Dzikir itu Mudah, Tapi Luar Biasa Manfaatnya

Suatu hari, Abdullah bin Yasrah datang kepada Rasulullah SAW. seraya berkata,”Ya Rasulullah, aku adalah seorang yang sudah tua renta. Aku sudah sangat lemah. Aku telah banyak mengamalkan syariat lslam. Sekarang tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dapat memperkokoh iman dan amalku.” Rasulullah SAW. menjawab, “Sebutlah terus nama Allah sampai lidah dan bibirmu tidak sempat kering.” (HR. AtTirmidzi, Ahmad, lbnu Maiah dan Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Itulah tips yang diberikan Rasulullah SAW. kepada orang yang sudah renta dan lemah fisik itu. Berdzikir memang merupakan aktifitas fisik yang mudah dilakukan namun memiliki keutamaan yang luar biasa. Mudah dilakukan karena kapanpun dan di manapun, umumnya setiap orang bisa melakukan dzikir. Bisa di saat seseorang bepergian di atas kendaraan, saat ia bekerja, saat ia mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya. Bisa dilakutan ketika posisi duduk, berbaring, berjalan dan sebagainya.

Berbeda dengan aktifitas sholat yang hanya bisa dilakukan pada saat saat yang telah ditentukan, tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, dan harus dilakukan dengan gerakan tertentu. Begitupun dengan ibadah lain, seperti puasa yang terkadang sulit dijalankan oleh seseorang. Meskipun sholat dan puasa tentu merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap Muslim. Bayangkanlah betapa banyaknya kemudahan dalam dzikir. Maka, sering-seringlah berdzikir.

Orang-orang yang berdzikir dalam segala keadaan, disebutkan oleh Allah SWT. sebapi ulul albab, atau orang-orang yang cerdas. Allah SWT. berfirman, “(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptaka inidenpn sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imron : 191)

Ada banyak faidah-faidah dzikir bagi seseorang, antara lain:

Pertama, menjadikan Alah ridha dan mengusir syaitan.

Tak ada yang dapat mempengaruhi, menandingi dan melawan kekuatan syetan kecuali dengan dzikir (mengingat) Allah SWT. lbnu Abbas mengatakan, ”Syetan itu laksana ular yang menunggui hati. Apabila seorang hamba berdzikir (mengingat) Tuhannya yang Matra Suci lagi Maha Luhur, maka ia akan jinak dan diam saja. Tapi apabila si hamba tadi lengah dari berdzikir kepada Allah, maka ia akan membikin hamba itu was-was.”

Kedua, memperbanyak amal sholeh, Meningkatkan derajat dan membuat wajah berseri.

Pada hari kiamat, dzikir kepada Allah akan menjadi amalan yang akan memperberat timbangan dan meninggikan derajat di sisi Allah, bagi manusia. Abu Darda pernah mengatakan, “Barangsiapa yang senantiasa berdzikir kepada Allah, maka ia akan masuk syurga dengan tertawa.”

Ketika hari kiamat nanti, wajah orang-orang yang senang berdzikir pada Allah akan kelihatan berseri-seri. Allah SWT. berfirman, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang meniadi putih berseri dan ada pula muka yang meniadi hitam muram.” (QS. Ali lmron : 105) Dan wajah orang-orang yang biasa berdzikir adalah wajah-wajah yang putih berseri cemerlang

Hal ini sebenarnya sudah bisa dirasakan sejak kehidupan di dunia. Orang yang dekat dengan Allah, selalu ingat kepada Allah dan bibirnya selalu basah dengan dzikir, selalu tampak tenang, simpatik dan berwibawa. Sebaliknya orang yang hidupnya dipenuhi dengan kesenangan duniawi, kepuasan materi, melakukan sesuatu yang bisa memuaskan nafsunya, maka wajahnya akan kelihatan muram, kerap dilanda kegundahan, dan tidak simpatik.

Ketiga, membantu bersikap tabah dalam menghadapi persoalan hidup

Banyak sekali makna kalimat-kalimat dzikir yang diajarkan Rasulullah, yang sangat menggugah hati. Misalnya saja, Rasul mengajarkan ketika kita menaiki jalan yang menanjak, kita mengucapkan, “Laa haula wa laa quwwata illa billah” yang artinya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Ketika kita menghadapi suatu tantangan kita dianjurkan mengatakan, “Hasbiyallaj wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nashir,” yang artinya, Allah-lah yang mencukupi ku dan Dia adalah sebaik-baik yang Dipercaya, sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik yang memberi pertolongan. Ketika teringat sebuah dosa, kita dianjurkan untuk mengucapkan, “Astaghfirullahal ‘azhiim..” yang artinya, aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Ketika mendapat mushibah dianjurkan untuk mengucapkan, “lnna lillaahi wa inna ilaihi rooii’uun,” yang artinya, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali. Dan sebagainya.

Semua makna kalimat-kalimat yang diucapkan dalam dzikir dan do’a yang dianjurkan oleh RasuIuIlah itu bila dihayati akan menambah rasa optimism dan ketabahan dalam hati seseorang dan dapat membuatnya lebih tabah menghadapi berbagai persoalan dalam hidup.

Keempat, menjauhkan rasa was-was

Dzikir adalah benteng yang sangat kokoh untuk menghadapi serangan was-was. la laksana gunung yang berdiri tegar, dan tak mudah digoyahkan oleh kekuatan apapun. Pada hakikatnya, penyakit-penyakit psikolgis seseorang timbul karena ia jarang melakukan dzikir kepada Allah, enggan melaksanakan sholat, membaca Al-Qur’an atau tidak mau mempelajari sunnah Rasulullah dan tidak mau berdo’a. Akibatnya, orang seperti itu akan mudah ditimpa kebingungan. Laksana seorang pelaut yang terombang ambing oleh ombak dan arah angin tanpa tujuan, hingga akhirnya terdampar atau karam di tengah laut. ltulah kondisi orang yang kemudian menderita tekanan batin, stress, depresi, kecewa berat, frustasi menghadapi berbagai problema hidup yang mensguncangnya.

Semoga Allah memberi kita petuniuk dan pertolongan-Nya, agar kita senantiasa termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang berpredikat adz-dzaakiriin dan adz-dzaakiroot, yakni orang laki-laki dan perempuan yang senantiasa berdzikir. Allah SWT, berfirman, “Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

 

Ghoib Ruqyah Syar’iyyah

Sumber : Majalah Ghoib Edisi 1/1

Ruqyah Massal di Grand Hyatt

Ruqyah Massal di Grand Hyatt

Mau parkir di mana?” “Terserah sajalah” itulah sepenggal percakapan dua karyawan hotel Grand Hyatt yang menjemput tim Ruqyah Majalah Ghoib. Kedua orang itulah yang rajin menggerakkan aktivitas keagamaan di hotel tersebut. Seberkas sinar yang menggembirakan, di tengah bayangan buruk perhotelan yang menjadi tempat berbagai bentuk pelanggaran moral. Kita bisa berharap banyak dari karyawan seperti mereka yang rajin menggerakkan kajian keislaman.

Hotel Grand Hyatt terletak di kawasan strategis, bersebelahan dengan Hotel Indonesia dan menghadap ke Tugu Selamat Datang dengan kitaran air mancur dan hembusan percikannya yang menyejukkan wajah. Di puncak Tugu Selamat Datang berdiri kokoh patung dua sosok manusia menantang langit dengan tangan terangkat ke atas. la adalah simbol selamat datang kota jakarta, tempat yang sering dijadikan ajang demontrasi para mahasiswa, buruh LSM maupun partai politik. Di hotel mewah itulah kali ini, tim Ruqyah Majalah Ghoib mengadakan acara ruqyah massal. Menurut H. Wanto seorang pengurus musholla Ash- Shomad yang menyelenggarakan ruqyah massal di Hotel Grand Hyatt, “Para pengurus musholla menjalin kerjasama dengan pihak manajemen hotel dan diberi dukungan penuh untuk menyelenggarakan berbagai kajian keislaman. Baik pekanan ataupun pengajian bulanan. Ada juga kegiatan keislaman yang khusus untuk karyawan atau khusus karyawati.”

Seperti sore itu, saat kemacetan di depan Hotel Grand Hyatt tidak lagi terelakkan ratusan karyawan rela menunda kepulangannya. Kali ini mereka menghadiri acara yang lain dari biasanya. Pihak pengurus musholla Ash-Shomad mengun- dang tim Ruqyah Majalah Ghoib mengadakan ruqyah massal. Mulai pukul 17.00 peserta ruqyah yang tidak lain adalah karyawan Hotel Grand Hyatt, SOGO dan beberapa perkantoran di sekitar Hotel Grand Hyatt mulai berdatangan.

Seorang ibu berkaca mata duduk santai di samping rak buku di lorong gang Musholla Ash-Shomad. la datang bersama dengan adiknya yang menjadi karyawan di hotel Grand Hyatt. Dengan tawa renyah adiknya bercerita bahwa teman kantornya sempat berkelakar, “Mbak mau diruqyah emang banyak susuknya?” ujar sang adik yang sengaja mengajak kakaknya mengikuti ruqyah massal.

Tanggapan bernada gurauan terhadap ruqyah bisa jadi tidak hanya dialami oleh kedua orang Iwanita tersebut karena informasi tentang ruqyah yang memang masih belum menjangkau seluruh karyawan. Sebagaimana terungkap dari pernyataan Masruri, seorang karyawan berseragam jas. Dari gaya pakaian, nampaknya ia bukan karyawan biasa. “Saya baru pertama kali dengar istilah ruqyah. Dan saya penasaran ingin tahu bagaimana sebenarnya ruqyah itu.”

Walau sebenarnya tidak semua peserta ruqyah merasa asing dengan terapi gangguan jin yang sesuai syariat ini. Seperti dikatakan seorang pemuda berkaos biru yang memperkenalkan dirinya bernama Ari. la adalah seorang perantauan dari Ponorogo. Ari mengaku bahwa orangtuanya adalah seorang Warok Ponorogo. Dan seperti orangtua lainnya, ia sangat berharap bahwa pada suatu saat anaknya akan mewarisi ilmunya. Untuk itu semenjak masih sekolah di TK orangtuanya sudah mengajarinya ilmu-ilmu dasar penguasaan reog Ponorogo.

Sekarang Ari mengaku memiliki kemampuan menarik benda pusaka dari alam gaib “Saya pernah beberapa kali menarik keris dari kali Ciliwung,” ujarnya. Ari merasakan benar akibat dari berhubungan dengan jin. la mudah tersulut emosinya. Untuk itu tiga bulan yang lalu, dia berusaha mengikuti terapi ruqyah dan alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik. la hadir hari itu untuk mengetahui lebih jauh apakah memang ia sudah terbebas dari gangguan jin yang mengikutinya sejak kecil.

Ruqyah massal rupanya juga dihadiri oleh bayi-bayi mungil, sebut saja Syauqi. Bayi yang baru berumur tiga bulan dibawa serta oleh bapaknya, Asep. Sambil menggendong bayinya, Asep bercerita bahwa beberapa minggu yang lalu Syauqi selalu menangis setiap menjelang maghrib. Ini adalah suatu kebiasaan yang mengkhawatirkan. la takut kalau anaknya juga mendapat gangguan syetan.

 

Ratusan Karyawan Memadati Acara Ruqyah

Beragam alasan telah membawa karyawan hotel Grand Hyatt dan SOGO mengikuti kajian alam ghoib yang dilanjutkan dengan ruqyah massal. Sementara waktu terus beranjak senja dan peserta pun telah memenuhi musholla. Cukup mengesankan, peserta yang hadir lebih dari 250 orang. Sebuah pengajian yang bisa dibilang sukses, mengingat waktu pengajian yang mengambil sisa-sisa tenaga setelah seharian kerja.

Dalam ceramahnya, Ustadz Sadzali menyampaikan, “Beriman kepada yang ghoib bagi kita, ummat Islam, tidak perlu menunggu hasil penelitian dan tidak perlu menyaksikan tayangan-tayangan seputar keghoiban, karena informasi yang ghoib bagi ummat Islam bersumber dan barometernya hanya al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sedemikian antusiasnya peserta sehingga ketika tiba sessi tanya jawab mereka langsung berebutan angkat tangan. Nampak seorang ibu berjilbab biru segera mengangkat tangannya, “Ustadz, anak saya yang berumur tiga tahun tidak mau dibacakan doa menjelang tidur. Dia berontak, “Sudah ma. Jangan baca doa ma,” keluh ibu itu. Ada juga peserta yang pernah melihat orang kesurupan tapi jinnya mengejek bahwa bacaannya jelek “Ustadz, jinnya mengaku bisa membaca lebih baik dari itu dan bahkan tertawa. Lalu apa yang harus dilakukan?”

Saat sessi tanya jawab itu sebenarnya sebagian besar peserta sudah ingin langsung. masuk pada ruqyah massal mengingat waktu yang semakin malam. Sementara sudah seharian mereka tidak bertemu dengan keluarga. Dan tepat pada jam tujuh ruqyah pun dimulai.

Sebelum pembacaaan ruqyah, ustadz Sadzali memberikan wejangan, “Kalau ada yang bereaksi tidak perlu ditertawakan. Karena yang tidak bereaksi sekarang tidak ada jaminan bahwa dia terbebas dari gangguan jin,” kata ustadz Sadzali. Selanjutnya lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca dengan tartil segera menghentak jin yang telah menyatu dalam tubuh pasien.

Beberapa menit kemudian seorang pemuda berbaju kuning langsung bereaksi keras. Dia menjerit di susul dengan seorang ibu yang tadi sempat bertanya. Setelah selesai ruqyah ibu tersebut berkeluh kesah bahwa kedua anaknya juga mengalami gangguan. Anaknya yang masih berumur enam tahun mengaku sering diikuti anak kecil yang tidak terlihat oleh orang lain. Sementara sang ibu sendiri merasa agak malas beribadah Sebenarnya untuk kasus semacam ibu tersebut yang hampir semua keluarganya mendapat gangguan dari jin sangat memungkinkan bahwa rumah si ibu perlu untuk diruqyah.

Selain itu ada seorang peserta yang berontak ketika diruqyah. la segera dikerubuti dan dipegang ramai-ramai. Dua jam lebih ia masih menjadi permainan jin. Ternyata jin pengganggu itu mengaku cinta kepadanya.

Mendengar cerita itu tidaklah mengherankan bila ia bereaksi cukup lama. Karena pengalaman ruqyah di Majalah Ghoib juga menunjukkan bahwa orang yang dicintai oleh jin akan membutuhkan ruqyah beberapa kali sampai jin tersebut semakin melemah dan pada akhirnya menyerah.

Waktu terus merambat memecah malam dan tanpa terasa jarum jam menunjukkan angka 9, ruqyah pun berakhir dengan menyisakan pekerjaan rumah bagi panitia. Pekerjaan untuk membersihkan aqidah jamaah pengajian musholla Ash- Shomad dan karyawan hotel, SOGO dan perkantoran di sekitar hotel secara bertahap. Mereka dituntut untuk bersabar dan tidak terburu-buru dalam berdakwah sehingga cita-cita untuk memperbaiki wajah perhotelan sedikit demi sedikit menuai buah yang manis.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 19 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

WASPADAI 6 BAHAYA WAS-WAS

WAS-WAS, kata tersebut disebut dalam al-Qur’an N sebanyak lima kali. Dua kali  dalam bentuk fi’il madhi (kata  kerja yang sudah berlalu), yaitu dalam surat al-A’raf ayat 20 dan surat Thaha ayat 120. Dua kali dalam bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja yang berlaku sekarang dan yang akan datang), yaitu dalam surat Qaf ayat 16 dan surat an-Nas ayat 5. dan sekali dalam bentuk isim mashdar (kata benda), yaitu dalam surat an-Nas ayat 4.

Dalam surat al-A’raf dan Thaha, Allah menceritakan kembali kepada kita (ummat Muhammad) tentang was-was syetan yang telah menimpa Bapak-Ibu kita, Adam dan Hawa alaihimassalam. Dengan was-wasnya, Iblis atau syetan berhasil mengeluarkan Adam dan Hawa’ dari surga. Dengan sangat liciknya ia berpuara-pura menjadi sosok yang baik, sebagai ‘penasihat spiritual’ dan akhirnya Adam dan Hawa terpedaya. Setelah sadar, keduanyapun segera bertaubat kepada Allah. Dan Allah pun menerima taubat kedua- nya. (Lihat surat al-A’raf ayat 20-23).

Sedangkan dalam surat Qaf dan surat an-Nas, Allah mengingatkan kita agar senantiasa waspada dengan was-was syetan yang mengintai diri kita, sebagai keturunan anak-cucu Adam ‘alaihissalam. Waspada, agar was-was syetan tidak selalu hadir dan mempengaruhi kehidupan kita dengan berlindung kepada Allah melalui dzikir, do’a dan wirid harian, pagi dan sore. Begitu juga saat was-was syetan hadir, hanya kepada Allah semata, kita memohon bantuan dan per- tolongan. Bukan kepada antek- antek syetan, dukun dan orang pinter dan orang sejenis mereka.

WAS-WAS SYETAN ADA DUA MACAM

Was-was syetan dalam kehidupan manusia ada dua macam. Was-was dari luar dan was-was dari dalam. Was-was dari luar itu datangnya dari syetan. Syetan datang kepada- nya kemudian menimbulkan was-was atau membisikkannya. Rasulullah bersabda, “Salah seorang dari kalian bisa saja didatangi syetan seraya ber- tanya kepadanya, ‘Siapa yang menciptakan kamu?’ Maka dia menjawab, Allah’. Lalu syetan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Apabila salah seorang di antara kalian mendapati hal itu pada dirinya, hendaknya ia berkata, ‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Ucapan itu akan menghilangkan (was-was) ter- sebut. (HR. Ahmad dan di- shahihkan al-Albani).

Sedangkan was-was dari dalam juga bisa disebabkan oleh syetan. Was-was jenis ini pernah dialami oleh salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Utsman bin Abil Ash. Dia menceritakan fenomena was-was syetan yang ada dalam dirinya melalui hadits berikut.

Utsman bin Abil ‘Ash bercerita: “Ketika Rasulullah menugaskanku ke Thaif, aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku. Sehingga aku tidak tahu shalat apa yang sedang aku laksanakan. Ketika aku menyadari gangguan tersebut aku segera pergi menemui Rasulullah (di Madinah). Beliau bersabda: ‘Ibnu Abil ‘Ash?’. Aku menyahut: ‘Ya, wahai Rasulullah!’. Beliau bertanya, ‘Apa yang mebuatmu datang ke mari?’. Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah aku mengalami suatu gangguan dalam shalatku, sehingga aku tidak tahu shalat apa yang aku laksanakan’. Rasulullah besabda, ‘Itulah syetan, mendekatlah ke mari’.

Maka aku pun mendekat kepadanya, dan aku duduk di atas kedua telapak kakiku Rasulullah memukul dadaku dengan tangannya, dan melu dahi mulutku seraya berkata, Keluarlah musuh Allah! Beliau tafsirnya. melakukan hal tersebut tiga Banyak sekali bahaya was- kali, kemudian mengatakan, Sekarang lanjutkanlah tugas- mu! Utsman berkata, “Demi Allah, setelah itu saya tidak siatan pernah mengalami gangguan lagi”. (HR. Ibnu Majah, dan Imam al-Haitsami dalam Kitab az-Zawaid menyatakan sanad hebohkan haditsnya shahih dan perawinya terpercaya). Dari sabda Rasulullah, “Keluarlah musuh Allah!”, kita bisa memahami bahwa syetan tersebut telah berada dalam diri Utsman bin Abil Ash. Sehingga Rasulullah menyuruhnya keluar dari dalam jasad Utsman bin Abil ‘Ash.

Pemahaman itu diperkuat oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat shahih lainnya, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah.” (HR. Muslim). Dalam riwayat lainnya, “Adapun menguap itu datangnya dari syetan, maka hendaklah sese orang menahannya selagi bisa Apabila ia bekata hah…, berarti kita terpana syetan tertawa dalam mulut. nya.” (HR. Bukahri dan Muslim). Dua hadits di atas memberitahukan bahwa syetan bisa masuk ke tubuh manusia melaul peredaran darah atau melalui mulut saat menguap dan tidak ditutup.

BAHAYA WAS WAS

“Was-was adalah biang kejahatan, sangat kuat pengaruhnya dan sangat luas dampak negatif yang ditimbulkannya.” Begi- tulah Ibnul Qayyim menggam barkan bahaya was-was pada diri manusia dalam kitab tafsirnya.

Banyak sekali bahaya was-was, diantaranya :

1.  Menjerumuskan manusia dalam kemaksiatan

Apabila yang bersangkutan tidak segera menepisnya. Sudah banyak kejadian yang meng- suasana dan membelalakkan mata kita. Ada orang yang kita kenal sebagai orang baik-baik, pendiam dan tidak banyak ulah. Lalu tiba-tiba terdengar berita bahwa orang tersebut telah melakukan kemaksiatan atau tindakan kriminal. Seorang pimpinan pesantren melakukan pele- cehan seksual pada muridnya sendiri Seorang bapak menodai anaknya sendiri. Seorang ulama besar terjerumus dalam kasus bau mistik dan sarat syirik. Pejabat pemerintah yang selama ini dikenal baik, tiba-tiba skandalnya terkuak. Kejadian demi kejadian itu terjadi dengan begitu cepatnya dan membuat kita terpana.

Was-was syetan yang bisa menjungkirbalikkan kondisi manusia dalam sesaat jug pernah dialami oleh dua orang shahabat Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kau Anshar. Menurut Ibnul Athtahr nama kedua shahabat itu adalah Usaid bin Hudhair dan ‘Abbad bin Bisyr. Inilah cerita langsung dari Istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Shafiyyah binti Huyai.

 

Ketika Rasulullah  melakukan I’tikaf, pada suatu malam Shafiyyah mendatanginya untuk membicarakan sesuatu. Lalu aku bangkit dan mau pulang, Rasulullah juga bangkit dan mengantarkanku. Rumahku berada di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba lewatlah dua orang Anshar. Ketika keduanya melihat Rasulullah, keduanya mempercepat langkahnya. Lalu Rasulullah bersabda, ‘Berhenti!’ Yang bersamaku adalah Shafiyyah binti Huyal’. Keduanya pun mengucapkan. ‘Maha suci Allah, wahai Rasulullah…. ‘(Rasulullah memotong ucapan keduanya) dengan sabdanya, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Saya khawatir kalau (syetan itu) telah membisikkan yang negatif kepadamu, atau deritanya berkata sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ya, sebelum keduanya berprasangka negatif terhadap Rasulullah dan seorang wanita yang lagi bersamanya, Rasulullah menjelaskan duduk perkara- nya, bahwa wanita itu adalah istrinya sendiri, Shafiyyah. Karena melihat langkah keduanya yang dipercepat, Rasulullah khawatir kalau keduanya telah diberi was-was oleh syetan (bisikan negatif), lalu berburuk sangka kepada Rasulullah. Karena syetan itu bisa bercokol dalam diri manusia, dan bisa melakukan was-was setiap waktu.

2. Mengurangi dan mengacaukan aktifitas penderitanya

Orang yang dalam didupnya dijangkiti was-was, yang paling dirugikan adalah jadwal aktifitasnya. Bila jadwal aktifitas amburadul, bisa jadi mengakibatkan kerugian secara materi. Seharusnya dia bisa melakukan perbuatan itu lima belas menit. Akhirnya bisa molor sampai dua jam atau tiga jam.

Kalau ada karyawan kantor yang menderita was-was dalam mengambil air wudhu misalnya. Yang mana ia punya waktu istirahat sekitar satu jam untuk makan siang dan shalat Dhuhur. Bagi orang yang normal, proses berwudhu membutuhkan  waktu tidak lebih dari lima menit. Tapi bagi orang yang was-was, proses wudhu bisa memerlukan waktu lebih panjang. Karena ia harus mengulang-ngulang basuhan anggota badannya saat berwudhu. Belum lagi kalau air yang tersedia habis, karena ia selalu mengulang-ulang wudhunya.

Kalaupun ia masih punya waktu yang tersisa, maka shalatnya tidak akan tenang karena ia harus kembali masuk kantor lagi tepat pada waktunya. Begitu juga makan siangnya, ia tidak akan bisa menikmatinya dengan nyaman, karena harus berburu waktu. Itu kalau karyawan biasa. Kalau dia seorang pimpinan yang harus berjibaku dengan jadwal meeting atau pertemuan dengan relasi yang sangat padat. Tak ayal ia harus rela melepaskan tender proyek, karena amburadulnya jadwal agendanya. Dan orang  lain akan menyerobotnya. Pernah ada seorang sopir  pribadi yang datang ke kantor Majalah Ghoib, dan ia bercerita  bahwa bosnya telah memecatnya, gara-gara penyakit was- was yang dideritanya saat berwudhu dan shalat. Sehingga  ia sering telat.

3. Membuat hidup penderitanya tidak tenang

Di samping jadwal waktunya yang kacau, was-was bisa juga mempermalukan penderitanya. Bisa kita bayangkan, kalau ada orang yang menderita was-was dalam shalatnya, lalu ia shalat berjama’ah di masjid besar, yang jamaahnya memenuhi ruangan. Saat imam sudah takbir, dan makmum lainnya segera mengikutinya dengan takbir. Kemudian mereka berusaha khusu’ dan berusaha memahami bacaan Iftitah atau al-Fatihah yang lagi dibaca.

Tiba-tiba si penderita was- was mengulangi takbir pertamanya yang dirasa tidak sah. Lalu takbir lagi dan takbir lagi, karena merasa belum pas. Pastia ia akan menjadi tatapan mata jamaah lainnya saat shalat usai. Majalah Ghoib pernah bertemu dengan seorang laki- laki paruh baya, yang tidak mau lagi shalat berjamaah di masjid karena penyakit was-was yang ia derita saat memulai shalat. Dan ia pun merasa sangat tertekan dalam hidupnya dengan kondisi yang dialaminya.

4. Mengganggu dan  menyakiti hati orang lain

Kita bisa bayangkan, kalau lagi antri panjang untuk (Kita berwudhu, lalu di ujung sana, orang yang lagi berwudhu adalah orang yang terjangkiti was-was. Durasi wudhunya lama, air pun yang seharusnya pa cukup buat orang sepuluh, hanya cukup untuknya. Dan ketika tiba giliran kita, air itu b ternyata stoknya habis.

Atau ketika sedang shalat, persis di samping kita melafazhkan niat dengan diulang berkali- kali, lalu saat takbir pun diulang beberapa kali. Pasti konsentrasi kita akan buyar, kekhusu’an kita akan terganggu, begitu juga bacaan shalat kita.

Ibnul Qayyim pernah bercerita dalam kitabnya, bahwa ada orang yang terjangkiti was- was sedang shalat berjama’ah. Saat imam sudah takbir, orang tersebut melafazhkan niatnya. Dan ia adalah orang yang terjangkiti was-was dalam pengucapan kalimat. Sepertinya tidak cukup baginya untuk melafazhkan “Ushalli” dengan satu kali. la selalu mengulang- ngulangnya.

Dan ketika ia mengucapkan lafazh “Ada-an lillahi ta’ala” (Melaksanakan karena Allah ah ta’ala), dia salah mengucapkannya dengan kata, “Adza-an  lillahi ta’ala” (Untuk menyakiti Allah ta’ala). Lalu makmum yang disampingnya merasa terganggu dan membatalkan shalatnya seraya berucap di dekat telinganya, “Wali rasulihi wa malaikatihi wa jamaatil mushallin” (Juga menyakiti Rasul-Nya, Malaikat-Nya dan  jamaah lain yang sedang shalat). (Kitab Ighaatsatul Lahfan: 1/ 135).

5. Meninggalkan sunnah  Rasul dan mengikuti was-was syetan

Dan inilah dampak yang a paling membahayakan. Misalnya orang yang terjangkiti rasa was-was dalam wudhunya. Ia merasa bahwa membasuh anggota wudhu dengan air tiga kali merasa tidak cukup. Akhirnya ia mem-basuhnya berkali-kali melebihi yang disunnahkan Rasulullah, yaitu tiga kali. Karena terjangkiti rasa was-was itu, akhirnya terpola dalam pikirannya bahwa cara wudhu seperti itulah yang lebih utama. Padahal itu adalah bentuk dari pem-borosan dalam meng- gunakan air, walaupun untuk berwudhu atau bersuci.

Perhatikanlah bagaimana para shahabat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam menjauhi penggunaan air yang boros. Abdullah bin Umar berkata, Kami dan sekelompok laki dan perempuan pernah berwudhu (bergantian) dan membasuh tangan-tangan kami dalam satu wadah air pada zaman Rasulullah.” (HR. Ibnu Khuzaimah). Dan dalam riwayat lain, Amr bin Syueib bercerita dari kakeknya bahwa, “Ada seorang Arab badui datang ke Rasulullah, ia bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memberinya contoh tiga kali tiga kali. Kemudian beliau bersabda, “Beginilah cara berwudhu, barangsiapa yang melakukan lebih dari itu, berarti ia telah menyalahi (sunnahku), zhalim dan melampaui batas.” (HR. Ibnu Majah).

6. Menyeret penderitanya pada jurang kekufuran

Apabila was-was yang diderita seseorang itu adalah was- was dalam keimanan atau akidah, maka was-was tersebut akan menjadikannya keluar dari iman dan akidah yang benar. Inilah dampak yang paling membahayakan dan fatal. la bisa meragukan ke-Esaan Allah , meragukan kebenaran ayat- ayat Allah. Bahkan akan meragukan bahwa hanya Allah- lah sebagai Tuhan yang berhak disembah, karena ia juga mengakui tuhan-tuhan lainnya yang disembah pengikut agama lain, dengan membenarkan ajaran agama lain tersebut.

Maka dari itu, Rasulullah memberikan solusi yang tegas, apabila seseorang mengalami was-was dalam akidah atau keimanannya kepada Solusi sedini mungkin untuk menghentikannya dan berlindung kepada Allah, agar bisikan jahat dan pikiran yang merusak itu tidak punya ruang gerak untuk menggelincirkan iman pemiliknya.

Dalam hadits, Rasulullah menegaskan, “Syetan akan selalu mendatangi salah seorang dari kalian seraya bertanya, ‘Siapa yang menciptakan ini?’ ‘Siapa yang menciptakan ini?’ Sampai pada pertanyaan: ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Barangsiapa yang mendapati dalam dirinya pertanyaan tersebut, maka berlindunglah kepada Allah (baca Isti’adzah), dan hendaklah menghentikan- nya (mengakhirinya)’.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari penyakit was-was syetan, dan melindungi kita semua dari dampak buruk yang diakibatkan oleh was-was, apa pun bentuknya dan dari mana-pun sumbernya, syetan jin atau syetan manusia. “Katakanlah! Aku berlindung kepada Rabb manusia. Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang mem- bisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia (QS. an-Nas: 1-6).

 

Ghoib Edisi 58 Th.4/22 Muharram 1427 H/23 Februari 2006 m

HUBUNGI ADMIN