56 TAHUN USIA “JIMAT” WARISAN”

 

Jimat ini adalah pemberian dari Bude saya (almarhumah), sejak tahun 1950,” tulis Bapak Lasmo (nama samaran) mengawali kisahnya. Dalam tiga lembar kertas folio, Bapak Lasmo menceritakan rentetan peristiwa demi peristiwa secara runut, sejak ia mendapatkan iimat ini. Bersama surat tertanggal 2l September itu, disertakan pula sebuah bungkusan jimat yang telah disimpannya selama 56 tahun. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa sejak usia 7 tahun, Bapak Lasmo tinggal di rumah Bu denya. Itu ia lakukan karena jumlah saudara kandungnya sangat banyak. Sehingga ibundanya menitipkan kepada Budenya. Lasmo kecil menyaksikan setiap hari, banyak orang yang datang ke rumah Bu’denya.

Lambat laun ia mengerti bahwa Bu’denya itu adalah seorang dukun yang dapat menyembuhkan orang yang terkena gangguan penyakit. Bu’denya adalah seorang dukun sakti yang memiliki prewangan (khadam). Prewangannya itu sering dipanggilnya Den Gus. Mungkin maksudnya Raden Bagus. “Saya tidak tahu pasti apa jenis prewangannya itu. Entah syetan, jin atau tuyul Saya tidak pernah menanyakan karena takut Bu’de, tulis bapak berusia 71 tahun ini.

Ketika usianya genap 17 tahun. Bu’denya memberikan sebuah bungkusan jimat yang telah diberi mantra-mantra. Jimat mantra ini agar dibawa saat pergi kemanapun, kecuali buang air kecil, tutur Bapak Lasmo mengenang pesan Bu’denya. Sejak saat itu Bapak Lasmo selalu membawa serta jimat itu kemanapun ia pergi.

Pada tahun 1957 ia mendaftarkan diri pada sebuah brigade di kepolisian. Dari awal pendidikan hingga menjalankan tugas, ia jalani dengan terus membawa jimat hingga pensiun dengan pangkat lnspektur. 14 tahun sudah Bapak Lasmo pensiun. Pada tahun 2005. Ia mengenal Majalah Ghoib melalui anaknya dan langsung jatuh hati pada semua isi Majalah. Saat ia membaca keterangan tentang jimat dan kemusyrikannya, hatinya tergerak. Imanya  berbicara, bahwa apa yang selama ini ia simpan adalah benda yang keliru.

Pada awal puasa Ramadhan 1427 H yang lalu, ia menyerahkan jimat ini kepada kantor Ruqyah Syar’iyyah. Saya ingin Ramadhan kali ini bersih dari perbuatan yang tidak dirihoi Allah. Saya ingin bersih segala-galanya,” ujar Bapak yang akan menunaikan ibadah haji pada tahun 2007 yang akan datang.

 

BENTUK’IMAT

Pada saat dikirimkan, jimat ini dibungkus oleh kertas putih. Pada bagian depan tertulis TH 1950. Mungkin maksudnya jimat ini diterima oleh Bapak Lasmo sejak tahun 1950. Dalam bungkusan itu terdapat beberapa buah jimat yang sudah usang. Pada dua buah berwarna coklat terdapat dua gulung rambut berwarna hitam legam. Pada sebuah kantong berwarna merah, terdapat segumpal tanah bercampur daun kering. Dua gumpal pecahan kemenyan berwarna kuning tanpa dibungkus menebarkan bau semerbak.

Satu buah bulatan sebesar kelereng yang terbuat dari melamin terlihat sangat kotor. Sebuah tambang kecil bersimpul 8, dengan perban yang warnanya sudah memudar, Sebuah kantong kecil yang terbuat dari kain berwarna putih, telah hancur dan tersobek menjadi dua. Nampaknya, kantong itulah yang  menjadi tempat untuk menyimpan jimat-jimat tersebut.

Selembar kertas bertuliskan rajah-rajah yang menurut Bapak Lasmo adalah mantra-mantra juga ada pada bungkusan tersebut. Rajah-rajah berbahasa arab itu ditulis  dengan tangan. Bacaanya sangat membingungkan, karena terdiri dari gabungan lafadz basmalah, syahadat, shalawat serta nama beberapa orang Nabi seperti Musa dan Daud. Pada bagian bawah tulisan terdapat huruf-huruf hijaiyyah dan angka arab secara terpisah-pisah. Kertasnya pun telah berwarna kecoklatan.

 

KESAKTIAN JIMAT

Jimat ini diberikan kepada Bapak Lasmo, penjagaan dan kesuksesan. Dalam rajah terdapat pada selembar kertas kumal, penjelasan bahwa jimat ini untuk memperoleh kekayaan selama jimat ini masih disimpan.

 

BONGKAR JIMAT

Setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Maka diprogramlah kepentingan pendidikan mereka hingga sarjana. Deposito kesehatan pun telah disiapkan.Orangtua banting tulang mencari untuk kepentingan buah hati kelak. Sebagian dari orangtua itu, menaburi hidupnya dengan doa-doa untuk keselamatan dan keberhasilan buat anak-anaknya tercinta. Allah sendiri  telah mengisyaratkan hal tersebut dalam an-Nisa ayat: 9; “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteran) mereka. Oleh sebab itu mereka bertaqwa kepada Allah dan mereka mengucapkan perkataan benar.”

Taqwa dan kejuiuran adalah bekal terbaik dalam hidup yang fana ini. Memberikan  bekal jimat atau mantra-mantra kepada buah hati, bukanlah solusi imani malah sebaliknya, menyesatkan. Kita tidak mengerti kepada para dukun itu, mengapa  mereka memberikan benda-benda seperti yang dikirirnkan oleh Bapak Iasmo ini sebagai penjagaan atau kesuksesan?

Rambut, tanah, tambang memang sering digunakan dalam praktik perdukunan. Mungkin saja benda-benda seperti itu yang disukai prewangan seperti Den Gus. Atau mungkin ada maksud lainnya. Sekali lagi, kita tidak pernah bisa mengerti. Ada lagi rajah-rajah yang sering bertuliskan dua kalimat syahadat serta lafadz basmalah. Tentunya ini merupakan bentuk pelecehan terhadap ke Maha Besaran Allah. Dalam hal ini, Allah telah memberikan aba-aba kepada kita agar tidak mengikuti langkah-langkah syetan. “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syetan, karena syetan adalah musuh yang nyata bagi kamu. Sesungguhnya syetan menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. (QS. al-Baqarah : 169- 169). Dengan pergi ke dukun dan menggunakan jimat, maka secara sadar kita telah mengikuti langkah-langkah syetan.

Pengetahuan orang Mukmin bahwa tujuan eksistensi manusia ialah ibadah dan bahwa ia diciptakan untuk beribadah kepada Allah otomatis mengangkatnya ke cakrawala yang bersinar, mengangkat perasaan dan hatinya serta membersihkan seluruh jiwanya. Jadi, orang Mukmin selalu menginginkan ibadah dengan aktivitas yang murni. Karena itu ia tidak pantas berkhianat dan berdosa. Rasa keimanan inilah yang kini dimiliki Bapak Lasmo. Diawali pada bulan yang suci ini, Bapak Iasmo bersegera kepada keridhoan Allah. Ia  serahkan jimat warisan yang telah dimilikinya selama 56 tahun ini, agar hidupnya terbebas dari debu kemusyrikan. Selamat menunaikan ibadah haji, semoga meraih haji yang mabrur.

Apa yang telah diperbuat Bapak Lasmo dengan menyerahkan jimat ini, semoga kelak akan menghapuskan semua dosanya yang telah lalu dan orang-orang yang pernah dekat dengannya. Amin.

 

Ghoib edisi: 73/4/ 2006

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN