Jin Lesbi Membuatku Menjadi Lesbian

 

Kesaksian Rosmala ( Nama samaran) (25) :

Hati-hati. Ketidak harmonisan rumah tangga bisa berakibat buruk terhadap kejiwaan anak. Ia akan mengalami tekanan mental. Dan bila kasih sayang itu tetap tidak didapatkan dalam keluarga, maka sang anak akan terus mencarinya. Walau dari orang lain dan dalam bentuk yang tidak terduga. Penyimpangan seksual dengan menjadi wanita lesbian, misalnya. Itulah kenyataan pahit yang dialami Rosmala, gadis berusia 25 tahun asal Jakarta Timur yang menceritakan pengalamannya kepada Majalah Ghoib, setelah diruqyah untuk yang ke enam kalinya. Berikut petikan kisahnya.

Bisa dibilang saya berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Rengekan tangis adik dan kemarahan orang tua adalah “nyanyian” sehari-hari di rumah. Sementara bapak, sebagai kepala rumah tangga yang diharapkan menjadi pelindung itu belum memiliki pekerjaan tetap. Kondisi ini semakin memperberat beban ibu yang setiap detik mendengar rengekan keenam anak- nya yang masih kecil-kecil. Saya sebagai anak tertua yang saat itu baru kelas enam SD juga tidak kalah bandelnya. Rindu kasih sayang, adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kenakalan saya. “Kamu kok mbandel banget. Naka…al sekali,” teriak ibu, sebelum akhirnya badai pukulan menerpa saya. Bahkan suatu saat saya pernah dikejar bapak. Saya lari dan terus berlari di bawah tatapan tajam tetangga yang hanya terdiam menonton.

Suatu kesempatan, saya seakan menemukan telaga di tengah kehausan kasih sayang, ketika ada seorang teman perempuan yang berumur 11 tahunan berempati terhadap keadaan saya. Namanya Yansi. Dia sangat memperhatikan saya. Mungkin karena inilah yang saya cari selama ini sehingga kesempatan tersebut tidak saya sia- siakan. Entah mengapa muncul perasaan senang di luar kewajaran. Sebagai seorang ABG yang sedang puber, seharusnya saya tertarik kepada lawan jenis. Namun keadaanlah yang memaksa saya tertarik dan terpesona dengan Yansi.

Perhatian Yansi itu sedikit mengobati luka di hati. Sehingga saat ibu meninggal tahun 1991 itu, entah mengapa kesedihan saya tidak berlangsung lama. Cuma satu dua hari kemudian saya bisa melupakan semuanya. Padahal sebelum meninggal ibu sempat berkata, “Kamu tidak akan kuat menghadapi masalah. Kamu bakalan punya ibu tiri.” Bahkan dalam masa yang demikian itu saya juga benci kepada bapak.

Hari terus berlalu. Kasih sayang itu pun semakin jauh. Ibarat burung, keluarga saya telah kehilangan satu sayapnya. Sehingga tidak ada pilihan lain, bapak harus segera mencari pengganti ibu. Dan saya pun melanjutkan ke SMP. Dari sini, saya semakin jauh dari kehidupan ABG yang manis. Narkoba ataupun minuman keras bukan lagi barang yang asing bagi saya. Awalnya, hanya sekadar iseng karena lagi bete segerombolan anak remaja menawarkan ganja. “Sudah, kamu pakai ini saja. Kamu bisa enjoy,” ujar seorang teman.

Sesaat seakan saya bisa melupakan kepahitan hidup di rumah. Seakan saya menemukan dunia yang baru meski akhirnya saya sadar bahwa narkoba itu tidak bisa menyelesaikan masalah. Hanya hilang sesaat setelah itu kembali lagi. Selanjutnya bisa ditebak, hampir setiap minggu saya bersama dengan beberapa teman yang semuanya laki-laki menghisap narkoba di lapangan yang tidak jauh dari rumah sampai pagi.

Saat di bangku SMP pula, perasaan sayang sama Yansi itu semakin dalam. Perhatian Yansi juga terasa seperti di luar kewajaran. Kemana- mana sering berdua, hingga akhirnya merambah dunia malam. Berpindah dari satu diskotik ke diskotik lain sambil menikmati indahnya joget erotis. Semakin lama mengenal Yansi saya merasakan ada sesuatu yang aneh, “Kok orangnya beda sama saya. Sepertinya dia punya kelainan-kelainan,” pikir saya waktu itu. Selanjutnya saya masuk dalam perangkap Yansi, menjadi lesbian hingga lulus SMP.

Tak lama setelah lepas dari jeratan Yansi saya diterima kerja di sebuah pabrik di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur. Kebetulan dunia kerja ini mempertemukan saya dengan ratusan wanita. Yang ternyata banyak di antara mereka yang juga lesbi. Lingkungan kerja ini sangat mendukung berkembangnya sifat lesbi saya. Selanjutnya saya mulai memasang perangkap dengan pura-pura menjadi teman baik. Mulai dari memberi uang, membelikan pakaian, atau mengajak jalan-jalan dan kalau perlu ATM saya serahkan kepadanya. Dan bila sudah terjebak, maka kata-kata manis pun berhamburan, “Kayaknya loe cantik banget deh”. “Kayaknya gue suka deh sama loe,” rayuan gombal itu meluncur begitu saja dari bibir saya. Sehingga ada beberapa teman wanita yang jatuh dalam pelukan saya.

Anwa, misalnya. Gadis manis berparas ayu itu, saya ajak jalan-jalan ke Ancol seharian. Masih belum puas di Ancol, akhirnya setelah isya’ saya bawa dia sebuah ke hotel di kawasan Jakarta Timur. Setelah memasukkan obat perangsang ke dalam gelas minuman dan menonton vcd porno. Akhirnya saya melakukan permainan yang biasa dilakukan kaum lesbi. Betapa bodohnya saya waktu itu. Uang senilai gaji dua bulan ludes hanya dalam sehari semalam. Namun, saat itu hati saya sudah buta. Saya tidak lagi peduli berapapun biayanya.

Bertahun-tahun sudah saya menjalani kehidupan sebagai wanita lesbi. Dan sudah beberapa teman wanita di tempat kerja yang sempat menjadi teman kencan. Namun, telaga kasih sayang belum juga saya reguk, percekcokan dan perselisihan dengan teman intim itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Seperti yang terjadi di tempat kerja di siang bolong itu. Saat teman-teman lain sedang ramai berdemo, saya punya aktifitas yang tidak kalah serunya. Bertengkar dengan seorang teman kencan saya. Gara-gara dia memanggil lesbi kepada temannya yang masih satu shift. Padahal dia sendiri pernah kencani. Sikapnya itu, membuat saya gelap mata. Dan terjadilah peritiwa yang menghebohkan iru. Saya pukul dia hingga jatuh, dan pingsan. Kejadian ini menarik perhatian teman kerja, sehingga rahasia yang selama ini hanya diketahui beberapa orang itu akhirnya terbongkar juga.

Untuk menunjukkan kenormalan saya sebagai seorang wanita, saya juga sempat berpacaran dengan cowok, meski tidak berlangsung lama. Hanya sekedar formalitas bahwa saya bukan lesbi. Atau terkadang saya melakukannya untuk membuat teman wanita saya cemburu. Karena dia juga melakukan hal yang sama. Hingga terkadang saya bertengkar dengan mereka.

Jin Lesbi Ingin Menikahi Saya

Akhir Desember 1999 lalu, keributan dalam rumah tangga kembali terulang. Panasnya matahari siang itu, seakan mencerminkan bara di keluarga. Ya, siang itu saya cekcok lagi dengan ibu tiri. Gara-gara masalah yang sepele sebenarnya. Tapi karena memang antara saya dan ibu tiri tidak ada saling pengertian, maka masalah kecil bisa menjadi besar. Beban ini semakin terasa berat saat saya juga bertengkar dengan teman kencan saya. Entah mengapa saat itu saya punya pikiran untuk menikahinya. Padahal kita sama-sama wanita. Dalam keadaan demikian saya dipanggil oleh teman-teman geng dan disodori ganja. “Ha ha ha” saya mabuk di pinggiran rel itu. Dalam keadaan demikian saya bingung menentukan pilihan. “Pulang. Nggak. Pulang. Nggak.” Saya sedih. “Keadaan saya kok seperti ini.” Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke tempat kost di Matraman.

Dalam perjalanan ke tempat kost, ketika menyeberang rel di Jatinegara saya merasakan suasana berbeda, “Blek” seperti ada sesuatu yang merasuk ke tubuh saya. Dan…saya langsung menggigil. “Apa saya kecanduan?” pikir saya masih setengah sadar. Akhirnya untuk bermalam di tempat kost saya batalkan. Saya langsung pulang naik mikrolet, lalu ngojek ke rumah. Nah, sampai di rumah saya kesurupan jin. Dari maghrib hingga ketemu maghrib lagi.

Dalam rentang waktu itu ada beberapa orang yang mengobati saya, tapi semuanya gagal. Saya kerasukan jin yang mengaku bernama Bety. Jin Bety ini katanya ingin menikah dengan saya, padahal dia adalah jin perempuan. Saya terus berteriak dan meronta hingga dipegang ramai-ramai. Dalam suasana yang gaduh itu tiba-tiba listrik padam, saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam.

Pertarungan dalam diri saya pun terus berkobar. Pertarungan hidup dan mati melawan kekuatan jin dalam diri saya yang selalu mengajak terbang dan pergi entah kemana. Tapi saya berusaha mati-matian mempertahankan diri. Saya meminta bantuan orang-orang yang ada di sekitar saya, “Pak tolong sembuhkan saya,” suara saya mengiba disela isak tangis. Sedemikian kuatnya jin itu ingin menguasai saya, sehingga saya terus teriak-teriak sampai jam satu malam.

Jam 4 pagi, ada seorang dukun yang datang. Dengan menggunakan air dalam plastik yang ditempelkan di belakang kepala saya, dia mencoba mengeluarkan jin Bety. Tapi jin itu tetap membandel. Dan pada jam 7 pagi, saya berontak, “Saya mau nikah. Saya mau nikah,” teriak jin Bety melalui mulut saya. Dalam keadaan demikian, saya masih sadar dan berusaha mempertahankan diri jangan sampai saya terpengaruh oleh jin Bety. Saya tidak mau ikut dia. Pertarungan yang ada dalam diri saya itu demikian keras, sehingga saya sampai tidak sadarkan diri beberapa jam.

Pada jam 12 siang. Saya dibawa berobat ke Bekasi dengan diantar empat orang. Dalam perjalanan itu saya mengalami pertarungan antara baik dan buruk. Ada bisikan-bisikan lirih di telinga saya, “Kalau kamu tidak membaca shalawat maka kamu akan mati,” lalu saya ikuti bisikan itu dengan terus membaca, “Allahumma shalli ala Muhammad.” Tiba-tiba ada bisikan lain, “Ha ha ha, saya adalah iblis. Kamu adalah penghayal berat. Penipu. Kamu pembohong.” Lalu ada bisikan lain, “Ros. Kamu harus bertahan. Jangan percaya. Itu adalah bisikan syetan.” Saya tidak tahu siapa yang membisikkan kata-kata itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah menuruti bisikan yang baik.

Begitu tiba di Bekasi sudah ada empat orang yang menunggu. Saya langsung dibawa ke rumah dan diobati. Orang pintar itu seakan menarik sesuatu dari badan saya “sreet” saya langsung lemas. Kemudian saya diberi obat dan jamu yang harus diminum di rumah.

Tak lama setelah tiba di rumah, ada lagi jin yang merasuk, “Saya adalah guru kamu. Kamu ikuti kata-kata saya,” kata jin yang mengaku sebagai guru itu melalui mulut saya. Dengan tanpa sadar saya langsung bergaya seperti orang yang bertapa. Duduk bersila sambil melipat tangan di dada. Tiba-tiba saya berteriak, “Makaan…” Katanya, waktu itu saya makan banyak sekali. Kemudian saya berteriak lagi, “Ailir..” akhirnya saya diberi jamu yang dari Bekasi. Setelah itu saya mendengar bisikan-bisikan entah dari mana, “Baca shalawat nabi. Kalau kamu muntah, maka kamu akan mati.” “Bacalah terus. Jangan biarkan pikiranmu kosong,” bisikan itu terdengar lagi. Saat berdzikir itu saya merasakan ada kekuatan lain yang berusaha mengajak saya terbang. Dia menginginkan kematian saya.

Sejurus kemudian, tanpa sadar saya meraih tangan bapak dan menciumnya, “Nikahkan saya dengan Bety,” pinta saya kemudian. Saya tidak tahu mengapa saya minta kawin dengan jin Bety. Perasaan itu muncul dengan tiba-tiba. Orang yang mendengarnya pun hanya bisa geleng kepala. Tak lama kemudian, saya tidak sadarkan diri, seakan saya dibawa ke dunia lain dan semuanya menjadi gelap. Saya baru sadar kembali menjelang maghrib, dengan menyisakan rasa sakit di kepala. Praktis saya mengalami gangguan jin itu selama dua puluh empat jam. Sampai akhirnya dibawa ke rumah sakit selama seminggu. Selama di rumah sakit itu, menjelang tengah malam saya selalu mendengar panggilan, “Rosmala. Rosmala,” dia memanggil-manggil nama saya. Saya ketakutan dan tidak bisa tidur. 

Selama di rumah sakit itu, orangtua jarang menjenguk saya. Justru saya dirawat oleh teman saya yang bernama Ani. Saya sedih sekali. Mengapa orangtua dan adik-adik saya tidak perhatian sama saya. Mengapa harus orang lain yang merawat tiap hari. Hati saya sedih bukan main, seakan diiris sembilu. Tanpa sadar tetesan air mata mengalir begitu saja. Membasahi pipi.

Sepulang dari rumah sakit, badan saya agak sehat. Meski masih sering tidak bisa tidur malam. Tapi anehnya pikiran saya juga masih ngeres dan belum berubah. Saya masih ingin bermain cinta dengan wanita. Walau demikian saya patut bersyukur kepada Allah. Setidaknya kebulatan tekat untuk berubah mulai tumbuh. Ya, sejak sejak bulan Januari tahun 2000 itu, saya tidak mau lagi menggunakan narkoba untuk menyelesaikan berbagai masalah. Dan saya juga bertekad untuk tidak lagi bermain cinta dengan wanita. Untuk itu, saya mencoba berkonsultasi ke beberapa psikeater. Hasilnya memang agak mengecewakan karena solusinya selalu obat penenang.

Selain ke psikeater saya juga berobat ke pengobatan alternatif. Di sana, saya disuruh duduk bersila sambil berdzikir, “Allah. Allah” sebanyak mungkin. Saat berdzikir itu badan saya gemetar, “Demi Allah. Saya bertaubat,” kata nurani saya. Desakan nurani untuk bertaubat itu begitu kuat. Hati saya bergejolak terus. “Ya Allah. Seandainya ada guru yang mau membimbing saya. Saya mau taubat,” sebutir doa yang selalu saya ulang.

Perjuangan Meraih Taubat

Tahun 2002 lalu, kesempatan itu datang sejak saya bertemu dengan Mbak Rabi’ah, seorang gadis muda berjilbab yang masih tetangga saya. Usianya tidak terpaut terlalu jauh dari saya. “Mbak saya mau taubat. Saya mau diajarin ngaji,” kata saya serius. Dari rona wajahnya, nampak sekali ia agak terkejut mendengarnya. Kemudian dengan gembira ia menyuruh saya datang ke tempat pengajiannya.

Dag dig dug. Jantung saya berdetak lebih kencang, ketika saya melangkahkan kaki ke tempat pengajian. Hati pun berdebar-debar. “Itu adalah perasaan yang wajar,” pikir saya, setelah bertahun-tahun terjerumus di lembah hitam. Dengan bercelana jins, kaos ketat dan tas ransel menggantung di punggung serta jilbab yang masih tersimpan dalam tas, saya berdiri di pintu mengucap salam. Teman-teman saya yang baru itu sampai terbengong melihat saya. Dipandangi seperti itu saya jadi gemeteran. Saya malu.

Semenjak tahun 2000 itu, saya memang berhasil melepaskan diri dari jeratan narkoba dan tidak lagi melakukan hubungan intim dengan wanita layaknya seorang lesbian. Namun, ada beberapa hal yang membuat saya keheranan.  Mengapa setiap kali berangkat mengaji ada perasaan berat. Kaki ini seakan tidak mau melangkah. Hati merasa tidak nyaman. Buat menghafal juga terkesan sulit. Hal itu saya konsultasikan ke mbak Rabi’ah. “Kalau ingin sembuh. Allah pasti menolong kita,” nasehat mbak Rabi’ah menguatkan langkah yang saya tempuh.

Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Tak terasa sudah satu tahun saya aktif di pengajian. Namun, secara tak terduga masih ada sebersit sifat lesbi. Saya tertarik dengan seorang wanita, namanya Tini. Terjadilah pergolakan batin yang hebat dalam diri saya. “Kok ada perasaan beda. Saya sepertinya cemburu kalau dia dekat dengan yang lain,” pikir saya. Parahnya, pernah ada keinginan untuk menggauli Tini. Hati saya tidak tenang dan gelisah hingga pagi. Saya coba memadamkannya dengan berwudhu, agar syaraf menjadi kendor kembali. “Dia itu teman saya. Saya sudah begini, saya tidak mau lagi seperti dulu,” saya mencoba membuang perasaan itu. “Percuma saya pakai jilbab, kalau saya kembali seperti dulu. Dan setiap orang yang memakai jilbab akan terkena getahnya,” pergolakan batin itu terus berlanjut.

Alhamdulillah, saya berhasil mengalahkan nafsu syetan itu, setelah semalaman berada dalam kekalutan. Entah mengapa saya tidak bisa merahasiakan masalah yang saya hadapi dari Mbak Rabi’ah. Mungkin karena dia sering memberi nasehat. Sehingga, ketika kami bertemu cerita itu meluncur begitu saja, “Kamu harus menjauh dari orang yang kamu sukai,” pesan mbak Rabi’ah tegas. Pesan yang semakin menguatkan tekad saya. Dan di sini saya menemukan indahnya persahabatan.

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saya membaca berbagai macam bacaan tentang stres atau kecanduan narkoba. Hingga akhirnya mata saya tertuju pada sampul Majalah Ghoib, “Stres” saya tertarik ketika membacanya. Kemudian saya juga membeli kaset ruqyah.

Malamnya, sekitar jam 9 dengan ditemani adik, saya putar kaset itu. Tiba-tiba dari atap rumah terdengar “kraak, kraak” suara asbes digesek-gesek dengan keras. Adik saya yang juga mendengarnya sampai ketakutan. Kepala saya juga pusing. Meski demikian saya masih tidak percaya kalau saya kena gangguan jin. Besoknya saya putar lagi. Kali ini reaksinya berbeda. Kaki saya yang tidak mengalami sakit apa-apa itu bergetar keras. “Ah ini perasaan saya saja,” pikir saya. Akhirnya kaset ruqyah itu saya biarkan saja dan tidak saya putar lagi.

Setelah kejadian itu saya mengalami mimpi yang aneh beberapa kali. Mimpi dicumbu oleh jin yang sudah sekitar dua tahun tidak mengganggu saya, jin Bety. Dicium dan dicium hingga saya sampai terangsang. Dalam mimpi itu, saya berusaha melawan dan mengelak untuk berhubungan badan. Saya pikir mungkin karena sudah bertahun-tahun saya tidak pernah kencan dengan wanita sehingga jin Bety itu datang mencumbu saya.

Dari sini saya mulai mencari pengobatan gangguan jin. Saya pernah terapi di Bekasi tiga kali. Saya juga sempat daftar ke Majalah Ghoib, tapi setelah saya konfirmasi, selalu terdengar nada sibuk. Saya sampai berdoa, “Ya Allah. Seandainya ada peruqyah perempuan, saya ingin berobat kepadanya. Sehingga saya bisa leluasa bercerita.”

Doa saya itu terkabul. Saya dipertemukan dengan bu ita, seorang peruqyah perempuan. Setelah tiga kali ke rumahnya barulah saya bertemu dengan bu Ita. Saya tidak tahu mengapa saat itu saya gelisah, hingga saat shalat di rumah bu Ita sampai salah, “Ros, kamu shalatnya kok cuma tiga rakaat?” tegur teman saya setelah salam.

Sepulang dari ruqyah yang pertama itu, saya bertingkah aneh. Saya selalu ingin makan yang pedas-pedas. Dan seiring dengan itu keinginan. untuk berhubungan intim dengan wanita mulai teredam. Minggu berikutnya saya datang lagi untuk ruqyah yang kedua. Mungkin jin dalam diri saya itu mulai terganggu sehingga berusaha membatalkan ruqyah. Sesaat sebelum berangkat itu, tiba-tiba jantung saya sakit, kaki juga berat untuk melangkah.

Di ruqyah yang kedua inilah mulai terjadi dialog antara bu Ita dengan jin Bety. “Kenapa kamu masuk dalam tubuh Rosmala?” tanya bu Ita. “Karena dia suka bermaksiat” jin Bety mencoba mempertahankan diri. “Ya dulu dia tidak tahu. Sekarang dia sudah bertaubat.” Mendengar itu jin Bety itu tertawa. “Ha ha ha. Aku tidak akan keluar dari tubuh dia. Aku sangat mencintainya. Karena selama ini dia sering berhubungan dengan aku,” jawab jin Bety. Pada ruqyah yang kedua ini jin Bety masih belum bisa dikeluarkan, karena fisik saya yang kelelahan, akhirnya ruqyahnya dihentikan.

Sepulang dari ruqyah yang kedua, saya semakin sering diganggu oleh jin Bety. la semakin sering mencumbu saya di dalam mimpi. Seminggu kemudian dilakukan ruqyah yang ketiga. Kali ini jin Bety semakin lemah. “Saya mau keluar dengan syarat. Beri saya khamr, putau atau ekstacy,” rengek jin itu karena kepanasan. Saya tidak tahu mengapa ketika diruqyah badan saya kepanasan, sampai terbanting berkali-kali. “Ros, kalau kamu main akting, menang kali.” canda teman saya yang sempat menemani saya.

Permintaan jin itu diacuhkan oleh bu Ita. Bahkan bu Ita semakin keras membacakan doa ruqyah. Hingga saya muntah-muntah. “Ibu aku nggak kuat,” keluh saya. Bu Ita terus memberi semangat, “Untuk mengeluarkan si Bety ini, kamu harus kuat” kata bu Ita.

Saya juga sempat berobat ke Majalah Ghoib bersama Bu Ita. Waktu itu saya ditangani Ustadz Hasan, tapi karena terjadi reaksi yang keras, akhirnya semua ustadz turun tangan. Mereka meninggalkan pasien yang lain. Dan dengan tiba- tiba Ustadz Fadhlan memukul perut saya untuk memaksa jin Bety yang mbandel itu keluar. Memang pukulan itu terasa sedikit sakit, tapi saya sadar bahwa jin Bety jauh lebih kesakitan. Ruqyah berikutnya saya kembali ditangani bu Ita.

Pada ruqyah ke lima jin Bety sudah semakin lemah. Lalu bu Ita menelpon ustadz Fadhlan yang saat itu ada di Yogya. Ustadz Fadhlan mengatakan sudah tidak ada cara halus lagi. Sekarang harus keras. Setelah diperlakukan dengan keras, barulah jin itu mau keluar, “Ya saya mau keluar, tapi tidak bisa. Karena saya diikat.” Rupanya jin Bety diikat di daerah kemaluan saya. Karena fisik saya sudah melemah akhirnya ruqyah hari itu dilanjutkan lagi keesokan harinya. Setelah ruqyah yang keenam inilah jin Bety itu akhirnya bisa dikeluarkan. Setelah didahului oleh jin-jin lainnya yang dulu mengganggu melalui bisikan dan tidak bisa tidur.

Saya sempat merinding, “Oek.. oek..” Saya mendengar tangisan bayi berada di antara jin yang keluar dari tubuh saya. Antara percaya dan tidak, tapi itulah yang terjadi.

Itulah kisah saya, seorang lesbi yang mencari hidayah. Setelah bertahun-tahun terjerumus di lembah hitam. Saya yakin Allah akan memudahkan langkah hamba-Nya yang dengan ikhlas berjuang mencari keridhaan-Nya. Dan saya berharap datangnya seseorang yang melamar saya untuk membentuk keluarga yang harmonis. Cukuplah kenangan pahit itu menjadi derita masa lalu dan tidak lagi terulang. Semoga sepengggal kisah ini menjadi cermin renungan bagi rekan- rekan saya yang lain.

 

Ghoib Edisi No. 14 Th. 2/1425 H/2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN