagum saat melihat kemampuannya. Dukun-dukun lain pun tunduk dan patuh kepadanya, karena merasa kalah ilmu. Jin yang membantu Mas Tito lebih kuat daripada jin yang mereka miliki. Namun di tengah popularitasnya yang melambung, kekuatan ilmu mistiknya yang dianggap tanpa tanding. Ternyata ia sendiri tidak bisa memenuhi keinginan-nya. Daftar sebagai angkatan atau prajurit negara selalu gagal. Ya, memang jin tidak mempunyai kekuatan yang mutlak. Mereka ada dalam kekuasaan Allah maka seharusnya kita tidak menyekutukan Allah apalagi dengan jin.

Sebenarnya kasus yang hampir sama dengan Tito adalah kasus Mona. Keduanya ada unsur titisan. Syetan yang telah menjerumuskan kakeknya tidak puas, anak cucunya pun jadi obyek sasarannya. Berbagai macam ritual harus ia jalani untuk memenuhi hasrat si kakek, menjadi dukun hebat. Kalau Tito merasa ada tombak yang menembus dadanya, sedangkan Mona merasa keris yang baru diterima dari seseorang menembus dadanya. Mungkin yang masuk itu adalah jin. Dengan bantuan jin itu, akhirnya Mona bisa melakukan pengobatan dan perdukunan. Bahkan ia terkenal sebagai dukun spesialis pelet, perjudian dan penglaris.

Pengembaraan mistik yang ia jalani ke pantai selatan. Kejadian aneh dan spektakuler yang dialaminya, baru ia sadari bahwa itu adalah tipuan syetan setelah dia berinteraksi dengan Majalah Ghoib dan membaca isinya. Ulah jin dalam dirinya semakin jelas, setelah ia menjalani ruqyah syar’iyyah. Kejadian ini membuktikan, bahwa klenik dan mistik memang tidak bisa dikikis dengan kecanggihan technologi, atau pudar seiring dengan kemajuan zaman. Hanya dengan kembali mempelajari syari’at yang telah dikumpul dalam al-Qur’an dan al-Hadits, kita bisa selamat dari tipudaya syetan. Membekali diri dengan tauhid yang lurus adalah senjata yang ampuh.

Praktik perdukunan yang bau mistik dan klenik sudah ada sejak zaman dahulu. Mereka berkolaborasi dengan jin jahat, menjadi antek syetan dalam menyesatkan hamba-hamba Allah. Sekilas kerjasama seperti itu sama-sama menguntungkan. Syetan diuntungkan dengan ketaatan dukun dalam menyebar kesyirikan dan menjerumuskan manusia beriman. Sedangkan dukun mendapat keuntungan duniawi. Paling tidak mereka mendapat popularitas, kebanggaan, ketenaran sebagai manusia ‘sakti’, dihormati dan dijunlung tinggi oleh para pasiennya.

Kerjasama dukun dengan jin telah diungkap oleh Rasulullah melalui haditsnya, “Aisyah berkata, “Rasulullah pernah ditanya sekelompok orang tentang para dukun. Rasulullah menjawab, ‘Mereka itu tidak ada apa-apanya’. Orang-orang tersebut berkata,’Terkadang mereka berkata tentang sesuatu (meramal), dan yang diomongkan itu ternyata benar’. Rasulullah g menjawab, ‘Omongan yang benar itu dari Allah, dicuri oleh jin lalu dibisikkannya ke telinga walinya (dukun) dan dicampuraduk dengan seratus kebohongan’.” (HR. Bukhari).

Praktik Perdukunan yang Sarat lntrik

Ternyata tidak semua seperti itu. Apalagi dengan kecanggihan teknologi dan kemajuan zaman. Semua cara bisa dimodifikasi atau direkayasa dan disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah Majalah Ghoib berinteroksi dengan sebagian dukun untuk menguak kedoknya, atau wawancara dengan mereka yang sudah bertaubat. Ternyata gambaran praktik perdukunan yang tersebut di atas, tidak semua benar. Artinya mereka tidak selalu lengket dengan mistik atau berbau klenik. Banyak di antara mereka dalam praktiknya penuh dengan rekayasa, penuh intrik (persekongkolan rahasia) dan dusta. Mereka hanya bondo nekat (bonek). Pandai bersilat lidah dan bermain kata-kata. Mereka lincah dalam membuat intrik dan tipu daya atau rekayasa.

Seperti yang telah diceritakan Andre dalam salah satu kesaksian yang kita muat dalam edisi ini. Dukun bermodal intrik, bukan mistik. Anak kecil dengan mata tertutup rapat bisa menebak warna balu orang yang di depannya. Orang yang diikat kuat, dimasukkan karung, dimasukkan peti dan digembok rapat, lalu bisa keluar dari belenggu-belenggu itu dengan cepat. Ternyata semua itu bukan mistik, tapi hanya intrik ada rumus tertentu yang bisa dipelajari siapa pun.

Keris bisa bersinar saat dipegang, baiu disentuh bisa terbakar, dibacok golok atau senjata tajam tidak terluka, tangannya memegang dada orang lain, bisa keluar cahayanya. ltu hanyalah atraksiatraksi, yang selama ini dikonotasikan sebagai hal yang spektakuler, dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang ilmu supranaturalnya tinggi, ahli linuwih, punya koneksi langsung dengan lelembut, dan tidak sembarang orang bisa melakukannya. Wal hosil, ternyata itu semua rekayasa dan iauh dari mistik, dan setiap orang bisa mempelajari, walau tanpa ritual aneh dan nyleneh.

Begitu juga yang diceritakan oleh Ipon. Walaupun pada awalnya, ia berusaha untuk mempelajari ilmu yang bernuansa mistik, toh akhirnya dia tertambat praktik perdukunan yang sarat intrik. Dengan trik khusus ia bisa menciptakan energi listrik yang bisa mengalir di tubuhnya, atau di tubuh orang lain yang ia pegang. Dengan intrik itu ia telah mengelabuhi pasien-pasiennya. la juga telah meng-KO dukun lainnya. Bahkan dengan intrik yang sama ia berhasil memperdaya dukun yang dulu pernah menjadi gurunya.

Apa yang dilakukan Andre dan lpon dengan praktik perdukunan yang sarat intrik dan rekayasa, memang tidak menyeretnya kepada kesYirikan. Karena teknik praktiknya hanya rekayasa. Hanya saja keduanya telah melakukan kebohongan. Dan kebohongan itu sendiri juga termasuk dosa besar. Banyak orang yang terpereset akidahnya, lebih mempercayai kemam puannya dan percaya penuh bahwa energi yang dimilikinya itu yang telah menyembuhkan penyakit yang diderita pasien.

Alhamdulillah, hidayah Allah masuk ke hatinya, sehingga ia masih punya kesempatan untuk bertaubat. Keduanya pun menyesal, dan minta maaf kepada orang-orang yang pernah dikelabuinya. Sungguh merupakan keputusan yang berat, saat popularitas mencuat dan kehidupan ekonomi yang mulai terangkat. Lalu keduanya harus meninggalkan itu semua. Keduanya memilih kemulian yang sejati, bukan kemuliaan yang semu. Kemuliaan selati itu hanya bisa diperoleh dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya (Lihat QS. al-Hujurat: 13). Semoga langkah keduanya diikuti yang lainnya, yang masih rajin mengelabuhi orang lain dengan trik dan intrik. Dan orang-orang yang pernah dikelabuhinya pun mau memaafkan kekhilafannya.

Tipe dukun penipu atau hanya mengaku-ngaku dengan berbagai macam rekayasa biasa, tidak punya kekuatan mistik, yang dipraktikkan sarat dengan intrik. Begitulah pernyataan Gus Wachid. Dia sudah banyak survei dan membuktikan sendiri bahwa dalam kenyataannya, banyak dukun yang buka praktik hanya bermodal intrik. “Mereka itu tukang gedabrus (membual) dan goroh (dusta). Saya sudah sering mendatangi praktik dukun yang terkenal sakti di wilayah Jawa Timur, tapi ternyata mereka tidak ada apa-apanya”, tegas Gus Wachid kepada Majalah Ghoib.

Pada zaman dahulu, ada juga orang yang tidak bisa ilmu perdukunan lalu berpraktik dukun. la hanya menggunakan intrik sebagaimana kebanyakan dukun-dukun sekarang. Cerita itu tertulis dalam rentetan hadits yang telah dibukukan lmam Bukhari dalam kitab Shahihnya. Aisyah berkata, “Abu Bakar mempunyai seorang pembantu. Kalau ia datang dan membawa makanan untuknya, Abu Bakar ikut memakannya. Pada suatu hari ia membawa makanan, Abu Bakar pun memakannya. Kemudian pembantu itu bertanya, ‘Apakah kamu tahu, makanan apakah itu?’ Abu Bakar balik bertanya, ‘Memangnya makanan apa?’ Saya tadi melakukan praktik perdukunan pada seseorang seperti pada zaman Jahiliyyah, padahal sebenarnya saya bukanlah seorang dukun. Hanya saja saya melakukan intrik (membohonginya). Lalu orang tersebut menghampiriku dan memberiku makanan tadi, untuk menghalangi dan makanan yang sebagiannya menggagalkannya. Kasus yang telah kamu makan. Serta-merta Abu Bakar memasukkan jari tangannya ke (mulutnya), dan memuntahkan semua isi perutnya.” (HR. Bukhari, hadits nomor 3554).

Kalau praktik mereka hanya intrik. Lalu darimana datangnya kesembuhan pasien-pasiennya? lnilah sebagai bukti nyata, bahwa kesembuhan itu datangnya dari Allah, bukan dari ruang dan bilik praktik para dukun. Mereka hanya berusaha, baik dengan praktik yang bau mistik atau hanya intrik.

Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin. Tidak melanggar syari’at. Dengan begitu, apabila dengan usaha itu sakit kita sembuh, maka kita akan mendapatkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan sembuh dan kebahagiaan karena usaha kita berpahala. Dan kalau belum sembuh, Allah akan mengganti rasa sakit kita dengan dileburnya dosa-dosa kita dan dilipat gandakan pahala kita, karena kita sabar dalam menghadapi musibah yang diberikan-Nya.

Syetan tidak akan melepaskan buruannya begitu saja. Ya, syetan tidak akan melepas orang-orang yang pernah bekerjasama atau terierumus dalam perangkapnya begitu saja. Banyak pasien yang bercerita ke Majalah Ghoib seputar hambatan-hambatannya saat mau menjalankan terapi ruqyah syar’ iyyah. Syetan berusaha untuk menghalangi dan menggagalkannya. Kasus yang dialami ibun Mona misalnya. Sebetulnya ia sudah hamper setahun lamanya ia telah mengenal ruqyah dari Majalah Ghoib, tapi selalu ada rintangan menghalanginya untuk berangkat dan menjalani terapi. Dan tembok penghalang  taubat juga dibangun oleh kakeknya, karena dialah yang diproyeksikan untuk mewarisi ‘ilmu’atau jinnya.

Rintangan sejenis juga dihadapi Mas Tito. Keluarga besarnya melarangnya untuk membuang ilmu mistik yang telah diwarisinya, mereka tidak ingin jin yang ada di tubuhnya diusir dengan ruqyah syar’iyyah. Dan sampai ketika ia menuturkan ceritanya pun, jin jahat itu sering hadir dalam mimpinya untuk mengajaknya kembali ke dunia semula. Semoga Allah memberinya kekuatan untuk terus berada di jalan-Nya.

Gangguan saat menuju pertaubatan juga di alami lpon. Saat ia mau berangkat ke Jakarta untuk diruqyah di kantor Majalah Ghoib, ada bisikan-bisikan ghaib yang berusaha menggagalkannya. Ia ditakut-takuti syetan, bahwa murid dan pasiennya akan marah-marah. Tapi ia berhasil memenangkan pertarungan iman itu, alhamdulillah.

Yang lebih mistik lagiadalah bujukan syetan yang dialami KH. Ahmad Muhammad Suhaimiy. Saat ia mau meninggalkan praktik perdukunannya, jin jahat datang dan memberinya hadiah beberapa keping lempengan emas. Tidak hanya itu, ia juga disuap dengan cek yang nilainya US $ 1.000.000. Sungguh menggiurkan. Tapi itu hanya tipudaya jin saja. Dan cek itupun tidak bisa dicairkan.

Keimanan dan tawakkal kepada Allah harus terus ditumbuhkan, agar kita tidak gamang dalam menapaki jalan yang benar, dan tidak silau oleh bujuk rayu syetan. Raja syetan (lblis) telah bersumpah di hadapan Allah, “Ya Tuhanku, karena Engkau telah menghukum saya sesat. Saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.”(QS. Al-A’rat: 16).

Faktor utama yang sering dijadikan syetan untuk menghalang-halangi para pelaku praktik berdukunan dari taubat adalah ekonomi atau materi. Syetan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan dan kefakiran, apabila mereka menutup praktik perdukunan atau meninggalkannya. Seperti yang dialami lpon dan Mona. Al-Qur’an mengingatkan kita,”Syetan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan. Sedangkan Allah menlanjikan untukmu ampunan daripadanya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268).

 

Ghoib Ruqyah Syariyyah

Perdukunan Versus Aqidah Islam

Dalam kitabnya, At-ta’rif (hal 183), lmam Al-Jurjani mendefinisikan al-kahin (dukun) dengan kata-kata beliau: “Ialah orang yang bisa memberitahukan tentang kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa di masa mendatang, mengaku mengetahui berbagai rahasia dan ilmu tentang alam ghaib.”

Fenomena perdukunan adalah salah satu fenomena yang menyimpang yang paling berbahaya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah, karena ia mengancam akidah dan merusak tauhid. Dan dukun adalah salah satu musuh utama para Nabi dan Rasul sebagai pembawa panji akidah dan risalah tauhid. Dengan demikian para dukun juga merupakan musuh bagi kaum mukminin dan bahkan manusia seluruhnya, karena perdukunan menjadi penghalang utama di jalan lurus menuju tauhid dan iman yang murni kepada Allah.

Penyimpangan dan pertentangan perdukunan terhadap akidah lslam bersifat menyeluruh, meliputi semua sisi dan aspeknya. Di antara aspek-aspek penyimpangan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Sebagaimana definisi dukun menurut Al-Jurjani di atas, esensi perdukunan adalah pengakuan seseorang bisa mengetahui tentang alam ghaib. Ini adalah penyimpangan akidah yang paling mendasar, bahkan merupakan kekufuran, karena tidak ada yang mengetahui alam ghaib kecuali Allah semata (lihat QS. Al-An’am: 59 dan QS. An-Naml: 65). Bahkan rasul tidak mengetahui tentang alam ghaib, kecuali sebatas yang diwahyukan oleh Allah (lihat QS. Al-An’am: 50 dan QS. Al-Jinn: 26-27).

Salah satu kaidah dasar yang tidak bisa dipisahkan dari perdukunan adalah bahwa dukun dalam menjalankan praktik perdukunannya senantiasa bekerja sama dan meminta pertolongan serta bantuan dari jin dan syetan, baik dalam menyampaikan hal-hal ghaib (yang kebanyakan hanyalah dusta belaka), dalam aktivitas perdukunan yang lainnya seperti mengobati (yang biasanya hanya bersifat pengelabuan), maupun dalam memiliki “kelebihan-kelebihan” tertentu (yang biasa dikenal sebagai kesaktian untuk menguatkan kedukunannya). Hal ini merupakan penyimpangan yang besar karena dua hal. Pertama, meminta batuan kepada jin dan syetan adalah haram dan terlarang (lihat QS. Al-Jinn: 6). Kedua, tidak mungkin mereka memberikan bantuan dan pertolongan dengan cuma-cuma, akan tetapi pasti ada kompensasi dan imbalannya (lihat QS. Al-An’am: 128). lmbalan atau kompensasi tersebut adalah berupa ketaatan dan khidmah (pelayanan dan pengabdian) yang harus diberikan oleh dukun kepada jin dan syetan tersebut.

Oleh karena itu, dalam hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dukun disebut sebagai wali atau kekasih jin dan syetan pencuri dengar berita langit. Sehingga dengan demikian, tidaklah ada orang yang memiliki khadam (pelayanan dan pembantu) dari golongan jin kecuali setelah orang yang terlebih dahulu menjadi khadam bagi jin tersebut, karena hanya Nabi Sulaiman sajalah yang diberi kekuasaan istimewa oleh Allah untuk menunjukkan jin tanpa kompensasi (lihat QS: Shaad ayat 35-38).

  • Umumnya dukun adalah juga penyihir, sementara sihir adalah dosa besar yang disejajarkan dengan syirik dan para ulama menghukuminya sebagai kekufuran berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 102. Dukun penyihir merupakan perbuatan tersadis yang pengecut karena ia menyakiti dan bahkan membunuh seseorang tanpa dengan mudah bisa diketahui siapa pelakunya. Bahkan, korban bisa jadi malah dibuat meminta pertolongan kepada dukun penyihir tersebut. sementara yang tertuduh adalah orang lain. lni termasuk di antara penyebab fitnah dalam kehidupan masyarakat.
  • Seorang dukun diposisikan seperti Nabi dan Rasul dalam dua hal: Pertama, ia minta ketaatan oleh masyarakat yang mempercayainya sebagai mana seorang Nabi dan Rasul yang ditaati atau bahkan lebih dari itu. Oleh karena itu, pada zaman kekosongan Nabi dan Rasul, perdukunan menjadi sangat marak dan merajelela. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Jahiliah pra lslam, khususnya di kalangan bangsa Arab, karena terputusnya kenabian di kalangan mereka. Dengan demikian, dukun merupakan pesaing utama para Nabi. Bahkan para Nabi palsu kebanyakan adalah para dukun.
  • Dukun adalah pendusta besar. Setidak-tidaknya ada tiga hal yang menerangkan hal tersebut: Pertama, ia mengaku lebih tahu yang ghaib dan ini jelas-jelas adalah kedustaan yang nyata. Kedua, pembantunya dari kalangan jin adalah juga tukang berdusta sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah dalam hadits kisah Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Ketiga, sejak diutusnya Rasulullah, para jin tidak lagi bisa mencuri berita ghaib dari langit, berbeda dengan jin pada zaman sebelumnya. (lihat QS: ash-Shaffat ayat 6-10 dan QS: al-Jin ayat 9 serta hadits riwayat Bukhari Muslim), sehingga berita yang mereka sampaikan kepada dukun pastilah kedustaan pula.

Karena berbagai penyimpangan besar di atas, yang sangat membahayakan aqidah umat. Maka diharamkan atas setiap muslim mendatangi dukun, peramal, penyihir dan semacamnya. Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal dan membenarkan apa yang ia katakan maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR Ashhabus Sunan dan al-Hakim). Dan dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mendatangi seorang peramal lalu bertanya tentang suatu hal, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam.”

Jadi, kita harus benar-benar waspada terhadap fenomena perdukunan yang sangat marak saat ini, baik yang terangan-terangan maupun yang terselubung, dan jenis terakhir yang bahkan saat ini lebih banyak. Wallahul musta’aan.

 

Ahmad Mudzaffar, MA

Direktur Ma’had Ukhuwah lslamiah dan

Staf Ahli Konsorsium Da’wah lslam YDSF, Suroboya.

Ciri-ciri Praktik Perdukunan

Berikut ini di antara ciri-ciri praktik perdukunan yang bisa kita kenali menurut syariat lslam. Siapapun pelakunya, apapun gelar dan titelnya, bagaimana-pun penampilannya, kalau pada praktik kerjanya, atau cara pengobatan yang dilakukannya, serta cara memberikan solusi dari permasalahan yang kita hadapi terdapat unsur-unsur di bawah ini, secara sebagian atau keseluruhan, maka bisa dipastikan kalau dia seorang dukun.

  1. Bertanya namanya dan nama ibunya.
  2. Minta benda atau barang bekas pakai (pakaian, celana dalam, sapu tangan, kaos, sarung, dan lainnya. Bahkan ada juga yang minta foto pasien dan rambutnya, serta hari pasaran atau weton kelahirannya.
  3. Minta hewan dengan jenis dan corak tertentu sebagai administrasi praktiknya.
  4. Menulis rajah dan mantra-mantra syirik, yang terkadang dicampur dengan ayat-ayat al- Qur’an atau kalimat thaiyibah.
  5. Membaca mantra-mantra dan jampi-jampi yang tidak bisa dipahami, atau baca ayat dan doa yang dicampur mantra syirik.
  6. Memberi jimat, gembolan, pegangan yang diyakini bisa menangkal bahaya atau mendatangkan berkah dan keberuntungan.
  7. Menyuruh pasiennya untuk mengisolir diri di tempat yang gelap, terpencil, atau tempat-tempat yang dianggap angker dan keramat.
  8. Melarang pasien untuk menyentuh air selama kurun waktu tertentu.
  9. Memberi jimat, isim atau rajah kepada pasien untuk ditanam di rumah, kantor, tempat usahanya, atau tempat lainnya.
  10. Menebak lati diri pasien atau keperluannya sebelum pasien sermpat memberitahunya (weruh sok durungi winarah).
  11. Melakukan proses pengobatan pasien dengan jarak jauh.
  12. Menggunakan mediator dalam praktiknya, dengan mediator yang tidak sesuai dengan syariat islam atau mengandung unsur kesyrikan.

Kedua belas poin di atas adalah fenomena praktik perdukunan yang menonjol. Masih ada lagi poin lainnya yang harus kita waspadai. Kita harus banyak belajar agar tidak terjerumus dalam praktik perdukunan yang ada.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iiyah

Semakin Tidak Menarik

Hai awan, aku tidak peduli di kota mana akan kau turunkan hujan. Karena kekayaan negeri yang kau hujani itu pasti akan sampai ke sini.

Itu kalimat kebesaran. Setiap awan melintas, gumpalan-gumpalannya mulai terlihat menyiratkan hujan. Harun ar-Rasyid, salah satu khalifah pada masa daulah Bani Abbasiyyah sering mengatakan hal itu sambil menengadahkan kepalanya ke langit.

Kalimat itu benar-benar hadir dari sebuah karya besar. Ketika pemerintahan muslim ketika itu sangat kaya. Bukan hanya negaranya yang kaya, tekpi rakyatnya juga menikmati kekayaan itu. Kota-kota dibangun, jalan-jalan diperbagus, pasar-pasar berkembang pesat, pusat-pusat ilmu dibangun dengan megahnya.

Subsidi negara menjangkau semua keperluan utama masyarakat Harga barang yang terjangkau, kesehatan gratis yang tidak perlu iklan jualan politik, pajak yang membebani masyarakat kecil dihilangkan bukan justru dibebani utang negara, pendidikn hingga ke strata paling tinggi gratis, perpustakaan dan Iembaga ilmu dibiayai total oleh negara untuk melakukan penerjemahan dan penelitian.

Subsidi itu dinikmati oleh siapa saja. Si miskin, si kaya, muslim, non muslim. Siapa saja yang menjadi penduduk negeri itu berhak menikmati subsidi negara yang diberikan. Dan memang subsidi adalah tugas negara untuk rakyatnya semua.

Kekayaan negara benar-benar digunakan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat. Ini bukan hanya slogan aku pasal tertulis tetapi dikhianati.

lni masih ditambah dengan dibukanya pintu aduan langsung ke khalifah yang ditindaklanjuti langsung  dan bukan hanya aduan verbal atau sms tanpa solusi. Seperti saat seorang bapak tua yang ikut antri ingin membuat aduan tentang kekurangan dirinya. Dia pulang dengan membawa 5000 dirham, angka yang lumayan untuk masa itu.

Persis seperti yang disampaikan oleh Syabib bin Syaibah: Aku tihat orang yang masuk dengan penuh harap  dan keluar dengan penuh ridha.

Benar, Khalifah ar-Rasyid sendiri mempunyai istana megah dengan segala fasilitas yang dipunyainya. Tidak ada masalah, ketika rakyatnya sudah kenyang, sakit mereka bisa diobati, pendidikan mereka bisa tuntas, usaha mereka bisa berjalan secara merata dari petaninya hingga pengusahanya. Tidak ada politik belah bambu.

Sehingga praktis tidak dijumpai gonjang ganjing negeri yang berarti dan tidak bisa dipadamkan atau berkepanjangan. Karena masing-masing merasa sangat nyaman dengan pemimpin dan negerinya, sehingga mereka merasa memiliki dan mempertahankan agar tidak hilang kesejahteraan itu.

Bercermin dengan itu, ribut-ribut subsidi untuk ralcyat kecil efek dari kenaikan BBM kemudian keributan sosial menjadi tontonan masal. Harga-harga semakin tidak terbeli. Mahasiswa keluar dari kelas dan belajar dijalanan.

Situasi buruk itu dimanfaatkan oleh sebagian politisi untuk mengangkat dirinya buatpemilu mendatang. Para wakil rakyat tak bergigi.

Sementara para pejabat negeri masih menikmati gaji bulanan berpuluh juta rupiah bahkan lebih. Pesta seremoni besar 100 tahun kebangkitan menghabiskan dana yang tidak kecil. Dan masyarakat kecil semakin tidak bisa mendapatkan selembar puluhan ribu rupiah, bahkan-sudah ada yang putus asa dan bunuh diri.

Pemimpin yang hanya rebutan kursi. Masyarakat yang mudah panik dan putus asa.

Benarlah bahwa pemimpin hadir dari potret masyarakatnya.

Ah, semakin tidak menarik saja negeri ini.

 

Budi Ashari

Titip Doa Kepada Para Tamu Allah

Labaik allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik

Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk la syarika lak

Itulah kalimat-kalimat kepasrahan dan ketauhidan yang terus berdengung sepanjang hari-hari haji. Allah terus dipuji dan diagungkan dan memang tiada yang patut dipuji dan diagungkan kecuali Dia.

Manusia dari berbagai ras dan bangsa berkumpul menjadi satu. Mereka menjadi Dhuyuf ar-Rahman (tamu Allah yang Maha Pengasih). Memenuhi panggilan Allah yang pernah diserukan oleh Nabi Ibrahim AS. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Mereka sedang menikmati jamuan Allah. Jamuan spiritual tingkat tinggi. Pengalaman agung yang tak terlupakan. Saat itulah Allah membanggakan hamba-hamba yang hadir memenuhi panggilan-Nya. “Jika hari Arafah, Tuhan turun dari langit dan membanggakan mereka (jamaah haji) di hadapan malaikat-malaikat-Nya seraya berkata: “Lihatlah hamba-hamba-Ku dengan rambut kusut, pakaian berdebu dan di bawah terik matahari dari berbagai penjuru negeri. Aku memberitahu kalian bahwa, Aku telah mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, al-Bazzar)

Saat itulah rintihan hamba sangat didengar. Waktu itulah munajat seorang hamba begitu mudah dikabulkan. Di tempat mulia, pada hari mulia, pada ibadah mulia, pada keadaan yang diridhai Allah.

Dari Tanah Suci untuk Kami

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab ra memohon izin kepada Rasulullah untuk pergi melaksanakan umrah. Umar berkata: “Beliau mengizinkan saya dan berkata kepada saya, “Jangan lupakan kami wahai saudaraku dalam doamu.” Dalam riwayat laian, “Sertakan kami wahai wahai saudaraku dalam doamu.” Selanjutnya Umar berkata: Suatu kalimat yang lebih aku sukai daripada saya menguasai dunia ini. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Para ulama berbeda pendapat, apakah hadits ini shahih atau tidak. Imam Tirmidzi menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Sementara sebagian ulama mendhaifkan hadits tersebut. Dikarenakan ada perawi Ashim bin Ubaidillah bin Ashim bin Umar bin Khattab yang dinyatakan dhaif oleh sebgaian ulama.

Terlepas dari perbedaan antara para ahli hadits, ada beberapa hal hal yang bisa dibahas. Ashim dinyatakn dhaif oleh sebagian ulama diantaranya al-mizzi yang menyatakan bahwa Ashim dhaif. Hal ini berarti bahwa tingkat dhaif Ashim tidak berat apalagi sampai pendusta. Jika haditsnya dinyatakan dhaif yang terlalu berat, maka disinilah nantinya para ulama hadits berbeda pendapat kembali apakah bisa diterima hadits dhaif untuk fadhail a’mal (keutamaan beramal), sejarah, targhib (hadits anjuran) dan tarhib (hadits ancaman) yaitu hadit-hadits yang tidak berisi tema aqidah dan halal haram. Dan hadits di atas tidak membahas tentang aqidah juga bukan tentang halal haram. Maka, masuk dalam perbedaan yang terjadi antara ahli hadits.

Pada pembahasannya, hadits ini mengandung  beberapa hal. Pertama, titip doa kepada para tamu Allah pada ibadah haji dan di tempat-tempat mustajab doa. Kedua, titip doa kepada orang seperti Umar yang jelas memiliki keshalehan tinggi. Ketiga, tawadhu’ Nabi saat meminta doa bahkan kepada orang yang lebih kecil dan rendah secara derajat. Keempat, ad-dua’ bi dzahril ghoib (doa untuk saudara saat yang didoakan tidak bersama kita).

Keempat hal ini bisa dicarikan sandaran dalil yang shahih. Sehingga kita keluar dari perbedaan yang ada.

Untuk masalah yang pertama, memohon agar didoakan orang lain asal tidak salah orang bukan merupakan masalah. Salah orang yang dimaksud umpamanya meminta doa dari non muslim. Atau doa muslim yang fasiq. Karena untuk dikabulkannya doa, diperlukan beberapa syarat. Di antaranya adalah kedekatan kepada Allah yang mengabulkan doa dengan iman dan amal shalih.

Memohon agar didoakan orang shalih, justru masuk kajian dalam tema tawassul (mencari perantara). Ini adalah salah satu tawassul yang dibolehkan dalam Islam. yaitu meminta doanya orang shalih yang  masih hidup. Para shahabat terbiasa meminta doa kepada Rasulullah SAW untuk dirinya atau keluarganya. Jika mereka baru dianugerahi keturunan, bayi masih merah itu langsung dibawa kepada Rasulullah untuk didoakan. Mereka juga meminta doa kepada sesame mereka.

Orang shalih yang berangkat haji, akan berkesempatan untuk bedoa sebanyak-banyaknya di tanah suci dan tempat-tempat yang mustajab doa. Mereka menggabungkan antara konsentrasi ibadah sehingga bisa banyak beribadah dan lebih khusyu’. Mereka juga akan melalui waktu-waktu dan tempat-tempat istimewa yang tidak kita miliki di sini.

Menitip doa yang baik adalah kepada orang yang jelas keshalihannya. Walau tidak sesahalih Umar bin Khattab. Dengan menitip doa kepada orang shalih, kita berharap doa-doanya dikabulkan Allah. Karena kedekatannya kepada Allah dengan keshalihannya.

Riwayat di atas juga menunjukkan ketawadhu’an Nabi. Saat beliau meminta agar didoakan oleh orang yang lebih kecil secara usia dan lebih rendah secara derajat. Sekaligus, sebagai petunjuk bahwa meminta doa kepada orang yang lebih rendah derajat dan keshalehannya boleh dilakukan.

Umar sendiri mengajarkan kepada kita pemahaman yang dibuktikan dengan praktik. Sebagaimana disebutkan dalam Siyar a’lam an-Nubala’ saat menceritakan perjumpaan Umar dengan sekelompok masyarakat Yaman yang menghadap Umar. Umar bertanya: Apakah di antara kalian ada yang berasal dari suku Qarn. Sampai Umar mengenali seseorang dan bertanya: Siapa namamu?

Dia menjawab: Uwais (al-Qarni)

Umar: Apakah kamu punya ibu?

Uwais: Ya

Umar: Apakah di badanmu ada belang berwarna putih?

Uwais: Ya, saya berdoa kepada Allah agar menghilangkannya kecuali sebesar dirham di pusarku, agar aku selalu bisa mengingat (nikmat) tuhanku.

Umar: Mintakan ampun untukku

Uwais: Engkau lebih berhak untuk memintakan ampun untukku, karena engkau shahabat Rasulullah SAW.

Umar: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais. Dia mempunyai seorang ibu dan ada putih di badannya, dia berdoa kepada Allah agar bisa hilang, maka Allah menghilangkannya kecuali sebesar dirham di pusarnya.

Maka, Uwais pun memohonkan ampun bagi Umar.

Kisah Umar dan Uwais menunjukkan bahwa Umar meminta doa dari orang yang lebih rendah tingkat keshalihannya. Karena, walaupun Uwais disebut sebagai tabi’in terbaik, tetapi Umar yang hidup di generasi shahabat lebih mulia dan shalih dari Uwais.

Umar meminta doa dari Uwais karena disebut oleh Rasulullah sebagai orang terbaik. Maka Umar meminta bagian dari doanya, karena dia orang shalih yang telah disebut Rasulullah dlam nubuwwatnya.

Menitip doa kepada tamu Allah, akan menyebabkan doa depat dikabulkan. Karena mereka akan berdoa untuk yang ditinggal di sini, tanpa kehadiran orang yang didoakan. Ini yang disbeut Nabi SAW sebagai ad-dua’ bi dzahril ghoib (doa untuk saudara saat yang di doakan tidak ada bersama kita).

Dari Shafwan bin Abdillah dia berkata: Saya pergi ke Syam ingin menjumpai Abu Darda’ di rumahnya, tetapi dia tidak ada. Saya hanya menjumpai istrinya, Ummu Darda’. Ummu Darda’ bertanya kepada saya: Apakah kamu akan melaksanakan haji tahun ini? Saya jawab: Ya. Dia berkata: “Doakan kebaikan untuk kami, karena Nabi SAW pernah bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya bi dzahril ghoib (tanpa kehadiran saudaranya itu) akan dikabulkan. Di dekat kepalanya ada satu malaikat yang ditugaskan agar setiap dia berdoa untuk saudaranya sengan kebaikan, malaikat itu ditugasi untuk berkata: Amin (semoga Allah mengabulkan) dan kamu mendapatkan hal yang sama.” (HR. Muslim)

Semangat mendoakan saudara sesame muslim bi dzahril ghoib adalah merupakan kebiasaan orang shalih terdahulu. Semangat mereka dilandasi janji Nabi bahwa doa dengan cara itu akan cepat dikabulkan. Saudara yang didoakan dari jauh, segera mendapatkan hasil dari doa itu dan bagi yang berdoa tidak ada ruginya, karena dia akan tetap mendapatkan kebaikan dari doa itu sama dengan yang didoakan.

Seperti saat Ummu Darda’ shahabat wanita mulia itu meminta doanya Shafwan yang hendak berangkat haji.

Titip doa kepada para tamu Allah. Untuk kita di sini. Untuk kebaikan semua di sini. Untuk kemaksmuran negeri ini. Untuk hadirnya keberkahan agar terbenahi segala yang terburai. Apalagi di sini serba kurang. Di sini serba sulit. Di sini dengan segala ketidakberdayaan. Jadi, jangan lupakan kami di sini dalam doa kalian di tanah suci.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Al-Iman bil Ghoib Edisi 96/4

 

HUBUNGI ADMIN