Saatnya Berbenah

Jibril datang dan berkata pada Rasulullah, “Malam ini kau jangan tidur di tempat biasanya kau tidur”. Malam itu Quraisy telah mengintai Rasulullah agar dapat mereka bantai. Dan Rasulullah berkata pada Ali, ‘Ali, kau tidur di tempatku dan pakai selimutku yg hijau…” Dan memang kebiasaan Rasulullah tidur dengan selimut hijau. Setelah menyiapkan taktik pengelabuan itu, Rasulullah kemudian meninggalkan rumah di waktu malam. Quraisy yang menyangka bahwa Ali adalah Rasulullah, terkecoh. Ditambah lagi kekuasaan Allah membuat Quraisy tidak dapat menahan rasa kantuk mereka sehingga Rasulullah lepas dari intaian. Namun, seseorang memergoki kepergian Rasulullah dari rumahnya dan kemudian memberitahukan pada para pengintai, bahwa buruannya sudah lepas. Kemudian Rasulullah pergi ke rumah Abu Bakar. Tidak seperti biasanya, Rasulullah tidak pergi di pagi atau sore hari, melainkan siang hari. Siang hari di Mekah adalah saat tidur siang, sehingga suasana jalanan amat sepi. Kemudian keduanya keluar dari rumah Abu Bakar lewat pintu belakang. Seperti sudah diduga sebelumnya, rumah Abu Bakar pun tak lepas dari intaian. Dan ketika kaum musyrikin Quraisy mendobrak rumah Abu Bakar, mereka terkecoh untuk kedua kalinya.

Kehiar dari Mekah, Rasulullah  dan Abu Bakar tidak langsung berjalan ke arah Madinah di Utara (Madinah berada di Utara Mekah). Tapi mereka bergerak memutar dulu ke selatan Mekah, menuju Gua Tsur, melalui jalan jalan badui yang tidak biasa dipakai orang. Nabi berjalan sepanjang 5 mil melalui jalan tanjakan dan bukit terjal yang penuh dengan batu-batu tajam, hingga kaki beliau dan Abu Bakar terluka. Seandainya rute hijrah langsung ke arah Madinah, maka Rasulullah sudah pasti akan disambut dengan hujan panah dan tombak dari pasukan yang sudah menutup semua rute-rute yang biasa dipakai menuju Medinah.

Setelah memutuskan untuk tinggal di Gua Tsur, Rasulullah meminta Asma’ (putri Abu Bakar) membawa ransum dan logistik di waktu malam. Ini bukan pekerjaan mudah, mengingat kondisi Asma pada saat itu yang tengah hamil tua, sedang dia harus naik turun gunung dan menempuh rute yg sulit dilalui pria muda sekali pun. Tidak hanya jalur logistik yang sudah disiapkan, Nabi pun menugaskan Abdullah bin Abu Bakar sebagai informan bagi perjalanan hijrah. Abdullah bertugas memata-matai musuh dan mengamati seluruh rencana dan pergerakan Quraisy. Dengan demikian Rasulullah memperoleh data yang akurat mengenai rencana musuh sehingga dapat selalu mengevaluasi kondisi dan memutuskan tindakan berikutnya. Dan terakhir, jejak perjalanan Asma’ dan Abdullah tidak pernah terdeteksi oleh Quraisy. Ini disebabkan Abu Bakar meminta bekas budaknya, Amr ibn Fuhairah untuk menggembalakan kambingnya disiang hari, kemudian di waktu sore membawanya pada Nabi di Gua Tsur untuk diambil susunya. Dengan demikian, bekas perjalanan Asma’ dan Abdullah di waktu malam dan pagi hari, terhapus dengan jejak penggembalaan di waktu- siang dan sore hari. Begitulah kisah perjuangan Rasulullah menyambut perintah Allah untuk berhijrah. Dengan startegi yang sangat jitu, akhirnya Rasulullah tiba di Madinah dengan selamat. Untuk kemudian membangun peradaban Islam di sana.

Secara etimologi, hijrah berasal dari kata haajara yang artinya Berpindah atau berpaling. Keduanya mempunyai makna semangat berpindah dari yang jelek kepada yang baik. Selain itu, makna lainnya adalah berpaling dari datangnya murka Allah  kepada sesuatu yang diridhai Allah. Selanjutnya hijrah diberi makna etis-religius yang lebih universal dan bernilai kesejatian, yaitu meninggalkan tuntutan-tuntutan duniawi menuju kesalihan, kesucian, dan kemuliaan yang lebih tinggi dan sejati atau melakukan transformasi spritualitas dan segala yang bersifat maknawiyah. Untuk itu kaum muslimin memandang proses perubahan dan transformasi (taghyur dan tahawwul) dari keadaannya yang asal, baik secara rohani maupun secara fisik, sebagai unsur terpenting dalam hijrah.

Hijrah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, sesungguhnya bukanlah semata- mata berpindah tempat dari Makkah ke Madinah, akan tetapi esensinya adalah meninggalkan berbagai perilaku buruk yang dilarang oleh Allah . Mereka berhijrah dari penyembahan kepada mahluk menuju penyembahan hanya kepada Al Kholik, Allah pencipta alam semesta. Mereka berhijrah dari syirik kepada tauhid, dari pelecehan dan merendahkan kaum wanita kepada penghormatan dan pengangkatan derajatnya, dari egoisme kelompok dan kesukuan kepada pluralitas dan universalitas nilai-nilai kemanusiaan yang saling mencintai dan menghormati. Allah berfirman dalam QS AI Hujurat ayat 13: “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”

Beberapa hari yang lalu, kita telah meninggalkan tahun 1426 H. untuk kemudian memasuki tahun 1427 H. Meskipun pergantian tahun adalah peristiwa yang biasa dan akan terus berlangsung sepanjang berlangsungnya kehidupan manusia di muka bumi ini. Orang- orang yang beriman diperintahkan untuk senantiasa memperhatikan berbagai peristiwa dan kejadian yang sudah terjadi pada masa yang lalu, untuk kemudian dijadikan ibroh (pelajaran) bagi perbaikan dan peningkatan kualitas kehidupan pada tahun dan masa yang akan datang. Setiap memasuki tahun baru Islam tersebut, hendaknya kita memiliki semangat baru dalam merancang dan melaksanakan hidup yang lebih baik lagi. Seharusnya Kita juga bisa menggali hikmah di balik peristiwa hijrah yang menjadi momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah ini.

Peristiwa bersejarah ini, sudah seharusnya menyadarkan kita untuk bermuhasabah (introspeksi). Apa yang sudah kita kerjakan, padahal umur semakin hari semakin berkurang. Tahun baru kali ini, menjadi sarana untuk peningkatan semua aspek, terutama hablum minannaas dan hablum minallaah. Waktunya kita bangun bersama-sama, tidak ada saling mencela apalagi saling caci. Musibah yang selama ini kita hadapi, mengingatkan akan dosa yang selama ini telah kita lakukan. Sudah saatnya umat Islam menjadikan peristiwa Hijrah Rasulullah tahun ini, sebagai momentum untuk berbenah diri. Kalau tidak dari sekarang, kapan lagi kita akan memulainya?
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Dari Pecinta Hiburan dan Wanita Menjadi Pahlawan Sejati

Pemuda gagah ini tumbuh di tengah keluarga yang terpandang. Hidupnya dipenuhi gelimang harta. Hampir segala sesuatu yang diinginkannya dapat terpenuhi. Wajahnya tampan tubuhnya bersih di samping mempunyai pikiran yang cerdas dan dinamis. Dialah Nuaim bin Mas’ud sosok pemuda kaya, gagah, dan digandrungi banyak wanita.

Namun di sisi lain, Nuaim juga senang hiburan dan berfoya-foya. Waktu dan hartanya banyak dihabiskan untuk bersenang-senang, mendengarkan musik dan nyanyian. Walau dia termasuk penduduk Najed tetapi kelihaiannya dalam mencari tempat-tempat hiburan di Yatsrib melebihi kemampuan kaum Yahudi Yatsrib sendiri. Jika dia rindu alunan suara biduan menyanyi dan alunan musik gambus dia tidak segan-segan melakukan perjalanan yang jauh dan menghabiskan banyak biaya. Yang penting baginya keinginannya bisa terwujud.

Ketika cahaya keislaman mulai memancar dari kota Makkah dan berusaha membawa peradaban baru Nuaim justru sedang bergelimang dengan pelampiasan hawa nafsu. Kedekatannya dengan para pembesar Yahudi dan musyrikin membuatnya enggan menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Sampai suatu saat yahudi dan kaum musyrikin berniat menghancurkan Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya yang kala itu berada di Madinah. Nu’aim pun menyatakan diri bergabung dengan pasukan yang hendak menyerang kaum muslimin.

Perang yang akan terjadi pada saat itu dalam sejarah dikenal dengan nama Perang Ahzab (sekutu) karena yang akan menyerang kaum muslimin adalah gabungan dari kelompok Yahudi Bani Nadhir di Yatsrib yang merayu kaum Ghathafan di Nejed dan membujuk Bani Quraizhah yang berdiam di Madinah.

Awalnya Bani Quraizhah menolak ikut bergabung dengan alasan mereka terikat janji dengan kaum muslimin untuk hidup damai dan tidak saling memerangi yang masih selalu terjaga. Bani Quraizhah juga khawatir apabila ternyata pasukan Muhammad yang menang maka mereka akan menghabisi bani Quiraizhah yang dianggap melanggar perjanjian. Namun para pemimpin Bani Nadhir meyakinkan Bani Quraizhah bahwa kali ini Muhammad pasti kalah. Akhirnya Bani Quarzhah terpengaruh dan menyatakan ikut bergabung.

Sementara itu di pihak kaum muslimin berita tentang bergabungnya beberapa kaum untuk menyerang mereka cukup mengejutkan mereka Nabi Muhammad saw mengumpulkan pasukannya untuk berunding tentang strategi yang akan diterapkan. Salman Al-Farisi seorang sahabat mengusulkan pembuatan Khandaq (parit) di sekeliling kota Madinah sebagai basis pertahanan. Usul ini pun disepakati sehingga perang ini dikenal juga dengan nama perang Khandaq. Di samping itu Rasulullah sangat khusyuk dalam doanya memohon kepada Allah agar menurunkan pertolongannya.

 

Nuaim Seorang Diri, Penentu Kemenangan

Malam itu Nuaim bin Mas’ud merasa gelisah. la berjalan mondar-mandir di biliknya. la sedang memikirkan peperangan yang akan berkecamuk tidak lama lagi. Hati kecilnya senantiasa mengusik ketenangannya. Apa tujuan peperangan ini? Kenapa orang yang membawa cahaya kebenaran dan memperjuangkan keadilan malah ingin dihancurkan? Dengan cara inilah Allah menurunkan hidayah-Nya.

Dalam kegelapan malam Nuaim mengendap endap meninggalkan kemahnya menemu Rasulullah. Ketika bertemu dengan beliau, Nuaim menyatakan keinginannya untuk memeluk agama Islam. Rasulullah pun menerimanya dengan lapang dada. Selanjutnya Nuaim meminta tugas yang bisa dilakukannya untuk membantu umat Islam. Rasulullah meminta Nuaim kembali ke kaumnya dan berusaha menakut-nakuti mereka supaya mereka lemah. Rasulullah bersabda, “Perang itu adalah tipu daya.” Dengan sigap Nuaim menyanggupi tugas tersebut.

Sekembalinya Nuaim pada kaumnya, ia mulai memutar otak untuk menjalankan aksinya. Pertama ia mendatangi pemimpin Bani Quraizhah dan memberitahu bahwa sesungguhnya kaum Quraisy dan dan Ghathafan mempunyai niat mengambil harta rampasan perang lebih banyak jika menang dan membawanya ke negeri mereka, sedangkan jika kalah mereka akan meninggalkan Madinah tanpa ada beban apa-apa, sementara kalian akan menjadi bahan penindasan pasukan Muslimin yang tidak mungkin bisa hidup lagi di negeri ini. Makanya Bani Quraizhah sebaiknya mengambil jaminan beberapa pembesar dari Quraisy dan Ghathafan agar mereka tidak mempermainkan kalian.

Kata-kata Nuaim ternyata masuk dalam akal Bani Quraizhah dan berusaha menuruti pendapat Nuaim. Sementara itu Nuaim mendatangi bangsa Quraisy dan Ghathafan dan mengatakan bahwa Bani Quraizhah telah berkhianat bahkan berniat menawan pembesar-pembesar mereka, Kaum Quraisy dan Ghathafan marah besar mendengar berita itu. Akhirnya sesama pasukan sekutu sudah tidak saling percaya dan akhirnya lemah meski mereka dalam jumlah besar.

Selain itu Allah juga menurunkan pertolongannya dengan mengirim taufan yang mengerikan yang memporak-porandakan kemah- kemah mereka dan menerpa muka-muka musuh- musuh Islam hingga akhirnya kemenangan ada di tangan kaum muslimin. Inilah salah satu kontribusi Nuaim terhadap kemenangan Islam. Ternyata orang yang awalnya sangat benci terhadap Islam bisa berbalik memperjuangkan Islam dengan gigih.. Itu semua karena adanya hidayah dari Allah Yang Maha Memberi Petunjuk.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 19 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Ketegaran Seorang Ahli Pembuat Senjata

Wajah dan tatapan matanya menyiratkan tanda-tanda cerdas. Tubuhnya tampak sehat. Dialah Khabbab bi Arrat yang kala itu berstatus budak. Umurnya yang masih belum baligh membuat Ummu Anmar al-Khuza’iyyah tertarik membelinya. Ummu Anmar saat itu sedang berkeliling di pasar budak mencari seorang budak yang bisa dijadikan pembantu dan untuk memungut hasil pekerjaannya.

Di tengah perjalanan Ummu Anmar menanyakan asal-usul Khabbab yang dia nilai agak berbeda dengan budak lainnya. Khabbab bercerita bahwa dia sebetulnya anak arab, bapaknya bernama Al-Arrat dari Bani Tamim di daerah Najed. Ummu Anmar sedikit heran kenapa Khabbab sampai menjadi budak. Khabbab menjelaskan bahwa pada suatu hari, satu kabilah Arab datang dan merampok di daerahnya. Binatang ternak diambil paksa, para perempuan ditawan dan anak-anak ditangkapi. Khabbab termasuk salah seorang anak yang ditangkap dan dijadikan budak, lalu diperjualbelikan, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain sampai akhirnya berada di tangan Ummu Anmar.

Melihat potensi besar yang dimiliki Khabbab, Ummu Anmar menitipkan Khabbab ke salah seorang pandai besi di kota Makkah untuk mempelajari cara membuat pedang. Dalam waktu singkat Khabbab bisa menguasai teknik pembuatan pedang yang baik. Dia mahir dalam membuat pedang.

Setelah umurnya bertambah dewasa dan tubuhnya semakin besar, Ummu Anmar menyewa sebuah tempat untuk dijadikan bengkel yang nantinya Khabbab disuruh bekerja di bengkel itu untuk mendapatkan keuntungan dari pembuatan pedang. Dalam tempo singkat Khabbab sudah terkenal sebagai ahli pembuat pedang yang bagus. Ramailah orang-orang membeli pedang darinya. Di samping keahliannya dia juga dikenal jujur dan selalu berkata benar. Ini semua menambah daya tarik dan kepercayaan orang untuk membeli pedang buatannya.

Meski usianya masih muda, tapi Khabbab mempunyai pemikiran yang sempurna, akal sehatnya selalu dipergunakan untuk merenungi apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia memiliki pertimbangan dan kebijaksanaan sebagaimana yang dimiliki orang tua. Di tengah- tengah istirahatnya dari membuat pedang dia sering merenungi tabiat dan perilaku orang- orang yang ada di sekitarnya. Dia melihat bahwa tradisi masyarakatnya adalah tradisi jahiliyyah. Kebodohan dan kesesatan yang merata telah membutakan kehidupan masyarakat Arab dan merupakan kenyataan yang sangat menakutkan bagi Khabbab. Dan dia menyadari bahwa dirinya adalah salah satu korban dari masyarakat semacam itu.

Di balik ketakutan dan kekhawatirannya Khabbab menaruh satu harapan suatu saat akan ada perubahan dalam tata kehidupan masyaraka ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan yan gulita.

Tidak lama dalam penantiannya, Khabbab mendengar kabar bahwa ada seberkas cahaya yang dibawa seseorang yang bernama Muhammad bin Abdullah seorang pemuda dar Bani Hasyim. Khabbab yakin inilah yang dinantikan selama ini. Tidak sabar rasanya menemui orang tersebut. Khabbab menemui Rasulullah dan mendengar langsung ucapannya. Khabbab melihat keluhuran budi dan kemuliaan terpancar dari diri Muhammad. Diapun merasa sangat kecil di hadapan Rasulullah. Maka dengan keyakinan penuh Khabbab mengulurkan tangannya kepada Nabi Muhammad dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Khabbab tercatat sebagai orang keenam yang memeluk. agama Islam di muka bumi ini.

Peristiwa keislamannya tidak banyak ditutupi Khabbab, sehingga dengan mudah berita ini tersebar di seantero Makkah. Tidak terkecuali Ummu Anmar majikan Khabbab, bagai petir menyambar telinganya mendengar kabar itu. Ummu Anmar marah bukan kepalang. Dengan ditemani saudaranya, Siba bin Abdul ‘Uzza dan beberapa pemuda dari Bani Khuzaah mereka menemui Khabbab dibengkelnya. Khabbab yang kala itu sedang asyik membuat pedang tiba-tiba didatangi dan ditanyai.

Siba’ berkata, “Kami mendengar kabar yang kami belum mempercayainya?

“Kabar apa itu?” tanya Khabbab.

“Kabar bahwa engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita dan mengikuti agama yang dibawa pemuda Bani Hasyim itu. Betulkah itu?” tanya Siba’.

Khabbab menjawab, “Yaa, memang aku telah keluar…! Aku beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku tidak mengakui benda-benda yang kalian sembah. Aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Selepas kata-kata itu lepas dari mulutnya, serta merta Siba’ dan rombongannya memukuli Khabbab ramai-ramai Khabbab ditendang dan dilempari dengan benda-benda apa saja yang mereka dapat. Khabbab tidak sadarkan diri dan rubuh ke bumi berlumuran darah.

Beberapa hari kemudian Siba kembali melakukan penyiksaan kepada Khabbab. Dia dibawa ke padang pasir yang panas. Di sana mereka membuka pakaian Khabbab dan menukarnya dengan baju dari besi lalu menjemurnya tanpa memberi minum sampai kelihatannya Khabbab sudah payah mereka menghampiri dan mengharap Khabbab mau kembali ke agama nenek moyang, namun ternyata Khabbab tetap teguh pada pendiriannya. Tak ayal Khabbab kembali mendapat penyiksaan yang lebih berat lagi.

Ummu Anmar tidak kalah kejamnya. Suatu hari ia mendatangi Khabbab di bengkelnya. Diambilnya besi panas dan ditempelkan di kepala Khabbab sampai kepalanya berasap karena terbakar sampai akhirnya jatuh pingsan.

Mendapat perlakuan kejam dari Siba dan Ummu Anmar, Khabbab hanya bisa mengadu dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Setelah itu Khabbab ikut hijrah ke Madinah.

Rupanya Allah memperkenankan doa Khabbab. Allah ingin memberikan balasan setimpal kepada Ummu Anmar.

Ummu Anmar menderita sakit kepala yang belum pernah diketahui jenis sakit kepalanya. Juga tak seorangpun yang tahu obatnya. Karena sangat sakit, Ummu Anmar sangat tersiksa, diapun menjadi lemah dan tak mampu berbuat apa-apa.

Seseorang memberi nasihat, “Penyakit Ummu Anmar tidak akan sembuh kecuali diberikan tusukan besi panas di kepalanya.”

Karena sangat ingin sembuh akhirnya nasihat itu diikuti juga oleh Ummu Anmar namun hasilnya sebagaimana pengobatan-pengobatan sebelumnya bukannya sembuh malah semakin parah apalagi dengan tusukan besi panas di kepalanya.

Itulah balasan yang ditimpakan kepada Ummu Anmar yang telah memberikan penyiksaan kepada seorang mukmin yang tegar Khabbab bin Arrat.

 

 

 

 

Ghoib Edisi No. 18 Th. 2/1425 H/2004 M

Tobatnya Sang Intelejen

Suatu pagi di kota Makkah. Para pembesar Quraisy hampir serentak bangun dan tidurnya. Mereka bangun sambil marah-marah dan saling menyalahkan. Betapa tidak, Muhammad buronan mereka yang semalaman diintai dan diincar, lolos dari kepungan. Padahal mereka tinggal menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembunuhan yang sudah terencana dengan sangat rapi.

Merekapun seperti kebakaran jenggot melihat gagalnya rencana besar mereka. Serta merta mereka mendatangi kediaman Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menjadi shahabat terdekat Muhammad, namun yang didapati hanya Asma’, putri Abu Bakar. Mendengar jawaban ketidaktahuan keberadaan Abu Bakar dan Muhammad, Asma’ pun mendapat tamparan keras dipipinya. Selanjutnya para kafir Quraisy ini sepakat melakukan pengejaran yang mereka yakini bahwa buronan mereka pasti belum jauh kaburnya.

Dengan pengalaman dan pengenalan medan yang sempurna mereka atur strategi pengejaran sehingga hampir dipastikan tidak ada tempat yang luput dari pencarian mereka. Dengan amarah yang sudah sampai ubun-ubun mereka pacu kuda-kuda mereka, tekad mereka bulat menangkap Muhammad hidup atau mati.

Ketika para pengejar ini tiba di sekitar Gua Tsur, mereka berhenti dan ingin memeriksa wilayah itu dengan seksama. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan sampai lebih jauh dari wilayah ini. Mereka pun menyebar dan menyisir wilayah itu.

Sementara itu Muhammad bersama shahabat setianya tengah bersembunyi di dalam Gua Tsur. Tampak Muhammad dengan tenang istirahat tidur di pangkuan Abu Bakar karena kelelahan. sedangkan Abu Bakar tampak khawatir, kaki-kaki para pencari jejak tampak jelas lalu lalang di mulut gua. Tidak terasa air matanya mengalir dan menetes jatuh di muka Rasulullah. Rasulullah pun terbangun dan bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?”.

“Demi Allah, bukannya saya khawatir akan jiwa saya. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada Anda. Seandainya mereka menengok di tempat kaki mereka berpijak niscaya mereka akan melihat kita.” jawab Abu Bakar.

“Jangan takut, wahai abu Bakar. Sesungguhnya Allah bersama kita.” kata Nabi menenangkan hati shahabatnya. Allah pun menenangkan hati Abu Bakar.

Adapun para pencari jejak merasa putus asa setelah sekian lama mencari namun hasilnya nihil. Abu Jahal yang turut dalam rombongan itu berkata, “Demi Lata dan Uzza, saya yakin Muhammad ada di sekitar kita dan mendengar suara kita, tapi sihir Muhammad menahan penglihatan kita.”

Mereka akhirnya kembali dengan tangan hampa. Namun usaha mereka tidak berhenti sampai di situ. Mereka mengumumkan semacam sayembara dengan hadiah seratus ekor unta betina bagi mereka yang berhasil menangkap Nabi Muhammad hidup atau mati.

Tidak lama kemudian sayembara yang menggiurkan ini sudah tersebar di segenap pelosok antara Makkah dan Madinah. Banyak pemuda yang akhirnya tertarik ikut mencari. Tidak terkecuali Suraqah bin Malik Al-Madlaji, seorang pemuda gagah perkasa dengan badan tinggi besar dan tegap Selain itu dia dikenal mahir berkuda dan ahli mencari jejak.

Mendengar tawaran hadiah seratus ekor unta, timbullah tamak serta percaya diri Suraqah. Dia yakin pekerjaan ini sangat mudah dan dia tidak butuh bantuan orang lain untuk mengerjakan tugas ini. Diam-diam Suraqah mempersiapkan diri dan peralatan yang diperlukan. Persiapannya pun dilakukan malam hari. Dia khawatir ada orang yang mengikutinya mengadakan pengejaran. Sebab jika demikian maka hadiah akan dibagi.

Maka tatkala ada orang yang menyampaikan berita bahwa ia melihat 3 orang dalam perjalanan, Suraqah buru-buru menimpali bahwa mereka itu adalah rombongan dari Banu Fulan yang sedang mencari untanya yang hilang. Orang-orangpun percaya. Padahal Suraqah sendiri dalam hatinya yakin tiga orang itu adalah Muhammad, abu Bakar dan seorang penunjuk jalan.

Suraqah tidak mau buang-buang waktu, diapun memacu kudanya sekencang-kencangnya. Bayangan seratus ekor unta seakan menari di pelupuk matanya. Jalan yang sulit ditempuh baginya mudah. Sorot matanya yang tajam menyapu setiap sudut.

Namun tiba-tiba, Ghedbugh, kudanya tersandung dan jatuh. Diapun mengumpat dan memaki kudanya. Suraqah bangun kembali dan melanjutkan perjalanan. Belum jauh dia meneruskan perjalanannya kudanya kembali tersandung dan jatuh, Kali ini Suraqah ikut terpental. Kembali dia memaki nasibnya yang sial. Hampir saja dia mengurungkan niatnya. melakukan pengejaran. Tetapi godaan hadiah yang dijanjikan membuatnya kembali semangat melanjutkan perjalanan.

Samar-samar dia melihat sosok tiga orang sedang berjalan dari kejauhan. Muka Suraqah langsung berseri-seri. Tetapi tiba-tiba kaki kudanya terperosok ke dalam pasir. Dia mencoba menyuruh kudanya bangkit, tapi tidak bisa. Suraqah tidak kehabisan akal dengan kemampuan memanahnya ia memasang anak panah dan membidiknya ke arah Muhammad. Tapi betapa terkejutnya, tangannya tiba-tiba kaku dan tak mampu digerakkan. Pasir di sekitarnya pun mengepul dan beterbangan hingga matanya kelilipan pasir. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang dialaminya.

Suraqah putus asa, dia tidak bakal bisa bergerak tanpa bantuan orang lain. Satu- satunya pengharapannya adalah Muhammad dan temannya. Diapun berteriak, “Hei kalian berdua, berdoalah kepada Tuhanmu untukku. Bebaskanlah aku!”. Dia memelas mengharap iba. Rasulullah mendoakannya. Serta merta kudanya dapat bangkit. Tapi dasar tidak tahu diuntung. Melihat kudanya bisa bangkit diapun berniat kembali menyerang. Namun sial, kudanya kembali terperosok. Kali ini lebih dalam dari sebelumnya. Suraqah akhirnya menyerah. Dan kembali minta didoakan untuk terakhir kalinya. Dia berkata, “Ambillah seluruh perbekalanku dan aku berjanji akan mencegah orang-orang yang akan mengejarmu.”

Rasulullah kembali berdoa hingga kudanya bangkit kembali. “Kami tidak butuh perbekalanmu. Apa yang kamu inginkan dari kami?” tanya Rasulullah.

“Demi Allah. Saya yakin agama yang engkau bawa akan menang dan pemerintahanmu akan tinggi. Berjanjilah jika suatu saat saya datang ke kerajaan tuan maka tuan mau menerima saya. Tuliskanlah dalam tulang ini!” pinta Suraqah sambil menyodorkan sepotong tulang. Nabi pun meminta Abu Bakar untuk menuliskan perjanjiannya.

Suraqah akhirnya kembali pulang dengan hati senang sambil membawa potongan tulangnya. Di perjalanan dia bertemu beberapa orang yang hendak mencari Muhammad. Suraqah berkata kepada mereka, “Pulanglah kalian, kalian tidak akan menemukan Muhammad. Saya saja yang lebih hebat dari kalian tidak berhasil menemukannya. Jadi percuma saja.” Orang-orang itu pun percaya dan pulang dengan kecewa.

Beberapa tahun kemudian Rasulullah dan sahabatnya berhasil menaklukkan kota Makkah tanpa ada perlawanan dan pertumpahan darah. Kota Makkah pun dikuasai sepenuhnya. Beberapa saat kemudian muncul Suraqah menyeruak melewati penjagaan Muhammad. Di depan Rasulullah Suraqah mengeluarkan sepotong tulang dan menunjukkannya kepada Nabi. Diapun meminta Nabi memenuhi janjinya. Rasulullah mengabulkannya. Saat itu pula Suraqah mempersaksikan keislamannya.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Urung Jadi Pemimpin Karena Sadar akan Kelemahannya

Keislamannya berawal dari keingintahuannya  yang tinggi terhadap kabar yang tersiar tentang adanya ajaran yang dibawa Muhammad. Keingintahuannya ini mengundang dia datang ke kota Makkah. Dia sendiri berasal dari suku Ghiffar. Dialah Jundub bin Junadah yang lebih dikenal dengan Abu Dzar Al-Ghiffari. Setelah mendapatkan kejelasan tentang ajaran Islam, diapun langsung menyatakan keislamannya dan mempersaksikan di depan penduduk Makkah yang waktu itu masih didominasi kaum kafir Quraisy. Tak ayal diapun akhirnya dikeroyok ramai-ramai. Untunglah saat itu ada Abbas paman Nabi yang waktu itu masih kafir yang mengenalinya sehingga Abbas mengingatkan kalau yang mereka pukul itu adalah lelaki dari suku Ghiffar, suku yang mereka lewati setiap melakukan perjalanan ke kota Syam. Khawatir jika Abu Dzar terbunuh maka suku Ghiffar akan marah dan mencegat mereka dalam perjalanan. Namun perlakuan itu tidak membuatnya kapok bahkan mengulanginya.

Perjalanan hidup Abu Dzar al-Ghiffari dipenuhi dengan perjuangan-perjuangan membela agama Allah. Ketakwaannya kepada Allah dan kepatuhannya kepada Rasulullah melebihi segalanya. Kepribadiannya mempesona. Selain dikenal pemberani dia juga dikenal pemaaf dan suka meminta maaf. Terbukti ketika Abu Dzar khilaf memanggil Bilal bin Rabah dengan budak hitam yang mana kekhilafan itu langsung ditegur oleh Rasulullah. Abu Dzar merasa sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya. Untuk menebus kesalahannya diapun minta kepada Bilal untuk menghukumnya. Bilal yang juga mempunyai akhlak yang mulia sudah merasa cukup dengan permohonan maafnya Abu Dzar dan tidak perlu memberikan hukuman. Namun Abu Dzar belum puas hanya dengan kemaafan dari Bilal. Dia serta merta meletakkan pipinya di atas pasir yang saat itu sedang panas dan meminta Bilal untuk menginjak pipinya dengan tapak kakinya yang kotor. Karena terus didesak terpaksa Bilal memenuhi keinginannya. Setelah itu Abu Dzar puas.

Dalam suatu masa di zaman Rasullullah Abu Dzar ingin menunjukkan baktinya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga tatkala ada pemilihan gubernur suatu daerah Abu Dzar mengajukan diri untuk menjadi pemimpin di wilayah itu. Namun karena Rasulullah tahu persis kemampuan para sahabatnya, Rasulullah berkata kepada Abu Dzar, “Tidak, wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu lemah. Jabatan itu amanah, dan di hari kiamat nanti bisa menyebabkan kehinaan dan penyesalan, kecuali yang memperolehnya dengan cara yang benar dan menunaikan tugas-tugasnya dengan baik.” Ini bukan berarti bahwa Abu Dzar sering menyalahgunakan amanah tetapi karena Abu Dzar mempunyai sifat mudah mengasihani orang lain dan ini terkadang mempengaruhi ketika dia mengambil suatu keputusan.

Dalam riwayat lain rasulullah menjelaskan bahwa alasan tidak pasnya Abu Dzar menjadi pejabat adalah karena jika ada dua orang berselisih dia tidak bisa melerainya dan harta anak yatim tidak terjaga di tangannya. Namun masalah harta anak yatim ini bukan berarti beliau memakan atau menyalahgunakan harta anak yatim tetapi karena dia berprinsip bahwa seseorang tidak layak menyimpan harta. Apa yang didapatkan hari ini harus dihabiskan hari ini. Esok hari Allah sudah menyediakan rizki yang lain. Ini ijtihadnya. Sedangkan hal ini kurang pantas diterapkan oleh anak yatim yang belum mengerti apa-apa sementara mereka mempunyai simpananan harta dari orang tuanya. Keputusan Nabi itu tidak sedikitpun dibantah oleh Abu Dzar dan tidak membuat dia sakit hati sebab dari situlah dia memahami kekurangan-kekurangannya. Namun Abu Dzar tetap hidup dalam kemuliaan meski tidak menjadi pemimpin suatu kaum.

Dalam kehidupannya Abu Dzar sangat sederhana bahkan dikenal zuhud, padahal ia termasuk pemuka dan pembesar kabilahnya. Kemewahan dunia tidak menyilaukannya dari kehidupan akhirat yang lebih abadi. Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya Abu Dzar datang sendirian, hidup sendirian dan mati sendirian.”

Keteguhannya dalam memegang prinsip membuatnya sangat kritis terhadap pemerintahan yang ada, hingga di zaman Khalifah Usman beliau memilih mengasingkan diri di daerah terpencil.

Apa yang disabdakan Rasullah akhirnya terbukti beliau meninggal dalam pengasingannya di Al- Rabadhan tahun 31 H di zaman Khalifah Utsman tanpa seorang pun yang melihatnya.

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Semangat Menuntut Ilmu Tak Pernah Padam

“Jika kalian ingin mendengar bagaimana ayat al-Qur’an diturunkan sesungguhnya, maka dengarkanlah bagaimana Ibnu Mas’ud membaca al-Qur’an”

 

Abdullah bin Mas’ud lebih masyhur dipanggil Ibnu Mas’ud. Jika dalam sebuah riwayat hadits kita menjumpai nama shahabat disebut hanya Abdullah saja, maka yang dimaksud adalah beliau. Beliau adalah salah seorang shahabat yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saking dekatnya dia dijuluki tukang sandal Nabi atau tukang bantal Nabi. Ini karena Ibnu Mas’ud banyak melayani kebutuhan-kebutuhan kecil Rasulullah. Saat di Mekah, Rasulullah telah mengizinkan Ibnu Mas’ud kecil untuk menyertai beliau dalam kesehariannya.

Ibnu Mas’ud termasuk dalam Assabiqunal awwalun (sahabat Nabi yang lebih awal masuk Islam). Dalam beberapa riwayat dia termasuk orang yang ke-6 masuk Islam itupun dalam usia belia.

Ketertarikannya masuk Islam berawal dari kedatangannya suatu hari di sekitar Ka’bah bersama paman-pamannya untuk berbelanja parfum. Berikut pendiskripsian Ibnu Mas’ud tentang yang dilihatnya di samping Ka’bah, “Aku sedang membeli minyak wangi dari Abbas. Ketika itu aku lihat ada seseorang berjalan dan di depannya ada seorang anak kecil sedangkan di belakangnya ada seorang wanita. Mereka thawaf dan kemudian setelah selesai mereka melakukan ruku dan sujud yang belum aku lihat sebelumnya dilakukan oleh Quraisy. Kemudian aku bertanya kepada Abbas, “Apakah ada agama baru pada kalian?” Abbas menjawab, “Itu adalah Muhammad keponakanku, yang kecil adalah Ali dan wanita itu adalah Khodijah.” Itulah awal Ibnu Mas’ud menyaksikan ibadah dalam Islam.

Perjumpaan dengan Nabi pun terjadi kembali ketika dia sedang menggembalakan kambing milik orang lain. Saat itu Nabi sedang bersama Abu Bakar. Mereka menghampiri Abdullah bin Mas’ud dan mencoba membeli susu dari salah satu kambingnya.

Namun Ibnu Mas’ud berkata, “Tuan, itu bukan kambing milik saya. Kambing itu milik majikan saya. Tugas saya hanya menggembala.” Suatu nilai kejujuran yang sangat mahal.

Karena Nabi dan Abu Bakar sangat membutuhkan susu, maka beliau meminta, “Kalau begitu pinjamkan kepadaku salah satu kambing betina yang belum dikawini oleh yang jantan.” Ibnu Mas’ud tampak heran dengan apa yang akan dilakukan Nabi terhadap kambingnya. Dia lalu membawakan apa yang diinginkan Nabi. Sambil menanti apa yang bakal terjadi.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam lalu dengan memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, mengusap punggung kambing tersebut. Dan sungguh satu mukjizat, tubuh kambing itu serta merta menjadi gemuk dan perutnya membesar penuh dengan susu. Ibnu Mas’ud terpana dengan apa yang baru saja disaksikannya. Sementara Nabi dan Abu Bakar melepas dahaga dengan menikmati susu segar.

Seketika itu juga Ibnu Mas’ud dengan usianya yang masih belia meminta imbalan terhadap jasa yang telah diberikan kepada Nabi, “Ajarkan padaku suatu ilmu.” Rasulullah lalu mengusap kepala Ibnu Mas’ud sambil berkata, “Kamu adalah anak yang mempunyai semangat belajar yang tinggi.”

Sejak peristiwa itu Ibnu Mas’ud menyatakan keislamannya. Tidak tanggung-tanggung dia berani mengikrarkan keislamannya di hadapan Abu Jahal. Kontan Abu Jahal waktu itu menampar wajah Ibnu Mas’ud namun tanpa disangka Ibnu Mas’ud membalas perlakuan Abu Jahal dan akhirnya lari sedang Abu Jahal tak mampu mengejarnya.

Dalam perang Badar Ibnu Mas’ud mencatat sejarah monumental, Dimana setelah Abu Jahal terluka dan dijatuhkan oleh beberapa sahabat. Ibnu Mas’ud naik dan menginjak dada Abu Jahal. Abu Jahal sempat berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Wahai gembala kecil, kau telah berhasil mendaki sesuatu yang sangat sulit.” Dengan sekali gerakan Ibnu Mas’ud mengayunkan pedangnya menebas leher Abu Jahal. Tamatlah riwayat musuh Islam itu.

 

Beginilah Seharusnya Pelajar Muslim

Ibnu Mas’ud juga mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Dia berusaha mengikuti Rasululah kemana pun beliau pergi. Ini untuk mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya. Dia rela untuk melayani kebutuhan- kebutuhan kecil Nabi. Tidak heran jika kelak Ibnu Mas’ud termasuk sahabat Nabi yang banyak meriwayatkan hadits Nabi. Selain itu setiap kali ayat al-Quran turun Ibnu Mas’ud langsung menghapalkannya.

Perawakan tubuh Ibnu Mas’ud terbilang unik. Badan kecil dan kurus namun perutnya sedikit buncit. Larinya cepat. Betisnya juga kecil hingga suatu ketika dia memanjat sebuah pohon dan betisnya yang kecil terlihat. Beberapa orang yang melihatnya sempat menertawakan betisnya namun Rasulullah berkata, “Apa yang kalian tertawakan. Sungguh betis Ibnu Mas’ud lebih berat (keutamaannya) dari gunung Uhud di hari kiamat kelak.” Inilah pujian Rasulullah yang menunjukan keutamaan Ibnu Mas’ud.

Pada perjalanannya menuntut ilmu, Abdullah bin Mas’ud menduduki peringkat tertinggi untuk masalah bacaan al-Qur’an. Rasulullah memerintahkan kepada para shahabatnya untuk merujuk kepada Ibnu Mas’ud dalam masalah bacaan al- Qur’an.

Abdullah bin Masud juga dikaruniai suara yang indah dan merdu sehingga beberapa sahabat mendengarkan alunan suaranya membaca al- Qur’an. Rasulullah pun pernah berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Bacakan kepadaku al-Qur’an wahai Ibnu Mas’ud.” Ibnu Mas’ud heran, “Bagaimana mungkin saya membacakan al-Qur’an kepadamu sementara al Qur’an turun kepadamu?” Rasulullah menjawab, “Saya suka mendengarkan ayat al- Qur’an dari selainku.”

Ibnu Mas’ud lalu melantunkan surat an-Nisaa sementara Rasulullah mencucurkan air mata mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, sampai akhirnya Ibnu Mas’ud membaca sampai ayat ke 41 Rasulullah tidak sanggup lagi menahan kesedihan beliau, “Cukup…cukup…. sudah cukup wahai Ibnu Mas’ud.” Ibnu Mas’ud menghentikannya dan melihat ke wajah Rasululah ternyata jenggot beliau sudah basah dengan air mata.

Dengan kedudukan tertingginya di suatu bidang ilmu, tidak membuat Ibnu Mas’ud puas. Semangat menuntut ilmunya tergambar dari pernyataannya, “Kalau ada orang yang mempunyai ilmu tentang al-Qur’an yang tidak aku ketahui, selama orang itu masih bisa ditempuh oleh untaku, maka aku pasti akan mendatanginya untuk belajar.”

Demikian salah satu sejarah hidup seorang sahabat yang tidak berkurang kemuliaannya dan semangatnya berbuat untuk kemuliaan Islam dengan kondisi fisik yang mungkin  dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Justru Ibnu Mas’ud sampai hari kiamat adalah  rujukan untuk bacaan al- Qur’an.

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Simbol Ketegaran Muslimah

Simbol Ketegaran Muslimah

Kecantikan dan keluhuran budi menyatu pada sosok wanita ini. Bukan itu saja, kecerdasan dan kejernihan dalam berfikir menambah pesona kepribadiannya. Ketabahan dan kebijaksanaanya dalam bertindak membuat orang mengagumi dan menghormatinya. Tidak heran kalau banyak pemuda mendamba cintanya.

Dialah Rumaisha binti Malhan bin Khalid bin Said bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah yang lebih dikenal dengan nama Ummu Sulaim binti Malhan. Pesona kepribadian dan akhlaknya yang mulia mendorong anak pamannya Malik bin Nadhar segera mempersuntingnya. Dari pernikahan mereka lahirlah Anas bin Malik yang kelak menjadi salah satu ulama terkemuka.

Ketika fajar kenabian terbit menerangi kota Makkah dan dakwah tauhid mulai menyebar, orang-orang yang memiliki sari pikiran dan kejernihan hati mulai tertarik dan mengikuti risalah mulia ini walau masih banyak diantara mereka yang masuk secara sembunyi-sembunyi.

Ummu Sulaim tergolong wanita pertama yang masuk Islam dari kaum Anshar. Dengan segala keberanian dia siap menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Nyala api keislaman dalam hatinya telah membakar habis rasa takutnya terhadap siapapun yang bakal menghalanginya. Termasuk suaminya sendiri Malik bin Nadhar yang pasti akan marah besar atas keislamannya. Anas, anak Ummu Sulaim satu-satunya, dia tuntun untuk melafazhkan kalimat syahadat, anaknyapun mengikutinya dengan fasih.

Malik sang suami yang baru pulang dari bepergian sangat kaget dan marah besar mendapati istrinya telah masuk Islam. Dia mengancam akan pergi meninggalkan istri dan anaknya jika tidak mau kembali ke agama nenek moyangnya. Namun kekuatan iman yang menghunjam di hati Ummu Sulaim tidak menggoyahkan keyakinannya, meski dia sadar beratnya beban hidup yang akan dipikul tanpa kehadiran suaminya. Akhirnya Malik pergi meninggalkan keluarganya dalam keadaan marah dan kemudian dia bertemu musuh dan akhirnya dibunuh.

Mendengar kematian suaminya, Ummu Sulaim tetap tabah dan mengatakan, “Aku tidak akan menyapih Anas sampai dia sendin yang memutuskannya, dan tidak akan menikah lagi kecuali Anas mengidzinkanku.”

Selanjutnya Ummu Sulaim membawa Anas menemui Rasulullah dan dengan rasa malu memohon kepada Rasulullah agar mau mengizinkan Anas membantu dan tinggal bersama Rasulullah sambil diajarkan segala kebaikan. Rasulullah pun menyetujuinya sehingga senang dan bahagialah hati Ummu Anas.

Berita kematian Malik dan ketabahan hati Ummu Sulaim menjadi pembicaraan orang banyak. Tidak sedikit pemuda yang berniat merebut hati Ummu Sulaim yang tetap mempesona. Tidak terkecuali Abu Thalhah seorang pemuda kaya dan terpandang yang kala itu masih musyrik. Dia dengan penuh percaya diri dengan apa yang dimilikinya mencoba melamar Ummu Sulaim dengan tawaran mahar yang tinggi. Tapi sungguh di luar dugaan, Ummu Sulaim dengan tenang berkata, “Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah sesungguhnya sesembahan kalian adalah hasil pahatan orang saja, dan seandainya kalian mau membakarnya niscaya akan terbakarlah tuhan kalian.”

Sesak dada abu Thalhah mendengar jawaban Ummu Sulaim, bukan hanya harga dirinya yang jatuh tapi tuhannya juga dihina. Namun rasa cintanya ke Ummu Sulaim membuatnya nekad mendatangi lagi Ummu Sulaim sambil membawa emas dan perak yang lebih banyak lagi. Tetapi sekali lagi Ummu Sulaim menolak dan berkata, “Demi Allah sungguh orang seperti Anda tidak pantas ditolak. Cuma saja anda orang kafir sedang aku seorang muslimah sehingga kita tidak pantas menikah. Jika Anda mau masuk Islam maka itu cukuplah bagiku sebagai mahar dan aku tidak memintanya lebih dari itu.”

Mendengar jawaban itu semakin bertambahlah kekaguman Abu Thalhah kepada Ummu Sulaim. Ungkapan yang terucap dari mulutnya menggugah lubuk hatinya. Diam-diam la kagum terhadap ajaran Islam yang membuat pemeluknya tidak terpengaruh rayuan-rayuan dan tidak silau akan kemewahan. Abu Thalhah berpikir inilah wanita yang sangat pantas menjadi ibu bagi anak-anaknya dan kesempatan ini tidak akan dilepaskannya lagi. Akhirnya, lisan Abu Thalhah melafazhkan kalimat syahadat, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”

Tak terbayangkan betapa bahagianya Ummu Sulaim karena cahaya hidayah Allah diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya. Diapun menoleh kepada putranya Anas seakan meminta persetujuannya sambil berkata, “Wahai anakku nikahkanlah aku dengannya.” Mereka pun akhirnya menikah dengan mahar keislaman Abu Thalhah.

Rumah tangga Abu Thalhah dan Ummu Sulaim adalah rumah tangga yang patut diteladani, Ummu Sulaim menunaikan hak dan kewajiban seorang istri kepada suaminya. Demikian pula suaminya. Merekapun menjalani kehidupan dengan nilai-nilai islami. Abu Thalhah mendapat banyak bimbingan nilai-nilai Islam dari istrinya yang lebih dulu masuk Islam disamping pengajaran langsung dari Rasulullah saw.

Abu Thalhah masuk Islam bukan hanya karena permintaan Ummu Sulaim tetapi dengan segala kesadaran dan keyakinan penuh. Terbukti dengan semangatnya yang menggebu-gebu dalam mengamalkan Islam, seperti ketika turun ayat 92 dari surat Ali Imran yang menganjurkan kaum muslimin untuk menginfakkan harta yang dicintainya. Tidak tanggung-tangung ia langsung menemui Rasulullah dan mengatakan bahwa ia mempunyai sebidang kebun yang sangat dia sukai dan langsung disedekahkan untuk dipergunakan di jalan Allah.

Dari perkawinannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim dikaruniai seorang putera bernama Abu Umair yang pada akhirnya dijadikan oleh Allah sebagai bukti keimanan dan kesabaran mereka dengan kematiannya dan sekali lagi sebagai bukti bahwa Ummu Sulaim benar-benar merupakan sosok muslimah yang tegar menghadapi setiap ujan-Nya.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 15 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Dipecat Dari Jabatan, justru Karena Terlalu Hebat

Dipecat Dari Jabatan, justru Karena Terlalu Hebat

Di puncak kejayaannya sebagai pakar strategi perang sekaligus panglima perang tiba-tiba Khalifah Umar bin Khatab mengirimkan surat pemecatan kepadanya sebagai Panglima Perang Yarmuk. Ada apa dibalik pemecatannya?

Bumi Mu’tah membara. Suara dentingan pedang dan ringkikan kuda berbaur dengan erangan dan teriakan ratusan ribu laskar tempur. Saat itu sedang berkecamuk peperangan dahsyat antara kaum muslimin dengan bangsa Romawi. Peperangan yang jumlah personel dan peralatan perang yang sangat tidak seimbang. Kekuatan 3000 pasukan kaum muslimin harus menghadapi lebih dari 100 ribu pasukan Romawi dengan peralatan perang lengkap dibantu 100 ribu pasukan dari 4 kabilah Arab musyrikin yang dikerahkan oleh Syurahbil bin Amer. Tapi dengan perbandingan kekuatan 60 kali lipat lebih sama sekali tidak menggentarkan semangat kaum muslimin.

Pasukan muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah maju dan menerjang lautan pasukan musuh sampai akhirnya Zaid gugur. Kemudian Jafar bin Abu Thalib mengambil alih panji peperangan yang akhirnya juga gugur tepotong dua. Lalu sesuai petunjuk Rasulullah panji peperangan selanjutnya diambil alih Abdullah bin Rawahah yang akhirnya bernasib sama, gugur sebagai syahid. Kemudian kaum muslimin menyepakati Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Sebagai seorang ahli di medan perang Khalid kemudian menggempur musuh dan berhasil memukul mundur.

Strategi yang diterapkan Khalid adalah dengan diperintahkan pasukannya yang terdiri dari pasukan tengah, pasukan kanan dan pasukan kiri untuk berputar. Yang berada di depan memacu kudanya ke belakang diikuti yang dibelakangnya. Begitulah putaran besar itu dilakukan pasukan Khalid. Pasukan Romawi melihat bahwa pasukan Islam selalu bertambah terus datang dari belakang, padahal yang ada hanyalah perputaran. Inilah yang membuat takut pasukan Romawi, mereka pun panik mundur kocar-kacir, tapi di saat itu pasukan muslimin malah tidak mengejar dan diperintahkan oleh Khalid untuk kembali ke Madinah.

Sebelum kaum Muslimin mendengar kabar gugurnya tiga orang panglima perang mereka, Rasulullah saw menyampaikan berita syahidnya Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah kepada mereka. Kemudian bersabda: “Zaid memegang panji lalu gugur. Panji itu diambil Ja’far iapun gugur. Panji itu diambil Ibnu Rawahah, iapun gugur pula.” Saat itu beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya: Akhirnya panji itu diambil oleh “Pedang Allah” (Khalid bin Walid) dan akhirnya Allah mengaruniakan kemenangan kepada mereka (kaum Muslimin)”.

Sejak saat itulah Khalid bin Walid mendapat gelar Saifullah (Si Pedang Allah) karena kehebatannya dalam memainkan pedang dalam peperangan. Perang Mu’tah ini merupakan peperangan pertama yang diikutinya. Dalam perang ini saja sampai sembilan bilah pedang patah di tangannya hingga yang tertinggal hanya sebilah pedang kecil dari Yaman.

Khalid, sebelum masuk Islam merupakan musuh kaum muslimin dalam perang Uhud dan sempat mengacaubalaukan dan menyerang balik pasukan pemanah muslimin yang tidak patuh pada perintah Rasulullah dan tergiur rampasan perang. Sehingga banyak jatuh korban dan Rasul sendiri terluka dan giginya patah.

Namun sejak keislamannya tahun ke 7 hijrah, kehidupannya berbalik mencintai Islam dan mati- matian membelanya. Keislamanyapun disambut baik oleh Rasululah saw dengan sabdanya, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan hidayah kepadamu. Sungguh aku melihat pada dirimu kecerdasan. Aku berharap kepada Allah agar tidaklah Dia mengarahkanmu kecuali kepada kebaikan.”

Keberanian dan kecintaannya kepada Islam dibuktikan dengan keikutsertaannya di hampir setiap peperangan baik berupa ghazwah maupun sariyah. Semangatnya pun tetap membara baik dia sebagai panglima perang maupun sebagai pasukan biasa. Kerinduannya untuk gugur sebagai syahid fisabilillah mendorongnya untuk selalu berada di barisan terdepan dalam setiap peperangan. Kemahirannya dalam strategi perang membuatnya sering diangkat menjadi panglima perang. Taktiknya kerap didengar diikuti karena terbukti jitu Tidak heran jika banyak kaum muslimin yang me ngaguminya bahkan mengidolakannya. Dialah satu-satunya panglima yang tidak pernah kalah dalam lebih dari 90 kali peperangan yang dipimpinnya.

Keikutsertaan Khalid dalam peperangan bukan hanya di masa Rasulullah hidup saja. Di masa para khalifah pun semangatnya tetap membara. Sampai suatu ketika di masa Khalifah Abu bakar As-Shiddiq, khalifah mengirim pasukan muslimin untuk berperang melawan bangsa Romawi, Khalifah mengangkat Abu Ubaidah sebagai panglima perang. Sesampainya di daerah Yarmuk di wilayah. Syam, kaum muslimin mengirim kabar kepada khalifah bahwa pasukan musuh sangat banyak. Kemudian Abu Bakar menulis surat kepada Khalid bin Walid yang waktu itu sedang memimpin pasukan di Iraq bersama Mutsanna bin Haritsah. Khalifah memerintahkan Khalid agar berangkat menuju Syam dengan membawa separuh pasukan yang bertugas di Iraq untuk membantu pasukan Abu Ubaidah dan menunjuk Mutsanna sebagai gantinya memimpin pasukan di Iraq. Kepada Khalid bin Walid Abu Bakar juga memerintahkan agar memimpin pasukan di Syam menggantikan Abu Ubaidah setibanya di negeri itu.

 

Cermin Untuk Para Pejabat

Khalid pun berangkat dan bergabung dengan pasukan Abu Ubaidah. Kepada Abu Ubaidah, Khalid bin Walid menulis surat yang isinya antara lain:

“Amma badu, baru saja aku menerima surat dari Khalifah. Beliau memerintahkan aku untuk bergerak menuju Syam dan memimpin pasukannya. Demi Allah, aku tidak pernah meminta hal tersebut dan tidak pula menginginkannya. Tetaplah engkau pada posisimu sebagaimana sedia kala, kami tidak akan menolak perintahmu, tidak akan menentangmu dan tidak akan memutuskan perkara tanpa kehadiran dirimu.”

Setelah membaca surat Khalid, Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan atas keputusan Khalifah Rasulullah dan mendukung apa yang dilakukan oleh Khalid,”

Sebelumnya Abu Bakar ra telah menulis kepada Abu Ubaidah yang isinya:

“Amma Ba’du, sesungguhnya aku telah mengangkat Khalid untuk memerangi musuh di Syam. Oleh karena itu, janganlah engkau menentangnya. Dengar dan taatilah dia! Wahai saudaraku, sesungguhnya aku mengutusnya kepadamu bukan karena dia lebih baik darimu, tetapi hanya karena aku berkeyakinan bahwa dia memiliki kecerdikan dalam berperang di tempat yang sangat kritis ini. Semoga Allah Menghendaki kebaikan bagi kami dan kamu. Wassalam.”

Akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara kaum muslimin dengan pasukan Romawi yang akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin dengan gemilang. Tak terbilang pasukan Romawi yang berhasil dibunuh, begitu pula yang dijadikan tawanan.

Tanpa diketahui kaum muslimin, di tengah berkecamuknya pertempuran ini Khalid bin Walid mendapat surat yang memberitahukan bahwa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah wafat dan digantikan Umar bin Khattab. Surat itu sekaligus menyatakan agar Khalid menyerahkan kembali tampuk kepemimpinan kepada Abu Ubaidah. Berita ini oleh Khalid dirahasiakan dulu agar tidak terjadi keguncangan di kalangan pasukan. Begitu pula ketika kabar ini sampai ke telinga Abu Ubaidah, ia juga merahasiakannya karena pertimbangan yang sama.

Tak sedikit pun ada rasa dengki ataupun rasa sombong di antara mereka. Yang ada dipikiran mereka adalah bahwa mereka sedang berjuang di jalan Allah tanpa melihat apa posisi dan kedudukannya. Yang ada dalam hati mereka bukan jabatan, tetapi karya nyata dan perjuangan. Sehingga ketika dia dipecat, tidak sedikit pun semangat untuk berjuang turun.

Para ulama sepakat bahwa alasan Khalifah Umar mengganti Khalid sebagai panglima adalah untuk menyelamatkan Khalid dan kaum muslimin dari jerat kultus individu yang mulai muncul di hati mereka. Tentara Islam mulai berkata, “Kita tidak akan kalah selama panglimanya adalah Khalid.”

Kerinduan Khalid bin Walid untuk mengakhiri hidupnya di medan pertempuran sebagai syahid tidak kesampaian. Beliau sedih karena menjelang ajal menjemput beliau terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Di punggungnya terlihat tidak kurang dari tujuh puluh bekas goresan pedang. Kepergiannya merupakan duka seluruh umat Islam. Dialah sosok pahlawan sejati. Pahlawan sejati yang tidak gila kehormatan atau penghargaan. Pejabat tulus yang sulit sekali dijumpai hari ini di negeri ini. Seperti mencari mutiara di tengah hamparan padang pasir.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 14 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Gubernur yang Tidak Punya Pembantu

Gubernur yang Tidak Punya Pembantu

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khatthab ra., beliau mengangkat salah seorang Gubernur untuk ditempatkan di wilayah Himsa. Dengan segala pertimbangan dan hasil musyawarah maka terpilihlah Said bin Amir sebagai gubernur. Said bin Amir merupakan sosok pemimpin yang baik. Dia dikenal sebagai mukmin yang amanah, berani, penuh tanggung jawab, serta peka dan peduli terhadap kesulitan dan penderitaan orang lain. Dia juga memiliki sifat tawadhu (rendah hati) dan tidak silau dengan kemewahan dunia. Sifat-sifat inilah yang membuat khalifah memilihnya.

Selang beberapa waktu berlalu, Khalifah Umar memanggil beberapa orang penduduk kota Himsa untuk menanyakan situasi terakhir kota itu, maka datanglah beberapa orang utusan menemui khalifah. Setelah bertanya panjang lebar, Khalifah Umar meminta para utusan itu untuk menuliskan nama-nama penduduk Himsa yang tergolong fakir miskin untuk selanjutnya akan diberikan santunan dari kas baitul maal negara. Utusan itupun menuliskan dan memberikannya kepada khalifah. Saat dibaca seketika mata Umar bin Khaththab tertuju pada nama Said bin Amir. Beliau dan segera bertanya, “Siapa Said bin Amir ini?” pun kaget Utusan itu menjawab, “Dia adalah gubernur kami.” Umar semakin kaget,”Gubernur kalian faqir?” Mereka menjawab, “Ya, demi Allah apa yang kami sampaikan benar.” Demi mendengar kabar itu Khalifah Umar langsung menangis, betapa Said bin Amir yang mengabdikan dirinya untuk rakyat sampai melupakannya mencari nafkah untuk diri dan keluarganya. Sewaktu para utusan itu akan kembali ke Himsa, Khalifah mengirim salam dan menitipkan uang sebesar 1000 dinar untuk Gubernur Said.

Tatkala para utusan menemui gubernur dan menyampaikan amanah khalifah, Said langsung terperanjat dan spontan mengucapkan, Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Seakan dia tertimpa suatu musibah yang besar. Istrinya yang mendengar ucapan Said langsung bertanya, “Ada apa wahai suamiku, apa yang terjadi, apakah Khalifah wafat?” Said menjawab, “Lebih berbahaya dari itu, kemewahan dunia telah menghampiriku yang akan merusak kehidupan akhiratku.” Istrinya berkata,” Kalau begitu jauhilah urusan dunia itu.” Istrinya belum tahu kalau suaminya baru saja mendapat santunan dari khalifah. Akhirnya Said meminta istrinya untuk membantu membagi-bagikan uang dari khalifah kepada para kaum faqir dan miskin.

 

Gubernur Diadili Khalifah di Depan Massa

Beberapa tahun kemudian Khalifah Umar berkunjung ke Himsa untuk melihat langsung kondisi penduduk kota Himsa. Setibanya di sana Khalifah mengumpulkan para penduduk dan berdialog langsung. Tidak lupa Khalifah menanyakan penilaian mereka terhadap Gubernur Said. Para penduduk banyak memuji gubernurnya dengan beberapa sifat terpujinya. Namun mereka sedikit mengeluhkan beberapa hal dan kesempatan ini dimanfaatkan baik oleh mereka untuk mengadukannya langsung kepada khalifah. Gubernur Said pun dipanggil untuk mempertanggungjawabkan langsung keluhan rakyatnya.

Beberapa saat kemudian terjadilah dialog di antara mereka.

“Apa yang kalian keluhkan terhadap gubernur?” tanya khalifah memulai dialog.

“Kami mengeluhkan tiga sikap beliau yang kami tidak senangi.” jawab mereka.

“Silakan sampaikan keluhan pertama.”

“Setiap harinya gubernur kami tidak keluar dari rumah menemui kami kecuali matahari sudah tinggi.”

“Apa tanggapan Anda terhadap keluhan mereka?” tanya Umar kepada Said.

“Demi Allah, sesungguhnya saya tidak suka alasan ini saya sampaikan. Ketahuilah, di rumah kami tidak ada pembantu sehingga saya bersama keluarga mengolah adonan dan saya menunggu sampai mengembang lalu saya buat roti untuk makan keluarga. Baru setelah itu saya berangkat kerja. “papar sang Gubernur sambil tertunduk.

“Apa lagi yang kalian keluhkan ?” tanya Umar.

“Gubernur kami tidak pernah mau menemui kami di malam hari.”jawab mereka.

“Apa alasan Anda wahai gubernur?”

“Demi Allah, sekali lagi saya berat untuk mengungkapkan hal ini, khawatir akan mengurangi keikhlasan saya. Saya sudah menyediakan waktu untuk mereka di siang hari, dan saya ingin waktu malam saya jadikan untuk Allah dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya.”

“Sekarang sampaikan keluhan kalian yang lain!” pinta Khalifah.

“Yang terakhir, dalam setiap bulan ada satu hari yang gubernur tidak mau menemui salah seorang pun di antara kami.”

“Untuk hal ini apa alasan Anda?” tanya Umar.

“Untuk hal ini saya mohon maaf, sebagaimana saya sebutkan tadi, saya tidak punya pembantu yang mencucikan pakaian saya. Saya pun tidak punya baju yang pantas selain apa yang saya pakai ini. Maka dalam sebulan saya sempatkan diri sehari untuk mencuci baju saya ini lalu mengeringkannya. untuk saya pakai lagi menemui mereka.” jawab gubernur dengan tenang.

Suasana menjadi hening, sebagian orang tidak kuasa menahan linangan air matanya. Tak terkecuali Khalifah Umar yang tak berdaya membendung tangisnya. Sudah sejauh itukah pengabdian sejati seorang gubernur kepada rakyatnya sebagai amanat yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah azza wa jalla.

Khalifah Umar akhirnya menyampaikan, “Wahai sekalian penduduk Himsa, kalian sudah dengar alasan-alasan gubernur terhadap apa yang kalian keluhkan selama ini. Ternyata apa yang kita sangkakan selama ini tidak benar adanya. Kita patut bersyukur ada pemimpin seperti Said bin Amir.”

 

 

Ghoib, Edisi No. 13 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Khansa, Ketegaran Dibalik Kelembutan Seorang Muslimah

Khansa, Ketegaran Dibalik Kelembutan Seorang Muslimah

Isak tangis nan pilu tak putus-putusnya terdengar dari seorang wanita muda. Di depannya terbujur kaku sesosok jenazah. Sesekali terdengar lengkingan yang menyayat hati menandakan kesedihan yang mendalam. Orang- orang yang berada di sekitarnya berusaha menenangkan dan menyabarkannya, namun tidak banyak berpengaruh, wanita itu masih saja larut dalam dukanya. Di tengah-tengah kenestapaannya, lamat-lamat terdengar bait-bait syair kesedihan keluar dari mulutnya. Bait syair yang membuat orang yang mendengarnya turut larut dalam suasana berkabung. Dialah Khansa, seorang wanita arab terhormat yang tengah berbelasungkawa atas kepergian saudaranya Shakhr yang sangat dekat dengannya. Kepiawaiannya dalam merangkai bait-bait syair membuat syairnya banyak dikenal dan dikutip orang. “Aku menangisinya selama setahun,” katanya. Namun semua ini terjadi di masa jahiliyahnya. Di saat dia Khansa belum mengenal Islam.

Nama lengkapnya Tamadhar binti Amru bin Al-Harits bin Asy-Syarid, setelah dia mendengar dan meyakini kebenaran dan keluhuran Islam, diapun menghadap Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Sejak itu diapun merubah perilakunya dengan perilaku Islami dan tunduk pada aturan-aturan Islam.

Bukan hanya itu, Khansa bukan termasuk orang yang pasif dan hanya melakukan ritual ibadah saja. Dia senantiasa berupaya untuk memberikan sumbangsih untuk agama yang dicintainya ini. Dia selalu berpikir apa dan bagaimana dia harus berbuat untuk kepentingan dan kemajuan Islam.

Dengan semangatnya yang mengebu-gebu Khansa pun mendidik anak-anaknya untuk mau berjuang dan berkorban untuk Islam. Dia mengajarkan tauhid dan akhlak, serta membekali anaknya dengan semangat untuk berjuang dan menggembleng mereka untuk tidak takut pada kematian.

Tidak heran jika anak-anaknya tumbuh dengan semangat kepahlawanan. Ini terbukti di zaman kekhalifahan Umar bin Al-Khaththab, ketika Amirul Mu’minin memerintahkan Panglima Saad bin Abi Waqqas untuk memimpin pasukan menghadapi pasukan Persia dalam perang Al-Qadisiyah Khansa pun menyemangati anak-anaknya untuk ikut dalam peperangan.

Empat puteranya yang sudah beranjak dewasa tanpa pikir panjang menyambut seruan itu. Keempat puteranya seakan berlomba mendaftarkan diri untuk menjemput kematian. Khansa sangat kagum dan bersyukur. Bahkan Khansa pun ikut menyertai pasukan muslimin ke medan peperangan. Pada malam harinya di saat pasukan mempersiapkan diri, Khansa mengumpulkan anak- anaknya untuk memberikan wejangan-wejangan serta mengobarkan semangat mereka berperang dan untuk tidak lari dari peperangan serta senantiasa mengharap kepada Allah untuk syahid di jalan-Nya. Khansa pun berwasiat:

“Duhai anak-anakku sekalian, sesungguhnya kalian telah memilih Islam dengan ketaatan, kalian telah berhijrah dengan sukarela dan demi Allah yang tiada ilah kecuali Dia. Sesungguhnya kalian adalah putra tumpuan harapan seorang wanita yang tidak pernah mengkhianati ayah kalian, kalian juga tidak pernah memerlukan paman, kalian tidak pernah merusak kehormatan kalian dan tidak pula berubah dari nasab kalian. Kalian mengetahui apa yang telah Allah janjikan bagi kaum muslimin berupa pahala yang besar bagi mereka yang memerangi orang-orang kafir, dan ketahuilah bahwa negeri yang kekal lebih baik dari negeri yang fana Maka ketika esok Allah menghendaki kalian masih selamat, persiapkanlah diri kalian untuk memerangi musuh dengan penuh semangat dan mohonlah kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin. Jika kalian telah melihat perang berkecamuk maka terjunlah kalian ke medan laga, bersabarlah kalian menghadapi panas perjuangan, niscaya kalian akan berjaya dengan harta rampasan perang dan kemulaian atau syahid di negeri yang kekal.”

Keesokan harinya, dengan semangat menggelora keempat putera Khansa terjun ke medan pertempuran. Akhirnya setelah membunuh banyak orang kafir, satu persatu anaknya gugur sebagai syahid.

Tatkala berita kematian anak-anaknya itu sampai ke telinga Khansa yang sabar maka tidak tampak di wajahnya raut kegoncangan apalagi ratapan. Begitu berbeda dengan keadaan ketika saudaranya meninggal di masa jahiliyahnya. Bahkan Khansa sempat megucapkan suatu perkataan yang masyhur dan dicatat serta senantiasa dikenang dalam sejarah, yaitu:

“Segala puji bagi Allah yang memuliakan diriku dengan syahidnya anak-anakku, dan aku berharap kepada Rabb-ku agar Dia mengumpulkan diriku dengan mereka dalam Rahmat-Nya.”

Itulah infak terbaik dari seorang muslimah. Ketika dia berhasil menjadi rahim peradaban dan kebaikan. Mempersembahkan yang termahal dalam hidupnya untuk Islam. Berharap ganti yang jauh lebih mulia di akhirat yang abadi. Khansa benar-benar sebuah cermin yang tak pernah retak atau kusam.
Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M
HUBUNGI ADMIN