Gambaran Masyarakat Awam Terhadap Hantu Gentayangan

Masih ingat sama cerita menakutkan tentang Rumah Hantu di kawasan perumahan elit Pondok Indah? Tentu, Anda masih ingat kan? Terilhami dari cerita tersebut, Indika Entertainment lalu mengangkatnya ke dalam cerita layar lebar. Rumah besar tak berpenguni itu sempat membuat heboh masyarakat sekitar, lantaran sempat disiarkan oleh media karena keangkerannya. Banyak mitos bermuculan dari masyarakat mengenai asal muasal kenapa rumah itu jadi menakutkan. Mitos- mitos itu yang dijadikan Indika sebagai bahan investigasi untuk membuat film ‘Rumah Pondok Indah’ yang diklaim sebagai film misteri terhoror garapan sutradara Irwan Siregar.

Benar atau tidaknya, setiap syuting film horor para pemain, termasuk kru mengaku selalu mengalami hal- hal sifatnya ghaib saat syuting. Entah melihat adanya penampakan atau digoda oleh makhluk halus. Bahkan terkadang cerita mereka lebih menyeramkan ketimbang filmnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh para pemain Rumah Pondok Indah ini. Sebut Asha Shara, bintang utamanya. Saat adegan kesurupan di kamar mandi, ternyata Asha benar-benar mengalami kesurupan. Belum lagi pengalaman Chintami Atmanegara yang melihat gelas jalan di depan matanya. Belum lagi lukisan yang menangis. Ternyata menurut pemainnya, rumah yang dijadikan lokasi syuting memang ada penghuni halusnya.

Kisah film ini bermula dari sebuah keluarga kecil yang mengontrak rumah angker tersebut. Si pemilik rumah, Tio (Arswendy Nasution) seorang seniman patung yang tinggal di Bali, ia mempercayakan kepada seorang makelar untuk mengurusnya. Akhirnya ada keluarga yang mengontraknya. Belum lama keluarga itu menempati rumah, peristiwa aneh mereka alami.

Keluarga muda yang masih dikaruniai anak satu langsung panik. Karena mendengar suara jeritan. Dan ketika ditelusuri, ternyata anak semata wayangnya jatuh terkapar tersengat aliran listrik. Kedua orangtua itu kalap, mereka langsung membawa anaknya ke rumah sakit dengan mobil pribadinya. Karena tergesa-gesa, si ayah melajukan mobil dengan kencang. Dan di pertigaan jalan dekat rumahnya, mobil yang kencang itu bertabrakan dengan bis metromini yang sedang melintas. Sekeluarga pun tewas seketika.

Setelah itu, rumah itu kosong kembali. Melalui makelar, si pemilik rumah hendak menjualnya. Datanglah Ibu Firdha (Chintami Atmanegara) dan ditemani oleh makelar ke lokasi rumah. Ibu Firdha ternyata berminat untuk membelinya. Tawar-menawar pun berlangsung. Makelar menawarkan harga berkisar 3 Milyar. Tapi sertelah Ibu Firdha dipersilahkan makelar untuk nego harga langsung dengan pemiliknya via telephon, akhirnya hanya dengan uang 500 juta. Ibu dari dua anak, Elsi (Asha Shara) dan lan (Ricky C. Pratama) merasa beruntung karena bisa memiliki rumah mewah dengan harga murah. la sekeluarga dan di temani Mimin (Arie Timmy), pembantu penghuni sebelumnya yang telah meninggal segera menempati rumah tersebut.

Keluarga Firdha menjadi korban selanjutnya. Keanehan demi keanehan mulai terjadi. Pada suatu malam, Elsi mulai melihat bayangan sosok misterius. Si lan dibuat bingung oleh tukang nasi goreng, karena ia disuruh membayar pesanan nasi gorengnya, padahal ia tidak merasa memesan. Tapi penjual nasi goring ngotot, bahwa tadi ada seorang perempuan berambut panjang telah memesannya.

Puncaknya gangguan, si Elsi kesurupan. Mimin yang setia menjadi pembatu di rumah tersebut menduga bahwa arwah yang merasuki Elsi adalah arwahnya Maya (Amelia), mantan kekasih Tio majikannya yang pertama. Beberapa tahun yang lalu, Maya bersitegang dengan Tio. Lalu Tio membunuhnya. Untuk menghilangkan jejak, Tio mengawetkan jasadnya dengan Formalin, lalu dilumuri adonan semen dan dijadikan patung. Arwah Maya inilah yang diyakini sebagai arwah gentayangan di rumah tersebut.

Firdha sangat panik ketika melihat anaknya kesurupan. Dalam kepanikannya itu, ia memanggil seorang dokter jiwa. Saat diperiksa, elsi malah merangkul dan mencengkeram dokter tersebut. Mereka semua panik. Akhirnya tangan dan kaki Elsi diikat di ranjang, lalu dokter menyuntiknya obat penenang.

Kondisi Elsi tak kunjung pulih. Mimin menyarankan majikannya untuk mendatangkan seorang dukun yang telah dikenalnya. Lalu ia diantarkan lan naik mobil untuk menjemput seorang dukun yang diperankan oleh Titi Qadarsih.

Ketengangan demi ketegangan disuguhkan sang sutradara, Irwan Siregar. Musik horor, suasana seram, lampu temaram banyak dihadirkan sepanjang cerita film. Terutama suara bel rumah yang sangat nyaring, sering dihadirkan secara tiba-tiba untuk memecahkan suasana keheningan dan ketegangan. Penghuni rumah dan penonton dibuat terkaget-kaget.

Meski mengklaim sebagai film misteri terhoror, namun sajian menegangkan yang diberikan tak jauh beda dengan film horor sebelumnya. Bahkan film ini rasanya kurang menyeramkan, pengemasan ceritanya pun terasa kurang menarik. Bedanya, jika setiap film horor dibuat menggantung di akhir cerita, tapi Rumah Pondok Indah ini jutsru dibuat selesai sehingga membuat penonton tidak penasaran.

Dalam alur ceritanya, film ini melibatkan pihak- pihak yang selama ini terkesan bersebrangan dalam menanggapi kasus kesurupan. Dunia kedokteran bersanding dengan dunia perdukunan. Kepolisian berhadapan dengan kasus kriminal (pembunuhan) yang sarat unsur mistik. Tapi sang penulis sekenario bisa meramu konflik dan kesenjangan antara pihak- pihak tersebut. Padahal bukan hal yang mudah untuk memahamkan dokter jiwa tentang kesurupan yang biasanya menjadi wilayah dukun. Begitu juga dalam menyelesaikan tindakan kriminal yang bau mistik.

Dari sisi Syari’at Islam, film ini banyak menuai cacatan. Rumah yang baru ditempati seharusnya dibacakan doa-doa atau surat al-Baqarah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah Penghuninya juga tidak tampak melaksanakan shalat atau mengaji. Hanya saat Elsi kesurupan saja, si lan mengambil mushaf al-Qur’an yang mulanya tersimpan rapi. Nggak jelas apa ia menganggapnya sebagai jimat.

Film horror ini materi ceritanya tidak jauh beda dengan film horor atau mistik lainnya. Mengangkat mitos yang berkembang di masyarakat, padahal itu salah kaprah. Yaitu menganggap bahwa roh gentayanganlah yang menteror penghuni rumah, padahal itu adalah ulah jin atau syetan. Memang benar, keberadaan patung di dalam rumah adalah media syetan untuk masuk ke rumah tersebut, dan menghalangi datangnya para malaikat, seperti yang dijelaskan Rasulullah.

Dan yang lebih memperihatinkan lagi adalah iklan menyimpang yang dihasung film ini. Yaitu menjadikan dukun sebagai sosok yang jitu dalam mengusir gangguan jin atau syetan. Bahkan sempat dikatakan oleh si pembantu, “Hanya dukun yang memahami alam ghaib dan bisa menolong.” Sungguh merupakan pernyataan yang muncul dari ketidaktahuan atau terilhami dari kehidupan masyarakat yang masih lekat dengan praktik perdukunan. Memprihatinkan memang…!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

HUBUNGI ADMIN