Adab Berpakaian

“Sesungguhnya Allah itu indah dan suka keindahan.” Begitulah potongan sabda Rasulullah yang diriwayatkan Muslim dalam kitab shahihnya. Rasulullah mengungkapkannya sebagai tanggapan atas pernyataan salah seorang sahabat yang bingung dalam mensíkapí apakah mengenakan pakaian yang bagus itu termasuk bagian dari kesombongan atau tidak. Cara berpakaian menunjukkan jati diri seseorang. Apakah dia tergolong orang yang sopan ditinjau dari sisi agama maupun etika sosial. Tulisan berikut mengupas adab berpakaian dalam tinjauan Islam.

 

1. KENAKAN PAKAIAN YANG MENUTUP AURAT

Pakaian bagi seorang muslim tidak sekadar melindungi kulit dari sengatan sinar matahari atau dinginnya udara. Tapi jauh lebih dari itu. Pakalan merupakan bagian dari sarana seorang muslim untuk melindungi kehormatannya. Melindungi harga dirinya dari pelecehan orang-orang yang tidak bermoral.

Perhatikanlah, bila seorang wanita berpakaian tidak senonoh di jalan, dengan mengenakan pakaian super ketat dan super pendek misalnya, maka la akan menjadi santapan mata hidung belang. Betapa banyak orang yang dengan sengaja melirik dan menatapnya dengan tajam.

Anehnya, pakaian mini sudah menjadi trend dewasa ini. Pakaian mini dianggap sebagai bagian dari kemajuan yang harus diikuti. Sungguh naif memang. Apa yang dipertontonkan siswi SMA dewasa ini sungguh mengerikan. Betapa banyak di antara mereka yang dengan senang hati mengenakan seragam yang ketat dan pendek. Kalau dulu, seragam sekolah itu harus dimasukkan, sekarang sudah tidak ada lagi yang bisa dimasukkan karena memang sudah pendek.

Bila pakaian seragam sekolah saja sudah demikian ketat dan pendeknya, tentu dapat diterka pakaian yang mereka kenakan di luar keperluan sekolah. Tidakkah mereka, para wanita yang mengenakan pakaian super ketat dan sejenisnya, takut dengan nubuwwat (ramalan) Rasulullah? Yang dengan tegas dinyatakan dalam hadits bahwa mereka tidak akan mencium aroma surga. Jangan lagi berbicara mau masuk surga, untuk mencium baunya saja, kesempatan itu sudah tertutup.

“Dua golongan dari penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya. Kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi yang mereka memukul orang-orang dengannya, dan wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mempengaruhi orang lain dan menyeleweng, kepala mereka. seperti punuk unta yang miring, mereka tidak masuk surga dan mencium baunya, sedangkan baunya bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim).

Aneh, di negara yang mayoritas beragama Islam ini, pakaian yang islami mulai tergeser dari kehidupan pemeluknya. Banyak yang enggan mengenakan pakaian yang menutup aurat, dan menyembunyikan bentuk tubuhnya dari pandangan orang-orang yang tidak berhak memandangnya.

Bila seorang wanita ingin masuk surga, kenakanlah pakaian yang menutup aurat. Pakaiannya itu longgar dan tidak ketat sehingga tidak bisa menggambarkan bagaimana lekak- lekuk tubuhnya. Bukan pakaian tipis yang tembus pandang. Pakaian yang tidak bisa menyem- bunyikan tubuhnya dari tatapan orang lain.

Dengan demikian, Anda tidak hanya melindungi badan dari sengatan matahari, tapi yang lebih penting, melindungi diri dari balutan api neraka. Yang terbayangkan panasnya.

 

2. MENGENAKAN PAKAIAN DENGAN TANGAN KANAN DAN MELEPASNYA DENGAN KIRI

Selain melaksanakan kewajiban dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat, seorang muslim juga bisa terus menambah pundi- pundi amalnya saat memakai pakaian.

Seyogyanya seorang muslim tidak sekadar mengenakannya. Yang penting sudah menutup aurat lalu berhenti di sini. Tapi ia harus memanfaatkan peluang yang terbuka ini. Caranya tidak sulit. Dan tidak membutuhkan biaya. Hanya dengan mengetahui bagaimana cara Rasulullah berpakaian, seorang muslim pun dapat menirunya.

“Rasulullah sangat mengagumi posisi kanan pada semua urusannya, pada bersuci, menyisir rambut, dan memasang alas kaki.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain disebutkan, “Sesungguhnya Rasulullah menjadikan tangan kanannya untuk makanannya, minumannya, dan pakaiannya. la jadikan tangan kirinya untuk yang selain dari itu.” (HR. Abu Dawud) Begitulah Rasulullah memulai mengenakan pakaian. Didahului dengan yang kanan baru yang kiri. Segala hal yang baik. didahului dengan yang kanan.

Sebaliknya Rasulullah  memulai dari yang kiri saat melepas pakaian. Seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan untuk menambah pundi-pundi amalnya. Jangan biarkan terbuang percuma.

Selain itu, orangtua juga harus membiasakan anak-anaknya mengenakan pakaian dengan yang kanan dan melepasnya dimulai dari yang kiri. Dengan demikian, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Karena telah mengikuti sunah Rasulullah
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Adab Menjenguk Orang Sakit

Bisa dipastikan setiap hari pasti ada orang yang sakit. Mulai dari yang ringan hingga yang berat. Atau bahkan yang membutuhkan perawatan khusus hingga harus rawat inap di rumah sakit. Ini adalah siklus kehidupan, sekarang sehat dan di lain waktu terserang penyakit. Atau sebaliknya.

Islam sebagai agama yang sempurna sangat memperhatikan sisi kemanusiaan ini. Cukuplah kiranya hadits riwayat Muslim berikut menjadi dorongan semangat kita untuk menjenguk teman atau saudara kita yang sedang sakit. “Rasulullah bertanya, “Siapakah yang pagi ini berpuasa?” “Saya,” jawab Abu Bakar. Rasulullah bertanya lagi, “Siapakah yang hari ini menjenguk orang sakit?” “Saya,” jawab Abu Bakar. “Siapakah yang melayat orang meninggal?” Tanya Rasulullah lagi. “Saya,” jawab Abu Bakar. “Siapakah yang memberi makan orang miskin,” tanya Rasulullah. “Saya,” jawab Abu Bakar. Marwan berkata, “Ada berita yang sampai kepada saya bahwa Rasulullah berkata, “Tidak berkumpul sifat-sifat ini pada diri seseorang dalam sehari melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Agar tujuan menjenguk orang sakit tercapai dengan baik, seharusnya kita memperhatikan beberapa adab berikut:

 

1. Tidak Memandang Sesuatu yang Terlarang

Kita boleh berbangga diri, setidaknya satu dari empat sifat yang tersebut dalam hadits di atas seringkali kita lakukan dalam keseharian kita. Memang tradisi menjenguk orang sakit cukup membudaya di sekitar kita. Terlebih di lingkungan masyarakat pedesaan. Sebuah pemandangan yang tidak lah aneh bila rumah orang yang sakit, ramai dijenguk para tetangga.

Namun ada satu hal yang harus diperhatikan. Pada saat seperti ini kita harus tetap menjaga etika. Jangan sampai tujuan yang mulia tersebut pada akhirnya ternoda oleh sesuatu yang seharusnya bisa kita hindari. Ya, hindarilah melanggar larangan agama ketika menjenguk orang sakit. Contoh yang paling mudah adalah harus tetap menjaga pandangan. Jagalah mata dari memandang sesuatu yang terlarang. Memandang seorang perempuan yang bukan muhrim misalnya. Kalau itu terjadi maka menjenguk orang sakit berubah menjadi bencana.

Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadits. Abdullah bin Abu Hudzail berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud menjenguk orang sakit bersama sekelompok orang. Sedangkan di dalam rumah tersebut ada seorang perempuan, lalu di antara rombongan Abdullah bin Mas’ud ada seseorang yang melihat kepada perempuan tersebut. Maka Abdullah bin Mas’ud pun berkata kepadanya, “Seandainya matamu kecolok (tertusuk sesuatu) tentu lebih baik bagimu (daripada melihat perempuan).” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas kita bisa menarik benang merah bahwa pandangan mata haruslah tetap dijaga dari berbagai hal yang terlarang di manapun tempatnya. Termasuk pada saat menjenguk orang sakit.

 

2. Duduk di Sebelah Kepala Orang yang Sakit

Bila anda menjenguk orang sakit dan menjumpainya sedang terbaring lemah, maka dekatilah dia dan duduklah di samping kepalanya. Janganlah hanya melihat dari jauh tanpa ada usaha sama sekali untuk mendekatinya. Tidak perlu risih atau jijik bila tercium bau yang tidak sedap dari si pasien. Atau langsung pergi begitu saja setelah bersalaman dengan anggota keluarga si sakit dan tidak ada keinginan untuk mendekatinya. Ketahuilah bahwa duduk di dekat kepala orang yang sakit merupakan sunah Rasulullah.

Dalam sebuah hadits, Ibnu Abbas menceritakan bagaimana sikap Rasulullah ketika menjenguk orang sakit. Ibnu Abbas berkata, “Bila menjenguk orang sakit, Rasulullah duduk di sebelah kepala orang yang sakit. Kemudian berdoa tujuh kali: Saya meminta kepada Allah Dzat Yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang agung. Sembuhkanlah dia.” (HR. Muslim)

 

3. Menenangkan Hati Orang yang Sakit

Banyak hal yang bisa anda lakukan saat berada di dekat kepalanya. Anda bisa membicarakan sesuatu yang menyenangkan hati si sakit. Atau bisa juga memberikan semangat bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah mengalami sakit.

Yakinkanlah dia bahwa penyakit, seringan apapun itu, merupakan bagian dari skenario Allah untuk menghapus dosa hamba-hamba-Nya. Justru di sini terletak suatu keistimewaan yang harus dipahami. Dan bukan untuk disesali.

Lihatlah! Rasulullah sendiri senang menjenguk orang sakit dan memberikan dorongan semangat kepadanya agar tidak putus asa. Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah menjenguk seorang arab badui (arab pedalaman). Ibnu Abbas berkata, “Ketika Rasulullah menjenguk orang sakit maka Rasulullah selalu mengatakan: Tidak apa-apa. Insya Allah segera sembuh.” (HR. Muslim)

 

4. Mendoakan Orang yang Sakit

Hadits riwayat Ibnu Abbas di atas mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan ketika menjenguk orang sakit. Ya, Rasulullah selalu mendoakan kesembuhan. Artinya, seberat apapun penyakit yang diderita tetap tidak boleh putus asa. Seorang dokter boleh saja menyimpulkan bahwa penyakit si A sulit disembuhkan. Tapi yakinlah bahwa sang dokter hanyalah manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan.

Sadarilah bahwa ada kekuasaan Allah yang tidak diketahui oleh siapapun sebelum terjadi. Karenanya janganlah pernah putus asa untuk selalu berharap kesembuhan kepada-Nya. Tentunya bagi para penjenguk diharapkan untuk mendoakan kesembuhan si sakit dengan membaca, “Allahummasyfi (Ya Allah, sembuhkanlah) …. (sebut nama si sakit)

Sebagaimana doa Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqash. Abdul Rahman berkata, “Ada tiga orang dari Bani Sa’d berkata kepada saya. Dan semuanya mendengar langsung dari orangtua mereka bahwa Rasulullah menjenguk Sa’ad bin Abi Waqash yang sedang sakit di Mekah, maka menangislah Sa’ad bin Abi Waqash. Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” “Saya takut meningggal di tanah, tempat asal saya berhijrah sebagaimana meninggalnya Sa’ad (saudaranya)” jawab Sa’ad. Rasulullah berdoa tiga kali, “Ya Allah. Sembuhkanlah Sa’ad”…..” (HR. Muslim).

Atau membaca, “As ‘alullahal adhim, rabbal ‘arsyil adhim, an yasyfiyak” (“Saya meminta kepada Allah Dzat Yang Maha Agung, Pemilik Arsy yang agung. Agar Dia menyembuhkannya.)

Inilah bagian pertama dari adab menjenguk orang sakit. Semoga dapat memuluskan langkah kita dalam mengurangi beban yang ditanggung saudara kita yang sedang tergolek oleh cobaan penyakit.
Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Berdzikir

Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang mufarrid itu berada di barisan terdepan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang mufarrid itu?” Rasulullah menjawab, “Mereka ialah orang-orang yang berdzikir (mengingat) kepada Allah baik laki-laki ataupun perempuan.” (HR. Muslim)

“Yaitu orang-orang yang mengamalkan dengan disiplin dzikir-dzikir yang bersumber dari Rasulullah di pagi, sore hari, atau setiap waktu dan setiap keadaan yang berbeda-beda baik siang atau malam. Sebagaimana yang terhimpun dalam kitab Amalan siang dan malam”” kata Abu Amr bin Shalah ketika ditanya tentang batasan orang- orang yang dikategorikan suka berdzikir.

Cukuplah kiranya hadits dan penjelasan Abu Amr bin Shalah mendorong semangat kita untuk senantiasa berdzikir dengan tidak menyepelekan beberapa adab dzikir berikut ini.

 

1. Dzikir dengan Hati dan Lisan

Sebenarnya dzikir merupakan pekerjaan hati dan lisan. Sehingga sudah sewajarnya bila seseorang ingin memperoleh keutamaan dalam berdzikir untuk menggabungkan kedua hal ini. Persatuan yang melahirkan rasa bahwa kita sedang bermunajat kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Persatuan yang membatasi pikiran kita agar tetap mengikuti apa yang kita rasakan. Sehingga tidak melayang kemana-mana atau bahkan tidak lagi memperdulikan apa yang sedang dilafalkan.

Namun, perlu diingat bahwa pengucapan dengan lisan itu jangan sampai mengganggu konsentrasi orang lain yang juga sama-sama berdzikir atau bahkan sedang shalat di samping kita. Karena itu disinilah kita dituntut untuk memahami sejauh mana kita bisa mengeraskan volume suara kita.

Yang lebih parah bila kita tidak lagi berdzikir dengan hati maupun lisan hanya karena alasan yang tidak jelas. Karena takut dikatakan riya’ misalnya. Karena justru orang yang meninggalkan suatu amalan karena manusia itu sendiri sudah masuk dalam kategori riya’ sebagaimana atsar riwayat Abu Fudhail bin lyadh, “Meninggalkan suatu amalan karena manusia adalah riya’. Beramal karena manusia adalah syirik. Apabila kamu beruntung mendapat pemeliharaan Allah dari keduanya, itulah namanya ikhlas”.

 

2. Sikap dalam Berdzikir

Agar dzikir yang dilantunkan lisan dan diikuti oleh hati menjadi lebih berkesan dan memperkuat daya magis yang ada maka harus didukung oleh beberapa faktor lainnya.

Duduk dengan sikap yang sempurna misalnya. Artinya seseorang duduk dengan bersila, menghadap kiblat, tidak banyak bergerak dan menundukkan kepala. Sangat tidak beretika bila ada seseorang yang berdzikir kemudian dengan seenaknya saja ia menyelonjorkan kaki. Atau dengan tatapan mata kosong dan menerawang ke kiri atau kanan.

Apa yang dilakukan itu memang tidak sampai masuk dalam hukum haram yang menyebabkan seseorang mendapat tambahan dosa karenanya, Tapi seorang yang berakhlak tentu tidak akan melakukan hal-hal yang mengurangi kekhusyuannya dalam berdzikir.

 

3. Tempat Berdzikir yang Baik

Selain itu, seseorang bisa memilih tempat yang tenang dalam berdzikir. Tempat yang tenang, tidak mudah terganggu dan bersih. Karena itu berdzikir di masjid atau tempat mulia lainnya tentu sangat membantu.

Bahkan sebaiknya di dalam rumah kita tersedia ruangan tertentu yang dipakai sebagai tempat shalat atau berdzikir. Tempat yang tidak sembarangan diacak-acak oleh anak kecil atau bahkan terkena najis karena ulah anak-anak yang masih belum paham agama.

Dari sini kita harus memahami bahwa ada tempat-tempat yang kurang pantas untuk dijadikan sebagai tempat berdzikir. Tempat yang kotor misalnya. Atau bahkan di kuburan. Memang secara jelas Rasulullah menganjurkan umatnya untuk berziarah ke makam untuk merenungkan bahwa suatu saat kita juga akan seperti mereka. tapi bukan pada tempatnya bila tempat-tempat itu kemudian dijadikan sebagai tempat untuk berdzikir secara berkala.

 

4. Membersihkan Mulut Sebelum Berdzikir Islam adalah agama yang cinta akan kebersihan.

Karena itu Rasulullah menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga kebersihan mulut. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa perbuatan yang pertama kali dilakukan Rasulullah setelah bangun. tidur adalah bersiwak. Dalam bahasa kita bersiwak adalah menggosok gigi dengan kayu Arak.

Dan sudah sewajarnya bila menggosok gigi juga kita lakukan saat hendak bermunajat kepada Allah. Kalau saat itu kebetulan sedang tidak membawa sikat gigi, setidaknya bisa menggantinya dengan berkumur.

Rasulullahi bersabda, “Seandainya saya tidak khawatir akan memberatkan umat saya, niscaya saya akan menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi) sebelum melakukan apa saja.

 

5. Waktu yang Dimakruhkan untuk Berdzikir

Meski dzikir itu disunahkan dalam berbagai keadaan dan kesempatan, namun ada waktu- waktu tertentu yang makruh untuk berdzikir. Yaitu ketika buang air, jima’, mendengarkan khutbah atau dalam keadaan mengantuk. Larangan berdzikir dalam beberapa keadaan di atas, tidak lain untuk membiasakan kita berakhlak Islami dalam berbagai situasi. Kita tahu kapan saat berdzikir dan kapan tidak boleh.

 

6. Dzikir Bagi Orang yang Tidak Bersuci

Inilah sisi keistimewaan dzikir. la berbeda dengan shalat, puasa atau haji dan beberapa ibadah lainnya yang bisa terlarang dalam keadaan. tertentu. Menurut ijma ulama tidak ada halangan bagi seorang wanita yang sedang haid, nifas atau dalam keadaan junub untuk berdzikir. Mereka tetap dibolehkan mengucapkan tahlil, tahmid, tasbih, takbir, shalawat maupun dzikir- dzikir lainnya.

 

7. Berdzikir dengan yang Ma’tsur

Dzikir adalah bagian dari ibadah. Dengan kata lain dzikir yang kita lafalkan itu harus sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah. Jangan sampai kita mengamalkan dzikir-dzikir tertentu yang masih dipertanyakan dalilnya. Atau bahkan itu bukan dari Rasulullah.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Barangsiapa melakukan amalan-amalan yang tidak ada (perintahnya) dari kami, maka amalan itu tidak diterima.” (HR. Muslim)

Di sinilah letak perbedaannya dengan doa. Karena orang boleh saja berdoa dengan bahasa apa saja dan dengan susunan kalimat yang dia inginkan.

Inilah beberapa adab berdzikir yang layak diperhatikan. Agar apa yang kita lakukan tidak menyimpang dari agama.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 19 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Seorang Guru

Bila sedemikian tinggi penghormatan Allah kepada ilmu, tentu seorang guru yang mengajarkan kebaikan juga tidak kalah mulianya. la adalah sosok pahlawan, meski pada akhirnya banyak orang yang melupakan jasa-jasanya, la adalah pahlawan tanpa tanda jasa.

Agar jasa seorang guru tetap terkenang sepanjang masa, dan tidak menjadi hina karena keilmuannya maka seyogyanya seorang guru juga memiliki beberapa adab yang mengantarkannya kepada kemuliaan.

 

1. Mengharap Ridha Allah Semata

Tidak perlu dijelaskan lebih jauh, seorang guru pasti memahami apa makna keikhlasan yang terkandung dalam pekerjaannya ini. Rutinitas dan aktifitas hariannya telah memberinya pelajaran bahwa profesi seorang guru yang sedemikian mulia itu sudah sewajarnya didasari dengan keikhlasan.

Namun, di sini perlu disampaikan bahwa profesi guru adalah ladang untuk beramal. Ladang untuk menebar benih kebaikan yang hasilnya bukan hanya dipetik di dunia, tapi lebih jauh dari itu ia menjadi tabungan amal akhirat. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan begitu saja.

Untuk memupuk keikhlasan itu, seyogyanya seorang guru senantiasa mengingat nasihat Rasulullah kepada Ali bin Abu Tholib, saat melepasnya memimpin pasukan menaklukkan Yahudi Khaibar. “Ya Ali. Jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang karena kamu, itu lebih baik daripada unta merah (harta paling beharga waktu itu).”

Pemupukan ini harus terus dilakukan, agar keikhlasan dan ketulusan itu tidak luntur oleh budaya hidup hedonis, yang mengukur segala sesuatu dengan materi.

 

2. Menghindari Sifat Ujub

Di mata masyarakat, seorang guru masih dianggap sebuah profesi yang mulia, apalagi bila ia adalah guru agama yang sering dipanggil ceramah kesana kemari. Ya, seorang ustadz dalam masyarakat kita sering menjadi tempat bertanya, atas berbagai masalah yang menimpa. Meski sebenarnya seorang ustadz bukan berarti sudah terbebas dan masalah.

Ini adalah suatu kelebihan yang dimiliki seorang ustadz. Namun pada sisi lain juga menjadi pintu awal bencana. Bila tidak hati-hati maka penyakit hati akan segera menyeruak dan merusak amal seorang ustadz. Penyakit itu adalah ujub. Kebanggaan dan kesombongan atas keilmuan yang dimiliki serta banyaknya masyarakat yang meminta pendapatnya itulah yang pada akhirnya akan merusak amal.

Sedemikian besarnya bahaya sifat ujub ini sehingga dalam sebuah hadits Rasulullah menyamakannya dengan api. “Sesungguhnya sifat ujub itu menghabiskan kebaikan hingga tak tersisa, sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Karena itu, janganlah terkecoh oleh penghormatan masyarakat. Karena sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Masih banyak orang yang lebih pintar dan lebih segalanya dari kita. Waspadailah pintu ujub ini agar tidak merusak amal.

 

3. Bukan Aib Mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Kemuliaan dan kedudukan yang demikian tinggi di mata masyarakat jangan sampai menjadi beban tersendiri bagi seorang guru, ustadz, dosen atau profesor untuk mengakui kekurangan dan kelemahan yang dimilikinya. Seorang ustadz dan sejawatnya tetaplah manusia yang memiliki banyak keterbatasan. Masih banyak masalah yang tidak masuk dalam jangkauannya. Dan itu adalah sesuatu yang wajar.

Menjadi tidak wajar, bila seseorang tidak mau mengakui kelemahan dan keterbatasan ilmunya. Dan segera menjawab bila ada persoalan yang ditanyakan kepadanya. Padahal dia sendiri tidak yakin dengan jawabannya. Tidak perlu malu mengakui ketidaktahuannya. Berkata tidak tahu tidak akan menurunkan posisinya di hati masyarakat yang ada justru masyarakat semakin menghargai kebesaran jiwanya. Toh masih ada waktu untuk menjawabnya pada kesempatan lain, setelah terlebih dahulu mengkaji dan memperdalam pokok permasalahan.

Orang bijak mengatakan, bila tidak ada jalan untuk menguasai semua ilmu, maka bukan menjadi aib bila tidak tahu sebagiannya. Dan kalau tidak ada aib bila tidak tahu sebagian ilmu, maka juga tidak ada cacatnya bila mengatakan, “Saya tidak tahu.”

Tapi menjadi sangat memalukan bila akhirnya seorang ustadz terus berkoar-koar atas masalah yang tidak diketahuinya. Padahal saat itu bisa jadi dia telah menjadi sesat dan menyesatkan.

Karena itu, sungguh celaka orang yang enggan mengatakan saya tidak tahu, padahal ia tidak tahu.

 

4. Mengamalkan Keilmuannya

Poin ini tidak khusus buat seorang ustadz, tapi untuk siapa saja. Yang merasa memiliki pengetahuan tertentu. Artinya, siapapun yang memiliki ilmu maka ia dituntut untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari- hari Contoh yang paling mudah adalah mendengar dan menjawab suara adzan. Ini kelihatan sepele namun dalam kenyataannya masih sering tidak dihiraukan.

Bagi seorang ustadz tentu masalahnya lebih luas daripada orang awam yang tidak banyak mengetahui hukum agama. Maka di sini seorang ustadz dituntut untuk menjadi penerjemah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa kasarnya adalah kalau masyarakat tidak mencontoh dari seorang ustadz, lalu darimana mereka meniru? Apa mereka harus meniru para artis yang ternyata pernik-pernik kehidupannya sangat menyedihkan?.

Kesalahan fatal inilah yang banyak memberikan andil besar atas penyimpangan dan tindakan asusila yang semakin luas di masyarakat. Masyarakat lebih senang meniru selebritis daripada ustadz. Sehingga ketika muncul perselisihan sedikit saja, suami istri sudah minta cerai. Begitu mudahnya masyarakat sekarang meminta cerai, karena tokoh yang mereka idolakan kebanyakan juga artis yang doyan gonta- ganti pasangan. Alias sering cerai.

Ini adalah tantangan tersendiri bagi setiap ustadz. Tantangan untuk menyatukan kata dan perbuatan. Dan jangan sampai masuk dalam kategori kelompok yang tersebut dalam Al- Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman. Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Shaff: 2-3)

 

5. Tidak Mendidik dengan Setengah Hati

Mengajar atau ceramah dengan bahasa yang mudah dipahami tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih bila apa yang disampaikan bukan sekedar pengetahuan semata, tapi lebih jauh lagi untuk mewarnai dan merubah perilaku yang kurang baik agar menjadi baik.

Karenanya dibutuhkan seorang ustadz atau guru yang berdedikasi. Yang tidak pelit dan setengah hati dalam memberikan ilmunya. Sebab pada saat itu setidaknya seorang ustadz memperoleh dua keuntungan. Yang pertama apa yang disampaikan itu akan menjadi tabungan amal akhirat, yang akan terus mengalir walau sang ustadz telah meninggal. Dan yang kedua dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain maka pada hakekatnya ilmunya akan terus bertambah. Berbeda dengan harta yang akan berkurang bila dibelanjakan. Untuk itu tidak ada alasan untuk melangkah dengan setengah hati.

Inilah beberapa adab yang seyogyanya diperhatikan oleh para guru, ustadz, dosen atau bahkan profesor, agar apa yang dilakukannya lebih bermakna.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Majelis 2

Inilah adab majlis yang berikutnya, agar keberadaan kita di majlis benar-benar mendatangkan keuntungan dan kebaikan dunia dan akhirat.

 

1. Carilah Tempat yang Kosong

Entahlah, mengapa kebanyakan orang tidak suka duduk di depan ketika menghadiri majlis ta’lim. Mereka lebih suka mencari tempat yang agak jauh dari pembicara. Terkadang satu sama lain, duduknya juga tidak beraturan. Bolong di sana-sini. Di satu sisi sudah banyak diisi orang sementara sisi yang lain masih kosong. Padahal tempat di depan itu lebih memungkinkan untuk bisa menangkap isi pembicaraan dengan baik. Itulah kenyataan yang sering kita saksikan. Apakah itu merupakan suatu bentuk ketidakpercayaan diri? Bisa jadi memang demikian.

Keengganan orang untuk duduk di depan sebenarnya bisa kita temukan di banyak peristiwa. Di dalam kelas, misalnya sangat sedikit orang yang suka duduk di depan. Atau bahkan saat shalat Jum’at. Bisa dipatikan hanya orang-orang tertentu yang suka duduk di baris pertama.

Bila kita mengengok apa yang terjadi pada zaman shahabat, tentu sangat jauh berbeda. Mereka akan memilih tempat yang paling dekat dengan Rasulullah. Sehingga orang yang datang belakangan harus rela duduk di belakang. Bukan seperti kita, yang harus disuruh-suruh untuk mengisi tempat di barisan depan.

Samurah berkata, “Dahulu bila kita datang menemui Rasulullah, maka setiap orang duduk di belakang temannya.” (HR. Abu Dawud) Hadits ini memang tidak menyebut majlis ta’lim secara jelas. Tapi kehadiran shahabat kepada Rasulullah tidak akan jauh dari konteks berkumpulnya orang banyak yang ujung-ujungnya akan mendapat taushiyah dari Rasulullah. Dan dalam kondisi seperti ini mereka duduk dengan rapi. Yang pertama masuk duduk di depan kemudian di sampingnya orang yang datang belakangan dan begitu seterusnya. Bila hal ini kita lakukan saat menghadiri suatu majlis tentu sangat menyenangkan.

 

2. Tidak Duduk di Antara Dua Orang

Lebih tidak sopan bila seseorang duduk di sela- sela dua orang. la seakan menjadi pemisah antara keduanya yang bisa jadi memang ingin duduk saling berdekatan karena pertimbangan tertentu. Tapi kalau memang hal ini tidak lagi bisa dihindari karena tempatnya sudah tidak muat, seyogyanya yang baru datang itu permisi terlebih dahulu. Istilahnya minta kelapangan hati untuk duduk di antara mereka.

Demikianlah salah satu pesan yang disampaikan Rasulullah. “Dan tidak duduk di antara dua orang kecuali atas seizin mereka.” (HR. Abu Dawud)

 

3. Tidak Duduk di Tengah Lingkaran

Selain itu, Rasulullah juga melarang kita untuk duduk di tengah-tengah lingkaran. Dengan duduk sendirian, sementara jamaah yang lain mengeli- linginya. Seakan yang di tengah menjadi poros dari lingkaran itu. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadits hasan riwayat Abu Dawud. Khudzaifah mengatakan bahwa Rasulullah melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halagah. (HR. Abu Dawud)

 

4. Tidak Berisik

Tanpa penjelasan lebih jauh, kita sudah bisa memahami dengan baik bahwa bukan pada tempatnya bila kita membuat kegaduhan di dalam majlis dzikir. Ini bukanlah pasar di mana setiap orang boleh berbicara semaunya, tanpa harus mempedulikan orang di sekelilingnya. Walau sebenarnya itu hanyalah lelucon untuk membuat orang tertawa. Tapi anehnya, kenyataan sering kali berbicara lain. Meski orang sudah memahami hal ini, tapi tetap saja masih banyak yang senang menjadi pembicara tandingan.

Seharusnya kita bisa memilah kapan saat berbicara dan kapan harus diam.

 

5. Tidak Berbicara Kotor atau yang Bertentangan dengan Syar’i

Lebih tidak pantas lagi bila suara berisik para pembicara tandingan itu berkisar pada keburukan orang lain. Bukan mengupas materi yang disampaikan pembicara di depan. Kita harus mengakui bahwa hal ini seringkali terjadi. Setelah diperhatikan lebih jauh, apa sebenarnya yang sedang mereka perbincangkan terkadang kita menjadi tercengang. Karena mereka lebih senang membicarakan kehidupan para selebritis. Yang tentunya bila kita mau jujur, sangat banyak sisi kehidupan mereka yang tidak seyogyanya menjadi bahan pembicaraan masyarakat umum. Itu adalah urusan pribadi mereka.

Dengan demikian tanpa sadar kita telah mencampur aduk antara kebaikan dan keburukan. Dan secara langsung kita telah masuk dalam teguran Allah. “Apabila kamu mendengarkan ayat- ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain”. (QS. An-Nisa’: 140).

Karena itu duduklah dengan manis saat berada di majlis ta’lim, agar kehadiran kita bermanfaat. Bukan sebaliknya menjadi petaka bagi orang lain.

 

6. Mengakhiri Majlis dengan Doa Kafarah

Sebelum majlis ditutup seyogyanya jamaah membaca doa kafaratul majlis. Doa yang diajarkan Rasulullah sebagai penghapus kesalahan yang terjadi di dalam majlis. Karena memang tidak tertutup kemungkinan bahwa di dalam majlis tadi terjadi banyak kesalahan yang tidak disengaja. Dengan membaca, “Subhaanakallahumma wabihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik. (Maha suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan kembali kepada-Mu).” (HR. Tirmidzi)

Secara tegas hadits ini mengatakan bahwa barangsiapa membaca doa kafaratul majlis, maka Allah akan mengampuni kesalahan yang terjadi selama dalam majlis ini.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 18 Th. 2/ 1425 H/ 2004 H

Adab Majelis 1

Majlis dzikir atau majlis ilmu memiliki kedudukan yang tinggi di mata Allah. Sehingga orang-orang yang saat itu sedang bersama dalam suatu majlis untuk belajar ilmu, memperoleh tiga keistimewaan seperti yang terungkap dalam sebuah hadits.

“Tidaklah suatu kaum itu bergabung dalam suatu majlis dzikir, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat Allah pun tercurah kepada mereka dan Allah akan menyebutnya di antara mereka yang ada di sisi-Nya”. (HR. Muslim)

Agar apa yang diharapkan itu dapat terwujud, seyogyanya beberapa adab berikut layak untuk diperhatikan.

 

1. Mengucapkan Salam ketika Masuk atau Keluar dari Majlis

Terlambat hadir dalam suatu majlis memang tidak menyenangkan. Karena kita tidak bisa mengikuti apa yang disampaikan sejak awal, apalagi saat itu bisa dipastikan kita akan menjadi titik perhatian dari orang lain. Biasanya untuk menghindari hal ini seseorang lebih memilih untuk masuk secara perlahan, nyaris tanpa suara yang terdengar.

Artinya kehadirannya yang tanpa suara itu menandakan bahwa dia tidak mengucapkan salam. Memang, salam itu tidak harus dengan suara yang keras sehingga terdengar oleh seluruh jamaah. Tapi cukuplah kiranya bila ada jamaah yang mendengarnya. Hal ini menandakan bahwa salam memang memiliki tempat tersendiri dalam kebersamaan. Bukankah dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Rasulullah mengajarkan suatu perbuatan yang bila dilakukan secara kolektif, maka perdamaian akan menjadi bagian dari keseharian kita. Ajaran itu tak lain adalah saling mengucapkan salam. Maka, ucapkanlah salam ketika masuk ke majlis walaupun anda terlambat, dengan syarat suara anda tidak mengganggu majelis tersebut.

Demikian pula halnya bila seseorang keluaar dari majlis, karena suatu alasan maka seyogyanya dia juga mengucapkan salam. Tidak langsung ngacir begitu saja. Sebagaimana hal ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah.

Abu Hurairah menceritakan bahwa seseorang izin untuk meninggalkan suatu majlis Rasulullah kemudian dia mengucapkan, “Salaamun ‘alaikum” Kemudian Rasulullah berkata, “Sepuluh kebaikan.” Lalu seorang lagi minta izin seraya berkata, “Salamullahi”. Rasulullah berkata, “Dua puluh kebaikan”. Tak lama kemudian ada lagi yang pamit seraya berkata, “Salamullahi wabarakatuh Rasulullah berkata, “Tiga puluh kebaikan”. Kemudian ada seseorang yang pergi tanpa mengucapkan salam. Melihat itu Rasulullah berkata, “Barangkali teman kalian itu telah lupa. Apabila seorang dari kalian datang ke suatu majlis, maka ucapkanlah salam. Jika ia ingin bergabung, maka hendaklah dia duduk dan bila ada yang mau keluar dari majlis, hendaklah dia juga mengucapkan salam.” (HR. Ibnu Hibban)

Karenanya janganlah lupa untuk mengucapkan salam saat masuk atau keluar dari majlis. Salam yang lebih lengkap akan mendapat balasan yang lebih banyak. Jadi, kalau mengucapkan salam juga jangan tanggung-tanggung. Lebih lengkap lebih baik.

 

2. Tidak Malu Bergabung Meski Terlambat

Lebih salah lagi, bila telah terlambat datang. Lalu tidak mau bergabung. Malu, katanya. Ini jelas suatu kesalahan yang fatal, bila rasa malu dijadikan alasan untuk mendapat kebaikan. Sesungguhnya keterlambatan itu bukanlah aib, barangkali karena tempat yang jauh, atau jalan lagi macet. Asalkan tidak disengaja.

Abi Waqid al-Laitsami menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah sedang duduk bersama sejumlah orang di masjid. Tiba-tiba masuklah tiga orang shahabat. Dua orang langsung bergabung bersama Rasulullah sedang yang seorang lagi pergi. Abu Waqid berkata: salah seorang yang bergabung itu menemukan tempat yang kosong, kemudian dia duduk di tempat itu, sedang teman satunya duduk di belakang, sedang orang ketiga, kembali dan tidak jadi bergabung. Setelah selesai majlis itu Rasulullah berkata, “Saya akan menceritakan tentang tiga orang tadi. Orang yang pertama mencari perlindungan Allah, maka Allah pun melindunginya. Orang yang kedua, dia malu kepada Allah, maka Allah pun malu kepadanya, sedangkan orang yang ketiga telah berpaling, maka Allah juga berpaling darinya.”

Hanya saja, janganlah keterlambatan menjadi suatu kebiasaan. Gantilah keterlambatan hari ini menjadi yang pertama kali datang di majlis berikutnya.

 

3. Tidak Menempati Tempat Duduk Orang Lain

Tahu dirilah, bila saat itu datang terlambat. Jangan mentang-mentang karena merasa sebagai orang terhormat kemudian seenaknya saja menempati tempat duduk orang yang saat itu sedang ada urusan sehingga dia keluar sebentar. Lebih parah lagi bila sampai mengusir orang lain dan menempati tempat duduknya. Terimalah, balasan keterlambatan itu dengan mendapat tempat yang kurang memuaskan.

Nafi’ berkata, “Saya mendengar Umar berkata, “Rasulullah melarang seseorang mengusir orang lain dari tempat duduknya kemudian menempatinya.”

Larangan ini tidak hanya saat shalat jum’at saja. Tetapi meluas ke berbagai majlis dzikir lainnya.

Demikianlah seri pertama dari adab majlis dzikir. Semoga keberadaan kita mendapat ketenangan, rahmat dan kebahagiaan karena termasuk orang yang akan disebut Allah di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya.

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425/ 2004 M

Adab Penuntut Ilmu

IImu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan dan tidak bisa dinilai dengan materi. Seberapapun besarnya. Cukuplah kiranya untuk menunjukkan keutamaan ilmu apa yang diwasiatkan Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada anak-anaknya, “Pelajarilah suatu ilmu tertentu. Bila kalian menjadi pemimpin maka kalian akan menjadi pemimpin yang unggul. Dan jika kalian menjadi kalangan menengah, maka kalian akan memimpin mereka. Dan jika kalian menjadi rakyat biasa maka kalian akan bisa bertahan hidup.”

Agar dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat hendaknya kita memperhatikan beberapa adab menutut ilmu berikut ini.

 

1. Ikhlas mengharap ridha Allah

Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan ini, hendaklah berangkat dari satu titik. Titik yang menjadi pusat segala hal. Yaitu mencari ridha Allah semata. Mencari ilmu bukanlah untuk gagah- gagahan atau biar dikatakan sebagai orang yang berilmu. Lebih parah lagi bila menuntut ilmu dijadikan sebagai landasan untuk perdebatan kusir dan berlagak seperti pengamat yang pandai mencari kesalahan orang lain. Sangat naif bila demikian adanya.

Karena itu adalah pangkal keburukan sebagaimana dikatakan Imam Al-Auzai, “Apabila Allah menghendaki keburukan kepada suatu kaum, maka Allah akan menganugerahinya kemampuan berdebat, dan menghalangi mereka dari beramal.”

Celakalah negara yang hanya diisi oleh orang- orang seperti mereka, karena keilmuan yang dipelajari tidak untuk diamalkan. Jadi, agar ilmu bermanfaat harus dimulai dari titik mengharap keridhoan Allah semata.

 

2. Berakhlak Mulia

Para penuntut ilmu adalah kalangan terhormat di hadapan Allah dan di mata masyarakat. Kehormatan yang ada di pundak adalah suatu tanggung jawab besar. Tanggung jawab moral yang harus dijawab. Bukankah Allah menegaskan dalam Al Qur’an bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu. Untuk itu janganlah menyia-nyiakan kemuliaan Allah ini dengan tingkah laku yang bertentangan dengan agama maupun etika.

Banyaknya para pelajar maupun mahasiswa yang menjadi pengedar obat-obat terlarang seharusnya menyadarkan kita, para pelajar, bahwa ada sesuatu yang hilang dari diri kita. Ada sesuatu yang harus dikembalikan. Mengembalikan akhlak yang menjadi simbol kepercayaan masyarakat kepada kita, para penuntut ilmu. Tidak ada pilihan lain, benteng agama harus diperkokoh. Artinya apapun ilmu yang dipelajari harus didahului dan dibarengi dengan pemahaman agama.

 

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar.

Sesungguhnya orang mencari ilmu adalah untuk mengurangi kebodohan dan menambah ilmu sedikit demi sedikit setiap hari. Demikian ungkapan orang bijak. Karenanya sudah wajar bila amanah yang diberikan orangtua itu harus kita emban dengan sebaik-baiknya.

Sangatlah tidak pantas, bila kita keluar dari rumah dengan berpakaian seragam, kemudian kita pergi entah kemana. Yang penting menjauh dari areal sekolah yang seharusnya menjadi tujuan kita. Sangat tidak bermoral bila kita sendiri berani berbohong kepada orangtua. Dalam sisi lain, pelajar dalam bangsa kita antara laki dan perempuan berada dalam satu lokasi yang sama. Satu lokasi yang sering menggoreskan kenangan remaja. Apalagi kalau bukan cinta monyet. Padahal kenyataan berbicara bahwa efek negatif sangat jauh lebih besar. Memang, semangat untuk datang ke sekolah bertambah tetapi semangat untuk belajar akan mengendor. Akibatnya pelajaran menjadi nomor yang kesekian, yang mengisi otaknya dari hari ke hari hanyalah si dia.

Karena itu perlu ditanam kuat-kuat bahwa masa depan kita tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini.

Orang bijak mengatakan bahwa seandainya kita memberikan seluruh jiwa raga untuk ilmu, maka ilmu itu hanya memberikan sebagiannya untuk kita. Itu kalau kita bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Bagaimana kalau kita tidak bersungguh-sungguh, barangkali hanya penyesalan yang kita dapatkan. Mengapa dulu waktu masih kuliah, saya banyak bermain? Mengapa dulu hanya berpacaran? Penyesalan yang tiada berguna. Karena sang waktu tidak akan bisa ditarik mundur. Walau satu kedipan mata.

 

4. Mendahulukan Ilmu Agama

Satu hal yang pasti, bahwa otak manusia itu terbatas. la tidak mungkin mampu mendalami semua ilmu yang ada. karena itu dibutuhkan suatu kearifan dalam diri kita untuk secara jujur melihat potensi apakah yang kita miliki. Keilmuan apakah yang harus kita perdalam. Bila jawabannya mengarah pada ilmu umum. Dan kita tidak memiliki kemampuan untuk mempelajari ilmu agama. Maka di sini kita harus mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan ilmu agama sama sekali. Artinya ada pengetahuan-pengetahuan agama yang wajib kita ketahui dan tidak boleh dabaikan. Misalnya bagaimana melaksanakan shalat, bagaimana berpuasa. yang sesuai dengan perintah Rasulullah dan seterusnya.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits bahwa keutamaan ilmu (agama) itu lebih baik dari keutamaan ibadah. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa orang yang beribadah tanpa didasari ilmu, maka bisa jadi ia beribadah dengan cara yang salah.

 

5. Tetap Mencari Ilmu walau rambut beruban.

Menuntut ilmu tidak menjadi hak monopoli anak muda semata. Apalagi ilmu yang bekaitan dengan akhirat. Siapapun kita, tentu sangat membutuhkan ilmu agama. Janganlah karena rambut telah memutih menjadi alasan untuk mundur dari pencarian ilmu. Janganlah rasa malu atau gengsi menjadi penghambat dalam mencari ilmu agama. Itu sangat tidak pantas.

Seorang ulama berkata, “Barangsiapa malu menuntut ilmu karena umurnya sudah tua, maka dia telah terpedaya oleh kebodohan, dan kemalasan. Karena bila malu itu memiliki keutamaan maka menuntut ilmu dikala tua adalah suatu kemuliaan. Menjadi orang tua yang menuntut ilmu lebih baik dari orang tua yang bodoh.”

Sungguh bijak ungkapan ini. Tapi jauh lebih bijak bila kita akhiri hidup dalam keadaan menuntut ilmu. Ya, pencarian ilmu sepanjang hayat.

 

6. Menghormati Guru

Hanya ada dua orang di dunia ini yang rela dikalahkan oleh orang lain. Mereka adalah orangtua dan guru. Orangtua rela melakukan segalanya untuk anaknya, maka sudah sewajarnya bila dia juga rela dikalahkan oleh anaknya dalam berbagai hal. Bahkan kelebihan dan keunggulan anaknya itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri.

Demikian pula halnya dengan seorang guru. Dia sangat berbahagia melihat keberhasilan muridnya melebihi dirinya. Karena itu sudah sewajarnya bila kita menghormati guru sebagaimana menghormati orangtua. Agar apa yang kita pelajari membawa berkah dan tidak membawa bencana.

Demikian adab menuntut ilmu, semoga bisa menuntun kita menjadi seorang penuntut ilmu yang baik.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 15 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Berdoa 4

Kondisi Ketika Doa Mudah Dikabulkan

Rahmat Allah kepada hamba-Nya itu tidak mengenal batas. Bahkan dalam masalah doa sekalipun. Allah memberikan kemudahan kepada siapa saja, yang mau berdoa untuk memilih waktu dan keadaan tertentu yang lebih memungkinkan terkabulnya doa.

Karena itu, memanfaatkan kemudahan Allah ini merupakan salah satu solusi, agar doa tidak lagi mengambang dan cepat dikabulkan.

 

1. Doa Orang yang Berpuasa.

Ramadhan telah berlalu, sejak tiga bulan yang lalu. Meski kenangan di bulan itu tetap tidak terlupakan. Saat dimana kita selalu berdoa, dalam setiap kesempatan yang ada. Seakan seluruh waktunya adalah untuk berdoa. Tidak peduli siang atau malam. Saat istirahat kerja di kantor, atau sedang terpekur di masjid.

Ramadhan boleh berlalu, karena ia adalah bagian waktu yang selalu berputar. Takkan ada yang bisa menghentikannya. Tapi satu hal yang tidak boleh berlalu yaitu doa.

Ya, kehadiran nuansa Ramadhan itu, masih bisa dirasakan dalam keseharian kita. Dengan berpuasa, tentunya. Dalam beberapa hadits Rasulullah menganjurkan umatnya untuk banyak berpuasa sunah. Sehingga nuansa Ramadhan, bulan penuh rahmah itu, tetap terpelihara. Kesempatan untuk banyak berdoa juga tetap ada. Karena itu, mengapa kita jarang melaksanakan puasa sunah. Puasa Senin Kamis, misalnya. Padahal saat orang sedang berpuasa adalah saat terkabulnya doa. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda, “Ada tiga doa yang terkabul: Doa orang yang berpuasa, doa orang yang teraniaya dan doa seorang musafir.” (HR. Uqaili dan Baihaqi).

Lebih khusus lagi saat menjelang buka puasa tiba. Saat itu adalah detik yang mahal. Untuk itulah shahabat Anas bin Malik mempunyai kebiasaan baik. Setiap menjelang buka puasa dia mengumpulkan anak dan cucunya di ruang makan. Menjelang berbuka itu Anas berdoa dan diaminkan bersama.

Karena itu, sudah seharusnya kita berusaha untuk mengikuti sunah Rasul inl. Agar apa yang kita rasakan di bulan Ramadhan itu senantiasa terjaga kapan saja.

 

2. Doa Orang yang dalam Keadaan Sulit.

Dalam kehidupan ini setiap orang pasti memiliki masalah. Yang hampir setiap saat datang silih berganti. Tapi di sinilah justru terletak romantika kehidupan itu. Kita sering mendengar orang bijak mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Berjuang menyelesaikan sekian banyak kesulitan. Karena di balik masalah itu terletak kebahagiaan.

Demikianlah seharusnya seorang muslim bersikap. Sehingga dalam sebuah hadits Rasulullah tidak menyembunyikan rasa takjubnya terhadap kepribadian seorang mukmin. Seorang mukmin yang bersyukur bila memperoleh kebaikan dan bersabar bila menghadapi kesulitan. Keyakinan semacam ini, memang tidak bisa datang secara tiba-tiba. Tapi harus dipupuk sejak dini bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba-Nya melebihi kemampuannya. Artinya, semua kesulitan yang dihadapi setiap orang sebenarnya masih dalam batas kemampuannya.

Keyakinan bahwa Allah tidak membebani hamba sesuai kemampuannya akan mengantarkan kita pada keridhoan dan pengakuan atas kelemahan kita di hadapan kekuatan Allah, serta kepasrahan yang tinggi. Dalam kondisi semacam inilah, hamba sangat dekat dengan Allah. Dan doa sangat cepat dikabulkan. “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apa- bila ia berdoa kepada-Nya…” (QS. an-Naml: 62)

Bila demikian mengapa harus bermuram durja, saat mengalami kesulitan? Mengapa pula memperbanyak keluh kesah saja. Perbanyaklah doa.

 

3. Doa Orang yang Teraniaya

Jangan coba-coba bersikap sok kuasa dan mau menang sendiri. Saat kekuasaan masih ada di tangan. Dengan berlaku sewenang-wenang dan melupakan pengadilan Tuhan. Orang boleh saja takut. Karena saat ini, pengadilan dunia belum mampu menjamah kedzaliman anda. Tapi ingat! pengadilan Allah pasti akan tiba.

Dalam sisi lain, doa orang yang teraniaya itu lebih menakutkan. Karena Allah telah berjanji untuk mengabulkannya. Allah tidak perduli apakah yang teraniaya itu orang muslim atau kafir. Semuanya sama saja. Sebagaimana diriwayatkan imam Ahmad bahwa Rasulullah memperingatkan umatnya, “Takutlah kalian kepada doa orang yang teraniaya, meskipun dia itu orang kafir. Karena doa orang yang teraniaya itu tidak ada pembatasnya (yang menghalangi terkabulnya doa).” (HR. Ahmad).

Jika batas antara orang yang teraniaya dan Allah telah diangkat, maka doa mereka pasti terkabul. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasulullah, “Takutlah pada doa orang yang teraniaya, Karena doanya itu naik hingga melewati mega putih. Allah berfirman. “Demi kemuliaan dan keagungan- Ku, niscaya Aku akan menolongmu sampai kapan saja” (HR. Thabrani)

 

4. Berdoa ketika bertemu musuh

Peperangan antara yang hak dan batil adalah sunatullah yang akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Saat ini saja, dunia tidak pernah sepi dari berita peperangan. Dimana saja. Tidak perlu jauh- jauh menengok ke dunia luar. Di wilayah negaral kita sendiri masih sering diwarnai berbagai macam peperangan itu.

Bila perjuangan mempertahankan yang hak itu suatu keharusan, maka kita juga tidak perlu mundur dan melarikan diri. Karena lari dari medan pertempuran itu dosa, menjadi pengecut. Seharusnya dalam kesempatan semacam ini kita manfaatkan untuk berdoa semoga Allah memenangkan yang hak dan menghancurkan yang batil.

Rasulullah bersabda, “Mintalah terkabulnya doa saat tentara saling berhadapan, saat iqamat shalat dan turunnya hujan.” (HR. Baihaqi)

Dalam suatu peperangan Rasulullah berdoa, “Ya Allah, yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an), yang mengatur arus angin, dan yang memporak-porandakan musuh, hancurkan mereka dan tolonglah kami menghadapi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Musuh memang tidak perlu dicari, tapi bila datang tidak perlu lari. Siapa takut, mungkin ungkapan yang tepat.

 

5. Doa Orangtua kepada Anaknya.

Bila kita ingin sukses mewujudkan apa yang kita inginkan, jangan lupa untuk meminta restu dan doa dari kedua orangtua. Apapun keinginan kita, asalkan itu suatu hal yang positif.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ridha Allah terletak di atas ridha kedua orangtua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua. Secara lebih tegas Rasulullah menya-takan dalam sebuah hadits, “Ada tiga doa yang tidak diragukan lagi keterkabulannya, Doa orang teraniaya, doa seorang musafir dan doa orangtua kepada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).

Kalau ada rencana kita yang tersandung- sandung, atau usaha kita yang tak kunjung hasil, datanglah kembali orangtua untuk meminta keridhoan dan doa beliau berdua.

Inilah bagian keempat dari adab berdoa. Semoga tulisan ini bisa menjelaskan pertanyaan yang sering menggantung mengapa doa kita seakan sulit terkabul. Semoga dari. poin-poin yang adal bisa menjadi bagian dari jawabannya.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 14 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Berdoa 3

Jangan Lewatkan Saat-saat ini

Rahmat Allah kepada hamba-Nya itu tidak mengenal batas. Bahkan dalam masalah doa sekalipun. Allah memberikan kemudahan kepada siapa saja, yang mau berdoa untuk memilih waktu dan keadaan tertentu. Waktu Yang lebih memungkinkan terkabulnya doa. Karena itu, memanfaatkan kemudahan Allah ini merupakan salah satu solusi, agar doa tidak lagi mengambang dan cepat dikabulkan.

 

1. Ketika Sujud

Saat bersujud adalah waktu yang paling baik untuk memperbanyak doa. Ya, saat itu kepala yang menjadi simbul mahkota dan tidak sembarangan dipegang orang itu harus tunduk dan menyatu dengan lantai. Kepala itu sejajar dengan kaki dan mencium tanah. Tanah yang biasa menjadi pijakan kaki. Siapapun pemilik kaki itu.

Inilah bentuk penyerahan total seorang hamba kepada Ilahi Rabbi. Kepatuhan yang mengesampingkan kesombongan. Membuang jauh segala bentuk keangkuhan. Bila sudah demikian, tentu Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal. Allah berjanji untuk mengabulkan permintaan siapa saja yang dengan ikhlas mau bersujud kepada-Nya.

Saat itulah Allah menjadi dekat dengan hamba- Nya. Demikianlah berita yang disampaikan Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah itu sangat dekat dengan hamba-Nya saat ia sujud dalam shalat. Karenanya perbanyaklah doa di dalamnya.” (HR. Muslim)

Karenanya tidak wajar bila terbetik kemarahan dalam hati saat imam sujud terlalu lama. Atau kita sendiri berdoa dengan secepat kilat. Tanpa ada penghayatan. Tanpa ada usaha untuk belama- lama berada di dekat Allah. Apakah kemarahan itu disebabkan oleh ketidaktahuan kita akan bagaimana seharusnya berdoa? ataukah memang ada syetan yang menggoda hati? hanya kita masing-masing yang tahu jawabannya.

Karena itu, janganlah marah atau enggan berdoa agak lama ketika sujud. Sebagaimana dianjurkan Rasulullah, “… Dan ketika kalian dalam sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa. Karena saat itu adalah saat- saat terkabulnya doa.” (HR. Muslim)

Bukan berarti kita bebas membaca apa saja ketika sujud ini. Ada rambu-rambu y yang harus dipatuhi di antaranya adalah tidak membaca ayat Al-Qur’an atau berdoa dengan bahasa Indonesia. Sebaliknya pilihlah beberapa doa yang telah diajarkan Rasulullah.

 

2. Saat Bepergian

Mungkin kita pernah bepergian jauh mengarungi lautan. Bermain dengan ganasnya ombak yang menggulung. Sementara awan tebal menaungi kita. Dunia seakan menjadi gelap. Dan dari balik kegelapan itu sesekali kilatan petir yang menyambar-nyambar menjadi pelita yang menakutkan. Hati semakin ciut. Dan, nyali pun hilang entah kemana. Terlebih bila kilatan petir itu menyisakan suara yang menggelegar. Nyawa terasa mau lepas.

Memang tidak semua orang pernah merasakan ganasnya lautan. Tapi setidaknya ia pernah mendengarnya. Dalam kondisi demikian, bisa dipastikan bahwa setiap penumpang kapal itu penuh harap cemas. Dengan berlinang air mata dan tanpa sengaja tangannya menengadah ke langit. Berdoa kepada Allah agar diselamatkan dalam perjalanan. Saat seperti ini, wajar kalau kita ingat kepada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa.

Tapi bila kita bepergian dalam suasana yang menyenangkan. Langit cerah, cuaca pun bersahabat dengan semilir angin yang sesekali menerpa wajah. Dan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seakan bayangan akan kematian itu jauh dari mata. Seakan kita tidak butuh pada Dzat Yang Maha Mengabulkan doa. Padahal, sesungguhnya saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk melantunkan doa. Doa apa saja. Terserah kita. Karena kenyataannya kita memang makhluk yang membutuh pertolongan.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada tiga doa yang pasti terkabul. Doa orang yang terdhalimi, doa seorang musafir dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi)

 

3. Saat Orang yang Didoakan tidak Bersamanya.

“Jauh di mata namun dekat di hati,” sebuah pepatah yang sering kita dengar. Pepatah yang menggambarkan seseorang yang tinggal jauh dari kita tetapi selalu ada dalam hati ini. Pada saat- saat seperti ini biasanya tergoreskan garis-garis kerinduan. Dan pada waktu seperti ini, doa it cepat dikabulkan.

Dalam kesendirian kita mengapa kita tidak berdoa untuk orang lain. Bukankah ada keluarga kita yang jauh di seberang sana. Ada orangtua, misalnya. Yang dengan penuh keikhlasan merawat kita sejak kecil, sementara keadaan harus memisahkan kita dengan mereka. Haruskah jasa-jasa mereka yang tidak akan pernah terbalas dengan apapun itu hilang tak berbekas. Dan tidak ada lagi ingatan kita untuk mereka. Jangan sampai itu terjadi.

Atau barangkali saat ini ada teman kita yang sedang sakit. la terbaring lemah. Seorang teman yang membutuhkan bantuan. Kalau toh tidak ada uang yang bisa kita berikan. Mengapa tidak kita panjatkan doa, dengan penuh keikhlasan. Doa yang insya Allah akan dikabulkan-Nya.

Dalam sebuah hadits riwayat Umi Kurzin disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Doa seseorang kepada temannya tanpa diketahui oleh yang didoakan itu mustajab. Ada seorang malaikat yang berada dikepalanya seraya berkata: Amiin, dan semoga engkau juga mendapatkan seperti apa yang kamu doakan.” (Kitab Ghoilaniat).

Subhanallah. Malaikat pun mengaminkan doa dan kita yang berdoa mendapatkan hasil dari doa itu. Bila demikian, mengapa ada rasa pelit untuk mendoakan mereka yang kini sedang tidak bersama kita.

 

4. Saat Turun Hujan

Orang tua sering kali marah ketika melihat anaknya bermain di luar saat turun hujan. Kemarahan yang wajar. Karena mereka khawatir anaknya akan demam dan terserang flu, kita tidak perlu kecewa, karena itu bukti kasih sayang mereka.

Terlepas dari itu semua, Rasulullah mempunyai kebiasaan yang berbeda saat hujan. Seperti yang diriwayatkan oleh Hakim dan Nasai dalam Sunan Kubro, bahwa ketika hujan turun, Nabi keluar dan membuka bajunya agar terkena guyuran hujan. Para shahabat bertanya mengapa beliau melakukan itu, beliau menjawab, “Karena dia baru saja dari Tuhannya.”

Karena itu, saat pergi kemanapun. Lalu tetesan-tetesan air hujan membasahi rambut dan baju kita, kita seharusnya berbahagia. Karena ada kesempatan untuk berdoa dan meminta apa saja, kepada Dzat yang telah menurunkan hujan. Boleh saja kita melipat tangan dan berteduh di bawah emperan bangunan yang ada, atau di bawah pepohonan. Tapi satu hal yang pasti jangan lewatkan kesempatan ini untuk berdoa. Karena inilah kesempatan emas itu.

Dalam sebuah hadits Sahal bin Saad meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Ada dua doa yang tidak akan tertolak. Doa saat (setelah) adzan dan doa saat turun hujan.” (HR. Abu Dawud dan Hakim).

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 13 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Adab Berdoa 2

Adab Berdoa 1

MEMILIH WAKTU-WAKTU YANG MUSTAJAB

Inilah karunia Allah yang harus disyukuri. Ketika Allah telah menentukan waktu-waktu tertentu sebagai bagian dari terkabulnya doa. Yang harus kita lakukan adalah memanfaatkannya dan tidak membiarkannya lewat begitu saja. Karena setiap kita ingin setiap detak doanya didengar dan dikabulkan.

Namun, bukan berarti berdoa pada selain dari waktu mustajab ini tidak akan terkabul. Karena semuanya itu masih dalam hak Allah. Semuanya masih dalam doa yang pasti akan memperoleh perhatian tersendiri. Tetapi keistimewaan waktu- waktu tertentu ini adalah mempercepat dikabulkannya doa. Berikut waktu-waktu mustajab itu:

 

1. Doa antara Adzan dan Iqamat

Saat suara adzan bergema adalah saatnya berdiam diri. Mendengarkan dengan seksama dan menjawab suara adzan itu. Bukan seperti yang sering kita saksikan atau mungkin kita sendiri yang melakukannya. Saat adzan terdengar kita masih saja asyik bercanda atau meneruskan pembicaraan yang terlanjur menarik. Seakan menjawab adzan itu adalah urusan kecil. Dan tidak perlu diperdulikan. Syetan saja lari bila mendengar suara adzan, tapi mengapa kita sendiri kemudian yang menjadi syetan yang tidak takut pada suara adzan. Bahkan mentertawakannya.

Jangan berharap bisa memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamat untuk berdoa. Bila saat adzan kita tidak menghiraukannya, ini berarti hilangnya kesempatan kebaikan yang banyak. Dan berlalulah kesempatan itu. Mungkin yang perlu kita lakukan adalah memahami bahwa setiap perkataan ada tempatnya. Dengarkan dan jawab adzan dengan baik. Kemudian lanjutkan dengan berdoa sesuai kebutuhan. Ingat bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Doa antara adzan dan iqamat itu mustajab. Karena itu berdoalah.” (HR Abu Ya’la dan Hakim)

 

2. Doa di Sepertiga Malam Terakhir

Hening. Tenang. Damai. Akan terasa kuat saat malam tinggal menyisakan sepertiganya. Ketika orang-orang banyak terlelap dalam bualan tidur. Kecuali segelintir orang yang tahu akan kekuatan sepertiga malam ini. Itulah generasi didikan Rasulullah, generasi sahabat. Mereka mengetahui rahasia kekuatan sepertiga malam terakhir ini. Sehingga mereka memanfaatkannya dengan baik. Bermunajat di hadapan Allah. Setelah seharian bergelimang dengan dosa. Mereka sadar bahwa inilah saat untuk bertemu dan berkeluh kesah menyampaikan berbagai macam permasalahan langsung kepada Allah.

Lalu, mengapa kita, generasi yang jelas lebih banyak dosanya dari mereka. Justru jarang memanfaatkan waktu ini. Justru banyak mendengkur dalam selimut. Atau mengapa juga banyak di antara kita yang memanfaatkannya untuk bermaksiat. Asyik berjoget ria di keremangan lampu diskotik atau yang sejenisnya.

Padahal di sepertiga malam terakhir itu, Allah turun ke langit dunia. Allah “menantang” siapa saja. Adakah yang mau berdoa? Adakah yang meminta? Adakah yang memohon ampunan? Allah sudah memanggil dan membuka kesempatan untuk kita, tapi mengapa kita masih enggan menjawab tawaran-Nya.

Rasulullah bersabda, “Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika malam tinggal sepertiganya. Kemudian Allah berkata, “Barangsiapa berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya? siapa yang memohon ampunan-Ku, Aku akan mengampuninya.” (HR Bukhari dan Muslim)

 

3. Doa pada Hari Arafah

Bulan Dzulhijjah yang ditunggu umat Islam sedunia telah tiba. Menghadirkan nuansa reliji yang demikian tinggi, terutama bagi mereka yang memperoleh panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji. Sementara bagi yang belum mampu, tidak perlu berkecil hati. Terus saja berdoa semoga Allah memudahkannya kelak kemudian hari. Tapi setidaknya kita bisa memanfaatkan satu hari di bulan Arafah untuk banyak berdoa. Karena itu adalah hari terbaik untuk berdoa. Hari Arafah. Biarlah mereka berdoa di Arafah, sedang kita, silakan berdoa dimana saja pada hari mustajab itu. Asal tidak membiarkannya berlalu tanpa doa hingga harus menunggu satu tahun berikutnya.

Amr bin Syuaib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah berkata, “Sebaik-baik doa adalah berdoa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik doa saya dan para nabi lainnya adalah tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan dan segala puji. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Tirmidzi).

 

4. Doa pada Hari Jumat

Ulama sepakat bahwa hari Jumat adalah hari terbaik di antara enam hari lainnya. Namun, tidak berarti hal ini memberikan pengertian bahwa enam hari lainnya itu ada yang buruk. Karena pada hakekatnya semua hari itu baik. Hanya saja Allah memberikan kelebihan tersendiri pada hari Jumat. Tentu,ini berdasarkan hadits riwayat imam Ahmad.

Abu Lubabah bin Abdul Mundzir meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hari Jumat adalah pemimpin hari-hari lainnya. Dan paling mulia dibanding hari lainnya di sisi Allah. Bahkan hari Jumat itu lebih mulia dari hari raya idul fitri dan idul adha. Hari Jumat memiliki lima keistimewaan. (pertama) Allah menciptakan nabi Adam pada hari Jumat. (kedua) Allah menurunkan nabi Adam (dari syurga) ke bumi. (ketiga) pada hari Jumat pula Allah mencabut nyawa nabi Adam. (keempat) pada hari Jumat ada satu waktu yang tidak seorang hamba pun yang meminta sesuatu kepada Allah, kecuali Allah akan mengabulkannya selama permintaan itu bukan yang haram. (kelima) dan hari kiamat akan terjadi pada hari Jumat. Dan tidak seorang malaikat muqarrabin pun, tidak pula langit, bumi, angin, gunung, dan laut melainkan mereka merindukan hari Jumat serta berharap datangnya kiamat pada hari Jumat.” (HR. Ahmad).

Tidak seorang ulama pun yang meragukan kemuliaan hari Jumat. Mereka hanya berbeda dalam hal penentuan rentang waktu mana yang mustajab itu. Yang jelas dua puluh empat jam itu tidak semuanya waktu mustajab. Ada yang berpendapat waktu mustajab itu adalah saat imam duduk untuk shalat hingga selesai shalat. Ada juga yang berpendapat setelah shalat ashar dan sebelum maghrib. Hal ini berdasarkan hadits, “Carilah wak tu yang mustajab pada hari Jumat, yaitu sesudah ashar hingga terbenamnya matahari.” (HR. Ahmad)

Sekali lagi. Pandai-pandailah memilih waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginan. Jangan hanya bisa menyalahkan diri bila doa itu tidak terkabul, apalagi berburuk sangka kepada Allah. Barangkali kesalahannya itu ada pada diri kita, karena kurang memahami adab berdoa dengan baik.

 

 

Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M

HUBUNGI ADMIN