Kesyirikan di Gunung Gedugan

Gunung Gedugan itu tempat pemujaan, Gunung yang ketinggiannya mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut bertengger di daerah Cililin Bandung. Di sana terdapat banyak makam yang di keramatkan. Jumlahnya mencapai sekitar 42 makam. Di kampung Kidang Pananjung sendiri ada satu tempat.

Menurut para warga, pada malam Jum’at dan malam Selasa Gunung Gedugan ramai dibanjiri pengunjung dari daerah Bandung dan luar Bandung. Mereka biasanya menginap dengan membawa sesajen lengkap. Seperti kembang, kelapa, rokok dan sejenisnya. Kuncen yang paling senior dan disegani adalah Mbah Ubi, adapun yang lainnya rata- rata masih baru.

Menurut pengakuan sumber kami (Wawan), seminggu sebelum bencana, dia sempat jalan-jalan ke Gunung Gedugan. Anehnya begitu sampai di sana dia tersesat jalan, padahal dia sudah sering ke sana. Waktu itu masih pukul 19.30 WIB, padahal jalannya lurus, tidak berbelok-belok. Menurut keyakinannya yang masih menyimpang, karena saat datang ke tempat tersebut dia tidak bawa sesajen.

Di antara makam-makam yang dikeramatkan di Gedugan, yang paling terkenal dan banyak dikunjungi orang ada tiga makam, yaitu makam Eyang dalem (Kidang Pananjung), Ibu Durung dan Dipati Ukur. Menurut keyakinan salah yang tersebar di masyarakat, masing-masing dari makam ada kekhususannya, biasanya pengunjung yang ingin memiliki ilmu kekebalan, bertapanya di makam Kidang Pananjung. Kalau ingin memiliki ilmu pelet atau pengasihan, maka bertapanya di makam Ibu Durung. Tapi kalau yang diinginkan itu ilmu kebatinan, mereka bertapanya di makam Dipati Ukur, demikianlah menurut penjelasan Bapak Kepala Desa.

Warga sekitar juga pernah melakukan tradisi menyimpang, yaitu pesta di atas Gunung Gedugan dengan mempersembahkan sesajen-sesajen. Biasanya ritual tersebut dilakukan pada malam Jum’at Kliwon. Bahkan kalau musim paceklik tiba, mereka lebih agresif dengan menumbalkan dua ekor kambing hitam, yang disembelih langsung oleh juru kuncen. Walaupun tradisi syirik ini sudah lama memudar, tapi dengan adanya musibah longsor dahsyat yang terjadi pada Rabu malam 21 April 2004 kemarin, bukan tidak mungkin ritual mistik tersebut akan hidup kembali. Karena jauhnya warga dari agama dan kelangkaan para juru dakwah.

“Masjid di sini tidak terurus mas, saya sering melantunkan adzan tetapi tidak ada yang shalat. Masjid besar ada juga, tetapi tidak ada jamaahnya. Sebelum shubuh para penduduk sudah berangkat ke kebun. Tokoh masyarakat banyak yang tidak paham Islam, seandainya ada pendatang yang masuk kampung dengan baju koko dan berkopiah saja, langsung dipanggil ustadz didaulat sebagai imam,” begitulah tutur Wawan tentang kondisi keagamaan penduduk seputar Gunung Gedugan.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN