Tinggalkan Darul Kufr Sebelum Terlambat

EMPAT BELAS abad yang lalu, Allah menceritakan kisah tragis nasib orang-orang muslim yang gugur di medan perang. Orang-orang muslim yang bergabung dalam kelompok orang kafir Quraisy memerangi Rasulullah. Tepatnya dalam peperangan Badar.

Badan mereka terbujur kaku bersimbah darah. Mereka gugur dalam sebuah peperangan besar. Dua kalimat syahadat telah mereka ikrarkan sebagai tanda keislaman mereka. Tapi nasib berbicara lain. Mereka masuk ke dalam neraka bersama kelompok yang mereka ikuti. Menjadi bahan bakar neraka Jahannam.

Sungguh tragis nasib mereka. Perhatikan firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 97. “Sesungguhnya orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ mereka menjawab, Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)’. Para malaikat berkata, Bukankah negeri Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di negeri itu?’ orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Malaikat mempertanyakan komitmen keislaman mereka. Perintah hijrah telah dikeluarkan Rasulullah dua tahun sebelumnya. Tapi mereka enggan keluar. Mereka tetap saja berada di negeri Mekah yang kala itu masih dalam cengkeraman orang-orang kafir Quraisy. Meski mereka telah masuk Islam, tapi mereka tidak mau menyatakannya secara terbuka. Mereka menyembunyikan keislamannya, demi mencari keselamatan dari rongrongan dan siksaan orang- orang kafir Quraisy.

Padahal, saudara seiman mereka sudah banyak yang meninggalkan Mekah. Mencari ketenangan dalam menjalankan syariat agamanya di kota Madinah. Ironisnya, tatkala orang-orang kafir Quraisy memobilisasi mereka untuk memerangi Rasulullah, mereka pun bergabung. Mereka tidak berani menolak, karena takut keislaman mereka terbongkar.

Takdir menentukan mereka meninggal dalam peperangan. Bergabung bersama orang-orang yang menentang Rasulullah. Pantas bila mereka menjadi penghuni neraka. Hanya orang-orang yang memiliki udzur syar’i yang dimaafkan Allah . Yaitu orang-orang yang sudah tua, anak-anak atau orang- orang lemah yang tidak menemukan cara untuk keluar dan tidak menemukan petunjuk pada jalan yang menyampaikan mereka ke negeri Islam.

“Kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. an-Nisa’ ayat 98). Merekalah orang-orang yang dimaafkan Allah.

Berdasarkan ayat di atas ulama berpendapat bahwa hijrah dari darul kufri itu hukumnya wajib, bila orang Islam tidak dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan baik. Bila mereka mendapat ancaman dan intimidasi dalam melaksanakan agamanya. Bumi Allah masih luas. Masih banyak negara lain yang menjamin kebebasan mereka dalam beragama.

Potret perang Badar masih banyak kita temukan di zaman sekarang. Karena itu hijrah tetap ada sepanjang masa. Namun, ada hal lain yang tidak kalah pentingnya dari makna hijrah. Selain hijrah badaniah ada juga yang disebut dengan hijrah qalbiyah. Yaitu meninggalkan apa yang dilarang Allah dan melaksanakan perintah-Nya. Hijrah ini berlaku umum. Baik di darul kufri maupun darul Islam.

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Matahari dan Bulan Bahan Bakar Neraka

Seorang narapidana tertunduk lesu memasuki sel berjeruji besi. la sama sekali merasa tidak bersalah, namun apa boleh buat vonis delapan bulan penjara telah dijatuhkan. Palu hakim telah diketok. Hanya karena ia menerima titipan sepeda motor temannya. Ternyata sepeda motor tersebut adalah barang curian, sehingga dia dituduh ikut membantu pencurian. Hatinya geram, giginya sampai bergeretak ketika ia dimasukkan dalam sel yang sama dengan pencuri sepeda motor yang notabenenya masih temannya sendiri. Ingin rasanya dia melumat dan menelannya. mentah-mentah.

Kemarahan yang memuncak hingga ke ubun- ubun dalam diri sang narapidana adalah sesuatu yang wajar. Wajar karena ia menjadi korban atas kesalahan orang lain. Begitulah kehidupan dunia. Terkadang jauh dari keadilan.

Dalam kehidupan akhirat, kisah sang narapidana akan terjadi kembali. Kali ini penghuni neraka juga dibuat gemas dan geram dengan kemarahan yang tidak lagi terbayangkan. Dengan kasus yang sama, yaitu dia disatukan dengan sesembahan yang telah menyebabkannya masuk neraka. Yang membedakan antara sang narapidana dengan penghuni neraka hanyalah karena penghuni neraka secara sadar melakukan penyembahan kepada selain Allah.

“Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. (QS Al-Anbiya’: 98-99)

Allah akan mempertemukan pemuja berhala dengan sesembahan mereka di neraka, sebagai bagian dari siksa itu sendiri. Sebagaimana ungkapan Ibnu Rajab, “Ketika orang-orang kafir menyembah kepada selain Allah, dan mereka meyakini bahwa apa yang mereka sembah akan memberi syafaat dan mendekatkan diri mereka kepada Allah, maka mereka akan disatukan dengan sesembahan mereka di neraka sebagai bentuk penghinaan dan agar mereka semakin sedih dan menyesali atas perbuatan mereka. Karena sesungguhnya bila seseorang disatukan dengan orang yang menyebabkan mereka hina dan tersiksa, tentu akan lebih menyakitkan mereka.” (Attakhwif minannar: 105)

Itulah mengapa di hari kiamat, matahari dan bulan akan digulung dan dimasukkan ke dalam neraka. Matahari dan bulan menjadi bahan bakar neraka. Dalam sebuah hadits, “Matahari dan bulan akan digulung (dan dimasukkan) ke dalam neraka.” (HR. Baihaqi)

“Sesungguhnya dikumpulkannya matahari dan bulan di neraka karena keduanya telah disembah. Bukanlah api neraka menyiksa matahari dan bulan. Hal ini untuk semakin memperdalam penyesalan orang-orang kafir.” Demikianlah Imam Qurthubi menjelaskan hadits di atas dalam kitab Tadzkiratul Qurtubi

Penyembahan matahari sampai detik ini masih terus berlangsung di beberapa tempat. Matahari dan bulan hanyalah satu dari sekian banyak berhala yang menjadi sesembahan selain Allah. Sesembahan yang akan menyertai mereka di neraka.

Waspadalah! Waspadalah! Jangan sampail bersatu dengan berhala, matahari dan bulan atau sesembahan lainnya di neraka.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Neraka dan Para Wanita

Neraka menjadi ladang penyiksaan yang tidak bisa dibandingkan dengan penjara manapun di dunia. Tidak di Guatemala dan tidak pula penjara Abu Ghuraib di Iraq. Meski berita yang tersebar di internet dan berbagai media elektronik dan cetak telah menggoncang dunia. Sekian banyak penjara di dunia itu ternyata dipenuhi oleh kaum laki-laki. Dan bila ada wanita yang masuk penjara karena alasan tertentu ternyata jumlahnya masih kalah jauh dengan narapidana laki-laki.

Dalam hal ini kaum wanita boleh berbangga diri. Namun, apakah itu menjadi jaminan bahwa penghuni neraka juga dipenuhi kaum laki-laki? Ternyata jawabannya tidak demikian. Ini tentu bukan pelecehan jender, karena surga dan neraka itu berhubungan dengan amal. Rasulullah mengatakan secara terbuka tanpa ada yang disembunyikan bahwa sebagian besar penghuni neraka adalah wanita. Sebagaimana terungkap dalam hadits riwayat Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda dalam khutbah shalat gerhana matahari, “Diperlihatkan kepadaku neraka. Dan kulihat sebagian besar penghuninya adalah kaum wanita”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah realita yang cukup mengguncang kaum wanita. Sehingga tidaklah mengherankan bila di antara shahabat ada yang langsung bertanya kepada Rasulullah mengapa bisa terjadi demikian. Seperti terungkap dalam riwayat Abu Said al-Khudhri bahwa Rasulullah bersabda, “Hai para wanita bersedekahlah yang banyak, karena kulihat sebagian besar penghuni neraka adalah wanita.” Mereka berkata, “Mengapa bisa begitu ya Rasulullah?” Nabi menj wab, “Kalian banyak mengumpat dan mengingkari kebaikan suami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah menyebutkan beberapa alasan mengapa bisa demikian. Yang pertama adalah tabiat dari kaum wanita sendiri yang suka mengumpat dan mencela orang lain.

Memang, mengumpat tidak masuk dalam kategori dosa besar, tapi justru di sinilah bahayanya. Sesuatu yang dianggap sepele dan bila dilakukan secara terus menerus pada akhirnya akan menjadi besar dan bisa mengalahkan kebaikan yang ditanam selama ini. la bagaikan bola salju yang terus membesar dan melibas apa saja.

Penyebab lainnya adalah karena pudarnya rasa hormat seorang istri kepada suaminya. “Jika kamu (suami) berbuat baik kepada istri selama satu masa, kemudian istrimu melihat sesuatu (tidak baik) dari dirimu dia berkata: aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu,” begitulah rinci Nabi. Penyakit ini sudah semakin merebak di masyarakat, seiring dengan semakin berkurangnya pemahaman seorang istri atas hak dan tanggung jawabnya sebagai istri dari suaminya. Padahal dalam sebuah hadits Rasulullah menegaskan seandainya manusia dibolehkan bersujud kepada yang lain. Niscaya Rasulullah akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.

Sungguh menyakitkan memang, bila seorang suami tidak lagi menjadi raja di istananya sendiri Hanya karena ketidakpatuhan sang ratu kepadanya. Karena kecenderungan wanita mengikuti hawa nafsunya dan condong kepada kesenangan duniawi. Menurut imam Qurtubi hal ini karena wanita memiliki akal yang kurang hingga pandangan mata hatinya tidak menembus akhirat. Mereka lebih condong kepada dunia dan suka berhias untuk dunia. Selain itu wanita berperan besar dalam menjauhkan laki-laki dari akhirat.

Karenanya tidak ada pilihan lain bagi kaum wanita selain memperbanyak amalan yang dapat menghapus kesalahannya. Di antaranya adalah dengan banyak bersedekah. Sebagaimana diperintahkan Rasulullah dalam hadits riwayat imam Bukhari dan Muslim di atas. Dan sesungguhnya wanita lebih mudah masuk surga daripada kaum laki-laki seperti sabda Nabi dalam hadits yang lain. Di mana salah satu syaratnya adalah keridhoan suami kepada istri saat sang istri meninggal.

 

 

 

 

Ghoib. Edisi No. 19 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Seterika Neraka

Baju lusuh setelah dicuci? Tidak perlu khawatir. Tinggal ambil seterika, gosok sebentar. Bisa dijamin langsung beres. Bila perlu semprotkan sedikit bahan pewangi maka masalah yang mengganjal pun segera hilang, berganti dengan keceriaan. Ceria karena pakaian sudah tidak lusuh dan sudah siap pakai.

Itulah kegunaan seterika. Bahan yang terbuat dari tembaga, ataupun kuningan. Seterika yang model kuno berbahan bakar arang. Sedang yang lebih maju maka tidak perlu lagi repot-repot membakar arang. Cukup dengan menghubungkannya dengan aliran listrik. Maka seterika itupun siap pakai. Mengalirkan hawa panas. Itulah seterika dunia, yang banyak membantu peningkatan rasa percaya diri.

Tapi jangan heran bila neraka juga menyimpan seterika. Di neraka seterika itu berbeda dengan apa yang kita gunakan selama ini. la bukan lagi terbuat dari tembaga atau kuningan. Bahan bakunya adalah perak atau emas. Bukan main. Apakah sedemikian terhormatnya penghuni neraka sehingga dia memperoleh seterika dari emas dan perak? Tidak. Logikanya bukan demikian. Karena seterika itu merupakan bagian dari siksa. Dengan demikian, terbuat dari bahan apapun seterika itu tetap merupakan bentuk siksa tersendiri.

Secara khusus, Allah memperuntukkan seterika buat orang-orang yang tidak sempat mengeluarkan zakat emas dan perak selama di dunia. “… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengan- nya dahi mereka, lambung dan punggung mereka…” (QS. At-Taubah: 34-35)

Sungguh tak terbayang betapa panasnya seterika itu, bila ia terbuat dari emas dan perak. Jenis logam yang cepat membara dan bahkan memercikkan bola api bila terus dibakar. Sedang ia berada di neraka, maka tidaklah mengherankan bila dalam sebuah hadits dikatakan bahwa bahan bakunya bukan lagi emas dan perak, tetapi api yang membara.

Mengerikan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan saat-saat seterika itu menghanguskan kulit dan melelehkan daging hinggal terkelupas. “Tidak seorangpun pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakat keduanya melainkan ia akan dibuatkan seterika dari api pada hari kiamat. Kemudian pinggang, dahi dan punggungnya diseterika. Setiapkali seterika itu menjadi dingin akan dipanaskan kembali pada hari yang lamanya sama dengan lima puluh tahun… (HR. Muslim).

Seterika itulah balasan atas kebakhilan orang yang tidak mengeluarkan zakat dari emas dan perak. Padahal di dalamnya ada hak orang lain. Suatu bentuk tanggung jawab yang masih tetap diminta walau sudah berganti alam dan tidak lagi di dunia. Sehingga dengan jelas Allah menyebutkan dalam kelanjutan ayat 35 surat at-Taubah, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

Karenanya, mengeluarkan zakat dari emas dan perak bukan saja mampu membersihkan harta dan diri kita, tetapi juga menjaukan diri kita dari panasnya seterika di neraka.

 

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 18 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Sandal Neraka

Sandal neraka? Tidak perlu heran mendengarnya. Di neraka memang tersedia sandal untuk orang tertentu. Bukan untuk setiap penghuninya.

Meski benda itu disebut dengan sandal dan tempatnya juga di telapak kaki, tapi jangan pernah membayangkan bahwa sandal neraka itu berfungsi seperti sandal dunia. Ya, kita bisa memakai sandal untuk melindungi kulit dari duri atau terik panas matahari yang membakar jalan beraspal dan batu. Panas dan membuat kulit kaki melepuh. Dengan sandal di telapak kaki kita, maka tidak perlu lagi takut pada duri yang melintang di jalan. Atau tajamnya batu cadas.

Tapi… Sandal neraka? Jauh berbalik 180 derajat. Alih-alih melindungi kaki dari panas dan duri. Justru sandal itu sendiri menjadi bagian dari siksa yang tiada terkira. Dialah sumber aliran panas. Dari sandal aliran panas terus menjalar naik, merambat ke mata kaki. Terus ke betis, lutut, perut, dada dan… aliran panas itu terus menjalar hingga akhirnya otak pun mendidih.

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah yang memakai sepasang sandal dari api hingga mendidih otaknya lantaran kehebatan panas sandalnya.” Demikianlah Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Hudhri.

Fantastis. Sandal yang mendidihkan otak itu masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aneka siksa lainnya. Sandal itu hanyalah siksa yang paling ringan di neraka. Lalu terbuat dari bahan apakah sandal itu?

Terbuat dari kulit harimau? Jelas tidak. Di neraka tidak ada harimau. Terbuat dari besi? Mungkin itu yang cocok untuk tapak kaki kuda. Tapi sandal neraka bukanlah seperti itu. Juga tidak terbuat dari bahan yang sama dengan cambuk neraka. Tapi, sandal neraka terbuat dari api. Ya, bara api membaras.

“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya pada hari kiamat adalah orang yang di bawah kedua telapak kakinya terdapat dua bara api, hingga otaknya mendidih seperti panci mendidih di atas tungku” (HR. Bukhari). Hadits riwayat Imam Bukhari ini, memberikan gambaran kepada kita, bagaimana otak bisa mendidih.

Setiap orang yang pernah berurusan dengan dunia masak memasak, tanpa penjelasan ilmiah pun dia akan paham. Bahwa air dalam panci akan mendidih bila terus dipanaskan. Padahal jarak antara kayu bakar dengan tungku itu tidak bersentuhan langsung. Ada sekat udara yang memisahkan antara keduanya. Tapi panas itu akan terus meningkat dan dalam waktu tertentu air itupun mendidih. Orang bilang dalam derajat seratus derajat celcius.

Di neraka ukuran derajat itu tidak lagi menjadi penting. Karena sebenarnya hadits di atas hanya ingin mendekatkan obyek dengan benak kita. Dan secara lebih jauh sandal penghasil panas itu menjadi siksa yang paling ringan. Secara eksplisit hadits riwayat Imam Muslim berikut menjelaskan bahwa siksa yang paling ringan ini diperuntukkan buat Abu Tholib, paman Rasulullah.

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya siksa yang paling ringan di neraka itu akan dialami Abu Thalib. Dia akan memakai dua buah sandal yang akan membuat otaknya mendidih.” (HR. Muslim).

Bagi kita. tidak menjadi soal, apakah sandal itu hanya untuk Abu Thalib. Karena toh: hakekatnya ia masih siksa yang tidak terbayangkan perihnya, bagaimana seseorang memakai sandal dari bara api. Justru seharusnya kita manfaatkan waktu yang tersisa untuk dapat menikmati sandal surgawi. Bukan dengan sandal neraka, sumber bencana.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Cambuk Neraka

Cambuk. Bukanlah benda yang asing dalam kehidupan seorang penggembala kambing, sapi atau hewan gembala’an lainnya. Cambuk menjadi senjata andalan yang selalu lekat dalam genggamannya. Dengan segera, cambuk yang lentur itu akan bergerak menyambar-nyambar bila ada satu atau dua gembala’annya mulai keluar dari jalur atau makan tanaman tetangga.

Itulah cambuk dunia yang selalu menakutkan hewan. Meski cambuk itu belum menyentuh bagian tubuhnya. Hanya bunyi lecutan yang menggema. Namun, gema lecutan itu sudah cukup membuat nyali hewan-hewan itu mengkerut.

Cambuk. Juga menjadi bagian dari siksa yang mendera tubuh penghuni neraka. Ya, demikianlah Allah menggambarkannya dalam Al-Qur’an. “Dan untuk mereka cambuk- cambuk dari besi.” (QS. Al-Hajj: 21)

Cambuk neraka, bukanlah seperti cambuk yang kita saksikan dalam keseharian kita. Cambuk yang terbuat dari rotan dengan ujungnya yang lentur karena terbuat dan lintingan tali rapia atau yang sejenisnya. Cambuk neraka itu terbuat dari besi. Sungguh mengerikan

Sedemikian dahsyatnya kekuatan dan daya hancur itu, sehingga tidak ada kekuatan yang mampu menahannya. Jangankan tubuh manusia yang tersusun dari daging dan tulang belulang, gunung yang demikian kokoh juga tidak mampu menahannya. Gunung yang terdiri dari batu-batu cadas itu hancur lebur bila dihantam dengan cambuk neraka. Demikianlah Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Said al-Khudhri bahwa Rasulullah bersabda, “Seandainya sebuah gunung dipukul dengan cambuk dari besi, niscaya gunung itu akan hancur lebur. Kemudian gunung itu akan kembali (berubah)seperti semula.” (HR. Ahmad)

Bukan main dahsyatnya cambuk itu. Padahal neraka bukan lagi guning yang akan dihantamnya, tapi tubuh penghuni neraka. Bisa jadi saat itu tubuh yang terhantam itu sudah tidak berdanging dan hanya tinggal tulang belulang. Lalu dengan dahsyatnya cambuk itu menghantam hingga hancur lebur, kemudian tulang yang hancur itu kembali utuh, terbalut daging kembali dan selanjutnya mengalami siksa demi siksa: “Dan untuk mereka cambuk- cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah siksa yang membakar ini.” (QS. Al-Hajj: 21-22)

Apakah penghuni neraka itu memang benar- benar ingin keluar dari neraka? Apakah memang ada kesempatan untuk itu? pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita. Tapi  setidaknya pendapat Fudhail bin lyadh saat menafsirkan firman Allah di atas bisa dijadikan sebagai jawaban atas pertanyaan ini. “Demi Allah. Penghuni neraka itu tidak berangan-angan untuk keluar dari neraka. Karena kaki dan tangan mereka terikat. Akan tetapi pijaran-pijaran api neraka itu yang melambungkan penghuninya ke atas sebelum dilecut kembali dengan cambuk” (Ibnu Katsir 3/ 225)

Meski jawaban ini berasal dari Fudhail bin lyadh, tapi dalam masalah keghoiban semacam ini, tentunya Fudhail tidak hanya berdasar pada pendapatnya secara pribadi, tapi berdasar pada berita yang didapat dari Rasulullah.

Cambuk, memang menakutkan siapa saja, Cambuk dunia atau cambuk neraka keduanya sama mengerikannya. Namun, sayang tidak semua orang mau berlari dari cambuk yang telah menanti. Mumpung kesempatan itu masih terbuka, marilah berlari dan meghindar dari cambuk neraka. Tentunya hanya dengan satu jalan. Tunduk dan patuh pada perintah Ilahi.

 

 

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Rantai Neraka

Mungkin kita tidak pernah merasakan bagaimana penderitaan orang tua kita dulu. Saat mereka harus menjalani kerja paksa di bawah sorotan tajam mata penjajah dan antek-anteknya. Di tengah himpitan perut yang kelaparan mereka harus terus bekerja dan bekerja, bila tidak mau menjadi santapan cambuk dan cemeti penjajah. Dalam kesempatan lain, mereka harus merelakan tangannya terborgol. Berjalan dengan lesu, menahan derita.

Siapapun kita, tentu tidak mau mengulang kembali sejarah kelam masa lalu itu. Namun adakah jaminan untuk itu? Dan siapakah yang bisa menjaminnya?

Pemandangan di atas dilukiskan di akhirat untuk orang-orang kafir. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kelak pada hari kebangkitan, orang-orang kafir akan digiring dari padang Mahsyar dengan tangan terborgol. Wajah muram membayangkan derita yang tak kan pernah berakhir. Bukan lagi sekedar terborgol, tapi jauh lebih mengerikan bila mereka harus diseret dengan tangan terikat ke leher-leher mereka. Ditarik dengan kuat oleh malaikat Zabaniah yang telah mendapat mandat khusus untuk ini. Sebelum akhirnya neraka menjadi tempat tujuan terakhir. Demikianlah Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah, “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS. Al-Haaqqah: 30-32)

Mengerikan memang. Perintah itu segera dilaksanakan oleh para malaikat. Bukan lagi satu atau dua yang datang. Tetapi jumlah yang sangat besar sekali. Setiap orang akan disergap oleh tujuh puluh ribu malaikat. Masing-masing dengan rantai yang sudah disiapkan untuk mengikat lehernya, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Sebuah derita yang seharusnya membuka mata hati kita. Agar tidak terpukau oleh tipuan dunia yang sangat sebentar ini.

Memang rantai dunia yang sering kita saksikan tidaklah panjang. Tapi rantai pengikat orang-orang kafir itu bukanlah sekedar rantai biasa. Meski menurut Ka’ab al-Akhbar setiap utasnya seperti rantai besi di dunia. Yang jelas hakekatnya pasti jauh berbeda. Panjangnya juga bukan main-main. Setiap orang berhak mendapat jatah tujuh puluh hasta. Tapi seberapa panjangkah itu? hanya Allah yang tahu. Karena menurut Ibnu Abbas, ukuran tujuh puluh hasta disesuaikan dengan panjangnya lengan malaikat.

Tak terbayang bagaimana sesak dan sulitnya bernafas. Saat rantai itu mengikat tangan mereka ke leher, “Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang kafir.” (QS. Saba: 33). Dalam keadaan demikian orang-orang kafir itu tidak dibiarkan berjalan lambat semau mereka. Tidak. Mereka harus mengikuti kecepatan dan ketangkasan malaikat Zabaniah. Tentunya bila mereka tidak ingin semakin sesak. Terseok-seok dan terhuyung- huyung atau bahkan mungkin terseret, seperti seseorang yang ditarik dengan mobil. “Ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka seraya mereka diseret.” (QS. Al-Mukmin: 71)

Detik demi detik adalah bagian dari siksa yang berujung kepada dilemparkannya orang-orang durjana itu ke dalam neraka. Sebagai tempat tinggal terakhir yang tidak menyisakan ruang kebahagiaan. Sekecil apapun. Tinggal kita sekarang, yang saat ini masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Sudikah kiranya kita dibangkitkan dari alam kubur kemudian disambut oleh malaikat Zabaniah dengan rantai di tangan siap mengikat kita hingga tak berdaya? Jawabnya ada pada keseharian kita masing-masing hari ini. Semoga Allah melindungi kita dari siksa neraka-Nya.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 15 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Tembaga, Pakaian Penghuni Neraka

Masih saja ada orang yang berani menghina pakaian muslimah. Ada saja alasan mereka. Ada yang menggunakan bahasa sangat sederhana dan tidak takut siksa Allah, bahwa pakaian muslimah yang menutup seluruh tubuh itu panas dan tidak cocok di alam tropis.

Kita tidak akan menguras tenaga untuk menjawab pernyataan yang sangat lemah itu. Karena justru sinar ultraviolet matahari yang membahayakan kulit itu, sudah seharusnya ditahan dengan pakaian yang menutupi kulit. Kalaulah benar bahwa pakaian itu panas dan lebih sejuk dengan bertelanjang ria, maka tentunya kita tidak lupa ayat, “Katakanlah: Api neraka Jahannam itu lebih sangat panasnya. Jika mereka mengetahui.” (At- Taubah: 81). Lebih baik kepanasan di dunia daripada hangus di neraka.

Panasnya neraka bukan saja disebabkan apinya yang memang sangat panas. Pakaian penghuni neraka yang seharusnya bisa menahan panas itu malah ikut membakarnya. Sebab pakaian itu sendiri telah menghasilkan hawa panas. Tempatnya saja di neraka, tentu bahan baku pakaiannya juga bukan seperti pakaian biasa.

Pakaian mereka terbuat dari tembaga. Demikianlah Al-Qur’an menggambarkan pakaian neraka dengan kata, “Qathiran” yang ditafsirkan Ibnu Abbas dengan tembaga yang mencair.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan kamu akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat bersama-sama dengan belenggu. Pakaian mereka adalah dari pelangkin/ter (Qathiran) dan muka mereka ditutup oleh api neraka.” (QS. Ibra- him: 49-50).

Naudzubillah. Pakaian itu terbuat dari tembaga Jenis logam yang cepat meleleh bila dipanaskan. Sementara kulit manusia itu sangatlah sensitif. Sedemikian sensitifnya sehingga saat terkena sengatan bara rokok saja, mulut sudah berteriak kesakitan. Meraung dan bila perlu mencaci yang bukan-bukan. Tergores pisau sedikit saja juga sudah berdarah. Atau tertempel plastik yang panas meleleh, bukan main panasnya.

Meski kulit penghuni neraka itu sudah jauh lebih tebal dari kulit kita sekarang, tetap saja tidak bisa menahan panasnya baju dari tembaga. Sungguh mengerikan. Baju yang lengket dengan kulit itu terus terbakar. Hingga mencair. lalu meleleh …. dan naudzubillah menggelontorkan kulit dan daging sampai ke mata kaki. Sebuah penderitaan yang tidak ada bandingnya. Penderitaan yang terus berulang dan takkan berakhir.

Sedemikian panasnya pakaian itu sehingga dalam ayat lain, Allah tidak lagi menyebutnya terbuat dari Qathiran (ter/tembaga yang mencair). Allah langsung mengatakan bahwa pakaian itu terbuat dari api. Perhatikan firman Allah, “Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian- pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19).

Kita, yang masih bisa merasakan hangatnya pakaian duniawi ini, sudah selayaknya menjauh dan berlari dari segala hal yang mengantarkan kita pada pakaian tembaga itu. Hentikan segala bentuk sikap berani dan sok pintar di hadapan Allah. Lakukan perintah Allah seberapa pun sulitnya. Karena perintah-Nya sudah diukur dengan kemampuan hamba. Jangan terpengaruh dengan sekedar ucapan dan caci makian orang. Islamikan pakaian kita di dunia. Biarlah panas di sini asal di akhirat kita tidak dipaksa memakai baju tembaga yang mendidih. Islamikan seluruh sendi kehidupan kita.

Berita tentang baju tembaga bagi penghuni surga sudah seharusnya membuat hati ini terbuka. Bahwa kebahagiaan dunia yang sesaat ini tidak ada rasanya begitu baju tembaga itu ditempelkan. Semoga Allah selalu melindungi kita dari segala bentuk kemaksiatan walaupun sangat menggiurkan.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 14 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Hitam Pekat Neraka

Api itu panas. Pasti semua orang sudah tahu. Semakin lama, nyala api itu bertambah panas, juga tidak akan ada seorangpun yang meragukannya. Derajat panas api itu pun bertingkat-tingkat. Mulai yang sekedar berupa bara, hingga yang benar-benar menjadi api merah menyala. Membakar apa saja. Itupun sudah menjadi aksioma.

Itulah api dunia. Meski api itu hanya sepertujuh puluh bagian dari api neraka. Tapi ia sudah menakutkan siapa saja. Bandingkan dengan api neraka. Yang gambaran awal penciptaannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Neraka jahannam itu dibakar selama ribuan tahun hingga berganti-ganti warna.

Dalam beberapa hadits disebutkan kisah awal penciptaan neraka jahannam. Di antaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “… Kemudian neraka itu dibakar selama seribu tahun hingga berwarna merah. Kemudian dibakar lagi seribu tahun sehingga berubah warnanya menjadi putih. Setelah itu dibakar kembali selama seribu tahun hingga berwarna hitam. Neraka itu hitam pekat. Tidak pernah padam nyala dan baranya.” (HR. Tirmidzi).

Subhanallah. Jahannam yang telah dinyalakan itu terus berkobar selama seribu tahun. Hari demi hari derajat panasnya semakin meningkat hingga menjadi merah membara. Merah yang menjadi ciri khas api dunia. Meski warnanya sama dengan api dunia, jangan dibayangkan bahwa derajat panasnya juga sama. Tidak sama sekali.

Api yang sudah memerah itu, terus saja dibakar hingga seribu tahun lagi. Pembakaran yang melahirkan sifat dan warna baru. Ya, warna merah itu berubah menjadi putih. Bukan main, untuk berubah warna saja membutuhkan waktu seribu tahun. Ini bukanlah rentang waktu yang pendek. Perubahan warna yang jelas menunjukkan bahwa tingkat panasnya sudah dua kali lebih dahsyat daripada saat api itu berwarna merah.

Api yang sudah memutih itu, tidak berhenti sampai di situ. Dia masih dibakar hingga seribu tahun lagi. Sebuah evolusi perubahan warna yang akhirnya menjadikan jahannam itu berwarna hitam. Hitam pekat. Sebuah episode baru siksa penghuni neraka telah lama menanti. Api yang seharusnya memancarkan cahaya dan menerangi sekelilingnya itu tidak lagi berfungsi. Neraka hitam pekat.

Neraka yang telah menghitam itu tetap saja dinyalakan, setiap hari. Bila demikian, sungguh tak terbayang bagaimana panasnya neraka yang dipersiapkan untuk orang durjana itu. Bayangkan apa yang diceritakan malaikat Jibril kepada Rasulullah, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan hak. Seandainya neraka itu berlubang sebesar jarum, niscaya dapat membakar semua penduduk bumi karena panasnya.” (HR. Thabrani)

Lubang neraka yang sebesar jarum itu, ternyata memiliki pengaruh yang demikian dahsyat. Jauh melebihi kekuatan bom nuklir. Karena itu, tiada kata yang tersisa, selain neraka memang mengerikan.

Itulah, neraka yang menakutkan dan pekat tak bersinar. Bukan hanya kita, malaikat pun takut akan neraka. Sebagaimana yang terjadi pada malaikat Jibril dan Rasulullah. Keduanya pernah menangis, karena takut menjadi salah satu bahan bakarnya.

Tapi mengapa kita, manusia yang selalu berkubang dengan dosa. Manusia yang tidak terjamin masuk surga dan selamat dari siksa neraka yang menghitam. Tetap saja tertawa, bersenandung ria. Ironisnya kita sedikit menangis. Kalau tidak mau dikatakan tidak pernah mau menangis karena kengerian neraka. Cukuplah kiranya sindiran Rasulullah kepada shahabat Anshar menjadi. renungan tersendiri. “Apakah kalian tertawa-tawa sedangkan di belakang kalian ada neraka jahanam. Seandainya kalian tahu apa yang saya ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Thabrani). Naudzu billah min dzalik.

 

 

Ghoib, Edisi No. 13 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Alas Tidur dan Selimut Neraka

Alas tidur. Siapapun tahu akan pentingnya alas tidur. Tak perduli, dimana pun tempatnya. Saat mau tidur, seseorang akan mencari sesuatu sebagai alas. Ya, tidur di atas tanah tanpa beralaskan sesuatu pasti rasanya tidak enak. Apalagi pada zaman sekarang, saat tingkat kemajuan sudah sedemikian rupa. Urusan alas tidur tidak lagi menjadi urusan yang kesekian. Orang tidak lagi ragu membeli alas tidur (spring bed) seharga jutaan rupiah.

Untuk lebih menambah kenikmatan saat tidur tidak cukup hanya dengan spring bed yang mahal. Tapi perlu pelengkap lainnya. Bantal atau selimut misalnya. Hingga diciptakanlah bantal elektrik yang menyimpan hawa panas. Atau berselimutkan sutra. Sekali lagi, urusan alas tidur bukan lagi urusan yang kesekian.

Banyak yang bermimpi untuk bisa tidur nyenyak di atas kasur empuk dengan selimut hangat di hari yang dingin. Tetapi tentu tidak satu pun yang berharap untuk merasakan alas tidur dan selimut di neraka.

Tentang tidur di neraka, penghuni neraka tidak mungkin memiliki kesempatan untuk tidur. Apalagi menikmati mimpi yang indah. Beralaskan alas tidur yang empuk. Tidak, hal itu tidak akan terjadi. Sebab alas tidur mereka terbuat dari api. Tempatnya saja di neraka. Tentu alas tidurnya juga bagian dari siksa. Demikianlah dengan jelas Al-Quran menggambarkannya.

“Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang dzalim.” (QS Al-Araf: 41).

Muhammad bin Kaab al-Qurdhi, seorang ulama mengatakan bahwa kata “Mihad” bermakna alas tidur, sesuatu yang berada di bawah mereka. Sedangkan “Ghawasy” adalah jamak dari Ghasyiyah yang memiliki arti selimut, sesuatu menutupi tubuh mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 2/228). Alas tidur maupun selimut di sini tidak seperti yang kita bayangkan. Memang, mereka tidak memiliki spring bad yang sesungguhnya. Tapi, ini hanyalah gambaran datangnya siksa api yang membara. Api yang bersumber dari atas dan bawah tubuh mereka.

Ya, penghuni neraka bagaikan daging yang dibakar. Daging yang diselimuti api dari berbagai penjuru. Atas, bawah. Samping kiri maupun kanan. Demikanlah gambaran Al-Quran. Sehingga tidak ada celah bagi mereka untuk istirahat dan tidur. “Dan sesugguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 49). Dalam ayat lain Allah menegaskan, “Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari api).” (QS Az. Zumar. 16).

Sungguh, derita yang tiada terkira. Bayangkan. Bila panas membara itu berada di ruangan tertutup. Tidak ada celah masuknya udara. Tentu, hawa panas akan semakin berlipat ganda. Nafas pun terasa sesak. Akibat yang terburuk adalah tercabutnya nyawa, tetapi di neraka sudah tidak ada kematian yang akan mengakhiri segala penderitaan. Neraka itu dikelilingi oleh dinding. Ini bukan sembarang dinding, tapi dinding yang terbuat dari api yang bergejolak. Demikianlah Ibnu Abbas menafsirkan kata “Surodiquha” yang terdapat dalam firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya itu mengepung mereka.” (QS Al- Kahfi: 29). (Tafsir Ibnu Katsir, 3/86).

Secara lebih jauh Allah menegaskan dalam ayat yang sama bahwa “Itulah tempat istirahat yang paling jelek.” Meski ada alas tidur dan selimutnya.

Gambaran alas tidur dan selimut neraka ini seharusnya cukup menjadi peringatan bagi kita. Nikmatilah kasur empuk dan selimut hangat di dunia saja. Bukan di neraka, karena di neraka alas tidur dan selimut tidak akan membuat istirahat. Semuanya api. Semuanya adalah siksa.

 

Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M

HUBUNGI ADMIN