Malam Jum’at Kliwon Syetan Gentayangan?

Malam Jum’at Kliwon menebar ancaman. Ada sebagian orang yang merinding bila keluar rumah di malam jum’at Kliwon. la ketakutan lantaran mendengar mitos keangkeran yang terjadi di malam itu. Katanya, di malam Jum’at Kliwon syetan bergentayangan.

Jagad perfilman lndonesia kembali diramaikan film horor yang mengambil tema malam Jum’at Kliwon. Seorang wanita penyihir yang tewas dihakimi masa menuntut balas. Di malam Jum’at Kliwon, ‘arwahnya yang penasaran’ digambarkan menyembul dari alam ghaib dan menebar ancaman. la bergentayangan mencari mangsa.

Tempat di mana ia meninggal, telah dibangun penginapan. Di malam Jum’at Kliwon keganjilan demi keganjilan menghampiri tamu penginapan. Ada yang kesurupan, ada pula yang meninggal dunia.

Sebuah film yang memanfaatkan mitos yang berkembang di masyarakat untuk mendongkrak pendapatan. Judul film itu telah menggugah rasa penasaran.

Dukun juga memanfaatkan malam Jum’at Kliwon untuk memperkuat ilmunya. Ada yang melakukan ritual-ritual khusus ada pula yang memandikan benda-benda pusaka. Bahkan ada sebagian ilmu sihir yang memanfaatkan jasad perawan yang meninggal di malam Jum’at Kliwon untuk kekuatan ilmunya. Makamnya dibongkar. Kain  kafannya diambil. Semua itu dilakukannya di malam Jum’at Kliwon’.

Bagi kita umat lslam, malam Jum’at Kliwon bukanlah seperti yang dibayangkan orang. Malam yang menakutkan. Sebaliknya, malam Jum’at Kliwon itu tidak berbeda dengan malam Jum’at lainnya. Ia adalah malam yang mubarakah. Malam yang diberkati.

Orang yang meninggal di malam Jum’at Kliwon atau Jum’at-Jum’at lainnya seharusnya berbahagia. Karena itu adalah pertanda bahwa ia adalah orang baik. Orang yang terbebas dari ancaman siksa kubur. Abdullah bin Amr bin Ash meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda,

“مَنْ مَاتَ يَـوْمَ اْلجُمْعَــةِ اَو لَيْلَةَ الجُمعَــةِ وُقِـيَ فِتْنَـةَ القَـبْرِ”

“Barangsiapa meninggal di hari Jum’at atau malam Jum’at, dia dibebaskan dan siksa kubur.” (HR. Ahmad)

Hari Jum’at adalah hari raya pekanan bagi urnat lslam. la adalah sayyidul ayyam Sedangkan perhitungan kalender hijriah, dimulai sejak matahari terbenam. Saat adzan Maghrib berkumandang di hari Kamis, maka mulai detik itu sudah terhitung malam Jum’at. Hari Raya Pekanan bagi kaurn muslimin.

Malam Jum’at Kliwon tidak berbeda dengan malam-malam lainnya tidak ada perkecualian apapun untuknya Karena itu tinggalkan hal-hal yang berbau mitos. Kembalilah ke pangkuan lslam.

Waspadalah!! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Bayi Tidak Boleh Lewat Jembatan Sungai?

KATANYA, anak bayi yang masih merah tidak boleh diajak berjalan melewati sungai. Dikhawatirkan nanti dia akan tumbuh menjadi anak yang rewel. Alias suka menangis. Permintaannya tidak dituruti,l angsung menangis. Sakit sedikit menangis. Digoda temannya sedikit, menangis. Pokoknya dikit-dikit menangis. Nangisnya lama lagi.

Begitu cerita Yang disampaikan Bu ls, asal Tegal, Jawa Tengah. Ketika ditanya alasannya, Bu ls mengatakan, katanYa, di bawah jembatan itu banyak ‘penunggunya’. Air  ungai itu kan mengalir. Nah, ‘penunggu’ itu bisa datang dari mana saja. Sedang anak kecil itu kan  peka. Dikhawatirkan, ia akan melihat penampakan para ‘penunggu’ tersebut.

Suatu ketika, ada tetangga Bu ls yang hendak membawa bayinya melewati jembatan’ Maklum, untuk pergi ke desa seberang, ia harus melewati jembatan. Tak ayal orang tuanya pun menegur’ “ltu oroknya, jangan dibawa lewat jembatan. Bayi masih merah gitu kok,” kata orang tuanya. Kalau sudah terlanjur? “Katanya sih harus balik lagi. Atau dibacakan doa-doa perlindungan,” kata Bu ls.

Bayi yang masih merah, sebaiknya memang tidak dibawa keluar rumah. Pertahanan tubuhnya masih lemah dalam menghadapi terpaan virus dan kuman. Namun, bila larangan tersebut dihubunghubungkan dengan mitos, tentu ada yang perlu diluruskan kembali.

Tidak ada hubungan antara kerewelan seorang anak dengan jembatan sungat. Jin itu ada dimana-mana. Tidak hanya di sungai. Didalam rumah Pun sangat dimungkinkan, bila rumahnya jarang dipergunakan untuk shalat atau membaca al-Qur’an.

Menghindari jembatan sungai, tidak berarti membebaskan seorang anak dari gangguan  syetan. Maka yang perlu dilakukan orang tua adalah bagaimana ia sendiri melakukan Penjagaandiri dengan memperbanyak ibadah, membaca al-Qur’an, serta doa-doa perlindungan lainnya.

Kalau kemudian, anak kita rewel setelah dulunya pernah melewati jembatan sungai, maka jangan sekali-kali terbawa arus. Lalu membenarkan mitos tersebut. ketahuilah syetan itu sangat licik. la bisa memanfaatkan mitos yang berkembang di masyarakat untuk menggelincirkan akidah. Misalnya dengan mengganggu anak yang pernah dibawa melewati jembatan. Dengan demikian, syetan berhasil menyesatkan akidah’ Waspadalah, waspadalah’ Jangan kotori akidah dengan debu’debu katanya.

 

Truk Container Menabrak Orang BAWA HOKI?

ADA cerita miris soal mitos yang berkembang di kalangan masyarakat tertentu. Kecelakaan maut justru dianggap hoki yang membawa keberuntungan tersendiri. Sudah menjadi rahasia umum, bila sebagian sopir truk container bisa dibilang tidak mau mengalah pada pengendara yang lain. Mentang-mentang mobilnya besar, lalu tidak mau mengalah. la menjadi raja jalanan.

 

Tidaklah mengherankan bila kecelakaan maut sering terjadi. Cerita seputar pengendara sepeda motor yang tewas seketika digencet container sering menghiasi halaman surat kabar.

 

lronisnya. kecelakaan yang merenggut nyawa tersebut diyakini sebagian orang justru menjadi tumbal kelancaran bisnis mereka. Nyawa orang lain dipermainkan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

 

Perusahaan yang truk containernya menabrak orang hingga meninggal itu diyakini akan meraup keuntungan berlimpah pada bulan-bulan berikutnya. Artinya, biaya yang dikeluarkan untuk santunan keluarga korban, masih lebih kecil dari pendapatan yang akan diraup. Alhasil, sopir-sopir itu tidak jera meski telah mengakibatkan kematian orang lain.

 

Apakah keyakinan itu bermula dari ritual pesugihan? Kemungkinan ini pun bisa saja terjadi.Yang jelas, ada juga orang yang mengaitkan keyakinan itu dengan ritual pesugihan. Pencari pesugihan itu, konon, harus setor nyawa tiap tahunnya. Dan truk container bisa dijadikan sebagai sarananya. Begitulah cerita yang berkembang di tengah masyarakat.

 

Kedua alasan di atas tidak bisa dibenarkan. Apapun alasannya, kita tidak boleh mempermainkan nyawa manusia. Terlebih untuk kepentingan sesaat. Dengan menjadikannya sebagai tumbal atas ritual pesugihan, misalnya.

 

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Harta, kehormatan dan darah  seorang muslim diharamkan atas muslim lainnya.” (HR. Abu Dawud)

 

lslam melindungi jiwa setiap orang. Ia tidak boleh dibunuh kecuali dengan alasan yang dibenarkan agama. Misalnya, murtad, membunuh atau orang tua yang bezina. Karena itu, tidak boleh menghilangkan nyawa orang dengan alasan mitos. Sekadar untuk melancarkan bisnis, lalu membiarkan nyawa melayang tanpa rasa bersalah. Waspadalah, jangan biarkan debu-debu

katanya mengotori akidah!.

 

ghoib ruqyah syar’iyyah

Mimpi Jadi Pengantin, Tanda Kematian?

cincinLagi-lagi mimpi. Lagi-lagi mimpi. Ya, mimpi selalu menjadi sumber mitos di tengah masyarakat. Kali ini, mimpi menjadi pengantin.

Eiit, jangan girang dulu. Mimpi menjadi pengantin belum tentu menyenangkan. Dalam kenyataan, semua orang merasa senang saat menjadi pengantin. Kalaupun ada yang tidak bahagia, itu hanya segelintir orang. Dan jumlahnya tidaklah banyak.

Itu dalam dunia nyata lho. Dalam dunia katanya, lain lagi urusannya. Bila ada yang bermimpi menjadi pengantin, justru harus was-was. Mengapa? Ya, karena kepercayaan di masyarakat itu membuat bulu kuduk merinding.

Bayangkan bila sang pengantin itu meninggal. Wah, takut toh. Begini ceritanya, bila Ratih memimpikan Warto sedang mengenakan pakaian pengantin dan bersanding dengan istrinya, maka diyakini tak berapa lama lagi Warto atau orang yang terbayang dalam mimpi itu akan meninggal.

Tentu Warto ketakutan mendenga cerita itu. Tak lama lagi di menjadi santapan cacing tanah. Walah, walahhh bisa pingsan dia.

Nah, konon, untuk menghalangi datangnya malaikat Izra’il itu, orang yang bermimpi harus melakukan sesuatu. Caranya mudah. Tidak perlu uang jutaan. Beberapa lembar ribuan juga sudah cukup. Tinggal membeli kembang setaman lalu ditabur di perempatan jalan. Beres. Warto tidak perlu cemas. Begitu mitos yang berkembang di sebagian masyarakat.

Sebuah kepercayaan yang tidak masuk di akal. Bagaimana mungkin malaikat Izra’il bisa dilawan hanya dengan kembang setaman. Emangnya malaikat takut sama bunga? Tidak ada yang ditakuti malaikat selain Allah. Jangankan kembang setaman, Iblis pun dilawan.

Pada sisi lain, setiap makhluk yang bernyawa itu telah ditentukan batas kematiannya. “Kullu nafsin dzaa’iqotul mauut” setiap yang bernyawa itu akan meninggal, firman Allah dalam tiga surat yang berbeda; Ali Imran: 185, al-Anbiya’: 35 dan al-Ankabut: 57.

Kematian yang telah ditentukan, tempat, hari, tanggal dan jamnya. Tidak akan bergeser dari ketentuan Allah walau satu detik. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34).

Waspadalah, waspadalah!! Jangan kotori akidah dengan debu-debu katanya.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Telinga Berdengung Dirasanin Orang?

telingaKatanya, bila telinga Anda berdengung berarti Anda sedang dirasanin (jadi omongan) orang. Pada detik itu, ada orang sirik yang sedang membicarakan aib Anda. Begitulah, ungkapan yang sering kita dengar di tengah masyarakat.

Entah apa alasan mitos ini. Yang jelas, telinga merupakan indera pendengaran bagi manusia. Melalui telinga, kita bisa mendengar dan memahami pembicaraan orang lain.  Itu bila, getaran suara tersebut masuk dalam batas yang bisa ditangkap oleh indera telinga.

Tapi bila pembicaraan itu diluar jangkauan indera telinga, otomatis pembicaraan itu tidak akan tertangkap oleh indera pendengaran ini. Terlebih bila pembicaraan itu dilakukan di tempat yang berbeda. Anda di sini, sedang mereka jauh di sana.

Menjadi bahan pembicaraan orang lain, itu adalah konsekuensi logis dari interaksi Anda dengan mereka selama ini. Toh, Anda tidak mungkin dapat menyenangkan semua orang. Sekeras apapun Anda berusaha, pasti ada di antara teman atau relasi Anda yang pada akhirnya tidak setuju dengan langkah dan tindakan yang Anda tempuh.

Masalahnya, mengapa harus menjadikan dengungan di telinga sebagai isyarat bahwa ada orang yang sirik dengan Anda? Jelas, mitos ini tidak dibenarkan. Mulanya, mungkin sekadar sebagai gurauan, tapi sejatinya, mitos ini menimbulkan masalah yang tidak ringan.

Bagi orang yang terlanjur percaya dengan mitos semacam ini, lalu tiba-tiba telinganya berdengung, tentu dia akan mudah terpedaya. Syetan masuk melalui celah mitos ini dan mulailah ia menebak siapa kiranya yang menggunjingkannya. Si A, si B ataukah si fulan.

Bisa berabe. Tanpa alas an yang jelas, ia mulai menjaga jarak dengan orang yang diyakini telah menggosipkannya. Padahal kejadiannya belum tentu demikian. Karena itu jangan mudah percaya dengan hal-hal yang berbau katanya.

Islam secara tegas melarang kita untuk berburuk sangka. Dalam riwayat Ahmad disebutkan, “Jauhilah prasangka buruk. Karena sesungguhnya persangkaan buruk merupakan sedusta-dustanya pembicaraan.”

Bisa jadi telinga yang berdengung, itu lantaran keteledoran Anda. Lantaran jarang membersihkan telinga, hingga kotoran pun ngendon di dalamnya. Atau bisa jadi, telinga Anda kemasukan air. Lebih parah lagi bila yang menggerayangi telinga adalah semut.

Waspadalah! Jangan biarkan debu-debu katanya mengotori akidah Anda.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Menikahkan Orang Lain, Halangi Jodoh Anak-Anak?

Katanya, bila seseorang belum pernah menikahkan anak-anaknya, maka dia tidak boleh menggelar hajatan pernikahan orang lain di rumahnya. Pantangan ini tidak boleh dilanggar, bila tidak ingin terkena bala’. Anak-anaknya akan jauh dari jodohnya, alias menjadi perawan atau perjaka tua.

Mitos ini masih berkembang di sebagiaan masyarakat perkotaan. Khususnya yang berasal dari suku Jawa. Meski ketika ditanya darimana asal-usulnya dan bagaimana ceritanya bermula, mereka hanya menggelengkan kepala. “Pokoknya begitulah yang kami dengar dari nenek moyang kami,” kalimat seperti inilah yang muncul dari bibir mereka.

Menurut Ibu Heni yang tinggal di Bekasi, ada seorang temannya yang menjadi korban mitos ini. Sebut saja namanya Ibu Ria yang kebetulan ketempatan adik dan orangtuanya. Ibu Ria yang belum pernah menikahkan anak-anaknya ketar-ketir bila harus menggelar hajatan di rumahnya. Suara tetangga kiri kanan juga sudah rebut mengingatkan Ibu Ria agar tidak gegabah. Akhirnya diambilah jalan pintas. Ibu Ria menyelenggarakan hajatan pernikahan adiknya di gedung.

Bagi mereka yang mampu, mungkin tidak masalah menyewa gedung. Tapi bagi orang yang berkantong cekak, tentu masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada sekedar menyewa gedung.

Tapi untuk menantang mitos yang sudah mengakar dan menyelenggarakan hajatan walimah – dilaksanakan di tempat mempelai wanita – seperti biasa, tidak banyak orang yang berani melakukannya. Akhirnya diambilah jalan tengah. Mempelai wanita tetap menyelenggarakan akad nikah di rumah. Tapi tidak diperkenankan berhias layanknya seorang pengantin yang nikah dengan adat Jawa. Ia hanya berpakaian seperti wanita lainnya yang tidak sedang menikah.

Selain itu, orangtua mempelai wanita juga tidak diperkenankan menerima amplop atau bingkisan dari para tamu undangan. Kalau ada yang member, maka bingkisan atau amplop itu harus dikembalikan.

Kasihan, sungguh kasihan orang-orang yang termakan dengan mitos katanya ini. Mereka membuat tipuan sedemikian rupa, hanya karena takut pada mitos yang tidak jelas unjung pangkalnya.

Padahal, dalam kaca mata Islam, pernikahan adalah sesuatu yang sacral. Pernikahan adalah momen yang layak untuk dirayakan. Rasulullah SAW mengatakan, “Selenggarakan walimah, walau hanya dengan memotong seekor kambing.”

Dalam Islam, tidak disyaratkan bahwa seseorang harus terlebih dahulu menikahkan anak-anaknya sebelum dia menikahkan anak orang lain di rumahnya. Itu juga bukan syarat sah nikah. Masalah menikahkan anak orang lain di rumahnya dan masalah nak-anaknya yang belum menikah adalah dua hal berbeda yang harus disikapi dengan cara berbeda pula.

Karena itu jangan termakan oleh mitos-mitos yang tidak berdasar. Karena semua itu hanya akan mengotori aqidah kita dan bikin susah sendiri.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Album Pernikahan Pecah, Suami Mau Nikah Lagi?

Cermin retakKatanya, bila album foto sepasang pengantin jatuh dan pecah, maka hal itu dianggap sebagai sinyal perpecahan rumah tangga. Foto kenangan itu, kata mereka yang percaya, menjadi sinyal buat sang istri untuk lebih waspada dengan ulah suaminya. Lantaran album pecah itu dipercaya sebagai pembawa wangsit bahwa sang suami telah menjalin cinta dengan wanita lain. la tak lama lagi akan menikahi wanita kedua.

Mitos yang tersebar di sebagian masyarakat ini layak membuat hati sang istri ketar-ketir. Tujuan berfoto itu kan untuk dijadikan kenangan. Hitung-hitung pelipur lara bila suatu saat bahtera rumah tangganya mulai digoncang ombak. Album kenangan itu diharapkan menjadi perekat bila biduknya sudah mulai retak. Tapi ketika album itu mulai dipasang di dinding atau ditaruh di atas meja, sang istri harus berusaha agar album itu tidak jatuh.

Nah, bila kemudian iatuh tanpa sengaja dan pecah, maka menurut bisik-bisik orang yang percaya pada mitos katanya, hal itu merupakan alamat bahwa sang suami sudah tertambat dengan wanita lain.

Terlebih bila antara suami dan istri itu terpisah jauh, Sang istri di rumah A, sementara sang suami mengais rizki ke kota B. Bisa dibayangkan betapa gelisahnya sang istri.

Urusan bisa gawat. Sang istri yang sudah termakan dengan isu ini pun kebingungan. Album foto pernikahan yang masih tersisa diikat dengan lakban. Agar tidak berantakan saat terjatuh. Sementara orangtuanya yang memang dikesankan tidak senang dengan menantunya pun memanas-manasi anaknya. “Tuh, suamimu mau nikah lagi …” Seperti yang ditayangkan sebuah stasiun TV swasta.

Sesungguhnya tidak ada kaitan antara album foto yang jatuh kemudian pecah dengan keinginan suami untuk menikah lagi. Bagaikan barat dan timur. Selamanya tidak akan bertemu. Kalaupun toh mau dipaksakan maka itu hanyalah factor kebetulan belaka.

Sebenarnya tidak salah wanita cemburu dengan suaminya. Terlebih bila mereka terpisah jauh. Justru suatu kesalahan besar bila sifat ini hilang dari seorang wanita. Ia adem ayem saja bila melihat suaminya berhubungan dengan wanita lain. Bekerja sampai larut malam atau bahkan suami tidak pulang dengan alasan yang tidak jelas.

Masalahnya, dudukkanlah sifat cemburu yang merupakan tabiat setiap wanita itu pada tempatnya. Jangan terburu marah dan sewot bila hanya melihat album foto yang jatuh. Terlebih bila kemudian patah arang dan marah kepada orang yang tidak bersalah.

Karena itu tiada kata lain, waspadalah terhadap debu katanya. Jangan biarkan mengotori akidah kita.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Ada Apa Dengan Udan Jelak?

Ada apa dengan hujan, kok bisa-bisanya ditafsirkan macam-macam. Ada yang mengatakan begini, ada yang bilang begitu. Padahal peristiwanya itu cuma satu bukan dua atau sepuluh.

Nah, yang kita maksud dengan hujan di sini adalah hujan rintik-rintik yang diiringi oleh sinar matahari. Orang Jawa menyebutnya dengan udan jelak. Udan jelak, memang berbeda. Kali ini sinar matahari masih menembus bumi saat gerimis turun. Mendung yang bergelayutan di angkasa tidak bisa menahan dan menghalangi terobosan sinar itu.

Uniknya, beda daerah beda penafsiran atas fenomena alam ini. Sebutlah kepercayaan yang berkembang di sebagian masyarakat Jombang. Bagi mereka, udan jelak menjadi isyarat telah terjadi prosesi kelahiran. Yang melahirkan saat itu katanya sih bukan orang sembarangan, tapi dari golongan makhluk halus yang mereka sebut dengan genderuwo. ltu lho, sosok yang sering digambarkan berambut gimbal dan panjang, tubuhnya penuh dengan bulu berwarna hitam. liih, sereem.

Sebaliknya, sebagian warga asli Jakarta, tidak mengaitkan udan jelak dengan kelahiran anak genderuwo, tapi justru sebaliknya, udan jelak itu katanya isyarat kematian. Sehingga ketika ada seorang anak kecil yang ingin berhujan-hujan ria, orangtuanya pun melarang. “Jangan hujan-hujanan, itu hujannya orang meninggal,” katanya dengan mimik serius.

Wah, bila mitos ini dibenarkan, tentu ada pertanyaan besar yang harus dijawab, orang seperti apaya kira-kira yang kematiannya itu diiringi dengan udan jelak. Apakah dia itu orang yang sakti mandraguna atau sebaliknya, karena pada kenyataannya, banyak orang yang meninggal tanpa diiringi oleh udan jelak.

Mitos udan jelak terus menggelinding dan kini menyeberang ke pulau seberang. Bila di Jombang dikaitkan dengan kelahiran anak genderuwo, maka di Kabupaten Kerinci, Jambi, udan jelak juga tidak jauh dengan dunia makhluk halus.

Katanya sih saat udan jelak itu berarti anak-anak jin sedang mandi. Karena itu, sebagian warga Kabupaten Kerinci yang masih percaya dengan mitos ini melarang keras anak-anak untu k hujan-hujanan, karena di khawatirkan ia akan sakit terkena gangguan jin.

Fawandi seorang warga Kabupaten Kerinci yang menetap di Lampung mengatakan, sewaktu kecil dulu, ia sering mendengar ibu-ibu melarang anaknya hujan-hujanan. Bahkan larangan ini tidak sebatas pada anak-anak. orang yang sudah dewasa pun diperintahkan untuk menghentikan pekerjaannya sesaat sampai udan jelak reda.

Orang yang memanjat pohon harus segera turun, yang sedang mencangkul di lading juga harus segera berteduh. Pendek kata, tidak boleh ada yang bekerja. Bila pantangan ini dilanggar, maka akibatnya mereka akan menderita sakit.

Itulah berita seputar udan jelak yang berkembang di sebagian masyarakat.

Penafsiran mitos udan jelak ini memang berbeda antara satu daerah dengan lainnya, tapi setidaknya mereka dipertemukan pada satu titik, itu semua hanya mitos belaka.

Tidak ada kaitan antara udan jelak dengan genderuwo yang melahirkan, atau anak jin yang sedang mandi. Karena manusia yang normal tentu tidak bisa melihat mereka.

“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. al-Araf: 27) Dan kalaupun toh ada yang meninggal saat udan jelak, maka ketahuilah bahwa itu hanya kebetulan belaka.

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Gara-Gara Kucing Meong

Malam itu Mbah Pinah (nama samaran) uring-uringan. Gara-gara beberapa kucing yang kejar-kejaran di atas genteng rumahnya. Sudah diusir dengan teriakan yang cukup keras untuk orang tua seusianya, ditambah lagi lemparan sandal berkali-kali, tapi kucing-kucing itu tetap saja berlarian di sana. Malah ada sebagian genteng yang melorot. Namanya juga kucing. Mbah Pinah semakin geram dan jengkel.

Keesokan harinya, cucu perempuannya yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak tiba-tiba sakit panas. Mbah Pinahpun segera komentar, “Pasti ini gara-gara kucing semalaman!!” nadanya kesal.

“Apa salah saya?” mungkin begitu jawab kucing kalau saja dia bisa bicara seperti bahasa manusia.

Katanya, kalau ada kucing yang meraung-raung di sekitar rumah, maka harus segera diusir jauh-jauh. Kalau tidak, bisa-bisa salah satu dari keluarga rumah tersebut ada yang jatuh sakit. Mungkin karena raungan kucing itu yang mengundang penyakit. Benar nggak ya??

Jangan mudah percaya dengan yang namanya “katanya”, sebelum kita mengetahui penjelasan syar’inya. Lantaran jika kita terus-terusan mengikuti apa kata “katanya”, bisa jadi iman kita bolong-bolong tanpa kita menyadarinya.

Seekor kucing yang sedang birahi biasanya meraung-raung untuk memanggil atau menarik lawan jenisnya. Dan raungan itu akan semakin menjadi-jadi bila ada kucing jantan lain yang berusaha mendekat. Sang kucing jantan yang satunya akan berusaha menghalaunya yang itu selalu diiringi dengan raungan menyeramkan.

Begitulah kucing. Lain halnya dengan burung merak. Dia akan membentangkan bulunya yang indah untuk menarik pasangannya. Masing-masing dari berbagai jenis binatang itu mempunyai tabiat dan karakter yang berbeda-beda.

Menurut kaca mata agama, jelas sekali tidak ada satupun ayat al-Qur’an ataupun hadits Rasul yang menjelaskan keterkaitan antara suara kucing dengan datangnya penyakit. Kalau kaitannya dengan toharoh, nabi pernah berkomentar ketika ditanya tentang kucing, “Dia (kucing) itu termasuk hewan yang hidup di sekeliling kalian.”

Namanya juga hewan yang biasa hidup berdampingan dengan manusia, maka suara meongan atau raungannya pun semestinya juga sudah akrab dengan kita, tanpa perlu ditafsirkan dengan hal-hal yang nyeleneh alias neko-neko.

Tapi, kalau “katanya” ini salah, kok cucu Mbah Pinah sakit setelah semalaman ada kucing yang meraung-raung di atas atap rumahnya? Nah, itu dia masalahnya. Ltu sebenarnya hanyalah kebetulan saja. Tapi sebagian orang lebih suka membuat-buat alas an yang tidak beralasan, ketimbang mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Bisa jadi dia sakit panas karena kecapekkan, makan yang kurang teratur, atau makan jajan sembarangan. Kalau kita berpikir demikian, maka itu ngak apa-apa. Itu manusiawi.

Setitik noktah keyakinan yang salah, jika kita biarkan berlarut-larut bisa mengotori akidah lslam kita. Cukuplah bagi kita Allah sebagai penolong dan lslam sebagai solusi hidup. Tingkatkan kewaspadaan! Jangan sampai debu-debu katanya menodai akidah Anda! Wapadalah!! Waspadalah !!

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Malam-Malam Beli Jarum, Terlarang?

Jangan bermain api bila tidak ingin terbakar. Ungkapan yang tepat untuk menggambarkan mitos yang berkembang di sebagian masyarakat. Mitos yang melarang seseorang membeli jarum di malam hari.

Macam-macam alasan yang dikemukakan warga ketika hal ini ditanyakan kepada mereka. Ada yang mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah tindakan preventif belaka dan tidak ada motif lain. “Jarum itu kan kecil dan tajam bila tidak hati-hati bisa berbahaya,” ujar seorang bapak berumur lima puluhan tahun.

Bila yang membeli jarum itu adalah anak-anak yang masih berumur belasan tahun, mungkin alasan ini masih bisa diterima. Tapi apakah alasan yang sama bisa diterima bila yang membeli itu adalah seorang mahasiswa? Tentu tidak. Mahasiswa bukan lagi anak-anak yang tidak tahu bagaimana memperlakukan benda berbahaya seperti jarum. Mereka tentu sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada.

Seperti yang diungkapkan Rita, “Enam tahun lalu, saya sempat ditolak lebih dari lima toko ketika membeli jarum pentul pada jam delapan malam. Alasan mereka rata-rata sama, tidak ada. Padahal saya tahu mereka menjual  jarum itu.”

Kasihan Rita dan teman-temannya, dekorasi ruangan yang seyogyanya bisa dituntaskan pada malam itu juga akhirnya tidak kelan lantaran jarum pentul yang mereka butuhkan tidak kunjung didapatkan. Toko-toko pada ketakutan menjual jarum di malam hari.

Salah seorang warga memberikan alas an yang berbeda ketika hal ini ditanyakan kepada mereka. Katanya, bila ada yang membeli jarum di malam hari, maka jarum itu dikhawatirkan akan digunakan sebagai media sihir.  Kekhawatiran ini semakin tinggi manakala tayangan-tayangan mistis di TV banyak menyajikan visualisasi korban sihir yang dari dalam perutnya dikeluarkan berbagai macam logam berbahaya, seperti jarum, paku, silet dan beberapa benda lainnya.

Entah, mana jawaban yang benar, kesemuanya sulit diketahui karena ketika seorang anak mencoba bertanya kepada orangtuanya mengapa tidak boleh membeli jarum di malam hari, ia justru diomeli. “Dibilangi kok malah

ngeyel,” begitulah jawaban orangtuanya.

Sebagai orang yang beragama, kita tidak boleh sembarangan menerima mitos-mitos yang menyesatkan semacam ini. Walau awal dari pelarangan itu terkesan baik, tapi pada hakekatnya menyimpan racun berbahaya.

Niat yang baik masih belum cukup karena niat itu masih dilihat kembali kepada implementasinya. Bila niat yang baik dilakukan dengan cara yang baik, maka tidak ada masalah. Tapi bila niat yang baik itu dilakukan dengan cara-cara yang salah maka hasilnya menjadi tidak baik.

Demikian pula halnya dengan mitos pelarangan membeli jarum di malam hari. Dari beberapa alasan yang mengemuka kesemuanya terkesan berniat baik, tapi akibatnya bisa menjadi buruk karena sudah menembus pada wilayah aqidah.

Akhirnya silakan saja membeli jarum di malam hari, tapi Anda harus berhati-hati jangan sampai tertusuk. Sebaliknya seorang pedagang juga tidak seharusnya berbohong. Layani pembeli dan bila perlu bungkus jarum itu dengan rapi sehingga tidak membahayakan bagi pembeli. Saat-saat berikutnya itu sudah menjadi tanggung jawab pembeli, Anda tidak bersalah meski pada akhirnya ada di antara pembeli yang kemudian tertusuk jarum.

Waspadalah …

 

Ghoib ruqyah Syar’iyyah

HUBUNGI ADMIN