Bintang untuk Menyerang Syetan

Malam bertabur bintang. Memiliki sejuta keindahan. Setiap orang menterjemahkan suasana malam itu dengan penafsiran hatinya masing-masing. Sesuai dengan suasana hatinya malam itu.

Tetapi apapun penafsiran hati kita, bintang di langit disaat langit cerah, membuat malam semakin terasa syahdu dan indah. Tak terhitung jumlah bintang yang bisa kita saksikan dengan mata telanjang.

Bintang yang hanya Nampak berkedap-kedip nun jauh di angkasa sana, ternyata sangat besar ukurannya. Bahkan di antara bintang yang keci itu ada yang ukurannya lebih besar dari matahari kita.

Tentu, dari sekian banyak bintang yang ada, masih sangat banyak yang belum di ketahui. Bintang-bintang itu masih menyimpan berjuta maisteri yang belum diketahui dan dipecahkan manusia. Masih sangat sedikit yang bisa lakukan dan kita ketahui dari bintang-bintang itu. Kita baru bisa melihatnya dari jauh. Pembicaraan dan pengiriman manusia ke planet Mars atau bulan masih belum bisa mengungkap secara lengkap. Masih menyisakan banyak pertanyaan.

Tidak ada ciptaan Allah yang sia-sia. Bintang-bintang yang bertaburan itu mempunyai beberapa fungsi. Bintang sebagai petunjuk bagi manusia. Bintang sebagai hiasan angkasa dan bintang sebagai pelempar syetan.

Bintang sebagai petnjuk bagi manusia, maksudnya adalah dengan bintang itulah Allah ingin memberikan petunjuk arah angin dan musim. Nelayan adalah salah satu prosfesi yang sangat dekat dengan masalah ini. Ketika dia diombang-ambingkan oleh ombak di malam hari, ketika daratan sudah tidak lagi Nampak. Yang ada hanya dia, perahu, hembusan angin air laut dan bintang. Sebelum adanya kompas, bintang menjadi patokan bagi para nelayan untuk menentukan arah. Sehingga dia bisa merapat ke pantai lagi dan tidak tersesat. Karena bintang-bintang itu mempunyai tempat yang bisa dipastikan keberadaanya. Allah berfirman, “Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (petunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 16)

Demikian juga untuk menentukan musim. Dengan bintang bisa diperkirakan bahwa musim tertentu akan datang. Ini semua merupakan kejadian alam yang selalu berputar sesuai dengan alurnya.

Bahkan para dukun pun memanfaatkan keberadaan bintang-bintang itu untuk meramal nasib seseorang. Dari jodoh, rizki hingga kesehatan. Tetapi yang satu ini tidak dibenarkan dalam Islam. dikarenakan tiga urusan tersebut tidak ditentukan oleh bintang tetapi telah ditentukan dalam catatan taqdir setiap orang. Maka, ini berurusan dengan masalah ghoib yang tidak mengkin diketahui oleh siapapun kecuali melalui dalil yang jelas dan terang.

Bintang juga berfungsi sebagai hiasan langit. Bak taburan lampu-lampu mahal dengan warna-warna sinar lampu yang indah. Menduhkan pandangan mata. Menyejukkan hati yang sedang gundah dan menundukkan hati yang sedang meninggi. “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintan-bintang.” (QS. Al-Mulk: 5)

Nah, diantara bintang-bintang itu ada bintang berpindah. Yang terkadang bisa kita lihat dengan mata kita, bintang melesat seperti dilemparkan.

Ternyata pindahnya bintang dari satu tempat ke yang lain, buka saja merupakan peristiwa alam. Tetapi mengandung sisi keghoiban. Yaitu sesuai dengan firman Allah, “Sesungguhnya Komi telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebena-benarnya) dari setiap syetan yang sangat durhaka.” (QS, Ash-Shaffat: 5-7).

Allah memelihara langit dan isi langit – berupa pembicaraan antar malaikat – dengan menggunakan bintang yang dilemparkan kepada pencuri berita langit itu, yaitu para syetan-syetan. Lebih jelas lagi Allah mengatakan dalam surat Al-Mulk: 5, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit paling dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syetan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.”

Syetan-syetan itu berusaha mencuri pembicaraan para malaikat tentang taqdir hari itu. Syetan yang berkolaborasi dengan para dukun berupaya untuk mengetahui sesuatu sebelum terjadi. Dengan cara “menguping” berita langit. Maka kemudian setiap ada syetan yang berusaha mencuri, Allah melempari mereka dengan bintang yang akan membakar mereka. “Barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.” (QS. Ash-Shaffat: 10).

Suluh api itu akan mengejar syetan agar tidak bisa mendapatkan berita langit. Allah melindungi alam semesta ini dari kerusakan yang diperbuat oleh syetan. Karena syetan akan menyesatkan anak cucu Adam dengan berita hasil curiannya itu.

Penjagaan ini baru Allah ciptakan setelah Nabi Muhammad diutus. Sebelumnya langit tidak ada bintang penjaga. Sebagaimana pernyataan jin sendiri yang diabadikan dalam surat Al-Jin: 8-9, “Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) Iangit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendenga-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”

Para ulama tafsir mengatakan bahwa kata sekarang yang dimaksud para jin itu adalah setelah diutusnya Nabi Muhammad. Jadi, inilah sisi ghoib pada sebagian bintang itu. Bukan saja merupakan kejadian alam berpindahnya bintang. Tetapi lebih dari itu, Al-Quran mengkhabarkan kepada kita bahwa bintang itu sedang mengejar syetan yang sedang melakukan pencurian. Untuk membakar dan membantai syetan pencuri.

Dan memang bintang adalah salah satu makhluk Allah yang berada di gengggaman Allah. Allah telah menciptakan bintang-bintang dan difungsikan untuk ketiga hal tersebut. “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah,Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’rof: 54).

Sungguh, Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Keajaiban Burung Terbang

Sebelum manusia berpikir untuk menciptakan kapal terbang, Allah telah memberikan contoh di angkasa luas berupa makhluk-Nya yang bernama burung. Burung yang bisa kita saksikan sehari-hari itu, mampu mengitari udara di atas kita. Seperti sedang bermain-main di awan, burung mengepak-ngepakkan sayapnya. Barulah setelah Allah membukakan ilmu pembuatan pesawat terbang, manusia mampu membuatnya dengan desain mirip burung.

Maha Suci Allah yang telah mendesain sayap burung untuk terbang. Bentuk sayapnya meruncing dan melengkung, mempunyai tepi depan yang tebal dan tumpul serta tepi belakang yang menyempit seperti mata pisau. Seperti inilah sayap pesawat terbang didesain hingga bisa terbang seperti burung. Bentuk seperti itu jelas tidak hanya asal dipasang tanpa tuiuan. Sayap dengan model seperti itu  berguna untuk mengatasi hambatan udara yang harus diterjang oleh burung. Bentuk sayap meruncing itu tepat sekali. Seperti kalau berenang di air, kita harus melawan hambatan air supaya bisa berenang maju.

Sementara untuk melawan gravitasi bumi, burung menciptakan daya angkat mengandalkan bentuk sayapnya yang melengkung itu. Bentuk melengkung menghasilkan permukaan atas lebih cembung dan permukaan bawah sedikit cekung atau malah rata sama sekali. Akibatnya, angin yang melewati tepi utama sayap serta permukaan atas mengalir lebih cepat daripada angin yang melewati permukaan bawah sayap.

Perbedaan kecepatan angin di bawah dan di atas sayap itu menghasilkan perbedaan tekanan udara. Tekanan udara pada permukaan atas lebih kecil sehingga terjadi aliran udara dari bawah permukaan ke atas permukaan sayap. Ini sesuai dengan hukum fisika yang menyatakan, angin bertekanan udara tinggi selalu mengalir ke tempat yang bertekanan udara lebih rendah. Itulah yang menyebabkan burung mempunyai daya angkat melawan gravitasi bumi.

Sedangkan jika burung ingin mendaratkan tubuhnya, dia mengurangi kecepatan dengan menutup sayap dan ekornya kemudian mempersiapkan kakinya bak roda pesawat yang siap menjejak landasan.

Begitulah teori ilmiah bagaimana burung bisa terbang. Dan kita saksikan indah berputar-putar di angkasa.

Tetapi, dalam Islam, burung tidak sekadar dilihat sebagai sesosok mahkluk yang begitu saja. Ia adalah makhluk Allah, yang beriman, dan tunduk patuh pada ketetapan-ketetapan Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah memberitahukan hakekat di balik semua teori tersebut. Di mana burung terbang bukan saja karena sayap. Tetapi burung bisa bertahan di udara dan dan tidak jatuh karena kehendak Allah dan kekuasaan-Nya. Allah berkenan menahan nya agar tidak jatuh.

Setelah Allah berfirman tentang bumi yang telah dihamparkan dan dimudahkan untuk manusia. Allah berfirman tentang burung. “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (QS. Al-Mulk: 19).

Dalam tafsirnya lmam Qurthubi menjelaskan ayat tersebut, “Sebagaimana Allah telah memudahkan bumi untuk manusia, Dia menghamparkan udara untuk burung. Burung itu membuka sayapnya di udara ketika terbang dan menutupkan sayapnya jika hendak berhenti dari terbang. Tidak ada yang menahan burung (tetapdi udara) ketika dia terbang kecuali Allah. Sesungguhnya Dia atas segala sesuatu Maha melihat.”

Lebih tegas lagi, lmam lbnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan hamba-Nya untuk melihat burung yang berada di antara langit dan bumi, bagaimana Allah menjadikannya bisa terbang dengan dua sayapnya. Tidaklah ada yang menahannya (hingga tidak jatuh) kecuali Allah dengan segala keuasaan-Nya dengan memberikan kekuatan kepada sayap dan memudahkan udara agar burung bisa tetap bertahan terbang di udara.”

Hari ini, berbagai macam jenis pesawat canggih telah ‘bersaing’ terbang dengan burung di angkasa. Dari pesawat pengangkut manusia dan barang hingga pesawat tempur. Dengan semua teknologi canggih itu, masih banyak pesawat yang jatuh. Baik diketahui sebabnya seperti  kerusakan pada mesin, atau tidak bisa terdeteksi.

Ini semakin menunjukkan bahwa keberadaan benda-benda yang terbang di angkasa baik itu burung, pesawat ataupun yang lainnya, adalah merupakan kehendak Allah yang menahan benda-benda itu agar tidak jatuh ke bumi. Maha Besar Allah.

Lebih dari itu, bila bagi orang awam burung tak lebih hanya makhluk kecil yang bisa terbang, bagi seorang mukmin yang beriman kepada Allah, burung  adalah makhluk yang beriman pula, yang taat melakukan sembahyangnya. lni benar-benar salah satu kegaiban dam yang ada di sekitar kita. Sesuatu yang seringkali tldak diperhatikan oleh kebanyakan orang.

Perhatikanlah, bagaimana Allah dengan jelas menegaskan, burung-burung itu beribadah dan bertasbih kepada Allah, dengan caranya sendiri. Allah SWT. berfirman, “Tidakkah kamu tahu bahwasannya AIIah kepada-Nya bertasbih apa yang di Iangit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur: 41).

Jadi, burung yang tengah mengepakkan sayapnya itu sesungguhnya tengah bertasbih kepada Allah SWT. Para ahli tafsir menjelaskan, bahwa yang dimaksud mengetahui cara sembahyang, ialah bahwa masing-masing makhluk mengetahui cara shalat dan tasbih kepada Allah dengan ilham dari Allah SWT.

Di masa Nabi Daud, bahkan dengan tegas dijelaskan di dalam Al-Qur’an, Allah menyuruh burung-burung itu untuk terus-menerus bertasbih bersama Nabi Daud. Allah SWT. berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai  gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud.” (QS. Saba’: 10).

Hal ini juga ditegaskan kembali pada ayat yang lainnya. “Maka kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka teloh Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud …” (QS. Al-Anbiya’: 79).

Jadi, seekor burung, sesungguhnya menyimpan kenyataan ghaib, kenyataan bahwa mereka makhluk beriman, yang taat, terus menerus bertasbih. Setiap kali berterbang ia bertasbih. Alangkah sedihnya, bila manusia tidak terbuka hatinya oleh kenyataan di sekitarnya. Tidak tergugah oleh pesan-pesan kegaiban, yang berguna untuk meningkatkan iman, dari makhluk-makhluk yang sehari-hari berkeliaran di sekitar kita.

Seharusnya, kita malu dengan burung-burung yang shalih itu. Mereka tidak saja menjadi inspirasi lahirnya teknologi, tapi juga telah menyontohkan, bagaimana menjadi makhluk yang taat, shalih, bersembahyang menghadap Allah dengan cara yang telah diajarkan.

Seekor burung, benar-benar menyimpan keghaiban dan keimanan. Adakah kita berpikir?

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Gunung Seperti Awan

Sering kita menjumpai ungkapan: Gunung yang kokoh menjulang, tertancap kuat ke bumi. Ungkapan ini tidaklah salah. Karena itulah yang kita saksikan. Gunung-gunung yang ada di sekitar kita, begitu kokohnya dan kuatnya berdiri tidak bergeser dari tempatnya walau badai dan topan datang mengamuk.

Namun, itu semua adalah pandangan mata manusia yang sangat terbatas dan lemah. Semua alam semesta ini tunduk pada peraturan dan undang-undang yang telah Allah gariskan. Hanya manusia dan jin saja yang sebagian besarnya membangkang terhadap undang-undang Allah.

Gunung adalah salah satu makhluk Allah yang tidak berani keluar dari peraturan Allah yang telah menciptakannya. Dalam al-Qur’an, Allah telah memberitahukan kepada kita tentang gunung. “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (an-Naml: 88)

Pernyataan wahyu tentang gunung yang berjalan seperti awan bisa jadi ditentang oleh sebagian orang bodoh yang melihat masalah ini sekilas. Hal ini merupakan gambaran kecil, bahwa apa saja yang tidak bisa kita cerna dari ayat al- Qur’an bukan berarti ayatnya yang harus diganti atau direvisi. Tetapi otak kita yang harus direvisi dan masalahnya yang harus dikaji. Ternyata, perjalanan gunung ini bisa dicerna oleh ilmu pengetahuan modern belakangan.

Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua- benua pada permukaan bumi menyatu pada masa- masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi. Dan penemuan Wegener ini, baru dipahami oleh para ahli geologi 50 tahun setelah Wegener mati.

Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan- daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Berikut penjelasan para ilmuwan tentang peristiwa alam yang menakjubkan ini:

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km. terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan- lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan I hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera At- lantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Sci- ence, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachu- setts, 1985, s. 30)

Jadi, pergerakan gunung yang diungkap al- Qur’an belasan abad yang silam itu baru abad yang lalu bisa ditemukan penjabarannya secara ilmiah. Ini menunjukkan betapa kehebatan manusia sebesar apapun tetaplah sebatas kehebatan makhluk dan bukan Pencipta. Pada sisi yang lain, ini semakin mempertebal keyakinan kita terhadap al-Qur’an yang jelas-jelas bukan perkataan manusia. Karena masalah pengetahuan modern ini, belum bisa dicerna ketika zaman Rasul dan para shahabat hidup.

Bahkan dalam masalah kata-kata, betapa Allah mengungkapkannya dengan detail dan sangat bermakna. Dalam ayat tersebut di atas, perjalanan gunung diibaratkan seperti perjalanan awan yang mengapung. Perumpamaan. ini bukan sekedar perumpamaan kering yang tidak bermakna. Karena kini, ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s. 12-13).

Gunung yang berjalan seperti awan adalah salah satu fenomena luar biasa di alam semesta ini. Tentu masih sangat banyak rahasia di balik alam semesta yang semakin memaparkan kekerdilan kita di hadapan Penciptanya.
Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Gelegar Petir dan Kedekatan Kiamat

Gelegar Petir dan Kedekatan Kiamat

‘Petir akan semakin banyak ketika kiamat sudah dekat. Tetapi ia tidak akan menyambar orang yang berdzikir.”

Secara fisika, petir pada dasarnya adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Biasanya petir terjadi pada awan yang tengah membesar menuju awan badai cumulonimbus.

Awan memiliki muatan berbarengan dengan pergerakan dan interaksi air dan es di dalam awan. Partikel kecil yang bermuatan positif akan naik ke bagian atas sedang partikel negatif akan turun mendekati bagian bawah awan. Begitu muatan yang terbentuk cukup besar, partikel yang muatannya berlawanan akan menarik dan melontarkan energinya sehingga terjadi lompatan bunga api raksasa. Sedemikian raksasanya, sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya. Akibatnya, udara terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/ detik itu akan menimbulkan bunyi menggelegar.

Menurut Ron Holle, peneliti petir di Laboratorium Badai Topan Nasional di Norman, Oklahoma, AS, kilatan petir mengandung muatan listrik 100 juta volt. Energi sebesar itu bisa memanaskan suhu udara hingga mencapai 40.000 derajat.

Kondisi meteorologis Indonesia memang sangat ideal bagi terciptanya petir. Menurut Dr. Ir. Dipl. Ing. Reynaldo Zoro, ahli petir dan direktur PT Lapi Elpatsindo, ada tiga syarat untuk timbulnya petir. Ada udara naik, kelembaban, dan partikel bebas atau aerosol. Ketiga syarat itu terpenuhi dengan baik di Indonesia sebagai negara maritim. Udara naik ada karena sebagai negara tropis, panas menyinari tanah sehingga ada pergerakan udara ke atas; lembab. Dengan adanya kelembaban, udara yang naik menjadi basah dan bisa membuat awan; sementara sebagai negara kepulauan tidak akan kekurangan partikel bebas karena bisa disuplai dari air laut atau industri seperti pabrik semen.

Karena kondisi yang seperti itu pula maka aktivitas petir di Indonesia tergolong tinggi bahkan bisa dikategorikan tertinggi di dunia bersama sejumlah negara Afrika Tengah seperti Nigeria, Kamerun, dan Kongo serta Karibia di Amerika. Di kota Tangerang dan Bogor tercatat 336 dan 332 hari terjadi halilintar di sana. Artinya, tiga atau empat kali lipat rata-rata jumlah geledek di Eropa dan AS.

Saking banyaknya petir itu, ada beberapa hal yang dihubungkan dengan petir. Seperti sebuah desa di Banten yang diberi nama Desa Petir. Lalu, di museum dekat Masjid Demak tersimpan lawang bledhek (pintu halilintar), konon bikinan Sunan Kalijaga. Dipercaya, tokoh ini punya aji gelapngampar dan bisa mendatangkan geledek. Keyakinan miştis yang tidak berdalih dan salah,

Yang unik, petir lebih banyak meminta korban laki-laki. Menurut hitungan Prof Walter Conor jumlah pria yang jadi korban petir, enam kali jumlah wanita yang disambar halilintar. Tetapi tidak ada penjelasan ilmiahnya.

 

Gelegar Hardikan Malaikat

Dalam kajian keghaiban petir yang sampai kepada kita melalui wahyu, bahwa petir adalah hardikan malaikat kepada awan. Malaikat yang ditugasi mengawasi awan itu, menggiring awan dengan hardikannya ke tempat yang Allah kehendaki.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah kepada orang Yahudi yang bertanya tentang hakekat gelegar petir, “Itu adalah hardikan malaikat ketika dia menggiring awan ke tempat yang dikehendaki Allah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Nasai, dihasankan oleh Imam Tirmidzi).

Hal ini juga disebutkan dalam ayat, “Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar- benarnya.” (Ash-Shaffat: 2). Para ahli tafsir seperti Imam Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir menukil riwayat dari sebagian ulama bahwa makna ayat tersebut. “Malaikat yang menghardik awan.”

Dalam surat Ar-Ra’d (petir): 13, “Dan petir itu bertasbih dengan memuji Allah.” Begitulah dalam suara petir itu terdapat desah tasbih pujian kepada Allah. Setiap Amir bin Abdillah mendengar gelegar petir membaca ayat ini dan kemudian berkata, “Sesungguhnya ini adalah ancaman bagi penduduk bumi.”

Petir memang ancaman, karena bisa menghanguskan siapa pun dan apa pun. Petir adalah makhluk Allah yang digunakan untuk menyiksa siapa pun yang Allah kehendaki. Petir bahkan pernah digunakan untuk mengadzab suatu kaum atau perorangan. Dalam sebuah riwayat, seorang Yahudi datang ke Rasulullah sambil melecehkan bertanya tentang Allah, “Muhammad beritahukan kepadaku, dibuat dari apakah Tuhanmu. Apakah dari mutiara atau yakut (batu mulia).” Maka tidak lama. kemudian orang itu mati disambar petir.

Frekuensi petir yang menyambar siapa saja yang Allah kehendaki semakin hari semakin banyak. Mengingat petir ini Allah kirimkan sebagai siksa. Dan di akhir zaman kemaksiatan semakin menjamur. “Petir akan semakin banyak ketika kiamat sudah dekat hingga seseorang bertanya siapa hari ini yang disambar petir? Orang-orang menjawab: Fulan, fulan dan fulan.” (HR. Ahmad).

Untuk itulah ketika petir menyambar-nyambar tidak usah khawatir. Basahilah bibir ini dengan dzikir kepada Allah. Dan bukan dengan kata-kata yang lain. Karena sesungguhnya petir tidak menyambar orang-orang yang sedang memuji Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Jika kalian mendengar petir maka berdzikirlah kepada Allah. Karena petir tidak akan menyambar orang yang berdzikir.”

Dzikir khusus yang diajarkan Nabi ketika mendengar petir adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ لَا تَقْتُلْنَا بِغَضَبِكَ وَلَا تُهْلِكُنا

بِعَذَابِكَ وَعَافِنَا قَبْلَ ذَلِكَ

“Ya Allah janganlah Engkau bunuh kami dengan kemarahan-Mu dan janganlah Engkau hancurkan kami dengan adzab-Mu dan maafkanlah kami sebelum ini.” (HR. Bukhari dalam kitab adab, Ahmad dan Hakim).

Begitulah keberadaan orang beriman. Mendengar petir saja, dapat mengambil banyak hikmah. Mulai dari sisi ghoib petir yang disebutkan Rasulullah, pelajaran dari petir bahwa dia pun. bertasbih, hingga terjaganya lisan dengan selalu berlindung dan memuji Allah dalam setiap kesempatan. Agar Allah selalu menjaga kita dalam setiap kesempatan kita.

Kilat Yang Menyambar Bumi

Kilat Yang Menyambar Bumi

Kala langit mulai mendung. Semakin tebal semakin hitam. Sesekali terlihat terang di langit kemudian diiringi dengan suara geledek menggelegar. Kilat yang menerangi langit itu pada saat tertentu menyambar apa saja yang bisa dijangkaunya. Mulai dari pepohonan, rumah bahkan manusia. Kilat itu membakar dan menghanguskannya.

Ini adalah kejadian alam yang sering kita saksikan. Kemudian para ilmuwan tergerak untuk meneliti lebih jauh hakekat dari kejadian alam yang besar itu. Berikut kesimpulan E.P Krider, “Kilat adalah pancaran listrik dengan arus tinggi yang terjadi di atmosfer. Jangkauannya dapat mencapai beberapa puluh kilometer hingga beberapa ratus kilometer, dengan rata-rata puluhan kilometer.”

Teori ini menjadi ilham percobaan yang dilakukan sejumlah ilmuwan pada tahun 1970-an. Dari berbagai percobaan itu, mereka membuktikan bahwa kilat adalah sumber listrik.

Benjamin Franklin adalah orang pertama yang mengadakan kajian sains tentang kilat pada abad ke-18 tepatnya tahun 1752. Dalam eksperimennya, ia menyimpulkan bahwa kilat adalah kumpulan listrik.

Seorang ilmuwan lain yang juga melakukan eksperimen adalah G.W. Richmann. Tetapin lelaki asal Swedia itu tewas akibat sambaran kilat, karena dia tidak membuat proteksi seperti yang dilakukan oleh Benjamin.

Hari ini, ketika ilmu telah mencapai tingkat baku, para ahli meteorologi menemukan bahwa awan cumulonimbus adalah penghasil kilat di angkasa. Awan cumulonimbus ketinggiannya mencapai 25.000 sampai dengan 30.000 kaki.

Bagaimana kilat bisa dihasilkan oleh awan? Mari kita simak sebuah buku yang berjudul Meteorology Today. Dalam buku ini dinyatakan bahwa awan menjadi bermuatan listrik ketika butiran es jatuh melalui sebuah daerah di awan yang sangat dingin dan berbentuk kristal es. Ketika butiran cair bertabrakan dengan butiran es maka butiran itu membeku saat bersentuhan. Dan melepaskan panas yang terpendam. Ini untuk menjaga permukaan butiran es tetap lebih hangat dari pada kristal es di sekitarnya. Ketika butiran es bersentuhan dengan kristal es, elektron mengalir dari objek yang lebih dingin menuju objek yang lebih hangat. Oleh karenanya butiran es terbebani elektron negatif.

Efek yang sama terjadi ketika tetesan yang sangat dingin bersentuhan dengan butiran es. Dan pemicu api terbenani partikel bermuatan positif yang kemudian terbawa menuju bagian awan yang lebih tinggi oleh updraft. Butiran es, yang tertinggal dengan beban negatif, jatuh menuju bagian bawah dari pada awan, sehingga bagian bawah awan menjadi bermuatan negatif. Beban muatan negatif ini kemudian ditembakkan ke bumi sebagai kilat.

Itulah kajian ilmu modern tentang kilat yang menyambar-nyambar di angkasa.

 

Kilat, Tongkat Api di Tangan Malaikat

Kilat adalah salah satu makhluk Allah yang meramaikan dunia ini. Allah lah yang mengatur alur dan aturannya. Kalau pun ilmu manusia hari ini telah sampai pada kesimpulan ilmu meteorologi yang canggih, tetapi tidak akan dapat mendeteksi sisi ghoibnya.

Allah telah memberitahukan sisi ghoib dari kilat. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi dan Nasai yang dihasankan oleh Imam Tirmidzi dari Ibnu Abbas. Di mana dikisahkan dalam hadits itu bahwa beberapa orang Yahudi sepakat untuk menguji kebenaran kenabian Muhammad. Mereka memberondong Nabi dengan lima pertanyaan yang tidak mungkin dijawab kecuali oleh seorang Nabi.

Salah satu pertanyaan itu adalah, “Apakah kilat itu sebenarnya?” sergah mereka. Nabi menjelaskan, “Malaikat Allah yang ditugasi untuk mengawasi awan. Di kedua tangannya terdapat tongkat dari api yang digunakan untuk menggiring awan menuju tempat yang Allah perintahkan.” Jawaban ini dibenarkan oleh orang-orang Yahudi tersebut berdasarkan wahyu dalam kitab suci mereka.

Itulah sisi keghoiban kilat. Setiap kali kita menyaksikan sambaran kilat yang mungkin membakar apa saja, itu adalah sabetan tongkat malaikat yang sedang bertugas menggiring awan menuju tempat yang ditentukan oleh Allah.

Tentu, kita tidak pernah melihat tongkat api atau malaikat pemilik tongkat itu. Karena ini masalah yang ghoib. Yang bisa kita ketahui melalui wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi-Nya.

Kalau kajian para ilmuwan bisa dibuktikan oleh siapa pun. Maka, sisi ghoib kilat ini harus menggerakkan keimanan kita untuk meyakininya. Karena kehidupan kita di dunia ini selain dikelilingi oleh hal-hal yang bisa dijangkau oleh indera kita, juga dikelilingi oleh hal-hal ghoib yang bisa diketahui melalui satu-satunya jalan, yaitu wahyu.

Agar Allah menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-Nya. “Dialah Allah yang memperlihat- kan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan.” (Ar-Rad: 12).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Terkadang kalian takut terhadap kilat yang menyambar dan terkadang kalian berharap akan datangnya hujan. yang bermanfaat untuk menghidupkan bumi setelah matinya.”

Ya, melihat kejadian besar alam. Kita hanya bisa takut dan berharap. Meneliti dan mengkaji. Tetapi kita tidak bisa menentukan. Karena kita tetap makhluk dan di balik segala keagungan alam ini ada yang Maha Agung. Maka, bila kilat menyambar, petir menggelagar, pastikan, kita telah mengambil kadar yang pasti dari mengimani kekuasaan Allah di baliknya. Kilat dan petir, bagi orang beriman, adalah sumber penguat keimanan.

 

Ghoib, Edisi 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M

Kesaksian dan Catatan Nasib Janin

Kesaksian dan Catatan Nasib Janin

 

 

Kemajuan ilmu kedokteran hari ini sangat pesat. Untuk spesialisasi kandungan, janin dalam kandungan telah dapat dilihat dengan USG, ada juga penemuan tentang bayi tabung dan yang terbaru adalah kemungkinan kloning terhadap manusia. Manusia lahir tanpa bapak dan ibu.

Fase-fase yang dilalui oleh janin sudah menjadi ilmu baku di dunia kedokteran hari ini. Permasalahan ini telah diungkap Al-Qur’an dan hadits Rasulullah dengan detail dan benar. Pada masa di mana ilmu kedokteran belum semaju sekarang.

Menunjukkan bahwa Al-Quran bukan hasil karya apalagi sekedar hasil renungan manusia. Seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang.

Fase-fase janin itu bisa kita lihat disebutkan secara detail dalam surat Al-Mukminun: 12-14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”

Lebih detail lagi, Rasulullah memberitahukan kepada kita masa yang dilalui setiap fase tersebut. Dan penemuan di dunia kedokteran mengakui kebenaran wahyu yang sudah ada sejak 14 abad silam itu.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan pencip- taannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari be- rupa nuthfah (air mani), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh padanya. Lalu diperintahkan untuk menulis- kan empat kata: rezkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya. (Bukhari dan muslim).

120 hari. Waktu yang harus dilalui janin hingga dia hidup dalam rahim ibunya. Karena ruh telah ditiupkan. dunia kedokteran usia kan- dungan biasanya diungkapkan dengan minggu. 120 hari artinya 16 minggu.

Minggu ke-16 adalah awal dari fase Fetal (janin). Fase Fetal adalah fase kedua setelah fase Organogenesis (Perkembangan). Setelah janin melalui fase fetal barulah pada minggu ke-28 memasuki fase Perinatal (Tampak bentuk bayi).

Pada minggu ke-16 ini, plasenta yang merupakan akar janin telah terbentuk seluruhnya. Plasenta merupakan penghubung antara janin dan ibunya. Berguna sebagai jalan untuk suplai makanan berikut ekskresi (pengeluaran), respirasi (pernafasan), imunologi (penyaluran berbagai komponen antibodi) dan sebagainya.

Sementara bentuk janin juga telah menunjukkan kesempurnaannya. Pada usia ini, genetilia eksterna (kelamin luar) terbentuk dan dapat dikenal. Janin pun telah dibalut dengan kulit merah yang tipis. Janin hidup di dalam rahim ibunya.

Itulah yang bisa dipersembahkan oleh dunia kedokteran. Tentang perkembangan fisik sang calon bayi. Hasil dari penelitian yang panjang itu telah bisa mengungkap tanda-tanda kehidupan pada janin dimulai sejak usia kandungan memasuki 16 minggu.

Tetapi ada sisi ghoib yang tidak mungkin bisa diungkap dunia kedokteran. Hanya melalui pemberitaan wahyu saja kita bisa mengetahuinya. Sebagaimana dunia kedokteran telah membenarkan wahyu yang memberitakan fase demi fase yang dilalui janin. Maka masalah ghoib yang terjadi pada janin juga diungkapkan oleh sumber yang sama, wahyu. Wahyu yang kebenarannya absolut tidak mungkin salah walaupun penelitian tercanggih tidak mampu membuka tabirnya.

 

Keghaiban Janin

Sisi ghoib dari dunia janin adalah masalah peniupan ruh dan kedatangan malaikat pada hari ke- 120 dan kesaksian serta pengakuannya akan ketuhanan Allah.

Pada hari awal kehidupan anak cucu Adam itu, malaikat mendatanginya. Allah telah menugaskan kepada malaikat penjaga janin itu agar mencatatkan empat taqdir yang akan dijalani oleh calon manusia itu. Ke empat taqdir itu adalah rezki. ajal, amal, bahagia atau sengsara.

Setiap kita terlahir dengan membawa jatah hidup masing-masing. Setiap bayi datang dengan rezkinya sendiri, batas usia di dunia, seluruh tingkah gerak geriknya dan apakah termasuk orang yang bahagia atau sengsara.

Ini adalah keghaiban yang diberitakan oleh wahyu dan harus kita imani.

Sementara kesaksian dan pengakuannya disebutkan dalam surat Al-Araf: 172, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah. mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Sekali lagi, ini adalah keghaiban yang diberitakan oleh wahyu dan harus kita imani. 

Indra kita sangat terbatas. Ilmu kita pun demikian. Kedatangan Malaikat dan kesaksian janin tidak dapat diungkap dunia kedokteran manapun. Karena keduanya adalah bagian dari keghaiban yang bisa dibenarkan jika diberitakan oleh wahyu dan hanya keimanan yang bisa digerakkan untuk membuktikan kebenarannya.

Walaupun tetap saja ada pengingkaran dari mereka yang mengaku hebat. Sejak dulu hingga sekarang. Bahkan kecongkakan itu bisa jadi semakin bertambah, karena mereka merasa telah mencapai tingkat keilmuwan terhebat dalam sejarah manusia.

Imam Ibnu Hajar yang hidup enam abad yang lalu, mengungkapkan keprihatinannya terhadap pendapat sebagian dokter dan filosof, “Masalah peniupan ruh pada janin dinyatakan dalam hadits shahih. Tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali dengan wahyu. Sayangnya, sebagian pakar di bidang kedokteran dan filsafat mengatakan bahwa landasan pengetahuan masalah tersebut hanyalah rabaan dan prasangka yang jauh (dari kebenaran).

Ya, karena inilah saatnya iman dipertaruhkan.

 

 

Ghoib, Edisi No. 11 Th. 2/1424 H/2004 M

HUBUNGI ADMIN