Wasiilah, Derajat Surga Tertinggi

SURGA ITU bertingkat-tingkat. Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi pula martabat orang yang mendiaminya. Semakin istimewa kenikmatan yang mereka dapatkan. Masalahnya untuk siapakah tingkatan surga tertinggi itu?

Memang dalam sebuah hadits Rasulullah menganjurkan umatnya untuk meminta surga Firdaus. Karena ia adalah surga yang tertinggi. “Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah, jarak antara dua tingkatan seperti antara langit dan bumi. Maka apabila kamu mohon kepada Allah, mohonlah (surga) Firdaus kepada-Nya, karena ia terletak di tengah surga dan surga yang tertinggi.” Saya rasa beliau mengucapkan, “Dan di atasnya ada Arsy Rahman dan dari situ dipancarkan sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Berdasarkan hadits di atas, setiap orang berhak untuk mendapatkan surga yang tertinggi yaitu surga Firdaus. Para nabi dan rasul, sahabat, ulama, atau umatnya dari generasi kapan saja berhak mendapat surga Firdaus, bila dia memang layak.

Namun, ada hadits lain yang menyebutkan bahwa tingkatan tertinggi di dalam surga tidak diperuntukkan buat semua manusia. Tentunya, surga ini bukanlah surga Firdaus, karena yang berhak memasukinya hanya satu orang. Sementara surga Firdaus terbuka untuk umum.

Tempat tertinggi di dalam surga itu disebut dengan Wasiilah. Di atasnya tidak ada lagi surga yang lain. Di atasnya sudah tidak ada lagi penghuni surga yang lain. Rasulullah berpesan kepada umatnya, agar berdoa kepada Allah  semoga beliau yang nanti menempati Wasiilah. Bukan orang lain.

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan, “Ya Allah, pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang berdiri, berilah Muhammad Wasiilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dalam kedudukan terpuji yang Engkau janjikan kepadanya, maka baginya akan mendapatkan syafaat pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dari Jabir bin Abdullah)

Sahabat pun penasaran. Apa sebenarnya Wasiilah itu sehingga Rasulullah perlu meminta doa kepada umatnya. Pertanyaan itu disebutkan dalam riwayat imam Ahmad dari Abu Hurairah. Para shahabat bertanya kepada Rasulullah, “Apakah Wasiilah itu?” Rasulullah menjawab, “Derajat paling tinggi di surga. Tiada yang memperolehnya kecuali satu orang dan aku berharap orang itu adalah aku.”

Ulama mengatakan, sesungguhnya antara hadits Wasiilah dan hadits Firdaus tidaklah bertentangan. Karena keduanya bisa dipertemukan dalam satu titik, bahwa Wasiilah adalah tingkatan surga yang tertinggi. Ia berada di atas surga Firdaus dan hanya dikhususkan untuk Rasulullah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa surga Firdaus merupakan surga yang paling tinggi. la juga bertingkat- tingkat. Dan tingkatan tertinggi di surga Firdaus adalah Wasiilah.

Dengan pendapat di atas, sesungguhnya tidak ada pertentangan antara hadits-hadits di atas. Wasiilah tetap merupakan tingkatan tertinggi. Dan di bawahnya ada surga Firdaus.

Bagi kita, tinggal mengikuti perintah Rasulullah untuk menjawab adzan, dan membaca doa setelah adzan. Karena dengan doa setelah adzan sesungguhnya kita telah berdoa kepada Allah semoga beliau akan menempati Wasiilah, tingkatan surga tertinggi. Karena dengan itu kita mendapat keuntungan yang tidak ternilai. Rasulullah menjanjikan akan memberi syafaat kepada kita.
Ghoib, Edisi No. 58 Th. 4/ 1427 H/ 2006 M

Pelayan Surga

Menjadi seorang raja. Mungkin setiap orang menginginkannya, walau kesempatan itu hanya dalam sehari. Karena kehidupan seorang raja sangat mempesona bagi setiap yang membayangkan kesenangan. la tidak perlu repot mengurus keperluannya. Karena apapun yang diinginkannya, tinggal memanggil pelayan yang selalu siap sedia setiap saat. Mau makan, tinggal bilang. Mau minum, tinggal panggil. Pendek kata, semua urusan menjadi beres.

Namun seenak-enaknya menjadi raja, masih tidak senikmat hidup di surga. Itu tentu. Setiap penghuni surga akan dikelilingi pelayan-pelayan yang sangat setia. Kesetiaannya tidak bisa diukur dengan pelayan dunia, walau dayang seorang raja sekalipun.

Lihatlah bagaimana Allah menggambarkan etos kerja mereka, para pelayan surga. “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda (Wildan Mukhalladun), dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18)

Itulah gambaran kesetiaan pelayan surga yang tidak lagi disibukkan dengan urusan pribadi. Sangat jauh berbeda dengan pelayan dunia. Seluruh waktu mereka hanyalah untuk majikan. Tidak lagi terpikir untuk melayani kebutuhan mereka sendiri karena pada hakekatnya pelayan surga diciptakan untuk mengabdi kepada penghuni surga. Sedang pelayan dunia masih memiliki hak yang berhubungan dengan diri dan keluarga. Hak yang harus dipenuhi oleh majikannya.

Pada sisi lain, pelayan surga tidak akan pernah berubah sepanjang masa. Mereka tetaplah muda, tentu dengan tenaga yang perkasa dan tidak mengeluhkan beratnya beban kerja. Ibnu katsir menjelaskan karakter mereka. Mereka adalah sekelompok anak muda yang tetap muda sepanjang masa. Mereka tidak akan menjadi tua atau berubah seiring perkembangan waktu. Memang, kehidupan surga yang kekal abadi juga melanggengkan kemudaan para pelayannya.

Dalam ayat lain Allah menggambarkan keadaan mereka, “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan- pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19)

Subhanallah. Seperti apa sebenarnya pelayan surga itu. Sehingga Allah menyandingkannya. dengan mutiara yang bertaburan. Sebuah perbandingan yang menunjukkan bahwa pelayan surga jelas memiliki keistimewaan tersendiri.

Ketika menafsirkan ayat di atas Ibnu Katsir mengatakan bahwa pelayan surga seperti mutiara yang tersebar pada saat mereka menunaikan tugas dari majikannya. Hal ini tak lain karena ketampanan wajah dan kecerian mereka. Ditambah lagi dengan keindahan pakaian dan perhiasan mereka.

Lalu, siapakah sebenarnya pelayan surga itu? Apakah mereka adalah anak-anak yang meninggal sebelum baligh? Tidak, mereka bukan anak- anak yang meninggal sebelum baligh, tetapi mereka merupakan makhluk yang diciptakan khusus untuk menjadi pelayan di surga. Demikianlah pendapat Ibnu Taimiah. “Anak-anak yang mengitari penghuni surga merupakan makhluk yang diciptakan di surga. Mereka bukanlah anak-anak yang terlahir di dunia. Bahkan anak-anak penghuni dunia bila masuk surga maka postur tubuh mereka menjadi sempurna seperti halnya penghuni surga lainnya, seperti bentuk ayah mereka nabi Adam.” Majmu fatawa: 4/279.

Sungguh sebuah anugerah yang tiada terkira. Namun untuk memperoleh pelayanan dari para pelayan surga tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak hal yang perlu dipersiapkan. Itulah yang harus kita lakukan selama kita masih berada di dunia yang fana ini.

 

 

Ghoib, Edisi No. 20 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Istri-Istri Penghuni Surga

Aku ingin selalu bersamamu’, ungkapan manis yang sering terlontar dari sepasang remaja yang sedang memadu kasih. Dua sejoli yang sedang dirundung asmara. Dalam angan- angan mereka, rintangan apapun akan diterjang, bila menghambat cita-cita mereka. Inilah gambaran sebagian remaja di sekitar kita atau anak-anak sebaya mereka di seluruh dunia. Walau sebenarnya apa yang mereka lakukan ini bertentangan dengan agama selama mereka belum diikat dalam sebuah ikatan pernikahan resmi.

Bagi anda, sepasang suami istri, yang ingin selalu bersama sepanjang masa tidak perlu resah. Keinginan anda akan terpenuhi bila segala persyaratan yang dibutuhkan untuk mewujudkan keinginan anda terpenuhi. Ya, minimal persyaratan pertama sudah bisa terlewati setelah anda resmi mengikat diri dalam jalinan pernikahan yang sesuai syariat.

Selanjutnya anda berdua harus menjadi bagian dari sekian orang yang masuk surga. Karena di sinilah anda dapat mewujudkan keinginan ini. Ya, ketika seorang mukmin masuk surga dan istrinya adalah wanita shalihah maka keduanya akan dipersatukan kembali oleh Allah. Inilah janji-Nya. dalam Al-Qur’an. “Masuklah kamu ke dalam surga. Kamu dan istri-istri kamu digembirakan.” (QS. Az-Zukhruf: 70)

Di akhiratlah sepasang suami istri bisa mewujudkan keinginan mereka untuk selalu hidup bersama. Kebahagiaan yang telah mereka rintis selama di dunia dengan susah payah itu berbuah manis di akhirat. Saat di akhirat tidak ada lagi hambatan yang akan menghalangi kebersamaan mereka. Dan inilah buahnya, “Mereka dan istri. Istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS. Yaa Siin 56)

Itu bagi seorang wanita yang selama hidupnya hanya menikah sekali. Lalu bagaimanakah dengan wanita yang pernah menikah dua kali atau lebih? Dengan siapakah wanita shalihah itu akan berbagi bahagia?

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa seorang wanita shalihah yang menikah lebih dari sekali, maka dia akan hidup bersama dengan suaminya yang terakhir bila kesemua suaminya masuk surga. Itulah mengapa, dahulu Ummu Darda’ menolak pinangan Muawiyah bin Abu Sofyan. Dia lebih suka hidup menjanda selama di dunia, daripada nantinya berpisah dengan belahan jiwanya yang telah berbagi suka dan duka selama ini, Pahit getirnya kehidupan telah mereka lewati bersama Dan ia ingin meneruskan kebersamaan itu hingga di akhirat. Inilah komentarnya ketika menolak pinangan Muawiyah. “Aku mendengar Abu Darda berkata, “Rasulullah bersabda, “Perempuan berada pada suaminya yang terakhir,” atau bersabda, “Perempuan milik suaminya yang terakhir.”

Seorang suami juga bisa berpesan kepada istrinya seperti yang disampaikan Hudzaifah kepada istrinya, “Jika engkau mau menjadi istriku di surga, janganlah kawin sepeninggalku karena perempuan di surga milik suaminya yang terakhir di surga.” (HR. Baihaqi) Hadits ini dishahihkan Albani dalam silsilah hadits-hadis shahih.

Oleh sebab itu Allah mengharamkan istri-istri Rasulullah untuk menikah dengan orang lain sepeninggal Rasulullah. Karena mereka adalah istri-istri Rasulullah di akhirat.

Bila demikian halnya, maka mari ikat diri kalian dengan tali pernikahan yang kokoh, yan mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Agar kebahagiaan dan kebersamaan berlanjut hingga di surga..

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 19 Th. 2/1425 H/ 2004 M

Burung-Burung Surga

Sekelompok burung terdengar berkicau  menyambut datangnya mentari. Bertengger di ranting kecil dan dengan lincahnya berpindah ke dahan yang lain. Bak sekelompok penari yang bergerak lincah kesana kemari. Suara seekor burung disambut dengan kicauan burung lainnya. Membentuk irama yang menggelitik telinga berpadu dengan keindahan alam, dimana sang burung berada. Lingkungan yang indah, karena ia berada di antara pepohonan yang menghijau dengan hamparan sawah ladang dan kelokan sungai.

Keberadaan burung-burung dengan aneka tingkahnya melengkapi keindahan nuansa alam. Mungkin, anak-anak yang dibesarkan di kota besar yang tidak lagi menemukan pepohonan akan sulit menikmati indahnya kicauan burung yang terbang bebas di alam.

Di dalam surga, burung-burung surga juga bertengger di pepohonan yang rindang, la terbang dengan bebasnya menikmati lezatnya air mata  surgawi. Sebagaimana diriwayatkan dalam sunan Tirmidzi dari Anas, ia berkata, “Rasulullah ditanya, “Apakah al-Kautsar itu?” Rasulullah menjawab, “Itu adalah sebuah sungai yang diberikan Allah kepadaku-yakni di surga- ia lebih putih dari susu, lebih manis daripada madu, di dalamnya ada burung-burung yang lehernya seperti leher unta.” Umar berkata, “Sesungguhnya ini adalah kenikmatan.” Rasulullah bersabda, “Memakannya lebih nikmat daripada memandangnya.” (HR. Tirmidzi)

Meski hadits riwayat Anas dan beberapa hadits lainnya tidak menjelaskan tentang keindahan bulu burung surga, tapi kita tidak perlu meragukan betapa indahnya aneka bulu yang membalut kulit burung surga. Keindahan warna burung dunia bisa dijadikan bukti tersendiri akan keindahan warna burung surga. Sangat menakjubkan sehingga Umar sampai berkomentar “Sesungguhnya ini adalah kenikmatan”.

Burung surga dengan leher seperti unta itu diperuntukkan untuk para penghuninya. Bukan sekedar untuk dilihat atau didengarkan kemerduan suaranya semata. Burung itu juga menjadi hidangan tersendiri bagi penghuni surga. “Dan daging burung, dari apa yang mereka inginkan “(QS. Al-Waqi’ah: 21)

Entahlah, seberapa besar burung surga sehingga lehernya saja seperti leher unta. Di dunia bisa jadi ada burung yang berukuran raksasa dan dikembangbiakkan untuk diambil dagingnya. Ya, burung itu sering disebut dengan burung unta karena ukuran badannya yang besar. Tapi jangan pernah menyamakan burung unta dunia dengan burung surga. Badan boleh besar, tapi lihat dulu apa yang terjadi pada hewan itu, beberapa tahun yang lalu burung unta terserang penyakit antrax Siapapun yang memakan hewan yang mengidap virus antrax, maka dalam hitungan hari dia akan terkapar.

Hal ini tidak akan mungkin terjadi pada burung surga. la akan terbebas dari semua virus mematikan. Bahkan dalam sebuah hadits secara terus terang Rasulullah menyatakan ketertarikannya untuk menikmati daging burung surga. Tanpa tedeng aling-aling Rasulullah mengatakan, “Saya berharap saya termasuk orang yang akan memakannya.” (HR. Ahmad)

Bila ada penghuni surga yang melihat seekor burung dan ingin menikmati kelezatan dagingnya maka dengan serta merta burung itu akan segera menjatuhkan diri dan tiba-tiba sudah menjadi matang. Ini bukan permainan sulap atau sekedar khayalan. Tapi demikianlah yang disampaikan Rasulullah kepada Abdullah bin Mas’ud. “Sesungguhnya kamu akan melihat burung di surga, kemudian kamu ingin memakannya maka burung itu akan jatuh ke hadapanmu dalam keadaan sudah menjadi sate.”

Surga memang menebar pesona, tapi mengapa sangat sedikit orang yang terpikat?

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 18 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Gelang Surgawi

Gelang. jenis perhiasan yang melingkar di pergelangan tangan itu, memang menarik perhatian. Ayunan terasa lebih meyakinkan bila. dalam pergelangan tangan itu ada sesuatu yang melilitnya. Entah terbuat dari bahan apa, bukan masalah. Lihatlah! Tidak sedikit dari kaum wanita itu yang memakai gelang di tangannya.

Dewasa ini gelang bukan lagi menjadi monopoli kaum wanita. Karena tidak jarang kita menyaksikan pemuda tanggung yang juga mengenakan gelang. Meski tidak terbuat dari emas. Karena emas memang terlarang untuk kaum Adam. Beragam alasan mereka sampaikan untuk membenarkan alasan mereka. Biar kelihatan macho dan modis serta tidak ketinggalan zaman, misalnya.

Itulah pernak-pernik gelang dunia. Memikat dan menarik sekian banyak orang. Padahal gelang dunia tidak akan pernah sama dengan gelang surgawi. Jelas sangat tidak layak untuk disandingkan.

Di dalam surga setiap orang berhak untuk mengenakan aneka perhiasan. Termasuk juga gelang yang terbuat dari berbagai jenis. Perhatikanlah firman Allah berikut, “Bagi mereka surga Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas.” (QS. Faathir: 33)

Ayat ini dengan tegas mengatakan bahwa penghuni surga akan mengenakan gelang dari emas. Lalu lihatlah surat al-Hajj, “Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara.” (QS. Al-Hajj: 23) kemudian bukalah surat al-Insan, maka anda akan menemukan bahwa penghuni surga juga mengenakan gelang dari perak, “… dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih,” (QS. Al-Insaan: 21)

Namun, tidak berarti bahwa di dalam Al- Qur’an terjadi pertentangan. Karena pertentangan dalam Al-Qur’an adalah sesuatu yang mustahil. Emas, perak atau mutiara adalah jenis-jenis gelang di syurga. Karena itu ada sebuah riwayat dari Said bin Jubair yang mengatakan bahwa setiap penghuni surga akan mendapat tiga macam gelang yang terbuat dari emas, perak dan mutiara.

Memang tidak semua ulama sependapat dengan Said bin Jubair dalam masalah ini. Sebagaimana dinukil Imam Qurthubi bahwa ada juga ulama yang berpendapat bahwa setiap penghuni surga sesekali akan mengenakan gelang dari emas. Dalam kesempatan lain dia melepas gelang emasnya lalu menggantinya dengan gelang dari perak. Dan pada saat lainnya dia mengenakan gelang dari mutiara.

Meski pada akhirnya ada juga ulama yang mengatakan bahwa setiap penghuni surga bebas memakai gelang sesuai dengan yang disenanginya. Boleh saja dia memilih mutiara atau emas sesuka hatinya.

Bila demikian halnya, sesungguhnya semua penafsiran itu seharusnya membawa kita untuk merindukan kehidupan surgawi. Bukan sebaliknya seperti yang dilakukan oleh sebagian orang di negeri ini. Ya, kaum Adam yang tidak bisa menahan diri untuk memakai perhiasan yang terbuat dari emas. Padahal sebenarnya kenekatan mereka itu pada akhirnya menutup nikmat yang jauh lebih besar. Karena mereka tidak akan bisa menikmati indahnya gelang yang terbuat dari emas.

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa Ali bin Abu Thalib berkata, “Rasulullah melarang saya memakai emas.” Jelas bahwa dalam hadits ini secara umum Rasulullah melarang seorang muslim laki-laki memakai emas. Aneka perhiasan emas hanya diperbolehkan buat perempuan. Sedangkan dalam berbagai riwayat lain dikatakan bahwa piring atau bejana yang terbuat dari emas itu diperuntukkan bagi orang-orang kafir di dunia. Sedangkan orang muslim, maka dia akan memperoleh kesempatan itu di akhirat kelak.

 

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 17 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Mahkota Surgawi

Mahkota kuning keemasan betengger di kepala raja, la duduk dengan tenang di kursi kebesaran. Tatapan matanya tajam. Seakan pisau yang menusuk hati setiap orang yang menatapnya. Dengan mahkota yang tak lepas dari kepala, sang raja nampak berwibawa. Hingga semua orang tunduk dan patuh melaksanakan perintahnya. Lihatlah sikap orang-orang yang berada di sekelilingnya. Empat orang di samping kiri dan empat lainnya berada di sebelah kanan. Semuanya diam menanti titah.

Itulah cuplikan adegan sinetron di salah satu acara televisi. Adegan seorang raja dan para mentrinya. Raja dengan mahkotanya memang nampak berwibawa. Namun, apakah cukup banyak orang yang pernah mengenakan mahkota itu? tidak. Dalam kehidupan ini hanya beberapa gelintir orang saja yang pernah mengenakan mahkota. Kalau kita bukan dari golongan raja dan hidup di zaman kerajaan jangan pernah berharap mengenakan mahkota itu.

Namun, siapapun kita boleh saja berharap suatu saat Allah akan memuliakan kita dengan mahkota. Tidak harus menjadi seorang raja. Karena gelar ini hanya ada di dunia. Sementara di akhirat siapa saja berhak mendapatkannya, asal memenuhi syarat-syarat yang digariskan.

Mahkota surgawi jauh lebih indah dari mahkota dunia. Karena sebutir yaqut yang menempel di mahkota surgawi lebih indah dari dunia seisinya. Miqdam bin Ma’dikarib meriwayatkan bahwa Rasulullah mengkisahkan kemuliaan seorang syuhada, “Diletakkan di atas kepalanya mahkota kemuliaan. Sebutir yaqut darinya lebih baik daripada dunia dan segala isinya” (HR. Ibnu Majah)

Sebutir yoqut yang melekat saja, jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Padahal dalam setiap mahkota itu berbutir-butir yaqut menempel di sana.

Sangat jauh, tidak sebanding dengan mahkota dunia. Apalagi bila kita menengok ke belakang. Jauh berabad-abad yang lalu. Di sebuah negara yang menjadi cikal bakal berbagai macam aliran filsafat yang berkembang sekarang. Tepatnya di negara Yunani. Seorang raja Zeus, misalnya. Dia juga memakai mahkota, meski saat itu belum terbuat dari emas. Mahkota yang dikenakannya baru tersusun dari daun-daunan. Demikian pula halnya yang terjadi di suku-suku pedalaman di negara kita. Tiap kepala suku mengenakan atribut kepala yang berbeda dengan bawahannya. Walau hanya terbuat dari bulu binatang tertentu.

Dari sini, mahkota bukanlah sekedar hiasan belaka. Tapi makna yang terkandung di baliknya jauh lebih luas. la adalah simbol kemuliaan tertinggi. Hadits riwayat Ibnu Majah dari Miqdam bin Ma’dikarib di atas menyebutkannya dengan jelas, bahwa mahkota surgawi merupakan bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang telah berani dan rela mengorbankan jiwa dan raga  untuk menegakkan agama ini.

Perjuangan dengan harta, mungkin tidak terlalu berat. Dan banyak orang yang bisa melakukannya, karena harta bisa dicari. Tapi pengorbanan nyawa menjadi lain masalahnya. Tidak ada orang yang bernyawa rangkap sehingga sangat banyak orang yang enggan berkorban nyawa.

Menjadi jelas kiranya, bila seorang syuhada layak mendapat kehormatan yang demikian tinggi dari Allah dengan mengenakan mahkota yang keindahannya tidak bisa dibandingkan dengan dunia seisinya. Apalagi dengan mahkota dunia.

Namun, sayang beribu sayang banyak orang yang alergi saat diajak berjihad. Jangankan terjun langsung ke medan laga, menyebut namanya saja sudah enggan. Bila demikian jangan berharap memperoleh kemulian tinggi dengan mengenakan mahkota surgawi.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 16 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Kemah-kemah Surga

Pernahkah kita melihat perkemahan yang terbuat dari mutiara? Belum dan tidak akan pernah melihatnya sepanjang hayat, selama masih hidup di dunia yang fana ini. Itulah jawaban yang jujur. Ya, jangankan melihat, membayangkan saja mungkin kita tidak berani. Karena orang-orang akan menilai kita sebagai manusia yang tidak waras. Orang yang kehilangan akal sehatnya.

Logis dan wajar. Perkemahan bukan menjadi kebutuhan pokok. la hanya sebagai tempat yang biasa dibutuhkan saat melakukan wisata alam. Tidak perlu harus terbuat dari mutiara. Cukup dari kain parasut atau yang sejenisnya. Asal bisa menahan curahan air hujan atau hembusan angin malam.

Itulah dunia yang sangat jauh berbeda dengan surga. Perkemahan terbuat dari mutiara bukan suatu hal yang aneh. Itu masih wajar-wajar saja dan tidak akan dianggap gila karenanya. Tidak diragukan lagi, seorang penghuni surga akan merasakan kenikmatan hidup di dalam perkemahan yang terbuat dari mutiara.

Perkemahan yang tidak seperti dalam benak kita sekarang. Sempit dan pengap karena tidak mampu menahan dengan baik teriknya sinar matahari. Bedakan dengan Perkemahan surgawi yang sangat luas, melebihi rumah terluas di dunia. Di sini, di dunia, kita tidak akan pernah menemukan sebuah rumah seluas satu mil. Dalam bayangan pun tidak. Padahal luas kemah surgawi itu masih enam puluh kali lipat lagi. “Sesungguhnya bagi seorang mukmin di syurga mempunyai kemah dari sebuah mutiara kosong. Panjangnya 60 mil.” Itulah janji Allah yang disampaikan Rasulullah sebagaimana diriwayatkan imam Muslim. Indah dan mewah.

Kemah itu memang luas, tapi seberapapun luasnya seorang penghuni surga tidak akan pernah merasa kesepian. la tetap akan menikmati indahnya surga dalam segala situasi dan kondisi. Walau di dalam kemah. Bagaimana tidak, bila dalam kemah itu telah menanti bidadari-bidadari bermata jeli yang setia “Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.” (QS. Ar- Rahman: 72)

Kemah itu luas dan lebar. Sedemikian luasnya kemah itu sehingga tatkala seorang penghuni surga memasukinya, dan berkunjung kepada keluarganya yang sedang berada di dalam kemah itu, maka anggota keluarga yang lain tidak akan melihatnya. Seakan mereka hidup berdua. Padahal sebenarnya di dalam kemah itu masih ada anggota keluarga yang lain. Demikianlah ulama menjelaskan hadits riwayat Muslim, “Orang mukmin mempunyai keluarga di dalamnya dan ia mendatangi mereka, maka sebagian mereka tidak dapat melihat sebagian yang lain.”

Kemah itu luas dan lebar. Serasi dengan ketinggiannya yang menjulang. Hingga mencapai tiga puluh mil. Demikianlah Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Qais bahwa Rasulullah bersabda, “Kemah itu terbuat dari mutiara kosong yang panjangnya di langit 30 mil. Dalam setiap sudut darinya bagi orang mukmin mempunyai keluarga yang tidak terlihat oleh orang-orang yang lain.”

Surga memang menawan. Dalam segala situasi dan kondisi. Walau di dalam sebuah kemah. Tapi mengapa kita sering terjebak dalam ketakutan dunia, bahwa kita tidak akan mendapat tempat berteduh di dunia yang fana ini. Janganlah kita kehilangan kemah mutiara di surga hanya karena mengejar rumah tipe tertentu di dunia.

Karena sesulit apapun mendapatkan tempat tinggal di dunia, tentu sangat jauh lebih merugi bila kita tidak mau memesan kapling kemah surgawi, sejak dari sekarang. Karena itu, tidak ada kata terlambat sebelum matahari terbit dari barat.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 15 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Pakaian Penghuni Syurga

“Janganlah kalian memakai pakaian yang terbuat dari sutera. Karena orang yang memakainya di dunia, tidak akan memakainya di akhirat.” Demikian lafadz hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dan Muslim. (larangan ini ditujukan kepada laki-laki dan dibolehkan bagi wanita untuk memakainya.)

Sekilas hadits di atas memberi kesan bahwa Rasulullah tidak menghendaki seorang muslim untuk tampil menarik. Dengan melarangnya memakai pakaian yang terbuat dari sutera. Sutera lambang keindahan, Bila demikian pendapat kita, jelas itu adalah pendapat yang salah. Karena tampil menarik tersebut sangat dianjurkan. Masalahnya apakah untuk itu harus dengan melanggar larangan?

Kalau kita tetap saja tidak mengindahkan peringatan ini, maka sesunguhnya kita telah menutup diri dari kenikmatan surgawi. Sungguh naif, memang. Bila janji Allah dalam Al-Qur’an itu tidak pernah dirasakan seorang penghuni surga, hanya karena ketidaksabarannya. Indahnya pakaian itu seakan dekat di mata tapi jauh dari jangkauan. Lihatlah janji Allah dalam Al-Qur’an, “Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) syurga dan (pakaian) dari sutera.” (QS. Al-Insan: 12)

Tidak perlu menghibur diri dengan alasan toh selama ini sudah memakainya. Argumentasi ini salah besar. Karena seindah apapun pakaian dunia, tetap tidak sebanding dengan pakaian syurgawi. Meski keduanya memiliki nama yang sama. Namun hakekatnya jelas jauh berbeda. Rasulullah telah memperingatkan hal ini sejak empat belas abad yang lalu. Sebagaimana diriwayatkan Al-Barra bin Azib, ia berkata, “Rasulullah datang membawa selembar baju sutera. Para sahabat merasa kagum atas keindahan dan kelembutannya, maka Rasulullah bersabda, “Sungguh sapu tangan Saad bin Muadz di syurga lebih baik dari pada ini.” (HR. Bukhari) Janganlah mudah terkecoh. Seindah apapun pakaian dunia, ia tetap jauh lebih jelek dari sehelai sapu tangan seorang penghuni syurga. Subhanallah Maka tak terbayangkan keindahan pakaian yang terbuat dari sutera.

Pakaian dunia itu akan kotor setelah terpakai. Oleh debu yang menempel atau bau keringat. Selain itu masa pakainya juga terbatas. Dua, tiga tahun, lalu usang dan tidak lagi menarik. Setelah itu berganti lagi dengan yang baru. Sesuai dengan tabiat dunia yang fana dan selalu berubah. Jauh berbeda dengan pakaian surgawi.

Surga memang indah. Serasi dalam segala hal. Termasuk pakaian penghuninya. Pakaian mereka berwarna-warni meski yang tersebut dalam Al- Qur’an itu hanya satu warna, hijau. Warna kesejukan. Penyebutan satu warna tidak menutup warna-warni pakaian yang lain. Karena syurga jauh lebih sempurna dari dunia. “Mereka itulah (orang- orang yang) bagi mereka syurga adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam syurga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal. Sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan- dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS al-Kahfi: 31).

Surga memang di atas segalanya. Menawarkan keindahan dalam segala hal. Tapi mengapa kita, orang yang mendambakan keindahan itu seringkali terkecoh. Oleh sesuatu yang semu. Masih banyak tertawa di atas dosa dan tidak pernah menangis menyesalinya. Karena itu, marilah kita terus waspada agar kita raih keindahan pakaian surgawi.

 

 

 

 

Ghoib, Edisi No. 14 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Cahaya Pengganti Matahari dan Bulan

Siang dan malam. Dua rentang waktu yang selalu mengiringi kehidupan kita silih berganti. Meski keduanya memiliki tabiat yang jauh berbeda. Siang dengan ciri utama terbitnya matahari. Hingga alam pun menjadi terang. Sementara malam, ditandai dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Dan, langit pun mulai gelap. Di sana-sini mulai berpendaran lentera dan lampu penerang. Untuk menggantikan sinar matahari. Bila tidak, tentu kegelapan akan menjadi selimut tersendiri.

Coba bayangkan. Saat semua sendi kehidupan di kota besar bergantung pada listrik untuk menjalankan roda kehidupannya. Kemudian, terjadilah apa yang tidak diinginkan. Gangguan arus listrik, sehingga mematikan aktifitas mereka.

Itulah, memang tabiat dunia. Sangat jauh dari sempurna. Tentunya berbeda dengan kehidupan surgawi. Karena disana tidak ditemukan adanya matahari. Terlebih dengan panas teriknya itu. Karena matahari pada hari kiamat digulung bersama rembulan dan menjadi bagian dari panasnya siksa neraka. Hingga siang dan malam pun tak lagi menjadi bagian alam surgawi. Yang tersisa hanyalah waktu pagi dan sore. Waktu yang tidak lagi panas, tidak pula gelap.

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang terkenal menafsirkan firman Allah, “Bagi mereka rezkinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang. Itulah syurga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa”. (Qs. Maryam: 62-63), bahwa maksud dari tiap-tiap pagi dan petang adalah seperti waktu pagi dan sore. Dengan kata lain di surga tidak ada siang dan malarn. Yang ada adalah waktu yang silih berganti yang diketahui melalui adanya sinar dan cahaya. (Ibnu Katsir 3/136).

Matahari, tidak ada. Demikian pula dengan bulan, lalu dari manakah datangnya cahaya itu? Dan bagaimana penduduk surga mengetahui pergantian waktu? Mungkin logika manusia sulit menerima, tapi bagi Allah itu bukan masalah. Allah bisa menggantinya dengan sumber cahaya yang lain. Qatadah berkata, “Di dalam surga hanya ada dua waktu, waktu pagi dan sore tidak ada waktu siang dan malam. Karena hanya ada sinar dan cahaya”.

Imam Qurthubi berkata, “Ulama mengatakan bahwa di surga tidak ada siang dan malam, tetapi penduduk surga dalam cahaya yang kekal abadi. Mereka mengetahui datangnya sore dengan penurunan tabir dan pintu-pintu yang ditutup. Dan mengetahui datangnya pagi dengan pengangkatan tabir dan terbukanya pintu-pintu. Hal ini disebut- kan oleh Abul Faraj bin al-Jauzi.” (At-Tadzkirah oleh Al-Qurthubi hal 504).

Cahaya ini bukan sembarang cahaya. Karena ia berasal dari arah Arsy. Ibnu Taimiah mengatakan bahwa dalam syurga tidak ada matahari dan bulan, tidak pula siang dan malam. Tetapi mereka mengetahui datangnya pagi dan sore melalui cahaya yang berasal dari arah Arsy. (Majmu’ Fatawa 312/4).

Itulah nikmatnya hidup di surga. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan dunia. Panasnya matahari tidak lagi terasa. Gelapnya langit tak berbintang bukan lagi masalah.

Tapi aneh sungguh aneh, ternyata banyak orang tidak menghiraukan kehidupan surga penuh keindahan. Hidup bermandikan cahaya Arsy, cahaya yang tidak memancarkan hawa panas. Cahaya yang semakin menambah kenikmatan dan keindahan kehidupan penduduk surga. Ternyata, banyak orang yang lebih menyukai gemerlap lampu diskotik dengan segala kenikmatan semu yang tersembunyi di baliknya. Di belahan bumi manapun.

Haruskah diri ini juga larut seperti mereka? Dan harapan untuk bersenang-senang di bawah gemerlap sinar Arsy bisa terhalangi? Jawabannya terserah diri kita masing-masing. Karena sekarang bukan lagi saatnya untuk bertanya pada rumput yang bergoyang.

 

 

Ghoib, Edisi No. 13 Th. 2/ 1425 H/ 2004 M

Singgasana dan Dipan Surgawi

Singgasana atau tahta. Tempat seorang raja menunjukkan superioritasnya. Duduk berwibawa dengan didampingi para dayang yang siap memenuhi apapun kebutuhannya. Tidak ada penyejuk udara juga tidak menjadi masalah. Karena para dayang itu tiada hentinya meniupkan semilir udara melalui kipas di kanan kirinya. Sementara di hadapannya terhampar permadani. Indah dan menarik setiap tamu yang datang. Namun, singgasana atau tahta ini tidak boleh diduduki sembarang orang. Hanya mereka yang berhak saja.

Itulah singgasana dunia. Walau seindah apapun singgasana itu, tetap saja jauh berbeda dengan singgasana di surga. Singgasana di surga berhak diduduki siapa saja, para penghuni surga. Tanpa harus ada derai air mata. Apalagi darah yang tertumpah. Singgasana itu, berada di tempat yang tinggi. Tempat yang tidak bisa dijangkau tanpa menggunakan tangga. Namun, seakan bernyawa. Singgasana itu langsung turun, hingga penghuni syurga tadi bisa duduk di atasnya. Alangkah senangnya duduk di atas singgasana yang dikitari para bidadari cantik bermata jeli, yang siap melayani apa saja. Ini bukan lagi khayalan, tapi demikianlah Ibnu Katsir menafsirkan firman Allah, “Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan.” (QS. Al-Ghasyiyah: 13).

Demikian menyenangkan tempat peristirahatan ini, dikelilingi bidadari dan pelayan yang selalu siap sedia memenuhi apapun kebutuhannya. Mau minum? Tidak perlu repot-repot pergi jauh, karena gelasnya telah tersedia. “Dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya).” (QS. Al-Ghasyiyah: 14). Gelas telah tersedia, tentu minuman dari segala jenisnya juga telah siap. Tinggal pilih saja. madu, susu, air tasnim, salsabil, khamr ataupun minuman lainnya.

Selain singgasana itu, penghuni syurga juga bisa beristirahat di atas dipan yang indah. Sedemikian indahnya, sehingga hiasannya saja terbuat dari emas dan permata. Subhanallah. “Mereka berada di atas dipan yang berhiaskan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (QS. Al-Waqiah: 13-16)

Memang itulah nikmatnya hidup di syurga. Duduk dimanapun selalu bersama bidadari bermata jeli, baik di atas singgasana maupun di atas dipan. Ya, duduk bersama sambil menikmati aneka minuman dan makanan. Dengan pemandangan alamnya yang sangat mempesona. Duduknya pun berhadap-hadapan. Kalau capek, tinggal menyandarkan kepala pada bantal yang tersedia. “Dan bantal-bantal sandaran yang tersusun.” (QS. Al- Ghasyiyah: 15). Secara lebih jauh Allah menggambarkan bagaimana warna bantal itu. Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang berwarna hijau…” (QS. Ar-Rahman: 76). Warna yang menyejukkan jiwa.

Ini tentu bukan sembarang bantal. Karena tempatnya saja di surga. Keberadaannya tentu akan menambah syahdunya suasana pertemuan penghuni surga dengan para bidadari itu. Bila demikian keadaannya, tentu tidak mengherankan bila seorang penghuni surga tidak pernah merasa bosan. Walau harus duduk bertahun-tahun lamanya. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits riwayat Shafwan bin Amr, bahwa ia mendengar Haitsam bin Malik ath-Thai berkata, “Seorang laki-laki bersandar di tempat sandaran selama 40 tahun. la tidak bergeser dari tempatnya dan tidak pula merasa bosan. Akan dipenuhi apapun yang bisa memuaskan keinginannya dan menyegarkan matanya.” (Tafsir Ibnu Katsir 4/250).

Itulah singgasana atau dipan surgawi. Sungguh mengherankan, bila orang hanya berlomba-lomba merebut singgasana dunia. Kursi panas, yang menjadi rebutan sekian banyak orang. Hingga mereka melupakan singgasana dan dipan surgawi.
Ghoib, Edisi No. 12 Th. 2/ 1424 H/ 2004 M
HUBUNGI ADMIN