MEMILIH PENGOBATAN YANG SESUAI SYARI’AT

Assalamualaykum

Ustadz, saya ingin tanya seputar praktik pengobatan yang semakin marak. Bagaimana cara membedakan praktik pengobatan yang menyimpang dengan yang sesuai syari’at. Atau pengobat yang berkedok kyai atau ustadz, padahal ia seorang dukun terlaknat. Bagaimana cara membedakannya ustadz? Terima kasih.

Muslim, Mahasiswa di Malang Jawa Timur

Wa’alaykumsalam

Bismillah wal Hamdulillah, memang dewasa ini banyak sekali praktik pengobatan yang ditawarkan ke masyarakat luas, selain pengobatan medis yang negeri maupun swasta. Mereka menamakan diri sebagai pengobatan alternatif. Dari pengobatan alternatif yang ada. Ada yang berbau mistik dan ada juga yang tidak mistik. Ada yang bernuansa intrik dan rekayasa. Ada juga yang berbekal dengan keterampilan dan pengetahuan.

Yang mistik melibatkan jin dan syetan dalam praktiknya. Islam telah melarang umatnya untuk berobat kepada orang yang berkolaborasi dengan jin atau syetan. (Lihat QS. al-Jin: 6). Kedatangan kita ke praktik itu berarti mendukung dan melestarikan praktik menyimpang, dan Islam melarang hal itu. (QS. al-Maidah: 2).

Sedangkan jika kita mendatangi praktik pengobatan yang berunsur intrik dan rekayasa, berarti kita membuka diri untuk dijadikan obyek permainan dan penipuan. Sedangkan tempat praktik yang berbekal pengetahuan dan teknologi, maka kita diperbolehkan untuk memanfaatkannya, selama tidak ada unsur yang haram dalam persyaratan yang diminta atau dalam teknik praktik pengobatannya.

Mungkin karena persaingan yang ketat, atau memanfaatkan kebodohan masyarakat, atau karena faktor ekonomi dan desakan kebutuhan hidup. Akhirnya banyak orang yang membuka praktik pengobatan yang menyimpang dari syari’at Islam, dan dikemas dengan baju serta atribut Islam. Agar masyarakat muslim Indonesia yang mayoritas ini merasa nyaman dan aman saat memakai jasa mereka.. Wallahu A’lam.
Oleh Ustadz Hasan Bishri, Lc

Orang Tua Terpikat Dukun Berbaju Kyai

Assalamualaikum

Apa yang harus kita lakukan, apabila kedua orangtua kita suka hal yang mistik. Datang ke seseorang yang dianggap Kyai, tapi kyai itu memberikan rajah, jimat dan air kesembuhan. Saya pernah diajak ke sana, tapi saya menolok. Ibu sering marah kalau diingatkan bahwa memakai jimat itu syirik dan dilarang Islam. Bahkan saya dianggap sebagai anak bandel dan tidak menurut orangtua. Saya takut ‘disumpahin’ Ibu. Bagaimana cara saya untuk mengingatkannya ustadz?

Yuni R, Malang Jawa Timur

Bismillah wal Hamdulillah, Kami sangat salut atas semangat dakwah Yuni dan sifat kritis terhadap adanya penyimpangan yang ada di sekitar. Yang benar memang harus dikatakan benar, dan yang salah harus dinyatakan salah, agar masing-masing tampak jelas dan tidak membingungkan orang lain. Termasuk tindakan kedua orangtua kita sendiri. Walaupun begitu kita harus mengambil langkah yang tepat dan bijak, agar kebenaran yang kita sampaikan bisa diterima oleh obyek yang kita tuju. Lalu penyimpangan yang ada bisa terkikis atau hilang.

Kyai adalah sebutan terhadap seseorang yang dipandang dan diakui sebagai ulama’ Islam, begitulah Prof. Dr. J.S Badudu mendefinisikannya dalam kamus Bahasa Indonesia. Namun dalam kehidupan bermasyarakat, sebutan kyai penggunaannya telah melebar dan meluas. Tidak hanya diberikan kepada orang yang mumpuni dalam ilmu agama, tapi juga disandangkan kepada yang lainnya.

Di Jawa Tengah ada seekor kerbau yang dijuluki kyai Slamet. Dan sering kali kita jumpai dalam masyarakat kita, apabila ada orang yang tingkah lakunya bak ‘preman’, lalu prilakunya berubah dan rajin ibadah, teman-temannya pun memanggilnya kyai. Begitu juga ketika ada orang yang berjubah, bersorban atau berpeci putih, orang sekitarnya pun terkadang memanggilnya kyai, walaupun pengetahuan agamanya minim. Karena penggunaan kata kyai yang meluas itulah akhirnya sebutan kyai menjadi bias, bahkan sering disalah gunakan dan dijadikan obyek canda, dan ada juga yang memanfaatkan sebagai kedok bisnis.

Tapi yang jelas, kita sebagai umat Rasulullah telah diwarisi dua parameter, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Siapa pun orangnya, santri atau kyai, murid atau ustadz, masyarakat awam atau terpelajar, tingkah lakunya harus ditimbang dengan keduanya. Kalau apa yang dia katakan atau yang dia lakukan ternyata menyimpang dari dua parameter tersebut, maka kita tidak boleh mengikutinya. Mereka juga manusia biasa, bukan nabi atau rasul yang ma’shum (terjaga dari dosa). Kemungkinan salah dalam tindakan atau perkataan pasti ada.

Yang benar-benar kyai atau ulama’ saja terkadang bisa salah, apalagi kalau ternyata sebutan kyai yang disandangnya ternyata hanya kamuflase atau kedok saja. Dukun berbaju kyai, atau peramal bergaya ulama’. Sosok seperti itulah yang harus kita waspadai, sebagaimana yang dipesankan KH. Yusuf Hasyim, anak KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) kepada kami. Dalam masalah penggunaan rajah atau jimat.

Rasulullah telah tegas melarang umatnya untuk memakainya. “Barangsiapa yang memakai jimat, maka ia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad dan Thabrani). Jadi penolakan Anda sudah benar, hanya saja cara penolakannya itu yang harus bijak dan tidak kasar. Kalau Anda ingin memberi penjelasan tentang dilarangnya penggunaan jimat, Anda bisa minta bantuan orang ketiga. Seorang kyai atau ulama’ yang nasihatnya didengar oleh orangtua. Karena terkadang orangtua mengedepankan egonya, saat mendengar nasihat dari anaknya sendiri. Sehingga ia gengsi menerima nasihat meskipun isinya benar.

Dalam masalah yang berkaitan dengan sesuatu yang bisa merusak tauhid, kita harus tegas dalam mengambil sikap, namun tetap santun dan elegan. Sebagaimana yang Allah  pesankan, “Dan jika keduanya (orangtua) memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Dan hanya kepada-Ku lah kembalimu, lalu Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15). Rasulullah bersabda, “Tidak ada ketaatan bagi makhluq bila (dalam perintahnya) ada unsur kemaksiatan terhadap Sang Khaliq.” (HR. Ahmad, Thabrani)

Cintai, sayangi dan berbaktilah pada kedua orangtua. Berikan pencerahan dengan penuh hormat dan kecintaan. Iringilah dakwah Anda dengan do’a, sebagaimana yang telah dilakukan oleh seorang shahabat yang bernama Abu Hurairah. Dengan pendekatan lembut dan cinta serta do’anya dan do’a Rasulullah akhirnya sang ibu tercinta sadar dan masuk Islam seperti yang diharapkannya. Semoga Allah segera membuka pintu hati orangtua Anda tercinta untuk menerima kebenaran yang ada.

 

Oleh Ustadz Hasan Bishri, Lc.

Suka Mimpi Buruk

 Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Yang terhormat ustadz pengasuh konsultasi, Saya seorang siswi SMK yang mempunyai beberapa masalah yang ganjil. Sebelum saya tidur, saya selalu membaca surat pendek seperti al-F alaq don an-Nas. Ketika saya sedang tidur, saya bermimpi buruk mengenai syetan. Saya merasa ada sesuatu yang mau masuk ke dalam tubuh saya, tetapi tubuh saya terus menolak. Pada saatseperti itu saya membaca asmaul husna dan ayat-ayat pendek di atas. Tubuh saya terasa sangat panas sehingga syetan itu tidak bisa masuk.

Selain itu sebagai orang yang normal, saya mempunyai rasa suka terhadap lawan jenis. Saya menyukainya karena dia menghormati wanita, ahlaknya baik, pendiam dan yang jelas dia juga rajin shalat. Aku mengenalnyo sejak masih di SD yang kebetulan satu desa. Setahu saya dia tidak pernah mendekati wanita, tiba-tiba dio mendekati saya. Yang saya heran dia bisa mengetahui apa yang saya pikirkan. Entah mengapa seolah-olah saya bisa berkomunikasi dengan batin tidak dengan lisan.

Tolong Bapak ustadz mau menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ini:

  1. Apakah Saya diganggu jin?
  2. Do’a apa yang bisa menghilangkan gangguan itu , karena semua itu sangat mengganggu saya.
  3. Kenapa setiap itu terjadi, saya spontan menyebut Asma Allah padahal saya dalam keadaan tidur?
  4. Bagaimana dengan si cowok yang saya ceritakan di atas?

Wassalam

Sri Wahyuni, Jawa Tengah

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Mbak Sri Wahyuni dan seluruh pembaca Majalah Ghoib lainnya yang selalu dalam perlindungan Allah. Syekh Wahid Abdus Salam Bali menyebutkan dalam bukunya Wiqoyatul lnsan minaI Jinni Wassyaithan tentang tanda-tanda orang yang mendapatkan gangguan. Dia membaginya dalam dua keadaan, yang pertama dalam keadaan terjaga dan yang kedua dalam keadaan tidur.

Dalam keadaan terjaga seperti kesurupan, malas beraktifitas maupun malas beribadah, tidak bisa konsentrasi, sakit pada bagian tertentu yang dinyatakan sehat oleh dokter setelah melakukan check up, pusing yang berkelanjutan yang bukan disebabkan sakit mata telinga, hidung, gigi, maupun lambung.

Dalam keadaan tidur seperti susah tidur, sering bangun di waktu malam, tindihan, melihat binatang-binatang buas, mimpi jatuh dari tempat yang tinggi, mimpi-mimpi yang menakutkan …”. Jadi apa yang Anda alami ketika tidur itu adalah indikasi gangguan jin.

Mbak Sri Wahyuni dan seluruh pembaca Majalah Ghoib yang berbahagia. Do’a dan amalan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ketika akan tidur adalah:

  1. Berwudhu sebelum tidur. Al-Barra’ bin Azib berkara, “Rasulullah bersabda kepadaku, “ Apabila kamu mau tidur berwudhu’lah sebagaimana wudhumu ketika hendak shalat, kemudian berbaringlah diatas bagian tubuh yang kanan, lalu bacalah: “Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Aku menghadapkan wajahku kepada-Mu, aku menyerahkan urusanku kepada-Mu karena berharap dan takut kepada-Mu. Sesungguhnya tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari (ancaman)-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang Engkau utus.” Lalu Nabi bersabda, “Apabila kamu mati pada malam itu, maka kamu mati dalam fitrah (lslam). Dan jadikanlah dzikir itu sebagai yang terakhir kamu ucapkan.” (HR. Bukhari no. 247, Muslim no. 2710, Abu Daud no. 5045 dan at-Tirmidzi no. 3394)
  2. Setelah itu membaca ayat kursi 1 kali

Rasulullah SAW. bersabda, “Barangsiapa yang membacanya ketika mau tidur, maka ia senantiasa dijaga Allah dan setan tidak akan mendekatinya sampai subuh.” (HR. Bukhari).

  1. Menghimpun dua telapak tangan seraya membaca surat al-lkhlas, al-Falaq dan an-Nas, lalu meniupkannya. Kemudian diusapkan ke seluluh tubuh, mulai dari kepala, muka, badan bagian depan dan diulang seperti itu tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Membaca do’a tidur.

“Dengan Nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mbak Sri Wahyuni dan seluruh pembaca Majalah Ghoib yang dicintai Allah. Apa yang Anda lakukan dengan menyebut Asma Allah atau berdzikir ketika merasakan gangguan itu sudah tepat, karena dengan dzikir atau bacaan yang kita ulang-ulang itu gangguannya akan berkurang atau bahkan hilang. Kenapa Anda begitu reflek melakukannya? Karena Anda telah terbiasa dengan bacaan itu. Kapanpun Anda merasakan adanya gangguan, bibir Anda spontan membaca doa atau dzikir tersebut.

Jika Anda mengalami mimpi-mimpi buruk, maka lakukanlah hal-hal berikut:  Pertama, meludah (simbolis) ke kiri (tiga kali). Kedua, mohon perlindungan kepada Allah SWT. dari godaan syetan dan dari keburukan mimpi (tiga kali). Ketiga, menggeser posisi tubuh seraya membaca:

 

“Tiada ilah (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, Maha Perkasa, Rabb yang menguasai langit dan bumi serta apa yang di ada di antara keduanya, Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.” (HR. ,Hakim dan dishahihkan adz-Dzahabi).

Keempat. apabila telah melakukan tiga hal di atas, tapi mimpi buruknya masih bersambung, maka berwudhulah dan shalat dua rakaat. Kelima, tidak menceritakan mimpinya kepada orang lain.

Adapun cowok yang Anda ceritakan dan prilakunya yang aneh. Anda harus waspada. Tanyakanlah kepadanya, apakah ia telah belajar ‘ilmu’ tertentu sehingga bisa menebak dan membaca pikiran Anda. Tapi kalau dia mengaku tidak belajar ilmu khusus, maka sarankanlah agar ia menjalani terapi ruqyah syar’iyyah. Baik secara mandiri atau dengan bantuan peruqyah lain. Dan janganlah bermain api asmara, apa tidak takut terbakar? Kalau Anda belum siap untuk menikah, maka jauhilah dia. Karena lslam tidak memberikan toleransi bagi muda-mudi yang  menjalin ‘hubungan’ sebelum akad nikah. Konsentrasikan pikiran dalam menuntut ilmu dan perbanyaklah ibadah kepada Allah agar Anda tidak dikendali kan oleh nafsu.

Tapi kalau Anda sudah siap untuk menikah, dan cowok itupun sudah siap lahir bathinnya, maka janganlah memberi peluang bagi syetan untuk mempermainkan hidup Anda dalam kemaksiatan yang berkepanjangan. Nikah adalah solusianya. Wallahu a’lam bis Showab.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah syar’iyyah

Selalu Was-Was Ketika Shalat

Pertanyaan :

Assalamua’alaikum Wr. Wb

Ustadz Pengasuh konsultasi yang dimuliakan Allah. Langsung saja saya punya masalah; ketika mau shalat hati selalu was-was, sehingga sampai takbir berkali-kali. Rasanya, ketika baca basmalah dan takbir selalu kurang tepat dan muncul dari hati keyakinan kurang sah dan harus diulang, Saya lihat ayah dan kakak laki-laki saya juga demikian, tapi ibu dan kakak-kakak perempuan tidak. Apakah itu pengaruh jin? Apa yang harus saya lakukan? Bacaan apa yang harus dibaca?

Wassalam.

lmron R, Sumatera Selatan

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara lmron R. dan pembaca yang dirahmati Allah, ada bermacam -macam gangguan jin terhadap manusia, ada gangguan sebelum tidur sehingga susah tidur. Ada yang diganggu saat tidur dengan mimpi-mipi buruk atau menyeramkan.

Ada juga seperti yang Anda alami yaitu gangguan saat shalat. Untuk masalah yang terakhir ini sebetulnya juga mencakup gangguan pada seseorang yang malas untuk melakukan shalat atau selalu mengulur-ulur waktu shalat, sehingga tidak melakukan shalat kecuali di akhir waktu atau bahkan bisa saat waktu telah lewat dan telah masuk waktu shalat yang lain.

Begitu pentingnya shalat itu dalam lslam, sehingga syetan tidak akan tinggal diam ketika melihat orang shalat dengan khusyu’. Khanzab, begitulah nama syetan itu. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Ya Rasulullah, syetan telah mengganggu shalatku dan bacaanku pun menjadi lupa karenanya.” Nabi berkata, “ltu adalah ulah syetan, namanya Khanzab, jika kamu merasakan gangguannya berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah ke arah kirimu tiga kali.” Kemudian aku melakukannya dan Allah menghilangkan gangguannya dariku.”

lmam Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah berkata, Nabi bersabda, “Apabila dikumandangkan adzan shalat, syetan menyingkir sambil terkentut-kentut dengan bersuara dan ketika telah selesai ia kembali, apabila adzan dikumandangkan kembali, maka ia menyingkir, jika selesai ia kembali, sehingga terbetik dalam hatinya dan syetan berkata, ‘lngatlah ini , ingatlah itu.’ Sehingga ia lupa tiga raka’at atau empat, jika ia tidak tahu tiga atau empat maka ia melakukan sujud sahwi. Demi Allah, Allah tidak akan menghisab pikiran dan bisikan dari syetan tetapi Allah meminta pertanggungjawaban dari merespon pikiran-pikiran itu dan mengikutinya serta tidak khusyu’ karena tersibukkan olehnya .”

Saudara lmron dan pembaca yang budiman, Syekh Wahid Abdus Salam Bali mengatakan, “Ketahuilah sesungguhnya syetan mengganggu orang shalat melalui dua pintu:

Pintu yang pertama: Sesuatu yang berhubungan dengan indera yang nampak. Seperti orang shalat yang mendengar suara keras kemudian tersibukkan dirinya dengan suara itu. Atau orang yang melihat sesuatu yang menakjubkan seperti melihat hiasan atau yang lainnya. Caramengusir dari gangguan ini adalah: dengan tidak menghiraukan suara itu atau tidak melihat hiasan itu dan memalingkan pandangannya.

Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. shalat memakai pakaian bergambar pemberian Abu Jahm, setelah selesai shalat Nabi melepas pakaian itu dan berkata, “Pergilah dan bawalah pakaian ini kepada abu Jahm, sesungguhnya pakaian itu telah menyibukkanku dan melupakan shalatku tadi dan bawakan kepadaku Anbajanih (sejenis pakaian tak bermotif/polos).” (HR. Bukhori dan Muslim)

An-Nasai meriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah SAW. pernah di atas mimbar sedang ditangannya ada cincin, lalu melemparkannya seraya berkata, “Cincin ini telah menyibukkanku antara melihat dan memandang kalian.”

Oleh sebab itu para ulama memakruhkan pembuatan hiasan dinding dalam masjid karena bisa menganggu orang yang shalat. Imam Ahmad berkata, “Tidak boleh menulis sesuatu apapun di bagian Qiblat karena akan menyibukkan hati orang yang shalat.”

Pintu kedua: Sesuatu yang berhubungan dengan hati.

Jika hati telah bergantung dengan dunia, maka ia akan disibukkan dengannya di dalam shalat maupun di luar shalat. Karena ornag yang mencintai sesuatu itu, ia banyak memikirkannya. Sehingga selalu Nampak dalam semua gerakan shalat, bahkan ketika bersujud hatinya sibuk dengan dunia, dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Sungguh pintu ini sangat besar, hamper tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang mendapatkan taufiq dari Allah dan tidak ada obatnya kecuali dengan mengetahui rendahnya nilai dunia seraya memperbanyak do’a, “Ya Allah, Jadikanlah dunia di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia di hati kami, kemudia dengan senantiasa mengingat kedahsyatan ketika berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan seluruh amal pada hari kiamat.”

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan untuk menghilangkan rasa was-was dan bisa tetap khusyu’?

  1. Siapkan diri anda untuk shalat dengan cara menghentikan aktifitas sesaat sebelum shalat untuk berdzikir atau membaca beberapa ayat al-Qur’an.
  2. Lakukan shalat tepat waktu, Ibnu Mas’ud berkata, “Saya bertanya kepada Rasulullah SAW. amal-amal apa yang paling utama ya Rasulullah?” Nabi bersabda, “Shalat tepat waktu,” Saya bertanya, “Kemudian apa?” “Berbakti kepada kedua orangtua” “Kemudian apalagi?” “Jihad fi Sabilillah,” jawab Nabi SAW. (HR. Bukhori Muslim)
  3. Shalat dengan berjama’ah di masjid atau di musholla bagi laki-laki (Perempuan shalatnya berjama’ah di rumah dan boleh shalat di masjid jika tidak mengundang fitnah). Nabi bersabda, “Shalat berjama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan dua puluh derajat.” (HR. Bukhori Muslim)
  4. Berusaha menempati shaf (barisan) yang terdepan, meluruskan dan merapatkannya.
  5. Berusaha untuk memahami makna dari setiap bacaan dan menghayati bacaannya.

Jika was-was dan ragu-ragu maka lakukanlah hal berikut :

  1. Tetaplah berpegang pada yang yakin daripada yang meragukan, misalnya jika anda lupa raka’at ketiga atau keempat, maka ambilah yang tiga raka’at, karena itu yang meyakinkan.
  2. Berlindung kepada Allah dengan membaca, “Aku berlindung kepada Allah dari (godaan) syetan yang terkutuk, dari kesombongannya, tiupannya serta bisikan jahatnya.” (HR. Abu Daud).
  3. Menunduk dan meludah tipis kea rah kaki kiri tiga kali jika mulai ada bisikan was-was.
  4. Kemudian lakukanlah sujud sahwi dua kali saat duduk terakhir sebelum salam.

Bisikan syetan tidak akan putus kecuali dengan berlindung kepada Allah. Allah SWT. berfirman: “Dan jika kamu ditimpa godaan syetan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.” (QS. Al-A’raf: 200)

Mudah-mudahan Allah memberikan pertolongan kepada kita dan memasukkan kita pada golongan orang-orang khusyu’ dalah sahalatnya, amin.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah syar’iyyah

Peruqyah dan Peserta Ruqyah Masuk Neraka?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kepada pengasuh konsultasi mudah-mudahan selalu mendapatkan curahan rahmat dariAllah. Ada beberapa yang masih mengganjal di hati saya, yang ingin saya tanyakan pada kesempatan ini:

  1. Apd benar orang yang meruqyah dan orang yang minta diruqyah masuk neraka?
  2. Bagaimana dengan orang-orang yang punya masalah atau gangguan disebabkan karena ketidaktahuannya hingga ia beIajar ‘iImu-iImu’?
  3. Apakah gangguan yang terjadi pada diri seseorang itu murni disebabkan oleh kesalahan orang itu?

Abdullah, Jakarta

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara Abdullah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam perlindungan Allah. Dan menjauhkan kita dari panasnya api neraka. Untuk menghindari siksa neraka setidaknya ada dua hal utama yang harus kita lakukan. Yaitu melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Dengan itulah semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya dan menjadikan kita sebagai bagian dari penghuni surga. Terkait dengan masalah larangan, yang bila di langgar diancam dengan dosa, maka ada yang tergolong ringan dan ada pula yang masuk kategori berat. Seperti dosa syirik misalnya. Sedemikian beratnya dosa syirik sehingga Allah tidak akan mengampuninya sebelum bertaubat.

Karena itu, kita harus memahami dengan baik, segala hal yang menjerumuskan kita ke dalam perilaku kemusyrikan. Masalahnya, apakah ruqyah termasuk dosa syirik yang pada akhirnya mengantarkan orang yang meruqyah dan diruqyah masuk neraka?

Memang ada sebuah hadits riwayat Abu Dawud yang arti nya, “Sesungguhnya ruqyah, jimat dan jampi-jampi itu syirik.” (HR. Abu Daud).

Dalam hadits diatas dikatakan bahwa ruqyah, jimat dan jampi-jarnpi termasuk syirik. Namun, kita perlu memahami bahwa masih terdapat beberapa hadits lain yang menjelaskan masalah ruqyah ini. Dengan kata lain, pengertian yang benar tentang hakekat ruqyah yang sebenarnya tidak bisa hanya berdasarkan kepada satu hadits di atas lalu kita menafikan hadits-hadits lain yang shahih.

Perhatikanlah hadits riwayat Muslim, yang menyebutkan pengaduan salah seorang sahabat atas ruqyah yang pernah mereka lakukan di zaman jahiliyyah. Rasululullah SAW menanggapi aduan itu dengan meminta mereka,mengungkapkan cara ruqyah di masa jahiliyyah. “Perdengarkanlah doa ruqyah yang kalian miliki! Doa ruqyah itu tidak apa-apa selama tidak ada kesyirikan di dalanrnya.” (HR. Muslim).

Dari hadits yang kedua ini, bisa dipahami bahwa Ruqyah terbagi menjadi dua macam Ruqyah Syar’iyyah (Ruqyah yang sesuai dengan syari’at lslam) dan Ruqyah Syirkiyyah (Ruqyah yang mengandung unsur syirik). Ruqyah Syar’iyyah dibolehkan Rasulullah sedangkan yang dilarang adalah Ruqyah Syirkiyyah.

Ruqyah Syar’iyyah adalah dengan cara membaca ayat-ayat al-Qur’an dan doa ma’tsur, dengan suara yang jelas tidak ditambahkan dengan jurus-jurus, mantra-m antra atau syarat-syarat Iain yang tidak ada dasarnya dalam al-Qur’an maupun hadits. Sedangkan Ruqyah Syirkiyyah bisa jadi yang dibaca adalah ayat-ayatal-Qur’an juga. Hanya saja bacaan itu disertai dengan cara-cara atau bacaan lain yang mengandung unsur kemusyrikan.

Dengan kata lain, Ruqyah Syirkiyyah itulah yang bisa mengantarkan peruqyah atau orang yang minta diruqyah ke neraka. Seandainya semua ruqyah itu terlarang, niscaya Rasulullah tidak akan pernah melaku kannya. Disebutkan dalarn riwayat Muslim dari Abu Said. la berkata: “Jika Rasulullah SAW merasakan sakit, datanglah malaikat jibril kemudian bertanya,’Wahai Muhammad apakah kamu merasakan sakit?’ ‘Ya,’ jawab Nabi, kemudian malaikat Jibril membaca, “Bismillahi arqika min kulli syaiin yu’dzika, min syarri kulli nafsin ou ‘ainin hasidin yu’dzika” (Dengan nama Allah, saya meruqyah kamu dari sesuatu yang menyakitimu dan sesuatu kejahatan atau mata ‘ain, mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu. Deingan nama Allah, saya meruqyahmu.” (HR. Muslim).

Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah memasuki rumahnya dan melihat aku sedang menerapi seorang wanita, kemudian ia bersabda, “Obatilah ia dengan at-Qur’an.” (HR. lbnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Saudara Abdullah dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu datam perlindungan Allah. Bila kemudian, karena ketidaktahuan, sehingga seorang terlibat dan ikut belajar, ‘ilmu-ilmu’ maka yakinlah bahwa Ailah itu Maha Pengampun. Allah akan memaafkan kesalahan hamba-Nya yang mau mengakui kesalahannya. Apalagi jika kesalahan itu dilakukannya karena ketiadaan ilmu pada dirinya. Bertaubat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama itu yang harus dilakukan kemudian. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi. Karena orang tidak bisa memutar waktu ke belakang.

Bila kemudian belajar ‘ilmu-ilmu’ itu menimbulkan efek yang negatif dan diperlukan pengobatan, maka lakukanlah mengikuti terapi Ruqyah Syar’iyyah dan berobat secara medis. Keduanya bisa ditempuh bersama-sama.

Terkait dengan pertanyaan ketiga, maka lbnu Qayyim menyebutkan beberapa sebab gangguan pada seseorang. Pertama, adalah gangguan yang disebabkan oleh diri sendiri. Kedua, gangguan yang disebabkan oleh jin. Ketiga, gangguan yang disebabkan oleh ketidaktahuan manusia. Dan keempat, gangguan yang disebabkan oteh manusia yang bekerjasama dengan jin.

Mempelajari dan meneliti dengan seksama hal-halyang terkait dengan gangguan selama ini, akan banyak membantu proses penyembuhan. Karena dengan mengetahui sebab yang jelas, maka pengobatannya lebih mudah difokuskan. Bila kemudian, ada indikasi kuat gangguan itu disebabkan oleh orang lain, jangan keburu nafsu lalu bertindak secara emosional.

Jadi lidak benar kalau setiap gangguan yang terjadi selalu orang lain yang dikambing hitamkan padahal sangat mungkin dirinya sendiri penyebabnya. Wallahu A’lam.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah syar’iyyah

Percaya Adanya Jin, Tapi Tidak Percaya Adanya Kesurupan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak Ustadz pengasuh konsultasi semoga selalu sehat dan dimudahkan dalam menjalankan tugasnya. Dalm surat  ini perkenankanlah saya mengajukan beberapa pertanyaan yang saya pribadi mungkin juga saudara muslim yang lain sangat membutuhkan penjelasan dari Bapak. Sebagai orang awam utamanya masalah keghaiban ini tentu sangat berharap Ustdaz berkenan kiranya meluangkan waktunya.

Sebelumnya saya sampaikan terima kasih jazakumullahu khairan katsiran. Semoga Allah menjadikan nya sebagai bagian amal shalih. Amin. Adapun pertanyaan-pertanyaan saya berikut ini :

  1. Ada sebagian orang yang mempercayai akan adanya jin tapi tidak mempercayai adanya kesurupan, bagaimana kita menjelaskan ustadz?
  2. Saya pernah mendengar bahwa di antara cara syetan menyesatkan manusia itu dengan judi dan minuman keras betulkah ustadz?
  3. Saya pernah mendengar bahwa jin itu juga punya tempat tinggal seperti manusia. Apa saja gangguan yang biasa terjodi di dalam rumah?

Akhukumfillah, Bumi Allah

 

Jawaban

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudaraku seiman, pembaca dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Jin adalah salah satu makhluk Allah yang ghaib. Ghaib dalam arti bahwa ia tidak tampak dan tidak bisa di indera oleh panca indera kita. Eksistensi dan keberadaannya kita yakini karena adanya informasi dari al-Qur’an dan al-Hadits. Yang mana keduanya menjadi pedoman hidup bagi setiap orang yang mengaku muslim. Bahkan salah satu nama surat dalam al-Qur’n, yaitu surat ke 72 bernama al-Jin. Yang mana tujuan penciptaannya sama seperti tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah. Allah berfirman, “Tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Nabi SAW. bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api, dan Ada diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepada kalian (dari tanah).” (HR.Muslim). ltulah informasi dari al-Qur’an dan al-Hadits.

Dengan demikian ketika al-Qur’an maupun al-Hadits memberikan informasi tentang adannya gangguan jin pada manusia, tidak ada kata lain, kecuali juga harus memperc ayainya. Dr. Fahd bin Dhouyan dalam bukunya: Ahkamur Ruqo wat Tamaim berkata: “Masuknya jin pada manusia itu benar adanya, dan telah disepakati oleh para ahlus sunnah wal jama’ah. Berdasarkan firman Allah : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba mereka tidak bisa berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan …” (QS. Al-Baqarah: 275)

Hadits yang menceritakan tentang Utsman bin Abil ‘Ash, salah seorang sahabat yang ditugaskan berdakwah di Thaif. Utsman mendatangi Rasulullah SAW. ketika ditanya tentang sebab  kedatangannya, Ustman menjawab: “Telah terjadi sesuatu dalam shalatku, sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi dalam shalatku.” “ltu adalah syetan,” kata Rasulullah, “Mendekatlah” kemudian Rasulu llah memukul dadanya sambiI mengatakan: “Ukhruj ya ‘aduwallah. (keluarlah wahai musuh Allah).” (HR. lbnu Majah, dishahehkan oleh Syaikh al-Albani). Kata “Keluarlah wahai musuh Allah,” menunjukkan adanya sesuatu dalam tubuh. Dan itu adalah bentuk gangguan syetan dari golongan jin yang masuk dalam tubuh dan mengganggu. Dan masih banyak lagi hadits yang lain yang menceritakan tentang adanya gangguan jin pada manusia.

Saudaraku seiman, pembaca dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Judi dan minuman keras adalah dua penyakit yang menjangkiti masyarakat jahiliyyah dan modern sekarang ini. Dua-duanya adalah perbuatan dosa dan keduanya berdam pak negatif ketika dilanggar. Satu dilaksanakan menjadi penyebab yang lain terjadi. Sangat banyak kita saksikan baik melalui media cetak maupun elektronik tentang terjadinya tindak kejahatan dan criminal yang awal mulanya adalah karena judi dan minuman keras. Orang yang karena berjudi kemudian yang kalah tidak terima dan terjadi pertikaian.

Begitu juga karena pengaruh minuman keras, kemudian menghardik, mencerca dan terjadilah pertengkaran bahkan pembunuhan. Dan itu salah satu trik syetan dalam menyesatkan manusia. Allah berfirman, “Hai orang yang beriman sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungghuhnya syetan itu hendak memunculkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran meminum khamr dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, Maka berhentilah (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. al-Maidah: 91).

Berkata Az-Zuhri: Menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abdur Rahman bin Al-Harits bin Hisyam, ayahnya berkata: Aku pernah mendengar Utsman bin Affan berkata: “Jauhilah khamr karena ia adalah induknya kejahatan. Dahulu ada seorang lelaki yang menyendiri menjauh dari manusia untuk beribadah kepada Allah, kemudian ada perempuan yang menyukainya. Dan wanita itu mengutus pembantunya untuk memanggilnya. la berkata, “Kami mengundangmu untuk bersyahadat.” Maka masuklah laki-laki itu dan perempuan tadi mengunci didalam bersamanya. Hingga laki-laki itu menzinahinya. Perempuan itu berkata: “Aku tidak mengundangmu untuk bersyahadat tetapi agar kamu berzina denganku atau membunuh anak ini atau meminum khamr.” Dan wanita itu menuangkan khamr dalam gelas lalu laki-laki itu meminumnya kemudian menzinahinya dan membunuh anak itu. Maka jauhilah khamr, karena ia tidak akan pernah bersatu dengan iman kecuali ia hampir mengeluarkannya dari keimanan.” (HR. Baihaqi, isnadnya shahih) (lbnu Katsir, 2: 98).

Abdullah bin Umar berkata, Rasulullah SAW. bersabda, “Tiga golongan yang tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat adalah: anak yang durhaka kepada orang tuanya, pecandu khamr, orang yang mengumpat atas sesuatu yang telah diberikan.”( HR. An-Nasa’i dari ‘Amr bin Ali)

Saudaraku seiman, pembaca dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Allah SWT menciptakan jin yang alamnya berbeda dengan alam manusia. la tinggal pada tempat-tempat yang disukai yaitu tempat-tempat yang sunyi seperti padang pasir, lembah ada juga yang tinggal di tempat-tempat sampah dan ada juga yang tinggal bersama manusia.

Gangguan yang biasa terjadi di rumah bisa berupa suara-suara seperti suara adanya benda jatuh, padahal tidak ada yang jatuh, suara berisik padahal tidak ada siapapun di dalam rumah, adanya bayangan yang dilihat sebagian orang yang tinggal di rumah, adanya bau-bauan baik bau wangi maupun bau busuk yang menyengat. Benda-benda mati seperti lemari, gorden bergerak sendiri padahal tidak ada yang menggerakkannya. Juga gangguan yang menyebabkan penghuninya tidak betah tinggal di rumah.

Di antara cara menghilangkan gangguannya adalah: membaca surat al-Baqarah, membaca ayat kursi, mengumandangkan adzan, dan atau melakukan shalat sunnah.

Demikian, semogaAllah SWT. melindungi kita semua. Amin, wallahu a’lam bis shawab.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

 

Jin Muslim dibiarkan Berada dalam Tubuh?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak pengasuh konsultasi yang saya hormati dan mudah-mudahan selalu dimudahkan dalam urusannya. Terus teras saya awam sekali tentang hal-hal yang ghaib, karena itu saya ingin menanyakan beberapa hal:

  1. Apakah benar jin itu ada yang muslim dan ada yang kafir. Saya pernah mendengar kalau yang ada pada tubuh seseorang muslim itu, agar dibiarkan?
  2. Bagaimana sikap kita, terhadap jin yang mengganggu seseorang dan ketika diruqyah mengaku dirinya muslim?
  3. Apa perbedaan antara jin, iblis dan syetan?

Atas kesediaannya untuk menjawab pertanyaan, saya haturkan beribu terima kasih. Matur suwun.

Faruq, Jawa Timur

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara Faruq dan pembaca setia Majalah Ghoib semoga selalu berada dalam perlindungan Allah. Sebagai al-Khaliq, Allah telah menciptakan ciptaan-Nya yang disebut dengan makhluk, dann salah satu dari makhluk yang Allah ciptakan itu bernama jin. Keberadaan jin sebagai bagian dari makhluk Allah tidak ada yang memungkirinya. Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak ada seorangpun dari kaum muslimin yang mengingkari akan keberadaan jin.”

Tujuan penciptaan jin sebagaimana diciptakannya manusia adalah agar beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Namun dalam kenyataannya tidak semua jin sesuai dengan tujuan penciptaanya yaitu tunduk dan patuh kepada Allah. Seperti manusia diantara mereka ada yang shalih, ada juga yang nakal. Ada yang juga nakal, ada yang alim ada juga yang preman. Sebagaimana pengakuan mereka yang diabadikan Allah dalam al-Qur’an. “Dan sesungguhnya diantara kami ada yang orang yang shalih dan diantara kami ada yang tidak demikian. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11)

Ibnu Abbas menafsirkan kalimat: “kunna thoroiqo qidada” dalam ayat di atas dengan, “Dari kami ada yang mu’min ada yang kafir.” Sedangkan Ibnu Taimiyah menafsirkannya dengan, “Mereka terdiri dari madzah-madzah, ada yang muslim dayan kafir, ada ahli sunnah dan ada juga ahli bid’ah.”

Dengan demikian jin sama dengan manusia dalam masalah iman; ada yang mu’min ada juga yang kafir. Dalam beberapa kasus, ketika menterapi pasien, kita mendapat reaksi yang berbeda. Ada yang diam saja, ada yang mereaung kesakitan saat mendengarkan ayat. Ada juga yang mengaku bahwa dirinya dikirim oleh orang sampai menyebut nama tertentu. Dalam kasus yang terakhir, kita berpedoman pada sabda Nabi saat mengomentari cerita Abu Hurairah. Di mana pada malam pertama Abu Hurairah mendapat tugas menjaga harta zakat Ramadhan, ia didatangi oleh jin yang menamppakan diri seperti manusia dan mengambil harta zakat itu.

Ia dilepas karena ia mengaku keluarganya membutuhkan makanan, keesokan harinya Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah kejadian yang dialaminya semalam. Nabi bersabda, “Dia bohong dan dia akan kembali lagi.” Pada malam yang kedua datanglah orang itu melakukan hal yang sama dengan alasan yang sama. Kemudian dilepas lagi dan ketika keesokan harinya diadukan kepada Rasulullah SAW. Abu Hurairah mendapatkan jawaban yang sama. “Dia bohong dan dia kembali lagi”.

Pada malam yang ketiga, orang itu datang lagi dengan melakukan hal yang sama seperti pada malam pertama dan kedua. Abu Hurairah menahannya dan mengatakan, “Sungguh akan aku laporkan kepada Rasulullah.” “Orang itu berkata, “Lepaskanlah aku, akan aku ajarkan kepadamu kalimat, dan Allah akan memberikan manfaat dari kalimat itu.” “Apa kalimat itu?” tanya Abu Hurairah.

“Jika kamu akan tidur bacalah ayat Kursi, maka Allah akan menjagamu hingga pagi.” kemudian aku melepaskannya. Aku ceritakan pagi harinya bahwa orang itu mengajarkan kalimat yang bermanfaat, Rasulullah bersabda, “Kali ini ia benar dan ia sangat pembohong. Tahukah kamu siapa orang itu? La adalah syetan,” kata Rasulullah.” (HR. Bukhari).

Dengan cap kadzub atau sangat pembohong yang diberikan oleh Rasulullah pada syetan itu, maka cukuplah bagi kita sebagai dasar untuk tidak mempercayai dan tidak menghiraukan ocehannya. Jika yang terjadi dari ganguan itu memang benar ulah orang yang dzalim, maka kita memohon kepada Allah agar segera selesai dari gangguan ini dan untuk orang yang dzalim yang melakukannya kita do’akan mudah-mudahan Allah memberikan hidayah pada dirinya.

Sikap ini jauh lebih baik dibandingkan jika kita mempercayainya karena itu akan memunculkan rasa dendam padahal belum tentu benar. Justru akan menimbulkan masalah baru, karena kita tidak sibuk untuk melakukan perlawanan diri dari dalam tetapi justru sibuk dengan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Sikap tidak menghiraukan ocehan jin ini juga akan membuat hidup kita lebih tenang dan tidak jatuh pada suuzhan berprasangka buruk yang dilarang dalam agama.

Sedangkan pengakuan jin yang mengaku dirinya muslim, maka tentunya kita pertanyakan keislamannya, apa dasaryang membolehkan seseorang mengganggu yang lain. ltu bohong belaka. Seandainya ia benar muslim, maka dia adalah muslim yangmunafik, atau bahkan sudah murtad Seperti beberapa pengakuan jin yang katanya menjaga orang yang dimasuki tapi ternyata justru mengganggu dan membuat dirinya beberapa kali pingsan tak sadarkan diri. Ada juga yang membuat orang lain menilainya gampang emosi tanpa disadari oleh dirinya.

Jadi jin yang masuk dan mengganggu manusia adalah jin-jin kafir, muslim yang dzalim, munafiqatau bahkan murtad keluar dari lslam, bukan jin-jin muslim yang shalih, jangan terripu. Sehingga yang kita lakukan ketika mendengar pengakuannya bahwa dirinya muslim adalah dengan mengingatkan akan kesalahannya dan menganjurkannya untuk bertaubat atau kalau ia membangkang kita bacakan ayat-ayatal-Quran dan doa dari Rasulullah atau kita lanjutkan ruqyahnya dengan ruqyah syar’iyyah.

Saudara Faruq dan pembaca setia Majalah Ghoib semoga selalu berada dalam perlindungan Allah. Jin adalah makhluk Allah yang ghaib dicipakan dari api, sebagaimana firman Allah, “Dan Dialah Allah yang merrciptakan jin dari nyala api.” (QS. Ar-Rahman: 15). Nabi bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api, dan manusia diciptakan dari apa yang sudah dijelaskan kepada kalian (dari tanah, pen).” (HR Muslim).

Sedangkan lblis adalah makhluk Allah dari golongan jin yang membangkang perintah Allah, sebagaimana firman-Nya, “Dan ingatlah ketika aku katakan kepada malaikat, bersujudlah kemudian mereka bersujud kecuali lblis, lblis itu dari golongan jin kemudian membangkang perintah Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 50). Dan syetan adalah sifat atau sebutan bagi siapa saja dari golongan jin dan manusia yang membangkang dari perintah Allah. Allah berfirman, “Demikian juga Aku jadikan pada setiap Nabi musuh dari golongan jin dan dari golongan manusia …” (QS. Al-An’am: 112). Wallahu a’lam.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah syar’iyyah

Hukum Selametan Ketika Pindahan Rumah

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak Ustadz pengasuh konsultasi semoga selalu dalam keadaan sehat, dan dimudahkan segala urusannya. Amin.

Bapak Ustadz yang saya hormati, saya mohon kiranya Bapak Ustadz mau memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan berikut ini, sebelumnya kami ucapkan banyak-banyak terima kasih.

  1. Apa hukum melakukan selametan atau syukuran ketika pindahan rumah?
  2. Bagaimana sikap kita ketika menemukan tulisan-tulisan Arab yang ditempel di atas pintu masuk atau sesuatu yang ditanam di pekarangan rumah, dan bagaimana cara lslam membentengi rumah?
  3. Bolehkah melakukan shalat berjama’ah di rumah, padahal ada masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah kita?

Wassalam

Hamim, Jakarta

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara A. Hamim dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam perlindungan Allah. Rumah adalah tempat berteduh, tempat beristirahat, bercanda dan bercengkerama dengan keluarga sekaligus tempat untuk melepaskan kepenatan. Setiap orang mendambakan rumah yang nyaman untuk dihuni bersama keluarga. Namun tidak ada dalam syari’at lslam bahwa seseorang yang menempati sebuah rumah atau melakukan pindahan harus selametan. Apalagi harus ada makanan khusus yang diperuntukkan bagi arwah nenek moyang, dengan dalih karena mereka akan pulang dan memakan makanan tersebut.

Tapi jika ada yang selametan atau syukuran sebagai wujud syukur kepada Allah SWT. dan tidak ada ritual yang menyimpang maka itu dibolehkan. Prinsipnya adalah bahwa mensyukuri ni’mat itu suatu keharusan, kapan saja kita mendapatkannya. Karena dengan bersyukur kita akan mendapatkan tambahan nikmat itu. Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. lbrahim: 7).

Terlebih bila dalam syukuran itu diundang tetangga terdekat sebagai sarana silaturrahmi, sekaligus ta’aruf atau berkenalan dengan mereka. Kenalan adalah salah satu adab lslam dalam kehidupan ini, karena dengan kenalan ini akan terjadi saling memahami, saling menghormati dan setelah itu saling bahu membahu dan tolong menolong. Allah SWT. berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Selain itu lslam mengajarkan tentang hidup bertetangga. Nabi bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbuat baik pada tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhin hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim).

Saudara A. Hamim dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam perlindungan Allah. Rumah yang terhias dindingnya akan terasa indah dipandang mata dan sejuk di hati. Apalagi bila kaligrafi ayat-ayat al-Quran. Namun jika ayat-ayat itu dijadikan sebagai jimat tolak bala’ atau penangkal mara bahaya, maka hal ini tidak sesuai dengan tuntunan lslam. Nabi bersabda, “Jangan kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan. Sesungguhnya syetan itu akan lari dan menjauh dari rumah yang dibacakan surat al-Baqarah.” (HR. Muslim). Hadits di atas mengajarkan, kepada kita bahwa yang ditakuti oleh syetan itu adalah ayat dan doa yang dibaca bukan yang dipasang, ditempel maupun yang ditanam.

Yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. ketika menempati rumah atau tempat baru dan penjagaannya adalah:

Pertama, membaca doa, “A’udzu bikaIimatiIIahit taammati min syarri ma kholaq.” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya).” Seperti diceritakan K.haulah binti Hakim, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menempati suatu tempat kemudian membaca doa, “A’udzu bikaIimatiIIahit taammati min syarri ma kholaq.” Maka tidak ada suatu apapun yang membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim)

Kedua, membaca salam ketika mau memasuki rumah sebagaimana firman Allah SWT, “Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (QS. An-Nur: 61)

Ketiga, berdzikir ketika memasuki rumah. Nabi bersabda, “Jika seseorang memasuki rumahnya dengan menyebut nama Allah dan menyebut nama Allah ketika makan, maka syetan berkata, ‘Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makan malam buat kalian.’ Dan jika ia tidak menyebut nama Allah ketika memasuki rumahnya, syetan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap.’ Dan jika jika ia tidak menyebut nama Allah ketika makan, syetan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan mendapatkan makan malam.” (HR. Muslim).

Keempat, membersihkan rumah dari patung-patung.

Kelima, membebaskan rumah dari anjing. Abu Thalhah berkata, “Nabi SAW. bersabda, “Malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar patung-patung.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

Keenam, memperbanyak shalat sunnah di dalam rumah. Rasulullah bersabda, “Jadikanlah sebagian shalatmu di rumahmu, dan jangan kamu jadikan rumahmu seperti kuburan.” (HR. Muttafaq ‘alaih ).

Saudara A. Hamim dan seluruh pembaca Majalah Ghoib semoga selalu dalam perlindungan Allah. Hukum shalat jama’ah adalah sunnah muakkadah, siapa yang melakukannya dengan berjama’ah maka Allah akan melipat gandakan pahalanya. Nabi bersabda, “Shalat jama’ah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan keutamaan dua puluh lima derajat.” (HR. Muslim).

Melakukan shalat wajib di rumah tidak dilarang, namun shalat di masjid lebih utama. Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW, bahkan ketika ada orang buta yang meminta keringanan untuk tidak ke masjid karena tidak ada yang menuntun, Rasulullah tidak mengizinkannya. Rasulullah SAW. bertanya, “Apakah kamu mendengarkan adzan?” “Ya,” jawab orang itu. “Kalau begitu datangilah panggilan adzan itu.” (HR. Muslim).

Selain keutamaan-keutamaan di atas shalat berjarnaah juga bisa sebagai sarana silaturrahim dan memperkuat tali persaudaraan Ukhuwwah Islamiyyah. Wallahu A’lomu bis showab.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Dari Mana Metode Ruqyah Didapat

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bapak Ustadz semoga dilindungi Allah, saya berharap Pak Ustadz mau menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Darimanakah sistim ruqyah didapatkan?
  2. Bagaimana mengimani yang ghaib sesuai syariat?
  3. Bagaimana cara mengetahui seseorang terkena gangguan jin, bagaiman cara mengatasinya?
  4. Penyakit apa saja yang bisa diruqyah apa hanya gangguan jin saja?
  5. Saya punya kelainan di mata apakah dapat diruqyah biar normal seperti orang lain?

Wassalam.

Agus S, Bandar Lampung

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara Agus S dan pembaca yang dirahmati Allah, setiap orang harus mempunyai pijakan atau tuntunan dalam hidupnya. Dan sesungguhnya seorang muslim mempunyai dua pedoman hidup yaitu Al-Qur’an dan As- Sunnah. Nabi bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Dalam hal Ruqyah ini, beberapa ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat penyembuh, seperti firman Allah Swt, “Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al lsra: 82), juga pada ayat yang lain seperti pada (QS. Yunus: 57), (QS. Fusshilat: 44).

Adapun dalil dari hadits, di antaranya sebagai berikut:

  1. Hadits dari ummul mukminin Aisyah bahwa Rasulullah berkata kepada Aisyah saat ia sedang mengobati seorang wanita, “Obatilah ia dengan Al-Qur’an.” (HR. lbnu Flibban dalam shahihnya).
  2. Hadit dari Utsman bin Abil Ash dia berkata, “Rasulullah menjengukku saat aku sakit dan berkata, ‘Usaplah dengan tangan kananmu tujuh kali dan ucapkan: “Audzu bi’izzatillahi waqudrotihi, wa sulthonihi min syarri maa ajidu.” Kemudian aku lakukan dan Allah menghilangkan penyakit itu dariku, dan aku selalu sampaikan tentang ini kepada keluargaku dan yang lain.” (HR.lmam Ahmad, Muslim dalam Shahihnya.).

Adapun tentang bagaimana mengimani yang ghaib sesuai syariat.

Beriman repada yang ghaib adalah sifat pertama yang dimiliki oleh orang yang bertaqwa, Allah berfirman, “Al-Qur’an itu tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa, yaitu orang- orang yang beriman kepada yang ghaib dan rnendirikan shalat dan membayar zakat, dan mereka  menginfaqkan sebagaian rizki yang Allah berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 2-3)

Abu Ja’far Ar Razi dalam tafsir lbnu Katsir berkata: bahwa yang dimaksud dengan Al Ghaib dalam ayat di atas adalah, “Beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surga, neraka. bertemu Allah dan beriman kepada kebangkitan kembali setelah hidup.” Sedangkan menurut Qatadah, “Sesuatu yang ghaib bagi manusia seperti tentang masalah surga, neraka dan semua yang ghaib yang disebutkan dalam Al-Qur’an.” Sedangkan menurut Zaid bin Aslam, Al Ghaib adalah taqdir. Dan semua pendapat itu adalah satu makna yang berdekatan, karena semua yang disebutkan di atas termasuk yang ghaib yang wajib diimani.

Sehingga mengimani yang ghaib sesuai syariat adalah mengimani yang ghaib yang diberitakan oleh Al-Qur’an maupun oleh hadits Rasulullah. Dengan demikian semua berita dan informasi tentang yang ghaib termasuk tentang dunia jin bisa diterima dan bisa ditolak. Diterima jika selaras dengan Al-Qur’an dan al hadits dan ditolak jika bertolak belakang dengan keduanya.

Sedangkan cara mengetahui orang yang terkena gangguan jin, prinsip lslam yang benar mengenai hal ini adalah bahwa manusia tidak bisa melihat hakikat jin. Allah berfirman, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-Araf:27). Dalam hal ini lmam Syafi’i mengatakan, “Barangsiapa yang mengaku dirinya bisa melihat jin (dalam bentuk aslinya), maka kesaksiannya ditolak.” Sehingga ketika kita menyatakan bahwa seseorang terindikasi gangguan adalah dengan mengetahui tanda-tanda gangguan itu pada seseorang. Bukan karena bisa melihat jin yang ada dalam tubuh seseorang.

Adapun di antara tanda-tanda itu adalah sebagi berikut. Di antara tanda-tanda saat terjaga: gelisah, susah tidur, mudah marah, malas beribadah, makan banyak tidak kenyang atau makan sekali rasanya kenyang dua hari, linglung, sering lesu dan malas, rasa sakit yang berkepanjangan atau pusing pada waktu-waktu tertentu.

Diantara tanda saat tidur adalah: tindihan, mimpi buruk atau menyeramkan, suara gigi beradu, sering  terbangun saat tidur, seakan-akan jatuh dari tempat tinggi.

Adapun cara mengatasinya adalah dengan berlindung kepada Allah, menjaga shalat lilna waktu dengan berjama’ah di masjid atau di mushalla, membacaAl-Qur’an dan Anda juga bisa melakukan dzikir pagi dan sore serra mengamalkan doa-doa penjagaan, untuk hal ini Anda bisa memiliki kaset Ma’tsurat dan doa penjagaan terbitan Ghoib Ruqyah.

Ruqyah sendiri terbagi menjadi dua; ruqyah penjagaan dan ruqyah pengobatan.

Ruqyah penjagaan yaitu ruqyah seperti yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap cucunya Hasan dan Husein padahal keduanya tidak sakit. Juga ruqyah yang dilakukan Nabi dengan membaca doa sayyidul istighfar tiga kali di pagi dan sore hari.

Adapun penyakit yang bisa diruqyah adalah seluruh penyakit; akhlak atau moral medis atau non medis, fisik atau non fisik. Karena hakikat yang memberi kesembuhan adalah Allah. Allah berfirman, “Dan ketika aku sakit Dialah (Allah) yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syuara: 80). Di dalam pengobatan dengan methode ruqyah ini kita memohon kepada Allah dari penyakit yang kita rasakan maupun yang dirasakan oleh pasien.

lbnu Qoyyim Berkata, “Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari segala penyakit hati, jasmani, duniawi dan ukhrawi. Barang siapa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dengan keimanan, dan keyakinannya yang kuat, maka penyakit itu tidak mampu menandingi Al-Qur’an. Bagaimana penyakit akan menandingi kalamullah yang menciptakan langit dan bumi yang seandainya diturunkan di atas gunung pasti dia akan tertunduk, atau diturunkan di atas bumi, maka ia akan membelahnya …..”

Kesembuhan ada ditangan Allah, dengan demikian kewajiban kita hanyalah berikhtiar, dengan cara yangtidak melanggar tentunya. Dan sekalipun nampak jelas bahwa seseorang mengalami penyakit fisik, tidak ada salahnya untuk melakukan ruqyah, karena antara pengobatan ruqyah dengan pengobatan medis itu tidak bertolak belakang. Mudah-mudahan bermanfa’at.

Wallahu a’lam bis showab

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Bolehkah Berda’wah Pada Jin?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya pernah mengantar kerabat  mengikuti terapi ruqyah. Saya ingin berkonsultasi tentang beberapa hal berikut:

  1. Adakah seseorang yang meruqyah itu melihat jin, sehingga bisa mengetahui kalau dia tempatnya di kepala atau di dada misalnya.
  2. Apa saja yang boleh dilakukan ketika menghadapi orang yang sedang kesurupan?
  3. Sebetulnya apa tujuan diciptakannya jin, Apakah kalau meruqyah juga boleh menda’wahi mereka?

Terima kasih.

Musthafa, Jakarta

 

Jawaban :

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Saudara Musthafa, pembaca dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Tidak ada yang bisa melihat hakikat jin itu kecuali Allah. Termasuk seorang peruqyah sekalipun. Karena dengan tegas Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya ia (iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (manusia) dari suatu tempat yang kalian tidak melihat mereka.” (QS. Al-A’raf: 27). Dan Imam Syafi’i menegaskan bahwa; “Barangsiapa yang mengaku dirinya bisa melihat hakikat jin, maka ditolaklah kesaksiannya.”

Jin adalah makhluk Allah yang ghaib, ada tetapi tidak bisa diindera. Alamnya pun berbeda dengan alam manusia. Sehingga benar pernyataan yang tegas dinyatakan oleh Imam Syafi’i. Karena kalau tidak, maka akan banyak kita dapati orang mengaku dirinya melihat jin. Dan memahaminya bahwa itu bagian dari karamah atau kelebihan yang diberikan Allah pada dirinya. Padahal yang demikian itu tidak benar. Allah berfirman, “(Dia adalah Allah), yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mendakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan belakangnya.” (QS. Al-Jin: 26 – 28).

Seorang peruqyah mengetahui keberadaan jin dari indikasi atau tanda-tanda gangguan. Biasanya diketahui dari jawaban pasien setelah ditanya tentang keluhan yang dialaminya. Baik yang ada dalilnya maupun tanda-tanda seperti yang telah ditulis oleh para ulama. Misalnya, was-was dalam shalat, mimpi buruk, mudah marah, cemas, rasa takut yang berlebihan, dan lain-lain.

Dan ketika (peruqyah) mengatakan, “Yang di kepala keluar!” misalnya, bukan berarti dia tahu dan melihat bahwa keberadaanya di kepala. Tetapi diketahui dari jawaban pasien (saat ditanyakan tentang keluhannya), itupun tetap tidak melihat keberadaannya.  Sehingga yang dikatakanya adalah kesimpulan dari ungkapan (dan keluhan yang dirasakan oleh) pasien. Kesimpulannya pun tidak boleh dengan kata memastikan seperti; “Pasti ada jinnya”. Tetapi harus dengan menggunakan kata, misalnya: “Melihat dari tanda-tanda yang Bapak/Ibu sampaikan sepertinya ada tanda-tanda gangguannya”. Tapi kalau belum menanyakan sesuatu, hanya memandang saja kemudian memberikan kesimpulan dan mengatakan ada jin kafirnya umpamanya, maka ini janggal dan harus berhati-hati, jangan langsung percaya.

Saudara Musthafa, pembaca dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Dalam buku, Ar-Raddul Mubin, Syekh Ibrahim Abdul Alim mengutip fatwa Majelis Fatwa Saudi Arabia jilid I hal 153-154, disebutkan: “Ada 4 hal yang boleh dilakukan ketika mengobati adalah:

  1. Meruqyahnya dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan Do’a Ma’tsur dengan dua syarat:
  2. Menggunakan bahasa Arab
  3. Menggunakan bahasa yang bisa dipahami maknanya.
  4. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Yaitu boleh berdialog dengan jin yang mengganggu dalam batasan yang tidak menyimpang dari syariat. Seperti mengajaknya untuk bertaubat, meninggalkan kedzalimannya dan mengajaknya untuk masuk Islam, jika belum beragama atau non muslim.
  5. Memukulnya jika ia membandel dan membangkang untuk keluar dengan cara yang baik.
  6. Menggunakan air ruqyah, yaitu air yang dibacakan ayat dan doa untuk diminum atau dipakai mandi oleh pasien.

Bahkan tidak terpaku pada empat hal tersebut tetapi boleh juga menggunakan sesuatu yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun Hadits seperti madu, habbatus sauda’ (jintan hitam) air zamzam, dan lain-lain”.

Saudara Musthafa, dan pecinta Majalah Ghoib semoga selalu dalam lindungan Allah. Jin adalah makhluk Allah yang tujuan penciptaannya sama dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu agar beribadah kepada Allah. Allah berfirman, “Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat: 56). Dalam kenyataanya ada manusia yang muslim, ada yang kafir, ada yang musyrik. Demikian pula yang terjadi pada golongan jin. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada yang tidak demikian. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al-Jin: 11).

Ibnu Abbas menafsirkan; kunna tharaiqa qidada dalam ayat di atas dengan; “Dari kami ada yang mukmin, dan ada yang kafir.” Sedangkan Ibnu Taimiah menafsirkannya dengan: “Mereka terdiri dari madzhab-madzhab, ada yang muslim, ada yang kafir, ada yang ahli sunnah, ada yang ahli bid’ah.”

Kemudian, yang perlu kita lakukan ketika meruqyah dan menghadapi jin adalah mengingatkan akan kemaksiatan dan kedzaliman yang telah mereka  lakukan. Dan ternyata (dari pengalaman selama ini) ada di antara mereka (bangsa jin) yang baru diingatkan saja, ada yang menangis, meminta ampun dan keluar. Ada juga yang sadar tetapi setelah melewati beberapa waktu dan penjelasan (dialog) yang panjang. Ada juga yang membandel dan tidak mau keluar. Di antara mereka ada yang bertaubat dari kedzalimannya. Ada yang masuk Islam, tadinya tidak beragama dengan mengcapkan kalimat syahadat.

Dalam sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Bin Baaz tentang penjelasan yang benar terhadap masuknya jin pada manusia dan jawaban atas orang-orang yang mengingkarinya. Beliau mengisahkan tentang masuk Islamnya jin yang mengganggu seorang wanita di tangan Syaikh Abdullah bin Musyrif al-‘Umari di Riyadh. “Setelah dibacakan, dinasehati dan dikatakan padanya bahwa kedzaliman itu adalah dosa. Ia mengatakan bahwa dirinya beragama Budha. Maka Syaikh Abdullah menyuruhnya keluar dan mengajaknya untuk masuk Islam. akhirnya jin menerima ajakannya dan mau masuk Islam.”

Kemudian Syaikh Abdullah dan keluarga pasien datang kepada Syaikh Bin Baaz. Beliau bertanya kepada jin, “Keluarlah! mengapa masuk ke dalam tubuh wanita ini.” Muncullah jawaban jin melalui mulut wanita itu dengan suara laki-laki. Setelah dinasehati oleh beliau dan disaksikan oleh keluarga, Syaikh Abdullah al-‘Umari dan beberapa Masyayikh, jin itu menyatakan keislamannya dan keluar dengan mengucapkan salam. Setelah itu wanita tersebut berbicara seperti biasa dengan suara aslinya”. (Ash-Shahihul Burhan Fima Yatrudusy Syaithan).

Jadi termasuk hal yang boleh dilakukan terhadap jin yang berada dalam tubuh pasien adalah menasehatinya seperti kisah di atas. Mudah-mudahan Allah memberikan perlindungan kepada kita. Wallahu A’lam bis Shawab.

 

Akhmad Sadzali, Lc

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

HUBUNGI ADMIN