Seterika Neraka

Baju lusuh setelah dicuci? Tidak perlu khawatir. Tinggal ambil seterika, gosok sebentar. Bisa dijamin langsung beres. Bila perlu semprotkan sedikit bahan pewangi maka masalah yang mengganjal pun segera hilang, berganti dengan keceriaan. Ceria karena pakaian sudah tidak lusuh dan sudah siap pakai.

Itulah kegunaan seterika. Bahan yang terbuat dari tembaga, ataupun kuningan. Seterika yang model kuno berbahan bakar arang. Sedang yang lebih maju maka tidak perlu lagi repot-repot membakar arang. Cukup dengan menghubungkannya dengan aliran listrik. Maka seterika itupun siap pakai. Mengalirkan hawa panas. Itulah seterika dunia, yang banyak membantu peningkatan rasa percaya diri.

Tapi jangan heran bila neraka juga menyimpan seterika. Di neraka seterika itu berbeda dengan apa yang kita gunakan selama ini. la bukan lagi terbuat dari tembaga atau kuningan. Bahan bakunya adalah perak atau emas. Bukan main. Apakah sedemikian terhormatnya penghuni neraka sehingga dia memperoleh seterika dari emas dan perak? Tidak. Logikanya bukan demikian. Karena seterika itu merupakan bagian dari siksa. Dengan demikian, terbuat dari bahan apapun seterika itu tetap merupakan bentuk siksa tersendiri.

Secara khusus, Allah memperuntukkan seterika buat orang-orang yang tidak sempat mengeluarkan zakat emas dan perak selama di dunia. “… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengan- nya dahi mereka, lambung dan punggung mereka…” (QS. At-Taubah: 34-35)

Sungguh tak terbayang betapa panasnya seterika itu, bila ia terbuat dari emas dan perak. Jenis logam yang cepat membara dan bahkan memercikkan bola api bila terus dibakar. Sedang ia berada di neraka, maka tidaklah mengherankan bila dalam sebuah hadits dikatakan bahwa bahan bakunya bukan lagi emas dan perak, tetapi api yang membara.

Mengerikan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan saat-saat seterika itu menghanguskan kulit dan melelehkan daging hinggal terkelupas. “Tidak seorangpun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakat keduanya melainkan ia akan dibuatkan seterika dari api pada hari kiamat. Kemudian pinggang, dahi dan punggungnya diseterika. Setiapkali seterika itu menjadi dingin akan dipanaskan kembali pada hari yang lamanya sama dengan lima puluh tahun… (HR. Muslim).

Seterika itulah balasan atas kebakhilan orang yang tidak mengeluarkan zakat dari emas dan perak. Padahal di dalamnya ada hak orang lain. Suatu bentuk tanggung jawab yang masih tetap diminta walau sudah berganti alam dan tidak lagi di dunia. Sehingga dengan jelas Allah menyebutkan dalam kelanjutan ayat 35 surat at-Taubah, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

Karenanya, mengeluarkan zakat dari emas dan perak bukan saja mampu membersihkan harta dan diri kita, tetapi juga menjaukan diri kita dari panasnya seterika di neraka.

 

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 18 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN