Sikap Kasar Kaka Ipar, Karena Guna-Guna?

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz pengasuh konsultasi yang saya hormati

Saya mempunyai seorang kakak yang sudah berumah tangga, dan sedang menghadapi masalah dalam rumah tangganya. Istrinya diduga mengalami sakit gangguan fikiran dengan indikasi, sıfat dan perilakunya mengalami perubahan drastis. Menjadi kasar. khususnya pada suami dan anak-anaknya, sering marah, malas shalat, dan tidak lagi peduli pada suami dalam waktu dua bulan terakhir ini. Kebetulan kakak saya adalah seorang pelayar yang jarang bertemu istri. Paling tidak satu hingga dua tahun sekali. Ketika kakak saya pulang ke tanah air belum lama ini dan membawa rezeki yang cukup banyak, malah disambut dengan suasana dingin dan pertengkaran. Bahkan sering tanpa ada pembicaraan awal terlebih dahulu istrinya langsung minta cerai. Dan kakak saya merasa kesulitan untuk komunikasi dengan istrinya, pertanyaan saya:

  1. Apakah perubahan sifat dan sikap kakak ipar saya yang sebelumnya tercermin sebagai wanita shalihah (baik budi dan lemah lembut) adalah sesuatu yang wajar?
  1. Kakak saya sendiri sempat menanyakan ke beberapa orang pintar (ciri-ciri orang pintar tersebut menurut kakak saya pada intinya selalu berdoa dan minta pertolongan langsung pada Allah) bahwa kakak ipar ada yang mengganggu melalui sihir. Sekarang kakak saya sudah kembali bertugas di perantauan. Hingga kini kakak saya sering telpon dan minta bantuan saya untuki follow up ke salah satu orang pintar tersebut. Saya sendiri menolak karena merasasangat ragu dan takut terjebak dalam kesyirikan karena saya tidak tahu pasti cara pengobatan yang dipraktikkannya. Apakah penolakan saya dibenarkan dalam Islam dan apakah jika saya ragu tetapi tetap bersedia membantu follow up walaupun melalui telpon (karena kakak kecewa menganggap saya tidak mau membantu), saya termasuk sebagai orang yang suka tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (QS. al-Maidah: 2)?
  1. Bagaimana cara mengobati kakak ipar saya, jika dia sendiri tidak menyadari perubahan sifatnya, jika memang terkena gangguan sihir dan susah dibujuk untuk berobat bahkan marah-marah? Padahal secara fisik kakak ipar tidak mengalami gangguan fisik. Mohon doa dan penje-lasannya serta solusi dari Ustadz.

Hamba Allah, Bekasi

 

Saudari Hamba Allah dan seluruh pembaca semoga selalu dalam lindungan Allah. Perubahan yang drastis selama dua bulan seperti yang Anda ceritakan itu adalah perubahan yang terlihat. Sangat mungkin sekali bahwa sesungguhnya ini adalah akumulasi atau kumpulan dari kekecewaan dan kekesalan sebelumnya. Awalnya setuju dan mendukung pekerjaan suami sekalipun konsekuensinya harus ditinggal berbulan-bulan bahkan bisa sampai setahun. Dalam kesendiriannya mengurus anak dan rumahnya ia mendapati sesuatu yang tidak dibayangkan sebelumnya. Kemudian muncullah perasaan; walaupun statusnya sudah berkeluargatapi kenyataannya ia sendiri. Setelah itu perasaan itu mendominasi dirinya, kemudian membuatnya suka melamun diam dan pemarah. Dan pada dua bulan belakangan itulah puncak dari semua itu. Kemarahan dan kekecewaannya ia lampiaskan kepada suaminya ketika ia datang. Karena ia merasa bahwa suaminya sudah tidak punya perhatian lagi, maka kemarahanpun banyak tertuju kepadanya. Termasuk permintaannya untuk diceraikan. Kami ingin tegaskan di sini bahwa perubahan yang terlihat drastis tidak selalu adalah sihir atau perbuatan jahat dari orang lain. Sekalipun hal itu juga mungkin adanya. Karenanya dalam hal ini harus diselidiki, kalau perlu dibawa ke psikiater untuk mengetahui kondisi perubahan yang sesungguhnya. Mungkin untuk mengajaknya berobat (terapi ruqyah) pun termasuk tidak mudah. Maka diperlukan kesabaran yang lebih dalam menghadapi kasus orang yang diam dan menutup diri.

Tapi ingat jangan berhenti disitu. Bujuk dan rayu kalau tidak dikatakan “sedikit memaksa” agar ia mau mendengarkaan bacaan dan do’a. Dan pengaruh dari bacaannya pun mungkin tidak seperti orang yang melakukan terapinya dengan kesadaran penuh. Artinya manfaat dari bacaan al- Qur’an tidak kita sanksikan kebenarannya. Bahwa di dalam al-Qurán ada sesuatu yang menjadi kesembuhan. (QS. al-Isra: 82). Namun seberapa pengaruhnya, hanya Allah yang Maha Tahu dan yang memberikan kesembuhan.

Seperti kisah salah seorang pasien yang diajak oleh ibunya ke Majalah Ghoib untuk mengikuti terapi ruqyah. Keluhannya adalah lambat dalam berfikir lebih lambat 3 tahun dari umur yang semestinya 17 tahun. Setelah dua tahun lamanya dalam kondisi itu, sampailah ia pada tahapan suka berbicara dan tersenyum sendiri. Ketika dibacakan/diruqyah, tawa dan senyum itulah yang muncul. Kemudian menyadari kondisi dan riwayat pasien, Ustdz pun tidak putus asa. Disampaikan kepada Ibu yang mengantarnya: “Ibu kesembuhan Itu datangnya dari Allah, memang tidak ada reaksinya seperti yang ibu saksikan. Karena itu tetap dibantu untuk dilakukan terapi mandiri di rumah, dituntun untuk membaca sendiri dibacakan langsung atau diperdengarkan kaset di rumah. Dua pekan setelah ruqyah pertama Ibunyabertemu dengan Ustadz yang menterapinya dan menceritakan bahwa setelah tiga kali ruqyah anaknya mengalami perubahan yang banyak dan lebih baik, alhamdulillah. Jadi dalam kondisi seorang pasien tidak menyadari akan gangguan pada dirinya diperlukan perhatian dan bantuan khusus dari orang lain. Tingkat keberhasilannya. pun juga ditentukan oleh sejauh mana dan sebesar apa dorongan dan perhatian itu diberikan dari orang-orang yang terdekat dengannya; ayah, ibu, suami atau yang lainnya.

Saudari Hamba Allah dan seluruh pembaca semoga selalu dalam lindungan Allah Di zaman sekarang dimana kebatilan dibungkus kebenaran, maka kehati-hatian sangat diperlukan. Tidak ada salahnya Anda mencari tahu tentang orang yang disebutkan oleh kakak Anda. Dan tidak boleh antipati terhadap sesuatu sebelum mengetahui yang sesungguhnya. Karena tidak setiap orang yang dalam terapinya membaca sesuai dengan syariát. Maka Anda harus mencari tahu dan mengeceknya. Seperti pasien yang pernah berobat kepada seseorang dengan cara dibacakan, tapi sebelum dibaca dia sudah menebak duluan. la katakan, “Di badan kamu ada jin kafir.”

Kalau dengan menyaksikan sendiri Anda yakin tidak ada ritual-ritual yang mengandung syirik, hanya membaca ayat-ayat dan doa’, berarti itu adalah ruqyah syariyyah. Maka sudah seharusnya Anda membantu kakak dan mengantarkan kakak ipar untuk melakukan terapi ruqyah. Selain itu Anda bisa juga mengajaknya ke psikilog atau psikiater untuk mendapatkan masukan dan mengembalikan pada kesadarannya seperti semula.

Allah berfirman, “Tolong menolonglah kalian. dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. al-Maidah: 2). Nabi bersabda, “Barang siapa yang membantu seorang mukmin dalam menyelesaikan satu masalah/kesulitan di dunia, Maka Allah akan hindarkan darinya satu kesulitan dari kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan urusan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya permasalahan di dunia dan akhirat…” (HR. Muslim) Mudah-mudahan Allah segera memberikan jalan keluarnya. Wallahu a’lam bis shawab..
Oleh : Ustadz Akhmad Sadzali, Lc.

Nenek Sering Kesurupan Jin Qarin?

Ustadz, nenek saya sering kesurupan. Setelah Ibu saya meninggal, jin yang merasuki nenek mengaku sebagai jin qarin Ibu. Gaya bicaranya seperti Ibu, dan ia seakan tahu persis tentang diri saya. Kabar terakhir, nenek sudah tidak suka kesurupan lagi. Apakah jin yang suka merasuki nenek termasuk jin pengganggu? Apa yang harus kita lakukan saat berdialog dengan orang yang kesurupan jin? Bolehkah kita mempercayai jin qarin? Terima kasih atas jawabannya.

Muh. Umar, Tangerang Banten.

 

Bismillah wal Hamdulillah, kami ikut prihatin atas kondisi yang telah menimpa nenek Anda. Dan kami juga bersyukur bila nenek Anda sekarang tidak sering kesurupan lagi, semoga saja kondisi itu berlangsung terus sampai nanti. Begitu juga kita semua, semoga Allah senantiasa melindungi kita semua dari gangguan syetan yang terkutuk.

Dengan ilmu dan kemampuan yang terbatas, kita tidak bisa memastikan bahwa jin yang merasuki seseorang, adalah jin qarin seseorang atau bukan, jin muslim atau kafir, jin Baghdad atau Jakarta. Karena kita tidak bisa melihat jati diri dan hakikat wujud asli mereka seperti yang difirmankan Allah dalam surat al-A’raf 27.

Bisa saja jin yang merasuki seseorang itu mengaku bahwa dia qarin dari si Fulan atau Fulanah. la diutus oleh seseorang atau masuk atas inisiatif sendiri, atau karena kezhalimannya terhadap manusia yang kerasukan. Bisa saja mereka mengatakan sesuatu dan berbohong, dia ingin menyebar fitnah antar sesama manusia, agar terjadi saling curiga mencurigai antar sesama mereka. Atau dia mau mengadu domba antar sesama kita, waspadalah.

Termasuk kasus kesurupan yang menimpa nenek Anda. Melalui mulut nenek, jin tersebut mengaku bahwa ia adalah qarin Ibu Anda yang sudah meninggal, atau mengaku sebagai roh seseorang yang telah mati. Padahal sebenarnya ia bukan jin qarin Ibu Anda, tapi jin lain yang mengaku sebagai qarin Ibu di masa hidupnya.

Kami juga beberapa kali pernah mengalami hal itu sewaktu melakukan terapi ruqyah. Ada jin yang mengaku sebagai qarin seseorang, dan ada juga roh dari nenek moyang yang kesurupan tersebut. Tapi setelah beradu argumentasi, dan terus menerus dibacakan ayat-ayat ruqyah, akhirnya ia mengaku bahwa ia adalah jin yang zhalim yang merasuki si pasien. Ada yang mengaku masuk sendiri saat si pasien lengah, ada juga yang mengaku dikirim seseorang, dalam hal ini jangan gampang percaya.

Saat menghadapi orang yang kesurupan, oleh jin qarin atau jin yang lain, kita harus tetap memohon kesembuhan kepada Allah. Seperti dengan berdo’a memohon perlindungan dan penjagaan Allah. Termasuk dengan melakukan terapi ruqyah, baik secara mandiri (meruqyah diri sendiri), atau dengan meminta bantuan orang lain yang kita percaya bahwa sosoknya adalah pribadi yang shalih, dan mengerti akan terapi ruqyah secara syar’iyyah.

Allah telah mewanti-wanti kita dengan firman-Nya, “Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 36). Di ayat yang lain, “Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al- Mukminun: 97-98).

Sedangkan Rasulullah berpesan kepada kita saat menghadapi gangguan syetan, termasuk kesurupan. Adapun isi pesan beliau adalah, “Janganlah kalian mencaci maki syetan, tapi berlindunglah kalian kepada Allah dari kejahatannya.” (HR. ad-Dailami dan dishahihkan al-Albani).

Kalau jin tersebut mengaku sebagai qarin Ibu Anda, janganlah mudah percaya atau terkecoh. Walaupun ia suka menasehati Anda dengan hal- hal yang baik, sebagaimana saat Ibu masih hidup. suaranya mirip dengan suara Ibu. Semua itu bisa saja dilakukan syetan untuk mengelabuni kita. Agar mereka tidak diusir dari tubuh orang tersebut, karena dengan pengakuan seperti itu memberikan kesan bahwa ia adalah bagian dari kita. Tidak usah diusir, bahkan kalau bisa dipelihara saja.

Apapun jenis jin itu, ia mengaku sebagai seorang muslim atau bukan, sebagai qarin seseorang atau bukan. Ketika ia hadir dan merasuki tubuh seseorang, berarti ia telah melakukan kezhaliman atau gangguan. Dan kezhaliman harus dimusnahkan atau dilawan. Jin itu harus segera diusir dengan memohon perlindungan dan kesembuhan kepada Allah, seperti dengan melakukan terapi ruqyah syar’iyyah.

Dan berhati-hatilah, bila suatu saat Anda melakukan terapi ruqyah, lalu jin yang merasuk mau berbicara atau mengeluarkan pernyataan- pernyataan. Atau ia mengajak dialog dengan Anda melalui mulut orang yang kesurupan. Waspadalah,jangan sampai menjadi obyek fitnah jin tersebut.

Tidak semua yang dikatakan jin itu benar. Selidikilah terlebih dahulu, atau acuhkan saja, jika Anda khawatir akan kebohongan dari apa yang diucapkannya. Timbanglah dengan timbangan syari’at Islam, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para shahabat saat Rasulullah masih hidup.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah, ketika ia dibeitahu oleh jin yang telah mencuri harta zakat yang berada dalam pengawasannya, bahwa ayat Kursi kalau dibaca bisa melindungi pembacanya dari gangguan syetan. Di pagi harinya Abu Hurairah bercerita ke Rasulullah. Lalu Rasulullah bersabda, “Kali ini ia benar, padahal ia adalah pendusta.” (HR. Bukhari).

Begitu juga, apabila jin tersebut memberikan nasihat-nasihat kebaikan. Jangan mudah kepincut (jatuh hati), lalu timbul keyakinan bahwa jin itu adalah jin baik. Kalau memang ia adalah jin yang baik, ia tidak akan merasuki seseorang. Karena ia takut dosa atas kezhaliman yang dilakukannya.

Seandainya isi nasihatnya itu benar, kita tidak boleh melaksanakan kebenaran itu karena itu perintah jin. Sebab tidak ada kebenaran dan kebaikan dalam agama, kecuali telah disampaikan dan diajarkan oleh Rasulullah. Cukuplah bagi kita, apa yang telah disampaikan Allah melalui al-Qur’an, atau yang diajarkan Rasulullah melalui sunnahnya.

Misalnya, ia berpesan agar kita rajin puasa Senin-Kamis dan shalat malam. Kalau kemudian kita melaksanakannya karena itu perintah jin, atau bila tidak kita laksanakan, lalu muncul kekhawatiran bahwa jin itu akan marah dan menyerang kita, berarti ibadah kita bukan karena Allah, tapi karena jin. Dengan demikian kita telah menyekutukan Allah, na’udzubillahi min dzalik.

Jadi kalau jin yang merasuk itu mau diajak dialog, gunakanlah kesempatan itu untuk mendakwahinya, ajaklah ia masuk Islam kalau ia masih kafir. Atau ajaklah ia bertaubat kalau ia mengaku muslim. Dan jangan mudah percaya akan pernyataan atau statement yang dikatakannya. Wallahu Alam..
Oleh : Ustadz Hasan Bishri, Lc.

Sakit Migren, Ingin Diruqyah

Assalamu Alaikum Warahmatullahı Wabarakatuh

Alhamdulillah, puji syukur atas segala karunia-Nya yang diberikan kepada Kita. Semoga kita semua dalam petunjuk-Nya. Ada bebarapa hal yang ingin saya tanyakan. Saya pelanggan baru Majalah Ghoib. Saya sangat tertarik dengan pembahasannya, untuk pembetulan Aqidah saya. Saya juga ingin memiliki buku-buku terbitan Ghoib Pustaka.

Saya sering sakit kepala. Sakit sebelah kanan, sehingga rambut dipegang juga terasa sakit. Akhirnya tensi darah saya naik, sering mengamuk. Anak dan istri yang menjadi sasaran. Setelah puas baru berhenti. Bahkan istri saya pernah sampai dibawa ke Puskesmas karena perbuatan saya. Kadang saya sadar itu syetan, tapi susah sekali saya menghindarinya.

Tujuh tahun yang lalu saya sering diajak orang untuk mengamalkan ilmu kadigdayaan atau ilmu kesaktian. Hanya saja sekarang saya sudah lupa semua bacaan dan mantranya. Alhamdulillah, saya belum pernah meninggalkan shalat sekalipun saya melakukannya di akhir waktu.

Adapun pertanyaan-pertanyaan saya:

  1. Apakah saya bisa meruqyah atau mengobati diri saya sendiri, karena saya ingin sekali diruqyah tapi belum ada tempat ruqyah di daerah saya.
  1. Apa yang harus saya amalkan dan bagaimana caranya. Sebenarnya saya sudah tidak tahan dengan sikap saya sendiri.
  1. Orang-orang menganjurkan untuk dimandikan, tapi saya ragu. Sehingga kini saya bertahan dengan obat.

Pengasuh konsultasi yang saya hormati, masih banyak yang ingin saya utarakan kepada Bapak. Mungkin hanyainilah bisanya. Sekali lagi saya mohon bantuan. Semoga saya bisa keluar dari kemelut ini dengan izin Allah. Atas pertolongan Bapak saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah membalas amal baik Bapak.

Amin. J. Abdilah, Kalimantan barat

 

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Saudara J. Abdilah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Sebelumnya saya ucapkan selamat bergabung dengan pecinta Majalah Ghoib lainnya. Beberapa pasien pernah mengalami hal yang sama, belajar ilmu kadigdayaan lalu mengalami gangguan-gangguan. Meskipun gangguan yang mereka alami berbeda jenisnya satu sama lain. Di antaranya ada yang mengeluh seperti yang Anda alami. Efek yang rata- rata mereka alami adalah pemarah, sensitif, mudah tersinggung, cemas, malas beribadah termasuk sakit di bagian tubuh tertentu.

Lupa atau meninggalkan bacaan mantra dan jurus yang pernah dipelajari, tidaklah menjadi jaminan hilangnya dampak buruk pada dirinya. Seperti kisah salah satu pasien kita yang dengan sadar meninggalkan ilmu sesat yang telah dipelajarinya. Dan sudah satu tahun ia meninggalkannya. Tapi setiap melakukan shalat ia merasakan pusing, kepalanya seperti di pukul dengan palu. Bahkan ada kisah yang lain di mana ketika ia shalat, tidak bisa membaca surat al-Fatihah. Dan saat mendaftar untuk terapi ruqyah, ia sudah bereaksi dan ketika diruqyah reaksinya lebih dahsyat.

Dalam kasus seperti yang Anda alami ini biasanya butuh pendamping, atau orang lain yang membantu meruqyah Anda. Tapi kalau Anda hendak melakukan ruqyah mandiri, silahkan saja. Dengan memperbanyak istighfar memohon ampunan kepada Allah. Menyesali perbuatan salah yang pernah dilakukan. Dan berusaha untuk tidak mengingat dan tidak mengulangi kembali. Menjaga dan mengutamakan ibadah yang wajib dengan baik. Berusaha untuk menambah ibadah yang sunah sesuai dengan kemampuan. Meninggalkan kebiasaan lama mengulur-ulur waktu shalat adalah poin yang harus diperhatikan secara serius. Akan lebih baik dan utama kalau shalatnya dilakukan secara berjamaah, apalagi berjamaah di masjid.

Membaca al-Qur’an semampunya sambil tetap belajar dan berusaha selalu untuk meningkatkan bacaannya. Membaca dzikir di setiap selesai shalat. Merutinkan untuk membaca dzikir di pagi dan sore hari. Berteman dengan orang-orang yang baik. Agar saudara bisa mempertahankan kebaikan yang saudara kerjakan. Berusaha untuk selalu menambah ilmu agama, sehingga bisa menambah keimanan dan ketaqwaan serta menutup pintu syetan.

Adapun keraguan Anda atas saran orang untuk datang kepada orang pandai sudah benar. Dan sekarang  sudah ada tempat ruqyah di kota Anda.

Saudara J. Abdilah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Salah satu indikasi seseorang yang terkena gangguan jin adalah pemarah. Marah dengan sebab yang sangat remeh dan marah yang susah dikendalikan. Syekh Wahid Abdussalam Bali berkata: “Marah adalah salah satu pintu masuknya syetan terhadap manusia, dan marah adalah bagian dari tipu dayanya yang dahsyat. Karena syetan akan mempermainkan orang yang marah sebagaimana seorang anak yang sedang memainkan bola di tangannya”.

Adapun beberapa tips yangAdapun beberapa tips yang diajarkan Rasulullah untuk menghadapi marah adalah:

Pertama, membaca ta’awwudz, “Audzu billahi minasy syaithonir rojim”. Disebutkan dalam suatu riwayat, ada dua orang saling mencerca, yang membuat salah satunya marah dan memerah wajahnya. Kemudian Nabi memandanginya dan bersabda, “Sungguh saya mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya maka akan hilanglahlah kemarahan yang ada padanya”. Salah seorang yang mendengarnya berdiri dan berjalan menuju orang yang sedang marah itu. Dan berkata kepadanya, “Apakah kamu tahu apa yang disampaikan Nabi tadi? ‘Tidak. jawabnya. Kemudian ia mengulang apa yang disabdakan Nabi, ‘Sungguh saya mengetahui satu kalimat, jika ia mengucapkannya maka akan hilanglah kemarahan yang ada padanya”. Kemudian orang yang sedang marah itu bertanya, “Apakah kau melihatku seperti orang gila.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Kedua, diam, tidak berkata-kata. Nabi bersabda: “Jika kamu marah, maka diamlah”. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Ahmad Syakir). Nabi bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Ketiga, merubah Posisi berdiri menjadi duduk. Dan dari duduk menjadi berbaring. Nabi bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu marah dan ia dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika dengan itu tidak hilang marahnya, maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud).

Keempat, mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan amarah bahkan itu bisa menyebabkannya masuk surga. Berkata Abu Darda’, “Telah datang kepada Rasulullah seorang lelaki dan bertanya, Tunjukkanlah kepadaku amalan yang bisa menjadi penyebab aku masuk surga. Rasulullah bersabda, “Jangan marah, kamu akan masuk surga.” (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh al-Albani).

Saudara J. Abdilah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Ayat pertama yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad berisi tentang perintah membaca, Iqra’ (bacalah). Karena itu terus belajar dan belajarlah terus. Dan salah satu cara untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca. Karena dengan membaca kita akan mendapatkan pengetahuan, Dan pengetahuan akan menguatkan keyakinan dan keimanan. Pengetahuan dan keyakinan yang kuat akan menghasilkan penghambaan yang sempurna kepada Dzat Yang Maha Kuasa, Allah azza wa jalla.

 

Oleh: Ustadz Akhmad Sadzali, Lc

Ke Dukun, Mencari Barang Hilang?

Ustadz, apa hukumnya? Jika ada seseorang yang kehilangan sesuatu, lalu ia bertanya kepada dukun atau ‘orang pintar. Tapi ia tidak minta syarat apapun, la membantu dengan tulus. Dan ternyata barang yang hilang itu bisa ditemukan di tempat yang dikatakan oleh dukun atau ‘orang pintar’ tadi.

Akhwat, Jakarta Utara.

Bismillah wal Hamdulillah, kehilangan suatu barang yang masih kita sukai atau kita perlukan adalah bagian dari mushibah. Walaupun secara nominal, barang tersebut kurang berharga. Tapi dalam keseharian, kita selalu menggunakannya atau sangat memerlukannya. Apalagi kalau benda tersebut punya nilai nominal yang tinggi atau mahal.

Karena manfaat barang tersebut yang begitu besar, atau kecintaan kita kepada barang tersebut yang begitu dalam, akhirnya kita merasa sangat terpukul saat barang itu hilang. Sikap kita akan berubah, menuduh orang lain tanpa bukti, mencurigainya tanpa saksi, atau menyalahkan orang- orang yang ada di sekitar kita karena mereka kita anggap lalai untuk menjaga atau mengawasinya.

Di saat itulah, syetan bermain. Syetan jin atau syetan manusia. Akhirnya muncul inisiatif untuk mendatangi dukun atau orang pintar, lalu memanfaatkan jasa mereka. Kalau ide itu tidak muncul dari diri kita sendiri, terkadang muncul dari kerabat, saudara, atau teman sekitar kita. Untuk mencari dan menemukan barang yang hilang itu, tidak puas rasanya kalau kita hanya mengadu atau melapor ke polisi. Karena kita merasa itu tidak akan menyelesaikan masalah secepat yang kita inginkan.

Orang yang datang ke tempat perdukunan ada empat kategori. Pertama, Sekadar bertanya atau iseng. Dan hukumnya tidak boleh. “Barangsiapa mendatangi dukun, lalu bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari”. (HR. Muslim).

Kedua, bertanya dan membenarkan apa yang dikatakan dukun atau mempercayainya. Dan hukumnya kufur. Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah inkar (kufur) terhadap apa yang dibawa Nabi Muhammad (al-Qur’an dan al-Hadits)”. (HR.Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Ketiga, bertanya untuk mengujinya dan tidak mempercayainya sama sekali. Dan hukumnya tidak apa-apa. “Rasulullah pernah mendatangi Ibnu Shayyad (seorang dukun pada zaman Jahiliyyah). Beliau bertanya, ‘Katakan, apa yang sedang aku genggam (sembunyikan)?’ la menjawab, ‘Ad- Dukh’. (Padahal Rasulullah sedang menyembunyi- kan ayat ke sepuluh dari surat ad-Dukhan). Lalu Beliau membentaknya, ‘Diam kau, ia (jin kamu) belum sampai kepadamu.” (HR. Muslim).

Keempat, bertanya untuk menyingkap kebohongannya atau membongkor kedoknya. Hal ini sangat dianjurkan karena masuk dalam bab ‘Nahi munkar’ (mencegah kemunkaran), agar masyarakat tahu akan kebohongan dan kesesatannya, supaya mereka meninggalkan dan menjauhi praktik perdukunannya. (Kitob al-Qaulul Mufid: 2/ 49).

Dan tipe orang yang Anda tanyakan adalah kategori yang kedua. Orang yang datang ke dukun tersebut mempercayai dan membenarkan apa yang dikatakan si dukun. Apalagi ternyata yang dikatakannya terbukti kebenarannya. Informasi yang diterima dukun dari jinnya ternyata sesuai dengan realita yang terjadi. Tentunya hal itu akan membuat orang tersebut semakin yakin akan ‘kehebatan dan kepatenan’ si dukun. Dengan demikian la telah melanggar larangan Rasulullah, “Janganlah kalian meridatangi dukun…” (HR. Bukhari).

la menganggap bahwa barang yang ditemukan kembali adalah hasil ‘kehebatan’ dukun, bukan karena ketentuan atau takdir Allah. Itulah bukti konkrit bahwa orang itu telah berpaling dari Allah, atau paling tidak telah menduakan Allah dengan si dukun tersebut, la telah masuk perangkap syetan. Syetan jin yang telah membantu dukun tersebut, dan syetan manusia yaitu dukun yang didatanginya.

Padahal realitanya, tidak semua barang yang hilang itu akan ditemukan kembali setelah bertanya ke dukun tersebut. Apa yang dikatakannya tidak selalu sesuai dengan realita yang ada, bahkan banyak salahnya daripada benarnya.

Adapun praktik perdukunan yang pakai syarat atau tidak, itu sudah masuk bab lain. Artinya, praktik perdukunan itu sendiri dilarang dalam Islam. Uang hasil perdukunan juga termasuk uang yang haram. Entah dalam praktiknya ia meminta syarat tertentu kepada pasiennya atau tidak. Begitu juga kedatangan kita kepadanya. Secara tidak langsung kita mendukung keberadaan praktik haram tersebut. Apalagi kalau kita memberinya imbalan uang dalam jumlah yang besar, berarti kita mendanai praktik sesat.

Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur (mengundi nasib dengan sesuatu yang dilihat atau didengar) atau minta dilakukan tathayyur untuknya, berpraktik perdukunan atau minta bantuan perdukunan, melakukan sihir atau memanfaatkan jasa mereka. Barang siapa mendatangi dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad (al-Qur’an dan al-Hadits).” (HR. al-Bazzar dengan sanad jayyid).

Apalagi kalau si dukun minta syarat-syarat tertentu. Minta agar pasiennya menyembelih kambing, ayam, atau binatang lainnya. Berarti orang tersebut telah menyembelih binatang untuk selain Allah. la menyembelih untuk jin atau syetan yang membantu dukun tersebut, agar si dukun dapat informasi yang tepat dan akurat.

Rasulullah telah bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) dan ditujukan kepada selain Allah.” (HR. Muslim). Kalaupun kita tidak menyembelih secara langsung, tapi hanya memberikan uang mentahannya, maka kita tetap mendapatkan hukuman yang sama, yaitu dilaknat Allah.

Dan juga terlepas dari berhasil dan tidaknya praktik perdukunan tersebut, kita tetap berdosa kalau telah mendatangi praktiknya atau minta bantuannya. Meskipun pada kenyataannya, sakit yang kita derita belum sembuh, barang kita yang hilang belum ditemukan. Dalam kondisi seperti itu, kerugian kita berlipat ganda. Yaitu kita telah berdosa karena telah memanfaatkan jasa perdukunan, dan hukumannya di sisi Allah sangat pedih jika tidak segera bertaubat. Lalu ditambah kerugian materi atau barang kita yang belum ditemukan. Derita di atas derita.

Kehilangan barang adalah bagian dari mushibah. Sikap seorang muslim yang benar adalah bersabar dan tawakkal. Kalau ingin menelusuri atau mencarinya, bisa lapor ke polisi atau pasang informasi kehilangan di media massa, cetak maupun elektronik. Berdo’alah kepada Allah. Jika barang tersebut masih menjadi milik kita, Allah akan mengembalikannya. Dan jika tidak, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, insya Allah.

Do’a yang telah diajarkan Rasulullah adalah, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha”, (Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada- Nyalah kami akan kembali. Ya Allah limpahkanlah pahala atas mushibah yang menimpaku, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya). Wallahu A’lam..

Gangguan Jiwa, Bisakah Diruqyah?

Assalamu ‘alaikum warahamtullah wabarakatuh

  1. Apakah penyakit gangguan mental Skizofrenia. bisa dikatakan juga gangguan jin? Dan apakah gangguan mental Skizofrenia bisa disembuhkan dengan ruqyah syar’iyyah, selama penderita tersebut juga minum obat dari psikiater? 
  1. Apakah setiap penyakit jiwa yang lain seperti stres dan depresi juga merupakan gangguan jin?
  1. Apakah ada perbedaan antara penyakit gangguan mental medis dengan penyakit gangguan mental karena jin?
  1. Apakah Majalah Ghoib menganjurkan pasien-pasien ruqyah yang sedang rawat terapi jalan dipaksa untuk berhenti merokok, dan kepada yang wanitanya yang belum berjilbab tetapi dalam masa pengobatan ruqyah, sehari-harinya mereka harus memakai jilbab?
  1. Kita tahu pengobatan yang menggunakan me- dia seperti ayam, kambing adalah sesat, bagaimana dengan pengobatan alternatif yang lain?
  1. Usaha dan ikhtiar apa saja yang harus saya lakukan selain ruqyah dan minum obat darı psikiater, supaya saya bisa sembuh total dari penyakit Skizofrenia?

Muhammad Umar Chatab Ciputat

 

Saudara Umar Chatab dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Berdasarkan pengamatan kami selama meruqyah, dan hasil diskusi kami dengan tim medis yang bekerja sama dengan Majalah Ghoib yang telah melakukan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa gejala gangguan jiwa itu digolongkan menjadi tiga golongan. Pertama, gangguan jiwa murni. Kedua, gangguan jin murni. Ketiga, campuran antara keduanya. Kita dapat mengetahui dan membedakan antara ketiganya dari latar belakang pasien.

Pada gangguan jiwa murni, kondisi awal pasien normal atau biasa-biasa saja. Kemudian mengalami peristiwa traumatik (kehilangan anggota keluarga tercinta, di PHK, mengalami kecelakaan serius). Akhirnya ia menjadi lebih pendiam, tidak mau bersosialisasi dan suasana hatinya menjadi lebih labil, mudah marah, mudah tersinggung, mudah menangis. Gangguan jiwa murni ini dapat berupa depresi atau skizofrenia dan lainnya.

Sedangkan pada gangguan jiwa karena jin atau sihir murni, pasien mempunyai kondisi fisik dan mental yang biasa saja, lalu secara tiba-tiba berubah kondisinya tanpa ada peristiwa tertentu yang mengawalinya. Tiba-tiba pasien sering terbangun di tengah malam, ketakutan, menjerit- jerit, berbicara sendiri dan lain-lain.

Adapun pada gangguan jiwa campuran, biasanya pasien mengalami gangguan jiwa yang didomplengi oleh jin. Ada peristiwa yang menyebabkan ia mengalami gangguan jiwa, yang membuatnya suka murung, mengisolasi diri dan menyebabkan emosinya tidak stabil. Dalam kondisi itulah jin masuk dan mengganggu. Kemudian gangguan kejiwaannya memburuk dengan cepat. Ditandai dengan rasa curiga berlebihan, halusinasi. Bahkan sampai pada tahap melukal diri sendiri atau orang lain.

Karena gejala dari ketiga gangguan ini mirip satu sama lain, maka diperlukan pengamatan yang seksama terhadap latar belakang pasien beserta peristiwa yang mungkin menyebabkannya terganggu dan kronologinya. Misalnya apakah gangguan itu memburuk dengan cepat? Hal ini nantinya akan berguna untuk menentukan apakah pasien cukup menjalani ruqyah saja? Dan ataukah juga membutuhkan dokter dalam hal ini obat psikiater.

Bila dilakukan ruqyah lalu pasien bereaksi (mual, pusing, muntah dan lainnya), maka dianjurkan untuk melakukan terapi ruqyah saja. Tetapi bila pasien cenderung masih belum bisa mengontrol dirinya untuk tidak melukal diri atau orang lain, maka pasien dianjurkan untuk tetap menjalani terapi obat selain terapi ruqyah syar’iyyah.

Dan sebagai orang yang beriman kita harus yakın, bahwa tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan termasuk penyakit skizofrenia, stres dan depresi. Nabi bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Allah menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari).

Yang harus dipahami dalam menghadapi gangguan kewaan adalah kesungguhan pasien untuk mencari kesembuhan serta perhatian dan dorongan dari orang-orang terdekatnya. Jangan sampai kita terburu- buru atau tergesa-gesa. Saat yang kita harapkan belum terwujud lalu kita putus asa.

Saudara Umar Chatab dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah Dalam pengobatan ruqyah yang dilakukan Majalah Ghoib tidak ada yang sifatnya pemaksaan, termasuk dipaksa berhenti merokok atau dipaksa memakai jilbab. Tetapi ketika sedang dilakukan ruqyah memang itu termasuk yang harus dilakukan pasien, tidak merokok dan menutup aurat. Mengenakan mukena bagi wanita sehingga sesuai dengan sebutannya “ruqyah syar’iyyah” (ruqyah sesuai dengan syari’at islam). Ketika pasien berada di luar atau tidak sedang terapi, maka tetap kami anjurkan untuk melaksanakan ajaran Islam, termasuk meninggalkan rokok atau memakai jilbab atau ibadah lainnya, Sesama muslim berkewajiban mengingatkan dan mengajaknya untuk meninggalkan hal yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Untuk masalah pengobatan alternatif kita harus hati-hati. Kalau yang dimaksud adalah pengobatan alternatif dengan membaca ayat dan do’a, tidak dicampur dengan mantra kesyirikan atau yang tidak jelas, maka itu dibolehkan.

Kita tidak bisa menilai legalitas syar’ıyyah pengobatan alternatif yang ada, sebelum kita mengetahui praktik kinerjanya. Karena dewasa ini sangat banyak pengobatan alternatif yang bermunculan. Hanya saja ada garis besar dalam praktik pengobatan non medis yang harus kita pahami. Agar kita bisa memilah dan memilih praktik pengobatan alternatif yang ada. Anda bisa menyimak masalah ini di Majalah Gholb edisi khusus “Dukun-dukun bertaubat”, atau edisi 47 tentang ruqyah syar’iyyah versus ruqyah gadungan.”

Adapun usaha yang bisa Anda lakukan selain ruqyah dan minum obat, adalah dengan memperbaiki aktifitas ibadah dan memupuk ketakwaan kepada Allah. Laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah, lalu tambahlah dengan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluannya)” (QS. at-Thalaq: 2-3)

Abu Khuzaimah berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapat Anda tentang ruqyah untuk mengobati suatu penyakit, obat yang kita konsumsi untuk mengobati penyakit, dan ketakwaan yang kita miliki. Apakah menolak takdir Allah? Rasulullah menjawab, Itu semua juga bagian dari takdir Allah’.” (HR. Tirmidzi).

Bersabarlah dan tabah dalam menghadapi musibah, apa pun bentuknya. Termasuk dalam menghadapi penyakit atau gangguan yang Anda derita sekarang. Dengan kesabaran yang ada, semoga kesembuhan segera datang. Allah akan mengampuni dosa-dosa orang yang bersabar dan akan melipatkan gandakan pahalanya, serta akan mengangkat derajatnya di surga. Semoga kita termasuk mereka, amin.

Wallahu a’lam bisshawab.
Oleh : Ustadz Akhmad Sadzali, Lc

Bentengi Rumah dengan Dzikir

Mengajar di berbagai kampus ternama, adalah aktifitas Ustadzah yang mendapatkan gelar Profesor pada bidang Hukum Islam dan Perbandingan di tahun 1997 ini. Di tengah kesibukannya tersebut, ia masih menyempatkan diri untuk hadir pada Konferensi Internasional Wanita Islam di Mesir pada pertengahan Maret 2006. Majalah Ghoib mewancarainya, untuk mengkaji lebih dalam mengenai upaya syetan dalam menghancurkan keharmonisan rumah tangga. Berikut petikannya.

 

Apa penyebab terjadinya perceraian pada pasangan suami istri?

Menurut saya sangat banyak penyebabnya. Misalnya karena ketidakcocokan. Hal ini terjadi karena masing-masing pihak tidak saling pengertian, atau tidak mau saling mengalah, ketika terjadi masalah. Muara semua itu adalah karena pengaruh syetan tentunya. Sifat tidak mau mengalah, itukan sifat iblis yang sombong. Kalau masing-masing pihak hanya menuruti hawa nafsunya saja, maka kita telah terjebak pada pengaruh syetan yang memang ingin menghancurkan keharmonisan sebuah keluarga.

 

Jadi campur tangan syetan pada pasangan yang bercerai sangatlah dominan?

Tentu saja. Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 102. “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syetan- syetan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengerjakan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil (Babilonia) yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu, apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka tidak akan dapat memberi mudharat (keburukan) dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah…”.

Ayat ini berbicara tentang orang Yahudi yang mengikuti apa yang dibaca oleh syetan-syetan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal mereka tahu bahwa yang demikian adalah salah. Mereka menuduh bahwa Nabi Sulaiman yang menghimpun kitab sihir dan menyimpan di bawah tahtanya, yang kemudian dikeluarkan dan disiarkan. Tuduhan seperti itu adalah sebuah pemalsuan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu. Artinya sebuah perceraian yang terjadi jelas-jelas karena campur tangan syetan.

 

Apa penjelasan dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim tentang perbuatan yang terhebat yang dilakukan oleh syetan, adalah berhasil menggangu keharmonisan rumah tangga?

Hadits itukan berbunyi, “Sesungguhnya Iblis membangun singgahsananya di atas laut. Kemudian ia mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia). Maka syetan yang paling dekat dengan Iblis adalah yang yang paling besar menciptakan fitnah (di antara manusia). Salah seorang syetan datang. “Saya telah melakukan ini dan itu,” katanya. “Kamu belum mengerjakan apa-apa.” jawab Iblis. Kemudian ada lagi yang datang. “Saya tidak meninggalkannya hingga la menceraikan istrinya.” Kemudian Iblis menyuruhnya mendekat seraya berkata, “Kamulah yang terhebat.”

Namanya syetan itukan selalu mencari gara- gara. Syetan tidak ingin, manusia hidup dalam suasana yang damai. Syetan ingin kita selalu bermasalah. Kenapa mencerai-beraikan sebuah ikatan keluarga dianggap pekerjaan terhebat, karena sebuah keluarga yang berantakan merupakan awal dari hancurnya masyarakat bahkan merusak peradaban manusia.

Pekerjaan syetan sangatlah rapi dan terencana. Syetan selalu mengawali dari yang terkecil dalam menggoda manusia. Ketika terjadi percekcokan antara suami istri. Syetan menghembuskan bisikan “Mengapa hanya kamu omelin saja.” Setelah nanti berhasil di omelin, Syetan berkata lagi, “Kenapa tidak kamu tempeleng atau bunuh saja istrimu.” Akhirnya jadi bertambah besar masalahnya. Lalu Iblis berkata sambil tertawa, “Wah banyak teman saya nih di neraka nanti.

 

Mengapa syetan berusaha menghancurkan sebuah keharmonisan rumah tangga?

Sebenarnya bukan hanya rumah tangga saja, tetapi pada semua sisi. Tujuannya adalah untuk menghancurkan manusia dan mencari teman yang sebanyak-banyaknya di neraka.

 

Gangguan apa lagi, selain lewat perceraian yang dilakukan syetan untuk menghancurkan keharmonisan rumah tangga?

Setiap orangtua yang mempunyai anak, disunnahkan untuk berdoa agar keturunannya dijauhkan dari syetan. Bahkan anak yang baru lahir diadzankan. Hal itu dimaksudkan, agar ucapan yang pertama kali didengarnya adalah Allah. Bukan bisikan syetan. Makanya sejak kecil, anak kita harus dibiasakan mendengarkan al-Qur’an, jangan lagu-lagu cinta dan sebagainya. Kalau tidak seperti ini, keharmonisan rumah tangga bisa terganggu karena disebabkan anak-anak yang durhaka kepada orangtuanya, atau kasus anak. anak yang terlibat penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.

 

Keluarga yang seperti apa, yang mudah diganggu oleh syetan?

Tentu adalah keluarga yang di dalamnya tidak pernah melaksanakan shalat. Karena shalat itu kan mencegah perbuatan keji dan munkar. Perbuatan keji dan munkar itu tentunya di bawah pengaruh syetan. Orang yang melakukan sebuah kemaksiatan, pasti dipengaruhi syetan. Makanya kita memohon untuk senantiasa diberikan jalan yang benar atau jalan yang lurus oleh Allah Serta memohon perlindungan-Nya dari gangguan syetan yang terkutuk.

 

Sebuah keluarga bisa dikatakan sudah mapan dengan rumah dan mobil yang mewah, tetapi di dalamya tidak ada ketenangan. Apa yang menjadi penyebab terjadinya hal ini?

Ketidaktenangan ini sering disebabkan karena mereka tidak berdzikir kepada Allah. Padahal dzikir adalah kunci untuk menentramkan hati Dzikir yang dimaksud, bisa membaca al-Qur’an, shalat berjamaah dan lain sebagainya. Tipe keluarga seperti ini sangatlah banyak dijumpai di sekitar kita. Mereka sudah punya segalanya, mungkin hanya matahari dan bulan saja yang mereka belum punya, tetapi ketentraman tak kunjung datang. Mereka ini kurang qona’ah (merasa cukup), bahkan tidak mau menshadaqahkan sebagian hartanya untuk orang-orang yang kurang mampu.

 

Apa resepnya agar sebuah keluarga muslim tetap harmonis?

Yang pertama, kita harus kembali kepada ajaran agama (Islam). Yang paling dasar itu, jangan meninggalkan shalat. Kalau kita mengerjakan shalat, pasti selalu ingat Allah. Kalau kita selalu ingat Allah, jika ada yang menggoda kita maka kita memiliki benteng diri. Dan implementasi dari shalat itu, kita harus senantiasa melaksanakan semua perintah Allah dalam semua aktivitas kehidupan. Lebih dari itu, bahwa sebaik-baiknya bekal dalam mengarungi hidup yang penuh ujian ini adalah taqwa. Kemudian dalam pergaulan suami istri di rumah, jangan mengikuti hawa nafsu yang selalu dihembuskan syetan. Bersikaplah jujur serta saling memaafkan. Liputi rumah dengan suasana keterbukaan dan saling pengertian agar menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Oleh : Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA.
Guru Besar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Shalat Istikharah, Muncul Nama di Sajadah

Saya pernah shalat istikharah dan tahajjud. setelah puasa 7 Senin, 7 Kamis, 7 hari kelahiran. Di akhir rekaat saya dapati di sajadah tulisan sebuah nama, waktu saya sujud tulisan itu hilang, sudah lima tahun belum juga saya temukan nama itu. Bagaimana ini ustadz?

Dedeh, Mattel, Cibitung Jawa Barat
Bismillah wal Hamdulillah, shalat istikharah dan shalat tahajjud adalah bagian dari shalat yang telah diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Jabir bin Abdullah berkata, “Rasulullah telah mengajari kami shalat Istikharah dalam setiap menghadapi perkara atau urusan, sebagaimana beliau mengajari kami membaca surat-surat al-Qur’an. Beliau bersabda, ‘Apabila kalian dibingungkan dalam suatu masalah, maka shalatlah dua rakaat yang bukan shalat fardhu…” (HR. Bukhari, no. 1096).
Sedangkan shalat tahajjud yang sering disebut dengan shalat malam, adalah shalat sunnah yang diserukan langsung oleh Allah melalui ayat- Nya, “Dan pada sebagian malam hari, shalatlah tahajjud sebagai suatu tambahan ibadah bagimu (sunnah). Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 79).
Karena shalat Istikharah dan shalat tahajjud merupakan shalat sunah yang diperintahkan, maka dalam pelaksanaannya kita harus mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Rasulullah bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya shalat…” (HR. Bukhari, no. 595).
Tidak ada ritual khusus yang diajarkan oleh Rasulullah saat kita hendak melaksanakan shalat Istikharah atau Tahajjud. Pada umumnya, cara pelaksanaannya sama dengan shalat sunnah lainnya. Tidak didahului oleh puasa 7 Senin, 7 Kamis dan 7 hari kelahiran, sebagaimana yang Anda lakukan.
Tulisan nama yang Anda jumpai di sajadah pada rakaat terakhir adalah sensasi keghaiban yang dilakukan syetan. Agar Anda yakin bahwa apa yang dilakukan itu benar, padahal menyimpang dari sunnah. Dan sensasi keghaiban itulah yang menyibukkan pikiran Anda sampai sekarang. Anda mencari-cari nama itu, karena Anda yakin bahwa itu adalah petunjuk dari Allah. Nama itulah yang akan menjadi jodoh Anda. Padahal belum tentu itu petunjuk, tapi godaan syetan.
Seandainya nama yang muncul itu ‘Rijal’, misalnya. Di Indonesia ini ada berapa ribu banyaknya nama Rijal. Ada yang masih bayi atau balita, ada yang masih duduk di bangku TK, SD, SMP atau SMA. Ada yang sudah berkeluarga atau beristri, bahkan sudah beranak pinak atau bercucu. Bahkan ada yang gila. Rijal mana yang dimaksud oleh ‘petunjuk’ itu?
Kalau di wilayah rumah Anda ada satu Rijal dan dia masih TK, apakah Anda akan menunggunya? Karena Anda berpegang teguh pada ‘petunjuk tadi. Atau kalau dia sudah menjadi suami orang, apakah Anda akan merebutnya karena merasa dia itu hak Anda. Atau kalau ada pemuda yang bernama Rijal tapi ia tidak suka pada Anda, apakah Anda akan putus asa dan bunuh diri atas penolakannya?
Sampai sekarang Anda telah merasakan dampak buruk dari ‘petunjuk yang menyesatkan itu. Anda terus kepikiran dengan nama yang telah muncul di sajadah. Kalau Anda yakin akan kebenaran ‘petunjuk itu, mungkin Anda akan kehilangan kesempatan emas. Kalau sekarang ada pemuda yang shalih, datang meminang Anda. Apakah Anda akan menolaknya karena namanya tidak sesuai dengan nama tersebut?
Shalat Istikharah dianjurkan oleh Rasulullah bukan untuk meminta jodoh atau mengetahui nama jodoh yang akan diberikan oleh Allah Istikharah itu mencari yang terbaik. Tidak hanya urusan jodoh. Setiap kita menghadapi suatu perkara, menentukan pilihan, yang membuat kita ragu atau bimbang, maka kita dianjurkan untuk shalat dua rakaat lalu berdo’a kepada Allah, memohon agar diberikan yang terbaik dari pilihan yang ada. Sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits di atas, yang berasal dari Jabir bin Abdullah.
Dalam kitab Fiqh dijelaskan bahwa, dianjurkan bagi orang yang shalat Istikharah untuk membaca surat al-Kafirun di rakaat pertama, dan membaca surat al-Ikhlas di rakaat kedua. Kalau sekali shalat, kok belum tampak hasilnya maka dianjurkan untuk mengulanginya sampai tujuh kali. Sebagaimana yang dipesankan Rasulullah kepada Anas bin Malik, “Wahai Anas, apabila kamu dihadapkan pada suatu perkara, maka beristikharahlah kamu kepada Tuhan-Mu sebanyak tujuh kali. Lalu rasakan mana yang mantap di hatimu, karena kebaikan itu ada padanya. Kalau kamu berhalangan untuk shalat, maka istikharahlah dengan berdo’a.” (HR. Ibnus Sunni). (Lihat kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu: 2/ 1065).
Kalau Anda menginginkan sesuatu, termasuk mengharapkan agar Allah segera mempertemukan Anda dengan jodoh yang telah Dia tentukan, maka bukan dengan shalat Istikharah, tapi dengan shalat Hajat. Dan kalau pada suatu saat, ada beberapa laki-laki yang baik, datang ke rumah untuk meminang Anda dalam waktu yang hampir bersamaan, maka Anda bisa melakukan shalat Istikharah untuk memohon kepada Allah agar dipilihkan yang terbaik di antara mereka.
Adapun shalat Hajat itu dilaksanakan sebanyak empat rakaat, atau dua rakaat setelah shalat Isya’. Dalam sebuah hadits marfu’ dijelaskan bahwa pada rakaat pertama dianjurkan untuk membaca ayat Kursi. Dan pada rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas). (Lihat kitab al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu: 2/1066).
Abdullah bin Abi Aufa berkata, “Rasulullah telah bersabda, ‘Siapa saja yang mempunya hajat (keperluan) kepada Allah, atau hajat kepada seseorang dari bani Adam, maka hendaklah la berwudhu dan menyempurnakan wudhunya. Kemudian shalat dua rakaat. Setelah itu memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah. Selanjutnya berdo’a kepada Allah.”
Adapun lafazh do’anya, “La ilaha illallahul halimul karim, subhanallahil rabbil ‘arsyil ‘azhim, alhamdulillahi rabbil ‘alamin. As-aluka mujibati rahmatika, wa ‘aza-ima maghfiratika, wal ghanimata min kulli birrin, was salamata min kulli itsmin Latada li dzanban illa ghafartahu, wa la hamman illa farrajtahu, wa la hajatan hiya laka ridhan illa qadhaitaha ya arhamar rahimin.”
Yang artinya, “Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Santun dan Mulia, Maha Suci Allah Penguasa ‘arsy yang agung. Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta. Aku memohon kepada- Mu segala hal yang mendatangkan rahmat-Mu, dan yang benar-benar mendatangkan ampunan- Mu, dan yang mengumpulkan segala jenis kebaikan, dan menghindarkan dari segala jenis dosa dan keburukan. Janganlah Engkau biarkan dosa (ku) kecuali Engkau telah mengampuninya. Dan jangan Engkau biarkan kesedihan (ku) kecuali Engkau telah menghilangkannya, dan jangan Engkau biarkan suatu hajat (keperluan) yang Engkau ridhai, kecuali Engkau mengabulkannya, wahai Dzat yang paling Penyayang.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Semoga segala keperluan (hajat) kita yang mengandung kebaikan dan diridahi oleh Allah segera dikabulkan-Nya, amin. Wallahu a’lam.
Oleh : Ustadz Hasan Bishri, Lc

Adakah Waktu Tertentu untuk Meruqyah?

Assalam ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebelumnya saya mohon maaf, mengganggu kesibukan bapak ustadz dalam menjalankan tugas sehari-hari. Begini pak ustadz, saya mempunyai beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di hati, yaitu:

  1. Saudara saya setahun belakangan ini terlihat suka diam, ngelamun dan menyendiri, bahkan sebulan terakhir suka ngomong sendiri. Apakah ini bagaian dari gangguan, bagaimana mengatasinya, bisakah dia sembuh total?
  1. Bagaimana kalau kita di masyarakat dianggap bisa meruqyah, dan ketika ada yang sedang kesurupan, kita yang diminta untuk meruqyahnya, padahal kita sedang bekerja melakukan aktifitas harian kita?
  1. Apakah kita boleh mempercayai perkataan jin yang bisa diajak dialog, terutama karena sebagian pasien dan keluarga ada keinginan untuk mengetahui siapa yang melakukannya?
  1. Apakah melakukan ruqyah itu pada waktu- waktu tertentu, atau boleh kapan saja. Dan kapan saja waktu-waktu yang mustajab untuk memanjatkan do’a?

Assalam ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Abdillah, Jakarta

 

Wa’alaikum salam warahmatullah wabarakatuh 

Saudara Abdillah dan seluruh pembaca, semoga selalu dalam lindungan Allah. Syekh Wahid Abdus Salam Bali menyebutkan bahwa salah satu sebab masuknya jin terhadap manusia adalah karena lalai, tidak berdzikir kepada Allah. Allah berfirman:” Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada Allah, maka Kami akan jadikan baginya syetan (yang menyesatkan). Dan syetan itulah yang akan menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS.az Zukhruf: 36).

Orang yang berdiam diri, melamun itu biasanya lalai tidak berdzikir kepada Allah dan itu menjadi santapan empuk syetan, dan memberi peluang untuk merasukinya. Jika kondisi itu berlangsung terus menerus dan menjadi kebiasaan, maka dia akan dikuasai syetan dan akan semakin parah kondisinya. Dari yang tadinya jarang melamun, menjadi sering. Lalu ia merasa mendapatkan bisikan, seperti ada yang mengajak berbicara, akhirnya ia ngomong sendiri kemudian senyum-senyum sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, dibutuhkan kesabaran dan kesungguhan dari orang dekatnya; ayah, ibu saudara atau teman dekatnya. Mereka bisa membantu untuk diajak komunikasi sehingga mau diobati. Jangan sebaliknya, malah dijauhi atau dikucilkan. Mengajaknya untuk shalat, mengaji atau menyibukkannya dengan aktifitas yang bermanfaat. 

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan obat itu tidak datang begitu saja, kita harus berusaha mencarinya. Berkonsultasi ke psikiater, psikolog atau dokter jiwa yang bisa diminta solusinya. Termasuk dengan melakukan terapi ruqyah syar’iyyah, memohon kepada Allah agar kondisinya segera dipulihkan kembali. Nabi bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari).

Saudara Abdillah dan seluruh pembaca, semoga selalu dalam lindungan Allah. Bagi saudaraku yang sedang melakukan terapi ruqyah sebaiknya tidak terjebak pada kemauan pasien atau keluarganya, yang ingin tahu siapa pelakunya melalui ocehan jin itu. Bahkan luruskanlah pemahaman yang salah itu. Katakanlah bahwa yang penting si pasien sembuh dan bebas dari gangguan. Jangan sampai menjadi korban fitnah jin yang merasuki si pasien. Jin itu biasanya berdusta. Dan jika ada orang yang berbuat zhalim, serahkan kepada Allah. Dia yang akan membalasnya. Dan hukuman Allah itu lebih pedih dari pada hukuman kita.

Saudara Abdillah dan seluruh pembaca, semoga selalu dalam lindungan Allah. Sudah semestinya setiap kita kaum muslimin mampu menghadapi gangguan, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain. Masalah besar yang dihadapi ummat islam sekarang ini adalah masalah kebodohan, tidak mau belajar meningkatkan keilmuannya, termasuk dalam hal menghadapi gangguan jin. Kalau saja mereka mau belajar, tentu akan bisa. Sehingga hidup kita tidak bergantung kepada orang lain.

Dan jika kita bisa dan ada kesempatan, maka sebaiknya kita membantunya dengan ilmu yang kita miliki. Nabi bersabda: “Barang siapa yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya (dengan ruqyah, pen.) hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim). Dan jika di antara kita banyak yang mampu untuk melakukan terapi ruqyah, maka pekerjaan tetap Anda tidak akan terganggu. Karena yang lainnya juga sudah siap membantu. Makanya belajarlah tentang ruqyah, insya Allah akan bermanfaat untuk pribadi atau orang lain.

Adapun waktu untuk melakukan ruqyah itu tidak ada waktu tertentu, kapan saja bisa dilakukannya. Kecuali ruqyah mandiri untuk penjagaan, ada do’a-do’a yang bacaannya di waktu tertentu, seperti do’a di pagi dan sore hari.

Dan doa’ mempunyai kedudukan yang sangat tinggi disisi Allah, do’a seorang muslim akan dikabulkan jika terdapat sebab- sebab terkabulnya do’a, dan tidak ada penghalangnya. Nabi bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdoa sedang ia tidak melakukan dosa dan tidak memutus tali persaudaraan, kecuali Allah berikan padanya satu dari tiga hal; disegerakan apa yang dimintanya, atau ditabung untuknya di akhirat. Atau Allah palingkan darinya keburukan yang akan menimpanya yang sekelas dengan yang diminta. Mereka berkata: “Bagaimana kalau kita perbanyak do’a, Nabi menjawab: Allah lebih banyak pemberiannya.” (HR. Ahamad dan Tirmidzi).

Di antara waktu-waktu yang mustajab: sepertiga akhir malam, antara adzan dan iqamah, setelah berwudhu, waktu sujud, setiap selesai shalat. Dan ada dua hal yang harus diperhatikan ketika kita memanjatkan doa kepada Allah. Pertama, berdo’alah kepada Allah dan kamu yakin Allah pasti mengabulkan doa kita. Kedua Tidak tergesa- gesa untuk segera dikabulkan. Jika kamu berdo’a kepada Allah dan Allah belum mengabulkannya, kemudian kamu putus asa, tidak berdoa lagi, itu namanya kamu tergesa- gesa.” Wallahu a’lam bis shawab..
Oleh : Ustadz Akhmad Sadzali, Lc

“Syetan Takut dengan Rumah yang Selalu Dibacakan Al-Qur’an”

Hujan deras disertai petir mengguyur kota Jakarta, saat Majalah Ghoib tiba di kantor wilayah PERSIS DKI Jakarta di bilangan Johar-Jakarta Pusat. Ustadz yang pernah nyantri selama 7 tahun di pondok pesantren PERSIS ini, nampak sedang berbincang dengan pengurus lainnya. Majalah Ghoib menemuinya untuk memperdalam kajian tentang rumah-rumah yang sering diganggu syetan. Di ruangannya yang tertata rapi, Majalah Ghoib berbincang dengannya. Berikut petikannya.

 

Bagaimana Pendapat Anda, kalau ada rumah yang dianggap angker oleh masyarakat luas?

Sebenarnya, kalau kita berbicara tentang angker atau tidak. Hakikatnya ada pada sikap atau anggapan orang-orang itu sendiri. Ada orang yang secara sengaja datang ke tempat-tempat sepi atau angker untuk menyendiri, seperti gunung dan hutan. Karena memiliki keyakinan bahwa tempat-tempat seperti itu tidak angker, maka mereka tidak takut. Jadi saya melihat, bahwa penyebab sebuah rumah itu dianggap angker dan dihuni jin karena anggapan dan perilaku manusia itu sendiri.

Jin itukan makhluk ghaib, yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Seperti yang tercantum dalam surat al-A’raf 27. Karena jin tidak dapat dilihat itulah, kadang-kadang manusia hanya menduga-duga saja. Jin itukan memang di mana-mana ada, mereka terus mencari cara untuk menyesatkan manusia, termasuk ada dalam diri kita.

 

Bagaimana kalau benar-benar terjadi, bahwa seseorang dapat melihat penampakan di dalam sebuah rumah atau diganggu dengan cara gorden dan sapu yang bergerak-gerak sendiri?

Saya pernah membaca sebuah ungkapan yang disampaikan oleh para ulama, bahwa jin adalah makhluk halus yang berbentuk abstrak. Mereka itu bisa berubah-ubah bentuk dalam bentuk yang bermacam-macam. Dan secara nyata daripadanya, mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh. Seperti membantu dalam atraksi kuda lumping, itukan perbuatan jin. Jadi kalau ada penjelmaan, seperti kuntilanak, genderuwo itu bisa-bisa saja. Dan itu adalah ulah jin yang telah menjelma atau menyamar menjadi bentuk lain dengan menggunakan sihirnya.

Saya pernah melakukan penilitian tentang penjelamaan jin. Bahwa jin itu melakukan penjelmaan, sesuai dengan anggapan atau prakiraan orang terhadap mereka. Misalnya, ada istilah hantu, ghost, dedemit, vampire, kuntilanak dan lain sebagainya. Jin akan menyesatkan manusia sesuai dengan asumsi mereka.

Kalau orang Indonesia percaya sama kuntilanak, maka jin akan berubah menjadi kuntilanak. Kalau di Barat, mereka percaya sama drakula, maka jin akan berubah seperti drakula juga. Jadi jin itu mengikuti apa yang dipercayai oleh masyarakat untuk menyesatkan mereka. Selanjutnya jin akan membentuk halusinasi kepada manusia, agar manusia semakin takut.

 

Apa yang menyebabkan sebuah rumah bisa disenangi dan dihuni jin atau syetan?

Rumah orang mukmin yang di dalamnya banyak dipakai berdzikir, maka malaikat rahmat akan senantiasa menyertainya. Dalam sebuah hadits lebih lanjut dijelaskan, bahwa malaikat rahmat tidak akan masuk ke rumah orang yang di dalamnya terdapat binatang anjing atau patung. Inilah tanda-tanda yang diberikan secara syari’at. Selanjutnya, saya melihat bahwa rumah yang dihuni syetan, karena orang-orang di dalamnya tidak memiliki keimanan yang kuat. Karena syetan itu, tidak punya daya dan upaya untuk mengganggu orang-orang beriman. Keimanan yang kuat itu tentunya diaplikasikan dengan menjalankan semua perintah Allah.

 

Adakah resep untuk menghilangkan rasa takut ketika kita masuk rumah yang dianggap angker?

Kalau kita masuk rumah yang diangap angker, jangan takut. Kadang-kadang kita memohon agar jangan diganggu oleh syetan. Misalnya kalau kita ke tempat yang gelap, kita bilang ‘numpang- numpang anak kambing mau lewat’. Seharusnya, pada saat kita masuk, kita mengucapkan salam disertai perasaan tidak takut sama jin. Kita bilang sama jin itu, “Kalian enak-enakan numpang di sini, padahal tidak pernah bayar listrik atau PBB, sana pergi jangan menggoda manusia”. Kalau kita berani, maka jin akan takut. Kalau kita takut, maka jin akan bertambah besar kepala. Untuk bisa seperti itu, maka kita harus terus meningkakan pemahaman aqidah kita.

 

Apakah ada tuntunan dalam Islam, tentang tatacara menempati rumah yang baru kita tempati?

Saya beristimbat (mengambil kesimpulan) dari sebuah hadits Nabi. Pada suatu ketika Rasulullah mengadakan sebuah perjalanan. Kemudian singgah di sebuah tempat lalu membuat kemah. Maka Rasulullah berlindung kepada Allah dari semua makhluk yang akan berbuat jahat. Kalau kita akan menempati sebuah rumah baru maka kita disunnahkan meminta perlindungan kepada Allah dengan do’a-do’a yang telah diajarkan oleh Nabi.

 

Bagaimana tuntunan Islam, kalau kita mau membangun sebuah rumah baru?

Untuk masalah ini, kiat-kiatnya memang tidak terperinci secara detail. Hal yang harus kita perhatikan saat akan membangun rumah baru adalah masalah kesehatan. Termasuk gangguan syetan juga adalah penyakit. Sebuah rumah harus ada ventilasinya. WC sebaiknya jangan menghadap ke kiblat. Sebaiknya juga, rumah yang kita bangun tidak dibangun di atas kuburan. Bukan karena kuburan itu angker. Tetapi tuntunan Islam, menganjarkan agar mengangkat dulu kuburannya, baru bisa dibangun.

Lucunya, banyak kaum muslimin yang ketika membangun rumah, memajang kepala kerbau di atas atap. Inikan perbuatan syirik. Coba pikir pakai logika, kalau jin itu makan daging, tentunya ternak penduduk sudah habis digerogoti. Dengan ritual seperti itu, justru akan memperkuat eksistensi jin. Dan mereka akan semakin sombong.

 

Apa bentuk gangguan syetan kepada rumah yang tidak pernah dipakai untuk berdzikir?

Gangguan itukan tentunya ditujukan kepada penghuninya. Bentuknya beragam misalnya tidak akan mendapatkan keberkahan dalam hidup Apalagi jika rumah itu dibangun dari hasil korupsi. Yang berikutnya, syetan akan mendorong penghuninya untuk malas dalam beribadah. Kepada mereka dibukakan pintu kemaksiatan dan ditutup pintu kebaikan. Karena malas itulah, maka penghuninya akan terus digoda, termasuk kemungkinan gangguan-gangguan penampakan.

 

Pesan Anda Untuk kaum muslimin?

Saya mengharapkan, kepada kaum muslimin untuk senantiasa membaca al-Qur’an. Rumahnya dipakai untuk kajian keislaman. Sebab rumah yang senantiasa ada kajian keislamannya, maka akan muncul suasana ketenangan dan kebersihan batin. Selanjutnya kasih sayang Allah akan selalu bersama kita.
Oleh : KH. Taufiq Rahman Azhar, S.AG.
Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Organisasi
Pimpinan Pusat Persis

Dosa Syirik Bisa Diampuni?

Ustadz, saya pernah membaca penjelasan di Majalah Ghoib bahwa orang yang berbuat syirik apabila mau bertaubat, Allah akan mengampuninya. Bukankah itu bertentangan dengan surat an-Nisa’ ayat 48? Tolong dijelaskan, terima kasih.

Hamba Allah, Jawa Timur.

Bismillah wal Hamdulillah, Arti dari surat an-Nisa’ ayat 48 lengkapnya adalah, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisa’: 48).

Ada yang salah paham terhadap ayat tersebut, sehingga ia meyakini bahwa seseorang yang telah berbuat syirik tidak akan diampuni oleh Allah , walaupun ia sadar dan bertaubat kepada Allah dengan benar semasa hidupnya. Padahal yang dimaksud oleh ayat itu adalah, “Apabila seseorang mati dengan membawa dosa syirik, maka Allah tidak akan mengampuninya. Dan Allah akan mengampuni dosa lainnya, jika Allah menghendaki.”

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat hamba- Nya selagi nafasnya belum sampai tenggorokannya.” (HR. Tirmidzi). Dalam do’anya Rasulullah berkata, “Ya Allah, Sesungguhnya kami berlindung kepada- Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari (dosa) syirik yang tidak kami ketahui.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

Jadi apapun dosa kita-termasuk dosa syirik-, kalau kita bertaubat dengan sungguh-sungguh selagi masih hidup, maka Allah akan mengampuninya. Sebagaimana Allah telah mengampuni para shahabat Rasulullah yang telah melakukan kesyirikan sebelum mereka masuk Islam. Wallahu Alam.
Oleh : Ustadz Hasan Bishri, Lc
HUBUNGI ADMIN