Aku Beralih Profesi dari Dukun ke Peruqyah

Wiridan Dua Juta Kali?

Dida, Mantan dukun yang hafal al-Qur’an               

Menjadi orang sakti itu mahal harganya. Banyak hal yang harus dikorbankan. Bila pengorbanan itu hanya sebatas materi, waktu dan tenaga tidaklah mengapa. Semua itu hanya bersifat sementara. Tapi kalau harus mengorbankan akidah, maka jangan coba-coba menjadi orang sakti. Derita berkepanjangan di akhirat segera menanti. Karena untuk menjadi sakti, mau tak mau harus bekerja sama dengan jin, seperti dituturkan Dida, mantan dukun yang bertaubat dan telah menamatkan hafalan al-Qur’an. Berikut petikan kisahnya.

 

Sejak kecil, aku memang punya cita-cita ingin menjadi orang yang sakti mandraguna. Ditembak lakak-lakak, ditombak cengengesan. Darah orang sakti mengalir deras dalam diriku. Kakek terbilang orang sakti. Di kampungku ia sangat terkenal. Untuk mendapatkan kesaktian itu, kakek rela berpuasa selama empat puluh hari dengan tetap bertengger di atas pohon kelapa.

 

Puasa empat puluh hari saja, banyak yang sudah tidak sanggup, karena bukan ritual sembarangan. Tapi kakek sanggup melakukannya dengan tetap bertahan di atas pohonkelapa selama empat puluh hari. Semangat yang membajalah yang membuat kekek mampu bertahan. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan impian menjadi orang sakti. Karena itu, ketika kusampaikan keinginanku menjadi orang sakti, ibu tidak melarang. Toh, lelakon ngelmu itu bukan barang asing bagi ibu.

 

Pergulatanku dengan dunia kesaktian dimulai sejak aku duduk di bangku SMP. Awalnya, aku bergabung dengan perguruan silat di kampungku bersama teman-teman. Latihan-latihan fisik menjadi menu harian. Selain itu, aku juga nyantri di beberapa tempat. Lelakon dengan puasa pun mulai kulakukan.

 

Sebenarnya, aku belum diperbolehkan puasa. Masih kecil, katanva. Hanya karena keinginan menjadi orang sakti begitu kuat, larangan itu tidak kuhiraukan. Aku nekat puasa yang terbilang berat untuk anak seusiaku. Selama tiga hari, aku hanya berbuka dengan tiga suap nasi. Nasi dikasih air kemudian diaduk. Air nasi kemudian diminum seteguk, dua teguk. Kemudian nasinya dimakan tiga suap. Tidak boleh lebih. Setelah itu tidak boleh makan lagi, hingga sahur. Memang tidak ada larangan untuk sahur. Tapi karena mulut terasa pahit, aku pun malas sahur. Praktis tiga hari hanya makan tiga suap nasi setiap buka.

 

Tiga hari pertama aku lulus. Dilanjutkan dengan puasa tujuh hari. Meski badan terasa lemas, tapi aku masih sanggup menyelesaikanrrya. Terakhir puasa dua puluh satu hari.

 

Puasanya memang berat sekali. Apalagi orang di sekitarku tidak ada yang berpuasa. Hanya aku sendiri. Cobaannya begitu berat kurasakan. Susah tidur. Ketika ibu menggoreng ikan asin saja, aku sudah ngiler. Karena saking pinginnya. Setelah menyelesaikan puasa dua puluh satu hari, aku bisa melakukan gerakan-gerakan silat yang selama ini tidak pernah kupelajari.

Sukses berpuasa selama tiga puluh satu hari, membuat tekadku semakin kuat. Aku pun mulai berkelana dengan beberapa teman. Sesekali aku berguru ke Jawa Tengah. Tetapi aku tinggal di JawaTimur yang perbatasan dengan Jawa Tengah.

 

Kalau ada orang sakti, kudatangi. Biasanya aku datang bersama teman-teman seperguruan. Pernah, ketika bertandang ke’orang sakti’ aku diisi dengan tenaga dalam tingkatan menengah. Setelah diisi langsung dicoba. Memang, ketika ada teman yang memukuliku, dia langsung terpental. Waktu itu aku heran, kok bisa begitu. Aku pun menganggap itu adalah kelebihan yang dlberikan Allah SWT.

 

Selama berkelana, orang tuaku berpesan, agar aku tidak bekerja sama dengan jin. “ltu nggak boleh,” katanya. Sepengetahuan orang tuaku dukun-dukun iru bekerja sama dengan jin. Tapi apa yang kupelajari berbeda dengan ilmu perdukunan. Aku wiridan dengan ayat-ayat al-Qur’an atau doa yang berbahasa Arab. Jadi, mereka tidak melarang.

 

Wiridan Dua Juta Kali

Masa-masa SMA tidak jauh berbeda. Aku masih bergelut dengan dunia kesaktian. Entah sudah berapa tempat yang kudatangi. Selain itu, aku juga mulai membiasakan diri bermalam di kuburan. Lebih dekat dengan orang-orang’sakti’ yang jasadnya terbaring di dalam tanah, pikirku. Bagi kebanyakan orang, kuburan adalah tempat yang angker. Jangankan bermalam di sana, untuk melintas siang hari saja banyak yang tidak berani. Rasa takut itu seakan sudah hilang dari diriku. Bagiku, bermalam di kuburan tidak berbeda dengan bermalam di rumah sendiri. Aku merasa nyaman saja di sana. Terlebih aku merasa dapat lebih dekat dengan orang-orang ‘sakti’ di sana.

 

Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya, Jawa Timur. Aku masuk fakultas sastra Inggris. Awalnya, kujalani masa perkuliahan dengan senang. Hingga suatu ketika, teman-teman di fakultas mengadakan kegiatan yang bernuansa Islami. Saat itulah, aku tertegun dengan bacaan al-Qur’an yang diperdengarkan di awal acara. Terasa ada desiran-desiran halus yang merasuk ke dalam jiwa. Ada dorongan yang mengarahkanku untuk menjadi seorang penghafal al-Qur’an.

 

Dorongan yang kuat itu tak mampu lagi kutahan. Hingga akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan sastra Inggris dan bergelut dengan al-Qur’an. Ketika kusampaikan keinginanku itu kepada orang tuaku, mereka tidak melarang. Mereka hanya berpesan, agar aku serius dengan keputusanku. Menjadi seorang penghafal al-Qur’an tidaklah semudah yang dibayangkan. Dibutuhkan tekad yang membaja agar tak luntur di tengah jalan.

 

Nasehat orang tua kusanggupi. Aku pun meninggalkan rumah dengan satu tujuan. Mencari pondok pesantren tahfidz. Pilihanku adalah Banten, Jawa Barat. Meski di Jawa Tengah juga ada pondok tahfidz, tapi aku lebih memilih Banten. Lokasinya yang jauh dari rumah menjadi alasan tersendiri mengapa aku memilih Banten. “Biar tidak pulang terus,” jawabku ketika ditanya bapak.

Waktu pertama ke Banten itu seakan ada yang membimbing. Bukan ke pondok tahfidz, tapi aku diarahkan ke pesantren yang mengajarkan ilmu kesaktian. Ceritanya begini. Aku belum pernah ke Banten. Sementara wilayah Banten itu luas dan banyak pesantrennya. Ketika sampai di terminal Kalideres, Jakarta Barat, kondektur bertanya, “Mau kemana?” kujawab saja, “Banten.” sambil kuserahkan uang dua ribu lima ratus rupiah. Ternyata aku diturunkan di Cadassari. Di sana ada pesantren yang terkenal. Ongkos bis pun juga pas. Dua ribu lima ratus rupiah. Sebenarnya, ketika tiba di daerah Cadassari, rasanya aku sudah ingin turun saja. Sepertinya, hatiku cocok dengan daerah tersebut. Padahal aku belum mendapat informasi apa-apa tentang Cadassari. Apakah ada pondok pesantren tahfidz atau pondok pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu Islam lainnya. Setelah bertanya kesana kemari, aku disarankan untuk mondok di sebuah pesantren terkenal di sana. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku belajar di pondok tersebut. Toh, banyak juga santri dari daerah lain yang juga punya tujuan yang sama denganku. Masalahnya, pondok pesantren tersebut tidak mengkhususkan diri dalam hafalan al-Qur’an. Ia tak ubahnya seperti pesantren lain yang bergaya salaf mengajarkan kitab kuning. Kitab Kuning adalah sebutan untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharokat.

 

Disanalah aku berlabuh. Meski di pesantren tersebut tidak ada hafalan al-Qur’an, aku tidak terlalu kecewa, karena aku mendapat gantinya. Cita-citaku menjadi ‘orang sakti’ dapat kembali terasah. Lelakon puasa atau wiridan-wiridan tertentu kembali menjadi menu harianku.

 

Untuk menjadi orang yang ‘sakti’ aku mengamalkan Hizb Nashr yang diawali dengan puasa tujuh hari. Hari pertama, berbuka dengan tujuh suap nasi. Hari kedua, dengan enam suap, begitu seterusnya hingga hari ketujuh, aku tidak makan sama sekali. Berat memang. Tapi karena tekad yang membaja, semua hambatan ltu seakan tidak ada artinya. Bersamaan dengan puasa itu, aku juga harus wiridan ayat dan doa-doa tertentu setiap selesai shalat. Nah, saat mewirid Hizb Nashr itu ada keanehan.

 

Dari hidung, mata dan pori-poriku keiuar darah. Tapi anehnya, aku tidak merasakan sakit. Menurut penjelasan yang kudengar, katanya, darah itu keluar sebagai akibat dari suhu panas dalam badanku yang meningkat saat merapal wirid Hizb Nashr. “Kamu tidak usah khawatir. Itu tidak berbahaya. Kalau ingin menghentikannya, bacalah al-Qur’an, maka darah akan terhenti dengan sendirinya.” kata guru memberi wejangan sebelum aku memulai lelakon Hizb Nashr.

 

Aneh memang. Darah tidak lagi keluar dari hidung, mata dan pori-pori begitu kubacakan al-Qur’an. Entahlah mengapa hal itu bisa terjadi. Waktu itu aku tidak begitu mempedulikan. Aku hanya ingin menguasai Hizb Nashr, tanpa banyak mempertanyakan keanehannya.

 

Hizb Nashr hanya sebagian dari ilmu kesaktian yang kupelajari. Terkadang, aku harus memasang telinga lebar-lebar di mana ada guru yang sakti di Banten. Bila sudah, dapat ke sanalah aku berguru.

 

Untuk menguasai sebuah ilmu aku pernah wiridan sebanyak dua juta kali. Jumlah yang sangat besar memang. Untuk menyelesaikannya, aku tidak keluar kamar selama empat puluh hari. Mencuci pakaian saja, aku tidak sempat. Aku meminta tolong pada salah seorang temanku. Keluar kamar pun hanya sesekali. itu pun hanya untuk berwudhu. Selebihnya aku duduk bersila diri di kamar dengan terus wiridan.

 

Orang kampung yang lama tidak melihat kehadiranku di tengah-tengah mereka penasaran. Mereka hanya mendengar kabar dari teman-teman bahwa aku sedang lelakon di kamar. Mereka semakin penasaran. Kok lama sekali, kata mereka. Aku memang akrab dengan warga sekitar. Tidaklah mengherankan bila mereka penasaran. Mereka ingin rnasuk, tapi tidak kutanggapi. Pintu tetap kukunci rapat. Akhirnya mereka menjebol jendela kamar. Begitu jendela kamar terbuka mereka langsung lari terbirit-birit.

 

Padahal aku hanva melihat sekilas ke arah mereka. Katanya, mereka melihat seekor macan yang hendak menerkam. Sementara dari wajahku terpancar cahaya yang menyilaukan.

 

Selama wiridan, aku merasakan ada cahaya yang senantiasa menerangi kamar. Siang dan malam, cahaya itu tak pernah redup. Cahaya itu berasal dari sumber yang berbeda-beda. Terkadang, ada cahaya yang berasal dari sinar lampu. Sering kali cahaya iru berganti seperti cahaya bulan. Pada saat yang lain berganti dengan cahaya matahari. Tepat di atas kepala. Wajar memang bila ada yang membuka jendela kemudian terkejut.

 

Selain itu, aku juga sering didatangi orang. Ada yang mengaku guruku. Ada pula yang mengaku sultan Hasanudin atau seoranq cewek setengah badan. Mereka mengajakku dialog, tapi tak pernah kuhiraukan. Kubiarkan mereka bicara semaunya, hanya kutatap sepintas sebelum akhirnya aku larut dalarn wiridan. Bagi orang yang terbiasa lelakon seperti diriku, pemandangan seperti itu bukan barang baru Itu sudah lumrah.

 

Setelalah menyelesaikan wiridan dua juta selama empat puluh hari, dilanjutkan lagi dengan puasa seiama 49 hari. (Yang sedang kupelajari itu adalah ilmu taisir maghrobi dan saiful maslul).

 

Menjadi Dukun Sejak di Pesantren

Lima tahun setengah aku mondok di Banten. Dalam rentang waktu itu banyak ilmu kesaktian yang kukuasai. Ilmu kebal, halimunan (menghilang dari pandangan orang), tenaga dalam maupun ilmur pelet. Khusus untuk ilmu halimunan, sejatinya orangnya tidaklah hilang. Hanya saja, ia tidak nampak di mata orang lain. Seakan ada pembatas transparan yang menutup pandangan mereka. Meski demikian, ilmu halimunan ada pantangannya. Ia tidak boleh dipakai untuk mencuri. Kalau pantangan tersebut dilanggar, maka ilmu halimunan akan hilang.

 

Dari berbagai ilmu kesaktian itulah aku bertahan hidup di pesantren. Terus terang, aku tidak pernah meminta kiriman uang dari orang tua di kampung. Sementara kebutuhanku terbilang besar. Kalau sekadar untuk makan, memang tidak seberapa. Tapi pengeluaranku terbanyak adalah untuk belajar ilmu kesaktian.

 

Untuk menguasai satu jenis ilmu saja dibutuhkan uang yang tidak sedikit. Aku harus membayar mahar yang kadang berupa emas sampai seratus gram. Semakin besar mahar yang diberikan, maka keampuhan ilmunya makin hebat. Hizb Nashr misalnya. Sebelum mulai berpuasa tujuh hari, aku harus menyembelih seekor kerbau. Dagingnya memang dimakan ramai-ramai. Tapi tetap saja, aku harus menyediakannya. Bila belum tersedia kerbau, tentu aku tidak bisa mempelajarinya.

 

Lalu dari manakah aku dapatkan uang? Bagi orang sepertiku, untuk mendapatkanuang tidaklah terlalu sulit. Terlebih aku sudah dikenal sebagai ‘orang sakti’ sejak merantau ke Banten. Entah bagaimana ceritanya, ada saja orang yang datang kepadaku. Macam-macam alasanya.

 

Ada yang ingin diisi tenaga dalam. Ada pula yang ingin belajar ilmu kesaktian atau juga minta dibantu agar cepat dapat jodoh. Dari merekalah aku bertahan. Enaknya mondok di Banten itu satu orang menempati satu kamar. Jadi aku tidak perlu khawatir bila tamu-tamuku mengganggu orang lain.

 

Ada yang datang dari Lampung, Jakarta atau Banten dan sekitarnya. Tidak jarang pula ada yang mengundangku ke rumahnya. Aku sendiri tidak tahu awalnya, bagaimana mereka tahu bahwa aku bisa mengobati.

 

Setelah lima tahun setengah di Banten, aku kemudian merambah ke pesantren-pesantren di sekitar Banten. Ke Cianjur, Bandung, Garut maupun pesantren lainnya. Aku pernah pindah ke sebuah pesantren di Cianjur, Jawa Barat hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Uanq pun hanya cukup untuk bekal perjalanan. Selebih-nya, tidak tahu. Tapi aku yakin bahwa Allah itu Maha Kaya.

 

Waktu menamatkan shahih Bukhari di Bandung pun begitu. Kok, tiba-tiba ada yang datang. Ia minta diajari ilmu kesaktian. Orang tahu saja, kalau aku punya ilmu. Padahal aku tidak bilang apa-apa kepada teman-teman baruku. Dengan modal begitu, aku berkelana dari pesantren ke pesantren lain. Kadang, sampai kelelahan mengobati pasien.

 

Terkadang, ada kiai yang berguru kepadaku. Waktu itu, aku mondok di pesantren yang mengajar kitab fiqh. Kiai yang juga guruku itu pun datang ke kamarku. Ia minta dikasih ilmu kesaktian. Awalnya, aku menolak. Aku merasa tidak enak. Tapi kiai sedikit memaksa. “Mas,” katanya. Kiai memanggilku dengan panggilan Mas. “Mas, kalau tahu dari dulu. Aa belajar sama Mas,” katanya. Kutolak dengan halus, tapi kiai tetap memaksa. Akhirnya aku ajarkan ilmu kesaktian dan pengobatan. Lengkap dengan wirid dan cara puasanya.

 

Perjalanan Menuju Taubat

Tahun 2003, aku berpindah lagi ke sebuah pesantren di Tangerang, Jawa Barat. Tepatnva di pondok Tahfidzul Qur’an. Setelah sepuluh tahun berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, barulah aku bertemu dengan pesantren tahfidz.

 

Aku diingatkan kembali dengan tujuan awal merantau ke Banten. Tak lain, adalah ingin menghafal al-Qur’an. Ternyata selama sepuluh tahun itu, aku belum bertemu dengan pesantren yang tepat. Di sana aku tidak bertahan lama. Karena tidak ada teman seusiaku yang juga menghafal al-Qur’an. Kebetulan, saat itu ada seorang teman menunjukkan sebuah lembaga tahfidz di Jakarta yang pesertanya bukan lagi anak-anak. Rata-rata mereka sudah lulus SMA.

 

Kuputuskan untuk bergabung bersama mereka. Nah, di lembaga tahfidz tersebut, wawasanku tentang keislaman mulai terbuka. Aku mulai banyak membaca sirah nabawiyah atau buku-buku lain yang mengupas keghaiban.

 

Hatiku tergugah, ketika aku merenungkan firrnan Allah SWT. dalam surat al-Jin ayat enam. Kubaca berulang-ulang. Kuresapi artinya secara mendalam. Hingga akhirnya aku menarik kesimpuian bahwa apa yang kupelajari selama ini ternyata menyimpang dari tuntunan. Ayat keenam dari surat al-Jin mengatakan bahwa ada beberapa orang manusia yang meminta bantuan kepada jin, dan itu hanya menimbulkan penderitaan semata.

 

Padahal ilmu kesaktian yang kupelajari selama sepuluh tahun itu tidak terlepas dari bantuan jin, Misalnya ketika wiridan dua juta itu, aku menggunakan apel jin atau kemenyan yang dibakar. Kutaruh apel jin didepan tempat duduk. Lain kali, aku juga menggunakan hio seperti yang digunakan orang Cina. Aku membaca wiridan dengan kemenyan mengebul. Selain itu, aku baru menyadari bahwa ada sebagian doa yang kubaca adalah doa permintaan bantuan kepada jin. Meski lafadznya berbahasa Arab. Tapi tetap saja doa itu terlarang.

 

Sejak itu, aku menghentikan wiridan-wiridan yang biasa kubaca setiap saat. Kuganti dengan ayat-ayat al-Qur’an, yang menyejukkan jiwa. Selama mempelajari ilmu kesaktian hingga saat menghafal al-Qur’an aku memang tidak merasakan adanya gangguan secara fisik maupun psikis. Tapi hal itu hukan berarti dalam diriku tidak ada jinnya. Aku memiliki sekian banyak jin sebagai hasil dari wiridan dan puasa yang kulakukan. Jin-jin tersebut yang membantuku dalam pengobatan.

 

Aku yakin, ketika ilmu Kesaktian tidak lagi kuasah dengan membaca wiridan-wiridannya, maka ilmu tersebut secara pertahan akan menghilang. Seperti pisau yang tidak pernah diasah, maka pisau tersebut makin lama makin tumpul. Untuk itu, aku senantiasa melakukan penjagaan diri dengan membaca doa-doa perlindungan maupun mendengarkan kaset ruqyah terbitan Ghoib. Tidak lupa pula aku senantiasa melakukan ruqyah mandiri dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah kuhafal.

 

Alhamdulillah, setelah tiga tahun di lembaga tahfidz, aku berhasil menyelesaikan setoran hafalan. Kini, tinggal bagaimana aku bisa membagi waktu agar hafalan al-Qur’an tidak menguap begitu saja. Praktek perdukunan itu telah kutinggalkan di belakang. Kini, jika ada  pasien yang datang berobat, aku tidak lagi menggunakan ilmu-ilmu kesaktian  yang pernah kupelajari selama sepuluh tahun. Tapi justru aku meruqyahnya dengan ayat-ayat al-Qur’an maupun hadist yang shahih.

Dalam beberapa kesempatan aku juga diundang mengisi kajian membongkar kesesatan ilmu kesaktian yang selama ini sebagiannya diajarkan di pesantren.

ghoib ruqyah syar’iyyah

Al-Iman bil Ghoib; Edisi 87 Agustus 2007

“Tidak Sembarang Orang Bisa Mendapatkan Hikmah”

 

  1. Abdul Wahid Ghazali, S.Ag

(Pimpinan Pondok Pesantren “Assalam”, Malang, Jawa Tirnur)

Kerancuan mengenai pemahaman ilmu hikmah sudah terjadi di masyarakat luas, sejak dahulu Mereka sulit membedakan, mana yang benar-benar orang yang mendapatkan hikmah dari Allah SWT, atau yang gadungan. Tidak sedikit dari mereka telah tertipu oleh orang-orang yang mengaku mendapatkan ilmu hikmah. Bahkan banyak pula, yang telah terjerembab pada ritual-ritual ngawur, tanpa dasar agama.

Untuk membahas lebih dalam mengenai hal ini, Majalah Al-Iman bil Ghoib mewawancarai Gus Wahid, seorang ulama asal Jawa Timur yang pernah berjibaku dalam masalah ini selama berpuluh-puluh tahun. Berikut petikannya.

Apa sebenarya pengertian dari ilmu hikmah yang berkembang di rnasyarakat secara umum?

Kebanyakan di masyarakat’ banyak yang sudah mengutakatik pengertian yang sebenarnya dari hikmah ini secara sembarangan. Pengertian hikmah dalam bahasa Indonesia’ sering diartikan bijaksana, atau suatu akhlaq yang sangat terpuji. Kemudian secara bahasa, ada pengembangan makna secara maknawi dari hikmah ini, yaitu ilmu yang dimiliki oleh seseorang, yang ilmunya itu tidak bisa dipelajari, yang merupakan pemberian langsung dari Allah SWT. kepada orang- yang dikehendaki-Nya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam surat al-Baqoroh ayat 269. Tetapi pada perkembangannya, pengertian ini sering sekali tidak ada batasannya. Contohnya ada seseorang yang mengaku telah memiliki ilmu tertentu, kemudian diyakininya bahwa itu adalah pemberian dari Allah SWT sebagai ilmu hikmah, padahal dalam proses mendapatkannya ada unsur syirik atau sesuatu yang tidak sama seperti apa vang dicontohkan oleh Nabi.

Kalau ada orang yang mengamalkan wafaq, isim, atau azimat tetapi ia mengaku mendapatkan ilmu hikmah, bagaimana ini menurut Anda?

Ya itu sangat tidak tepat, karena berawal dari pemahaman vang salah. Makanva, itu menjadi tugas Majalah Ghoib untuk membahasnya secara tegas. Karena yang kita khawatirkan, nantinya ada orang yang merasa mempunyai ilmu hikmah yang berasal dari Allah SWT. Padahal apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan ajaran Nabi, bahkan tidak ada referensinya dalam al-Qur’an dan sunnah. Mereka mengarang sendiri, seperti penggunaan benda-benda seperti wafaq, isim, atau azimat tadi. Pada aktivitas itulah, jin berperan memberikan masukan atau bisikan-bisikan yang kemuudian dianggap bisikan dari Allah SWT .

Kalau di daerah saya, pengertian orang yang mendapatkan ilmu hikmah bukan hanya sekedar pada cara orang yang.menggunakan benda-benda itu. Tetapi merupakan suatu hasil dari proses yang sebenarnya tidak pernah dicontohkan oleh Nabi. Misalnya seseorang yang bisa menghilang atau bisa terbang’ atau bisa mengetahui sesuatu yang belum terjadi (ramalan). Hal-hal seperti inilah yang sering disebut ilmu hikmah di masyarakat. Mereka lebih menekankan pada hasil bukan pada proses. Meski prosesnya itu terkadang ngawur, jauh dari tuntunan lslam. Seringkali orang terkecoh dengan penampilan seseorang yang mengaku mendapatkan ilmu hikmah. Orang yang mendapatkan ilmu hikmah sering di identifikasikan sebagai orang yang beratribut ustadz, memakai jengggot atau berpakaian ala ulama, dan lainnya. Padahal belum tentu. Bisa saja mereka mendapatkan ilmu hikmah tersebut, dengan cara-cara yang salah.

Kalau begitu bagaimana cara membedakan, antara orang yang benar-benar mendapatkan hikmah, dengan orang yang mengaku mendapatkan ilmu hikmah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan Nabi?

Kita bisa membedakannya dari prilaku orang itu. Jika prilakunya itu tidak sesuai dengan syari’at dan sunnah Rasulullah SAW, pasti itu bukan hikmah yang dimaksud dalam al-Qur’an. Apalagi jika orang itu menjalankan aktivitas sihir dan sejenisnya. Kita harus hati-hati benar tatkala ada yang mengaku atau diberi gelar mempuyai ilmu hikmah. Kita harus tahu amalan yang dilakukan orang tersebut. Bagaimana ia mengajarkannya kepada orang lain. Seperti bacaannya saat ia berhadapan dengan orang lain. Kita harus telaah, apakah amalan yang dibacanya itu pernah diajarkan oleh Nabi atau tidak. Atau juga jumlah amalan yang mereka baca, apakah sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab yang namanya hikmah itu adalah dalil. Berapa banyak kata hikmah terdapat dalam al-Qur’an, yang kurang lebih artinya adalah sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan hokum-hukum dalam lslam. Kalau tidak sesuai dengan itu, maka amalan orang itu sesat. Orang yang mendapatkan ilmu hikmah yang tidak sesuai dengan Nabi, biasanya suka meramal orang. Belum ditanya, sudah tahu masalah orang. Cara kerja mereka itu, ada yang memang mendapatkan bisikan dari jin, ada juga yang memang ngawur.

Dulu ketika saya masih jadi dukun, sering saya padukan antara bisikan dengan ngawur atau improvisasi, ditambah ilmu psikologi sedikit (tertawa). Sementara ciri-ciri orang yang mendapatkan hikmah atau karomah dari ibadahnya, ia tidak akan seperti mereka. Kadang-kadang orang-orang shalih itu, jika mendapatkan sebuah peristiwa yang diluar kekuataan manusia, ia malah menyembunyikan hal itu. Dari fisiknya, orang-orang shalih akan terlihat berusaha menjauhi perkara-perkara yang tidak berguna seperti merokok. Tidak mungkin kukunya panjang. Mereka rambutnya rapi, tidak gondrong yang acak-acakan.

Baru-baru ini saya sangat menyayangkan pernyataan dari seorang ulama dalam sebuah acara di Malang. Ulama itu membahas tentang Syekh Siti Jennar. Katanya, Syekh Siti Jennar itu adalah seorang wali yang melanggar etika wali. dimana etika wali itu adalah tidak boleh menceritakan ilmu hikmah (peristiwa) yang belum terjadi. Syekh Siti Jennar itu menurutnya menceritakan ilmu hikmah yang dimilikinya, akhirnya Syekh Siti Jennar dihukum bunuh. Lah, saya tidak setuju dengan cerita ini. Yang pertama saya masih mempertanyakan apakah Syekh Siti Jennar itu ada atau tidak. Kalau pun ada, yang sudah berkembang di masyarakat bahwa aliran dari Syekh Siti Jennar itu adalah wihdatul wujud. Kalau orang Jawa bilang manunggaling gusti-ia telah menjadi satu dengan Tuhan. Menurut saya pemahaman wihdatul wujud itu tidak benar.

Sebenarnya bentuk ritual apa saja yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan ilmu hikmah yang cara-caranya tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW?

Bentuk bentuk ritualnya biasanya sangat menyiksa diri. Biasanya mereka memakai dalil, “Siapa yang bersungguh-sungguh, maka itu untuk dirinya sendiri.” Tetapi dalam ritualnya ini tidak dengan dasar ilmu yang baik. Mereka biasanya berpuasa selama bertahun tahun, tidak pernah buka. Bahkan saya pernah menemukan seseorang yang menjalankan ritual, pada hari tasyrik pun puasa. Saya ingatkan dia mengenai hal itu. Ia jawab, “Gus, saya hari ini tidak niat puasa, tetapi saya tidak makan saja.” Jawabannya membingungkan. Alhamdulillah, sekarang orangnya sudah taubat. Sengaja saya tidak beberkan secara jelas di sini, karena takut nanti ada yang melaksanakannva. Selain amalan seperti tadi, ada juga amalan yang berupa bacaan. Saya ingatkan kepada mereka, kalau berdoa redaksinya harus benar. Dan meminta hanva kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain. Karena di Jawa sudah banyak beredar doa yang bukan menvebut Allah SWT, tetapi menvebut nama Jin. Pemah juga saya menemukan orang yang rnelakukan ritual di sebuah pulau. Di sana rnereka berdzikir, puasa, makan dari apa yang ada dis sana, mengasingkan diri, tidak bermasvarakat. Padahal pulau itu pulau hutan lindung. Seteiah kita tanya alasanya, jawabannya karena ia merasakan ketenangan hati. Padahal dalam Islam cara-cara seperti ini tidak dibenarkan. Karena orang diluar lslam juga bias merasakan ketenangan lewat bertapa seperti itu. Begitu juga dengan orang yang memakai narkoba, mereka pun merasakan ketenangan sesaat. Jadi di dalam lslam, ketenangan yang dicari sifatnya tetap, bukan sementara. Ritual-ritual seperti ini, lebih mendahulukan nafsunya.

Nyatanya orang-orang seperti ini sering mengaku mendapatkan kekuataan atau bisikan ghaib. Mereka bisa mengobati, bisa meramal. Darimana sebenarnya mereka mendapatkan kekuatan itu?

Wah itu pasti dari syetan. Tidak nungkin dari Allah SWT. Kita telusuri beberapa kitab yang terpercaya, di dalamnva kira ketemukan bahwa pengertian hikmah itu adalah kepahaman kepada agama, dengan kecerdasan dalam mengamalkannya sesuai dengan syari’at.Allah SWT. Sementara amalan-amalan yang salah itu, pasti ada peran dari jin.

Sejak kapan sebenarnya ilmu hikmah ini mulai berkembang?

Saya sendiri tidak begiru tahu secara pasti. mungkin saja sejak berkembangnya ilmu sihir dimasa lalu. Kebanyakan mereka yang mempelajari ilmu hikmah itu, salah dalam memahami peristiwa Nabi Khiddir dan Nabi Musa. Mereka menganggap bahwa Allah SWT, rnengunggulkan Nabi Khiddir atas Nabi Musa, jadi setiap manusia bisa seperti Nabi Khiddir. Mereka menganggap bahwa hikmah bisa mengalahkan syari’at. ini jelas pandangan yang keliru. Ilmu-ilmu hikmah yang salah itu, biasanya miskin referensi. Tidak jelas tinjauan ilmiahnya.

Apakah benar wali songo itu mengembangkan mengembangkan Islam dengan mengamalkan ilmu hikmah?

Yang harus kita yakini, mereka adalah wali-wali Allah yang memiliki kedalarnan ilmu, yang kemudian diberi penjagaan oleh Allah SWT. Mereka mendapatkan hikmah karena mereka mujahid dakwah. Ketika kita mernahami tentang wali songo. Ada beberapa cerita khurafat (rnengada-ada) yang harus kita luruskan, karena itu tidak benar. Contohnya proses mencari ilmunya Sunan Kalijaga. Dikisahkan bahwa Sunan Kalijaga yang memiliki nama asli Raden Said,  rnerampok untuk  menolong orang. Suatu saat ia juga merampok seorang sunan lainnya, kemudian sunan yang dirampok ini rnenunjuk suatu buah, kemudian buah itu menjadi emas. Akhirrrya Raden Said ini takjub dengan sunan itu dan berguru kepadanya.

Cerita ini wajib kita tolak. Apalagi ketika dikisahkan bahwa Raden Said dalam menuntut ilmu agama hanya disuruh duduk saja dipinggir kali selama bertahun-tahun, sarnpai tongkatnya rnenjadi pohon yang lebat.  Tiba-tiba Raden Said ini menjadi wali yang bernama Sunan Kaiijaga. Cerita ini wajib kita tolak dan saya selalu menjelaskannya seperti ini. Raden Said itu  pernah belajar kepada seorang sunan (Sunan Bonang) yang pesantrennya berada di pinggir sungai, Raden Said belajar lama di sana selama bertahun-tahun dengan benar. Kalau ada orang yang belajar ilmu Sunan Kalijaga dengan hanya bertapa dipinggir sungai, nanti ia akan menjadi seorang Sunan Jogokali (penjaga kali).

Kalau begitu, apa sebenarnya hikmah yang dimaksud dalam al’Qur’an?

Kalau di dalam al-Qur’an diielaskan bahwa orang yang mendapatkan hikmah itu adalah orang-orang shalih seperti para Nabi dan Rasul. Ada juga seseorang yang bukan nabi, tetapi mendapatkan hikmah yaitu Lukman. Dengan syarat-syarat tertentu, bahwa orang yang mendapatkan hikmah itu adalah sebuah hasil dari amalan yang istiqomah, yang berdasarkan ilmu syari’at. Dan sangat kuat memegang sunah-sunah nabi. Maka, Allah SWT akan memberikan kecerdasan kepadanya. Generasi sekarang, bisa saja orang mendapatkan hikmah, dengan memahami ilmu agama dan mengamalkannya dengan benar. Tanpa dicampuri oleh perbuataan yang melanggar syari’at seperti amalan-amalan yang menyimpang. Wallahu a’lam

 

ghoib ruqyah syar’iyyah

Sakit di Kaki Selama 7 Tahun yang Tidak Terdeteksi Medis

Malam itulah awal dari keanehan demi keanehan terjadi dalam hidup saya. Pada saat jam menunjukkan pukul 01.30 malam, saya merasa ada yang membangunkan. Terasa betul kaki saya dipukul-pukul agar bangun. Hanya saja, saya berfikir untuk menunda bangun. Saya pikir yang memukul kaki saya adalah teman saya yang tidur di samping saya. “Ya nanti dululah …” kata saya. Karena saya dipukul lebih keras, akhirnya saya bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Saya melihat di kamar itu ada makhluk seperti manusia tetapi pendek botak dan berkulit putih. Pakai baju kotak-kotak merah putih dengan celana pendek hitam. Tapi saya tidak bisa melihat matanya.

Saya orang Pekanbaru asli. Sebagai orang kelahiran sana, saya menamatkan SD, SMP, SMA di Pekanbaru. Sedangkan kuliah, saya mengambil D3 Akademi Perawat di Padang. Setelah tamat saya ingin melanjutkan S1 di UI Jakarta atau Unpad Bandung. Ujian masuk FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) Unpad dilaksanakan lebih dahulu dibandingkan UI. Selesai ujian, saya segera menuju Jakarta untuk mengikuti ujian masuk FIK UI Salemba Jakarta.

Di Jakarta saya menginap di rumah sepupu saya di komplek Taman Mini, Jakarta Timur. Rumahnya tidak luas. Kamar yang saya tempati berukuran 3×2 meter. Tempat tidurnya ukuran single. Di kamar itu ada satu lemari, satu meja belajar, jendela menghadap ke jalan dan tempat tidur di samping jendela. Malam itu saya tidur di samping jendela. Malam itu saya tidur bersama teman saya dari Padang yang juga akan ikut ujian di UI pada fakultas yang sama. Karena tempat tidurnya sempit, maka kami tidur saling miring.

Sementara di ruang depan, empat saudara laki-laki saya asyik menunggu jadwal pertandingan final piala dunia 1998 antara Brazil dan Prancis yang bertepatan dengan malam Sabtu, dimana keesokan harinya saya mengikuti tes UMPTN/SPMB. Sebelum tidur, saya sempat berdoa agar bisa bangun malam untuk shalat tahajud dan berdoa.

Malam itulah awal dari keanehan demi keanehan terjadi dalam hidup saya. Pada saat jam menunjukkan pukul 01.30 malam, saya merasa ada yang membangunkan. Terasa betul kaki saya dipukul-pukul agar bangun. Hanya saja, saya berfikir untuk menunda bangun. Saya pikir yang memukul kaki saya adalah teman saya yang tidur di samping saya. “Ya nanti dululah …” kata saya. Karena saya dipukul lebih keras, akhirnya saya bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Saya melihat di kamar itu ada makhluk seperti manusia tetapi pendek botak dan berkulit putih. Pakai baju kotak-kotak merah putih dengan celana pendek hitam. Tapi saya tidak bisa melihat matanya. Dia bicara, “Katanya mau shalat …?”

“Iya, mau shalat.”

“tapi mengapa dibangunkan tidak bangun-bangun.”

“Iya, ini saya mau shalat.”

“Ya udah, shalat yah.”

“Iya …”

Setelah dialog itu, dia berbalik dan menembus dinding. Melihat kejadian itu, saya baru merasakan ketakutan dan berteriak sekeras-kerasnya. Teriakan saya ternyata mengejutkan saudara-saudara saya yang sedang menonton di ruang keluarga yang ada di samping kamar saya. Teman di samping saya juga langsung terbangun. Saya keluar kamar. Di pintu berpapasan dengan sepupu saya yang mendobrak pintu, “Ada apa?” Saya jawab, “Saya lihat hantuuuu … Sssa … saya sempat ngobrol sama dia,” kata saya terengah-engah.

Jawaban saya dijawab dengan tawa saudara-saudara yang lain. “Kok, lihat hantu bisa bicara?” Sepupu saya yang masih di pintu marah mendengar saya jadi bahan tertawaan. Katanya, “Di sini memang ada hantunya. Biasanya dia datang kepada tamu yang baru. Tapi biasanya yang datang baik-baik.”

Akhirnya kakak-kakak yang lain nampak lebih serius dan bertanya, “Memang dia suruh kamu apa?”.

“Suruh shalat,” kata saya.

“Tuh kan, benar. Dia baik,” timpal sepupu saya lagi. Teman saya yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan saya dengan sepupu saya justru jadi ketakutan.

Sabtu pagi itu, saya harus berjuang untuk tes masuk FIK di UI. Pada hari Minggu saya berangkat lagi ke Bandung. Pengumuman tes menyatakan bahwa saya lulus di dua universitas Unpad dan UI. Hanya saja saya memilih Unpad karena orang tua melarang saya tinggal di Jakarta, mengingat tahun 1998 adalah tahun kerusuhan lengsernya presiden.

Di Bandung, saya tinggal di Cikutra dekat dengan taman makam pahlawan. Saya tinggal di rumah yang berada di dalam gang yang tidak bisa masuk mobil. Untuk mencapai rumah, jalannya naik. Tetapi rumah itu sangat luas. Halamannya lebar dan pohonnya besar ada pohon jambu air, bunga sedap malam bahkan kadang kelinci pun ada. Tetapi rumah tersebut terkesan pengap karena sinar matahari tidak bisa menembus daun dan ranting pohon yang besar. Di depan rumah ada masjid.

Rumah itu terdiri dari dua lantai. Rumah itu sengaja disediakan untuk dijadikan kos-kosan. Ibu kosnya juga tinggal di rumah itu. Saya tinggal di kamar utama yang sangat luas di lantai bawah. Sementara di lantai atas ada 8 mahasiswa laki yang tinggal, termasuk kakak ipar saya.

Bulan itu adalah bulan Agustus. Malam pertama saya tinggal di rumah itu saya lalui biasa saja. Pada malam kedua, makhluk botak yang pernah saya lihat di Jakarta datang lagi. Setelah itu, kemunculannya terhitung sangat sering. Setiap saya berdoa sebelum tidur untuk bisa bangun di malam hari, dia selalu muncul. Padahal dalam satu minggu saya bisa empat kali berdoa untuk bisa bangun malam. Maka setiap itu pula dia muncul dengan wajah dan penampilan persis seperti kemunculannya yang pertama.

Tetapi ada sedikit perbedaan pesan makhluk itu. Sejak saya tinggal di Bandung, pesan makhluk itu ditambah, “Dena, kamu pakai jilbab! Ingat kan kamu dilihatin orang waktu naik angkot di Padang. Ingatkan, waktu kamu ujian di Bandung, orang-orang ingin nyubitin kamu. Sudah saatnya kamu menutup aurat!.”

Saya sangat takut. Akhirnya saya menulis surat untuk ibu di Pekanbaru. Saya sampaikan bahwa melihat makhluk aneh. Saking takutnya saya mengirim surat dengan isi yang sama dua kali seminggu dalam rentang sebulan. Akhirnya ibu menelepon langsung menanyakan keadaan saya. Ibu sempat bertanya bagaimana bentuk makhluk itu. Beliau menasehati saya agar berpikir yang matang, agar tidak memakai jilbab hanya karena menuruti pesan makhluk itu. Ibu hanya berkata mungkin saya tidak pernah  mengaji atau lupa berdoa sebelum tidur. Selain itu, ibu juga mengirim surat dalam amplop coklat yang berisi doa-doa untuk melindungi saya. Yang saya ingat, doa perlindungan itu berupa bacaan surat al-Insyirah sebanyak 40 kali dan kalau shalat tahajud baca surat al-Kafirun pada rakaat pertama serta al-Ikhlas pada rakaat kedua. Saya menuruti nasehat itu, tetapi tetap saja makhluk itu datang.

Karena makhluk itu selalu berpesan sam dan mengingatkan saya pada dua peristiwa, saya mencoba mengingat dua peristiwa, saya mencoba mengingat dua peristiwa itu. Memang, saat saya di Padang ada KKN. Di angkot, saya memakai baju putih pendek dan rok putih pendek. Saya sempat mendengar omongan orang-orang di angkot melihat saya dalam bahasa Minang yang kalau diindonesiakan, “Anak itu putih banget, kayak ubi.”

Adapun ketika masuk ruangan di Unpad Bandung, waktu saya memakai celana panjang dengan lengan pendek warna hijau yang sampai sekarang masih saya simpan. Selesai ujian, teman-teman berkata, “Dena, besok-besok kamu pakai lengan panjanglah, orang-orang pada lihatin lengan kamu yang sangat putih dan pinginnya nyubit aja.”

Kegelisahan dan ketakutan saya bertambah. Tidak hanya menulis surat ke Pekanbaru, saya kali ini langsung menelepon ibu di rumah. Akhirnya karena saya sering mengirim surat dan menelepon ke rumah, orang tua di rumah menjadi gelisah juga.

Suasana rumah yang seperti itu membuat saya tidak betah. Hanya sekitar dua bulan saya tingal di rumah itu, untuk kemudian pindah rumah ke Cileunyi. Saya tinggal di rumah itu, bersama kakak saya yang juga kuliah di Bandung. Setelah tiga bulan di rumah itu saya mulai memakai jilbab. Tentu saja saya memakai jilbab bukan karena perintah makhluk itu. Saya sudah berniat memakai jilbab sejak aktif di pengajian SMA. Tetapi untuk memakai jilbab, saya perlu perjuangan yang tidak ringan. Karena semua kakak-kakak saya yang laki-laki melarang untuk memakai jilbab. Katanya saya masih kecil. Tetapi ibu mendukung jilbab saya. Ibu hanya bilang bahwa saya boleh pakai jilbab dengan syarat tidak dilepas lagi. Saya ingat, waktu itu bulan maret 1999 ketika saya pertama masuk ke rumah sakit Hasan Sadikin untuk angkat sumpah sebagai perawat yang biasa dilakukan pertama kali bertugas di rumah sakit. Saya langsung memesan pakaian dinas rumah sakit lengan panjang lengkap dengan jilbabnya. Itulah awal saya memakai jilbab setelah mendapatkan dukungan surat dari ibu. Saya sengaja menyimpannya, agar ketika kelak kakak-kakak komplain saya punya kekuatan dengan surat ibu itu. Tapi justru setelah saya memutuskan memakai  jilbab, kakak-kakak ipar saya dan empat saudara kandung saya yang perempuan semuanya memakai jilbab. Rentang mereka jilbab pun hanya tiga bulan setelah saya memakainya. Dakwah saya waktu itu hanya dengan mengirim fhoto kepada kakak-kakak.

Tetapi, ketika saya bercerita tentang yang sering saya lihat kepada kakak yang tinggal serumah, dia malah menertawakan saya. “Sudah pakai jilbab kok masih ketemu yang begituan.”

Setelah itu saya merasa semakin ketakutan, karena tidak ada yang mau percaya cerita saya. Hanya ibu yang mau merespon cerita saya. Ketakutan saya berpengaruh pada kuliah saya. Pada semester pertama, nilai saya anjlok banget bahkan ada mata kuliah yang tidak lulus. Semenjak itu, kakak saya mulai percaya dan memperhatikan saya. Tetapi dia hanya bisa menasehati agar saya memberitahukan masalah ini ke keluarga di Pekanbaru.

Setelah saya memakai jilbab, makhluk itu tidak datang lagi. Saya tetap shalat malam tanpa dibangunkan oleh makhluk itu. Hal itu berjalan hingga satu setengah bulan. Pada suatu malam mahkluk itu muncul lagi. Kali ini, dia mengucapkan kata perpisahan. “Beginilah kamu dan yang berhak melihat kamu nanti adalah suami kamu.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia membalikan badan dan pergi menembus dinding. Entah mengapa, saya menangis sampai terisak-isak. Sebenarnya tidak ada persaan tertentu. Saya juga tidak paham mengapa saya menangis.

 

Kepergian Makhluk Tinggalkan Sakit Luar Biasa Pada Kaki

Kepergian makhluk itu, meninggalkan sakit yang luar biasa di kaki. Sebenarnya saya telah merasakan sakit kaki ini sejak pertama melihat makhluk itu. Hanya saja sakit yang luaar biasa terasa ketika saya mulai tinggal di rumah baru di Cileunyi. Kalau sakit itu muncul, saya tidak bisa mengetahui persis di mana letak sakitnya. Yang jelas rasa sakit itu ada di sekitar lutut sampai pertengahan betis. Rasanya seperti lumpuh dan sakitnya tak tertahankan. Kaki ini seperti di tusuk-tusuk. Kedua kaki saya tidak bisa digerakkan. Saya selalu menangis dan tidak bisa melakukan apa-apa. Biasanya sakit itu berlangsung sampai setengah jam. Bukan hanya itu, kalau digerakkan tulang kaki saya berbunti seperti bunyi kerupuk dimakan.

Rasa sakit itu datang kapan saja. Saat saya di rumah, di kampus, di rumah teman atau sedang tugas di rumah sakit. Kalau di rumah saya bisa langsung masuk kamar. Yang susah, kalau kambuhnya di dalam kelas. Saya langsung izin untuk meninggalkan kelas dan lari ke kamr mandi. Di kamar mandi saya menahan rasa sakit yang luar biasa. Dua kali saya mengalami sakit itu di kampus. Pernah juga  rasa sakit itu datang saat saya berada di rumah teman di daerah sekitar Sumedang. Teman saya bingung, saya hanya menjawab mungkin kekurangan kalsium.

Semester kedua, saya sempat pingsan di kampus. Saat itu dalam penglihatan saya, ibu dosen yang sedang menjelaskan di depan kelas dalam posisi terbalik, kakinya di atas dan kepalanya di bawah. Karena dosen saya dalam posisi terbalik seperti itu, maka saya pun beberapa kali memiringkan kepala untuk mengimbanginya. Teman saya dari Aceh bertanya, “Ada apa Den?” Saya jawab, “Tahu tuh ibu, kebalik-balik.” Mendengar jawaban saya, dia melihat saya keheranan, “Ini anak sadar nggak sih?” Hanya itu yang saya ingat dan setelah itu saya tidak sadarkan diri.

Saya dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Menurut analisa dokter saya mengidap penyakit Hipokalsemia (Kekurangan kadar kalsium dalam darah), waktu itu kadar kalsium memang rendah, hanya 3,8 mgr/dl padahal normalnya adalah 11 mgr/dl. Saya sempat memberitahukan dokter tentang nyeri yang luar biasa pada kaki saya. “Oh iya pantas, kamu ini kekurangan kalsium.” Kemudian dokter memberikan suntikan kalsium. Reaksinya cepat terlihat. Kalsium saya tinggi kembali. Tapi anehnya, kaki saya tetap sakit padahal kalsiumnya sudah normal kembali.

Yang sulit buat saya adalah tidak tempat bercerita. Hanya teman akrab saya yang dulu bersama-sama ujian masuk ke UI dan dia diterima di UI. Kita sering telepon. Hanya saja Allah cepat memanggilnya. Dia sakit penyumbatan pada pembuluh darah. Lagipula, saya tidak mau bercerita tentang penyakit saya kepada orang lain. Takut dikatakan orang penyakitan.

Setelah pemeriksaan dokter itu, saya tidak puas. Dua bulan setelah itu, saya memutuskan untuk general chek up di sebuah klinik di daerah Cibiru. Ternyata hasilnya normal. Akhirnya saya hanya bisa pasrah dengan sakit di kaki saya ini. Saat saya KKN di daerah Majalengka rasa sakit di kaki sering kambuh. Kemudian saya minta pindah dan mendapatkan daerah di Sumedang. Sakit di kaki saya terus berlanjut. Saya hanya bisa pasrah.

Sampai akhirnya saya lulus bulan November tahun 2000. Pada bulan Desember, saya kembali ke Pekanbaru. Kakak nomor dua yang tinggal di Batam mengajak saya jalan-jalan liburan ke Cina, Hongkong, Thailand dan Malaysia. Tetapi saya tidak menikmati sama sekali perjalanan itu, karena rasa sakit di kaki yang luar biasa. Saya tidak menceritakannya kepada kakak. Kalau sakit itu datang, saya hanya meringis untuk menahan agar jangan sampai menangis. Saya tidak ingin mengecewakan kakak yang telah mengajak saya. Dari foto-foto perjalanan bisa dilihat dari wajah saya, betapa saya menahan rasa sakit.

Pertengahan  Januari saya sudah sampai di Indonesia lagi. Seminggu setelahnya, kakak yang nomor enam menikah. Saat kakak melangsungkan akad nikah, rasa sakit pada kaki kembali kambuh. Tadinya saya pikir ini karena kecapekan. Saya memang baru sehari ini sampai. Ibu yang mengetahui sakit saya, tidak terlalu khawatir. Dan penyakit itu pergi dengan sendirinya.

Awal Februari, saya dipanggil interview untuk kerja di Akper Muhammadiyah. Sepulang dari interview, saya kembali kesakitan. Ibu berkata, “Paling kamu terlalu lama duduk dan menunggu, apalagi kamu nyetir mobil sendiri.” Saya pun tidak ke dokter lagi karena sudah hopeles.

Alhamdulillah saya diterima sebagai tenaga pengajar. Kambuh pertama setelah bekerja tejadi pada bulan Mei. Sakit yang sangat luar biasa samapai saya hanya bisa menangis. Saat itulah ibu baru ngeh bahwa ada sesuatu pada diri saya. Abang-abang menyarankan agar saya dibawa ke rumah sakit untuk rontgen. Tapi ternyata hasilnya bagus.

Sampai akhirnya, teman kerja saya di Akper bercerita bahwa dia punya kenalan yang pernah berobat ke orang pintar di daerah Bangkinang. Orang itu menyebutnya Pak Haji dan masih berumur sekitar 35 tahun. Dan saya pun diajak untuk sekedar melihat praktik Pak Haji.

Sesampainya di tempat praktiknya, saya melihat antrian orang. Metode pengobatannya dengan cara menggigit bagian yang sakit dari tubuh. Jika ada kanker rahim misalnya maka perut pasien itu digigit dan dari mulut si orang pintar itu keluar bongkahan-bongkahan daging. Ketika dia melihat saya, dia langsung bilang, “Kamu harus digigit kakinya, tapi harus izin orangtua dulu.” “Nggaak …!” teriak saya. Saya ketakutan melihat pemandangan pengobatan yang langsung saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Ada orang yang katanya terkena pelet, digigit lehernya dan keluar paku. Terus digigit punggungnya keluar ulat. “Saya nggak sakit, Pak Haji.” Kata saya sambil menghindar keluar dari ruangan.

Sampai di rumah, saya ceritakan pengalaman seharian itu kepada ibu. Ibu langsung marah. Akhirnya saya pergi ke abang saya yang ketiga. “Nantilah kita lihat kebenarannya,” kata abang. Abang saya selanjutnya mencari berita tentang Pak Haji itu. Dia pun mendapatkan berita dari temannya. Katanya kepada saya, “Dena, Pak Haji itu punya jin, dan yang keluar dari mulutnya itu buatan jinnya.” “Berarti nggak benar ya, Bang?” “Nggak.”

Teman abang saya itu menyarankan agar saya pergi ke tempat lain saja yang katanya bebas dari jin dan sesuai dengan Islam. Orang yang akan didatangi itu kerjaan sehari-harinya sebagai tukang parkir di pasar. Malam itu, abang musyawarah dengan ibu dan baapak. “Ya udah, coba aja,” kata bapak memberi izin.

Akhirnya kami pergi bertiga, saya, ibu dan abang. Selepas Maghrib, kami berangkat. Perjalanan cukup jauh. Baru kira-kira pada pukul 20.00 kita sampai di rumah orang itu. Tampak sangat sederhana. Seorang bapak kelaur dengan badan agak kurus memakai celana panjang dan hanya menggunakan kaos. Kami dipersilakan masuk. Begitu masuk rumahnya, bapak itu bertanya-tanya tentang maksud kedatangan kami. Abang yang menceritakan kasus saya. “Ya, kita coba yah. Saya tidak mengobati, tetapi semuanya tergantung yang di atas.”

Dia kemudian masuk ke dapur. Tak lama kemudian keluar sambil membawa sebuah piring dan batu yang diletakkan di atas piring. Mulutnya komat-kamit. Saya hanya mendengar basmallah dan al-Fatihah. Selanjutnya dia berkomat-kamit tanpa bisa saya dengar. Matanya menatap tajam batu itu sambil berkata, “Dena, kamu dulu pernah tinggal di sebuah tempat yang depannya ada sungai, kenun di belakang. Rumahnya berbentuk panggung dan bertingkat.” Saya memang pernah tinggal di tempat seperti itu pada saat KKN di Padang tahun 1997. Selanjutnya dia menjelaskan, “Kaki Dena ini sakit karena pernah melangkahi kuburan dan jinnya marah.” Saya mengulang kembali ingatan, saat-saat itu dan teringat bahwa saya pernah kesurupan waktu itu. Ketika itu saya disembuhkan oleh seorang nenek.

Ibu yang sedari tadi hanya mendengar mulai muncul kekhawatirannya, “Terus bagaimana ini Pak?” “Ya, kita obati.” Dia memberikan resep agar kita membuatnya sendiri dari tawas, jahe dan timun suri. Timun suri diparut dan dicampur dengan tawas serta jahe yang telah dihancurkan. Setelah diperas kemudian dibalurkan di kaki pada malam hari. Semua itu harus dilakukan selama empat puluh hari setiap malam. Seminggu pertama, sempat terasa enak. Yang saya rasakan selama dibaluri adalah dingin. Tetapi hari setelahnya rasa sakit itu datang lagi. Ibu pun menelepon tukang parkir itu, “Terusin saja sampai habis empat puluh hari,” nasehatnya.

Empat puluh hari berakhir, dia datang dan menanyakan keadaan saya. Saya jawab saja bahwa penyakitnya tidak berkurang. “Ya udah, kalau gitu saya harus pergi dulu mencari obatnya.” Beberapa hari kemudian dia datang lagi dengan membawa daun-daun kering untuk diseduh dan kemudian diminum. Saya pun melakukannya. Ternyata juga tidak banyak bermanfaat, padahal pengobatan kedua ini juga dilakukan sebanyak empat puluh hari.

Saya mulai bosan. Delapan puluh hari sudah saya tersiksa dengan cara pengobtan seperti itu. Saat itu dia datang menasehati agar saya tidak bosan dan meneruskan proses pengobatan. Dia berbisik pada ibu, “Sebetulnya, entah bagaimana Dena ini dibuntuti terus oleh dua jin laki dan perempuan …” “Kalau mau sembuh, kita harus tanya apa maunya dua jin itu. Caranya Dena harus bangun malam hari kemudian mengaji sendiri dalam keadaan gelap dan hanya boleh ada lilin untuk baca. Nanti dia hadir dalam ruangan itu.” Saya langsung membayangkan betapa menakutkan dan saya pun menolak. “Ya udahlah Pak, jangan dipaksa kalau tidak mau,” pinta ibu saya. “Tapi kalau begini terus dia nggak akan sembuh. Dua jin itu baik kok,” katanya meyakinkan. Tapi saya tetap bersikukuh untuk tidak melakukannya. Setelah itu saya tidak pernah melakukan pengobatan sama sekali. Dalam hati saya hanya berkata, kalau sembuh ya akan sembuh kalau tidak saya pasrah saja.

 

Jumpa Ruqyah di Australia Selatan

Bulan Juni 2004 saya berangkat ke Adelaide, Australia. Waktu itu musim dingin. Dan kaki saya lagi-lagi tidak bisa digerakkan. Saya periksa kepada seorang dokter asli Australia di Adelaide. Tetapi dia tidak menyarankan saya untuk rontgen dan hanya melakukan pemeriksaan lab saja. Hasil pemeriksaan dinyatakan normal.

Sampai akhirnya Allah mempertemukan saya dengan Tim Ruqyah dari Majalah Ghoib dalam acara Seminar dan Ruqyah Massal. Setelah mengikuti seminar dan dijelaskan tentang perdukunan, saya merasa bersalah. Berarti selama ini saya pernah datang ke dukun. Selanjutnya saya putuskan untuk minta diruqyah karena sampai malam sebelum diruqyah pun saya kaki saya masih terasa sakit.

Ruqyah dilaksanakan di rumah salah satu mahasiswa Indonesia yang juga sedang mengambil S2. Ketika itu yang diruqyah ada dua orang. Saya dan seorang teman perempuan yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya. Di sebuah ruangan yang cukup luas dengan diantar suami, saya menunggu giliran diruqyah. Karena yang pertama diruqyah adalah teman saya itu. Saya menunggu di ruangan yang sama. Tetapi ketika ayat-ayat ruqyah dibacakan untuk teman saya, justru saya yang mulai bereaksi. Ustadz Achmad Junaedi, akhirnya menangani dua orang sekaligus. Kedua kaki saya tiba-tiba terangkat dengan sendirinya. Saya merasakan panas sepanjang kaki dan sakit sperti ditusuk-tusuk. Seterusnya, ada yang menjalar di tubuh saya dan rasa sakit yang tak tertahankan. Sampai saya berguling-guling dua kali dan mau menendang Ustadz yang meruqyah. Rasa sakit itu menjalar, terus berhenti di pangkal paha dan setiap berhenti terasa sakit. Kemudian berjalan lagi terus dan terus hingga sampai di leher dan kemudian saya muntah. Saya setengah tidak sadarkan diri. Menurut taman saya, ketika ustadz bertanya, “Ini siapa?” saya hanya menjawab “Eh…eeehhh…” dengan suara yang bukan suara saya.

Setelah muntah itu, kaki saya langsung terasa ringan, alhamdulillah. Hanya saya merasakan badan saya lelah sekali seperti habis melakukan pekerjaan berat. Semoga Allah memberikan kesembuhan ini selamanya. Amien.

 

 

Dena,

Mahasiswi S2 di Sebuah Universitas di Adelide Australia

Rubrik Kesaksian Majalah Ghoib Edisi Khusus

Aku Mampu Menerawang Perselingkuhan Suamiku

Senjata makan tuan. Itulah pepatah yang menggambarkan kehidupan Monika (32) seorang artis ibukota. Sebagai seorang ahli terawangan, ia biasa menerawang masa depan atau apa yang sedang terjadi di tempat lain. Juga dengan ilmu terawangan, jin yang dikirim untuk menjaga suaminya, menggambarkan dengan jelas, bagaimana perselingkuhan suaminya terjadi. Dari detik ke detik. Sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan. Monika menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Bekasi. Berikut kisahnya.

Menurut cerita yang kudengar dari orangtuaku, kakek dari pihak ibu tergolong orang  sakti. Ia memiliki kemampuan linuwih untuk membuat aneka keris yang ‘sakti’. Proses pembuatannya pun tidak sembarangan. Diperlukan tirakatan dan lelakon tertentu. Seandainya kakek hidup pada zaman kerajaan tempo dulu seperti Majapahit atau Singosari, tentu ia berhak mendapat sebutan sebagai seorang Empu. Seperti halnya kisah Empu Gandring yang sangat popular di kalangan ahli sejarah.

Beberapa keris dan benda-benda pusaka lainnya ada yang masih tersimpan di rumah nenek. Sepuluh tahun yang lalu, ketika aku menginap di rumah nenek di Cilacap, Jawa Tengah aku mengalami kejadian aneh. Secara naluriah aku merasakan ada keanehan di salah satu sudut ruangan. Aku merasa ada makhluk aneh berdiam di bawah lantai. Dengan reflek kuperintahkan makhluk itu keluar.

“Eh, kamu yang di sana, keluarl” teriakku sambil menunjuk ke bawah keramik.

Dari bawah keramik di kamar 3×4 itu keluarlah sosok hologram setinggi tiga meter. Aku teringat dengan film Aladin. Sosok jin bertubuh tinggi besar keluar dari guci kuno. Sosok hologram itu pun duduk bersila di lantai. Laksana seorang pengawal yang bersimpuh di hadapan rajanya.

“Ada apa kamu mengusirku? Aku sudah lama tinggal di rumah ini,” kata jin tersebut. Aku terkesima. Sama sekali tidak kuduga bila ada yang menyambut seruanku. Aku hanya mengikuti kata hati yang merasakan adanya keanehan di rumah nenek. Orang Jawa bilang rumah nenek itu singup. Hawanya kurang bersahabat.

Mungkin karena usia muda, dengan entheng kuperintahkan jin itu keluar. “Ya sudah, kamu keluar dari rumah nenek,” kataku.

“Tidak bisa. Aku sudah lama tinggal di rumah ini,” kata jin tersebut yang enggan meninggalkan rumahnya. Aku pun terus berdialog. Dengan tetap pada satu keyakinan bahwa jin tersebut harus keluar dari rumah nenek.

Entah mengapa, jin itu kemudian menyerah dengan memberikan persyaratan. “Aku mau keluar dari rumah ini, tapi aku mau ikut kamu saja,” katanya. Aku tidak tahu bagaimana memberikan jawaban atas permintaannya. Tiba-tiba sosok hologram itu telah menghilang dari hadapanku. Ia melayang menembus dinding dan lenyap dari pandanganku.

Aku pun hanya terdiam. Sebuah peristiwa aneh yang belum pernah kualami. Aku masih tidak percaya. Keesokan harinya, ketika diadakan persekutuan kecil (ritual keagamaan Kristen) di rumah nenek, pendeta berkata kepadaku. “Mbak Monika, kamu bisa merasakan apa yang ada di sekeliling kita ini?” karanya lirih.

Aku mengerti maksud pembicaraan pendeta. Aku pun berkonsentrasi sejenak. Kucoba merasakan keanehan yang ada di sekelilingku. Perlahan kusisir dengan mata batinku. Satu persatu kusisihkan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan permintaan pendeta. “Ada burung di bawah lantai. Warnanya hitam,” kataku pelan.

“Ya, itu burung gagak,” seru pendeta. “Terus kamu teliti lagi di dalam sini ada apa saja,” katanya sejurus kemudian.

Aku kembali berkonsentrasi. “Aku melihat peti kecil berbendera. Peti itu sepertinya ditanam, “ kataku tak lama kemudian.

Pendeta itu menyadari bahwa kelak kehidupanku akan banyak bersentuhan dengan dunia ghaib. Aku akan banyak berhubungan dengan dunia jin seperti dirinya. Karena aku bisa melihat burung gagak beserta peti dan benderanya. Sebuah pemandangan yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Ia mengatakan bahwa kemampuan yang kumiliki ini tergolong satu dari tujuh mukjizat. Mukjizat lainnya adalah bisa mendengar suara nyanyian dari surga, bisa ceramah, bisa melihat makhluk dan berkomunikasi dengannya.

Setelah pendeta pulang, tinggallah aku, adikku dan seorang temanku, Dira, yang berdiam di rumah nenek. Jiwa usilku kembali muncul. Kuperintahkan burung gagak tersebut unruk keluar dari bawah keramik. Dalam pandangan mataku, burung itu benar-benar keluar dari bawah keramik. Hanya saja, burung itu tidak bisa dilihat oleh adikku dan Dira.

Kuperintahkan dia meninggalkan rumah nenek, tapi tidak mau. Burung itu terbang ke pojok ruangan. Aku mengejarnya. Kami terus bertarung. Satu dua pukulanku telah menerpa badannya. Burung gagak itu sempat terdesak. la terbang keluar rumah. Dari ujung gang burung gagak itu melempariku dengan bola-bola api. Aku menjerit kesakitan. Bola-bola itu terus menghantam diriku.

Adik dan Dira terperangah. Mereka hanya melihat gerakan badanku yang kesakitan tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya pasrah melihatku seperti orang kesakitan. Kukatakan kepada adik dan Dira apa yang baru saja kualami. Keduanya percaya dengan apa yang kukatakan, meski mereka tidak melihatnya. Bertiga, kami kembali melakukan persekutuan kecil. Kami meminta perlindungan kepada Tuhan dari keburukan makhluk ciptaan-Nya.

Ketika kami sedang dalam kondisi berdoa, yang datang makin aneh-aneh. Ada yang berbentuk pocong. Ia menghampiriku sambil menyeringai. Aku menjerit ketakutan. Sementara adik dan Dira hanya bisa melihat reaksiku. Mereka tidak melihat apa yang kulihat. Bergantian makhluk-makhluk aneh terus menggangguku. Ada raksasa. Ada ular dan macan.

Adlk dan Dira berusaha melindungiku dari terkaman macan dan gigitan ular. Sambil menangis dan berdoa. Tak terasa, pertarungan itu berlangsung hingga jam setengah sepuluh malam. Pertarungan itu terhenti dengan sendirinya, setelah badanku kelelahan. Kemudian aku pun tertidur.

Menjadi incaran jin di kos-kosan

Sejak pertemuan dengan jin di rumah nenek itu, persinggunganku dengan dunia jin terus berlanjut. Aku bisa melihat penampakan bangsa jin, meski orang lain tidak ada yang melihatnya. Kebetulan, sewaktu kuliah aku tinggal di kos-kosan. Di samping lebih dekat dengan kampus juga hemat biaya.

Di tempat kos itulah jin laki-laki, katanya, banyak yang suka kepadaku. Hal ini kuketahui dari jin yang merasuk ke dalam tubuhku. Suatu ketika, aku hendak mandi. Ternyata di dalam kamar mandi sudah ada jinnya. Kuperintahkan dia keluar. Jin itu pun menurut. Namun, beberapa menit berselang, ketukan pintu bertubi-tubi menggangguku. Pikirku dia adalah jin yang barusan kel uar. Ternyata benar. Jin itu enggan tinggal di kamarku. la lebih memilih tinggal di kamar mandi.

Penampakan jin di kamar mandi itu hanyalah satu dari sekian penampakan jin yang kulihat di ternpat kos yang kebetulan banyak kamar kosongnya. Entah mengapa, banyak mahasiswi yang enggan kos di sana. Apakah mereka sering mendapat gangguan dari jin? Aku tidak tahu.

Setelah peristiwa demi peristiwa yang kualami, jadi apa yang menimpaku juga menimpa mereka. Bedanya, mereka tidak bisa berdialog dengan jin seperti dlrlku.

Suatu ketika, aku menderita demam di tempat kos. Sudah berhari-hari suhu panas badanku tidak kunjung turun. Teman-teman yang mulai mengkhawatirkan kondisiku berinisiatif untuk menghubungi orangtuaku. Ketika mama menjengukku di tempat kos, tiba-tiba suaraku berubah. Kata mama, aku kerasukan jin yang mengaku bernama Magdalena.

Katanya, ia merasuk ke dalam diriku, karena ingin melindungiku dari gangguan jin laki-laki yang suka iseng. La pun menyarankan agar aku segera dibawa ke rumah sakit. “Tante-tante, anaknya sudah harus dibawa ke rumah sakit nih. Ini sudah parah.” Saat jin Magdalena berkata begitu, aku sudah tidak sadarkan diri.

Akhirnya mama membawaku ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit itu, katanya, jin Magdalena terus berkomentar macam-macam. Ia mengatakan ini dan itu. sesampai di depan rumah sakit, mama jengkel karena jin Magdalena ngoceh terus. “Kalau kamu mau menolong Monika, kamu harus keluar,” kata mama.

“Ya sudah, aku mau keluar. Tapi syaratnya nanti kuburanku di Petamburan, Jakarta Barat harus ditengok,” pinta jin Magdalena.

Mama menyetujui permintaan jin Magdalena. Begitu menginjak pintu rumah sakit, aku sadarkan diri. Tapi binatang kus-kus peliharaanku langsung mati. Aku tidak tahu apa hubungannya dengan kepergian Magdalena dan kematian kus-kus. Tapi yang jelas, karena ketidakmengertian, akhirnya tiga hari berselang dari kesembuhanku, dengan diantar mama aku mendatangi kuburan yang ditunjukkan jin Magdalena. Masalahnya, nama Magdalena begitu banyak tertera di atas batu nisan hingga kami kebingungan. Kami pun meninggalkan kuburan tanpa tahu di mana makam jin Magdalena.

Menjadi Peramal di Kampus

Perlahan namun pasti, aku mulai memiliki kemampuan menerawang. Aku tidak tahu bagaimana keahlian itu mengalir dalam diriku. Tiba-tiba saja aku iseng ketika ada teman kos yang memajang foto pacarnya di dinding. “Tak lama lagi kamu akan pisah dengan dia,” kataku acuh tak acuh. Rupanya, temanku itu tidak terima. Ia marah dan langsung memukulku. Aku dianggap telah berdoa yang tidak baik. Karena itu, aku diam saja diperlakukan begitu. Karena aku tahu bila dia mencintai pacarnya.

Masalahnya, dalam terawanganku, aku mendapat isyarat bahwa hubungan mereka hanya tinggal hitungan hari. Apa yang kukatakan itu benar adanya. Hubungan mereka putus. Seperti bunga yang layu sebelum berkembang. Dari sini, kemampuan terawanganku menyebar dari mulut ke mulut. Sampai ada yang khusus datang ke kamarku hanya minta diterawang masa depannya. Ia datang menghadapku dengan begitu hormatnya seperti sedang berhadapan dengan seorang dukun. Dia mengatakan bila hubungannya dengan pacar ditentang oleh orangtua pacarnya.

Melihat tingkahnya aku sampai menahan geli. Tapi apa mau dikata. Kucoba konsentrasi sejenak. Gambaran wajah pacarnya pun hadir dalam benakku. “Pacarmu, rambutnya pendek, kulitnya putlh, cakep, …” tanyaku setelah menerawang.

“Benar,” katanya dengan mata berbinar.

“Di antara ruang tamu dan ruang tengah rumahmu ada sekat seperti lemari. Di sebelah kiri ada kamarnya,” kataku lagi. Ia membenarkan ucapanku lalu bertanya. “Gimana,lebih baik dilanjutkan atau tidak?”

Waktu itu aku tidak punya tendensi apa-apa. Kukatakan saja bila pacarnya itu terlalu didominasi oleh ibunya. Tak lama lagi, hubunganmu akan putus. Wanita muda itu mendengarkan ucapanku dengan antusias. Meski aku tahu, dalam hatinya ia sulit menerima apa yang kukatakan dengan tenang. la sudah sekian tahun berpacaran, lalu mengapa harus berpisah?

Beberapa hari kemudian, jawaban dari terawanganku menemukan hasil. Wanita itu, katanya, sudah diputus sama pacarnya. Sang pacar lebih memilih menuruti orangtuanya daripada pilihannya sendiri.

Selain terawangan dengan hasil yang akurat, aku juga pernah dibohongi jin yang memberikan terawangan yang salah. Kisahnya bermula ketika bapakku kehilangan uang dua juta lima ratus ribu rupiah. Sebuah nilai yang tidak sedikit. Akhirnya bapak mengumpulkan dua puluhan orang yang mungkinkan mengambil uang tersebut. Bapak kemudian memintaku menerawang. Siapa di antara mereka yang mengambil uangnya.

Kucoba konsentrasi. Petunujujnya mengarah kepada satu orang yang masih teman bapak sendiri. Bapak kemudian menanyai orang tersebut, tapi dia tidak mengaku. Waktu itu aku sangat yakin dengan terawanganku, maka kukatakan pada bapak. “Cari saja di mobilnya. Mungkin diumpetin di jok mobil,” kataku.

Beberapa orang kemudian menggeledah mobilnya, tapi tetap tidak menemukan hasilnya. Dalam keadaan mata terpejam, jin yang merasuk ke dalam diriku sempat berkata melalui diriku. “Kamu harus jujur. Jangan suka mencuri.” Aku malu bila mengingat kejadian itu. Aku telah mempermalukan orang di muka umum.

Melihat terawanganku tidak berhasil, akhirnya bapak memanggil orang pintar yang kebetulan tinggal tidak jauh dari rumahku. Hasil terawangannya sama dengan terawanganku. Masalahnya orang yang tertuduh tetap tidak mengakui bahwa dia yang mencurinya.

Dua hari kemudian, kepastian uang itu didapat. Ternyata uang dua juta setengah yang diributkan itu masih tersimpan dalam rekening tabungan bapak. Selama ini uang tersebut belum sempat diambilnya.

Menerawang Perselingkuhan Suami

Kebiasaan untuk menerawang masih berlanjut meski aku telah memeluk agama lslam dan menikah. Bedanya, bila dulu terawangan itu kumanfaatkan untuk meneropong orang lain, setelah menikah terawangan itu kupergunakan untuk memonitor suamiku.

Sebagai seorang penyanyi aku menikah dengan seorang artis. Sebut saja namanya Leo. Sebagai istri seorang artis aku sadar memang tidak mudah. Ada banyak godaan yang menerpa suami. Baik godaan dari sesama artis maupun penggemarnya.

Suatu ketika, suamiku sedang syuting di daerah puncak, Bogor. Hatiku mulai tidak tenang. Terlebih lagi suamiku pernah cerita bahwa ada seorang pemain yang suka menggodanya. Kegelisahanku semakin memuncak ketika aku sedang shalat. Entah mengapa tiba-tiba terlintas bayangan suamiku digoda seorang wanita.

Selesai shalat, aku berbicara dengan salah satu jin. “Tolong, jagain dia. Jaga dia dari apapun yang tidak baik,” kataku kepada salah satu jin yang selamaini sering dialog denganku.

Selang sehari kemudian, aku mendapat terawangan bahwa suamiku tidur satu pavilyun dengan pemain wanita yang selama ini menggodanya. Dalam terawangan itu tergambar dengan jelas bagaimana pemain wanita yang mengenakan daster tipis berwarna pink mendekati suamiku. Ia mendekat lalu memeluknya.

Seketika aku terkesiap. Dadaku sesak. Aku merasakana ada sesuatu yang tidak beres di sana. Aku langsung menghubungi adik kandungku yang kebetulan juga ikut terlibat di kegiatan syuting itu. Kukatakan terawanganku apa adanya. Adikku membenarkan bila artis wanita tersebut sering mengenakan daster pink.  “Ada bordernya,” kataku.

“Iya.” Dari balik telepon, adikku membenarkan terawanganku. Katanya, suamiku tinggal satu pavillyun dengan wanita yang suka menggodarya. Namun, mereka tidur di kamar yang berbeda. Sementara ruangan tamu dipakai kru-kru syuting lainnya.

Dadaku semakin sesak. Apa yang kukhawatirkan semakin mendekati kenyataan. Akhirnya, masih dengan hati yang panas, kuhubungi suamiku. Ia berusaha menjelaskan kondisi yang sesungguhnya. Bahwa ia tidak mungkin berhubungan dengan wan ita lain. Terlebih ruangan tamu disesaki oleh kru syuting.

Untuk sementara hatiku sedikit tenang. Tapi bukan berarti aku sudah terbebas dari perasaan cemburu. Sebagai seorang istri wajar bila aku emosi melihat suami didekati wanita lain. Meski  itu hanya ada dalam terawangan. Yang masih menyimpan kemungkinan benar dan salah.

Akibatnya, percekcokan dalam rumah tanggaku tidak lagi terelakkan. Pada satu sisi ketika hatiku tidak tenang, maka kugunakan kemampuan terawanganku. Namun, pada sisi lain, apa yang kulihat dalam terawangan itu disangkal suamiku. Ia tidak mengakui bila telah selinskuh. Hingga suatu ketika, aku harus kembali berpisah dengan suamiku untuk rentang waktu yang cukup lama. Tiga bulan kami terpisah karena jarak. Aku di Jakarta, sementara suamiku di Jawa Tengah.

Saat terpisah itulah hatiku gelisah. Aku tidak tenang. Dalam terawangan itu muncullah dua insan berlainan jenis yang sedang berhubungan intim. Satu orang kukenal dengan baik, karena dia adalah suamiku. Sementara wanita yang bersamanya, sama sekali belum kukenal.

Awalnya, aku tidak percaya. Paling syetan lagi, syetan lagi, pikirku. Tapi ketika terawangan yang sama berulang beberapa kali, aku mulai gelisah. Aku berada dalam kebimbangan antara percaya dan tidak.

Untuk menghilangkan keraguan itu, kuputuskan untuk menemui suami di Jawa Tengah dengan membawa anakku yang baru berumur satu tahun. Firasatku mengatakan, aku harus menjemput suami di tempat kerjanya. Lalu mengajaknya makan di restauran.

Firasat itu kuikuti. Kujemput suamiku di tempat kerjanya. Lalu mengajaknya makan malam di restauran. Saat itu kami mengendarai sepeda motor. Di tengah perjalanan pulang dari restauran. ada seorang pengendara motor yang lerusaha membuntuti kami. Ia terus menguntit kami sambil marah-marah. Ia menyuruh suamiku meminggirkan sepeda motornya.

Karena takut terjatuh, padahal aku sedang menggendong anakku, kusuruh suamiku berhenti sebentar. Pengendara sepeda motor tersebut kemudian menyerahkan selembar amplop berisi foto kepadaku dengan marah. Amplop itu pun langsung dirampas suamiku sebelum sempat kubuka.

Sesampainya di rumah, aku neminta amplop itu dengan baik-baik. Tapi suamiku enggan memberikannya. Berulang-ulang aku memintanya sampai dengan nada yang agak meninggi, ia baru memberikannya.

Amplop itu berisi foto suamiku yang berduaan dengan seorang wanita. Posisi mereka dekat sekali. Seperti amplop dengan perangkonya. melihat foto itu kemarahanku tidak tertahankan. Dengan refl ek kutendang uluhatinya. suamiku terkapar. Ia nyaris pingsan.

Melihat suamiku yang sudah tak berdaya, kucoba nengontrol diri. Kutanyakan siapa wanita itu, tapi ia tetap tidak mau mengaku. Sampai aku mengancamnya. “Kalau suatu saat aku tahu kamu melakukan apa yang sudah kulihat dalam terawanganku, kamu ingat baikbaik, sepuluh kali lipat aku akan melakukan itu. Aku akan melakukannya di depan matamu.”

Ancamanku berhasil. Aku melihat raut mukanya berubah. Satu hal yang menunjukkan bahwa ia telah selingkuh. Beberapa hari kemudian, ia mengakui kesilahannya. Ia menangis sampai bersimpuh di depanku meminta maaf. Dia mengatakan bahwa aku boleh melakukan seperti yang dilakukannya.

Tapi aku tidak bodoh. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama. Aku tidak mau berbuat dosa yang menjijikkan itu. Ancamanku itu hanyalah bagian dari penyelidikanku atas kebenaran terawanganku.

“Kok kamu tidale takut, waktu kamu melakukan itu. Kamu kan tahu siapa aku,” kataku dengan nada bergetar menahan marah.

“Justru itu, pertama kali aku melakukan hubungan badan itu aku menangis. Karena aku yakin kamu pasti tahu,’ katanya dengan suara sesenggukan.

“Tapi mengapa ada dua, tiga dan empat?’ kataku tegas. “Kalau sekali, kumaafkan kamu. Kamu khilaf. Tapi kalau lebih dari dua kali itu kamu bukan khilaf.’ Saat itu aku langsung minta cerai, tapi dia tidak mau. Akhirnya aku menempuh langkah pisah ranjang. Hingga kini sudah hampir setahun aku tidak lagi serumah dengan suamiku. Meski kami belum resmi cerai.

Hatiku benar-benar terluka mendengar pengakuannya. Aku dapat melihat dari awal sampai akhir kisah perselingkuhan mereka. Satu kenyataan yang tidak bisa dilakukan wanita kebanyakan  yang suaminya berselingkuh.

Pertemuan dengan Majalah Ghoib

Pertemuanku dengan tim Ghoib Ruqyah Syar’iyyah (GRS) cabang Bekasi bermula ketika aku sakit kepala yang luar biasa. Selain itu perasaanku sering tidak enak. Tidak ada masalah apa-apa tiba-tiba aku menangis. Lain waktu aku marah tanpa sebab. Kadang-kadang penglihan dan pendengaranku menjadi kabur.

Ada yang mengatakan bahwa atu terkena pelet yang sudah menahun. Bila tidak diobati, katanya, dikhawatirkan aku bisa gila. Akhirnya aku disarankan mengikuti terapi ruqyah di GRS cabang Bekasi.

Setelah diruqyah Ustadz Ahmad dan Ustadz Munif kondisiku makin membaik. Sakit kepala bisa dikatakan sudah sembuh 80 %. Yang lebih penting dari itu, aku tidak lagi menerapkan ilmu terawangan yang hadir dengan sendirinya. Hatiku sudah mantap untuk melepaskan kemampuan yang hanya merugikan diri dan keluargaku. Aku tidak ingin menjadi intip neraka lantaran bekerja sama dengan syetan.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 84/4

Dikejar-Kejar Hantu, karena Belum Melaksanakan Nadzar

Jangan melarikan diri dari nadzar, saat kesempatan untuk melaksanakannya tela terbuka. Karena nadzar itu hutang. Sekali hutang, tetaplah hutang sebelum terbayar. Sampai kapanpun. Begitulah intisari kesaksian Dasiman (seorang pegawai negeri sipil) kali ini. Dua bulan lamanya, ia menerima konsekuensi dari nadzar yang belum dilaksanakannya sejak dua puluh tahun yang lalu. Berikut petikannya.

Jawa Tengah, Agustus 1986

Tahun 1986, aku baru lulus STM. Usiaku baru dua puluhan tahun. Mungkin terbilang telat bagi anak-anak zaman sekarang, lulus sekolah menengah pada usia sepertiku. Tapi bagiku dan teman-teman, itu sudah lumrah. Bukan hal Yang aneh.

Saat itu, untuk mencari pekerjaan di kampung halamanku tidaklah semudah sekarang. Tidak bany ak lapangan kerja yang terbuka bagi pencari kerja di Solo, Jawa Tengah. Mau menggeluti pertanian seperti orangtua, dalam benakku saat itu juga bukan sebuah pilihan awal.

ljazah SMA sudah dalam genggaman. Aku ingin mencari suasana baru. Dunia kerja yang berbeda dengan yang kujalani selama ini, sebagai anak seorang petani. Masalahnya, lapangan kerja yang tersedia tidak memberikan, ruang yang cukup bagiku dan teman-teman.

Aku yang terbiasa pergi pagi pulang siang, menjadi jenuh di rumah seharian. Aku rindu kembali dengan suasana pegunungan. Selama sekolah, aku memang ikut bergabung dengan perguruan beladiri. Setidaknya sabuk hijau sudah dalam genggaman.

Sesekali aku dan teman-teman juga melakukan latihan fisik dengan cara yang berbeda. Ya, dengan mendaki gunung misalnya. Gunung Lawu bukan lagi asing bagiku. Puncak Argodalem beberapa kali sudah kudaki. Gua Nyi Roro Kidul juga pernah kudatangi.

Aku larut dalam kenangan indah di puncak Argodalem. Beratapkan langit, berdinding hamparan pohon pinus. Gelegak darah mudaku kembali menggelora. Hasrat dan keinginan untuk mendaki gunung muncul kembali. Ah, mengapa tidak ke pertapaan Pringgondani saja, pikirku. Bukankah, tempat itu diyakini sebagai tempat keramat? Banyak orang datang ke sana dengan berbagai alasan. Konon, berdoa di pertapaan Pringgondani itu mudah terkabul.

Aku menerawang, jauh ke depan. Membayangkan puluhan tahun ke depan. Masa-masa indah yang kuimpikan. Aku tidak memungkiri bila dalam hati terbesit keinginan yang kuat untuk menjadi pegawai negeri. Entah, mengapa keinginan itu begitu kuat. Rasanya, senang berseragam rapi dan tiap hari ke kantor. Tidak lagi berkubang dengan tanah dan lumpur.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” adzan Dzuhur yang berkumandang dari mushalla menyadarkanku dari lamunan. Aku pun bergegas mengambil air wudhu, membiarkan lamunan pergi sesuka hatinya. Hatiku sudah mantap. Esok aku akan mendaki gunung Lawu kembali. Kali ini tidak sampai jauh menembus ke puncak. Cukup di kaki gunung saja. Tepatnya di pertapaan Pringgondani.

Berbekal dengan sedikit makanan untuk satu dua hari, aku idzin kepada orangtuaku. Seperti biasanya, bapak dan ibu tidak mencegahku mendaki gunung. Mereka hanya berpesan, agar aku lebih berhati-hati.

Aku mendaki dari Grojogan Sewu, menyusuri jalanan setapak yang membawaku ke pertapaan. Sunyi, hening. Hanya kicauan burung dan binatang hutan yang menemani Perialananku. Tiga jam lamanya, kususuri jalanan yang sesekali berlumpur itu. Menyibak perdu yang kadang menghalangi jalan. Kubiarkan duri-duri kecil menyapa lengan, meninggalkan goresan merah di kulit. Hingga akhirnya aku sampai di pertapaan Pringgondani.

Sebuah hamparan tanah lapang. Di sana, berdiri kokoh bangunan pendopo tua. Dikelilingi jajaran pohon pinus. Aku melemaskan otot dengan bersimpuh di atas tanah. Ternyata aku tidak sendirian di tempat itu. Ada sepuluhan orang lain yang juga menjejaki pertapaan Pringgondani. Siang itu, aku hanya berdiam diri di pendopo seluas tiga kali empat meter itu. Aku berbagi tempat dengan para pendaki lainnya.

Malam harinya aku menginap di sana. Karena aku masih ingin menikmati suasana pegunungan yang damai. Jauh dari suasana kebisingan. Meski ada sepuluhan orang di sana, tapi masing-masing tahu diri. Tidak ada yang mengganggu ketenangan. Ada yang duduk bersila dengan tasbih di tangan. Ada juga yang mengelilingi api unggun.

Aku memilih tetap berada di dalam pendopo. Aku ingat bahwa tempat ini memang diyakini sebagai tempat yang mustajab. Artinya, kebanyakan orang yang datang ke sini, rata-rata mencari keberkahan dari pertapaan Pringgondani ini. Saat itu, aku masih sependapat dengan pandangan masyarakat secara umum. Karena itulah, aku memanfaatkan waktu-waktu malam untuk berdoa kepada Allah. Aku memohon, agar dimudahkan mendapat pekerjaan. Secara khusus aku memang berharap ingin menjadi pegawai negeri. “Ya Allah, kalau nanti aku menjadi pegawai negeri, aku akan potong kambing.”

Aku memperkuat doa di malam itu dengan, bernadzar. Aku akan menyembelih kambing, sebagai tanda sukur bila keinginanku itu terkabul.

Merantau ke Jakarta

Sepulang dari pertapaan Pringgondani, aku merantau ke Jakarta berbekal Ijazah SMA dan keyakinan di dada. Aku yakin peluang kerja di Jakarta lebih luas daripada di daerah. Walau tidak mudah, tapi aku yakin peluang itu masih ada. Mungkin ada yang berpendapat, aku nekat. Karena hanya bermodalkan keyakinan pada keagungan Allah.

Hari-hari pertama, aku memang sempat kebingungan, kemana harus melangkah. Tapi aku tidak mau menyerah. Aku bertanya kepada orang-orang yang kutemui, apakah ada yang membutuhkan tenaga. Berkali-kali aku ditolak, tapi tidak membuat nyaliku menciut. Aku tetap yakin bahwa Allah akan menolong hamba-Nya yang sedang dalam kesulitan.

Bagiku saat itu kerja apa saja, tidak masalah. Yang penting halal. Puluhan orang yang sudah kutanya, rata-rata jawaban mereka sama. “Tidak ada lowongan keria, dik.” Hingga aku sampai di sebuah rumah yang lumayan bagus. Aku berharap pemilik rumah itu sedang membutuhkan tenaga kerja.

Allah mengabulkan permintaanku. Aku dipertemukan dengan keluarga seorang pejabat tinggi pemerintahan. Pak Surya namanya. Kebetulan ia sedang menjalani dinas pendidikan. Aku diminta untuk menjaga rumahnya. Dua bulan lamanya, kujalani profesi penjaga rumah yang tak ubahnya seperti seorang satpam. Posturku yang mendukung serta bekal pengalaman sabuk hijau di salah satu perguruan beladiri membuat Pak Surya senang dengan dedikasiku. La pun menawariku mengikuti seleksi pegawai negeri. Dan aku pun diterima.

Dalam hitungan bulan, cita-cita untuk menjadi pegawai negeri itu pun terkabul. Saat itu, aku masih ingat nadzar yang kuucapkan saat di pertapaan Pringgondani. Aku ingat bahwa aku telah berjanji untuk menyembelih kambing. Hanya saja, nadiar itu belum bisa aku tunaikan, karena keterbatasan dana yang kumiliki. Meminta dana ke orangtua juga tidak mungkin. Alhasil, aku berpikir, ah nanti saja potong kambingnya, kalau uang sudah terkumpul.

Menunda-nunda Pelaksanaan Nadzar

Waktu terus merambat.  Aku lupa akan janji di pertapaan Pringgondani. Masalah nadzar kambing sudah, hilang dari ingatanku. Terdepak oleh rutinitas kerja yang menyita waktu dan perhatian. Dari yang semula membujang, hingga menikah pada tahun 1992, nadzar itu tetap belum aku laksanakan. Sesekali memang terlintas dalam benakku, bahwa aku pernah bernadzar tapi ingatan itu kemudian kutepis sendiri, ‘ah nanti sajalah  kalau sudah pensiun’.

Selama bertahun-tahun aku hidup dengan tenang bersama istriku sebelum akhirnya pindah ke rumah kontrakan di Jakarta Timur. Rumah yang kutempati itu, kata tetangga, memang angker. Letaknya saja berdampingan dengan kuburan Cina.

Merinding juga mendengarkan cerita mereka. Tapi Pilihanku saat itu tetap mengontrak di sana. Selain ongkos sewanya yang agak miring, kontrakan itu juga lebih dekat dengan tempat keria. Aku sadar bahwa pilihan ini memang mengandung resiko. Bila kemudian, aku mengalami peristiwa yang berbau mistis, maka itu adalah konsekuensi yang kusadari sejak awal. Nyaris tiap malam, selama dua tahun, selalu ada gangguan. Seringkali aku melihat penampakan sosok tinggi berkulit hitam. Makhluk itu ingin menguasaiku, tapi selalu berhasil kukalahkan.

Seuatu saat, ada penampakan yang menyerupai istriku. Dalam pandanganku makhluk itu persis seperti dirinya. Wajahnya, bentuk rambutnya tidak berbeda. Pakaian yang dikenakannya pu sama. Bagai pinang dibelah dua. Keduanya di pinggir ranjang. Bedanya, satu dari kedua wanita itu menyusui anakku. ltu yang membuatku yakin bahwa yang hanya memandangiku dan anakku secara bergantian itu hanyalah penampakan dari jin.

Kuusap mataku berulang-ulang. Tapi kedua wanita itu tetap di tempatnya. Awalnya, aku khawatir bila itu hanya halusinasi semata. Kucubit lenganku, ternyata aku tidak juga bermimpi. lni nyata. Aku yakin satu di antara mereka ada yang penjelmaan jin. Karena itulah kudekati pelan-pelan wanita yang tidak menyusui anakku. Dan, … bag-bug, bag-bug … kulayangkan tangan menghantam wanita itu. “Mas, Mas, ada apa Mas …” teriak wanita yang menyusui anakku. Ia terkejut melihat apa yang kulakukan, karena ia memang tidak melihat wanita selain dirinya. Aku hanya memukul tempat kosong, tapi dalam benakku aku memukul penjelmaan jin yang langsung menghilang.

“Mas, ada apa Mas?” Tanya istriku lagi. Sedari tadi aku belum menjawab pertanyaannya. “Ada yang menyerupai adik,” jawabku. “Kupukul saja biar dia tidak berani mengganggu lagi.”

Kuceritakan apa bang baru saja kulihat serta penampakan-penampakan lainnya di dalam rumah ini. lstriku hanya mengangguk pelan. la percaya, bila ada yang menyerupai dirinya. Sebab pengalaman di rumah kontrakan itu telah menyadarkan kami bahwa dunia jin memang nyata. Mereka juga sering menampakkan diri dalam bentuk yang bermacam-macam.

Meski demikian, aku bersyukur. Kedua anakku tidak mengalami kejadian yang aneh. Selama ini mereka hidup tenang, seperti anak-anak tetangga. Selain dari gangguan di rumah kontrakan itu, selama ini aku tidak merasakan adanya keanehan lain. Di kantor atau dimanapun aku bertugas. Lantaran itu aku mengambil kesimpulan bahwa rumah kontrakan itu yang angker. Bukan diriku. Logikanya, siapapun yang menempati rumah itu kemungkinan besar akan melihat berbagai penampakan jin.

Ditagih Jin Pertapaan Pringgondani

Tahun 2005, aku ditugaskan ke Bekasi. Kuajak sitri serta kedua anakku. Disanalah, kemudian aku membangun rumah. Usiaku sudah semakin senja, tidak bijaksana bila bolak-balik pindah kontrakan. Setahun setelah menempati rumah baru, ada orang pintar yang menawarkan jasa untuk memagari rumah dari gangguan makhluk halus. Usianya sudah separuh baya dengan gaya bicara yang menarik. Ia mengungkapkan kelebihan-kelebihan ghaibnya.

Setelah berpikir sejenak kupersilahkan orang pintar itu membuktikan ucapannya. Karena aku tidak ingin pengalaman di rumah kontrakan dulu terulang di rumah sendiri. Tiga paku emas dipasang di atas pintu, sementara apel jin dan beberapa sesajen lain ditanam di halaman rumah. Setelah pemagaran rumah itu, aku merasakan ada yang berubah. Nuansanya tidak sesejuk dulu. Perselisihan kecil dalam rumah tangga mulai muncul serta dagangan yang biasa laris, mulai menyusut pelanggannya.

Empat hari setelah Idul Fitri, aku sakit. Suhu badanku menembus 40 derajat celcius. Waktu itu aku berpikir, karena kecapekan saja. Menjelang lebaran kemarin, banyak tugas kantor yang harus diselesaiakan.

Waktu itu aku berobat ke dokter. Namun, kata dokter, tidak ada penyakit berat yang menimpaku. Itu hanya panas biasa. Hatiku tenang mendengar hasil diagnose dokter tersebut. Tapi ketika suhu badan itu tidak jiga turun meski telah berlangsung seminggu, aku mulai khawatir. Siang malam, aku gelisah. Aku seperti orang yang kebingungan. Duduk menetap tiga menit saja, sudah tidak betah. Pindah sini. Pindah sana. Suhu badanku tetap dalam kisaran empat puluhan. Tiap hari aku harus bolak-balik gabnti baju yang basah oleh keringat.

Memasuki hari kesepuluh, mulai terlihat kejanggalan. Aku tidak bisa tidur. Bila hanya karena panas, mungkin hal serupa juga dialami orang lain. Aku tidak kuasa memejamkan mata, karena setiap memejamkan mata, aku melihat berpuluh-puluh binatang hendak menyerangku.

Saat terpejam itu, aku melihat terowongan panjang. Terowongan itu jauh menembus ke hutan. Tepatnya ke pertapaan Pringgondani. Lewat terowongan itulah berpuluh-puluh binatang rebutan masuk ke dalam diriku. Aku terkesima. Spontan kuteriakkan takbir untuk menangkan diri. Kekuatannya sungguh mencengangkan. Seketika binatang-binatang itu terhenti menghilang, sebelum akhirnya aku terbangun dengan geragapan.

Aku teringat film Jumanji yang beberapa saat lalu diputar di salah satu TY swasta. Visualisasinya tidak jauh berbeda denga yang kualami. Berpuluh-puluh binatang itu mendatangi rumahku. Ada gajah, harimau, anjing, kera dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya aku yang melihat semua bintang itu. Istri dan anak-anakku tidak merasakan kehadiran mereka. Dalam pandanganku, binatang-binatang itu tidak pergi. Mereka masih berada di sekeliling rumahku. Ada yang di pohon cery di halaman rumah, ada pula yang memilih runpun bambu di samping rumah, sebagai tempat pengintaian.

Bila menemukan celah, mereka akan masuk ke dalam diriku. Pintu terbuka sedikit saja, angin kencang menerobos ke dalam. Selanjutnya angin itu merambat dari kaki dan menjalar ke seluruh tubuh.

lni adalah pertanda kehadiran makhluk tak diundang itu. Bila sudah demikian, aku biasa menjerit. Terkadang sampai, bergulingan di tanah. Beberapa tetangga yang mendengar keributan di dalam rumah itu pun berdatangan. Mereka meringkus dan berusaha menyadarkanku. Anehnya begitu ada yang mendekat, tangan dan kakiku langsung menghadang mereka tanpa dapat kukendalikan.

Sewaktu bergulingan di tanah itu, tiba-tiba saja aku teringat, dengan nadzarku dulu di pertapaan Pringgondani. Sampai terucap di dalam hati. “Ya Allah, aku sanggup melaksanakan janjiku. Aku akan potong kambing ya Allah. Kumohon hentikan siksaan ini.” Setelah mengucapkan kesanggupan itu di dalam hati, perlahan siksaan mulai mereda. Aku mulai bisa menguasai diri. Tapi binatang-binatang itu tidak pergi, Mereka tinggal di pohon ceri dan bambu untuk menunggu pelaksanaan nadzar.

Keesokan harinya, ada angin kencang menerpa rumahku. lstriku juga merasakan angin itu. Anginnya kencang sekali. lstriku sampai tidak berani membuka pintu depan. Tapi anehnya, tidak ada dedaunan yang rontok. Beberapa saat berikutnya, aku kembali bergulingan di tanah. Saat itu, kondisiku semakin parah. Kata tetangga, aku sudah setengah mati. Aku terus bergulingan di lantai. Katanya, ada beberapa orang yang mencoba menyadarkanku, tapi mereka tidak berhasil. Akhirnya, ada yang menyarankan keluargaku untuk membawaku ke Ghoib Ruqyah Syar’iyyah cabang Cikarang untuk mehjalanlani terapi ruqyah.

Aku pun dibawa ke cabang Cikarang dalam keadaan masih belum sadarkan diri. Di sana, aku diterapi Ustadz Arif. Empat orang yang memegangku terpental. Aku bahkan memukul dan menendang mereka. Katanya, bila punggungku menyentuh lantai, maka badankuberputar seperti gasing.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama diruqyah ustadz Arif, badanku melemas. Kekuatan yang merasuk ke dalam diriku, semakin mengendurkan cengkeramannya hingga aku tersadar kembali. Perlahan, satu persatu jin yang menasuk ke dalam diriku itu keluar. Aku bisa merasakannya. Seperti ada sesuatu yang merambat di badan lalu keluar melalui nafas. Selanjutnya di mana saya merasakan panas, disitulah dipegang Ustadz Arif sambil dibacakan ayat al-Qur’an. Dan jin pun keluar lagi.

Sehari setelah ruqyah itu, aku segera memenuhi nadzarku. Aku menyembelih dua ekor kambing.  Dagingnya dibagikan kepada warga sekitar. Uangnya memang tidak milikku semua. Ada tiga ratusan ribu yang masih pinjam teman. Waktu itu aku berpikir tak apalah nanti juga akan aku ganti.

Memang setelah penyembelihan kambing itu badanku berangsur membaik. Tapi bukan berarti sudah terbebas sama sekali. Justru setelah pemotongan kambing itu, jin-jin yang telah dikeluarkan saat ruqyah berusaha masuk kembali. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menguasai diriku. Ketika shalat misalnya, jin-jin itu selalu mengganggu konsentrasiku. Aku dibuatnya sulit membaca. Dan bila melakukan kesalahan, maka badanku langsung panas. Sesekali seperti ada kekuatan yang mendorong tubuhku saat shalat. Tapi semua itu tidak membuatku surut ke belakang.

Aku semakin memperbanyak ibadah. Tiap malam, aku terus melaksanakan shalat tahajud. Siang malam, aku juga selalu berdzikir. Semua itu kulakukan untuk memperlemah gangguan yang menerpaku ini. Tidak mungkin aku bergantung kepada orang lain untuk menyelesaikan masalahku. Pertemuanku dengan Ustadz Arif misalnya, tidak bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Karena itulah aku harus bisa membentengi diriku sendiri. Tentunya, dengan semakin meningkatkan kualitas ibadah dan membaca al-Qur’an.

Siang malam, saya selalu membaca doa, sambil membawa tasbih. Sebelum tidur, selalu membaca do’a. Kalau tidak begitu, saya diganggu. Badan kesemutan seperti digerumuti semut. Saya bacakan astaghfirullahal ‘adhiim, jin itu keluar.

Suatu malam, aku merasakan kembali kehadiran binatang-binatang. Ada dua anjing yang masuk ke kamar mandi. Seketika, aku teringat bahwa aku masih punya hutang tiga ratus yang kupakai untuk membeli kambing. Aku katakan, “Aku akan membayar tiga ratus ribu itu. Jangan tunggu di dalam rumah. Keluar sana.” Akhirnya dua ekor anjing itu pun kulihat keluar dari kamar mandi. la menunggu di pohon ceri.

Keesokan harinya, aku membayar hutang tiga ratus ribu kepada temanku. Ia orang kaya. Tiga ratus ribu itu tidaklah seberapa. Karena itu begitu aku ceritakan apa yang terjadi, uang tiga ratus ribu itu diserahkan kembali kepadaku. “Uangnya saya terima. Mudah-mudahan Allah mengizinkan dan bapak tidak dapat gangguan lagi. Bapak tidak punya hutang lagi sama saya,” katanya. Uang itu kemudian diberikan kembali kepada anakku. Katanya uang itu sudah diterimanya, mau diberikan kepada siapa saja terserah dia.

Setelah aku membayar hutangku, alhamdulillah aku tidak lagi mendapat gangguan. Semoga dengan terbebasnya diriku dari nadzar dan segala hal yang bersangkutan dengannya, gangguan yang telah menderaku dua bulan ini hilang untuk selamanya. Aku kembali menapak hidup ini dengan tenang.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Saya Ketempelan ‘Jin Cathy’ dari Jerman

Jin bisa dilihat dan dipegang layaknya manusia ketika mereka keluar dari hakekat penciptaanya, lalu menyerupai sosok manusia. Bisa diajak bicara, disuruh memijat atau dibonceng kemana saja. Seperti pengalaman Sri Handayani, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta. Ia menuturkan kisah pergaulannya dengan ‘Jin Cathy’ kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

“Brak…” dua sepeda motor beradu. Menimbulkan suara keras yang memecah keheningan di pagi buta. Seorang lelaki dengan sepeda motornya terpelanting. Nasi bungkus yang memenuhi jok motornya berceceran dan tak bisa diselamatkan. Pada sudut lain, Lek Triono yang membonceng saya juga terjerambab. Motornya terseret sepuluh meter dari tempat kejadian. Meninggalkan saya yang terduduk di atas aspal, persis di tempat kejadian. Aneh, saya tak mengalami luka, hanya sobekan kecil di celana. Itupun tidak sepadan dengan kerasnya tabrakan tadi.

Heran, saya benar-benar heran atas apa yang terjadi. Tabrakan keras itu tidak menimbulkan luka apa-apa. Hanya, kekuatan aneh yang mengangkat badan saya bersamaan dengan detik-detik tabrakan itu yang saya rasakan. Lalu meletakkan badan saya kembali dia atas aspal. Sementara Lek Triono yang membonceng saya pingsan seketika. Tangannya lunglai dengan darah mengalir dari wajahnya.

Saya cepat mengambil keputusan. Memanggul Lek Triono dan menuntun sepeda motor ke sekolah tempat saya belajar. Saya tidak berpikir membawanya ke rumah sakit karena yang terlintas dalam benak saya adalah takut mendapat hukuman bila terlambat datang. Maklum waktu itu adalah minggu-minggu awal mengikuti kegiatan wajib penerimaan siswa baru. Lagian, sekolah itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kejadian.

Saya terlambat setengah jam dan nyaris dihukum merayap di jalan sepanjang enam meter. Akhirnya saya katakan, “Saya tabrakan. Sekarang Lek saya tidak sadarkan diri di depan.” Sanggahan ini membuat mereka terpana. Tabrakan keras yang terjadi tidak menimbulkan luka pada diri saya, sementara motor laki-laki saya patah rangka, tangki bensin juga goyang, meski tidak bocor.

Setelah tabrakan di pagi buta itu, saya sering sakit kepala tiba-tiba. Hanya karena keinginan saya tidak dikabulkan orangtua misalnya, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak bisa mendengar kata-kata jangan. Karena kata itu mengundang reaksi di kepala saya.

Selain itu, saya sering pingsan di sekolah hanya karena mendengar nama saya di panggil di pengeras suara. Panggilan yang biasanya diikuti dengan membuat nyali menciut, saya merasa tidak bersalah, namun mengapa harus menerima hukuman, bukankah itu kesalahan orang lain? Memang siswa yang bersalah masih satu kelas dengan saya, tapi tidak seharusnya bilan hukumannya harus diterima siswa yang tidak bersalah. Kekecewaan dan ketakutan itu membuat saya tidak sadarkan diri. Kejadian seperti ini sering kali berulang, hingga akhirnya para guru memahami dan tidak menghukum saya atas kesalahan orang lain,

Boleh dibilang kejiwaan saya memang labil dan sering tidak sadarkan diri. Sperti yang terjadi pada pertengahan tahun 2001. Saya tidak sadarkan diri selama 12 hari. Saya dibawa ke rumah sakit. Katanya, badan saya sudah dingin sampai leher, tinggal kepala yang masih hangat. Infuse sudah tidak berfungsi, tidak ada cairan yang menetes dan masuk ke dalam urat nadi. Grafik jantung di layar monitor juga tidak bergerak. Akhirnya pihak rumah sakit menyerah dan saya menjalani perawatan di rumah. Dalam perkiraan mereka, tidak berapa lama lagi saya sudah meninggal.

Di rumah, kondisi saya tidak mengalami banyak kemajuan. Hari demi hari berlalu dalam keadaan yang sama. Badan saya tergolek lemah di atas pembaringan. Pihak keluarga juga sudah pasrah, menerima kemungkinan buruk yang akan terjadi. Mbah yang tinggal di Yogya dan Medan juga sudah datang. Mereka menunggui saya dengan harap-harap cemas.

Dalam keadaan yang kritis itu, saya merasa didatangi seorang kakek yang mengaku sebagai Mbah saya yang sudah almarhum, “Kowe iku putuku. Ojo loro-loro. (Kamu itu cucu saya. Jangan sakit-sakitan terus). Pokoknya ntar kalau sakit mamanya sedih, bangun ayo bangun!” ujar kakek itu sambil mengusap dahi saya.

Mata saya terbuka. Dan saya melihat Mbah dan keluarga lainnya sudah berkumpul. Mereka menangis bahagia melihat keadaan saya yang membaik setelah tidak sadarkan diri dua belas hari. Ini bukan waktu yang pendek. Di bawah tempat tidur saya sudah bau kapur barus. Karena saya divonis dokter telah meninggal, tapi bapak masih belum yakin. Ia bersikukuh bahwa saya masih belum meninggal.

Sebenarnya, ketika tidak sadarkan diri itu saya dapat melihat apa yang dilakukan orang-orang yang menjenguk saya. Apapun yang mereka katakana, saya dengar. Hanya saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Saat tidak sadarkan diri, saya seakan bermain-main di ruangan yang seba ungu. Akhirnya setelah saya sehat, saya mengecat kamar dengan warna ungu. Saya masih ingin mengenang saat-saat tidak sadarkan diri. Saat ketika keluarga membaca surat Yasin, atau detik-detik ketika mereka menangis dan meratapi nasib saya yang tergolek antara hidup dan mati.

Ketika tersadar dari pingsan itu saya menemukan sebuah batu kecil persegi enam yang tranparan di bawah bantal. Tidak ada yang tahu darimana asal-usul batu itu. Batu itu saya jadikan cincin karena ketika disimpan di dompet terkadang hilang dan lain kesempatan datang lagi. Pendek kata batu itu selalu hadir ketiak saya sedang gundah gulana, marah, sedih maupun kecewa.

Entah kenapa setelah memakai cincin, saya ingin jajan terus. Meski saya baru membeli bakso misalnya, dan tak lama kemudian ada penjual lain yang lewat di depan rumah, saya langsung ingin membelinya. Keinginan ini tidak bisa dicegah, karena bila dilarang akibatnya bisa fatal. Sesak nafas dan saat-saat berikutnya saya pingsan. Tabungan yang diberikan orang tua senilai enam juta habis dalam waktu tiga bulan.

Berteman dengan ‘Jin Cathy’ dari Jerman

Tahun 2002, saya mengikuti Praktek Kerja Lapangan di kapal pemerintah yang berlayar ke laut China Selatan dengan nomor lambung 543. Pelayaran yang sangat berkesan bagi saya, karena ketinggian ombak laut China Selatan bisa dipastikan di atas dua puluh meter. Ini adalah kesempatan yang langka dan tidak sembarang orang bisa bergabung dengan kapal ini.

Ombak yang menggulung menjadi pemandangan harian, sesekali diselingi angin-angin kencang yang menderu-deru. Pagi itu, saya berdiri di dek lambung kiri, memperhatikan permukaan laut yang bergerak-gerak tanpa henti. Ombak itu saling berkejaran sebelum akhirnya buyar memercikkan biuh membentur lambung kapal.

Saya menegok ke kiri, mata saya tertumpu pada sosok wanita yang berdiri di geladak kapal. “Ohh, cantik sekali,” gumam saya lirih. Rambutnya memakai korses dengan hiasan bunga yang indah. Serasi dengan kulitnya yang kuning dan blues panjang berwarna merah. Ia cantik sekali. Paras wajahnya menandakan bahwa dia tidak berasal dari Indonesia.

Semakin saya perhatikan, saya semakin heran. Wanita itu tidak tersentuh air. Pecahan ombak yang muntah ke geladak kapal tidak membuatnya basah. Padahal anak buah kapal yang sat itu berada di geladak kapal yang sama berlarian tidak ada yang menghiraukannya. Seakan mereka memang tidak melihat wanita cantik itu.

Wanita itu memperhatikan saya yang berdiri mematung. Perlahan, ia melangkah dengan anggun. Gaunnya berkibar di terpa angin kencang. Ia melangkah tepat mengarah ke tempat saya berdiri. Jantunfg saya berdegup semakin kencang. Wanita it uterus mendekat dan … … saya sudah berada di ruang perawatan begitu mata saya terbuka.

Kata perawat, saya ditemukan di geladak kapal dalam keadaan pingsan. Selam di ruang kesehatan wanita cantik yang misterius itujuga berada di dalam. Dia duduk di ranjang sebelah, tetap dengan balutan blues panjang warna merah. Ia duduk saja dan tidak mengusik perawat yang sesekali ke dalam ruangan. Nampaknya mereka tidak ada yang melihat wanita bule ini. Mereka hanya berbicara dengan saya dan tidak melihat atau ngobrol dengan wanita bule itu.

Selang beberapa lama kemudian, wanita cantik itu memecah kebuntuan. Ia memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris. “My name is Cathy. I am Germany (nama saya Cathy. Saya berasal dari Jerman),” tuturnya lembut sambil melangkah ke ranjang saya.

Wanita yang memperkenalkan diri dari Jerman itu pun duduk di samping saya. Dan tanpa diminta, ia segera memijat badan saya. Saya diam saja, menerima pijatannya, hingga kemudian saya menjawab perkenalannya juga dengan bahasa Inggris yang entah bagaimana tiba-tiba saja saya lancar berbahasa Inggris.

Singkat cerita jin Cathy ikut saya. Dia masuk ke tubuh saya. Dia menempel di punggung, katanya. Memang, saya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika jin Cathy berada di tubuh saya. Rasanya badan saya lebih ringan, begitu juga ketika dia keluar. Saya mengetahuinya dengan perubahan gerak saya yang sedikit melambat. Kedua telapak tangan dan kaki saya menjadi basah. Bila saya juntaikan telapak tangan saya, lama kelamaan jatuh tetesan air dari telapak tangan.

Selepas PKL, jin Cathy tetap menemani saya dan tinggal di kamar saya. Ia tidur di ranjang atas, bekas tumpukan kardus. Sementara saya tidur di bagian bawah. Kardus-kardusnya saya singkirkan semua. Sehingga tempatnya menjadi lega. Memang saya sadar sejak awal, bahwa Cathy bukanlah manusia. Ia adalah jin tapi dalam benak saya saat itu Cathy merupakan jin yang baik. Ketika dipijat Cathy, saya merasakan tangannya seperti ketika saya dipijit orang lain. Tidak banyak perbedaan yang saya temukan. Kecuali, ia tidak bisa dilihat orang lain.

Padahal sekian bulan saya menghabiskan waktu bersama Cathy. Dia selalu ikut kemana saya pergi. Ketika saya naik motor, maka Cathy membonceng di belakang, lain waktu ia mengiringi saya berjalan kaki. Ia menjadi teman layaknya manusia biasa. Bisa diajak bercanda atu bicara serius.

Memang, sesekali kehadiran Cathy menarik perhatian orangtua. Karena mereka merasakan kehadiran orang lain di rumah ini. Hingga ibu pun menegur, “Suka ada yang masuk ke kamarmu. Siapa dia?” Tanya ibu suatu siang. “Nggak apa-apa. Dia teman saya kok. Sekarang sudah pulang,” jawab saya dengan santai.

Saat bergaul dengan Cathy sakit kepala masih belum sembuh, meski saya sudah berobat secara medis. Akhirnya saya menerima tawaran Pak Rodi, orang pintar, yang katanya bisa mengobati. “Mau sembuh nggak?” Tanya Pak Rodi. Ia kemudian shalat dua rakaat yang katanya bagian dari proses pengobatan. Lalu memberi sebungkus garam. “Garam ini harus dijilat sebelum keluar dari pintu kamar,” tuturnya meyakinkan.

Obat yang terkesan mudah itu pun saya terapkan. Garam yang asin itu menjadi pemanis bibir saya. Bayangkan, dalam sehari berapa puluh kali saya harus menjilat lidah, lidah saya akhirnya meradang. Bukan kesembuan yang saya dapat, tapi justru tambahan penyakit baru. Akhirnya ritual menjilat lidah saya hentikan. Sebagai gantinya, saya diminta untuk membeli empat butir telur ayam Cemani seharga 240.000 rupiah dan harus ditanam di rumah.

Uang sejumlah itu tidaklah sedikit, sementara saya sendiri belum bekerja. Konsekuensinya saya harus berbohong kepada orangtua dan meminta tambahan uang. “Untuk beli pusa,” jawab saya, ketika ditanya ibu.

Meski telur ayam Cemani sudah saya tanam di rumah tanpa sepengetahuan orangtua, tapi hasilnya masih tidak kelihatan. Lama kelamaan, permintaan Pak Rodi makin meningkat. Kini ia menyuruh saya mandi dengan minyak wangi yang harus dibeli dari pak Rodi sendiri senilai 600.000 rupiah. Saran yang terkesan aneh itu saya turuti. Karena saya sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepada dan sesak nafas yang selama ini mendera.

Lepas dari Pak Rodi, saya kembali terjerat kepada ulah orang-orang yang hanya mau untung sendiri. Ibu Diah yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib menerawang saya. “Mbak Sri memiliki tanda yang merugikan. Tanda itu harus dibuang melalui jengger ayam yang berbentuk kecil,” ujar Ibu Diah.

Keesokan harinya, saya membeli ayam jago yang berjengger kecil. Ayam itu kemudian dipotong dan saya disuruh menghabiskannya. Memang selama saya rajin bermain ke rumah Ibu Diah, sakit kepala saya cenderung berkurang. Tapi lama kelamaan saya dimanfaatkan Ibu Diah, saya diminta untuk membayar beberapa barang yang dia beli. Ia sama saja dengan Pak Rodi yang hanya memanfaatkan sakit saya.

Jin Chaty Menjauh dari Stand Majalah Ghoib

Atas saran kakak, saya konsultasi ke perwakilan Majalah Ghoib yang saat itu mengikuti pameran di Islamic Book Fair dengan ditemani Mbak Tias, teman dekat saya dan tentu saja jin Cathy yang masih terus mengikuti saya. Sebenarnya jin Cathy mencoba menghalangi saya konsultasi di stand Majalah Ghoib. Ia menarik-narik rambut saya. Tapi saya bersikukuh untuk konsultasi. Akhirnya jin Cathy menunggu saya dan Mbak Tias di perempatan yang berjarak dua puluhan meter dari stand Majalah Ghoib. Jin Cathy tidak berani masuk bersama saya.

Setelah konsultasi bebarapa saat Ustadz Ilham yang saat itu bertugas di stand Majalah Ghoib memijat jari saya. Pijatan yang membuat saya menangis sebelum pingsan. Heboh, kata Mbak Tias, saya menjadi tontonan orang-orang yang saat itu berada tidak jauh dari stand Majalah Ghoib. Saya menjadi contoh langsung bagaimana sebenarnya terapi ruqyah di kantor Majalah Ghoib.

Senin berikutnya, saat hendak berangkat untuk terapi di kantor Majalah Ghoib, saya mengantuk luar biasa. Akhirnya mama menarik selimut dan guling saya. Tanpa ampun saya terbangun. Dalam keadaan setengah mengantuk, Cathy kembali mempengaruhi saya, “Tidur saja, masih capek kan? Kemarin baru dari pameran, masak sekarang pergi lagi,” bujuk Cathy. Saya bersyukur bila bujukan yang menghanyutkan itu tidak saya turuti. Karena dari sinilah berawal kesembuhan saya secara bertahap.

Saat terapi yang pertama, tidak terjadi dialog. Saya hanya merasa sakit ketika ustadz memijat jari kaki saya. Saya meronta-ronta ingin melepaskan diri. Sepulang dari terapi ruqyah pertama, saya mulai tidak bisa melihat Cathy, sehingga ketika di berbicara saya hanya mendegar suaranya. “Cathy, lu ada dimana?” Tanya saya. “Saya ada disamping lu.” “Tapi saya tidak bisa lihat. Yang terlihat bantal dan guling saja,” kata saya.

“Kok nggak kelihatan? Tuh matanya kealingan. Kemarin matanya ditutup yah?” ujar Cathy sambil mengusapkan tangan ke mata saya. Tak lama kemudian, saya kembali bisa melihat Cathy.

Ketika saya merintih kesakitan karena pijatan ustadz yang masih terasa, jin Cathy langsun meledek, “Tuh, pada sakit kan?” “Emang begini yang namanya diurut, lu ikut biar tahu,” jawab saya balik.

Jin Cathy memang tidak mau ikut terapi ruqyah, ida memilih untuk tinggal di rumah. Waktu itu, saya masih belum tahu bahwa sesungguhnya jin kafir takut mendengar lantunan al-Qur’an.

Sebelum berangkat terapi yang kedua seminggu kemudian, jin Cathy kembali menghalangi saya. “Udah, jangan berangkat. Sekarang ada film bagus. Mendingan di rumah saja,” bujuk Cathy. Bujukan Cathy itu hampir saja meluluhkan niat saya untuk ruqyah, tapi berkat dorongan Mbak Tias akhirnya saya bisa mengalahkan rayuan Cathy.

Saat terapi kedua, seperti biasa saya meronta layaknya orang yang kepanasan. Beberapa saat kemudian, terjadi dialog, “Siapa kamu?” Tanya ustadz. “Saya bukan orang sini. Saya dari Jerman,” aku jin melalui mulut saya. Tidak seperti biasanya. Kali ini dari mulut saya terdengar jawaban.

Setiba dirumah, saya tidak lagi bisa melihat Cathy, saya mencoba mencarinya , namun hanya suaranya yang terdengar. Cathy mencoba mengusap mata saya kembali, tapi semuanya gagal. “Ya sudah kalau lu tidak percaya sama gue, gue mau pergi,” ancam Cathy kemudian. “Ya udah, pergi saja! Sudah ada Mbak Tias yang nganterin saya.” Akhirnya suar Cathy hanya sesekali terdengar.

Suara Chaty benar-benar hilang setelah mengikuti terapi ruqyah yang ketiga. Masih menyisakan sakit kepala yang sudah tidak lagi separah dulu. Saya tidak lagi mudah pingsan ketika menghadapi masalah baru. Bagi saya ini ada perubahan yang sangat bagus.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Kesaksian Majalah Ghoib Edisi 45/3

Melawan Sihir Kiriman Pejabat

Orang-orang memanggil saya Marjo, lahir di Nganjuk 34 tahun yang lalu. Sejak tahun 1994, saya memiliki banyak kegiatan lintas kabupaten di Jawa timur. Mulai dari Nganjuk hingga Surabaya. Bepergian dengan sepeda motor Surabaya – Nganjuk sebanyak dua kali adalah rutinitas mingguan. Namun, sejak tahun 1998 saya mengurangi kegiatan luar kota, karena suatu sebab yang saat itu belum saya sadari. Saya lebih banyak aktif di Nganjuk dan mendirikan LSM yang bersikap kritis terhadap kebijakan pemerintahan Kabupaten Nganjuk. Hasilnya, banyak kecurangan pejabat yang terbongkar. Namun, rupanya mereka tidak rela kecurangannya diketahui banyak orang. Dan dengan cara kejam mereka membalas dendam. Dengan melakukan apa yang sering orang sebut dengan melakukan santet. Dua orang aktifis LSM meninggal. Sungguh licik memang.

Saya sendiri, sejak tahun 1998 sering masuk angin dan mual-mual. Awalnya saya beranggapan itu hanya karena terlalu capek. Ya, capek mengendarai motor Surabaya – Nganjuk dua kali seminggu. Tidak ada pilihan lain saya harus mengurangi aktifitas luar kota, bila tidak ingin merugikan pihak lain. Padahal, saat itu aktifitas saya di Surabaya bisa dibilang padat.

Beberapa aktifitas saya antara lain adalah menjadi Direktur Pendidikan sebuah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu pengetahuan di Surabaya. Menjadi tutor atau dosen di berbagai lembaga Pra Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Mengajar di sebuah Yayasan di Surabaya. Menjadi Pembina karya ilmiah remaja dan jurnalistik di berbagai SMU di Surabaya. Serta mengasuh sebuah media remaja juga di Surabaya 1998-2000.

Melihat kondisi kesehatan yang semakin memburuk, akhirnya pada tahun 2000 saya putuskan untuk meninggalkan semua aktifitas di Surabaya.

Meskipun, aktifitas saya tidak sepadat dulu. Namun, masuk angin dan mual-mual tak kunjung sembuh. Sudah tak terhitung dokter di Nganjuk dan Surabaya yang saya datangi. Tapi saya heran, ternyata diagnosa dokter berbeda-beda. Ada yang mengatakan sakit liver dan ada yang bilang sakit jantung. Saya tidak tahu dokter siapa yang benar. Akhirnya, untuk menenangkan hati dan mempermudah proses penyembuhan saya menjalani berbagai macam pemeriksaan penyakit dalam seperti jantung, asam urat dan lambung. Sungguh di luar dugaan. Ternyata diagnosa para dokter itu tidak benar. Saya tidak menderita sakit seperti yang mereka katakan.

Merasakan Adanya Perubahan Sikap

Semakin hari penderitaan saya tak kunjung berkurang. Bahkan sebaliknya penyakit itu mulai menggerogoti ruhiah saya. Ya, jiwa malas semakin bertambah. Kebiasaan shalat lima waktu berjama’ah di masjid sejak kecil, akhirnya saya tinggalkan. Sehabis maghrib dan shubuh yang biasanya membaca Al-Qur’an satu hingga tiga juz semakin jarang saya lakukan. Bahkan saya mulai lupa membaca Hizb (doa perlindungan) menjelang tidur. Saya juga sering menolak undangan pengajian remaja dan ceramah walimatul ‘ursy dengan alasan takut sakit saya kambuh pada saat pelaksanaan acara.

Bukan hanya itu, saya juga mulai malas menulis karya ilmiah maupun artikel. Padahal, juara nasional penulisan buku Geografi pernah saya raih. Waktu itu saya menghubungkan Geografi dengan isi kandungan Al-Qur’an. Sebuah terobosan baru dalam kurikulum pendidikan nasional.

Memasuki tahun 2003, sakit saya semakin parah hingga harus dirawat di rumah sakit sampai tiga kali. Rawat inap pertama terjadi pada bulan Januari. Seperti biasa, banyak keluarga dan teman saya yang menjenguk sambil mambawa minuman. Saya tidak curiga apa-apa, minuman itu langsung saya minum. Tak lama kemudian, perut saya semakin nyeri, seakan diaduk-aduk. Bahkan sepulang dari rumah sakit saya tidak mampu lagi membaca Al-Qur’an walau satu ayat, badan terasa lemas dan shalat pun gemetaran.

Pada bulan Februari, saya harus kembali rawat inap di rumah sakit selama dua minggu. Kejadiannya tidak jauh berbeda dengan rawat inap sebelumnya. Hari-hari berikutnya saya suka marah. Namun saya tidak tahu mengapa suka marah, padahal sebelumnya saya termasuk tipe penyabar dan mudah bergaul. Pernah suatu saat saya mendamprat teman-teman di kantor, hanya karena masalah sepele. Begitu juga di rumah saya sering marah-marah. Seolah-olah mulut ini ada yang menggerakkan.

Terus terang, selama sakit bertahun-tahun itu saya tidak pernah pergi ke tempat-tempat tertentu untuk mencari penyembuhan, atau mencari jampi-jampi dari si A atau si B yang lazimnya dilakukan oleh orang-orang di daerah saya. Saya hanya pergi ke tempat praktek dokter yang lebih bersifat rasional. Namun, tanpa sepengetahuan saya beberapa keluarga dan teman baik saya yang melakukan upaya-upaya penyembuhan dari jampi-jampi itu, tanpa memberitahu saya. Dengan tidak menafikan niat baik mereka yang menginginkan kesembuhan saya, saya sangat menyesal akan hal itu.

Memang, ujian yang bertubi-tubi itu semakin mendewasakan dan menyadarkan saya bahwa kekuatan manusia ada batasnya. Ada satu kekuatan yang Maha Besar, Maha Agung dan Maha segala-galanya yaitu kekuatan Allah. Akhirnya, saya sepakat dengan istri saya untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Bukan berarti saya tidak berusaha dan hanya diam berpangku tangan. Tidak.

Harapan itu Masih Ada

Awal Juni itu, saya teringat dengan kaset dan buku Ruqyah dan Do’a, kiriman dari kemenakan saya, Rahmat, yang tinggal di Batam. Saya baca dan saya pelajari isinya. Ternyata, buku tipis itu sesuai dengan keyakinan saya yang tidak percaya pada Tahayul, Khurafat dan Bid’ah. Terbayang kembali beberapa peristiwa yang mengundang tanya beberapa bulan sebelumnya.

Pertama, ada kejadian aneh yang menimpa istri saya. la tidak menstruasi selama tiga bulan. Padahal secara ilmiah seharusnya ia tidak hamil. Kedua, kebalikan dari yang pertama istri saya menstruasi selama tiga bulan berturut-turut. Dan ketiga, kedua anak saya yang berumur tiga dan dua tahun menderita sakit secara bergantian. Setelah saya bawa ke dokter akhirnya mereka sembuh. Namun, selang beberapa hari kemudian giliran saya yang sakit. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.

Daftar peristiwa demi peristiwa itu semakin menambah keyakinan bahwa saya terkena semacam santet atau gangguan jin. Akhirnya, saya mulai melakukan persiapan lahir dan batin. Seperti yang tersebut dalam buku Ruqyah dan Do’a. Saya cari benda-benda syirik yang ada di rumah lalu saya bakar semuanya.

Setelah saya perkirakan semuanya beres, saya mulai mendengarkan kaset Ruqyah dan Do’a lalu mengikuti bacaannya. Di luar perkiraan, ternyata saya bisa membaca Al-Qur’an kembali. Kemudian saya semakin intensif mendengarkan kaset ruqyah. Bisa dikatakan hampir dua puluh empat jam selama dua pekan. Hanya berhenti ketika tape sudah panas.

Setelah itu, timbul reaksi yang tidak terduga. Badan saya seakan digoyang-goyang.”Apakah saya sakit jantung?” saya bertanya-tanya. Untuk memastikannya saya opname di rumah sakit untuk ketiga kali sambil terus mendengar kaset ruqyah. Perawatan di rumah sakit, rupanya bukanlah tempat yang pas buat penderitaan seperti yang saya alami. Selama di rumah sakit terus terang- tidak ada perubahan, bahkan reaksi dari santet itu semakin kuat. Akhirnya saya pulang ke rumah dan melanjutkan ruqyah melalui kaset. Tak lupa saya mengintensifkan shalat malam.

Menakjubkan, tangan saya bergerak sendiri dan menunjuk ke sana kemari tanpa digerakkan dengan syaraf motorik. Awalnya saya takut juga, “Kok bisa bergerak sendiri?” Saya pun meminta petunjuk kepada Allah. Saya sadar sepenuhnya bahwa badan yang luar seharusnya bersih terlebih dahulu sebelum diruqyah, baik pikiran maupun lingkungan. Dalam dua hari saya mencari benda-benda syirik seperti kemenyan, rajah, garam dan jimat di lingkungan rumah dan pekarangan. Saya cari buku-buku yang agak ‘porno’ dan pakaian yang tidak pantas dipakai. Saya kumpulkan dan saya bakar semuanya.

Subhanallah, setelah mendengar kaset Ruqyah dan Do’a, tangan saya bisa mencari benda-benda syirik dengan mata terpejam. Hanya dengan panduan dzikir. Tangan saya pernah menemukan kemenyan yang disembunyikan di selokan. lnilah kekuasaan Allah.

Dua hari berikutnya benda-benda syirik itu minta dipulangkan ke majikannya. Tangan saya menunjuk kesana kemari. Sebab jin itu kepanasan. Akhirnya, saya sebutkan nama kiai satu persatu. Bila disebut nama si A, ia mau dan bila di sebut nama si B, tidak mau. Berarti benda sihir itu miliknya si A. Kemudian saya bentak-bentak dan saya pukuli tangan saya.

Begitulah, hingga pada suatu hari, waktu itu hari Sabtu, saya menemui Ustadz Fadzlan di kota Gede, Yogyakarta. Saya minta diruqyah dan nasehat. Setelah dimotivasi dan disuruh banyak berdzikir saya pulang ke rumah.

Kejadian Saat Ruqyah Mandiri

Sewaktu di rumah Ustadz Fadzlan saya tidak mengalami apa-apa. Tapi setelah tiba di rumah saya bisa dialok dengan jin yang masuk ke tubuh saya. Dengan cara memijit tempat yang sakit. Begitu dipijit jin berkata, “Aduh.” Kemudian saya tanya lagi, “Darimana kamu?” ‘Dari pejabat yang mencari kami (sekelompok jin).” Lalu jin itu menyebut tiga tempat. Dua di Jawa Timur dan satu lagi di daerah Jawa Barat.

“Kami sudah menyerangmu sebanyak delapan kall,” demikian jin itu menambahkan. Akhirnya saya bentak lagi, “Saya tidak peduli, yang penting kalian harus keluar.’ Akhirnya keluarlah jin-jin itu. Menurut pengakuannya, jumlah mereka empat, lalu disusul tiga temannya. Yang terakhir keluar adalah jin yang katanya berupa ular.

Besoknya ada lagi jin yang masuk. Ternyata ketika saya sedang dirawat di rumah masih ada orang yang tega mengirim sihir kembali. Saya bentak jin itu dan saya suruh membaca “Allahu Akbar.” Terakhir, setelah saya shalat hajat muncul lagi jin yang mengaku malaikat. “Saya malaikat yang menuntun manusia,” katanya. Dia mengaku malaikat Mikail dan Jibril. Saya katakan, “Tidak ada malaikat yang mengganggu manusia. Ayo, kalau kamu malaikat katakan, Allahu Akbar lima kali.” Demikian saya menantangnya. Akhirnya, baru mengucapkan takbir tiga kali saja jin itu sudah tidak mampu dan hilang tak bersuara.

Ketika dialog dengan jin saya membaca, ayat yang artinya, “Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin : 6).

Juga ayat yang artinya, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikutijalan yang bukan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam neraka Jahanam. Sesungguhnya neraka Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Sebenarnya, selama dialog itu saya sempat terkecoh juga. Karena ada jin yang memuji, “Kamu itu hebat, tidak mempan sama sekali digini-ginikan (disihir dengan berbagai cara). Dan ‘kiai’ di Nganjuk itu sudah kalah dengan kamu semua.”

Ya, saya manusia normal yang terkadang terkecoh oleh indahnya pujian. Namun, saya cepat istighfar dan menyadari bahwa ini semua adalah bagian dari tipu daya syetan. Secara umum, jin yang menganggu saya terbagi menjadi tiga kelompok. Anehnya, setiap jin itu berbicara seperti suara orang-orang yang mengutusnya.

Pertama adalah jin kiriman enam orang pejabat yang balas dendam atas terbongkarnya kecurangan mereka dalam birokrasi. Demikian besarnya kemarahan mereka hingga ada seorang pejabat yang sangat intensif mengirimkan jin sampai delapan kali.

Jin kiriman pelabat itu mengaku berasal dari beberapa wilayah yang terkenal sebagai daerah perdukunan di Jawa Timur, juga dari sekitar Nganjuk sendiri. Memang, suara-suara jin itu persis dengan suara orang-orang yang saya kenal.

Kedua adalah orang yang kerjaannya memang mengirim sihir. Katanya ia merasa tersinggung sebab ia pernah saya tindak tegas ketika tertangkap mencuri barang-barang milik tetangga

Ketiga adalah seorang pemuda yang jatuh hati pada istri saya. Meskipun saya tidak mengenalnya. Pemuda itu sempat beberapa kali mengirim sihir. Pertama, ia menggunakan sihir pelet untuk menghalangi pernikahan saya dengan istri saya. Kedua, mengirim sihir dengan menggunakan (maaf) celana dalam wanita yang masih baik tetapi dikotori. Benda sihir itu di belakang rumah saya.

Sekarang, setelah mereka melihat saya dalam keadaan sehat, seakan sihir mereka yang beruntun itu tidak mampu menembus. Mereka menjadi kalang kabut. Bahkan orang yang suka melakukan sihir yang sering disebut orang dengan mengirim tenung yang rumahnya tidak tidak seberapa jauh dari rumah saya, mengetahui kalau dua benda sihir kirimannya itu saya cari dan dan ketemu lalu saya bakar. Mengetahui sihirnya gagal, ia mengirim sihir kembali. Setelah, itu badan saya bereaksi kembali, reaksi yang mengindikasikan datangnya sihir. Lalu saya cari, dan ketemu. Ternyata, ada pagar yang melingkar, saya bakar lagi. Keesokan harinya ia mengirim kembali. Saya cari lagi. Rupanya ada kerikil yang nyasar di tembok. Kemudian saya bakar. Tak terasa dua hari saya perang dengan sihirnya. Saya berdo’a, semoga Allah memberinya hidayah.

Saya bersyukur kepadaAllah SWT, ujian yang saya alami beberapa tahun itu membuka kesadaran saya akan Keagungan wahyu Allah. Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar dan benteng paling kuat mempertahankan diri dari serangan jin. Senjata paling ampuh melawan dan melumpuhkan mereka. Jangan biarkan diri terkecoh tipu daya syetan yang berlindung dibalik manisnya kata. Dan bertopeng manusia.

Saya sangat sadar bahwa hanya dengan penyerahan diri kepada Allah dan tunduk kepada perinah dan larangan-Nya kita bisa selamat dari tipuan syetan apapun bentuknya. Jin adalah makhluk lemah dihadapan orang yang benar aqidahnya, baik pekertinya. Sebaliknya jin menggoda orang-orang yang lemah imannya. Karena itu, marilah kita membentengi diri dengan meningkatkan iman dan amal baik.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Pesona Alam di Gua Istana Maharani Lamongan

BILA ANDA sedang bepergian melalui jalur utara, dan tidak sedang terburu-buru, tidak ada salahnya bila Anda meluangkan waktu sejenak menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan di Gua Istana Maharani. Di sana, tersimpan keagungan pencipta-Nya. Keindahan batuan stalaktit dan stalakmit yang menjadi kekayaan Gua Istana Maharani mampu menambah benih keimanan bagi mereka yang mau merenung.

Gua Istana Maharani terletak di kawasan wisata pantai Tanjung Kodok, Paciran yang masuk kabupaten Lamongan Jawa Timur. Tepatnya 50 meter arah selatan jalan Daendels yang dibangun Gubernur Batavia di abad 18. Sejatinya tidak sulit menemukan Gua Istana Maharani karena ia hanya berjarak 200 meter dari area Wisata Bahari Lamongan yang sedang menggeliat berbenah diri. Wista Bahara Lamongan mencolok mata dengan ornament kepiting besar. Lokasi Gua Istana Maharani mudah terjangkau karena berada di tepi jalur Surabaya – Semarang yang dilalui kendaraan selama 24 jam. Tepatnya 60 kilo meter dari Surabaya dan 50 kilo meter dari Tuban.

Udaranya memang terkesan panas. Terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan suasana pantai. Terik matahari terasa menembus baju yang melekat di badan. Tapi Anda tidak perlu cemas. Semua itu akan sirna dengan sendirinya begitu Anda melewati gerbang Gua Istana Maharani. Di sana, Anda bisa menikmati minuman khas Tanjung Kodok yang lebih dikenal dengan istilah ‘legen’. Haus dan panas sirna berganti dengan kesegaran.

Terlebih bila, kawasan Gua Istana Maharani yang ditemukan Sugeng dan tiga orang temannya, warga desa Tunggul yang sehari-hari bekerja sebagai penambang batu koral bahan pupuk Phospat dan dolomit, dirancang untuk memanjakan pengunjung. Dua puluh meter dari gerbang, rerimbunan pohon akasia bak payung yang melindungi Anda dari sengatan matahari. Silahkan beristirahat sejenak di atas dipan-dipan yang tersedia di beberapa tempat. Di sana juga disediakan sarana bermain buat anak-anak serta toko-toko penjual souvenir.

Dibandingkan dengan ribuan gua lainnya di Indonesia, Gua Istana Maharani yang ditemukan pada hari Kamis, tanggal 6 Agustus 1992 memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak heran bila ia disejajarkan dengan gua-gua alam dari manca negara seperti Gua Altamira di Spanyol, Gua Mammoth dan Gua Carisbad di Amerika Serikat, serta Gua Coranche di Perancis.

Tidak heran bila menurut DR. KRT Khoo, seorang ahli gua dari Yayasan Speleologi Indonesia bahwa Gua Istana Maharani pada tahun 1992 dinyatakan sebagai gua terbaik di Indonesia. Anda tidak akan ragu dengan penilaian tersebut. Karena di tahun itulah Gua Istana Maharani ditemukan pertama kali. Praktis masih belum banyak campur tangan manusia yang mengurangi keindahan ciptaan Allah itu.

Kini, setelah dibuka untuk umum dan menjadi tujuan wisata Gua Istana Maharani ada yang terasa berbeda. Nama- nama yang tertera di dalam gua tidak ditemukan di gua-gua alam lain. Tapi sayang di tengah masyarakat yang kental dengan nuansa agamis itu penamaan Gua Istana Maharani dengan segala isinya tidak terlepas dari cerita mistis.

Penetapan Maharani sendiri sebagai nama gua berasal dari sebuah mimpi istri Sunyoto, mandor kepala pekerja penemu gua. Katanya, sehari sebelum penemuan gua, istri Sunyoto bermimpi melihat seorang wanita cantik memakai mahkota warna- warni. Mahkota itu bercahaya kemilau berlapis emas. Saat terbangun ia mendengar bisikan bahwa mahkota indah itu milik seorang ratu yang bernama Maharani.

Nama inilah yang kemudian dipilih sebagai nama gua. Di samping itu menurut bahasa Jawa Kawi kata Maha bermakna sangat dan Rani berarti warna-warni. Jadi Maharani artinya sangat mempesona warnanya.

Memasuki gua seluas 2000 m2 dengan ketinggian 30 meter di atas permukaan laut dan kedalaman 25 meter dari permukaan tanah, Anda akan disambut dua patung penjaga yang berbentuk ular naga. Kedua penjaga itu diberi nama Nogowiro Tirtomanggolo dan Nogowiro Dahonomanggolo. Jelas kedua patung ini bukan bagian dari gua saat pertama kali ditemukan.

Melewati pintu yang diberi nama Babussalam Nuthfatul Hasanah, mata Anda akan terpesona dengan keindahan ciptaan Allah. Batuan stalaktit dan stalakmit membuat hati tertegun. Subhanallah! Sungguh indah. Terasa Anda dibawa ke dunia lain.

Tetesan-tetesan air dari atap gua yang mengandung Kalsium Karbonat (CCO3) sejak ribuan tahun lalu mengkristal. Stalaktit itu memancarkan cahaya berkilauan diterpa lampu penerangan gua yang disusun sedemikian rupa. Stalaktit itu menggantung. Ujung-ujungnya meruncing, dengan ukuran yang tidak sama.

Sementara dari bawah. Di atas lantai batuan stalakmit berdiri kokoh, tepat di bawah tetesan- tetesan air yang menetes dari stalakmit di atasnya. Perpaduan stalaktit dan stalakmit yang serasi membentuk konfigurasi batuan yang menarik perhatian.

Menurut penelitian, batuan stalaktit dan stalakmit dalam Gua Istana Maharani masih dinyatakan ‘hidup’ karena dalam waktu setiap sepuluh tahun tumbuh 1 cm bila kelestarian dan suasana gua terjaga dengan baik. Seperti yang terlihat pada stalaktit Songgo Langit, ujungnya meruncing berwarna putih jernih. Pertanda tetesan air mulai mengkristal dengan sebutir air yang menunggu kesempatan untuk jatuh.

Setiap ornamen stalakmit dan stalaktit yang pelataran, paseban, garba, relung, umpak, selo, karang. Kesemua nama itu mengandung falsafah kehidupan. Sebagaimana dituturkan dalam buku panduan yang dijual bebas bagi pengunjung.

Namun, di balik keindahan Gua Istana Maharani tersimpan kepedihan bagi mereka yang peduli dengan kemurnian akidah. Legenda yang dibangun untuk mendatangkan pariwisata domestik maupun manca negara menggunakan cara-cara yang tidak dibenarkan secara akidah. Seperti kisah RAJUL dan MAR’AH yang direpresentasikan sebagai pengembara yang mengarungi lautan nusantara.

Singkat cerita, sepasang suami istri itu menolong raja dan ratu katak yang terhimpit bebatuan. Sebagai imbalannya RAJUL dan MAR’AH diberi hadiah yang berupa istana maharani. Tempat yang sekarang disebut dengan Gua Istana Maharani.

Padahal terjadinya gua-gua alam merupakan proses alami. Di tengah kegelapan abadi di bawah tanah proses pengendapan berlangsung hingga membentuk ornamen-ornamen gua (speleothem). Proses ini disebabkan karena air tanah yang menetes dari atap gua mengandung lebih banyak CO2 daripada udara sekitarnya.

Dalam rangka mencapai keseimbangan, CO2 menguap dari tetesan air tersebut. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah asam karbonat, yang artinya kemampuan melarutkan kalsit menjadi berkurang. Akibatnya air tersebut menjadi jenuh kalsit (CaCO3) dan kemudian mengendap.

Tidak seharusnya pihak-pihak yang terkait menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tujuan yang mulia harus dibingkai dengan cara-cara yang dibenarkan oleh agama. Karena legenda yang sekarang masih diyakini sebagai fiktif semata tidak menutup kemungkinan akan menjadi sebuah keyakinan yang mengurat daging dan sulit diluruskan kembali.
GHoib, Edisi No 59 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Cinta Ditolak! Dukun Bertindak

“CIKARANG, habis! …. Cikarang, habis!” teriak seorang kernet bus sambil mengetuk- ngetuk pintu mobil dengan uang recehan. Suara itu membangunkan kami yang sedang asyik tertidur di bangku barisan paling belakang. Perjalanan 3 jam yang ditempuh dari Bogor, cukup melelahkan. Air hujan yang menggenangi ruas jalan di beberapa titik di Cikarang, membuat perjalanan sangat lambat. Belum lagi, banyaknya waktu ngetem awak bus untuk mengambil penumpang. Kami melepaskan jaket yang dikenakan untuk menahan dinginnya cuaca hari itu. Hujan sudah menjadi langganan setiap harinya di Jabotabek.

Tepat jam 12:01, kami tiba di kantor Ruqyah Syar’iyyah cabang Cikarang yang lokasinya tidak terlalu jauh dari terminal lama. Hanya 10 menit, kami berada di sana. Ustadz Arif (pimpinan cabang Cikarang), langsung mengajak berangkat ke tempat tujuan, karena tuan rumah telah lama menanti. Bersama dengan istri dan seorang anaknya, kami berangkat ke rumah Yuli Astuti (28) di daerah Bekasi. Di tengah perjalanan, kami mewawancarai Ustadz Arif, mengenai perkembangan cabang Cikarang yang berencana akan mengisi kajian tetap di sebuah stasiun radio ternama di sana. Tak terasa, tepat jam 2 lebih 9 menit, kami tiba di rumah Yuli yang siang itu nampak lengang dari luar.

Seorang ibu membukakan pintu, sesaat setelah kami mengucapkan salam. Pagar rumah berwarna kuning tua dengan tembok birunya terbuka lebar, seakan riang menyambut kedatangan kami. Sebuah mobil diparkir di garasi yang ukurannya tidak begitu luas, bersama sebuah sepeda motor yang sepertinya menjadi alat transportasi pribadi Yuli. “Silakan masuk Ustadz!,” kata ibunda Yuli menyambut kami. “Anak siapa ini Ustadz?” sambung Yuli sambil membetulkan jilbabya yang agak miring. “Anak pertama saya yang tinggal bersama neneknya di kampung,” sahut Ustadz Arif. Beberapa buah minuman kemasan gelas disodorkan oleh kakak Yuli di sebuah nampan. Kami langsung menyambutnya dengan menenggak segelas air kemasan yang sangat segar. Dua piring makanan disuguhkan pula bersama dua toples snack yang isinya melebihi kapasitas. Kami larut dalam bincang-bincang kecil, dengan menanyakan keadaan masing- masing. Nampak sekali keakraban antara Ustadz Arif dengan keluarga Yuli, yang telah menjadi pasien tetap Ustadz Arif selama ini.

Selesai melaksanakan shalat Zhuhur di sebuah musholla yang berada di dalam rumah Yuli. Kami melanjutkan bincang-bincang sambil menikmati jus alpukat yang baru saja dihidangkan. “Saya lulus kuliah tahun 1999, ” ungkap Yuli mengawali ceritanya. “Saya langsung mendapatkan pekerjaan dengan posisi dan gaji yang sangat layak. Setelah setahun bekerja, kondisi saya tiba-tiba berubah. Saya mulai sering kejang-kejang tanpa sebab. Mulai saat itulah, penyakit demi penyakit menghampiri saya, sampai saya merasa minder dan kurang percaya diri”, ungkap Yuli lebih lanjut. Melihat penyakit Yuli tersebut, orangtuanya membawa ke rumah sakit untuk di rawat. Namun, analisa dokter hasilnya berbeda-beda. Ada yang menyatakan ia kena penyakit Kista, ada yang menyatakan ia tidak apa-apa. Setelah sempat empat kali masuk ke rumah sakit. Yuli dan orangtuanya mencoba menggunakan pengobatan alternatif.

Banyak sudah ‘orang pinter’ yang mereka sambangi. Dari Ibukota Jakarta, Cilacap hingga ‘orang pinter lokal’ yang berada di Bekasi. Beragam ritual pernah mereka lakukan, di antaranya mandi di tengah malam serta disedot menggunakan media telur. Tujuannya satu, untuk menyembuhkan penyakit Yuli. Apa yang diharapkan tidak kunjung datang. Penyakitnya malah bertambah parah. Pipinya bengkak- bengkak, dadanya sering terasa sesak. Dan yang paling menyiksa, emosinya yang tidak terkendali. Menurut ‘orang pinter’, Yuli dikerjain oleh seseorang yang pernah patah hati padanya. “Dulu memang saya pernah kenal dengan seorang laki-laki. Tapi karena seluruh anggota keluarga tidak setuju, akhirnya saya putus. Sejak putus itulah saya sering merasa kejang-kejang,” tegasnya dengan semangat. Inilah salah satu dari korban slogan yang menyesatkan “Cinta ditolak, dukun bertindak”. Sebuah cara yang hanya dilakukan oleh mereka yang mempunyai jiwa pengecut.

“Kalau dihitung-hitung, mungkin biaya untuk berobat ke alternatif, bisa membeli sebuah rumah mewah…. (sambil tertawa geli). Alhamdulillah, saya mempunyai teman yang terus memberikan nasehat kepada saya untuk segera diruqyah dan meninggalkan dukun-dukun itu,” tuturnya lagi. Yuli telah menjalani terapi ruqyah yang langsung ditangani oleh Ustadz Arif. Setelah menjalani ruqyah, ia banyak merasakan perbaikan. Emosinya mulai terkendali. Pipinya sudah jarang membengkak, walaupun terkadang masih muncul. Dan yang lebih penting, kini ia tidak lagi merasa minder dan menghadapi hidup lebih happy. “Tapi kira- kira ada nggak ya, yang mau sama orang yang penyakitan seperti saya?” selorohnya. Ustadz Arif kemudian menjelaskan, kita tidak boleh mengklaim diri seperti ini dan itu. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah 35 berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama prasangka hamba- Ku”. Jadi kita harus selalu yakin dengan pertolongan Allah kepada hamba-Nya yang selalu berdoa,” ungkapnya dengan penuh perhatian.

Setelah menikmati makanan yang dihidangkan serta melaksanakan shalat ashar. Kami berpamitan kepada keluarga Yuli. Seluruh anggota keluarga Yuli mengantarkan kami sampai ke pintu gerbang rumah. Setelah mengucapkan salam, kami meluncur mening- galkan rumah Yuli. Selamat berjuang saudari- ku. Semoga Allah 35 tetap memberikan keku- ataan untuk tetap komitmen menjalankan semua perintah-Nya, dan memudahkan segala urusan kita.
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Hijrah Menuju Perubahan dan Perbaikan

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berhijrah, kemudian mereka Seijihad di jalan Allah, maka merekalah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Baqarah: 218)

AYAT ini  merupakan ayat pertama yang berbicara tentang hijrah menurut susunannya dalam mushaf. Dalam konteks tafsir ijmail (global), penafsiran ayat ini bisa berbunyi, “orang-orang yang mampu membersihkan jiwa mereka dari kotoran dan najis syirik dengan keimanan yang tulus (shodiq). membersihkan fisik mereka dengan berhijrah meninggalkan negeri yang penuh dengan kemusyrikan dan kekufuran, serta membersihkan harta dan jiwa mereka dengan mengorbankan harta dan nyawa mereka dalam rangka berjuang (beijihad) di jalan Allah swt. Mereka yang memiliki sifat seperti inilah yang memang layak dan berhak mendapat rahmat Allah swt.

Dalam seluruh ayat yang berbicara tentang hijrah, ternyata tiga hal inilah yang selalu disebut secara berdampingan. Hijrah selalu diapit dengan iman di awalnya dan jihad di akhirnya. Tentunya susunan yang demikian tepat bukan sebuah kebetulan atau semata-mata untuk memenuhi keserasian dan keindahan bahasa Al-Qur’an, tetapi lebih dari itu, Allah menginginkan agar kita lebih banyak memetik hikmah dan pelajaran darinya.

Iman merupakan landasan setiap perbuatan seseorang, termasuk dalam melakukan hijrah. Sehingga tidak terjadi seperti hijrahnya Imru’ul Qays yang berhijrah karena hendak menyusul seorang wanita yang ingin di nikahi, sampai kisahnya diabadikan dalam hadits Rasulullah saw. Dan ia mendapatkan sesuai dengan niat dan motivasinya. Sedangkan perjuangan (jihad) merupakan tuntutan dan pengorbanan yang akan dialami oleh seorang yang berhijrah, baik harta ataupun nyawa sekalipun. Tidak ada hijrah tanpa pengorbanan dan perjuangan dan tidak ada hijrah tanpa dilandas dengan iman.

Terkait dengan hadits Imru’ul Qays di atas, ternyata hadits tentang hijrah ditempatkan di urutan awal bersama hadits yang berbicara tentang niat. “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang di niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan RasulNya, maka (pahala) hijrahnya akan di dapatkan. Namun barangsiapa yang berhijrah karena dunia yang ingin di raih atau karena wanita yang ingin di nikahi. maka dia akan mendapatkan (balasan) sesuai dengan niat hijrahnya”. Betapa penting arti sebuah hijrah dalam kehidupan seorang muslim yang inginkan perubahan dan perbaikan, sampai dia ditempatkan bersama hadits tentang niat.

Ayat lain yang berbicara tentang hijrah adalah ayat 100 dari surah An-Nisa’, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di maka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya, kemudian kematian menimpanya (sebelum dia sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Ayat ini termasuk dalam kategori ayat iarghib, ayat yang memberi khabar gembira dan motivasi untuk berhijrah. Berdasarkan sebab nuzulnya, motivasi dan perintah hijrah dalam ayat ini justru disahut oleh seorang yang papa dan dalam keadaan sakit, seorang lelaki yang bernama Danirah bin Al-Qays. Demi mendengar perintah berhijrah, dia tidak memperhatikan kondisi dirinya. la segera meminta kepada anak-anaknya untuk menandunya agar bisa berhijrah ke Madinah. Namun ia akhirnya meninggal dunia dalam perjalanan hijrah dan menerima balasan yang begitu besar sesuai dengan janji Allah swt.

Bahkan dalam surah At-Taubah ayat 20-22, Allah memberi khabar gembira bagi mereka yang bisa memenuhi tiga hal, yaitu iman, hijrah dan jihad, bahwa bagi merka tiga keutamaan; rahmat Allah, ridhoNya dan surga na’im yang penuh dengan kenikmatan. “orang-orang yang berikrar dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmatNya, keridhoan dan surgaNya. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar”.

Abu l-layyan menjelaskan dalam kitab tafsirnya bahwa tiga keutamaan dan balasan yang besar itu layak diraih oleh mereka yang mampu berhijrah dengan dilandasi iman dan dibuktikan dengan perjuangan dengan harta dan jiwa raga. Balasan yang disediakan dalam ayat ini diawali dengan rahmat Allah karena rahmat merupakan nikmat yang paling luas sebagai balasan atas keirilanan yang jujur. Kemudian diteruskan dengan ridho Allah sebagai puncak dari ihsan Allah kepada hambaNya yang mau berjihad, serta diakhiri dengan surga na’ini sebagai balasan dari kelelahan dan keberatan berhijrah meninggalkan negeri yang segala yang dicintainya.

Bahkan balasan yang ketiga menurut Al-Alusi yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan yang kekal adalah balasan yang sangat tepat diraih oleh mereka yang berhijrah karena dalam melakukan hijrah, seseorang pasti akan menempuh perjalanan yang melelahkan, padahal perjalanan adalah bagian dari azab. Surah yang paling banyak menyebut tentang hijrah adalah surah Al-Anfal. Bahkan pembicaraan tentang hijrah berada pada empat ayat yang terakhir, yaitu ayat 72-74 setelah surah ini diawali dengan pembicaraan tentang masalah harta rampasan perang. Betapa hijrah memang menuntut perjuangan dan pengorbanan seperti layaknya seseorang yang ingin mendapatkan harta warisan, ia peroleh setelah menempuh perjuangan yang cukup berat.

Dalam ketiga ayat pertama dalam surah Al- Anfal ini, Allah membagikan manusia berdasarkan klasifikasi hijrah kepada tiga kelompok; Muhajirin (orang-orang yang berhijrah, Anshor (orang-orang yang memberi pertolongan kepada orang yang berhijrah) dan orang yang tidak berhijrah. Kemudian di akhir surah Al-Anfal, Allah menyebutkan golongan keempat, yaitu orang yang berhijrah setelah periode hijrah yang pertama. Namun mereka tetap mendapatkan balasan seperti layaknya orang-orang yang berhijrah lebih dahulu.

Mencermati susunan ayat-ayat ini. ternyata orang-orang yang berhijrah (muhajirin) adalah kelonipok yang pertama kali Allah sebutkan sebelum tiga kelompok berikutnya. Karenal mereka (Muhajirin) merupakan cikal bakal dan pondasi awal terbentuknya masyarakat muslim dan mereka berhijrah untuk mempertahankan agama yang mereka yakini demi kejayaan dan kebangkitan Islam di masa yang akan datang. Dan ternyata dari mereka lahir generasi yang meninggalkan se jarah yang baik untuk umat sepanjang zaman.

Dalam konteks sekarang, setelah Rasulullah menyebutkan bahwa tidak ada hijrah setelah Fathu Makkah, tetapi jihad dan mati, maka yang bisa kita upayakan dan harus senantiasa diusahakan adalah berhijrah dalam konteks ma’nawiyah untuk melakukan perubahan dan perbaikan internal yang nantinya diharapkan dapat memberikan kebaikan dan perbaikan secara eksternal “Sholih Wa Mushlih”. Sungguh bangsa kita sangat mendambakan hadirnya komunitas yang siap berhijrah melakukan perbaikan dan perubahan menuju kejayaan Islam yang dicita-citakan..
Oleh : DR. Atabik Luthfi, MA
Dosen STAIN Cirebon dan Ketua PW IKADI DKI Jakarta
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M
HUBUNGI ADMIN