Syetan Menjerat dengan Syahwat

Diriwayatkan bahwa Iblis berkata, “Saya telah menyesatkan mereka dengan dosa-dosa, tapi mereka mengalahkan saya dengan istighfar. Maka ketika saya mengetahui hal itu, saya kalahkan mereka dengan hawa nafsu. Maka mereka menganggap bahwa diri mereka itu benar, hingga mereka tidak lagi beristighfar.” (Wiqayatul Insan minal Jinni Wasysyaithan:243)

Pengakuan Iblis ini patut direnungkan. Dalam setiap aktifitas kita, tidak seharusnya hawa nafsu mengalahkan akal. Hawa nafsu berperan lebih besar dalam menentukan setiap keputusan kita. Akibatnya tinggal penyesalan yang menyesakkan dada. Tapi apalah daya. Nasi telah menjadi bubur.

Kesaksian edisi ini kembali menegaskan betapa pentingnya mengedepankan pikiran yang jernih. Menimbang masalah dengan kepala dingin sebelum palu dijatuhkan. Terlebih bila menyangkut masalah pernikahan.

Kisah Vita menjadi pelajaran berharga. la semula menghindar ketika Ogan, seorang sopir taxi yang pernah mengantarkannya ke kantor mencoba mendekatinya. la menganggap Ogan seperti sopir taxi yang lain. Sekali antar sudah tidak ada lagi hubungan yang lebih mendalam. Sementara di kantor, ia mengalami masalah yang serupa tapi tak sama. Serupa karena ada laki-laki yang juga tertarik. Kadir namanya. Tak sama karena ia sudah kenal baik dengan Kadir.

Masalahnya, Vita menganggap Kadir sebagai teman biasa yang bekerja dalam satu tugas yang sama. Tapi tidak demikian halnya dengan Kadir. la melihat ada kelebihan Vita yang tidak dimiliki istrinya. Hingga Kadir pun berusaha membujuk Vita agar sudi menjadi istrinya. Ini adalah konsekuensi dari pergaulan bebas di negeri ini. Setiap orang bebas bertemu dengan lawan jenisnya di tempat kerja.

Orang bilang itu adalah cinta lokasi. Meski Kadir harus bertepuk sebelah tangan. Cintanya ditolak. Tapi Kadir tetap nekat. Vita yang semula tegas menolak kehadiran Ogan yang baru dikenalnya, sekarang berbalik. Masalahnya dengan Kadir yang terus meruncing membuatnya tidak lagi berpikir dengan jernih.

Ogan yang belum jelas siapa jati dirinya, menjadi tumpuan harapan. Kehadirannya di tengah kegalauan jiwanya, bagai obat penawar dahaga. Hingga Vita pun terlena.

Baru beberapa minggu kenalan, ia sudah nekat ingin menikah dengannya. Berbagai pertimbangan dari orang-orang terdekat dianggapnya angin lalu. la tidak lagi menghiraukannya. Pukulan orangtuanya semakin membuatnya hilang kendali. Bepergian dengan yang bukan muhrim pun menjadi pelariannya. Hingga larut malam. Padahal ia telah tahu bahwa itu dilarang agama.

Di sinilah syetan benar-benar berperan. Syetan telah membutakan mata hati Vita hingga tidak lagi bisa berpikir dengan jernih. Beberapa minggu sebelumnya, ia telah menyadari bahwa pancaran wajah Ogan mengisyaratkan sifat tidak baik yang dipendamnya. Tapi semua bayangan itu dihapusnya seketika.

Pernikahan. Bukanlah masalah sepele. Segala hal harus dipertimbangkan dengan matang. Sifat, karakter, keluarga, wajah, kekayaan dan yang lebih utama adalah agamanya.

Namun, semua itu tidak lagi menjadi pertimbangan. Karena yang ada dalam benak Vita hanyalah menikah dan menikah. Baginya itu adalah solusi atas masalah yang dihadapinya.

Wahid Abdul Salam Bali dalam bukunya yang terkenal Wiqayatul Insan minal Jinni Wasysyaithan, halaman 246 mengatakan, “Bila hawa nafsu telah memenangkan pertempuran melawan akal, maka orang akan mabuk. la tidak lagi membedakan yang hak dan batil. Bahkan bisa lebih jauh dari itu. Hawa nafsu bisa merubah pola berpikirnya sehingga yang benar menjadi salah dan salah menjadi benar.”

Bila seseorang telah kehilangan pertimbangan seperti Vita, maka dibutuhkan perhatian yang berlebih dari orang-orang di sekitarnya. Vita dan orang-orang yang senasib dengannya tidak bisa dibiarkan memutuskan masalahnya sendiri. Ini adalah masalah pernikahan. Masalah besar dalam fase kehidupan seseorang. Orangtua memiliki hak untuk mengurus masalah pernikahan anak perempuannya. Dia adalah wali yang sah.

Sungguh menarik pernyataan salah seorang tabiin kepada Hasan bin Ali. la meminta nasihat beliau kepada siapa anaknya kelak harus dinikahkan. “Sesungguhnya aku telah memiliki seorang anak perempuan maka siapakah pria yang menurut pendapatmu cocok untuk kunikahkan putriku dengannya?” Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkahlah putrimu itu dengan pria yang bertakwa kepada Allah. Jika ia mencintai putrimu maka ia akan memuliakan putrimu. Jika ia marah pada putrimu maka ia tidak akan mendzalimi putrimu.”

Konsekuensi dari keputusan yang hanya memperturutkan hawa nafsu sudah harus dipetik, tatkala pernikahan baru seumur jagung. Sikap Ogan langsung berubah. Tidak ada lagi kehangatan seperti dulu. Uang belanja pun kadang diberi lain waktu tidak. Bahkan sikapnya jauh menyimpang dari tipe suami ideal. Vita harus menelan pil pahit tatkala melihat suaminya berciuman dengan wanita lain.

Masih belum cukup. Untuk kedua kalinya, sang suami mengkhianatinya. la berselingkuh. Kali ini ia tertangkap basah oleh warga. Syetan telah memenangkan pertarungan ini. Keputusan yang diawali dengan memperturutkan hawa nafsu berakhir dengan perpisahan.

Panji-panji syetan telah berkibar. Iblis memberikan penghargaan yang tinggi kepada syetan yang berhasil memisahkan Vita dan suaminya. Seperti yang tertera dalam hadits riwayat Muslim.

“Sesungguhnya Iblis membangun singgasananya di atas laut. Kemudian ia mengirim bala tentaranya (menggoda manusia). Maka syetan yang paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar menciptakan fitnah (di antara manusia). Salah seorang syetan datang. “Saya telah mela-kukan ini dan itu,” katanya. “Kamu belum melakukan apa-apa,” jawab Iblis. Kemudian ada lagi yang datang, “Saya tidak meninggalkannya hingga ia menceraikan istrinya.” Kemudian Iblis menyuruhnya mendekat seraya berkata, “Kamulah yang terbaik.”

Jangan biarkan syahwat bebas tanpa kendali, karena ia bisa ditunggangi syetan dan melibas norma agama. Jeratan ini harus cepat diputus dengan mempertebal keimanan.
Ghoib, Edisi No. 60 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

SAYA TERJERAT PELET SOPIR TAXI

Mulanya saya tidak berani menyatakan bahwa dulu saya pernah dipelet. Tapi setelah bertanya kepada ustadz yang menerapi saya di kantor ruqyah Majalah Ghoib cabang Padang, saya mulai berani menyatakan bahwa dulu saya pernah dipelet seorang sopir taxi yang akhirnya menjadi suami saya. Meski pernikahan kami tidak pernah disetujui orangtua saya.

Tahun 94, saya diterima bekerja di sebuah instansi pemerintah di kota kelahiran saya. Meski terbilang jauh, tapi saya menikmatinya. Di tengah kesulitan mencari kerja, masih ada tempat yang menampung saya. Perjalanan ke kantor dengan bis umum, ditempuh selama satu jam setengah.

Tempat kerja yang jauh membuat saya terbiasa bangun sebelum Shubuh. Tapi entah kenapa suatu pagi di hari Senin, saya terlambat bangun hingga terburu-buru berangkat kerja. Kendaraan antar kota yang biasa saya tumpangi tentu saja sudah berangkat. Alhasil saya harus menunggu angkutan lain. Waktu berdiri di halte, tak sengaja saya melihat taxi yang sedang mengisi bensin di SPBU.

Tanpa pikir panjang, saya datangi sopir taxi yang berdiri di samping taxinya. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya saya berangkat ke kantor naik taxi itu. Di separuh perjalanan, tiba-tiba sopir taxi yang memperkenalkan diri bernama Ogan menghentikan taxinya. “Sebentar saya beli rokok,” katanya.

Tak lama kemudian Ogan kembali. Perjalanan kembali diteruskan. “Ini permennya mau? Ambil!” katanya seraya menyodorkan permen. Saya diam saja. Saya memang tidak terbiasa makan permen. “Kenapa? Takut permennya diisi sesuatu?” candanya seraya menawarkan kembali permennya. Merasa tak enak, saya terima juga permen itu. Saya ambil satu lalu memakannya. Dari kaca spion saya lihat sopir taxi itu tersenyum-senyum. Entah apa yang dipikirkannya saya tidak lagi menghiraukannya.

Perjalanan dengan taxi memang lebih cepat. Satu jam perjalanan lebih sedikit. Meski hal itu tidak mengurangi keterlambatan saya, tapi tak apalah toh selama ini saya selalu tepat waktu. Dengan buru-buru ongkos taxi saya bayar. Setengah berlari-lari saya memasuki kantor.

Pada waktu jam istirahat kantor, saya mendapat telepon dari pos satpam. “Maaf Bu, di sini ada sopir taxi yang mengaku ibu pesan untuk mengantar ibu pulang.”

Saya terkejut. “Saya tidak pernah pesan taxi pak. Barang kali orang itu salah alamat,” jawab saya tanpa bisa menyembunyikan keheranan saya. Saya merasa tidak memesan taxi.

Saya tutup telpon. Rasa lapar membuat saya tak menanggapi adanya taxi yang entah di mana itu. Bersama Mbak Fitri dan Mbak Ria saya ke kantin. Saya pesan nasi goreng kesukaan saya. Nasi goreng di kantin sangat enak. Ditambah selada segar nasi goreng itu semakin enak. Sungguh tak teringat lagi tentang sopir taxi itu. Lagi pula tentu dia sudah pergi bila memang benar adanya. Untuk apa dia datang apalagi menunggu saya. Sedangkan bayar ongkos taxinya saja saya tawar semurah mungkin.

Jam kerja usai. Saya meniti jalan keluar kantor menuju halte bis antar kota yang mengantar saya pulang. Agar teriknya matahari tak terlalu terasa, Mbak Fitri dan Mbak Ria dan saya bersenda gurau. Senda gurau kami terhenti ketika taxi berhenti menghalangi jalan karni.

“Astaga…!” pekik saya. Ogan, sopir taxi itu datang lagi.

“Ada kemajuan nih adik kita Fit,” celetuk Mbak Ria.

“Nggak, tadi terpaksa saja kok, takut terlambat,” saya mencoba menjelaskan. Mbak Fitri mengangguk-angguk, sedang Mbak Ria masih tersenyum- senyum menggoda.

Sopir taxi itu keluar dari taxinya. Meski hati ini marah melihat gayanya, saya tetap tenang ketika dia menawarkan agar saya masuk ke taxinya. Kali ini dia ajak dua teman kantor saya. Nyaris kemarahan saya hendak meledak, tapi saya ingat nasehat ibu untuk tidak pernah marah kepada orang lain supaya diri ini tidak teraniaya kelak.

Bis angkutan yang saya tunggu datang. Bertiga kami naik bis antar kota. Ogan masih berdiri di sana. la diam terpaku. Wajahnya terus menatap kami. Sementara Mbak Fitri terus menggoda saya. Namun, perasaan dongkol membuat saya tak punya keinginan membalas gurauan Mbak Fitri.

Keesokan harinya sopir taxi itu datang lagi. Entah darimana dia tahu setiap jam berapa saya di halte menunggu bis angkutan kota. Dia menghampiri saya. Mulai sedikit kesal, saya menolak tawarannya untuk mengantar saya. Beruntung, selang beberapa saat kemudian bis yang saya tunggu datang, saya pun naik bis itu tanpa mempedulikannya. Perasaan tidak senang mulai muncul dalam diri saya. Saya tidak senang dengan sikapnya yang sok akrab dan berlagak seperti sudah kenal lama.

Kebencian saya semakin membuncah, tatkala Ogan terlihat di halaman parkir pangkalan taxi. la melambai- lambaikan tangan kepada saya. Kali ini saya pilih diam tanpa reaksi dan terus berjalan menuju tempat biasa menunggu bis. Mbak Fitri dan Mbak Ria yang melihat ulah sopir taxi itu tidak lagi mau menggoda. Tampaknya mereka mengerti ketidaksenangan saya.

Bukan profesi Ogan yang tidak saya senangi, tapi lebih karena sikapnya. Dalam beberapa kali pertemuan, saya menangkap sinyal tidak baik dari pancaran wajahnya. Meski saya akui, saya memang belum kenal siapa dia. Pertemuan kami sebatas dalam perjalanan ke kantor. Itu pun baru sekali serta ditambah dengan beberapa kali pertemuan singkat saat dia mencoba mendekati saya. Selain itu, saya masih belum berpikir untuk menikah.

Terus terang, kemunculan Ogan sudah membebani pikiran saya. Kehadirannya melahirkan ketidak tenangan dalam diri saya. Yang saat tengah mendapat tugas dari kantor untuk mengurus segala hal yang terkait dengan pendirian sekolah Taman Kanak- Kanak di lingkungan kantor.

 

SAYA TERJATUH DALAM PELUKAN SOPIR TAXI

Belum usai cobaan yang satu, muncul lagi persoalan baru. Seperti petir di siang bolong ketika pimpinan proyek pendirian Taman Kanak-Kanak meminta saya menghadap beliau.

Di ruang pimpro telah menunggu seorang perempuan berjilbab. Perempuan itu berkulit putih bersih. Cantik. Nyaris sempurna bila kursi roda itu tak ada. Wajah cantik itu masam dan geram melihat kepada saya.

Tanpa menunggu lagi, perempuan cantik itu memaki saya. “Ini dia pak, perempuan jalang yang minta dilamar suami saya,” suaranya yang keras mengejutkan saya. Baru dua detik saya duduk, perempuan yang baru saya lihat itu sudah menuduh macam-macam.

“Alasannya ke Padang beli peralatan sekolah, padahal pergi pacaran dengan suami saya. Hingga suami saya tadi malam minta izin untuk menikahi perempuan ini,”katanya dengan nada geram.

“Ngakunya guru, tapi apanya yang bisa ditiru?” perempuan yang tidak beranjak dari kursi roda itu terus mencecar saya. Saya diam terpaku. Sama sekali tak ada kesempatan untuk menjawab.

Nafasnya tersengal-sengal. Nampaknya ia telah puas melampiaskan kekesalannya. Pimpro memberi kesempatan saya untuk membela diri. “Ibu, saya ke sini untuk bekerja. Belum ada niat untuk cari jodoh. Siapa nama suami ibu?”

“Pak Kadir,” jawabnya dengan suara gemetar.

Saya terkejut mendengarnya. Saya kenal baik dengan Pak Kadir, penanggung jawab pengadaan dana dan pembelian kebutuhan Taman Kanak-Kanak.

“Bu, setiap pergi belanja kami tidak berdua, tapi bertiga dengan sopir. Saya tidak akan mungkin sebodoh itu. Cincin yang selalu Pak Kadir pakai cukup untuk menjelaskan bahwa beliau sudah beristri,” Saya berusaha menjelaskan hubungan saya dengan Pak Kadir.

“Saya tak akan banyak bicara, tapi percayalah Bu, saya tidak punya niatan merebut suami ibu,” kata saya.

Perempuan itu hanya diam. Saya meminta izin kepada pimpro untuk kembali bekerja. Saya tinggalkan ruangan itu.

Sejak peristiwa itu, saya sengaja menjauhi Pak Kadir. Tak pernah saya memberinya kesempatan mendekati saya. Tapi entah bagaimana awalnya, suatu sore saya ditanya bapak dan ibu mengenai hubungan saya dengan Pak Kadir. Dari orangtua saya, saya ketahui Pak Kadir minta izin untuk menikahi saya. Saya jelaskan siapa Pak Kadir dan juga peristiwa di kantor itu. Orang tua pun memahami masalah saya dan menganggap masalah dengan Pak Kadir selesai.

Hari terus berjalan tanpa dapat dihentikan. Taman Kanak-kanak pun telah berdiri. Saya diberi tanggung jawab menjadi kepala sekolah sekaligus guru kelas. Muridnya masih belum banyak. Masih terbatas pada anak-anak pegawai kantor yang tinggal di komplek.

Jarak antara kantor dengan sekolah yang agak jauh, membuat saya merasa aman dari pandangan Pak Kadir. Saya menikmati tugas baru sebagai guru sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun, ketenangan itu kembali terusik oleh kehadiran seorang tamu tak diundang.

Doaarrr…. pintu didobrak dengan paksa. Istri Pak Kadir berada di depan pintu yang terbuka. Wajahnya beringas. Di tangan kanannya tergenggam sebilah badık. la berusaha masuk ke dalam ruangan dengan kursi rodanya.

Anak-anak menjerit ketakutan. Mereka berlarian tak tentu arah. Kehadiran istri Pak Kadir telah mengacaukan keasyikan mereka. Saya berusaha mmenenangkan anak-anak, tanpa pedulikan lagi keselamatan saya.

Syukurlah, tak terlalu lama beberapa satpam datang. Istri Pak Kadir diantar pulang. Dan anak-anak dipulangkan ke rumah masing-masing dengan mobil sekolah serta 2 orang satpam mengiringi.

Setiap hari, jumlah murid semakin berkurang. Orangtua mereka tidak lagi sudi mempercayakan anaknya pada saya. Gunjingan dan sindiran mulai rajin menyapa saya. Tak sanggup menanggung beban sendiri, saya akhirnya jatuh sakit. Kedua orangtua saya tak saya izinkan membantu saya dalam permasalahan saya. Menurut saya, saya tidak bersalah, jadi saya jalani saja.

Di tengah galau dan kacau, Ogan, sopir taxi itu muncul lagi. Kali ini saya rasakan kedatangannya membantu saya. Saya biarkan dia mengantar dan menjemput saya.

Pak Kadir tidak suka dengan kedekatan kami, hingga suatu hari terjadi adu mulut antara saya dengan Pak Kadir. Ogan tidak suka perlakuan Pak Kadir kepada saya. Tanpa basa-basi ia memukul Pak Kadir. Terjadilah pertengkaran. Pimpro memberi sanksi kepada saya dan Pak Kadir. Kami tidak boleh masuk kantor.

Bagi saya, cukup hari itu saya ke kantor. Saya putuskan untuk tidak bekerja lagi selamanya. Yang saya inginkan cuma satu. Menikah dengan Ogan. Keinginan itu pun saya utarakan kepada orangtua.

Bapak menampar saya. Untuk pertama kalinya saya mendapat tamparan dari bapak. Akibat tamparan itu sungguh di luar dugaan. Saya pingsan. Dan ketika sadar, mata sebelah kiri saya mengalami pendarahan di dalam. Perlakuan yang keras dari orangtua tidak menyurutkan niat saya.

Tapi justru memicu kenekatan. Saya mulai berani pergi bersama Ogan hingga larut malam. Tidak biasanya saya berani menentang orangtua. Tapi untuk masalah ini, saya sudah tidak bisa lagi dihentikan. Nasehat dari berbagai pihak saya anggap angin lalu. Hingga akhirnya, orangtua tidak memiliki pilihan lain. Mereka merestui pernikahan kami. Mereka pasrah menerima cemoohan kerabatnya.

Sejak itu, kami tinggal bersama orangtua saya. Setelah empat bulan berlalu, saya mengajak Uda Ogan untuk mengontrak rumah. Tidak enak rasanya selalu merepotkan orangtua. Terlebih bila saya telah hamil. Berbekal dari sisa tabungan saya, akhirnya kami pindah ke rumah petak. Sementara perabot dan alat rumah tangga dibelikan orangtua.

Saya sangat bahagia. Tapi tidak demikian dengan Uda Ogan, la mulai menunjukkan watak aslinya. Perut yang semakin membesar tidak berbanding lurus dengan cinta suami, la mulai acuh. Uang belanja yang seharusnya saya terima setiap hari, kadang diberi kadang tidak. Padahal saya tidak lagi bekerja. Untungnya, masih ada sisa tabungan di bank. Satu demi satu perlengkapan bayi mulai saya kumpulkan.

 

RETAKNYA JALINAN KASIH

Bulan suci Ramadhan tiba. Kehamilan memasuki usia tujuh bulan. Pagi itu saya hendak masak yang istimewa untuk buka puasa. Saya ke pasar ditemani Vivi, teman karib saya. Kami berangkat naik angkot. Angkot berjalan sangat pelan. Di depan sebuah rumah sakit, angkot berhenti. Saat itu mata saya melihat taxi yang disopir suami saya. Itu suami saya, gumam saya.

Dari jauh, saya melihat seorang perawat masuk ke taxi. Tapi mengapa duduk di sebelah suami saya? Saya mulai terbakar api cemburu. Entah mengapa seolah seperti diatur. Angkot yang saya tumpangi dan taxi yang dikemudikan Uda berjalan beriringan. Saya merasa tidak enak melihat keakraban Uda dengan penumpangnya. Taxi itu berhenti di depan salon. Tiba-tiba saya ingin menemui suami saya. Saya turun dari angkot disusul sahabat saya.

Saya hampiri taxi itu. Inna lillahi!” teriak saya spontan. Saya menyaksikan mereka tengah berciuman. Hati saya terbakar. Dengan cepat saya menghampiri mereka. “Dik, kamu tahu bahwa laki-laki yang mencium kamu itu suami saya?” kata saya dari luar pintu. Wanita itu terperangah. “Sekarang, ayo kamu keluar! Jangan sampai saya bertindak kasar!!” gertak saya. Perempuan itu pun pergi entah kemana.

Uda tidak kalah terkejutnya. Tapi ia tidak berbuat apa-apa. la hanya membiarkan perawat itu pergi. Saya masuk ke dalam taxi dengan perasaan marah yang tertahan. Di sepanjang jalan kami hanya diam. Saya tak ingin membuat keributan. Biarlah apa yang sudah terjadi menjadi kenangan meskipun pahit.

Tapi kesabaran saya ditanggapi lain oleh Uda. la merasa menang, hingga semakin menggila. Suatu hari saya mengajak Uda berkunjung ke rumah ibu, tapi ia menolak. “Saya di rumah saja agar bisa istirahat,” tolaknya dengan halus. Saya tidak mau memaksanya, kalau memang itu keinginannya Akhirnya saya berangkat sendiri ke rumah ibu.

Di rumah ibu, awalnya saya merasa nyaman. Ada suasana berbeda yang saya rasakan. Ibu membuatkan masakan istimewa kesukaan saya. “Perbaikan gizi,” kata ibu menyindir. Di tengah kegembiraan itu perasaan gelisah merayap ke dalam jiwa. Tak tahu apa sebabnya, jantung saya berdebar-debar. Akhirnya saya pulang diantar kakak.

Saya semakin takut ketika melihat tetangga berkerumun di depan rumah saya. “Dobrak saja” teriak seseorang di tengah kerumunan massa. Teriakan itu membuat nyali saya menciut. Apa sebenarnya yang telah terjadi. Sejurus kemudian terdengar suara pintu dibuka paksa. Pintu terbuka lebar. Saya menyeruak masuk ke dalam rumah.

“Ya Allah … !!!” pekik saya tertahan. Saya disuguhi pemandangan yang meluluhkan hati. Di atas tempat tidur, Uda dan seorang perempuan duduk ketakutan. Mereka tanpa busana. Tak sehelai benang pun menutupi aurat mereka. Saya jijik. Saya hanya sanggup menangis. Kemudian tidak tahu lagi apa yang terjadi. Menurut kakak, saya pingsan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Sudah dua kali Uda mendzalimi saya dan anaknya yang masih dalam kandungan. Saya tidak kuasa lagi tinggal serumah dengannya. Akhirnya saya memilih pindah ke rumah ibu. Saya tidak lagi peduli, di mana suami saya.

Hingga tibalah saat-saat yang mendebarkan. Saat antara hidup dan mati menjalani proses persalinan. Semua itu tanpa kehadiran suami di tengah-tengah kami. Meski demikian, saya bersyukur anak saya lahir dengan selamat. Seorang anak perempuan yang cantik. Rani, nama yang telah saya persiapkan cocok untuk dirinya.

Seminggu kemudian, Uda datang. Saya menerimanya dengan baik. Saya biarkan ia mencium anaknya. Setelah saya rasa cukup, saya mengajaknya bicara. Saya utarakan niat saya untuk bercerai dengannya. Uda terkejut tapi la tidak membantah. Mungkin la merasa bersalah.

Saya urus perceraian itu dengan biaya sendiri. Tapi cobaan tidak berhenti sampai di sini. Di sekujur tubuh saya tumbuh bintik-bintik merah. Lama kelamaan bintik itu menghitam dan menebal seperti sisik. Bila Maghrib tiba saya merasa tersiksa. Kepala sakit dan sekujur tubuh gatal. Sakit dan gatal itu baru berkurang kala pagi menjelang.

Penyakit yang aneh memang, dengan bantuan temannya ibu berinisiatif ke dukun. Menurut dukun itu penyakit saya dikirim oleh mantan suami saya. Sungguh laki-laki tak tahu diri bila demikian adanya. Kesabaran seorang wanita harus dibayar dengan nestapa. “Bila terlambat diobati, sihir ini bisa membunuh anak ibu,” kata dukun kepada ibu, la kemu- dian memberi sebotol minyak ramuannya yang harus dioleskan ke sekujur tubuh saya yang bersisik.

Perih dan panas menjalar ke seluruh permukaan kulit yang diolesi minyak. Sakit sekali. Sekuat tenaga saya melawannya. Akhirnya saya tertidur. Ketika terbangun dari tidur, saya dapatkan sisik itu mengelupas berserakan di tempat tidur. Aneh memang, seperti cerita di film saja. Tapi begitulah kenyataannya. Kulit saya kembali normal tanpa bekas. Tanpa sisik lagi.

Karena kondisi kesehatan saya mulai stabil dan membaik, ibu berkunjung ke kampung bapak. Saya tinggal berdua dengan Rani. Pagi itu, seperti biasa saya menjemur pakaian. Rani saya taruh di ember besar hitam dengan mainannya. Sedang saya menjemur pakaian di samping rumah. Pagar kayu yang menjadi pengaman utama di depan rumah sudah saya pasang engselnya. Cukup aman, pikir saya.

Ketika saya kembali ke tempat Rani, saya tidak menemukannya lagi. Saya mencari ke dalam rumah dan ke seluruh penjuru ruangan. Rani tidak ada. la seperti hilang ditelan bumi.

Di tengah kegalauan itu ada seorang tetangga yang menemui saya. Katanya, ia melihat Rani digendong ayahnya. Taxinya diparkir jauh dari rumah saya sehingga saya tidak mengetahui kehadirannya. “Krilling,” dering telepon itu mengejutkan saya. Setengah berlari saya mengangkatnya. Dari seberang, saya mendengar suara yang tidak asing bagi saya. Uda, ya suaranya Uda. “Rani ada sama saya. Kamu tidak akan bertemu lagi dengannya,” ancam Uda dari seberang.

Saya panik. Saya segera menghubungi ibu. Tanpa menunggu kedatangannya saya mencari anak saya. Saya datangi kakak-kakak mantan suami saya. Namun, Rani tidak ada. Saya datangi temannya, juga tidak menemukan Rani.

Esok harinya, saya berangkat ke rumah orangtua mantan suami saya di sebuah kota di Sumatra. Perjalanan ke sana ditempuh selama 8 jam. Tapi tangapan mereka sungguh di luar dugaan. Saya datang baik-baik menanyakan keberadaan mantan suami dan anak saya, tapi diusirnya dengan keras. Saya langsung terkulai. Lemas rasanya. Lebih baik mati rasanya, pada waktu itu. Saya bersyukur, masih ditolong Allah hingga selamat kembali ke rumah.

Ibu sudah berada di rumah, ketika saya pulang. Saya tersungkur dan akhirnya tidak sadarkan diri. Saya mulai sering sakit. Berobat ke medis dan spesialis saya jalani. Dokter ahli sudah tak terhitung saya kunjungi. Juga ada satu dua dukun. Rumah yang selama ini menjadi investasi ibu untuk hari tuanya terjual. Perhiasan di badan dijual satu persatu. Tapi tanda-tanda kepulangan Rani tak juga ada.

Sampai akhirnya kakak memperkenalkan seorang laki-laki yang katanya lagi cariistri. Usianya 15 tahun lebih tua. Awalnya saya marah pada kakak, tapi setelah dia jelaskan maksudnya, akhirnya saya setuju menikah lagi.

Penderitaan masih berpihak kepada saya. Empat bulan setelah pernikahan kedua, seorang perempuan yang mengaku istri dari suami saya datang ke rumah. la mengaku istri ketiga dari suami saya. Saya tak percaya. Karena waktu mengurus pernikahan, ke KUA suami saya membawa surat yang menyatakan istrinya sudah meninggal.

Memang tidak salah. Istri pertama suami saya memang sudah meninggal, tapi kemudian menikah lagi. Ketika suami saya pulang dari kantor saya langsung menanyakan berita yang sebenarnya. Saya pikir dia akan marah dan membantah semua itu, tapi ternyata tidak. Suami saya membenarkan semuanya. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Malam harinya ia pergi dari rumah, tanpa membawa sehelai pun baju-bajunya. Saya diam saja.

Dua hari kemudian, dia kirimkan surat yang menyatakan dia menceraikan saya. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan pernah mau mengakui anak saya yang ada di dalam rahim saya adalah anaknya.

Saya tidak pernah berusaha untuk berontak. Saya bahkan tak menangis. Begitu pula ibu. Kami diam. Tapi jauh di lubuk hati saya, saya bertekad membesarkan anak saya seorang diri. Dengan kemampuan saya, saya asuh anak itu kelak hingga menjadi anak yang shalih. Saya melahirkan seorang anak perempuan lagi. Bayi perempuan yang cantik. Anak kedua ini saya beri nama Ratih.

Meski saya berusaha kuat dan tegar namun kondisi fisik saya tak sanggup bertahan. Fisik saya mulai lemah. Menurut medis, saya menderita vertigo dan hipertensi. Semangat hidup saya selalu menyala setiap kali saya pandangi bayi mungil saya yang cantik.

Tahun demi tahun berlalu. Saya berhasil sedikit terbebas dari vertigo sementara hipertensi masih setia bertahan di tubuh saya. Tujuh tahun sudah saya selalu mengkonsumsi obat penurun tekanan darah serta obat penenang.

 

RUQYAH MEMBAWA KEDAMAIAN

Saya mulai jenuh dengan obat-obatan itu. Sampai akhirnya saya mengenal terapi ruqyah. Kakak membawa saya ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Padang. Baru sampai di halaman kantor, telinga saya terasa panas. Dada berdebar-debar. Saya gelisah dan ingin pulang.

Saat mendengarkan ayat- ayat al-Qur’an, tiba-tiba rasa sedih yang teramat sangat bergejolak di dada saya. Saya menangis. Kemudian ada rasamual yang dahsyat. Saya ingin muntah tapi tidak ada yang keluar Rasa mual itu hilang. kembali saya menangis.

Saat diterapi, ada rasa sejuk kemudian berganti panas ketika ustadz membacakan ayat-ayat suci al-Qur’an di telinga kiri saya. Setelah itu jari tangan dan kaki dipijat refleksi sedang ustadz tak henti membacakan ayat al-Qur’an. Tak ada sentuhan kulit, karena ustadz mengenakan sarung tangan yang tebal.

Hari itu terapi ruqyah pertama selesai. Ustadz menganjurkan setiap peserta membeli kaset yang berisi doa-doa penjagaan dan satu buku kecil al-Ma’tsurat. Kaset dan buku itu dapat dipakai agar peserta ruqyah bisa terapi mandiri di rumah.

Saya mulai rajin menterapi diri sendiri. Tak hanya itu, saya mulai memperbagus ibadah shalat wajib yang lima waktu. Sulit awalnya. Semakin saya berusaha untuk baik dan benar setiap kali itu pula muncul keraguan di hati ini.

Sudah tujuh kali, saya mengikuti terapi ruqyah, alhamdulillah, ada kemajuan. Saya merasa menemukan kedamaian dan ketenangan yang selama ini hilang entah di mana.

Jujur saja, saya selalu berdoa semoga Allah mempertemukan saya dengan seorang lelaki shalih yang akan membimbing saya ke surga- Nya.
Ghoib, Edisi No. 60 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Sulit Dibunuh Jin Karena Rajin Beribadah

Jam menunjukkan pukul 11 lebih 17 menit, ketika tim Majalah Ghoib (Ust. Ahmad Sadzali, Lc. dan reporter Rahmat Ubaidillah) menuju ke kantor Ibu Asih di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. Siang itu, terik kota Jakarta terasa menyengat. Padahal, beberapa hari sebelumnya sering diguyur hujan, bahkan terancam banjir. Dalam perjalanan, kami menyandarkan punggung erat-erat pada jok mobil, karena kondisi badan yang kurang enak. Beberapa saat kami hanya terdiam, merasakan demam ringan serta suara yang mulai agak serak- serak basah.

Suara adzan membahana, saat kami tiba di depan ruko berlantai dua, sebagai tempat usaha percetakan Ibu Asih bersama suaminya. Karena perut kami yang sudah lapar berat. Kami makan siang terlebih dahulu, sambil melepas lelah pada sebuah rumah makan yang jaraknya beberapa meter saja dari kantor Ibu Asih. Selepas makan dan melaksanakan sholat dzuhur, kami bergegas ke kantor Ibu Asih yang siang itu tampak sibuk dengan suara mesin cetak.

Kami mengucapkan salam kepada para karyawan, yang nampak sedang beristirahat siang. Tumpukkan kertas serta deretan mesin cetak, menghiasi kantor yang ukurannya lumayan luas. Kami dipersilakan naik ke lantai dua, tempat Ibu Asih berkantor. Ibu Asih nampak masih sibuk di meja kerjanya, sambil memeriksa indeks al-Qur’an yang akan dicetak ulang. Sementara suami Ibu Asih, sedang asyik memandangi komputer sambil bersandar pada kursinya. Kami menyalaminya, lalu ia mempersilahkan kami duduk di depan kursi Ibu Asih.

Suara nasyid (lagu-lagu Islami) sayup-sayup terdengar dari computer sebelah. Lagu Damba Cinta, dari Raihan mengingatkan kami pada kealpaan dan kesalahan yang sering dilakukan manusia setiap saat. “Selamat datang, Ustadz di kantor kami, ini Mas siapa namanya?” sambut Ibu Asih membuka pembicaraan. “Rahmat ibu…”, jawab reporter Majalah Ghoib. Ibu Asih sudah sejak lama mengenal Ust. Sadzali, bahkan beberapa kali pernah di ruqyah olehnya semenjak mengalami gangguan. Sementara reporter Majalah Ghoib, baru kali pertama bertemu dengan beliau.

Sampun sujud Mas? ( sudah sholat mas?)”, tanya Ibu Asih kepada reporter Majalah Ghoib. “Ini orang Sunda Bu, jadi nggak ngerti bahasa Jawa”, jelas Ust. Sadzali. “Oh ya, maaf ya, ndak tahu”, tegas Ibu Asih dengan dialek Jawanya yang kental. Percetakan yang dirintis oleh Ibu Asih bersama suaminya sudah berjalan sejak tahun 1989. Dalam usaha tersebut, Ibu Asih banyak mengangkat karyawan dari latar belakang yang berbeda. Usahanya terus merangkak naik bahkan pernah punya karyawan sampai 40 orang. Setelah ada perampingan, sekarang tinggal 17 orang.

Di tahun 1997, Ibu Asih pernah mempunyai seorang kepala Personalia yang kerjanya kurang memuaskan. Kalau karyawan lain datang terlambat, ia tidak pernah menegur. Ibu Asih kemudian menegurnya untuk mengingatkan para karyawan yang tidak disiplin. Setelah kejadian itu, ia selalu buang muka bahkan menghindar kalau bertemu Ibu Asih. Ibu Asih memohon petunjuk kepada Allah, atas masalah ini. Setelah itu, kepala Personalia tersebut membuat masalah besar di kantor. la mencetak surat Yasin tanpa sepengetahuan Ibu Asih. Setelah diberi pilihan, dimutasikan atau mengundurkan diri, ia memilih mengundurkan diri. “Sejak itulah saya mulai merasakan gangguan aneh yang sangat menyiksa, mungkin ia merasa benci kepada saya, ini analisa saja loh mas”, tutur Ibu Asih.

Sejak saat itu Ibu Asih merasakan seperti orang gila. Rasanya mau menjerit sekeras- kerasnya. Kalau sudah begitu, Ibu Asih membaca ayat-ayat dan do’a-do’a yang pernah dihapalnya sampai satu jam lamanya. “Saya dari kecil hidup dalam lingkungan Muhamaddiyah yang sangat taat, sebab saya tinggal dekat Masjid Kauman, Jogjakarta. Otomatis banyak ayat-ayat serta doa-doa yang saya hapal”, jelas Ibu Asih. Gangguan terus berlanjut, di lain waktu Ibu Asih merasakan panas seperti dioven, padahal dalam ruangan ber-AC. “Ketika saya sedang bingung, ada seorang karyawan yang menyarankan untuk mendatangi ‘orang pinter’ saja”, tambahnya.

Dari satu tempat, ke tempat yang lain. Ibu Asih telah mendatangi beberapa ‘orang pinter’ di berbagai tempat. Menurut ‘orang pinter’, ia dikerjai seseorang. Namun hasilnya nihil. Penyakitnya tak kunjung mereda. Sampai akhirnya ia berkesimpulan bahwa manusia tidak akan bisa menyembuhkannya. “Saya mulai memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam perjalanan hidup, saya tersadarkan kembali. Mungkin maksud Allah supaya keimanan saya lebih kuat, sehingga saya diberi cobaan seperti ini”, tuturnya lirih.

Suatu saat, ada seorang saudaranya memperkenalkan dengan terapi ruqyah pada tahun 2003. Ketika diruqyah pertama kali oleh Ust. Fadhlan, Jinnya mengaku disuruh membunuh Ibu Asih. Namun, jinnya merasa tidak kuasa untuk membunuhnya, karena ibadah yang dilakukan Ibu Asih begitu gencar. “Setelah menjalani empat kali terapi ruqyah, memang ada perubahan. Tetapi yang lebih efektif adalah dengan selalu berdzikir kepada Allah sehingga memperoleh ketenangan,” tuturnya menutup pembicaraan.

Ust. Sadzali, Lc. menerangkan agar terapi mandiri yang telah dilakukannya terus dilakukan dengan sabar dan ikhlas. “Karena Allah sangat mencintai, orang-orang yang bersabar,” jelas pimpinan Ghoib Ruqyah Syar’iyyah pusat ini. “Oh ya, saya hampir lupa, kenapa nggak dikasih minum ya,” celetuk Ibu Asih sambil membuka sebuah kardus air minum kemasan gelas. Dua gelas air disodorkannya kepada kami. Setelah menikmati air yang terasa segar itu, kami berpamitan kepada Ibu Asih dan suaminya. Ibu Asih mengantarkan kami hingga halaman kantornya yang sesak dengan mesin cetak. Suara mesin cetak memenuhi telinga kami seakan-akan mengingatkan kami akan suara knalpot kendaraan bermotor yang kian hari semakin memadati ibu kota dan kian menambah kemacetan dan polusi udara. Selamat berpisah Ibu Asih. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita, untuk tetap meniti jalan keimanan.
Ghoib, Edisi No. 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Minyak Wangi ‘Pemikat’ Bos

Minyak Wangi Pemikat BosKehidupan memang penuh persaingan. Siapa cepat, dia dapat. Namun, dalam menempuh persaingan yang ketat itu, banyak orang menghalalkan segala cara untuk mewujudkam ambisinya. Sikut kanan-kiri, fitnah sana-sini, cari muka di depan pimpinan, menjatuhkan lawan di mata atasan, sering dijadikan sebagai jalan pintas dalam melejitkan karir dan kepentingan pribadi. Akhirnya orang polos tidak lolos, yang jujur tidak mujur, bahkan dibuat hancur.

Korban ketamakan dan persaingan yang tidak sehat itulah yang dialami seorang gadis (28), yang sekarang bekerja sebagai telemarketing dengan gaji seadanya. Padahal posisinya pernah sebagai Operational Manager. Karena persaingan yang tidak sehat, ia akhirnya terjerumus ke dalam lembah kemusyrikan. la mendatangi beberapa dukun di berbagai tempat. Melalui saluran telepon, ia menceritakan kisahnya kepada Majalah Ghoib.

“Peristiwa ini terjadi, sejak tahun 2000”, ia memulai ceritanya. Setelah lulus SMEA, saya bekerja sebagai kasir di sebuah perusahaan kecil. Setelah bekerja beberapa bulan di sana, saya mendapatkan pekerjaan pada perusahaan yang lebih besar. Perusahaan itu bergerak dalam penjualan roti di daerah Jakarta Barat. Karena prestasi saya dianggap bagus, saya ditarik ke daerah Jakarta Pusat untuk mengurus cabang. Perusahaan tersebut menjadi berkembang dengan pesatnya. Saya pun semakin dipercaya.

Ketika perusahaan sedang maju-majunya, ada orang baru yang masuk ke perusahaan kami. la termasuk orang yang sangat dekat dengan bos pemilik perusahaan. Merasa dekat dengan bos, ia lalu ingin menguasai segalanya di kantor. la mulai cari gara-gara untuk menyingkirkan saya. la mulai menfitnah sana-sini dengan tuduhan yang sangat menyakitkan. Karena saya tidak mau ribut, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang telah saya bangun dari awal itu.

Alhamdulillah, saya mendapatkan pekerjaan di perusahaan sejenis, masih di daerah Jakarta Pusat sebagai marketing. Karena sudah punya pengalaman pada bidang ini. Jabatan saya terus berkembang bahkan mendapatkan gaji yang sangat besar. Tapi entah kenapa, tiba-tiba manager saya mulai berulah, Karena merasa tersaingi, ia menghasut bos dan memberitakan bahwa kerja saya tidak bagus. Bos pun termakan hasutan jahatnya, dan mulai membenci saya. Saya sama sekali tidak mengerti, kenapa saya sering diperlakukan seperti ini.

Dalam kondisi seperti itu. Saya mulai mendapatkan bisikan dari teman-teman sekantor untuk mendatangi ‘orang pinter’. “Biar elu, bisa menghasilkan order banyak, dan didemenin bos,” kata mereka memberi nasehat. Saya awalnya agak bimbang dengan ajakan-ajakan itu. Tetapi karena saya suka penasaran, mulailah saya menjelajahi orang pinter’ satu per satu.

Penjelajahan pertama, saya lakukan ke daerah Pondok Kopi. Seorang ibu beretnis tertentu, mulai menerawang saya ini dan itu. Untuk bisa bertemu dengan ibu ini, kita harus menelpon dan antri terlebih dahulu. Terawangannya sih agak-agak salah. Tetapi anehnya saya mengikuti saja apa perintahnya. Ibu itu, dalam praktiknya memiliki bayi kembar, yang membantunya dalam ritual penerawangan. Rumahnya agak seram, asap kemenyan dan dupa menyengat menusuk hidung melengkapi praktiknya. Saya kemudian dikasih jimat ini olehnya.

Jimat itu esoknya langsung saya pakai. Setelah memakai jimat ini, memang ada pengaruh yang saya rasakan. Order saya lumayan meningkat, bonus melesat. Saya pun kembali mendatangi ‘orang pinter’ itu supaya order saya tetap stabil. Seiring dengan perjalanan waktu, lama-lama order saya pun mulai hancur berantakan, malah saya tertipu puluhan juta rupiah sampai akhirnya bangkrut. Pengaruh jimat itu sudah hilang sama sekali. Sebelum saya menyadari kesalahan saya, seakan tak pernah puas, saya terus mendatangi ‘orang-orang pinter’ sampai ke daerah Tangerang.

Pada suatu malam saya menyaksikan sinetron Astaghfirullah. Hati saya bimbang sekaligus tersadarkan, bahwa apa yang selama ini saya lakukan adalah salah. Mungkin karena dosa-dosa saya yang telah lalu itulah, saya mengalami kebangkrutan seperti sekarang ini. Terbayang semua, apa yang telah saya lakukan dahulu. Hati saya menjerit, ya Allah maafkanlah hamba-Mu ini.

Saya kemudian berusaha mencari alamat redaksi Majalah Ghoib dengan susah payah. Setelah hati ini merasa yakin, saya mengirimkan jimat-jimat yang pernah saya miliki selama ini kepada redaksi Majalah Ghoib. Semoga Allah mau memaafkan dosa saya dan memberikan rizki yang berkah, agar bisa membiayai kuliah adik yang saya sayangi.

 

Bentuk Jimat

Jimat ini berbentuk minyak wangi di dalam kaleng seperti kubus dengan merek tertentu. Warnanya hitam, dengan tinggi 15 cm. Dibelakangnya terdapat aturan pemakaian berbahasa Inggris. Bagian depan kaleng berhiaskan salur-salur warna hijau dan putih.

 

‘Kesaktian Jimat’

Jimat ini dipercayai bisa membuat dagangan laris serta disenangi oleh atasan (bos). Orang yang memegang jimat ini, katanya pasti menang dalam persaingan bisnis dan selalu sukses dalam transaksi. Agar jimat ini tetap sakti, maka tidak boleh dipakai oleh orang lain, kecuali oleh orang yang mendapatkannya secara langsung dari sang dukun.

 

Bongkar Jimat

Sungguh, syetan sangat gemar menimbulkan perselisihan dan rasa dengki antar sesama manusia. Dengan cara seperti itu, syetan menginginkan kerusakan dan keangkaramurkaan di muka bumi. Apa yang dialami gadis ini, dengan terus menerus diterpa fitnah. Adalah bukti dari rasa dengki yang senantiasa dihembuskan syetan. Melalui antek-anteknya, syetan menghembuskan permusuhan kepadanya. Padahal, gadis ini tidak pernah punya masalah dengan atasan atau orang-orang di sekitarnya.

Suasana yang tadinya penuh keceriaan, persaingan sehat serta kerjasama, tiba-tiba menjadi terkotori dan terjadi konflik penuh permusuhan. Dalam surat al-Isra ayat 53 dijelaskan tentang aksi syetan tersebut. “Dan katakan kepada hamba- hamba-Ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik, sesungguhnya syetan menimbulkan perselisihan di antara mereka, sesungguhnya syetan adalah musuh yang nyata bagi manusia. “Untuk menghindari perselisihan tersebut, kita dianjurkan untuk memilih perkatan yang paling baik dalam berhubungan dengan sesama manusia.

Memilih pergi ke dukun, untuk memenangkan persaingan, bukanlah jalan yang tepat. Dalam kondisi terdesak dan dilematis, kita memang sering melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Apalagi, lingkungan di sekitar kita mendukung untuk melakukan perbuatan tersebut. Maka secara tidak sadar, kita telah menjadi budak-budak dukun yang sudah pasti bersahabat dengan syetan. Minyak wangi yang sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa, telah dimanipulasi oleh dukun menjadi sebuah benda yang diyakini punya kekuatan tersendiri, yang tidak dipunyai oleh minyak wangi lainnya. Awalnya sih memang ada pengaruhnya. Namun, lambat laun pengaruh tersebut hilang tak berbekas. Saat korbannya sudah terpuruk dalam lembah kesyirikan.

Apa yang telah dilakukan gadis ini, dengan menyerahkan semua jimat yang telah didapatkannya secara susah payah. Merupakan bentuk pertobatannya kepada Allah. Semoga, ia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari semula yang tidak melalaikannya dari perintah Allah . Dan segera mendapatkan seorang pendamping yang dapat membimbingnya meniti Jalan yang diridhai Allah.
Ghoib, Edisi No. 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Ketika Wartawati Misteri ‘Sakit’

Malam telah larut bahkan para penjual makanan keliling yang biasa berseliweran menjajakan makanannya tidak satu pun kelihatan, Istri dan anak kami sedang tertidur lelap akibat aktifitas seharian yang cukup melelahkan. Saya barusan mencoba tidur lagi setelah ada keperluan dari belakang. Beberapa saat kemudian pintu rumahku yang terbuat dari triplek diketuk orang. Aku segera bangkit dan melihat dari balik tirai jendela kira-kira siapa gerangan yang tengah malam begini menjadi ‘tamu tak diundang’. Wajah orang itu telah kukenal meskipun keluarganya termasuk penghuni baru di RT kami. Mereka hanya berdua dan belum punya anak. Rumahnya berjarak tujuh rumah tepatnya sebelah kanan rumah kontrakan kami.

Perlahan pintu rumah kubuka dan kutatap wajah seorang pria setengah baya yang menyiratkan kegugupan. Dia meminta maaf karena telah membangunkanku di tengah malam. Orang itu bilang bahwa istrinya sedang terkena penyakit aneh yaitu seperti orang kesurupan karena matanya melotot-melotot dan omongannya ngalor-ngidul tidak karuan. Katanya dia telah membangunkan Pak DY, orang pintar di kompleks kami tetapi pagarnya digembok dan lama tidak ada jawaban dari dalam rumah. Beliau dianggap orang pintar (dukun) karena membuka usaha tenaga dalam dan banyak murid-muridnya yang berdatangan dari berbagai desa sekitar. Karena lama tidak ada respon maka dia ke rumah saya karena dia tahu saya pernah memimpin do’a ketika ada orang pindahan rumah dan istri saya berjilbab.

Saya lalu minta ijin sebentar untuk berwudhu sebelum bergegas berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah si fulan ini, kulihat telah banyak tetangganya yang berkumpul di teras dan halaman rumahnya. Sebagian juga mengerumuni si pasien yang ditidurkan di ruang keluarga yang cukup luas. Wanita itu kelihatan pucat dan tatapan matanya kosong menerawang. Saya menanyakan pada suaminya aktifitas apa yang telah dilakukan istrinya akhir-akhir ini. Dia bercerita bahwa lama pulang dari pantai Laut Selatan di pesisir Parang Tritis Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangka tugas dinasnya selama tiga hari sebagai wartawan sebuah tabloid misteri yang beredar di Surabaya dan sekitarnya. Tugasnya adalah mewawancarai berbagai tokoh dan narasumber yang dianggap mengerti tentang legenda Nyi Roro Kidul!

Bapak itu juga bercerita bahwa sebelum memanggil para tetangga dia telah memukuli istrinya itu dengan sapu lidi berulang-ulang kali tetapi tidak ada hasilnya. Istrinya malah menjadi-jadi. Telah menjadi kepercayan bahwa dengan dipukuli sapu lidi berkali-kali maka syetan yang mengganggu istrinya akan pergi. Saya lihat sapu lidinya masih tergeletak di dekat istrinya yang dibaringkan itu. Suami korban juga bercerita bahwa rumahnya telah dijaga dengan jimat yang dipasang di atas pintu.

Saya teringat kisah yang pernah saya baca di Majalah Ghoib edisi 34 Th.2 tanggal 12 Muharram 1426 H/21 Pebruan 2005 yaitu rubrik jawaban Cepat Saji berjudul: Penyakit Tidak Sembuh di Tangan Orang Pintar. Sebelumnya saya juga membeli kaset ruqyah syar’iyyah yang diiklankan di Majalah Ghoib yang disertai bukunya.

Ketika ada tanda-tanda wartawati itu seperti kesurupan, saya lalu pulang untuk mengambil buku penuntun ruqyah itu. Tanpa menunggu lama lagi saya bacakan ayat-ayat pilihan di dekat si korban tanpa menyentuhnya sebagaimana yang dibahas dalam majalah ini. Satu menit dua menit memang belum ada reaksi apa-apa tetapi beberapa saat kemudian pasien tersadar dan mukanya berkeringat. Dia kemudian memandangi orang-orang di sekelilingnya lalu berbicara normal seperti sedia kala.

Jam dinding di ruang tamu menunjukkan angka 03.40 pertanda waktu subuh sebentar lagi tiba. Saya anjurkan pasien untuk berwudhu dan bersiap-siap shalat subuh. Kamipun pulang dengan perasaan lega dan bersyukur. Orang- orang yang sejak tadi menonton dari luar pun mulai bubar. Saya berterima kasih pada Majalah Ghoib yang mengenalkan ruqyah ini meskipun saya merasa belum layak menjadi peruqyah. Namun ternyata ada PR lagi bagi saya karena sebagian warga RT kami malah menganggapku sebagai ‘orang pintar’ baru alias dukun. Anggapan ini saya ketahui ketika aya kebagian jadwal ronda malam di poskamling. Ya Allah hindarkan kami dari segala bentuk kemusyrikan. Amin.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Sebelas Tahun Berjuang Mengislamkan Suami

Hidup sebagai istri orang bule, memang menjadi impiannya sejak kecil. Sebagai seorang muslimah, ia juga punya impian untuk menciptakan keluarga yang sakinah dalam naungan al-Qur’an. Selama sebelas tahun, ia berjuang untuk mengislamkan suaminya dengan segenap pengorbanannya. Alhamdulillah impiannya kini telah terwujud, setelah ia pernah merasa berdosa karena hidup serumah dengan orang yang berbeda agama. Semoga apa yang telah dilakukannya ini, menjadi pelajaran bagi para muslimah yang bersuamikan orang asing. Berikut kisahnya.

Sejak kecil saya suka berangan-angan kepingin punya suami bule (orang asing). Gambaran saya pasti bahagia, karena bisa keliling dunia serta menunaikan ibadah haji. Saat kecil saya suka sekali nonton televisi. Suatu hari saya menyaksikan film Indonesia. Ada pemerannya yang sangat cantik. Saya tanya kepada ibu, Bu itu siapa kok cantik sekali? Ibu bilang, “Dia itu blasteran, ayahnya orang bule.” Keinginan saya punya suami orang bule bertambah besar setelah menyaksikan film itu. Kalau saya sudah punya keinginan, saya harus meraihnya sekuat tenaga saya.

Saya dididik secara disiplin oleh ayah. Karena ia seorang intel angkatan laut. Sejak kecil kehidupan saya boleh dikatakan berkecukupan, sehingga saya tumbuh menjadi anak yang periang tapi juga keras kepala.Kehidupan yang kita jalankan ini, semuanya rahasia dari Allah. Kadang kita di atas, kadang juga di bawah, roda terus berputar. Menjelang lulus SMA, kehidupan keluarga kami boleh dikatakan sedang berada di bawah. Maka selepas lulus SMA, saya memutuskan untuk mencari kerja di Jakarta. Dengan berat hati saya meninggalkan Riau, untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Saya pergi ke Jakarta dengan tekad yang bulat. Saya mulai bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Mungkin disitulah hidayah pertama saya. Karena saya betul-betul berniat untuk bekerja dan beribadah. Padahal sebelumnya saya termasuk orang yang biasa saja dalam beribadah. Saya rasa tidak ada jalan lain yang dapat membantu saya kecuali Allah. Semua saya pasrahkan kepada-Nya.

Alhamdulillah, begitu saya melamar pekerjaan melalui tante, saya langsung diterima. Saya bekerja di sebuah restoran milik orang Tionghoa. Karena kejujuran dan cara kerja saya yang dinilai baik, saya diberi fasilitas lebih, seperti dinaikkan gaji serta diantar jemput kemana pun saya pergi. Saya sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Suatu hari, bos saya menawarkan anaknya kepada saya. Tapi saya kurang menyukainya. Karena perasaan tidak enak itu, saya memutuskan untuk keluar dari restoran itu. Tapi terkadang saya serba salah antara ingin balas budi dengan cita-cita yang saya inginkan. Saya kan ingin punya suami orang asing. Saya ini sudah berikrar sama Allah, bukan berikrar sih, tapi saya masih punya cita-cita yang ingin terwujud. Saat usia muda, memang kadang-kadang kita berpikir, ah saya pingin punya pacar yang wajahnya seperti Elvis Presley, pokoknya idealis deh. Setelah keluar dari restoran itu saya sempat menganggur satu bulan.

Kemudian saya mendapatkan pekerjaan lagi di sebuah restoran khas Jepang di daerah Blok M. Saya dipercaya menjadi PR (Public Relation). Saat bekerja di restoran itu, saya berkenalan dengan orang Amerika. Kira-kira, dia baru datang enam mingguan di Jakarta. Dia suka makanan Jepang. Saya lihat orangnya baik. Saya tidak kepikiran akan jadian denganya. Semua saya pasrahkan sama Allah.

Sebagai seorang PR, saya berusaha melayani setiap pelanggan dengan baik. Dan akhirnya dia rajin datang, kayaknya sih naksir. Kemudian dia senang kepada saya dan dia mengajak tunangan. Tadinya dia belum beragama Islam. Saya kurang tahu yah apa agamanya. Jadi disitulah kesempatan saya untuk mengajaknya masuk Islam.

Kami mengislamkannya di sebuah masjid. Dan ibu saya menjadi saksinya. Kira-kira 8 bulan setelah pertunangan, kami berencana akan melangsungkan pernikahan. Namanya juga orang baru saling kenal, sehingga rasa cemburunya sangat tinggi. Dia membayangkan, kalau saya kerja di restoran dengan melayani para tamu perempuan dan laki-laki dengan manisnya. Jangan-jangan nanti ada orang lain yang nyantol sama saya. Perasaan inilah yang membuat hubungan kami agak kurang harmonis. Kami sering berantem dan berantem lagi, sampai timbul keraguan dalam diri saya untuk menikah dengannya. Untuk menghormatinya saya akhirnya berhenti bekerja.

Suatu ketika, saya diundang acara perpisahan teman yang akan pindah ke Moscow setelah suaminya bertugas selama tiga tahun di Jakarta. Di situ saya tidak mengerti adat istiadat bangsa Eropa. Kalau bahasanya saya agak mengerti. Duduklah saya di sofa sendiri. Saya baca majalah. Saya pakai cincin tunangan untuk menghormati komitmen yang saya buat. Tiba- tiba ada seorang laki-laki yang menegur saya. Saya kaget, dia kok bisa bahasa Indonesia. Tapi saya sama sekali tidak melihatnya, saya cuek aja. Ternyata dia orang keturunan Belgia-Perancis. Saya tidak berpikiran macam-macam. Ah biasalah para penggoda wanita.

Pikiran saya sedang tertuju pada hubungan kami yang sedang kacau. Kemana-mana saya dikekang, seperti seekor burung pada sangkar emas. Saya terus berdoa kepada Allah untuk menunjukkan jodoh saya yang sebenarnya. Orang Perancis itu rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Teman saya sudah berusaha menjelaskan bahwa saya telah bertunangan. Tapi ia bersikeras dengan usahanya yang gigih untuk mendapatkan saya pada hari-hari berikutnya. Seakan ia mengerti sebuah pepatah yang mengatakan, selama janur kuning belum dikibarkan, maka masih ada kesempatan untuk meminang.

Karena kegigihannya dalam mendapatkan cinta saya serta bantuan dari teman saya yang terus membujuk. Akhimya saya memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih mengenal saya dan keluarga. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung datang ke rumah orangtua di Tanjungpinang. Ibu pun akhirnya merestui pertunangan kami, setelah saya putus dengan tunangan yang pertama.

Akhirnya kami menikah di Australia tahun 1993. Kenapa kami memilih menikah di Australia, karena suami sudah punya rumah di sana. Yang terpenting adalah untuk memudahkan prosesi pernikahan kami yang saat itu belum satu agama Dia kurang begitu suka dengan negaranya di Perancis, karena terlalu jauh dengan tempat kerjanya di Bali.

Kepinginnya pernikahan saya dihadiri keluarga, tapi karena saya tidak bisa membawa ibu ke sana, saya hanya dibekali surat persetujuan dari orangtua. Ibu saya bilang, “Segala hal yang kamu perbuat, tanggungjawabnya kepada Allah.” Orangtua suami juga tidak datang karena sedang sakit. Kami menikah secara umum dengan dihadiri teman-teman terdekat suami.

Saya tahu, kalau pada saat itu saya salah, dan seterusnya hubungan kami adalah zina. Tapi saya punya keyakinan, bahwa teman-teman saya yang telah kawin sama orang asing, suami mereka masuk Islamnya hanya jadi syarat saja. Saya berpikir mana yang lebih bagus? Mengislamkan dia, dan nantinya dia menjadi orang yang shalih, atau hanya sekadar mengisi formulir di kertas pada saat menikah.

Setelah menikah, kami sempat tinggal tiga tahun di Bali. Di sana, kami hidup bahagia, karena di karuniai seorang anak pertama yang sehat dan lucu. Kehidupan kami berjalan sesuai dengan agama dan kepercayaanmasing-masing. Saya shalat dan puasa. Sementara ia tidak memiliki agama yang jelas bahkan boleh dikatakan tidak beragama. Hati saya tetap bergejolak mencari saat yang tepat untuk mengislamkan dia.

Segala pengorbanan telah saya lakukan untuk menjadikannya seorang muslim. Dua setengah tahun kemudian, lahir anak yang kedua. Seorang anak perempuan yang manis hadir di tengah-tengah kami. Hati saya terus bergolak, kedua anak saya lahir tanpa diadzankan, saya hanya bisa menunggu dan menunggu.

Setelah itu kami tinggal di Jakarta selama 4 tahun. Saat di Jakarta, kalau suami sedang bekerja, saya sering curi-curi kesempatan dengan memanggil seorang guru ngaji ke rumah. Semua itu saya rahasiakan. Orang-orang di sekitar saya, hanya bisa menebak-nebak, ibunya taat beragama, sementara bapaknya begitu, anaknya mau jadi apa?

 

TERUS BERJUANG MENGISLAMKAN SUAMI DI NEGERI KANGURU

Suami saya sudah tidak betah tinggal di Jakarta. la membawa kami pindah ke Australia tahun 2001. Sebenarnya saya berat meninggalkan negeri tempat saya dilahirkan. Karena alasan untuk peningkatan mutu pendidikan anak, saya mau tak mau harus menemani suami di mana pun ia tinggal. Hidup di negeri orangtidaklah mudah. Jauh dari keluarga serta jauh dari komunitas muslim. Hidup seperti ini, saya jalani selama bertahun-tahun.

Saya penasaran, masa sih di Australia ini tidak ada orang Islamnya. Saya sering berdo’a, “Ya Allah berilah aku petunjuk.” Benar saja, saya langsung dikasih petunjuk. Ada anak sekolah berbusana muslim naik bus. Saya terus memperhatikan busnya berhenti dimana ya? Saya kepingin tanya sama dia. Orang Islam di Australia pusatnya dimana? Sebenarnya, saya mau mengetuk rumahnya, tapi saya takut dikira pencuri. Ternyata rumahnya tetanggaan dengan saya. Rupanya di situ menerima anak-anak kost. Saya berpikir, semoga di sana ada anak muslim. Hati saya semakin rindu pada Allah.

Belum sempat saya lebih jauh bertanya. Suatu hari saya bertemu teman yang tadinya tinggal di Jakarta. Ketemunya di shopping centre. Saya bilang padanya, Yuk tolong kenalkan sama orang-orang yang suka sholat! “Ada-ada, saya tinggal di daerah situ. Nanti saya kasih tahu, kalau ada acara ceramah agama. Tempatnya sedikit tersembunyi. Silahkan datang ke sana. Kalau dalam Islam untuk datang ke pengajian gak pakai undangan,” katanya dengan semangat.

Suatu hari saya datang ke sana. Saya pakai selendang dan memakai baju kurung. Subhanallah, Allah memberikan hidayah kembali kepada saya. Isi ceramah seorang ustadzah asal Indonesia serta jawaban- jawaban yang diberikannya begitu menggugah. Saya seperti menemukan kembali keislaman saya (menangis sedih). Secara diam-diam saya terus mengikuti pengajian tersebut, bahkan sangat akrab dengan ustadzah itu dan suaminya yang juga asli dari Indonesia. Perkenalan saya dengannya, terus berlanjut. Saya sering curhat mengenai suami dan kondisi anak-anak di rumah. Saya akhirnya bilang pada ustadzah tersebut bahwa suami saya belum masuk Islam. Ustadzah itu, terus memotivasi saya, “Kuncinya kesabaran, taat dan sholat tahajjud,” katanya.

 Keinginan saya untuk hidup dalam keluarga yang Islami terus berkecamuk. Kebetulan anak saya setiap pulang sekolah  ada kursus tambahan. Mereka saya ajak untuk melaksanakan sholat setiap tiba waktunya. Caranya, saya bawa air 3 botol. Untuk minum, berwudhu dan yang ketiga air sabun untuk buang air kecil serta cuci tangan di semak-semak. Saya bawa plastik yang lebar, saya kasih koran dan sajadah. Saya juga bawa makanan ringan. Sehabis pulang sekolah kami shalat dhuhur di taman. Terus pulang Nah di rumah sudah ada suami. Saya bilang, saya harus jemput anak-anak kursus. Setelah itu kami melaksanakan shalat ashar.

Di taman, udaranya sangat panas. Kalau musim dingin, biar siang hari dinginnya gak ketulungan. Belum lagi kalau hujan. Ketika sedang sholat di taman, godaannya banyak sekali. Orang yang bawa anjing menatap kami dengan aneh. Anak-anak yang main ayunan suka melihat dengan curiga. Saya shalat di situ bersama mereka, saya tenangkan anak saya. Kamu jangan malu, di mata orang, mungkin kamu malu tapi di mata Allah kalian mulia (suaranya agak sedih).

Persembunyian saya dalam melaksanakan ibadah akhirnya tercium juga. Suami saya menemukan sajadah di dalam bagasi mobil. la marah besar. “Ini terakhir kalinya saya melihat kalian shalat, jangan bawa hal yang berbau teroris masuk di rumah ini,” katanya. Dia menganggap Islam itu teroris Saya maklum karena dia tidak pernah dididik secara agama. Dia bilang ke anak- anak, siapa anak dady yang kelihatan shalat nanti akan dipukul.

Setelah kejadian itu saya bilang ke anak-anak untuk shalat sebisanya saja. “Mereka itu kan anak saya juga,” katanya sambil marah. Saya diam aja. “Saya sayang dan cinta sama anak-anak dan juga kamu. Cuma satu itu, jangan bawa mereka pada agama kamu,” tambahnya. Saya terus nangis. Saya langsung menelepon ustadzah. Suami saya langsung berpikir kalau saya mengadukan permasalahan ini kepada ustadzah.

“Wah jangan-jangan guru kamu itu yang mempengaruhi kamu. Gara-gara dia kamu semakin taat. Stop berhubungan dengannya,” teriaknya dengan lantang. Saya tetap berusaha menelepon ustadzah, kalau suami sedang kerja. Tiba- tiba di kepala saya terpikirkan, kata “zina”. Semakin saya tahajjud semakin kuat perasaan bersalah saya. Suatu hari saya sampaikan hal tersebut ke suami saya dengan bahasa yang sangat halus. Sayang saya rasa, saya baru tersadarkan (sekitar tahun 2004). Saya dari dahulu telah berbuat salah. Rasanya kita harus berpisah karena berhubungan seperti ini adalah zina. “Terus kamu maunya apa? Kenapa baru saat ini kamu bilang,” sanggahnya. Sebenarnya sudah lama saya ingin mengutarakan hal ini, tapi saya pendam. Saya berharap bisa mengajak kamu kembali bersama-sama ke jalan Allah, memeluk agama Islam. Karena dia tidak mau, saya memutuskan pisah ranjang. Kedua anak saya mulai curiga. Mereka bertanya, kenapa baju mami ada di kamar yang lain? Saya minta doanya sama mereka agar, kita bisa tetap selalu bersama (menangis tersedu- sedu).

Setan suami saya bertambah memuncak. Dibawanyalah makanan haram ke rumah. Yang biasanya dia tidak melakukannya karena menghargai saya. Dia juga bawa minuman haram ke rumah, padahal dia bukantipe peminum. Dia panggil temannya untuk minum di rumah. Di saat-saat dia minum, rasa takut menyelimuti saya. Pada saat dia ingin memenuhi kebutuhan biologisnya, saya menghindar karena takut dibunuhnya. Saya hidup dalam suasana ketakutan cukup lama. Makanya, ketika dia mendekati pintu kamar saya, langsung saya kunci. Selesai makan-makan, saya cuci tempat makannya dengan pasir. Alhamdulillah kulkas ada dua, sehingga saya bisa memisahkan makanan yang halal.

Karena merasa sudah tidak tahan. Saya bawa permasalahan ini kepada penasihat hukum. Berkat seorang kenalan dekat. Saya dipertemukan dengan seorang lawyer terkenal, ia orang Eropa. Setelah saya ceritakan semua kisah saya, ia menangis sejadi-jadinya. “Baru kali ini, ada orang yang mau bercerai karena agama,” katanya. Maklum Australia kan negara bebas.

Setelah itu ia meminta saya untuk pindah ke kontrakan yang tidak diketahui oleh suami. Karena agama yang saya cintai ini, saya rela tidak membawa sedikit pun harta dari suami. Hanya pakaian yang melekat di tubuh yang saya bawa. Untuk pakaian anak-anak bisa saya bawa secukupnya. Anak-anak semakin bertanya-tanya. Sayajelaskan sambil memeluk mereka erat-erat. Untuk berdoa supaya mami menang. Kalau mami kalah di pengadilan, kalian harus tetap beragama Islam, tetap shalat seperti yang mami pernah ajarkan. Mungkin saja, minggu-minggu ini adalah pertemuan kita yang terakhir (menangis agak lama. Majalah Ghoib berusaha menghiburnya). Setelah itu, pengacara saya mendatangi rumah suami saya. Dan mengajukan gugatan cerai dengan landasan hukum yang kuat.

Suami saya malah menangis. la tidak percaya kalau saya bertindak sejauh ini. la semakin terpukul, ketika pengacara saya menjelaskan, bahwa hak asuh anak ada di tangan ibunya. la semakin bingung. Dan langsung ke rumah ustadzah. Di sana dia ampun-ampunan. Dia menanyakan di mana saya. “Bu anak-anak sama istri saya makan apa, karena mereka tak ada uang sama sekali”, katanya. Sementara ustadzah meminta jamaah pengajiannya agar terus doa untuk kesuksesan saya. Sungguh hindah, persaudaraan dalam Islam.

Karena kesungguhan yang diperlihatkan oleh suami saya, ustadzah mengijinkan kepada suami saya, untuk bertemu saya di rumahnya. Begitu saya sampai dan duduk di rumahnya (rumah saya dulu), saya bertanya kepadanya kenapa kamu panggil saya ke sini? Saya ingat, hari itu hari Jum’at sekitar jam 10-an. Dia langsung menangis dan memeluk saya bahkan seperti orang sungkeman. “Saya maumasuk Islam, saya mau masuk Islam”, katanya memohon. Setelah itu, kami berangkat ke rumah ustadzah untuk mene- mui suaminya. Suami saya pakai baju lengan panjang dan peci punya anak saya. Hari itu, suami saya mengucapkan dua kalimat syahadat sampai 7 kali, karena kurang lancar. Kami pun dinikahkan ulang oleh suaminya ustadzah, dengan disaksikan al- Qur’an.

Saya sangat bergembira dan langsung sujud syukur bersama ustadzah. Sebuah penantian yang panjang, sebelas tahun saya berjuang mengislamkan suami tercinta. Kini ia sering menjadi imam di rumah dan selalu mem-bangunkan kami saat sholat subuh tiba. Terima kasih ya Allah.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Ahli Ilmu Lebih Ditakuti Syetan daripada Ahli Ibadah

Yang dimaksud dengan ahli ilmu (orang alim) disini adalah orang yang mempunyai pemahaman agama dengan baik atau mumpuni, dan pengetahuannya itu dipraktikkan dalam sikap, prilakunya serta ibadahnya sehari-hari. Sedang yang dimaksud dengan ahli ibadah (orang yang banyak ibadahnya) adalah orang yang kuat dan banyak ibadahnya, namun ibadah yang ia lakukan tidak didasari dengan ilmu syari’at. la melakukan ibadah dengan mengikuti perasaan dan naluri saja, atau hanya ikut-ikutan orang-orang awam yang ada di sekitarnya.

Di hadapan ilmu, manusia terbagi dalam empat kategori. Pertama, manusia yang punya ilmu dan ia sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga ia mempraktikkan ilmu itu dalam sikap dan prilaku kesehariannya. Kita patut belajar kepada orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia adalah ‘alim dan ‘amil.

Kedua, manusia yang punya ilmu tapi ia tidak sadar akan ilmu yang dimilikinya, sehingga sikap dan prilakunya menyimpang jauh dari ilmu yang dimilikinya. Perbuatannya tidak sejalan dengan ucapannya. Kita patut mengingatkan orang yang masuk dalam kategori ini, karena ia sedang lalai akan kewajibannya.

Ketiga, manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia sadar akan kebodohannya, sehingga prilakunya terkadang benar terkadang salah. la bertindakberdasarkan naluri dan perasaannya, atau hanya ikut arus yang ada. Kita patut mengajari orang yang masuk dalam kategori ini, agar ia punya bekal dan pedoman yang benar untuk menghindari kesalahan dalam prilakunya.

Keempat, manusia yang tidak punya ilmu (bodoh) tapi ia tidak menyadari kebodohannya, sehingga ia enggan menerima masukan dan nasehat orang-orang yang ada di sekitarnya, karena ia merasa tidak butuh nasehat. Kita patut waspada dengan orang yang masuk dalam kategori ini. Jika kita tidak punya bekal dan semangat untuk memperbaikinya, lebih baik kita menjauhinya agar tidak terkena imbasnya.

 

ILMU AGAMA SEBAGAI PENANGKAL TIPU DAYA SYETAN

Syetan mempunyai banyak senjata untuk menggoda dan menjerumuskan manusia sebagai anak cucu Adam. Dari yang paling halus dan memperdaya obyeknya sampai yang paling kasar dan frontal. Yaitu dengan jelas-jelas, syetan menyeru dan menyuruh manusia untuk berbuat maksiat.

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syetan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kamu’. Maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.” (QS. al-Hasyr: 16).

Sedangkan senjata syetan yang masuk kategori halus adalah “Talbis“. Dengan senjata ini syetan menyamarkan kejahatan dalam kemasan menarik sehingga tampak oleh obyeknya bahwa yang dikemas itu adalah kebaikan. Syetan hadir sebagai sosok malaikat, guru besar, orang alim lalu memberikan nasehat-nasehat kebaikan. Kemudian ia menggiring obyeknya itu ke lembah kemaksiatan dan kesyirikan.

Kalau obyeknya tidak waspada dan terkecoh dengan kamuflase yang ada, maka ia akan menjadikan syetan sebagai penasehatnya, menganggap syetan sebagai malaikat yang diturunkan Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya. Syetan akan menyuruh obyeknya untuk melakukan kemaksiatan berdasarkan “wahyu baru yang diterimanya. Godaan syetan yang ada dianggap rahmat dan mu’jizat dari Allah. Lalu, cepat atau lambat obyek tersebut menobatkan dirinya sebagai nabi baru, untuk memperbaiki atau meralat ketentuan syari’at yang sudah berlaku.

Simaklah talbis syetan yang pernah dihadapi oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Talbis itu begitu halus dan dikemas dengan kebaikan serta disampaikan dengan cara elegan. Kalau kita tidak jeli dan tidak punya pemahaman agama yang mendalam, pasti kita akan terjebak dan terjerembab dalam perangkap syetan tersebut.

Dalam kitab Mashaibul Insan diceritakan, “Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, “Dalam suatu perjalanan, aku merasakan cuaca yang sangat panas, hampir saja aku mati kehausan. Lalu datanglah awan menaungiku, dan angin terasa datang bergerak menghembus tubuhku, dan ludah pun terasa mengalir di mulutku.

Di saat yang menyenangkan itu, tiba-tiba aku mendengar suara, “Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu”. Maka aku menyahut, ‘Engkau Allah? Tiada Tuhan selain Engkau”. Lalu ia memanggilku lagi, “Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu. Aku halalkan apa yang telah diharamkan”. Aku segera membentaknya, “Engkau pendusta, engkau adalah syetan”.

Awan hitam itu pun berhamburan. Lalu aku mendengar suara di belakangku dengan nada bergetar, “Wahai Abdul Qadir, kamu telah selamat dari tipu dayaku, karena pemahaman agamamu yang dalam. Sebelumnya aku telah menggelincirkan 70 orang dengan cara ini.”

Ada yang bertanya kepada Syekh Abdul Qadir, “Bagaimana kamu mengetahui bahwa ia adalah syetan”? Abdul Qadir menjawab, “Barangsiapa yang berkata, ‘Telah aku halalkan bagimu ini dan itu, maka engkau dapat memastikan bahwa ia adalah syetan. Karena sepeninggal Rasulullah, tidak ada lagi yang berhak menghalalkan apa yang telah diharamkan.” (Musibah Akibat Tipuan Syetan: 145-146).

Sungguh cerita di atas merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Jangan mudah terpedaya oleh bujuk rayu dan tipu daya syetan. Baru shalat malam beberapa kali saja, sudah mengaku bahwa malaikat Jibril telah turun kepadanya. Atau shalat lima waktunya belum genap, kemudian mengaku mendapatkan wahyu saat menjalani semedi yang diperintahkan gurunya di sebuah gua. Di sinilah pentingnya pemahaman agama yang mendalam agar kita punya parameter dan filter yang kuat untuk mengahadapi tipudaya syetan.

 

PELAJARAN BERHARGA BAGI PERUQYAH

Kalau manusia dalam kehidupan sehari-hari dianjurkan untuk membekali pemahaman agama yang mendalam, agar tidak terkecoh oleh syetan. Maka bagi seorang peruqyah yang intensitas berhadapan dengan syetan yang masuk ke tubuh seseorang lebih sering, maka lebih dianjurkan lagi untuk membekali diri dengan pemahaman agama yang dalam. Karena ia berhadapan dengan musuh utama yang sangat licik, dan keberadaannya tidak bisa dilihat oleh mata manusia.

Bisa saja syetan melancarkan tipu muslihat dan tipudaya saat ia disuruh keluar oleh seorang peruqyah, dari tubuh orang yang sedang kesurupan. Misalnya, syetan berkata, “Aku mau keluar dari tubuh orang ini karena mentaati perintahmu.” “Aku akan keluar dari tubuhnya, bila kamu mengampuni kesalahanku”. “Aku akan keluar jika kamu mau menikahi anak ini”. “Aku akan keluar, bila kamu sediakan kopi pahit”. Dan permintaan serta permohonan lainnya, yang isinya bisa menggelincirkan akidah si peruqyah atau merusak akhlaknya.

Pelajaran berharga telah disampaikan Ibnul Qayyim al- Jauziyyah, saat ia menceritakan pengalaman meruqyah yang dilakukan oleh gurunya, Ibnu Taimiyyah. Ibnu Taimiyyah saat meruqyah orang yang kesurupan, syetan yang ada dalam tubuh orang tersebut berusaha untuk memperdayainya, dengan tipu daya yang halus namun menggelincirkan. Bila tidak dibekali ilmu agama yang mendalam, maka obyek tersebut bisa terpeleset dan tergelincir dalam perangkap syetan.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menceritakan dalam kitabnya, bahwa Ibnu Taimiyah seringkali membacakan pada telinga orang yang kesurupan ayat 115 dalam surat al-Mukminun. “Suatu saat Syekh Ibnu Taimiyah membaca ayat tersebut di telinga orang yang kesurupan, jin di dalam tubuhnya menjerit mengatakan, ‘Ya……!. Lalu beliau mengambil tongkat dan memukuli urat lehernya hingga tangannya letih kecapekan.

Para hadirin yang menyaksikan peristiwa tersebut yakin, bahwa orang tersebut akan mati akibat pukulan tongkat yang bertubi-tubi. Jin yang di dalam tubuh orang tersebut berkata, ‘Saya mencintainya…!. Ibnu Taimiyah membantah, ‘Dia tidak mencintaimu!’. Lalu jin itu menyahut lagi, ‘Aku ingin pergi haji bersamanya’. Ibnu Taimiyah menyangkal, ‘Dia tidak mau pergi haji bersamamu!’.

Lalu jin tersebut menyahut, ‘Saya tinggalkan dia demi menghormatimu’. Syekh Ibnu Taimiyah menegaskan, ‘Tidak…! Tapi keluarlah kamu karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya’. ‘Ya…, aku akan keluar darinya’, sahut jin menyerah kalah.

Tak lama kemudian orang yang kesurupan tersebut tersadarkan diri, lalu duduk seraya menengok ke kanan dan ke kiri sambil bertanya keheranan, ‘Apa yang menyebabkan aku berada di rumah syekh? Para hadirin balik bertanya, ‘Bagaimana dengan pukulan yang bertubi-tubi tadi?” Orang tersebut menjawab, “Kenapa syekh memukuli saya? Apa dosa saya? Ternyata orang tersebut tidak merasakan apa-apa ketika dipukuli Syekh Ibnu Taimiyah secara terus menerus.” (Ath- Thibbun Nabawi: 53).

Perhatikanlah bagaimana halusnya tipu daya syetan, “Saya tinggalkan dia demi menghormatimu”. Kalau pemahaman agama kita kurang, pasti kita akan mengiyakan apa yang dikatakan jin tersebut, dan hati kita pun berbunga-bunga penuh dengan kesombongan. Apalagi kalau ada banyak orang di sekitar kita.

 

KEBODOHAN ADALAH CELAH SYETAN

Suatu hari, ada seorang laki- laki (26) yang datang ke Majalah Ghoib. la ingin bertemu dengan salah seorang ustadz tim ruqyah syar’iyyah. Ketika ia sudah bertemu dengan salah seorang ustadz peruqyah, ternyata dia ingin cerita pengalamannya lalu minta pendapat peruqyah tersebut.

Dia mengaku bahwa pengetahuan agamanya masih minim. Latar belakang pendidikan formal tamatan SMP, dan untuk agamanya pun ia mengaku tidak pernah sekolah di pesantren. la hanya belajar membaca al- Qur’an di surau (mushalla) sewaktu masih kecil. Pokoknya dia merasa sangat kurang akan pengetahuan agama.

Setelah beberapa bulan ia menikah, ia mendapati gejala aneh pada diri istrinya. Apabila istrinya lagi sedih atau diterpa masalah yang agak berat, istrinya sering pingsan dan kesurupan. Yang paling sering merasuki tubuh istrinya adalah jin yang mengaku sebagai roh ibunya, yang sudah meninggal sewaktu istrinya masih kecil.

Sewaktu kerasukan itu, istrinya sering mengamuk. Dan ia pun berusaha membaca surat-surat pendek dari al- Qur’an yang telah ia hafal. Yang membuat ia bingung, ternyata jin itu menirukan bacaannya dan mengajari surat lain yang belum dihafalnya. Dalam keputusasaannya, ia bertanya kepada jin tersebut, “Apa maumu?” jin itu menjawab, “Sediakan kopi pahit dan teh pahit, aku akan segera keluar dari anakku ini. Jaga dia baik- baik, jangan dibikin sedih.”

Anehnya, ketika permintaan itu ia turuti, ternyata tak berapa lama istrinya siuman dan sadar kembali. Sejak saat itu, ia selalu melakukan hal yang sama saat istrinya kerasukan. Menurutnya itu lebih efektif daripada membaca ayat-ayat atau surat- surat al-Qur’an. Bahkan tidak hanya ketika istrinya kesurupan. Saat orang lain kesurupan, dan minta tolong kepadanya. Maka ia segera menyediakan kopi dan teh pahit.

Lalu ia bertanya, “Kenapa di sini ustadz capek-capek membacakan ruqyah?, padahal tanpa ruqyah syetan juga bisa kabur. Hanya bermodal kopi dan teh pahit, tidak membutuhkan biaya banyak kok…? katanya.

Ustadz peruqyah pun menjelaskan bahwa ruqyah syar’iyyah adalah sunnah Rasulullah. Dengan mempraktikkan ruqyah itu kita hidupkan salah satu sunnah Rasul yang telah ditinggalkan kaum muslimin, dan itu adalah ibadah yang berpahala.

Adapun apa yang Anda lakukan adalah tipu daya syetan agar meninggalkan ruqyah syar’iyyah. Anda telah masuk perangkap syetan. Buktinya Anda telah meninggalkan ruqyah dan memilih menyediakan sesajen sebagai bentuk persembahan kepada syetan. Anda telah tunduk dan patuh kepada perintah syetan dan berpaling dari perintah Rasulullah.

Memang kopi dan teh pahit tidak mahal harganya. Tapi subtansinya bukan di harga. Subtansinya adalah ketundukan Anda kepada perintah syetan untuk menyediakan minuman tersebut. Ketundukan dan kepatuhan kepada syetan adalah perbuatan syirik dan berdosa besar.

Rasulullah pernah menceritakan bahwa ada orang yang masuk neraka karena lalat dan masuk surga karena lalat. Karena orang pertama telah mempersembahkan lalat agar bisa selamat dari ancaman syetan. Dan yang satunya tidak mau mempersembahkan sesuatu kepada syetan, walau hanya seekor lalat. Ketika keduanya meninggal, yang pertama masuk neraka dan yang kedua masuk surga. (HR. Ahmad dalam kitab Az- Zuhd:25) Padahal kalau dilihat dari nilai nominal, lalat lebih tidak bernilai daripada kopi atau teh pahit yang Anda persembahkan.

Lalu orang itu pun beristighfar dan menyadari kesalahannya. Dan ia bertekad untuk belajar agama dengan lebih baik. la juga bertekad untuk menghentikan praktik pengobatan kesurupan yang menyimpang selama ini. Dan ia minta agar ustadz peruqyah itu mau membimbingnya untuk belajar ruqyah yang benar, agar tidak mudah ditipu dan diperdaya syetan.

 

SYETAN LEBIH SULIT MENGELINCIRKAN AHLI ILMU DARI PADA AHLI IBADAH

Rasulullah pernah menyatakan, “… Keutamaan orang yang berilmu dibanding orang yang ahli ibadah laksana keutamaan bulan dibanding seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham (harta), tapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang bisa memiliki ilmu tersebut, berarti ia telah memiliki keuntungan yang sangat banyak.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah). Sedangkan dalam riwayat lain, “Keutamaan orang yang berilmu dibanding orang yang ahli ibadah, seperti keutamaanku atas orang yang paling awam di antara kalian…” (HR Tirmidzi).

Dengan ilmu agama yang dimiliki, manusia bisa mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Dengan pemahaman akidah yang dalam, manusia bisa mengetahui jebakan-jebakan syetan yang bisa merusak akidah itu sendiri. Dengan ilmu syari’at yang memadai, manusia bisa beribadah kepada Allah dengan cara yang benar. Dengan ibadah yang benar serta ikhlas, manusia bisa mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan dirinya dari tipu daya syetan.

Abu Hurairah dalam hadits marfu’nya menginformasikan, “Sungguh, seorang faqih (orang yang mumpuni agamanya) lebih sulit bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” (Adabul Imal’ wal Istimla’: 1/60).

Seorang ulama’ hadits yang bernama Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahım al- Mubarakfuri mengatakan, “Karena orang yang alim dengan ilmunya, ia tidak mudah terkecoh, bahkan akan menolak tipu daya syetan. la senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan. Dan hal itu tidak dijumpai pada diri orang yang ahli ibadah.”

“Atau maksudnya adalah banyak tipudaya syetan yang berhasil dimentahkan atau ditolak orang yang alim. Setiap syetan akan menjebak dan menggelincirkan manusia, orang alim datang dan menjelaskan akan tipudaya tersebut. Akhirnya manusia-manusia itu terhindar dari perangkap dan tipudaya syetan. Sedangkan orang yang ahli ibadah biasanya sibuk dengan ibadahnya. Karena tidak dilandasi ilmu, akhirnya ia tidak merasa bahwa ibadahnya itu salah dan ia telah terjebak dalam tipudaya syetan.” (Tuhfatul Ahwadzi: 7/ 374).

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya syetan pernah berkata kepada Iblis, ‘Wahai tuan kami, kami merasa gembira atas kematian orang yang alim (berilmu), namun kami sangat sedih dengan kematian seorang yang banyak ibadahnya. Karena orang alim itu tidak memberi kesempatan kepada kami, dan dari orang yang banyak ibadahnya kami mendapatkan kesempatan dan bagian yang banyak darinya.”

“Iblis berkata, pergilah kalian! Lalu mereka pun pergi kepada orang yang banyak ibadahnya. Tatkala mereka datang, ahli ibadah itu sedang beribadah. Syetan-syetan itu berkata kepadanya, ‘Apakah Tuhanmu berkuasa untuk menciptakan dunia ini dalam sebutir telur’. Si ahli ibadah menjawab, ‘Saya tidak tahu’. Iblis berkata kepada syetan, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa itu adalah jawaban yang kufur’?”

“Kemudian syetan-syetan itu mendatangi seorang alim (ahli ilmu) dalam majlis ta’limnya. Syetan-syetan itu berkata, ‘Kami ingin bertanya kepadamu’. Si alim bertanya, ‘Bertanyalah’. Syetan berkata, ‘Apakah Tuhanmu mampu menjadikan dunia ini dalam sebutir telur? Si alim menjawab, ‘Ya’. Syetan menyangkal, ‘Bagaimana bisa?” Si alim menjawab, ‘Dia hanya mengatakan, Jadi-lah’, maka akan terjadi. Lalu Iblis berkata kepada syetan-syetan, ‘Tidakkah kamu melihat, bagaimana ia mampu menahan hawa nafsunya, dan ia mampu menangkal tipu dayaku dengan ilmu agamanya.” (Musibah Akibat Tipuan Syetan: 147).

Marilah kita bekali diri kita dengan ilmu syari’at, agar kita tidak gampang dipermainkan oleh syetan, syetan manusia atau syetan jin. Agar kita mengetahui jalan kebenaran, dan meninggalkan tradisi atau budaya yang menyimpang. Supaya kita tidak menyesal di hari kemudian.

Sebagaimana yang digambarkan al-Qur’an, “Allah berfirman, ‘Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu’. Setiap satu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang telah menyesatkannya). Sehingga apabila mereka masuk semuanya, berkatalah orang yang masuk kemudian kepada orang-orang yang masuk terdahulu, ‘Ya tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.’ Allah berfirman, ‘Masing- masing mendapatkan siksa yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui’.” (QS. al-A’raf: 38).
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Waspadalah! Sekali Pasang Susuk, Disusul Susuk-susuk Berikutnya

Hidup adalah persaingan. Demikianlah kenyataannya. Siapapun kita pasti merasakan nuansa persaingan dalam segala situasi dan kondisi. Di rumah, di sekolah, saat bertetangga atau dalam lingkungan kerja. Bersama siapa atau dengan siapa.

Elma, narasumber kesaksian kali ini telah merasakannya. Berawal dari perasaan harus memenangkan persaingan, ia rela melakukan apa saja. Pertimbangan agama sudah menjadi urutan yang kesekian.

Nampaknya masalah persaingan, perlu kita cermati sedikit. Agar kita tidak salah kaprah. Pada dasarnya persaingan itu tidaklah salah. Al-Qur’an sendiri dengan tegas memerintahkan umatnya untuk bersaing. Dalam dua ayat yang berbeda, pertama dalam surat al-Baqarah ayat 148 dan yang kedua terletak di surat al-Maidah ayat 48 Allah memerintahkan umatnya untuk berlumba-lumba dalam kebaikan.

Dengan kalimat yang sama. “Berlomba- lombalah (dalam berbuat) kebaikan.” Perintah dalam kedua ayat tersebut menggunakan fiil amar yang berkonotasi wajib. Artinya dalam hidup ini seorang muslim seyogyanya terus berlomba-lomba. Masalahnya dalam kedua ayat itu ada catatannya, yaitu dalam berbuat kebaikan.

Dalam konteks yang lain Rasulullah pernah adu lari dengan istrinya, Aisyah. Dua kali adu kecepatan berlari itu dilakukan. Memang persaingan antara Rasulullah dan Aisyah dalam hal ini masuk kategori mubah. Artinya persaingan menjadi yang tercepat itu boleh dilakukan ataupun ditinggalkan.

Dengan demikian kalimat persaingan sendiri sebenarnya tidak ada masalah. Hanya bagaimana seseorang bersaing, dan dalam hal apa persaingan itu terjadi. Dua hal ini tidak boleh lepas dari pertimbangan.

Elma, misalnya. Dalam menerjemahkan kalimat persaingan itu menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan. Pertama, ia telah datang ke seorang dukun. Dengan satu tujuan memenangkan persaingan dalam dunia mode. Kedatangannya ke dukun jelas suatu kesalahan. Kedua, untuk memenangkan persaingan itu ia minta dipasang susuk.

Padahal susuk, menurut pengakuan Gus Wahid (mantan praktisi pemasang susuk), sejatinya susuk tidak terlepas dari jasa jin. Hal itu sesuai dengan definisi susuk menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. “Jarum emas, intan, dan sebagainya yang dimasukkan ke dalam kulit, bibir, dahi dan sebagainya disertai mantra agar tampak menjadi cantik, menarik, manis dan sebagainya.”

Emas, intan, maupun jarum yang dijadikan susuk hanyalah benda biasa. la tidak berbeda dengan sandal, piring atau benda mati lainnya. Yang membedakan susuk dengan benda mati lainnya adalah wirid atau mantra yang dipergunakan untuk mendatangkan jin dan merasuk ke dalamnya.

Wirid dan mantra pengundang jin itulah yang membuat susuk dilarang. Apa yang dilakukan Mak Cik menjadi bukti tersendiri. Dengan mantra berbahasa Arab yang dicampur Sunda, ia memasang biji emas, maupun intan ke tubuh pasiennya. Lengkap dengan perlengkapan perdukunannya. Baskom, pendaringan, bunga, kemenyan, patung, keris serta perlengkapan lainnya terkumpul di sana. Sayatan kecil pun tidak berbekas.

Sekian banyak persyaratan pengundang jin itu yang membuat susuk menjadi berbeda. la tidak sekadar benda mati. Tapi kini telah berubah seperti jimat-jimat lainnya baik yang berupa keris, tombak, rompi kekebalan dan sebagainya. Semuanya berujung pada satu kata. Haram.

Sekali terjebak pada permainan susuk, maka ia semakin terseret arus. Satu demi satu bagian tubuh menunggu giliran dipasang susuk. Hingga tidak ketinggalan, bagian yang paling rahasia dalam diri seorang manusia. Begitulah licik dan lihainya syetan mempedaya anak cucu Nabi Adam hingga tak berdaya. Elma mungkin hanya satu dari sekian banyak Elma-Elma lainnya. Terjebak menjadi budak susuk.

 

SUSUK, BAGIAN DARI SIHIR ILUSI

Berkaca pada sejarah, istilah susuk memang tergolong baru. Tapi dilihat dari cara kerjanya sesungguhnya susuk bukan barang baru. la barang lama yang diperbarui cara dan wahananya.

Kisah Nabi Musa bersama tukang sihir Fir’aun menjadi cermin sejarah. “Maka tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” (QS. Thaha 66). Bila dulu, tali- tali tukang sihir nampak seperti ular, tapi sihir ilusi kini semakin beragam.

Bila jin bisa mempengaruhi pandangan seseorang terhadap benda yang nyata, seperti tongkat seakan bernyawa dan bergerak- gerak, maka jin juga bisa mempengaruhi sifat seseorang. Dari yang dulunya benci sekarang cinta. Dari yang dulunya nampak jelek sekarang cantik. Sihir semacam inilah yang disebut dengan sihir ilusi.

Sihir ilusi, menurut Ibnul Qayyim bisa terjadi pada dua sektor. Pertama, pada orang yang dilihat. Pada kasus Elma, bisa jadi jin yang telah masuk ke dalam tubuh pasien melalui perantara susuk itu membuat wajahnya berubah menjadi manis. Jin telah bermain di sana.

Kedua, pada orang yang melihat, artinya. Untuk kasus Elma, bisa jadi wajah Elma tetap seperti semula. la tidak berubah sama sekali. Namun jin mempengaruhi pandangan mata orang lain, bahwa wajah Elma memang manis, gerakan tangannya luwes, langkah kakinya juga menarik perhatian. Padahal sejatinya tidak lah demikian.

Beruntung, Elma menyadari bahwa permainan sihir ilusi harus diakhiri. Meski ia terlanjur ketakutan. Ditambah dengan empat buah susuk yang masih bertahan di dagu. Meski kata dukun yang memasangnya telah dibersihkan. Siapa orangnya yang tidak ketakutan. Bila dalam dirinya, terdapat benda asing yang tidak sepantasnya berkutat di sana.

Tidak perlu bermain susuk, karena akibatnya bisa celaka. Celaka dunia tidak mengapa, tapi celaka akhirat berbuah sengsara..
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Tubuh Saya Penuh Dengan Susuk Dari Wajah Hingga Kemaluan

Hidup itu persaingan, meski dengan kadar yang berbeda. Satu orang dengan lainnya tidaklah sama. Dalam dunia mode, persaingan itu begitu kental. Pasang susuk pun menjadi pilihan tersendiri. Agar bisa eksis, katanya. Seperti kisah Elma, mantan peragawati yang kini menjadi ibu rumah tangga biasa. la menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghaib. Berikut petikannya.

 

Cita-cita saya menjadi peragawati. Hal itu saya ungkapkan ketika bapak menanyakan masa depan saya, di akhir kelas 3 SMA. Sebenarnya keinginan itu muncul begitu saja. Sebagai bentuk protes seorang anak yang tidak mau didikte orangtuanya. Tanggapan bapak? Tentu saja tidak setuju. Bapak yang kerap berhubungan dengan orang- orang penting jelas tidak menerima keputusan saya. la mengharapkan saya menggeluti bidang politik maupun ekonomi seperti kakak-kakak saya. Tapi saya cuek saja.

Secara fisik, saya tidak jelek-jelek amat. Dengan tinggi 170 cm dan bentuk tubuh yang proporsional, cukup layak menjadi peragawati. Meski kulit saya tidak seputih keluarga besar saya. Apalagi keluarga ibu yang masih peranakan eropa. Saya pun enjoy dengan dunia remaja saya. Hidup serba berkecukupan di sebuah kota di Sumatera.

Namun, nasib orang tidak ada yang tahu. Dan semuanya bisa berubah dalam sekejap. Itulah yang harus kami alami. Karena fitnah teman kerja, akhirnya bapak dikeluarkan dari tempat kerja. Bapak yang awalnya menjadi tulang punggung keluarga besar, sekarang menjadi pesakitan. Keluarga benar-benar terpojokkan dari berbagai sisi. Kedua kakak saya yang sedang menempuh kuliah di Jakarta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara saya baru lepas dari seragam abu- abu.

Bapak yang selama ini menjadi sandaran keluarga besar, tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan anak- anaknya. Dengan sedih, ibu harus meminjam dari saudara kiri kanan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Meski harus menanggung rasa malu, semua itu dilakukannya demi sesuap nasi.

Harus ada yang mengambil alih tugas bapak. Sementara di rumah, saya menjadi yang tertua karena kedua kakak saya kuliah di Jakarta. Saya lah yang harus mengambil alih tugas itu, walau berat rasanya. Tekad saya sudah bulat. Tapi mau bertahan di Sumatera? Apa yang bisa saya lakukan dengan bekal ijazah SMA? Tidak banyak memang.

Akhirnya saya putuskan untuk merantau ke Jakarta. Saya ingin mengadu nasib di belantara kota Jakarta. Mewujudkan cita-cita menjadi peragawati. Awalnya orangtua tidak mengizinkan, tapi setelah saya jelaskan bahwa itu adalah pilihan terbaik, akhirnya mereka pun merelakannya. Masalahnya kemudian, apa yang bisa dipakai untuk membeli tiket?

“Ibu kan ada arisan keluarga, memang ibu belum giliran dapat,” kata ibu membuat saya sedikit lega. Kami pergi ke rumah keluarga yang kebetulan pegang arisan. Dari sana, kami dapat pinjaman lima puluh ribu. Lumayanlah buat bekal, meski belum cukup. Ibu menyuruh saya mencari pinjaman dari keluarga yang lain. Semoga ada yang berbaik hati.

Namun, bukan pinjaman yang saya dapatkan. Justru makian dan umpatan yang tidak pantas diucapkan. Padahal, dulu, mereka sering dibantu oleh bapak “Ibumu saja pinjam uang di sini, sampai sekarang belum dikembalikan,” jawab salah seorang dari mereka dengan ketus.

Sedih rasanya mendapat perlakuan sedemikian rupa. Seandainya mereka mengatakan dengan bahasa yang sopan bahwa mereka tidak punya uang, bagi saya tidak menjadi masalah. Tapi kata-kata itu begitu menusuk perasaan. Mereka telah lupa pada budi baik bapak selama ini. Hanya karena sekarang kami miskin.

Beruntung, tak lama kemudian, ada sepupu darı Jakarta yang pulang kampung. Uci namanya. la pun mengajak saya berangkat boreng naik kapal laut. Senang rasanya, impian ke Jakarta tak lama lagi bisa terwujud. Sesampai di pelabuhan, saya bingung. Uang lima puluh ribu yang dalam genggaman, saya pegang erat-erat. Beli tiket? Tidak. Beli tiket? Tidak. Kebimbangan menyelimuti perasaan saya. Sebuah pertaruhan besar bagi saya. Uang lima puluh ribu tidak lah sedikit. Tapi kalau saya pergunakan untuk membeli tiket, bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan di Jakarta selama belum dapat pekerjaan? Sementara saya hanya berbekal alamat dan tidak ada yang menjemput di pelabuhan. Saya hanya mengandalkan budi baik sepupu yang tinggal di Jawa Barat.

Akhirnya saya putuskan untuk menyusup ke dalam kapal. Saya nekat menjadi penumpang gelap. Meski untuk itu saya harus rela kucing-kucingan dengan petugas pemeriksa tiket. Kadang saya disembunyikan di balik tumpukan karung dagangan orang-orang Medan. Lain kali saya bersembunyi di tempat lain. 5 hari 4 malam, saya harus kucing-kucingan dengan petugas. (Elma menangis, teringat masa-masa pahit itu. Red)

Begitu kapal mendarat di pelabuhan Tanjung Priuk, saya menengadahkan tangan, bersyukur kepada Allah. Udara Jakarta telah merasuki dada saya. Tinggallah sekarang, menentukan langkah kemana kaki harus berpijak. Saya bertanya kepada Uci rute bus ke rumah pakde. Di sanalah saya berharap mendapat tumpangan beberapa saat.

“Ngapain datang ke sini?” tanya kakak keras, saat sampai di rumah pakde. Saya terkejut, tidak biasanya kakak berbicara seperti itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi. “Kamu ke sini menyulitkan kami, karena kami ini susah,” lanjut kakak sedikit melunak. Kakak memang tidak cerita kesusahannya. Tapi setelah tinggal beberapa hari di rumah pakde, saya merasakan nada kurang bersahabat dari mereka. Pantas bila kakak merasa tertekan.

Hanya dalam hitungan hari, saya disuruh kakak pindah ke rumah sepupu dari pihak ibu di daerah Tanjung Priuk. Dengan harapan mereka bersedia menampung saya untuk beberapa saat. Namun, tanggapan dari tante tidak kalah menyakitkan ketika tahu saya ingin menjadi peragawati.

“Aduh muka kayak gitu mau jadi peragawati?” kata tante dengan sinis. “Peragawati itu kan anak- anak orang kaya,” katanya lagi dengan bersungut-sungut. Entahlah, mengapa tante tidak senang dengan saya. Padahal kami baru bertemu. Belum ada satu kesalahan pun yang layak membuatnya tidak senang.

Sikap yang kurang bersahabat itu membuat saya tidak betah. Niatan untuk tinggal seatap dengan tante pun saya urungkan. Hanya sehari saya bertahan, lalu balik ke rumah pakde. Di sanalah saya mencoba bertahan. Sambil terus menghubungi Ronald, salah seorang kerabat ibu, yang katanya punya kenalan seorang peragawati terkenal. Ibu berharap ia bisa membantu saya masuk sekolah peragawati. Beberapa kali saya hubungi, Ronald terkesan menghindar.

Dalam serba ketidakpastian itu, saya ditawari kerja di sebuah kantor swasta sebagai resepsionis. Gaji memang tidak besar, tapi setidaknya bisa diandalkan untuk sementara waktu. Perlahan, saya mendapat apresiasi dari atasan. Katanya, rata-rata tamu yang datang ke kantor senang dengan penyambutan saya yang ramah dan luwes.

Apresiasi atasan itu berbanding lurus dengan gaji yang saya terima. Hanya berselang beberapa minggu, saya sudah bisa kost sendiri. Saya tidak tinggal bersama dengan kakak dan pakde. Sebuah batu loncatan yang cepat memang.

 

MERINTIS JALAN MENJADI PERAGAWATI

Di sinilah, di tempat kost yang baru, perjalanan saya meraih cita-cita menjadi peragawati mulai terasah kembali. Saya ingin membuktikan bahwa peragawati tidak hanya milik anak-anak orang kaya. Saya ingin membuktikan bahwa saya pun bisa. Kebetulan tidak jauh dari kantor ada sekolah peragawati milik seorang peragawati papan atas. Namanya Sheina (nama samaran. Red). Di sanalah, akhirnya saya melabuhkan harapan. Dua kali seminggu saya mengikuti sekolah peragawati dan ditunjang pula dengan kursus bahasa Inggris.

Di sekolah, Sheina tertarik dengan bakat terpendam saya. Katanya, di samping sebagai model, saya juga punya bakat menjadi ahli make up. Karena itu ketika ia harus bepergian ke luar negeri, saya mendapat kepercayaan untuk mengontrol make up teman- teman saya.

“Sekalian kamu kontrol make up teman-temanmu,” kata Sheina suatu saat. Padahal saya belum lama terlibat di dunia modelling. Boleh dibilang, baru seusia jagung.

Prestasi saya di dunia modelling boleh dibilang cepat naik. Baru enam bulan sekolah, saya sudah mendapat kepercayaan menjadi model dalam sebuah pagelaran busana di Bali. Sejak itulah kehidupan dunia model mulai saya geluti. Meski untuk itu saya harus mengundurkan diri dari PR.

Dunia model memang penuh dengan glamour. Dibutuhkan seseorang dengan sosok yang berkepribadian tangguh dan penuh percaya diri untuk bisa eksis di sana. Berjalan di atas cat walk di bawah tatapan tajam para pengunjung bukan hal yang mudah.

Dalam kondisi demikian, saya dipertemukan dengan seorang wanita muda yang telah akrab dengan dunia perdukunan. Suzi namanya. Wanita berkulit kuning langsat asal Bandung. Suzi yang masih tetangga kontrakan saya memang telah lama menarik perhatian saya. Sejujurnya, bukan karena kecantikannya, tapi lebih disebabkan kese- hariannya yang amburadul. la seorang pecandu narkoba. Sering mabuk-mabukan dan sepertinya tidak punya pekerjaan tetap, tapi gaya hidupnya tidak kalah dengan wanita jetset.

Saya pun penasaran, pasti ada rahasia di balik materinya yang melimpah itu. “Suz, kamu punya pegangan apa sih?” tanya saya suatu sore. “Gue sering pergi ke Karawang. Di sana ada seorang dukun ternama ahli pasang susuk,” kata Suzi terus terang.

Hubungan kami cepat terjalin akrab. Hingga Suzi pun tidak lagi menutupi rahasia pribadinya. la mengaku terus terang, bahwa ia adalah wanita simpanan orang Jepang. Dari kekasihnya itulah ia menda- patkan limpahan materi.

Memang, semua itu tidak terjadi begitu saja. “Saya pasang susuk untuk memikatnya,” jelas Suzi.

“Susuk?” gumam saya. “Susuk itu apa sih?” tanya saya penasaran. Saya memang tidak bisa menyembunyikan ketidaktahuan saya tentang susuk dengan segala pernak- perniknya.

“Untuk cantik, bikin sukses,” katanya sambil menghisap rokok. Pandangannya menerawang. Entah apa yang dibayangkan. “Kamu kan banyak saingan. Artis saja banyak yang ke sana. Susuk itu bikin kamu cantik, kalau orang lihat itu dia nggak bosan-bosan,” katanya lagi.

Suzi mulai menebar pengaruhnya. Perlahan, ia menguasai pikiran bawah sadar saya, sehingga tanpa ragu saya ikuti langkahnya. “Kamu mau bawa aku ke sana?” pinta saya setengah berharap.

Saya tidak berharap menjadi wanita simpanan seperti Suzi. Tapi saya hanya tidak ingin tersisih dari dunia modelling yang baru saja saya genggam. Saya merasakan pernyataan Suzi ada benarnya. Bahwa persaingan sesama peragawati terbilang keras.

Di hari yang telah kami sepakati, Suzi mengajak saya pergi ke dukun langganannya. Orang-orang biasa memanggilnya Mak Cik. Dalam rumah yang berdinding separoh tembok itulah saya berkenalan dengan dunia susuk.

Ruangannya penuh dengan nuansa mistis. Keris, kembang, pendaringan, baskom, menyan terhampar di atas meja. Mengingatkan saya dengan dukun-dukun yang sering nongol di layar kaca.

“Mak, saya ingin kelihatan manis,” kata saya kepada Mak Cik. Saya memang tidak mengatakan harus pasang susuk di mana. Semuanya terserah kepada Mak Cik.

Tanpa banyak kata, Mak Cik mencucuk muka saya dengan bunga lalu menyuruh memasukkan tangan saya ke dalam baskom. Setelah itu saya disuruh memegang sebilah keris dan patung. Selang beberapa saat kemudian, Mak Cik mulai beraksi. Tangannya menggosok-gosokkan bunga ef ke muka saya.

Mulutnya komat-kamit. Samar-samar terdengar mantra-mantra berbahasa Arab yang bercampur dengan bahasa Sunda. Sejurus kemudian, wanita paruh baya itu mengambil sebilah pisau kecil. Warnanya kekuningan seperti emas. Tangan kirinya segera menarik kulit di pipi saya, sementara tangan kanan memegang pisau. Sreet.. saya merasakan sayatan kecil di pipi saya. Tidak berdarah memang. Hanya sedikit perih. Kemudian Mak Cik memasukkan susuk emas, ke sela-sela sayatan itu.

Saat itu, Mak Cik memasang susuk di beberapa tempat. Pipi kiri dan kanan, dagu dan sekitar bibir. “Biar kelihatan seksi dan lancar bicara,” jawab Mak Cik singkat ketika saya tanya kenapa banyak yang dipasang di bibir.

Selepas pemasangan susuk, muka saya dimasukkan ke dalam baskom. Sementara sebuah patung diusapkan ke bagian-bagian yang sudah dipasang susuk. Anehnya, sayatan pisau itu tidak membekas. Wajah saya kembali mulus seperti semula. Padahal ada beberapa susuk yang dipasang.

Setelah pemasangan susuk itu, saya merasa percaya diri saya semakin tinggi. Saya jalani profesi modelling dengan tatapan berbinar. Masalahnya, tidak ada manusia yang sempurna. Secantik apapun dia pasti ada kekurangannya. Sebaliknya sejelek apapun orang, ia memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Ironisnya, dalam dunia seperti inilah saya harus bertarung.

Satu kenyataan yang membuat saya merasa tertekan bila ada peragawati yang lebih baik dari saya. Saya melihat orang lain sebagai pesaing dan saya harus lebih baik darinya. Karena itu ketika saya melihat ada seorang teman yang dapat berjalan di atas cat walk dengan bagus, hati saya terbakar.

Saya ingin memiliki kaki yang sebagus dia, atau bahkan lebih. Karena itu jalan pintas yang saya ambil adalah dengan mendatangi Mak Cik kembali. Saya ingin pasang susuk di kaki, sehingga dapat berjalan dengan baik.

Namun, sifat manusia tidak ada puasnya. Setelah pasang susuk di kaki, saya kembali menemui Mak Cik, kali ini saya ingin pasang susuk di tangan. Pasalnya, saya merasakan gerakan saya masih kurang luwes. Masih ada orang lain yang lebih luwes dari saya. Dan saya tidak ingin tersisih hanya gara-gara lengan yang kurang luwes.

Tak terbilang berapa banyak susuk yang telah terpasang dan berapa rupiah yang terbuang. Bayangkan untuk satu susuk dari berlian dihargai seratus ribu, sedangkan susuk emas senilai empat puluh ribu. Padahal sekali datang, bisa puluhan susuk yang terpasang. Tapi waktu itu, saya menikmati dunia modelling. Meski secara materi tidak banyak yang saya dapatkan, tapi setidaknya saya puas.

Cemoohan dan pelecehan tante tidak terbukti. Saya sukses menjadi seorang peragawati, meski bukan berasal dari keluarga kaya. Getirnya kehidupan Jakarta di bulan-bulan awal, berbuah manis dengan keberhasilan ini. Sheina makin sayang. Saya juga lebih percaya diri.

Dunia model membawa saya berkenalan dengan orang-orang yang terlibat di dunia hiburan. Kehidupan malam pun tidak lagi terhindarkan. Bersama dengan teman-teman seprofesi saya sering pergi ke disko. Terkadang hingga larut malam. Suasana remang- remang lampu diskotik itu memang mengundang nafsu syetan. Saya lihat tidak sedikit dari teman-teman yang larut di dalamnya.

Saya sendiri, menjadikan diskotek sebagai bentuk pelarian dari rutinitas kerja harian. Tidak lebih dari itu. Meski saya akui dalam keremangan lampu diskotik itu ada beberapa orang yang mencoba untuk mendekati saya. Dengan iming-iming materi, mereka ingin mengajak saya kencan.

Cukup berat memang, menjadi seorang peragawati. Bentuk tubuhnya yang langsing menarik perhatian laki-laki hidung belang. Tapi saya patut bersyukur, bahwa untuk yang satu ini, saya tidak tergoda. Saya tetap ingin mempertahankan kegadisan saya. Tidak boleh ada seorang pun yang merenggutnya kecuali setelah resmi dalam ikatan pernikahan yang suci.

Saya akui, tawaran untuk menjadi wanita simpanan dari beberapa pengusaha atau pejabat sering saya terima. Bahkan ada salah seorang pengusaha dari Malaysia yang melihat saya di diskotik kesengsem. la tertarik dan menawari saya menjadi istri simpanannya. Rumah disediakan, saya tinggal mengurus visa dan passport. Masalah uang, tidak perlu dipusingkan karena ia menjamin semuanya.

Menjadi istri simpanan? Saya tidak pernah membayangkan. Keinginannya itu pun saya tolak dengan halus. Tapi laki-laki paruh baya itu bergeming. la terus membuntuti saya. Sampai suatu hari, ia datang langsung ke kontrakan saya. Lagi-lagi ia membujuk saya agar sudi menjadi istri simpanannya. Karena sebentar lagi dia harus balik ke Malaysia. Saya kembali menolaknya dengan halus. Saya bersyukur laki-laki itu tidak gelap mata dan nekat berbuat yang tidak senonoh.

Tawaran main film pun sempat saya terima, tapi saya tidak berminat. Saya bahkan lebih tertarik menggeluti bisnis lain. Saya juga tidak tertarik menjadi foto model untuk cover majalah. Meski tawaran cukup banyak saya terima. Biarlah itu menjadi ladang orang lain. Karena saya merasa jiwa saya bukan di sana.

Namun, di balik kesuksesan itu terselip ketidakberdayaan dalam mengatasi rasa takut. Boleh dibilang saya mengidap paranoid sejak pasang susuk. Saya yang dulu terkenal pemberani sekarang jauh berbeda. Di rumah, saya biasanya memutar televisi dengan keras, meski tidak saya tonton. Saya hanya membutuhkan kehadiran orang lain, di tengah ketakutan itu.

Karena itulah saya lebih sering bergaul dengan teman- teman. Kalaupun toh pulang ke rumah yang tanpa pembantu, saya jadikan televisi sebagai teman setia Semua itu terus berlanjut hingga bertahun-tahun. Saya tidak sadar bahwa ketakutan itu merupakan konsekuensi yang saya terima lantaran memasang susuk.

Ketakutan saya semakin meningkat, bila di tengah kegelapan malam. Saat tak seorang pun menemani, saya merasakan kehadiran sosok lain di rumah saya. Sosok misterius yang tidak ketahuan orangnya, la hanya berkelebat dan berlalu begitu saja. Sebuah harga yang mahal memang.

 

LEPAS SUSUK

Kehidupan sebagai peragawati saya tinggalkan begitu saja beberapa bulan sebelum pernikahan saya dengan Mas Prio. Tepatnya di tahun 1993. Saya merasa penghasilan suami sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kami. Dan kami tidak ingin muncul masalah di kemudian hari akibat keterlibatan saya di dunia mode yang memang terkenal dengan dunia glamournya. Saya ingin membangun sebuah kehidupan yang harmonis. Tanpa harus melewati tatapan jalang lelaki di atas cat walk. Cukuplah itu sebagai masa lalu. Kecantikan dan keindahan tubuh saya sekarang hanya untuk suami. Bukan orang lain.

Meski telah lepas dari dunia mode, tapi susuk bukan berarti hilang dari kehidupan saya. Setelah menikah dengan Mas Prio saya kembali memasang susuk di sekitar daerah kemaluan. Karena saya ingin kehidupan rumah tangga yang harmonis. Tidak seperti pasangan selebriti yang kawin cerai.

Keinginan untuk melepas semua susuk itu baru tercetus saat pindah rumah ke Bandung, karena Mas Prio ditugaskan ke sana. Saya pun kembali menemui Mak Cik dengan tujuan berbeda. la nampak sedih, tapi saya katakan bila saya sudah tidak lagi menjadi peragawati. Saya sudah menikah dan kini memiliki seorang anak.

Mak Cik pun menuruti permintaan saya. Saya disuruh mengenakan sarung lalu dimandikan. Saat itu pula, saya disuruh memasukkan sebutir telur ke dalam mulut. Saya ikuti perintahnya. Beberapa saat kemudian, Mak Cik memecahkan telur dalam mulut saya. “Untuk membuang sial,” jawabnya ketika saya tanya.

Selesai mandi, saya disuruh mengenakan pakaian kembali. Selanjutnya badan saya dipukul dengan daun kelor. Berkali-kali Mak Cik melakukannya sampai saya tidak tahan. Puas dengan pukulannya, Mak Cik mengambil daun kelor dan saya disuruh mengunyahnya. Katanya, saya sudah bersih dari susuk yang telah dipasangnya.

Saya menganggap diri saya sudah bersih. Maka ketika ada seminar dan ruqyah massal di Bandung saya hanya ikut mendengarkan ceramah tanpa ruqyah. Saya baru tersadar bila telah melakukan kesalahan setelah rontgen. Dari hasil foto itu terlihat 4 buah jarum di dagu. “Ini apa kok kayak jarum- jarum?” tanya petugas.

Persendian saya langsung lemas. Ternyata masih banyak susuk yang menyatu dengan daging saya. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan? Akhirnya saya ingat kembali dengan Majalah Ghaib. Kebetulan, ada seorang teman yang tahu nomor HP Pak Budi. Saya sampaikan semua peristiwa yang saya alami. Dan ia menyarankan saya untuk menjalani terapi ruqyah.

Sekarang saya telah menjalani ruqyah untuk keempat kalinya. Ruqyah pertama, badan saya terasa panas. Panas sekali. Mulai dari kaki terus menjalar ke atas. Badan saya seperti terbakar. Setelah ruqyah kedua, kulit saya terasa gatal. Sedemikian gatalnya saya sampai berteriak keras.

Kini setelah ruqyah yang keempat, alhamdulillah rasa gatal itu sudah tidak lagi terasa. Saya berharap semoga Allah memaafkan semua kesalahan saya. Saya tidak ingin anak-anak mendapat masalah karena kelakuan saya selama ini yang telah pasang susuk.
Ghoib, Edisi 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Terjebak Dalam Mafia Perdukunan

Mafia. Kalimat ini berkonotasi negatif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, kalimat mafia diartikan, perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal). Sekian banyak mafia berujung pada satu muara. Perkumpulan orang-orang yang berniat jahat. Apapun cara dan medianya.

Kesaksian kita kali ini adalah Firli. la terjebak dalam mafia perdukunan. Ratusan dukun ia datangi. Semua itu bermula dari sakit yang dideritanya. Tiga minggu terhitung dari pernikahannya. Entah apa yang melatarbelakanginya. Firli mengisyaratkan ada yang tidak senang dengan pernikahan mereka. Meski ia tidak berani terbuka.

Firli memang layak dikasihani. Di awal pernikahan, ia seharusnya menikmati masa bulan madu dengan tenang. Namun itu tidak terjadi. la didera penyakit susulan yang berujung pada sakit perut.

Aneh. Sangat kental nuansa mistis. Perutnya menggelembung seperti hamil sembilan bulan. Dalam hitungan detik mengempis lalu mengembang lagi. Seperti kisah sihir yang sering dipertontonkan di televisi.

Tapi bencana lebih hebat justru baru dimulai. Syetan yang telah mengibarkan panji-panjinya mulai unjuk kekuatan. Firli dan keluarganya terprovokasi tetangga untuk beralih ke perdukunan. Dua syetan telah menyatu. Syetan manusia memberi informasi, syetan jin menerima order. Klop sudah. Satu persatu orang pintar mereka datangi.

Padahal dalam hadits shahih riwayat Muslim, jelas jelas dikatakan, orang yang datang kepada dukun, shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Ini pertanda buruk. Bila shalat seseorang tidak lagi diterima, lalu apa yang mau dibanggakan?

Sudah tidak ada. Semua bentuk amal kebaikan, nanti, antre di belakang shalat. Bila shalatnya diterima berarti ada peluang bagi amal yang lain. Tapi bila shalatnya tertolak, alamat celaka baginya. Amal-amal yang lain juga tertolak.

Firli dan keluarganya telah terjebak dalam permainan syetan. Sebagai orang beriman tidak seharusnya menghalalkan segala cara untuk mencari kesembuhan. Tapi itulah tipu daya syetan. Mereka menggunakan segala cara untuk meraih cita-citanya. Mencari teman sebanyak mungkin menghuni neraka.

Sekali masuk ke mafia perdukunan akan sulit keluar. Kesaksian Firli menjadi bukti tersendiri. Demi mencari kesembuhan ia rela gonta-ganti dukun. Pagi baru pulang dari seorang dukun, sore harinya sudah berangkat lagi. Tak terhitung sudah dukun yang mereka datangi. Mulai dari dukun biasa hingga yang kental permainannya. Ki Iming misalnya. Kakek yang sudah ompong itu memanfaatkan profesinya untuk kepentingan pribadi. Menyentuh dan menghisap tubuh pasiennya. Tidak peduli wanita itu mahramnya atau bukan. Begitulah yang diinginkan syetan. Sesuatu yang melanggar aturan justru ditrabas.

Wanita memang rawan dipermainkan dukun. Kedok mereka sering terbongkar. Tertangkap dan masuk penjara. Setelah menikmati tubuh pasiennya. Semuanya dengan dalih demi kesembuhan. Firli masih beruntung, Ki Iming hanya menghisap perutnya dan tidak bertindak lebih jauh.

Lain Ki Iming, lain pula Ki Jambrol. Meski satu guru, satu teman. Keduanya bersumber darı bantuan syetan. Cara boleh berbeda, tapi hakekatnya tetap sama. syetan mendemonstrasikan kemampuannya untuk mengelabui pasien. Tubuh dibedah tanpa darah. Tanpa sakit. Tanpa obat bius. Semua itu dipertontonkan di depan mata keluarga Firli. Bila bukan karena bantuan jin, tentu tidak ada manusia yang mampu melakukan atraksi ini. Membedah dan mengeluarkan paku dari tubuh Firli.

Bagi kita, meminta bantuan jin tidak ada untungnya. Justru akan menambah dosa dan kesalahan. Begitulah Allah menyebutkannya dalam surat al-Jin ayat 6.

Delapan tahun Firli berkelana, berpindah dari satu dukun ke dukun. Tidak tanggung- tanggung. Kalau ada rekor terbanyak berobat ke dukun, Fırli layak mendapat nominasi. Ratusan dukun telah didatangi. Semuanya membawa keunikan dan kisah masing-masing. Tapi sayang ini rekor dalam keburukan. Rekor yang tidak perlu terulang.

Terakhir kali, Firli tersandung dengan dukun yang memanfaatkan pasiennya sebagai mediator pemanggilan jin. Firli yang terpilih di antara pasien wanita yang ada. la memang sempat merasakan manisnya bersama Ki Diro. Tapi itu hanya sesaat.

Beruntung. suami Firli sempat melihat sinetron Astaghfirullah. Dari sanalah hidyah Allah mengalir. Firli dipertemukan dengan terapi ruqyah. Yang pada akhirnya mengakhiri petualangannya berobat dari satu dukun ke dukun yang lain. Semuanya telah berakhir.

“Cukuplah masa lalu itu menjadi catatan kelam. Saya ingin menggantinya dengan tinta emas. Bahwa seberat apapun derita seseorang tidak seharusnya membuat gelap mata dan menempuh segala cara untuk mencari kesembuhan.” kata yang indah dikenang.
Ghoib, Edisi 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M
HUBUNGI ADMIN